Archive for November, 2008

Nov 28 2008

Bersamamu

Published by afemaleguest under Angie, poems

Bersamamu
Hari-hariku lebih berwarna
Kau buat langit tak hanya berhiaskan
Warna biru cerah
Namun penuh bianglala
Dari ufuk lazuardi yang satu
Ke kaki langit yang lain

Bersamamu
Kuresapi makna sebagai seorang perempuan
Bermain dalam buih kehidupan
menikmati cinta yang tercurah
Menghayati lelah yang menyapa
Kala malam tiba
Sembari menikmati wajahmu nan damai

Bersamamu
Terkadang aku tergores tanya nan pedih
Terluka kah engkau atas kekeraskepalaanku
Karena keangkuhanku
Bahwa aku tak seperti perempuan lain?

(dan kutawarkan warna hitam dan kelabu
dalam hidupmu yang masih belia)

SPB 14.15 191108

No responses yet

Nov 28 2008

A surprise …

Published by afemaleguest under b2w, daily

A very beautiful and loving surprise

Hari sabtu adalah hari yang kutunggu-tunggu, karena hari itu adalah hari terakhir bekerja, dan aku bisa tidur awal setelah pulang, tanpa perlu merasa terbebani bahan mengajar di keesokan hari. Hari sabtu sekaligus juga merupakan hari yang paling melelahkan, tenagaku tinggal sisa-sisa doang, setelah bekerja sejak hari senin.

Setelah hampir seminggu feeling blue without any clear reason, (padahal aku ga sedang PMS loh!) hari sabtu kemarin aku ingin jam enam segera datang, agar aku bisa segera pulang, mandi, dan … menikmati hangat dan empuknya kasur, guling, plus bantal, sembari menikmati kicauan anak semata wayangku. LOL.

Sekitar pukul 17.40, kuterima sms dari Iput, “Invitation! Farewell party mas tyo/dude, ntar jam 18.00 di rumah om budi seli, puspowarno, + pembagian award, mohon datang tepat waktu.” Serasa aku mendapatkan suntikan energi entah darimana, aku jadi merasa begitu alive, dan kasur yang hangat dan empuk pun menjadi kurang menarik. (spending time with my dear b2w friends is mostly my favorite time, besides swimming, of course. )

Aku sampai di rumah mas Budi sekitar pukul 19.00 (molor poll yah? hahaha … aku rencana mau langsung ke sana sepulang dari Tembalang. Tapi, karena mengharapkan akan ada CNR setelah itu, aku pikir sebaiknya aku pulang aja dulu, trus ganti baju plus naik sepeda. Rencana jadi agak molor setelah Angie bilang, “Mama mandi dulu dong! Masak setelah seharian pergi ga mandi sebelum pergi lagi?”), mas Tyo yang jadi lakon utama malam itu yang membukakan pintu pagar tatkala aku datang. Dari sorot matanya kulihat dia begitu bersedih, karena demi masa depannya, dia harus pergi begitu jauh, meninggalkan keluarga, plus teman-temannya. Aku jadi ikut ngelangut ngelihatnya.  but at least, keinginanku untuk bersalaman dengannya (kok jadi kayak selebriti aja dia? hahaha …) dan secara langsung mengatakan, “Met jalan … semoga sukses mendulang dolar di negeri orang …” kesampaian, ga hanya lewat milis, maupun sms.

Di ruang tamu yang mungil itu sudah ada Maya, Iput, Eka, Zacky, dan Darmawan, selain Tyo. Yang punya rumah malah pergi karena harus menghadiri suatu acara. Tidak ada hidangan spesial yang mengatakan bahwa acara ini diadakan secara mendadak (lha wong paginya aku dan mas Tyo sempat berkirim sms sejenak, dia ga bilang apa-apa tentang acara gathering ini). But it did not matter, yang penting kita ngadain acara berkumpul untuk ‘nguntapke’ alias to say goodbye formally, secara organisasi, kepada mas Tyo.

Setelah Lila dan mas Nasir datang, acara dibuka oleh Darmawan. (Ga nyangka bakal ada susunan acara, sambutan-sambutan, padahal beberapa bulan lalu waktu sibuk rapat untuk mengadakan BIKE TO WORK DAY 29 Agustus 2008 kita ga pake acara pembukaan, laporan notulen oleh sekretaris, de el el…) Aku sempat heran, “Weleh, serius to ki?” LOL. Sambutan pertama diberikan oleh mas Nasir, mewakili organisasi b2w Semarang. Sambutan kedua diberikan oleh mas Tyo, yang akan pergi. Dia mampu berbicara sepatah dua patah kata tanpa menitikkan air mata, LOL, meskipun dari sinar matanya aku masih melihat rasa haru dan berat untuk meninggalkan organisasi yang baru dia ikuti selama beberapa bulan.

Acara selanjutnya adalah pengumuman pemenang award.

Swear, aku pikir Darmawan cuma bercanda. Lah wes piye? Aku kan termasuk pengurus inti b2w Semarang, karena aku bisa dikategorikan pioneer tatkala beberapa orang mendeklarasikan berdirinya b2w Semarang pada tanggal 26 Juni 2008. Masak ada acara sepenting itu—pemilihan salah satu member b2w Semarang yang dianggap konsisten dengan berbike to work sebagai somewhat ‘role model’ bagi member yang lain, cie … duwur banget je!!! LOL—aku sebagai pengurus ga tahu?

Aku pikir organisasi akan memberikan kenang-kenangan buat Tyo sebelum dia pergi. (biasanya ibu-ibu PKK itu memberikan kenang-kenangan kepada salah satu warga yang pindah ke daerah lain!) selain juga karena setahuku Tyo sangat konsisten dengan berbike to work, selain pak Wargo yang telah kujadikan ‘feature’ di blog ku, bahkan artikelku itu diterbitkan www.superkoran.info juga.

Waktu Darmawan bilang,

“Setelah memilah dan memilih dari segenap anggota b2w Semarang, ada tiga nominator utama. Yang pertama mas Tri …”

Aku langsung berpikir, “Wah … bercanda nih!!!” bukan karena apa-apa. Kalau parameter-nya adalah kekonsistenan berbike to work, mas Tri kalah dong dengan yang lain, terutama dengan pak Wargo dan mas Tyo.

“Alasannya … karena dia rajin posting di milis …”

Tuh, ga nyambung kan? Aku cuma tersenyum mendengarnya.

“Nominator yang kedua … Firman…”

Aku langsung berpikir (I am quite a quick thinker! LOL), “Karena Firman adalah ketua b2w Semarang, dan dia lah yang memiliki contact langsung dengan b2w Indonesia (Jakarta).”

Darmawan melanjutkan, “Kebalikan dengan mas Tri, karena Firman jarang nongol di milis…!”

Langsung meledaklah tawaku.

“Lucu … lucu!!!” teriakku. (NOTE: sebelum itu karena banyolan Darmawan, Iput pun memberikan topik gathering kita, “ben lucu!”)

“Nominator yang ketiga … saya sendiri…” lanjut Darmawan.

Ketawaku tambah keras. Aku semula berpikir nominator yang ketiga adalah mas Tyo, kemudian dialah pemenangnya, untuk memberikan kenang-kenangan sebelum dia pergi. Pernyataan Darmawan, “ … saya sendiri …” merupakan hal paling lucu yang kudengar malam itu. Itu sebabnya, aku langsung nyahut, “Pemenangnya akan … diguyur dengan air!!!” sambil tetap tertawa-tawa.

Darmawan langsung berkomentar, “Bener loh ya mbak, entar pemenangnya diguyur air!!!”

Aku langsung merasa ada yang ga beres. My sixth sense mengatakan, secara tidak langsung, Darmawan bilang, “You will be the winner. You will be showered by water!”

Namun karena aku juga berpikir Darmawan sedang ingin menghibur Tyo yang akan pergi, yang terlihat muram semenjak aku datang, aku tetap berpikir Darmawan bercanda.

Ujar Darmawan berikutnya, “Namun berhubung kedua nominator lain tidak hadir malam ini, dan saya menjadi satu-satunya nominator yang datang, maka menjadi tidak adil kalau hanya saya yang menjadi calon pemenang. Untuk itu, panitia memutuskan untuk mengangkat nominator lain, yakni mbak Nana …”

Nah!!

“Setelah melalui diskusi yang cukup alot, panitia memutuskan yang mendapatkan award adalah mbak Nana!!!”

Mendengar kalimat Darmawan tersebut, aku tetap tertawa-tawa, (hah, ternyata teman-teman pengen ngguyur aku pake air toh? LOL) tatkala tiba-tiba Maya dan Iput menggiringku keluar dari ruang tamu menuju teras, sembari menutup mataku. Aku membayangkan di luar aku akan diguyur air (ealah, apa salah dan dosaku? Kok aku dikerjain kayak gini? LOL.) Atau akan adakah kejutan lain di luar?

Sesampai di luar, Iput melepaskan tangannya dari mataku, sambil menunjuk sebuah sepeda kepadaku, “Hadiah buat mbak Nana … sebuah sepeda baru yang bisa mbak Nana naikin ke kantor, maupun ikutan cross country bersama teman-teman!”

H-A-H!!!

I was extremely surprised!!!

Very-very surprised.

Aku masih berpikir teman-teman bercanda, dan kompak ngerjain aku. (Piye toh, lha wong sing meh lungo adoh mas Tyo, kok sing dikerjain aku???)

“Serius nih, sepeda ini buatku?” tanyaku ga percaya. “Bercanda nih…”

“Piye toh, orang kita merencanakannya selama berhari-hari kok dianggap bercanda!” sahut Darmawan.

“Why me?” tanyaku, tetap tak percaya.

“Alasannya akhiran katanya a. Kalo alasane, akhiran katanya e.” Jawab Darmawan, tetap bercanda.

Kemudian aku langsung ditodong untuk mencoba menaiki sepeda itu, putar-putar di sekitar Puspowarno X.

S-U-R-P-R-I-S-E!!!

Dan aku pun menjadi bintang utama malam itu. (dan bukannya Tyo. Hehehe …)

Kita akhiri gathering dengan berbondong-bondong ke jalan Gajahmada, menyambangi jualan nasi pecel. Maya menaiki sepeda WINNER ku sampai rumah, sementara aku dipaksa naik sepeda yang baru.

Paginya (semula aku rencana mau berenang di hari minggu 23 Nop. 08, as usual when I am feeling blue, I want to be alone, away from the crowd) aku ikut pit-pitan ke pantai Maron, ‘ngreyen’ sepeda baruku di tempat becek-becek. My feeling blue reduced a bit.

I am surrounded by loving and caring big family of b2w Semarang community.

Thank you for the loving surprise, dear friends. I really appreciate and feel proud of our brotherhood and sisterhood as well as togetherness.

I love you all.

– Nana Podungge –

PT56 23.16 231108

P.S.: I am still curious to know the mastermind of this surprise anyway. Hello anybody, will you tell me?

The orange bike below is my new bike.

No responses yet

Nov 28 2008

Into the Wild

Published by afemaleguest under daily


This movie is based on Jon Krakauer’s book that tells us about the true story of Christopher Johnson MacCandless who was born on February 12, 1968 and died on August 18, 1992. Getting very disappointed by his own parents, Chris (Emile Hirsch) left them and his younger sister, Carine, (Jena Malone) as well after graduating from Emory College, where he studied only to make his parents happy, and not to pursue his own ideal. The disappointment to his parents was supported by his sickness to hypocrite society. This made him leave the crowd of people and go INTO THE WILD.
Some favorite scenes and conversations of mine in the movie are:

“Some people feel like they don’t deserve love. They walk away quietly to the empty space trying to close the gaps with the past.”

Apparently Chris talked about himself; he left his family since his parents’ problematic marriage and their trying to cover it from public as well as from the children made him label the parents big hypocrites. By saying the aforementioned statement, he realized that his parents loved him. However, his deep disappointment toward them made him feel he did not deserve the love. Therefore, he disappeared quietly from his parents’ life. He was pursuing his own happiness in the wild. He did not use the name his parents gave, and named himself as Alexander Supertramp; he even simply told some people he met during his journey that he did not have family.
Hypocrisy in society has been one mainstream topic in my blog. Examples: people who let themselves trapped in a loveless marriage only because they live in marriage-oriented society; many in that kind of marriage, women become the main victims (just like what is illustrated in this movie), then the children. People (mainly women) who think that they are luckier since they find men who are willing to marry them and feel sorry for single (moreover old maids) women, while in fact deep down in their hearts they envy those free women. People who have children not because they love having offspring but only for their own pride and selfishness.

“… get rid of this sick society. Why people, every fucking person is so bad to other people, so fucking awful. It doesn’t make sense to me; judgment, control, all that whole spectrum…”

What happened to Chris’ parents—to be hypocrites, Chris said—was also for the sake of judgment from society—to be considered happy and romantic family while in fact inside, Billie, the mother was bruised. (Why do women always become victims?)
Some people feel like they have full rights to make judgment to other people, to say what is good what is bad using their own eyes, without trying to view things from different point of view.

No responses yet