Jul 04 2009

Komunikasi dalam komunitas

Published by afemaleguest at 12:58 am under daily

Hari kamis 2 Juli 2009 aku mendapatkan undangan dari Telkom untuk mengisi pelatihan bagi para pegawainya. Why the heck? Bukan untuk memberi training in English, apalagi mensyiarkan feminisme, LOL, (dua hal yang jelas tidak bisa dipisahkan dari seorang Nana Podungge). So what dong? Untuk bercerita tentang komunitas yang telah kugeluti selama kurang lebih satu tahun ini: bike to work.

Nyambung ga?

Kebetulan pelatihan yang diberikan oleh Telkom ini ditujukan kepada para pegawainya yang bergerak di divisi Customer Care. Dan tugasku adalah bercerita tentang komunitas bike to work, lebih spesifik lagi bagaimana para anggota komunitas berkomunikasi satu sama lain. (Komunikasi? Jelas erat hubungannya dengan T-E-L-K-O-M. Am I right?)

Tidak ada persiapan apapun yang kulakukan sebelum hadir ke ‘venue’ karena aku dihubungi oleh seseorang dari Telkom satu hari sebelumnya, mepet banget waktunya. Dan bocoran yang kuterima hanya satu, “sharing pengalaman tentang berkomunitas.” Mana waktu aku dihubungi, aku sedang berpusing-ria membuat lesson plan di kantor, aku ga kepikiran untuk mempersiapkan konsep mau berbicara apa di dalam pelatihan tersebut. Ya sudah, dengan bekal pengalaman ngocol di depan siswa/mahasiswa, aku tampil pede aja. Moreover talking about something I love: komunitas yang kubanggakan.

Aku memulai pembicaraan dengan menyebutkan pertama kali komunitas bike to work Semarang terbentuk, yakni akhir Juni 2008, dengan dibentuknya kepengurusan. Aku juga tak lupa menyebutkan bagaimana aku bisa mengenal personnel-personnel bike to work lain: melalui dunia maya, khususnya lewat www.multiply.com Waktu itu aku—yang memang hobby curhat ga penting di dunia perbloggingan—menulis tentang harga BBM yang naik dari Rp. 4500,00 menjadi Rp. 6000,00. Komplain betapa itu sangat memberatkan bagi rakyat kecil. Impactnya tentu harga-harga bahan pokok semakin tak terjangkau. Nah, seseorang dari ‘contact list’ku di MP yang menggunakan nama ‘Aluizeus’ menulis komentar, sekaligus promosi, “berbike to work aja mbak. Kalau berkenan, gabung saja ya dengan komunitas bike to work Semarang. Kita biasa berkumpul di hari Minggu pagi sekitar pukul 06.00 di depan kantor Telkom.”
Aku yang masih ja-im (mosok guru berangkat bekerja naik sepeda sih? Apa kata dunia? LOL. Apa kata siswa/mahasiswa kalau ngeliat aku datang naik sepeda yang sama sekali tidak bergengsi ini?) dengan halus menolak ajakan itu.

Namun rupanya seorang Aluizeus adalah seseorang yang gigih mengejar. (Maklum, biasa bekerja di bidang marketing kali. LOL.) Aku tetap saja jaim. LOL. Untungnya, tatkala aku bercerita kepada adikku tentang seseorang yang gigih mengejarku untuk bergabung dengan komunitas yang akan dia rintis ini, adikku semangat banget menyambutnya. Penyebab utamanya adalah: kakak kita berdua yang tinggal di Cirebon sudah merupakan seorang praktisi bike to work. Kebetulan juga di rumah ada sebuah sepeda nganggur. So? Why not?

Adikku lah yang memulai ikut bergabung dengan beberapa personnel pioneer b2w Semarang pada satu hari Minggu pagi. Kemudian tatkala ada undangan rapat pembentukan pengurus, kita berdua datang, dan langsung didapuk menjadi sekretaris. Pada waktu itu hanya kita berdua anggota yang berjenis kelamin perempuan.

Dan resmilah aku berkecimpung di komunitas b2w Semarang. Setelah berhasil mengesampingkan keja-iman, aku pun akhirnya mempraktekkan b2w. Ternyata, setelah ja-imku hilang, aku malah bangga pada diri sendiri karena telah ikut serta berpartisipasi untuk mengurangi polusi udara.

Kalau ga mulai dari diri kita sendiri, lalu siapa?

Kita menjaring anggota agar lebih banyak lagi, salah satunya, melalui dunia maya. Dan untuk menjalin komunikasi, Aluizeus pun membentuk milis b2wsemarang di yahoogroups. (Harus diakui, b2w Semarang banyak berutang budi pada makhluk satu ini. LOL.) Sebelum Facebook mewabah seperti sekarang ini—dan para member b2w pun terkena imbasnya, menjadi fesbuker aktif—milis b2wsemarang di yahoogroups menjadi ajang saling melempar ide untuk melakukan event tertentu, atau sekedar ‘touring’, bagaimana membesarkan komunitas yang masih seumur jagung ini, sekaligus juga menjadi ajang kangen-kangenan untuk ledek-ledekan (itu sebab kita menyebut diri sebagai komunitas yang lucu), curhat (terutama seorang Nana Podungge yang narsis dengan tulisan-tulisannya), dll, tatkala kita sedang tidak kopi darat.

Sms tentu juga menjadi media utama untuk saling berkomunikasi, khususnya tatkala kita perlu berkumpul untuk rapat karena akan mengadakan event tertentu, karena kita menyadari bahwa tidak semua anggota bisa terhubung dengan internet setiap hari. (Sudah rahasia umum bahwa internet di Indonesia ini mahal dengan akses yang super duper lelet.)

Satu hari pak Trisna—salah satu pengurus b2w Semarang yang kebetulan bekerja di Telkom—menawarkan untuk berkomunikasi melalui ‘flexy milis’. Caranya, pak Trisna mencatat semua anggota yang memiliki nomor flexy, mendata satu per satu, dan hasil akhirnya adalah tatkala kita mengirim satu berita melalui sms di flexy milis, anggota lain pun akan mendapatkan sms tersebut. Sangat praktis dan tidak perlu terhubung dengan internet.
Sayangnya aku belum memiliki nomor flexy sehingga aku tidak bisa bercerita banyak bagaimana berkomunikasi melalui flexy milis ini. (Dan para peserta pelatihan pun berkomentar, “Wah, jangan khawatir mbak, sepulang dari sini mbak Nana bakal mendapatkan nomor flexy baru!” How nice, eh?)

Media berikutnya bagi kita untuk saling berkomunikasi adalah melalui Facebook. Namun berbeda dengan milis di yahoogroups, di FB komunikasi yang terjalin lebih ke personal, individual, tentang hal remeh temeh setiap hari, tidak melulu terkait dengan kegiatan bersepeda, atau bekaitan dengan kegiatan komunitas. Dengan adanya FB (dan lumayan banyak dari kita ikut menjadi FB addict), meski lama kita tidak saling bertatap muka, kita tetap bisa saling menyapa setiap hari.

Untuk sementara ini memang keempat hal itulah yang menjadi media komunikasi kita bersama: milis b2wsemarang di yahoogroups, flexy milis, sms (belum semua anggota memiliki nomor flexy), dan Facebook.

Selain melalui dunia maya, beberapa anggota yang punya nyali terlalu besar, terkadang menjaring anggota baru manakala mereka melihat seseorang yang berbusana seperti akan berangkat bekerja naik sepeda. Atau tatkala bertemu dengan cyclist lain pada hari Minggu pagi di kawasan Simpanglima atau Jalan Pahlawan. Para cyclist ini tentu yang kebetulan belum ikut bergabung dengan klub maupun komunitas lain.

Dari presentasi yang kusampaikan, aku menerima beberapa pertanyaan dari peserta, misal apakah anggota kita nge’gap’ antara yang kaya dan miskin, antara yang cerdas dan kurang, antara yang berpendidikan tinggi dan kurang berpendidikan, berkelas sosial tinggi dan menengah, dll. Alhamdullillah selama ini aku tidak melihat adanya ‘gap’ seperti ini, jadi kita semua berbaur menjadi satu tatkala mengadakan pertemuan maupun ‘touring’ (CNR, MCR—baca morning city ride, terutama pada hari Mingu pagi, cross country, dll).

Pertanyaan lain yang hampir senada yakni apakah ada keminderan bagi mereka yang memiliki sepeda yang ‘biasa-biasa saja’ (misal yang bukan bermerk GIANT atau POLYGON). Aku menunjuk diri sebagai contoh yang tepat: aku tidak merasa minder tatkala di awal bergabung, aku menaiki sepeda merk WINNER buatan awal tahun 1990an—mungkin merupakan generasi pertama MTB. Dan kulihat teman-teman tidak ada yang menunjukkan sikap, “Eh, sepedamu kuno yak?” LOL. Kalau pun ada tentu itu hanya untuk meledek, bahan bercanda saja.

Pertanyaan lain, “Apakah pantat terasa tepos setelah bersepeda dalam waktu lama?” LOL.
Masukan yang sangat bagus adalah apakah b2w Semarang sudah memiliki AD ART? Dimanakah kita mengemukakan visi dan misi b2w sehingga para anggota baru bisa langsung mengenali tujuan utama dibentuknya komunitas b2w Semarang. Dimanakah kita menulis program kerja yang akan kita lakukan, minimal selama satu tahun?

Di akhir kata, aku sangat senang mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam hal berkomunitas ini. (mumpung kenarsisanku sedang muncul, jadi sangat menikmati menjadi pusat perhatian para anggota pelatihan. LOL.) sekaligus juga menunjukkan betapa kita pun bisa ikut menunjukkan kepedulian kepada lingkungan. Kebetulan ada salah satu peserta pelatihan yang sudah berbike to work di kotanya, meski di kotanya itu belum ada komunitas b2w.

Lebih senang lagi tatkala ternyata merchandise yang kuterima di akhir acara berupa sebuah hape Nokia 2505 CDMA, dan sebuah nomor flexy yang cantik.

Special thanks buat mas Agus Riyanto.

Terima kasih juga buat Aluizeus alias mas Triyono, dan anggota-anggota b2w Semarang lain. I love you all. As always.
PT56 23.13 020709




One Response to “Komunikasi dalam komunitas”

  1.   Martinon 05 Nov 2009 at 10:38 am

    hai, aku lagi ada penelitian tentang feminisme….aku sedang meniliti buku Mukhtar Mai yang berjudul In The Name Of Honor…aku mohon tolong beri pendapat kamu ya….thanks…balas aja ke email aku : tien_tetsu7@yahoo.com

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply