Archive for December, 2008

Dec 21 2008

Maron: Bercinta dalam lumpur

Published by afemaleguest under b2w

Setelah mengikuti ‘kampanye bersepeda’, beberapa anggota b2w—Triyono, Ndaru, Agung, Eka, Yoni, Drajat, Hidayat, Kholik, Nasir dan aku sendiri—melanjutkan nggowes ke Pantai Maron yang terletak tidak jauh dari bandar udara Ahmad Yani Semarang. Mengingat hari-hari terakhir ini hujan turun setiap hari di Semarang, yang nota bene matahari jarang bersinar, aku sudah memperkirakan medan off-road setelah lepas dari kawasan bandara akan menjadi sangat berlumpur, mungkin ada kubangan air di sana sini, sehingga menjadi sangat menantang bagi mereka yang melewatinya.

Perjalananku terakhir ke Pantai Maron yakni tanggal 23 Nopember. Meskipun sudah memasuki musim hujan, seingatku pada hari Sabtu 22 Nopember, seharian tidak turun hujan, dan matahari lumayan bersinar. Itu sebabnya meskipun jalannya licin di sana sini, masih ‘enak’ dilewati.

Namun perjalanan ke Maron tanggal 21 Desember ini meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam karena beberapa hal, selain karena seorang Agung Tridja ikut kali ini. (Dasar narsis, sebelum pulang dia sempat berbisik kepadaku, “Pokoknya event apa pun akan sangat berkesan kalo aku ikut!” LOL.)

Pertama berbelok ke areal off-road, teman-teman yang berada di belakangku (aku berada di depan karena aku sudah berpengalaman ke Maron beberapa kali) bersorak gembira, “Akhirnya kita sampai juga ke areal yang kita rindui!”

Baru beberapa meter berjalan, kita bertemu dengan banyak orang yang sedang berjalan berlawanan arah dengan kita. “Jalanan buruk mbak, ga bakal nyampe ke pantai! Mending berbalik saja!”

Aku tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih.”

Kadang aku berkata, “Oh? Di sana jauh lebih buruk ya kondisinya?”

Ketika bertemu dengan seseorang yang dengan terang-terangan memprovokasi aku untuk kembali, sekaligus menunjukkan pesimisnya bahwa aku akan patah semangat di tengah jalan, aku bilang, “Ya gimana ya? Tuh teman-teman di belakang saya malah suka dengan kondisi jalan yang seperti ini!”

Klakep. LOL

Sesampai di separuh perjalanan, dimana ada sebuah jembatan yang menghubungkan jalan menuju ke sebuah perumahan, jalanan semakin memburuk. Tanpa kuketahui sebagian dari kita ada yang mengambil jalur kiri, termasuk mas Nasir, my savior dalam perjalanan XC ke Kedungjati.

Aku sempat hampir patah semangat tatkala kaki kiriku terperosok ke lumpur, seluruh sepatu kiriku terbenam. Eka yang berada di belakangku tak henti-hentinya menyemangatiku, “Ayo mbak Nana, angkat kakinya, lanjutkan perjalanan. Kayuh terus pedalnya, jangan lupa stel girnya agar kayuhan ringan.” Ketika melihatku lebih memilih menuntun sepeda (aku mulai kehilangan kepercayaan diri bahwa aku mampu menaikinya), Eka pun menawarkan sepedanya kunaiki, “Mbak Nana naik sepedaku aja. Ini bannya mencengkeram!” Dan ternyata benar. Enak sekali nggowes di jalanan berlumpur seperti itu menaiki sepeda hasil rakitan Eka sendiri ini.

Beberapa saat kemudian aku baru menyadari beberapa dari kita—Triyono, Nasir, Hidayat, dan Drajat—memilih jalur kiri, yang konon katanya kondisinya tidak ‘semengerikan’ jalur kanan. I was a bit unhappy for this karena ‘saingan’ berebut untuk bernarsis ria di depan kamera akan berkurang. LOL. “Kita ga bisa foto bareng nanti di pantai!” rajukku, sambil setengah berteriak, agar mereka mendengar.

“Lha gimana lagi? Jalanan di situ parah banget!” komentar mas Nasir, setengah berteriak pula.

Beberapa saat kemudian …

Setelah melihat air laut yang membiru dari kejauhan, menandakan bahwa ‘etape’ pertama kita akan berakhir, uh … leganya hatiku. LOL.

“Jalanan becek berlumpur dan licin yang berat dilalui ini setara dengan lima tanjakan!” kata Agung hiperbola. LOL.

Wah, aku lebih memilih jalanan becek berlumpur ini Gung, dibandingkan lima tanjakan yang setinggi Gombel. LOL. Aku pun lega Darmawan tidak jadi ikut karena istrinya ga berani ‘menanggung resiko’. Poor her kalau harus berjuang melawan jalanan seperti ini.

Baru kali ini aku melihat pantai Maron sepi pengunjung. Warung penjaja makanan dan minuman pun hanya ada dua yang buka.

Perjalanan menantang yang cukup melelahkan ini, meskipun tidak jauh, telah membuat perut kita kelaparan. Apalagi aku yang lupa membawa minum. I was very thirsty!

“Tahu ga mbak, beda antara enak dan lapar itu tipis?” kata mas Ndaru, waktu kita menunggu pesanan makanan kita datang.

“Well, orang bilang lapar adalah lauk yang paling lezat..” jawabku.

Ini adalah kali pertama aku makan di salah satu warung di Pantai Maron. Maklum, untuk melanjutkan ‘etape’ yang kedua—yakni balik lagi ke jalan raya—kita semua tentu butuh asupan makanan dan minuman yang cukup.

“Will you directly post this in your blog tonight?” tanya Agung, sebelum kita melanjutkan perjalanan.

“How about if I write a poem for this?” tanyaku balik.

Agung manggut-manggut sambil bilang, “Bercinta dalam lumpur…”

“Hey … that’s a superb idea!” komentarku.

(Namun ternyata meskipun telah nongkrong di depan monitor beberapa lama, tak jua muncul kata-kata yang bisa kupakai dalam puisiku, sehingga aku malah menulis ‘laporan perjalanan’ ini dalam bentuk esei.)

Kholik yang ada keperluan telah meninggalkan kita berlima seusai makan. Namun ternyata, dalam perjalanan balik, dia kurang beruntung, ‘letter S’-nya patah. Itu sebab tak lama kemudian kita berlima telah menyusulnya. Segera Eka mengeluarkan peralatan yang dia miliki, setelah kita memilih satu tempat di pinggir, di atas rumput. Aku menonton sambil terkagum-kagum karena yang bisa kulakukan dengan sepeda hanyalah menaikinya. LOL. Agung dengan cekatan melakukan ini itu. Mas Ndaru membantu memberi instruksi ini itu. Demikian juga Eka. Sedangkan Yoni ngadem di bawah rerimbunan, takut warna kulitnya tambah gelap, LOL, karena pada saat itu, sekitar tengah hari, matahari mulai memancarkan sinarnya.

Kholik dan Agung ...

Kholik dan Agung ...

Cukup makan waktu lama untuk membuat sepeda Kholik bisa dinaiki secukupnya. Sementara itu ternyata dia telah menelpon seseorang untuk menjemputnya yang kemudian datang naik sepeda motor. Sepedanya pun dia taruh di tengah.

Tak lama kemudian, sepeda Yoni yang hampir mengalami peristiwa yang hampir serupa dengan Kholik. Bedanya adalah Yoni segera menyadarinya, sehingga bisa segera pula dibetulkan, di bawah instruksi Eka, sehingga tidak sampai ‘letter S’-nya patah.

Tatkala menunggui kedua kakak beradik ini, aku sempat meprovokasi sepasang kekasih untuk kembali ke jalan raya saja, karena terlihat keragu-raguan di wajah kedua orang tersebut. Apalagi kulihat si perempuan mengenakan sepatu ‘feminin’ berhak sekitar 3 cm lancip.

“Sepatumu dilepas saja,” kata si laki-laki. “Lihat saja jalanan seperti ini.” Mungkin terbayang kalau dia terpaksa meminta kekasihnya turun dari motor.

Si perempuan ragu-ragu.

“Ya, lebih baik sepatunya dilepas saja.” Kataku, ikut campur. LOL. “Sayang kalau kotor, apalagi rusak,” kataku lagi.

“Tuh kan …” kata si laki-laki berusaha meyakinkan kekasihnya.

“Atau lebih baik lagi balik aja ke jalan raya. Kondisi jalan di sebelah sana jauh lebih ‘buruk’ dibandingkan kondisi jalan di sini,” provokasiku.

Aku ingat provokasi orang-orang tatkala aku mulai memasuki medan ‘off-road’ gagal total menghentikan gowesanku.

Namun provokasiku berhasil dengan mudah. LOL. Si lelaki pun segera memutar sepeda motornya. Kembali ke jalan raya.

Setelah Yoni dan Eka berhasil membetulkan gir sepedanya, kita bertiga segera menyusul Agung dan mas Ndaru yang terheran-heran ada apa kok kita tertinggal lumayan jauh.

Sesampai di jalan raya, kita berlima sepakat mencari tempat cuci sepeda motor, agar sepeda kita bisa segera dibersihkan. Kita menemukan tempat itu di sebuah gang Anjasmoro, setelah bertanya kepada seorang tukang parkir di Jalan Anjasmoro Raya. Kebetulan yang memiliki usaha sedang ‘nganggur’ alias tidak ada pasien, sehingga sepeda-sepeda kita pun segera ditangani. Semula si Bapak pemilik usaha akan menolak, karena belum pernah mendapatkan ‘sepeda’ sebagai pasien. Namun, ternyata mas Ndaru’s authoritarian voice (baru tahu aku ternyata dia memiliki kemampuan para politisi ini LOL) membuat si Bapak menerimanya without any reservation. LOL. Untung di depan tempat cuci sepeda motor ini ada sebuah warung kecil tempat kita bisa nongkrong, minum dan makan snack, sambil ngobrol.

Untuk ‘lebih melengkapi’ kesan perjalanan kali ini, ban sepeda mas Ndaru bocor!!!

Menunggu proses cuci sepeda lima biji ini ternyata lumayan lama. Agung sempat pamer tubuh (bagian atas doang!!!) karena ga tahan panas. Angin sepoi-sepoi yang kadang berhembus membuat mata pun mengantuk.

“Ingat ga waktu kecil dulu kita paling malas kalau disuruh tidur siang? Kalau ga tidur siang, nanti dislentik telinganya!” kata mas Ndaru.

Aku langsung ketawa ngakak karena ingat masa kecil dulu. Seingatku aku ga pernah membangkang kalau disuruh tidur siang. Tapi kakakku pernah punya ‘kasus’ dengan bokap gara-gara ga mau pakai sandal. Kita diharuskan memakai sandal, meskipun berada di dalam rumah, demi menjaga kebersihan kaki dan kesehatan tubuh. Kakakku paling malas memakai sandal hingga satu hari bokap marah-marah waktu pulang dari kantor. Melihat kakakku tersayang dimarahi, aku pun menangis keras-keras. Bokap pun heran; orang yang dimarahin kakaknya, ini kenapa si adik yang nangis? LOL. Nyokap yang mencup-cup aku pun bilang, “Yang dimarahin bukan Nana kok. Udah cup diem.” Aku tetap saja menangis, sehingga bokap pun akhirnya berhenti marah. LOL.

“Betapa enaknya tidur siang itu. Nyesel deh kenapa waktu kecil dulu aku suka mbeling kalau disuruh tidur siang. Maunya main melulu. Sekarang? Tidur siang di kantor jelas diomel-omelin bos. Bisa tidur siang adalah sebuah anugrah …” Kata mas Ndaru lagi lebih lanjut. LOL.

Ban bocor sepeda mas Ndaru ditangani sendiri karena kebetulan dia membawa persediaan untuk menambal ban bocor, dan Eka membawa pompa kecil yang dari jauh nampak seperti vibrator. Wakakakaka … (Suwer, aku ngelihatnya HANYA di salah satu serial “Sex and the City”, belum ngeliat yang asli. LOL.) Ajaibnya, yang melakukan penambalan adalah Yoni. (Yon, kamu bisa buka usaha tambal ban! LOL.)

“In this off-road trip, Eka is your savior…” kata Agung, sebelum kita meninggalkan tempat.

“Yup, you are absolutely right!” jawabku.

Aku bersyukur tempat tinggalku tidak jauh dari Anjasmoro. Yoni dan Eka lumayan masih harus menggowes sepedanya dalam waktu beberapa lama. Agung dan mas Ndaru yang perjuangannya paling ‘poll’, karena tinggal di ujung Semarang bagian Tenggara.

*****

Malamnya mas Nasir datang ke rumah untuk mengambil kaos jersey b2w Semarang yang masih ada lima biji di tempatku. Teman-teman kerjanya tertarik untuk membelinya. “Hikmah city tour,” kata mas Budi Seli.

Dari perbincangan sejenak aku tahu bahwa keempat orang yang mengambil jalur kiri gagal mencapai laut karena suatu ‘rintangan’. Demi kemaslahatan bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.

PT56 23.45 211208

3 responses so far

Dec 21 2008

Kampanye bersepeda di Semarang

Published by afemaleguest under b2w




Ada program khusus yang diselenggarakan pada hari Minggu 21 Desember 2008: KAMPANYE SIMPATIK bersepeda yang diikuti oleh tiga komunitas sepeda di Semarang: SOC (Semarang Onthel Community) sebagai pencetus ide, bike to work Semarang, dan SLOWLY (Semarang lowly rider).
Ketua SOC, Bob mengemukakan ide ini untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan b2w setelah kedua komunitas ini di’feature’kan di sebuah surat kabar nasional, di bagian lokal Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Merasa bahwa kedua komunitas memiliki visi dan misi yang mirip, maka ide untuk menyelenggarakan kampanye ini pun dikemukakan. ‘Slowly’ diundang oleh SOC tentu karena memiliki visi dan mirip yang serupa.
Komunitas b2w memilih berkumpul di SMA 1 Semarang sekitar pukul 06.00, untuk kemudian secara bersama-sama meluncur ke tempat yang telah disepakati bersama SOC; yakni di Lawangsewu. Setelah event BIKE TO WORK DAY, baru kali ini b2w mampu mengumpulkan member dengan jumlah yang lumayan, sekitar 50 orang; terdiri dari anggota lama maupun baru.
Sekitar pukul 07.00 b2w meluncur ke Lawangsewu, yang terletak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari meeting point semula. Di sana beberapa anggota SOC dan ‘slowly’ telah menunggu. Semakin siang semakin banyak anggota kedua komunitas tersebut yang datang.
Setelah memberi kesempatan beberapa reporter dari beberapa media untuk melakukan wawancara, kita semua mulai melakukan ‘city tour’. Dari Lawangsewu/Tugumuda, kita mengambil rute Jalan Pandanaran, Jalan Thamrin, belok ke Kampung Kali sampai ke Jalan Mataram, belok kiri, lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan Kota Lama, lewat Gereja Blenduk, kemudian di jembatan Mberok belok kanan, menuju Polder yang terletak di depan Stasiun Tawang. Di sini ketiga komunitas diwakili oleh masing-masing ketua/wakil ketua saling memperkenalkan komunitas masing-masing yang ternyata intinya tidak jauh beda: menggunakan sepeda sebagai moda transportasi untuk keperluan sehari-hari: demi mengurangi polusi udara dan ketergantungan kepada BBM. Yang membedakan ketiga komunitas yakni jenis sepeda yang dipakai dan para anggotanya: SOC menggunakan sepeda jenis ‘lama’ (single speed) yang diproduksi sebelum tahun 1980-an, anggotanya biasanya orang-orang berusia tigapuluh tahun ke atas; ‘slowly’ menaiki jenis sepeda mini yang populer sekitar tahun delapanpuluhan, dengan modifikasi tertentu, para anggotanya kebanyakan para pelajar, mulai dari mereka yang duduk di bangku SMP sampai perguruan tinggi; sedangkan anggota b2w kebanyakan menggunakan jenis sepeda gunung, alias MTB yang mulai populer tahun 1990-an, meskipun b2w tidak membatasi jenis sepeda yang dipakai; para pekerja yang bersepeda ke kantor, menggunakan jenis apa aja, bisa bergabung dengan komunitas b2w. Sampai sekarang anggota b2w Semarang kebanyakan adalah para pekerja, meskipun kita tidak membatasi ‘hanya untuk para pekerja saja’.
Mengacu ke b2w Jogja yang merangkul beberapa komunitas ke dalamnya (misal para ‘onthelist’ dan ‘slowly’) sebagai para pengguna sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, sudah selayaknya ketiga komunitas di Semarang ini pun melebur menjadi satu; hanya saja terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil—onthelist, MTBers, dan pengguna sepeda mini.
Direncanakan di masa yang akan datang, ketiga komunitas akan menyelenggarakan acara yang serupa, untuk menjaring lebih banyak lagi anggota.
Nana Podungge
Sekretaris 1 b2w Semarang
PT56 22.00 211208

Untuk foto-foto lain, klik saja

http://mastunggal.multiply.com

http://trextion.multiply.com

http://b2wsemarang.multiply.com

No responses yet

Dec 18 2008

Visiting Jogja

Published by afemaleguest under b2w, daily

I visited Jogja on November 29-30 with some b2w friends of mine. :) Here are a few pictures of the occasion. :)

One of my dream-come-true … mejeng di depan tulisan UNIVERSITAS GADJAH MADA di atas sepedaku!!! :)

di UGM

di UGM

Di depan Benteng Vredeburg!

vredeburg

vredeburg

Bareng teman-teman di Tamansari

Tamansari

Tamansari

Tamansari

Tamansari

di Tamansari juga

di Tamansari juga

Di Pemandian Putri Tamansari

Ramai-ramai di pemandian putri

Ramai-ramai di pemandian putri

No responses yet