Archive for October, 2008

Oct 21 2008

U S I L

Published by afemaleguest under daily

Tatkala membaca sebuah tulisan di www.superkoran.info tentang ibu-ibu Indonesia yang suka usil bertanya, “Kapan menikah?” untuk mereka yang masing single—terutama untuk kaum perempuan yang sudah “mendekati” atau bahkan “memasuki” usia yang konon dianggap “rawan”. Say it 30 years old. Setelah menikah, pertanyaan usil berikutnya adalah, “Kapan punya anak?” (blog si penulis bisa diakses di http://rimafauzi.com/blogs/ aku teringat pengalamanku sendiri. Well, not exactly the same, but similar lah. (kebiasaan buruk yang ditularkan oleh Abangku, menulis dengan bahasa gado-gado, English plus Bahasa Indonesia. Dan hasil ‘perenungan’ sendiri tentang tidak ada salahnya membentuk ‘Indoglish’ hehehehe … si Nana N-G-E-L-E-S!!!)

Pengalamanku begini.

Aku kebetulan tidak pernah mengalami ditanya orang-orang usil dua pertanyaan yang ditulis Rima di atas. Well, aku married usia 23 tahun (akhirnya Nana mengaku!!! Hahahaha …) Setahun kemudian aku melahirkan my Lovely Star. Aku tidak mengalami mendekati maupun memasuki usia rawan bagi seorang perempuan yang belum menikah. Lha wong sebelum usia itu aku telah mengalami kedua hal tersebut.

I got divorced in 2000.

Nah, pertanyaan usil orang yang tidak mengetahui latar belakang my marital status pun bermunculan. “Loh, ternyata Ms. Nana sudah punya anak toh? Udah gedhe lagi. Kok cuma satu?”

“WHAT IS WRONG WITH HAVING ONLY ONE KID?”

Rasanya aku ingin berteriak bertanya balik seperti yang kutulis di atas. LOL. (“Sabar Bu!!!” goda Angie. Hahahaha …)

Sekali orang bertanya seperti itu, aku mungkin menganggapnya hanya angin lalu. Namun setelah semakin banyak orang bertanya, aku pun semakin kesal. Sampai akhirnya aku menemukan satu jawaban usl (bagi orang yang suka usil nanya, boleh dong dijawab usil pula! Hahahaha …)

“Well, I am still looking for the perfect guy to donate his sperm!!!”

Xixixixixixi …

Dan, ternyata jawaban usil ini cukup ampuh to silent people.

“What’s wrong with Angie’s dad?” kadang ada orang yang masih punya guts to ask me further. Kujawab, “That is just not creative to have more than one kids from the same guy. Don’t you agree with me?” hahahahaha …

I somewhat feel reluctant to disclose my marital status (actually) because I HATE to be asked some more nosy questions, or, pitiful expression in people’s faces. (It seems like it is a very weird thing in Indonesia that single parents are even happier than those who are ‘tied’ in a loveless marriage.)

Teringat tahun 2004 lalu, seorang teman kuliah melahirkan anak keduanya, padahal setahun sebelumnya she just got her first baby. I congratulated her. Tak disangka, dia bertanya, “So, mbak Nana kapan dong punya anak yang kedua?”

“Well, I haven’t found the perfect guy yet to plant his seed on me!!!” jawabku cuek.

Melongolah dia. Wakakakakaka …

“Excuse me? Can you say that again?” tanyanya.

Aku ogah dengan ‘interogasi’ masalah privacy begini, so kutinggal saja teman kuliahku itu. Sementara Juli, that soulmate of mine, sembari ketawa ngakak, menjawab pertanyaan itu, “Don’t listen to mbak Nana. She is still error now!!!”

Kalo aku punya anak lagi …

Angie akan tersaingi. (I am not sure if she’ll love to get a rival to get my love. LOL. N-G-E-L-E-S again!!! LOL)

I have to work harder.

I’ll be busier. (Lha wong sekarang aja aku udah ga punya waktu lagi buat berkreatif ria menulis artikel!!! )

I cannot resume my study again probably.

Persis seperti yang dulu diungkapkan oleh Prof. Hall, salah satu dosen tamu dari Michigan, “You’ve got to choose to have a baby or to buy a car or a house; to have a baby or to continue your study! A somewhat westernized way of thinking.”

There is nothing wrong with it, I suppose.

What’s your experience in facing those so-called nosy questions that are very “Indonesian culture”? (I have written a lot of in my blog at http://afeministblog.blogspot.com )

LL 16.57 211008

2 responses so far

Oct 18 2008

Saturday 18 October 2008

Published by afemaleguest under daily

I have some spare time after finishing teaching at 12, in one branch in Tembalang. I will teach again at 4 later. Since there is a cyber cafe next to the office, I dropped by here, checking mailboxes, reading some posts in some mailing lists I join, etc.
I haven’t had a chat with my Abang for some time so I greeted him at YM. But today seemed not my lucky day. He was nowhere to be found. Perhaps he is visiting a gathering in one friend’s house of his there.
Well, usually when I have some free time like now, I made myself buy scrabbbling in the cutie (note: this is the cute nick I chose to give the cute notebook my Abang gave me). However, it was broken several weeks ago. I don’t know where I can bring the cutie to get service. (The cutie is absolutely not Indonesian-made.) I suppose I had better wait for my Abang to come to Indoensia.If I am lucky perhaps he will spare his time to visit my hometown. (Several places he wants to visit, such as Kelenteng Tay Kak Sie, Gedung Batu Sam Po Kong, Lawangsewu, Buddhagaya temple, Masjid Agung Jawa Tengah, etc.) Besides visiting some places that prove Semarang is a very peaceful city for multi ethnic dwellers, he also wants to taste some local cuisine of course. (He loves eating!!!) Once I offered him a portion of ‘nasi bakar’ and he didn’t believe that there was such a menu here!!! And many other menu, of course. (I have KAMPUNG NASI on my mind, as one culinary place he has to visit if he drops by in Semarang.) Moreover, of course as an IT expert, I believe he is the best choice to take care of the cutie! And HE IS ALSO CRAZY FOR BIKING!!! Ah … I imagine to take him to join any XC my dear b2w friends love to do. With him biking beside me must be the best option to do!!!
Oh well … when writing this, I just realized how much I am missing him!!!
Btw, i have been online for more than two hours now. I still don’t see any sign that my Abang will appear. I had better go back to the office then. I have to prepare the material to teach.
Friends-Net 15.02 181008

No responses yet

Oct 18 2008

There’s Someone

Published by afemaleguest under daily

It may not be the one you’re with
They may not have much love to give
It may not be the girl next door
Or that nice boy on the first floor
It may not be the friend you taught
Who helps you out when you’re distraught
You may not know this one that well
But there’s someone who loves you

It may not be the one you kissed
It may not be the one you’ve missed
You may think someone is your friend
But then you find that they pretend
When you are down and you are out
When you’re in tears, sad, and in doubt
Life may feel like a living hell
But there’s someone who loves you

(By Benjamin Zephaniah)

No responses yet

Oct 18 2008

Cappuccino

Published by afemaleguest under poems

kuseruput cappuccino
“kopi spesial
untuk orang yang menyukai kelembutan
sekaligus keindahan”
kata Ben
dari kafe “Filosofi Kopi

kuseruput cappuccino
teringat sebuah comment
dari seorang pengunjung
“pic-mu menyiratkan
seseorang yang indah
yang menyukai kelembutan”

kuseruput cappuccino
teringat lelucon yang diungkapkan
Angie, sang anak semata wayang
“Tipuan kamera, Ma!”
LOL

SPB 12.00 161008

No responses yet

Oct 18 2008

For My Other Half

Published by afemaleguest under poems

ratusane mail telah kukirimkan
bercerita tentang kegiatanku sehari-hari
kuliah
diskusi dengan dosen dan teman sekelas
perjalanan Semarang - Jogja - Semarang
mengajar di sebuah universitas swasta
seorang siswa privat yang cantik jelita
juga
tentang kegelisahan sebagai seorang feminis
meski mengaku diri romantis
pula melankolis

ratusan tulisan di blog telah kau baca
artikel
cerpen
puisi

namun tak pernah aku merasa puas
tetap kuinginkan kau menjadi milikku
seutuhnya
tak semata sebagai
a quiet, yet, diligent and loyal audience of mine

SPB 09.50 171008

No responses yet

Oct 18 2008

Kamera

Published by afemaleguest under poems

“Someone has a crush on you honey,”
kataku pada Angie
“How do you know, Ma?” tanya Angie cuek
“He has seen your cute pictures in my MP page,” jawabku
“The camera has deceived his eyes then …” komentar Angie,
tetap dengan nada tak acuh
dan ekspresi wajah dingin

“Itu anakmu ya? Cantik sekali.
Persis seperti Mamanya!” tulis seseorang
dalam sebuah PM yang dia kirimkan
“Thank you for the compliment,”
jawabku dingin

“Ketemuan yuk?” rajuk lelaki yang sama
“Kuinginkan kau tetap menganggapku cantik sekali.
Maka lebih baik kita tidak usah bertemu.
Karena pertemuan akan membuatmu tahu
Kamera itu telah menipu matamu,”
jawabku, sembari menukil pernyataan
anak semata wayangku

LOL

SPB 09.30 171008

No responses yet

Oct 06 2008

Puasa tahun ini …

Published by afemaleguest under daily

PUASA …

Ini sudah bulan Syawal tanggal 3, namun aku baru mendapatkan ‘urge’ untuk menuliskan pengalamanku berpuasa tahun ini hari ini, setelah menyempatkan diri membaca tulisan Ulil tentang pengalamannya berpuasa di Boston.

Mulai pertengahan bulan Agustus, aku bekerja di sebuah International school dimana mayoritas siswa-siswi beragama non Muslim, mungkin berkisar antara 10% (Muslim) dan 90% (non Muslim). Sedangkan para pegawai—guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, dll, mungkin prosentasenya 25% Muslim, 75% non Muslim. Ini sebab tahun ini adalah pengalaman pertamaku berpuasa di tengah-tengah non Muslim, meskipun masih berada di Indonesia.

Jam masuk kerja mulai seperti biasa, pukul 07.00, beda dengan sekolah-sekolah negeri (atau mungkin juga sekolah nasional lain) yang memulai sekolah pukul 07.30. Lama pelajaran tiap slot pun tidak mengalami pengurangan, sehingga para siswa-siswi tetap menyelesaikan jadual sekolah pukul 14.15, khusus untuk siswa-siswi kelas 9 kelas usai pukul 15.00 karena mendapatkan pelajaran tambahan untuk persiapan ujian nasional. Jam istirahat pertama tetap pukul 09.45-10.00, dan istirahat makan siang pukul 12.15-12.45.

Ini kali pertama aku merasakan ‘nasib sebagai kaum minoritas’ sehingga aku pun benar-benar mempraktekkan satu bahan candaan, “Tolong yang puasa memahami mereka yang tidak puasa”, kebalikan satu doktrin yang kuterima sejak kecil, “Yang tidak puasa HARUS menghormati yang puasa dengan menghindari makan maupun minum di hadapan orang-orang yang berpuasa. Pertama kali aku mendapatkan menstruasi, Ibu-ku pun mendoktrinku hal ini: aku TIDAK BOLEH terlihat makan maupun minum di hadapan anggota keluarga lain yang sedang berpuasa, seolah-olah aku adalah pesakitan. Kalau aku melakukannya, maka tuduhan pengikut setan dan ahlun naar (calon penghuni neraka) pun dilabelkan, karena menggoda orang yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa harus diistimewakan, harus dijaga dari godaan (itu juga konon selama bulan Ramadhan, setan pun ‘diikat’ oleh Tuhan di neraka, sehingga tidak bisa gentayangan menggoda kaum Muslim yang sedang berpuasa). Hal ini pun mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah Indonesia yang sebenarnya bukan negara Islam, juga bukan negara sekuler, berupa himbauan agar rumah makan tutup di siang hari, sehingga nampak tidak ada toleransi sama sekali kepada mereka yang tidak puasa. Untunglah tidak ada paksaan dari pemerintah agar semua warga negara—tanpa memandang agama—untuk berpuasa, demi menghormati orang-orang Muslim yang sedang berpuasa.

Betapa manjanya orang-orang Muslim itu, mentang-mentang karena mayoritas.

Aku tidak ingin menjadi seorang Muslim yang manja di tengah-tengah rekan kerjaku yang mayoritas non Muslim. Saat istirahat siang, di ruang guru, maupun di tempat-tempat lain di dalam sekolah yang diperuntukkan anak-anak untuk makan siang (di sekolah tidak ada kantin, sehingga anak-anak harus membawa bekal makan siang sendiri, namun pihak sekolah menyediakan tempat-tempat khusus dimana anak-anak biasa berkumpul untuk makan bersama) terlihat orang makan, ditambah dengan bau makanan yang menggoda hidung dan perut yang mulai lapar. Aku perhatikan beberapa guru expat tidak menunjukkan ekspresi wajah, seperti, “Sorry, I am enjoying my lunch now while probably you are hungry at the moment.” Tentu aku paham sekali akan hal ini, bukankah kita sendiri memiliki pilihan, untuk berpuasa, mengikuti ajaran agama, atau tidak berpuasa. Setelah kita menentukan pilihan untuk berpuasa, tak selayaknya kemudian kita minta diistimewakan, misal dengan mengatakan, “Please respect me by not eating before my nose!” 

Ketika seorang rekan kerja, non Muslim, orang Indonesia (bukan expat) bertanya kepadaku dengan hati-hati, “So, how is your fasting in this month?” aku tidak langsung ‘ngeh’ kemana arah pertanyaannya, sehingga dia pun perlu menjelaskan,

“I believe it must be hard for you to fast among non Muslim?”

Maka aku pun menjawab, dengan nada bercanda, “You know the harder the tempation is, the more reward I will get from God. It is not a big deal for me to fast in the middle of people who do not fast. Don’t worry. Thank you for concern though.”

Aku yakin sebagai orang Indonesia, rekan kerja ini tentu sudah terbiasa dengan ‘himbauan’ pemerintah Indonesia, sehingga perlu merasa ‘tidak enak’ kepadaku dengan situasi yang ada. Berbeda dengan para guru expat yang tidak mendapatkan atau mengalami ‘indoktrinasi’ dari pemerintah mereka untuk ‘menghormati’ (atau memanjakan) orang-orang yang berpuasa.

Di sekolah ini aku belajar (lebih jauh lagi) untuk mempraktekkan toleransi antar agama.

2,911 responses so far