Archive for July, 2009

Jul 04 2009

Komunikasi dalam komunitas

Published by afemaleguest under daily

Hari kamis 2 Juli 2009 aku mendapatkan undangan dari Telkom untuk mengisi pelatihan bagi para pegawainya. Why the heck? Bukan untuk memberi training in English, apalagi mensyiarkan feminisme, LOL, (dua hal yang jelas tidak bisa dipisahkan dari seorang Nana Podungge). So what dong? Untuk bercerita tentang komunitas yang telah kugeluti selama kurang lebih satu tahun ini: bike to work.

Nyambung ga?

Kebetulan pelatihan yang diberikan oleh Telkom ini ditujukan kepada para pegawainya yang bergerak di divisi Customer Care. Dan tugasku adalah bercerita tentang komunitas bike to work, lebih spesifik lagi bagaimana para anggota komunitas berkomunikasi satu sama lain. (Komunikasi? Jelas erat hubungannya dengan T-E-L-K-O-M. Am I right?)

Tidak ada persiapan apapun yang kulakukan sebelum hadir ke ‘venue’ karena aku dihubungi oleh seseorang dari Telkom satu hari sebelumnya, mepet banget waktunya. Dan bocoran yang kuterima hanya satu, “sharing pengalaman tentang berkomunitas.” Mana waktu aku dihubungi, aku sedang berpusing-ria membuat lesson plan di kantor, aku ga kepikiran untuk mempersiapkan konsep mau berbicara apa di dalam pelatihan tersebut. Ya sudah, dengan bekal pengalaman ngocol di depan siswa/mahasiswa, aku tampil pede aja. Moreover talking about something I love: komunitas yang kubanggakan.

Aku memulai pembicaraan dengan menyebutkan pertama kali komunitas bike to work Semarang terbentuk, yakni akhir Juni 2008, dengan dibentuknya kepengurusan. Aku juga tak lupa menyebutkan bagaimana aku bisa mengenal personnel-personnel bike to work lain: melalui dunia maya, khususnya lewat www.multiply.com Waktu itu aku—yang memang hobby curhat ga penting di dunia perbloggingan—menulis tentang harga BBM yang naik dari Rp. 4500,00 menjadi Rp. 6000,00. Komplain betapa itu sangat memberatkan bagi rakyat kecil. Impactnya tentu harga-harga bahan pokok semakin tak terjangkau. Nah, seseorang dari ‘contact list’ku di MP yang menggunakan nama ‘Aluizeus’ menulis komentar, sekaligus promosi, “berbike to work aja mbak. Kalau berkenan, gabung saja ya dengan komunitas bike to work Semarang. Kita biasa berkumpul di hari Minggu pagi sekitar pukul 06.00 di depan kantor Telkom.”
Aku yang masih ja-im (mosok guru berangkat bekerja naik sepeda sih? Apa kata dunia? LOL. Apa kata siswa/mahasiswa kalau ngeliat aku datang naik sepeda yang sama sekali tidak bergengsi ini?) dengan halus menolak ajakan itu.

Namun rupanya seorang Aluizeus adalah seseorang yang gigih mengejar. (Maklum, biasa bekerja di bidang marketing kali. LOL.) Aku tetap saja jaim. LOL. Untungnya, tatkala aku bercerita kepada adikku tentang seseorang yang gigih mengejarku untuk bergabung dengan komunitas yang akan dia rintis ini, adikku semangat banget menyambutnya. Penyebab utamanya adalah: kakak kita berdua yang tinggal di Cirebon sudah merupakan seorang praktisi bike to work. Kebetulan juga di rumah ada sebuah sepeda nganggur. So? Why not?

Adikku lah yang memulai ikut bergabung dengan beberapa personnel pioneer b2w Semarang pada satu hari Minggu pagi. Kemudian tatkala ada undangan rapat pembentukan pengurus, kita berdua datang, dan langsung didapuk menjadi sekretaris. Pada waktu itu hanya kita berdua anggota yang berjenis kelamin perempuan.

Dan resmilah aku berkecimpung di komunitas b2w Semarang. Setelah berhasil mengesampingkan keja-iman, aku pun akhirnya mempraktekkan b2w. Ternyata, setelah ja-imku hilang, aku malah bangga pada diri sendiri karena telah ikut serta berpartisipasi untuk mengurangi polusi udara.

Kalau ga mulai dari diri kita sendiri, lalu siapa?

Kita menjaring anggota agar lebih banyak lagi, salah satunya, melalui dunia maya. Dan untuk menjalin komunikasi, Aluizeus pun membentuk milis b2wsemarang di yahoogroups. (Harus diakui, b2w Semarang banyak berutang budi pada makhluk satu ini. LOL.) Sebelum Facebook mewabah seperti sekarang ini—dan para member b2w pun terkena imbasnya, menjadi fesbuker aktif—milis b2wsemarang di yahoogroups menjadi ajang saling melempar ide untuk melakukan event tertentu, atau sekedar ‘touring’, bagaimana membesarkan komunitas yang masih seumur jagung ini, sekaligus juga menjadi ajang kangen-kangenan untuk ledek-ledekan (itu sebab kita menyebut diri sebagai komunitas yang lucu), curhat (terutama seorang Nana Podungge yang narsis dengan tulisan-tulisannya), dll, tatkala kita sedang tidak kopi darat.

Sms tentu juga menjadi media utama untuk saling berkomunikasi, khususnya tatkala kita perlu berkumpul untuk rapat karena akan mengadakan event tertentu, karena kita menyadari bahwa tidak semua anggota bisa terhubung dengan internet setiap hari. (Sudah rahasia umum bahwa internet di Indonesia ini mahal dengan akses yang super duper lelet.)

Satu hari pak Trisna—salah satu pengurus b2w Semarang yang kebetulan bekerja di Telkom—menawarkan untuk berkomunikasi melalui ‘flexy milis’. Caranya, pak Trisna mencatat semua anggota yang memiliki nomor flexy, mendata satu per satu, dan hasil akhirnya adalah tatkala kita mengirim satu berita melalui sms di flexy milis, anggota lain pun akan mendapatkan sms tersebut. Sangat praktis dan tidak perlu terhubung dengan internet.
Sayangnya aku belum memiliki nomor flexy sehingga aku tidak bisa bercerita banyak bagaimana berkomunikasi melalui flexy milis ini. (Dan para peserta pelatihan pun berkomentar, “Wah, jangan khawatir mbak, sepulang dari sini mbak Nana bakal mendapatkan nomor flexy baru!” How nice, eh?)

Media berikutnya bagi kita untuk saling berkomunikasi adalah melalui Facebook. Namun berbeda dengan milis di yahoogroups, di FB komunikasi yang terjalin lebih ke personal, individual, tentang hal remeh temeh setiap hari, tidak melulu terkait dengan kegiatan bersepeda, atau bekaitan dengan kegiatan komunitas. Dengan adanya FB (dan lumayan banyak dari kita ikut menjadi FB addict), meski lama kita tidak saling bertatap muka, kita tetap bisa saling menyapa setiap hari.

Untuk sementara ini memang keempat hal itulah yang menjadi media komunikasi kita bersama: milis b2wsemarang di yahoogroups, flexy milis, sms (belum semua anggota memiliki nomor flexy), dan Facebook.

Selain melalui dunia maya, beberapa anggota yang punya nyali terlalu besar, terkadang menjaring anggota baru manakala mereka melihat seseorang yang berbusana seperti akan berangkat bekerja naik sepeda. Atau tatkala bertemu dengan cyclist lain pada hari Minggu pagi di kawasan Simpanglima atau Jalan Pahlawan. Para cyclist ini tentu yang kebetulan belum ikut bergabung dengan klub maupun komunitas lain.

Dari presentasi yang kusampaikan, aku menerima beberapa pertanyaan dari peserta, misal apakah anggota kita nge’gap’ antara yang kaya dan miskin, antara yang cerdas dan kurang, antara yang berpendidikan tinggi dan kurang berpendidikan, berkelas sosial tinggi dan menengah, dll. Alhamdullillah selama ini aku tidak melihat adanya ‘gap’ seperti ini, jadi kita semua berbaur menjadi satu tatkala mengadakan pertemuan maupun ‘touring’ (CNR, MCR—baca morning city ride, terutama pada hari Mingu pagi, cross country, dll).

Pertanyaan lain yang hampir senada yakni apakah ada keminderan bagi mereka yang memiliki sepeda yang ‘biasa-biasa saja’ (misal yang bukan bermerk GIANT atau POLYGON). Aku menunjuk diri sebagai contoh yang tepat: aku tidak merasa minder tatkala di awal bergabung, aku menaiki sepeda merk WINNER buatan awal tahun 1990an—mungkin merupakan generasi pertama MTB. Dan kulihat teman-teman tidak ada yang menunjukkan sikap, “Eh, sepedamu kuno yak?” LOL. Kalau pun ada tentu itu hanya untuk meledek, bahan bercanda saja.

Pertanyaan lain, “Apakah pantat terasa tepos setelah bersepeda dalam waktu lama?” LOL.
Masukan yang sangat bagus adalah apakah b2w Semarang sudah memiliki AD ART? Dimanakah kita mengemukakan visi dan misi b2w sehingga para anggota baru bisa langsung mengenali tujuan utama dibentuknya komunitas b2w Semarang. Dimanakah kita menulis program kerja yang akan kita lakukan, minimal selama satu tahun?

Di akhir kata, aku sangat senang mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam hal berkomunitas ini. (mumpung kenarsisanku sedang muncul, jadi sangat menikmati menjadi pusat perhatian para anggota pelatihan. LOL.) sekaligus juga menunjukkan betapa kita pun bisa ikut menunjukkan kepedulian kepada lingkungan. Kebetulan ada salah satu peserta pelatihan yang sudah berbike to work di kotanya, meski di kotanya itu belum ada komunitas b2w.

Lebih senang lagi tatkala ternyata merchandise yang kuterima di akhir acara berupa sebuah hape Nokia 2505 CDMA, dan sebuah nomor flexy yang cantik.

Special thanks buat mas Agus Riyanto.

Terima kasih juga buat Aluizeus alias mas Triyono, dan anggota-anggota b2w Semarang lain. I love you all. As always.
PT56 23.13 020709

One response so far

Jul 04 2009

Nana Podungge on the Jakarta Globe

Published by afemaleguest under Weblogs

http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/blogging-in-english/313712

by Michelle Udem

Blogging In English
Michael Jubel Hutagalung, a Web designer based in Bandung, West Java, started Jubel and the Unessential, an English-language blog, primarily to improve his written English. The blog offers Hutagalung’s random musings on Indonesia’s politics and culture.

Within a year of Hutagalung starting the blog in October 2007, the traffic to the site was so high that it was exceeding the bandwidth limit on the platform he was using, and he had to move his blog to another host. The traffic explosion, mostly from Indonesians living abroad, gave him an incentive to do more than just improve his English skills.

“I want to tell the world what Indonesia’s really like — how the people really live,” Hutagalung said. But readers may not always get much on how Indonesians are living on an up-to-the-minute basis, or even about the day-to-day concerns of his countrymen.

Hutagalung last posted on Monday, after a two-month hiatus, filling readers in on his university plans and his personal debate in choosing between studying in London or the Netherlands.

The total number of Indonesian bloggers is difficult to quantify due to the constant deletion and activation of blog accounts. A top Indonesian-language blogger and internet publisher, Enda Nasution, says that Indonesia has about one million bloggers, based on blogger.com information, Wordpress information and blogs hosted personally — there are about 20 blogging communities in Indonesia, one in ever major city.

For Indonesians blogging in English, many are simply interested in trying to reach an audience beyond their own country and to give a perspective not available in the foreign media. Out of the 10 bloggers listed here, seven do not have a degree in English, nor have they studied abroad.

Budi Putra, a freelance writer and full-time, self-employed blogger living in Bintaro, South Jakarta, writes in English about new gadgets from an Indonesian perspective. Though many of his topics involve global technology news, he feels he provides a unique perspective as an Indonesian.

“My main demographic is both Indonesians and foreigners, especially those who love technology and digital life issues … Blogging is about conversation, so I want to talk to them through my blog. That’s why my blog’s tagline is ‘Talk With Me.’ ”

Hutagalung and Putra’s blogs focus on specific topics, but the majority of the Indonesians bloggers writing in English are diarists, who post as the mood strikes.

Devi Girsang, a 22-year-old medical student born, raised and living in Jakarta, operates the site “It’s My Life,” last updated May 5. With a tagline, “Love & Tears. Laugh & Cry. Achievements & Regrets. Welcome To My Life!” Girsang’s blog ranges from discussions on everyday topics such as poor customer service to inquiries on why people do bad things.

Such topics written from an Indonesian perspective and in English help readers realize that people worldwide run into the same problems and share the same emotional inquiries.

In another blog, “Republikbabi,” 23-year-old Calvin Sidjaja from Bandung posts updates about growing up with a mixed heritage in Indonesia. On his blog, Sidjaja discusses the role of mixed heritage Indonesians, such as Dutch-Indonesians and Chinese-Indonesians. He delves into the history of mixed heritages in Indonesia and how society views these people today.

“Many international students were helped because of the personal essays [on my blog],” he said.

But the Internet is not always the safest place to express personal and sometimes controversial opinions.

Girsang has “been accused of being an ‘American-wannabe’ from an anonymous commenter,” and Sidjaja notices how any type of neutral post he writes on religion always causes controversy.

Regardless of the hate mail and negative feedback, the bloggers find that voicing their thoughts and opinions in English is beneficial. “Though difficult to write in English, I like challenges. I love the rhythm of English words. It’s more personal and subjective,” Budi Putra explains.

To these bloggers, writing in English is their key to communicating to the outside world as they find freedom in abandoning their own tongue for just a few moments a week or month.

“Bahasa can be so difficult because of the formality of the language. I can express myself more casually in English” Girsang said.
These ten English-language blogs appear in the top 50 Indonesian blogs tracked by Web site www.indonesiamatters.com

Three Popular Blogs Written by Expats Living in Indonesia:

These three blogs written by expatriates living in Indonesia are ranked in the top six on blogs.indonesiamatters.com.

1. Brandon Hoover
thejavajive.com/blog
Consisting of high-resolution photographs, Brandon Hoover’s blog takes a look at Indonesia’s natural beauty and his life here as an American. Aesthetically pleasing, Hoover’s blog illustrates how Indonesia has influenced his thoughts and photography. A fan of Indonesia, Hoover’s blog provides an American’s perspective on the joys of living in the country.

2. Jakartass
jakartass.blogspot.com
Jakartass, written by a Westerner living in Jakarta, consists of witty posts chronicling the life of an expatriate in Jakarta. Posts on the blog discuss local news as well as personal experiences illustrating quirks in Indonesian culture. Most recent posts discuss power cuts in Jakarta and a list of books by bloggers. Information on Indonesian acronyms and slang words are found on the sidebar of the blog.

3. Treespotter
Treespotter.blogspot.com
Treespotter is a personal blog containing posts mostly on daily life in Indonesia and current, local events. Posts include idiosyncrasies in Jakarta culture, such as how there is always a place to smoke. The personal posts are both entertaining and in depth, while the posts pertaining to politics are written from an outsider’s point of view.

Ten Blogs by Indonesians Who Are Writing in English:

These ten English-language blogs appear in the top 50 Indonesian blogs tracked by Web site www.indonesiamatters.com.

1. Michael Hutagalung
michaelhutagalung.com
Web designer Michael Hutagalung maintains a blog that consists of his personal perspectives, his design portfolio and discussions on Wordpress themes and Indonesian social issues. His blog offers readers the opportunity to learn about the Wordpress program as well as read an Indonesian perspective on the upcoming election.

2. Budi Putra
budiputra.com
Blogger Budi Putra of this self-titled blog provides commentary on local news and technology gadgets. Mixing local technological news, such as Indonesia’s launch of digital TV, Putra also updates readers on more esoteric news such as the discovery of Indonesian sea horses. Technologically-savvy Putra comments on how information from the upcoming election will be broadcast via SMS.

3. Devi Girsang
devigirsang.blogspot.com
Attracting both Jakartans and foreigners, Devi Girsang’s personal blog gives insight into the life of a young, Indonesian medical student. Girsang blogs on topics ranging from laptop malfunctions to bus-riding etiquette. Girsang’s blog gives expatriates the opportunity to observe a young Indonesian’s experiences, while peers can relate or rebut Girsang’s critiques of Jakarta culture and society.

4. Merlyna Lim
merlyna.org/blog
Blogging from her home in Arizona, Merlyna Lim’s blog focuses on her craft as an artist and her thoughts on both Indonesian and American issues. In between posts of her personal drawings and collages, Lim touches on local topics such as the construction of urban space in Bandung and internationally relatable topics such as inequalities within society.

5. Martin Manurung
martinmanurung.com
Martin Manurung’s self-titled blog covers topical news issues in Jakarta. Providing his own commentary and critique of social, economic and political topics, Manurung tries to counterbalance foreign media reports that he feels are often “misleading.” Straying away from gossip, Manurung’s blog gives foreigners an inside look from a local’s perspective.

6. Calvin Michel Sidjaja
republikbabi.com
Touching on sensitive topics such as his search for his family tree and being of mixed heritage, Calvin Sidjaja’s blog consists of posts on his personal life and experiences. Sidjaja’s Indonesian heritage is a main theme of his blog, a topic that many young adults can relate to.

7. Ecky
cisayong-girl.blogspot.com
Known on her blog as Ecky, the blogger writes from Australia. Though she mostly posts on personal subjects such as shower rituals and the perks of being a woman, Ecky also writes about the difficulties that come with change and leaving the comfort of her home country, Indonesia. Ecky also posts topical news from Jakarta, such as the upcoming election and President Obama’s effect on Indonesians.

8. Carla Ardrian
socialindividualist.blogspot.com
Blogging on various topics from gardening to photography, Carla Ardrian provides an Indonesian perspective on everyday things. Accommodating her Indonesian readers, Carla posts innovative recipes and political commentary, while foreigners may be more attracted to her travel and cultural tips. One of Carla’s posts comments on her experience of receiving incorrect directions as a tourist in Bali.

9. Nana Podungge
afeministblog.blogspot.com
Nana Podungge’s most recent post on her blog, “A Feminist Blog,” discusses the topic of religion. Podungge considers herself a secular Muslim. Her religious views are mixed with the other main focus of her blog, a woman’s role in society. A unique combination, Podungge’s blog provides insight into controversial topics.

10. Martha
mamahit.net/blog
“Frank and Martha’s Blog,” written by Martha, captures the life of a young family in Jakarta. Martha’s updates illustrate the charms shared by all families worldwide, such as receiving her first written letter from her elementary school-aged son. Chronicling the life of a mother, Martha shares her thoughts on baking experiences, the workplace and raising a young child.

No responses yet