Archive for July, 2008

Jul 17 2008

Sepedaku, sepedamu, sepedanya

Published by afemaleguest under b2w

“Pandanglah orang yang berada di ‘bawah’mu agar engkau mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadamu…”

Kalimat ini terus menerus bergaung di benakku tatkala aku membawa sepeda ‘lungsuran’ kakakku seorang ke bengkel sepeda yang terletak di Jalan Suyudono, tak jauh dari Pasar Bulu, pada hari Jumat 11 Juli 2008.
Lho kok?
Backgroundnya begini.
Hari Rabu 2 Juli, seperti yang kutulis di postingan beberapa waktu lalu, aku ngikut ‘city night riding’ yang diadakan oleh komunitas b2w Semarang. Di antara para partisipan yang ikut waktu itu, sepedaku jelas nampak paling perlu dikasihani. LOL. Usianya sama dengan Angie, 17 tahun!!! (Kalo ga salah ingat, kakakku mengirimkan sepeda merk WINNER ini ke Semarang tahun 1991, tahun anak semata wayangku itu lahir, sebelum kakakku menikahi sang pemberi sepeda tahun 1992.) Selain itu, selama beberapa tahun sepeda sempat mangkrak ga diurusin, apalagi dinaikin. LOL.
Sepeda rekan-rekan b2w Semarang kebetulan kebanyakan merk POLYGON (aku tidak bermaksud promosi, tapi apa boleh buat? Aku ga bisa ga menyebut merek. LOL.) Aku belum tahu dengan jelas mengapa seolah-olah komunitas b2w Semarang ‘didukung’ oleh toko sepeda RODALINK yang berdomisili di kawasan Bangkong, karena beberapa rekan mempromosikan toko ini bagi member yang ingin membeli sepeda baru. Selain POLYGON, seorang member kulihat menaiki sepeda merek GIANT yang tentu jauh lebih keren dibanding milik kakakku yang berharga ‘cuma’ 3 jutaan karena harganya terpaut lima jutaan. (Gile bener!!! – ngeces mode ON. LOL. LOL.)
Wes to poll, pit duwekku iku elik dewe. Wakakakaka … But I love it a lot and feel proud of myself while riding it, karena selalu terngiang kata-kataku sendiri, “I have supported to reduce air pollution in my dearest hometown.” Mbombong awake dewe luwih becik tinimbang ora mbombong. Wakakakakaka …
Hari Minggu 6 Juli tatkala berkumpul di Stadion Diponegoro untuk ikut meramaikan acara sepeda santai yang diselenggarakan oleh Polres Semarang Timur, tentu aku berkumpul dengan rekan-rekanku yang sangat membanggakan bagiku (karena semangat bike to work). And again, sepedaku jelas terlihat yang paling ‘tua’ di antara para member b2w Semarang. Nevertheless, karena acara tersebut diikuti oleh banyak klub-klub pecinta sepeda lain, seperti SOC alias ‘Semarang Onthel Club’, sepedaku ga begitu terlihat patut dikasihani. Wakakakaka … Lah, yang onthel-onthel itu kan tentu usianya sudah lebih dari tiga dekade.
Hari Jumat 11 Juli. Aku bawa sepedaku ke bengkel sepeda yang kelasnya di bawah RODALINK , namun aku yakin kemampuan sang mekanik sepeda tentu ga kalah. Tatkala menunggu si Bapak mekanik membetulkan rem dan letak sadel, aku duduk-duduk di bangku depan bengkel yang sekaligus juga berjualan sepeda dan sparepartsnya. Di hadapanku kulihat berbagai macam sepeda yang dari ‘penampilannya’ jauh lebih mengenaskan dari sepeda yang akhir-akhir ini setia menemani kemana pun aku pergi. Ada seorang Bapak mengendarai sepeda onthel yang dia beli tahun 1976 yang roda depannya ringsek karena ditabrak sepeda motor. Ada beberapa orang lain yang naik sepeda tanpa rem (praktis dia harus ‘memanfaatkan’ kakinya untuk mengerem laju sepeda tatkala dia akan berhenti.) Masih ada beberapa sepeda lain yang kondisinya, bagiku, mengkhawatirkan si pengendaranya.
Dan tatkala kupandang sepeda WINNER ku, out of the blue, dia nampak begitu gagah perkasa, sehingga aku pun berbisik dalam hati, “Thank God, I have this bike to help reduce the air pollution as well as the negative impacts of global warming.”

P.S.: Tapi kalau ada yang mau menghadiahi aku sepeda gunung yang baru, tentu aku MAU … MAU … MAU!!! Huehehehehe …
PT56 15.00 110708

One response so far

Jul 17 2008

7 Juli 2008

Published by afemaleguest under b2w


Pengalaman pulang kerja hari Senin 7 Juli 2008

Setelah selesai mengajar jam 19.00, aku tidak langsung pulang karena tergoda membaca beberapa artikel di The Jakarta Post. Aku meninggalkan pelataran parkir kantor pukul 19.41 (menurut speedo meter yang terpasang di sepeda). Meskipun hari Minggu 6 Juli 08 aku baru saja ikut acara ‘sepeda santai’ yang diselenggarakan oleh POLRES SEMARANG TIMUR, aku sudah kepengen nggowes lagi. So, keluar dari kantor, aku berbelok ke Jalan Imam Bonjol menuju Tugumuda. Baru beberapa meter aku memasuki Jalan Pandanaran, seorang laki-laki yang naik sepeda motor membarengiku. FYI, aku biasa memasang wajah jutek kalau sedang naik motor dan digodain laki-laki. Namun berhubung aku naik sepeda dengan bike tag “BIKE TO WORK”, aku merasa ‘harus berkampanye’, aku pun tidak berwajah jutek ketika laki-laki itu menyapa, “Mau kemana mbak?”
“Mau pulang,” jawabku.
“Emang dari mana?” tanyanya.
“Dari kantor.”
“Dari tadi tak perhatiin kok asik sekali ya naik sepeda malam-malam,” katanya.
Aku cuma tersenyum.
“Emang rumahnya mana mbak?” tanyanya lagi.
Aku pikir tentu dia bakal ga percaya kalau aku bilang rumahku Pusponjolo karena aku sedang menuju ke arah Timur, menjauhi Pusponjolo. So, aku iseng aja menjawab, “Lamper …” (FYI, dua cewe member b2w Semarang, Iput dan Maya, tinggal di Lamper)
“Tak temenin mau kan? Kebetulan aku menuju Pedurungan nih,” kata laki-laki itu.
Aku mulai merasa jengah dan berpikir ternyata aku salah beramah tamah dengan orang yang tidak jelas juntrungnya itu.  Namun toh aku masih tersenyum ke orang itu, merasa ‘terbebani’ tag BIKE TO WORK yang terpasang di bawah sadel sepeda, sehingga aku pun merasa memiliki tugas sebagai salah satu PR (alias public relation loh, bukan pekerjaan rumah) b2w Semarang.
“Boleh kenalan dong…” kata laki-laki itu lagi.
Waduh … yo’opo rek iki? Tanyaku dalam hati. LOL.
“Boleh kan?” rajuknya.
Akhirnya, aku pun menjawab, “Oke. Namaku Nana. Nama Mas siapa?”
“Loh, masak kenalan kok sambil berjalan begini. Kita sebaiknya mampir beli minum aja di satu tempat, kemudian kita ngobrol.”
“Saya ga pengen minum kok,” aku berusaha menolak.
“Lah pengennya apa?” tanyanya.
“Pengen naik sepeda!” jawabku.
“Nanti sepedanya tak tarik ya biar cepet,” tawarnya.
“Oh, ga usah, orang aku pengen naik sepeda sendiri kok, tanpa ditarik,” tolakku.
“Beneran nih ga mau kuajak mampir beli minum?” tawarnya lagi.
“Engga.” Jawabanku mulai terdengar judes kali, LOL, sehingga dia menyerah dan berkata,
“Aku duluan ya mbak?”
“Oh … silakan…” jawabku dengan senang hati. 
Aku melanjutkan perjalanan sembari berpikir, “Seandainya aku bisa menelpon seorang teman komunitas b2w Semarang untuk kuajak night riding bersama agar ga diisengin orang lagi…”
Sesampai di Simpang Lima, aku belok ke Jalan Pahlawan, naik sedikit, kemudian belok ke Jalan Veteran. Setelah melewati RSUP Dr. Kariadi, aku belok kiri ke Jalan Kaligarang, terus ke arah Gedung Batu, kemudian ancang-ancang belok kiri naik ke Jalan Pamularsih. Sempat hampir nabrak orang naik sepeda motor yang tanpa memberi aba-aba tahu-tahu belok kiri sekitar 5 meter di depanku. Aku ga sempat membunyikan bel sepeda, namun berteria-teriak a la Mulan Jameela “Au … au … au …” LOL hingga orang itu menoleh ke arahku dan kembali ke arah tengah jalan raya. Aku bayangin kalau aku menabraknya, bakal aku yang mental. LOL. Setelah sempat menyumpahinya, “Shit!!!” aku melanjutkan perjalanan naik ‘gundukan’ Jalan Pamularsih. Bagi yang biasa naik “bukit” Gombel, tentu tanjakan Jalan Pamularsih hanyalah ‘gundukan’ belaka.
Setelah sampai atas, tatkala menuruni ‘gundukan’ itu, speedo meter menunjukkan kecepatan 27.5, wuaaahhhh … rasanya aku hampir terbang (padahal aku pernah naik motor dengan kecepatan 100 km per jam di Jalan Arteri menuju Kaligawe dan merasa tidak seperti terbang!) ga terbayang dah menuruni Gombel!!!
Aku meneruskan perjalanan sampai di ujung Jalan Pamularsih tempat SMA Kesatrian terletak, kemudian aku langsung balik arah ke Timur. Hampir sampai ‘gundukan’ Jalan Pamularsih dari arah Barat, aku hampir tergoda naik lagi, namun kuurungkan niatku (bakal aku naik turun naik turun melulu dah, LOL) sehingga aku belok ke arah Puspowarno. Keluar dari kawasan Puspowarno, aku belok kanan menuju Gereja yang aku lupa namanya itu, kemudian belok kiri masuk ke kawasan Pusponjolo.
Sesampai PT 56 aku mengecek speedo meter. Aku melalui kurang lebih 6,5 kilometer dalam waktu 40 menit.
PT56 22.45 070708

No responses yet

Jul 17 2008

Promosi b2w

Published by afemaleguest under b2w


Dengan semangat ’45, hari Selasa 1 Juli 08 aku meluncur ke masjid Baiturrahman naik sepeda, sekitar pukul 08.45. I had a date with one best friend of mine, yang baru sekitar sebulan lalu balik dari Kansas University, to pursue her Master’s Degree dengan beasiswa dari Fulbright.
Karena sinar matahari cukup terik, aku memilih duduk di balik menara di sebelah Selatan. Sepeda kuparkir tidak jauh dari tempat aku duduk.
Setelah temanku datang, kita ngobrol sangat ‘heboh’. Maklum kurang lebih selama dua tahun kita tidak bertemu. Meskipun kita sometimes still kept in touch via YM maupun email tatkala dia berada di Kansas, bertemu dan ngobrol langsung tentu terasa lebih lively, ketimbang chatting via YM.
Dua jam berlalu. Kemudian dia mengajak kita pindah tempat ngobrol di sebuah rumah makan di Jalan Hayamwuruk. Pada waktu itulah aku ‘promosi’ bersepeda untuk pergi kemana-mana, meskipun aku tahu agak sulit baginya untuk bike to work berhubung dia tinggal di perumahan Bukit Kencana Jaya. Kamu tahu apa yang dia bilang mendengarku berpromosi bike to work?
“Waktu di Kansas, aku juga naik sepeda ke kampus maupun ke perpustakaan kok mbak.”
Weleh, kampanye ke orang yang salah dah. Hahahaha … Dan seperti yang telah kuperkirakan sebelumnya, dia merasa ga mungkin bersepeda dari Bukit Kencana Jaya untuk ke kantornya yang terletak di Jalan Hayamwuruk, atau kadang-kadang harus ke Tembalang.
*****
Hari Jumat 4 Juli 08 kebetulan ‘soulmate’ ku yang sejak tahun 2006 pindah kerja di Universitas Brawijaya Malang pulang ke Semarang sehingga sobatku yang barusan pulang dari Kansas kuajak menyambanginya. Dan seperti cerita yang di atas, aku ke masjid Baiturrahman naik sepeda, aku pun naik sepeda ke rumah Juli – my soulmate when we were pursuing our studies at American Studies Graduate Program of UGM – di kawasan Citarum.
Semula obrolan kita bertiga lumayan mengasikkan, berkisar dari budaya membaca orang Indonesia yang masih rendah sehingga Eta harus berusaha keras untuk menaklukkan budaya membaca yang masih rendah ini agar tidak kalah dari teman-teman kuliahnya di Kansas University, teori Semiotika milik Umberto Eco yang bagi Juli dan aku sulit dipahami (tanpa teori apa pun, aku suka saja sih berusaha membaca signs, for example: when someone sends you private pictures of his, I “read” them as he offers himself to me, asik … LOL.), perbandingan kuliah S2 di jurusan Sastra UNDIP (Eta), S2 di American Studies UGM (aku dan Juli), dan S2 di Kansas University (Eta), teori Judith Butler yang terkenal dengan bukunya “Gender Trouble”, spesifikasi para professor di Amerika (misal: Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu waktu aku kuliah di American Studies, memiliki spesifikasi di “American Romantic Era”, dosen-dosen Eta pun begitu, hanya mahir di “Victorian Era” saja, namun kedalaman pemahamannya tentang “Victorian Era” itu benar-benar meyakinkan), cara mengajar beberapa dosen di Unibraw, dll. Tatkala Juli’s baby terbangun mendengar suara tiga perempuan yang berkicau riuh rendah, akhirnya Juli pun tidak bisa mengikuti obrolanku dengan Eta karena dia disibukkan si baby.
Seperti keinginanku semula, aku pun tak lupa berpromosi bike to work.
“Eh Juli, aku naik sepeda loh!”
Ternyata, sekali lagi, aku berpromosi ke orang yang salah, karena ternyata Juli menjawab, “Loh mbak, aku juga naik sepeda loh di Malang!”
Kacian deh gue … LOL. LOL.
Namun aku lumayan senang tatkala ternyata Juli terheran-heran melihat sepedaku. “Loh mbak, kamu naik sepeda tadi ke sini? Yah … kan Pusponjolo sini jauh???”
“Bukannya tadi aku bilang aku ke sini naik sepeda?” tanyaku, geli.
“Kirain kamu cuma cerita ke kantor naik sepeda. Ga nyangka kalau sampai sini kamu pun naik sepeda.”
Well, not bad eh? My intention to surprise Juli worked a little. LOL.
PT56 20.54 060708

No responses yet

Jul 17 2008

Bike to work, yuk?

Published by afemaleguest under b2w


Sebagai salah satu “resiko”, atau well … “tanggung jawab” sebagai salah satu member komunitas pekerja bersepeda di Semarang (alias bike to work community), maka setelah libur kenaikan kelas, memasuki term 3 tahun 2008, aku mulai berusaha kontinyu bersepeda ke kantor. Kebetulan rumahku terletak tak jauh dari kantor. Maksimal aku butuh waktu 10 menit dari rumah ke kantor dengan kecepatan sedang, yang berarti aku ga perlu sampai bernafas terengah-engah sesampai kantor. Senin sampai Jumat aku bisa naik sepeda ke kantor; sedangkan hari Sabtu kupilih sebagai hari ‘libur’ bersepeda ke kantor karena aku harus mengajar di cabang Tembalang. (aku belum tergoda untuk berusaha menaklukkan Gombel dengan naik sepeda!)
Hari Rabu 2 Juli kemarin, untuk pertama kali aku ngikut komunitas b2w Semarang keliling kota untuk kampanye. Acara yang kita sebut “city night riding” (utowo ‘night city riding’ yo? Aku kudu takon Jack C. Richards be’e. LOL) diikuti oleh sekitar 12 orang. Rute yang kita pilih dari Bank Mandiri Syariah Jalan Pemuda (thanks to the new member of b2w Semarang yang bekerja di situ, yang barusan pindah dari Jakarta, sehingga Bank Mandiri Syariah Pemuda bisa dipakai untuk menjadi ‘meeting point’.) ke Tugumuda, belok kiri masuk Jalan Pandanaran; lurus sampai Simpang Lima, terus sampai perempatan Bangkong, belok kiri masuk Jalan Mataram; lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan kota lama, dan kita berhenti di halaman Gereja Blenduk. Nongkrong sambil bernarsis ria di depan kamera. (Do you know that salah satu dampak ‘negatif’ site sebangsa multiply.com adalah menjadi ajang kenarsisan orang-orang ‘biasa’ alias bukan selebriti? LOL.) Dari Gereja Blenduk, kita muter ke Jalan Merak, trus balik ke Jalan Jendral Suprapto, belok kanan menuju jembatan kali Berok, masuk Jalan Pemuda, dan kembali ke starting point di depan Bank Mandiri Syariah.
Di antara 12 orang yang ngikut, satu tinggal di kawasan Sendang Mulyo, satu di Tembalang, satu di Ngaliyan, (bayangin aja geografis tiga tempat itu, yang paling ‘mudah’ di Ngaliyan, meskipun tetap menanjak juga). Waktu pulang, aku bareng yang tinggal di Ngaliyan. Dia sempat bercerita berhubung kantornya lumayan dekat dari tempat tinggalnya – Krapyak – dia merasa perlu muter-muter dulu, agar hobby pit-pitannya tersalurkan, yakni muter ke Simpang Lima! G-U-B-R-A-K!!! LOL.
Alhasil hari Kamis 3 Juli seusai mengajar jam 7, sebelum pulang aku pun ‘ikut-ikutan’ muter-muter dulu; dari Jalan Pierre Tendean ke Tugumuda, belok Jalan Pandanaran, lurus ke Simpang Lima, belok ke Jalan Gajahmada, lurus sampai ke Jalan Pemuda, Tugumuda, Jalan Sugiyopranoto, setelah jembatan sungai Banjir Kanal, lurus ke daerah Pasar Karangyu, belok kiri di Jalan Puspowarno Raya, lurus sampai Gereja (mboh jenenge opo rak reti, lali, LOL) belok kiri masuk kawasan Pusponjolo.
Kesimpulan: ternyata benar apa yang dikatakan Triyono yang pertama kali “menemukanku” di multiply untuk ngikut komunitas b2w: pit-pitan dewekan ora enak!!! LOL.
                                          *****
Hari Jumat 4 Juli. Kebetulan tatkala aku memberikan kesempatan kepada siswa-siswi kelas baru untuk bertanya, salah satu dari mereka bertanya, “How do you go to the office, Miss?”
Aha … pucuk dicinta ulam tiba. Dengan senang hati aku menjawab, “I go to work by bicycle.”
Siswa itu semula mengangguk-angguk, mimik wajahnya terlihat biasa saja, juga siswa siswi yang lain. But, setelah ‘ngeh’ apa itu arti kata ‘bicycle’, (mungkin semula dia mengira aku menyebut kata ‘motorcycle’) anak itu mendongakkan wajah ke aku, terlihat heran, kemudian bertanya, “By bicycle Miss?” dengan nada tidak percaya.
I caught him!!!
So, dengan senang hati aku bercerita – alias berpromosi – tentang komunitas b2w yang memiliki ‘impian’ indah untuk berperan aktif dalam mengurangi polusi udara plus dampak buruk global warming. Seperti kata Firman, ketua organisasi b2w Semarang tatkala diwawancarai oleh TVKU, “Semula mungkin hanya bersepeda ke kantor, lama-lama mengapa tidak menggunakan sarana sepeda untuk pergi kemana-mana.” Seandainya lebih banyak lagi kita mampu menjaring pemerhati dan peserta komunitas b2w (dan menjadi pelaku aktif), rasanya bukan harapan yang muluk-muluk kalau kita ingin menjadikan impian kita menjadi nyata: mengubah langit di kota Semarang menjadi biru, tanpa asap knalpot yang berlebihan.
PT56 20.12 060708

No responses yet

Jul 17 2008

Ngepit menyang kantor

Published by afemaleguest under b2w


Catatan tambahan untuk pengalaman pertama “ngepit menyang kantor”. :)

Karena aku berangkat satu jam sebelum jam kerja mulai, bisa dipahami jika aku datang nomor satu. Sesampai di ruang guru, aku langsung menyalakan AC, ngadem sejenak di bawahnya, kemudian menyalakan “the cutie”. Dan mulailah aku scribble tulisan yang kuberi judul THE FIRST TIME …
Tak lama kemudian seorang rekan kerja datang, menyapaku ramah, “Aih tumben, bu Nana datang duluan.” (NOTR: biasanya aku jarang datang duluan nih. LOL.)
Karena aku terkena demam b2w, aku langsung menyambut sapaannya dengan agak berteriak, “GUESS WHAT? I BIKE TO WORK TODAY!!!” sambil mengepal-ngepalkan tanganku ke udara. (ndeso poll yah? hahahaha …)
“Wow … you really did it, Ma’am?” (alias “Wah, beneran nih Bu Nana terprovokasi bike to work?”)
“Yup! Aku sedang nulis nih pengalamanku tadi.” Kataku.
“Aku mau liat sepeda Bu Nana dong,” katanya.
“Ada tuh di depan, keluar dari pintu, sebelah kanan, tempat biasa aku markir motor,” jawabku. (NOTE: “tempat biasa” ini telah kukontrak seumur hidup. Wakakakaka …)
“Ah nanti aja…” komentarnya.
Aku melanjutkan ngetik.
Rekan kerjaku ini ternyata memperhatikan baju yang kukenakan. Katanya, “Oh, itu sebabnya you are wearing jeans and polo shirt now?”
“Iya, aku bawa baju ganti kok, biasa rok panjang hitam plus blus hitam.”
Seorang rekan kerja lain datang. Rekan kerja yang pertama pun berpromosi,
“Eh mbak, Bu Nana bike to work loh hari ini.”
“Oh ya? Is that true, Ma’am?” tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk-angguk, masih meneruskan ngetik.
“Wah … Bagaimana kalau kita juga naik sepeda ke kantor?” ajak rekan kerja #2.
Rekan kerja #1 ga komentar.
“Oh, kamu ga bisa naik sepeda kok ya?” kata rekan kerja #2.
Rekan kerja #1 cuma mengangguk-angguk.
Aku sempat heran mendengarnya. Tapi aku ingat salah satu guruku waktu SMA juga mengaku ga bisa naik sepeda. Karena trauma waktu kecil jatuh dari sepeda. Beliau juga takut naik becak. Mungkin pernah jatuh dari becak juga? Entahlah. LOL.
Aku juga ingat seorang teman sekelas waktu kuliah S2 yang keman-mana diantar sang suami yang setia naik motor. Belakangan ketahuan ternyata temanku yang memiliki tubuh tinggi dan lumayan atletis ini tidak bisa naik motor maupun sepeda.
Seusai mengajar hari itu, beberapa rekan kerja ‘mengantarku’ keluar kantor. Tanya kenapa? Mereka pengen melihatku naik sepeda. LOL.
*****
Dari kantor aku sempat mampir ke warnet yang terletak di Jalan Imam Bonjol, ga jauh dari kantor. Aku ingin segera posting tulisan yang kubuat pada hari Minggu di blog.
Waktu memasuki areal parkir, pak Satpam yang berperan juga sebagai tukang parkir menyambutku begini,
“Wah, naik sepeda mbak? Tak kira tadi cowo. Ternyata mbak-e. Gara-gara harga bensin naik ya?”
“Betul Pak…” jawabku.  Setelah memarkir sepeda, aku langsung masuk gedung.
Setelah usai, kurang lebih 10 menit sebelum pukul 21.00, aku bingung mencari-cari dompet di tas kok ga ada? Tasku berisi the cutie and the cable, rok plus blus, handuk plus sabun mandi (yang ga jadi kupakai karena ternyata aku ga terlalu berkeringat, maklum cuma naik sepeda 6 menit doang!) dan beberapa buku. Berhubung isinya segala macam, LOL, kupikir dompet nyungsep di sebelah mana gitu.
Namun ternyata meskipun semua ‘benda’ itu telah kukeluarkan, aku ga juga menemukan dompetku.
“Goodness … aku lupa memasukkan dompet ke tas,” keluhku.
Namun berhubung, wajahku ini sudah ‘tercemar’ alias semua pegawai warnet mengenaliku sebagai member yang cukup rajin datang, dengan ‘muka tembok’, LOL, aku bilang ke seorang laki-laki, kira-kira 15 tahun lebih tua dariku, yang duduk di kursi kasir,
’Waduh Pak, maaf Pak, lupa bawa dompet nih. Saya bayarnya besok ga papa kan?”
Dan, seperti yang telah kuperkirakan, si Bapak itu bilang,
“Oh, ga papa mbak, santai aja. Bayar besok juga boleh.”
Asik …
(memang bermuka tembok kadang-kadang diperlukan dalam berinteraksi dengan orang lain. Hahahaha …)
Sesampai di tempat parkir, aku mengatakan hal yang sama kepada yang jaga parkir.
Komentarnya, “Mbak lupa masukin dompet karena hari ini naik sepeda sih.” huehehehe …
Aku selalu senang jika ada sesuatu yang bisa kujadikan ‘scapegoat’ alias kambing hitam. LOL. Selama aku ga merugikan orang lain ajalah. Dan yang kujadikan kambing hitam ga protes. LOL.
PT56 14.35 180608

No responses yet

Jul 17 2008

The First Time …

Published by afemaleguest under b2w


“I did it!!! I shouted inside my heart, talking to myself. :-D
This reminded me of one ‘motto’ I once joked to one loved ones of mine, “There will always be the first …”
The first in anything …
The first marriage …
The first divorce …
The first baby …
The first boyfriend/girlfriend …
The first book to buy …
The first book to read …
The first book to publish …
The first job …
You name it.
Including what I just did today: THE FIRST TIME BIKE TO WORK!!!
Today, Monday 16 June 2008 the electricity was off when I arrived home from Paradise Club, one fitness center in Semarang. I was very disappointed of course since I couldn’t do one dearest hobby of mine: SCRIBBLING SOMETHING while in fact when at PC I already planned what to write after taking a shower.
Since nothing I could do but reading, so after taking a shower I just lazed myself away on my comfortable bed although a bit hot since the fan was off (due to the blackout). After browsing one gossip tabloid (and feeling entertained when reading a movie review of SEX AND THE CITY movie, can’t wait to watch it! When will it come to my hometown? SATC is my favorite television serials, although I didn’t watch it on television.) and today’s (local) newspaper, I tried napping.
However I couldn’t fall asleep.
My mind was full of what I want to write.
I don’t know from where the idea came but I started to think of going to the office by bike today. Yesterday I wrote three short articles on ‘bike to work’ to post at my blog. Absolutely I support this healthy and environmentally-friendly habit. I started think of telling the members of b2w Semarang mailing list that I also have done it. (FYI, just a couple of days ago I joined the mailing list.)
Amused by the idea to tell the b2w gang, I became more sure.
Wanna know my experience during my ‘trip’ to the office, that in fact only took 6 minutes? (My dwelling place is in Pusponjolo, while my office is on Pierre Tendean street.) I was wearing blue jeans, a long-sleeved black polo shirt, sandals (or in Indonesia they are called ‘shoe sandals’), black socks and an old green hat of mine (I bought it in 1986!). When passing a garage in the next alley, a mechanic shouted, “Ayo mbak, ngetrek mbak!” (“Come on, sis, be fast!”) Nearing the roundabout before Banjir Kanal river bridge, a group of police inside a car passing by me looked at me, one of them said, “Ayo mbak, ngebut!” (“Come on, sis, ride it quickly!”)
I thought it must be caused by the yellow tagline under the saddle saying BIKE TO WORK.
I feel glad. Although a little, I have tried doing something to join the crowd to reduce the air pollution of our earth.

P.S.: After arriving at the office, I ‘changed’ my clothes to my ‘usual’ so-called uniform, a long black dress, and a black blazer, but minus my lovely black boots. :)
LL 14.53 160608

No responses yet

Jul 17 2008

Bike to Work

Published by afemaleguest under b2w


“I am not sure if you will succeed in gathering many people to join that b2w community,” this was Angie’s pessimistic comment when seeing the flyer of ‘bike to work’.
I said nothing to hear that. I am more optimistic than she is, I assume.
However, Angie’s comment reminded me of one nineteenth-century American thinker, Henry David Thoreau with his experience living around a pond, all alone, away from ‘civilized society’, that he wrote in his book entitled WALDEN. He did that to criticize American government that he thought damaged the environment by building trans-continental railway during the decade of 1860s. Despite the fact that the railway would help improve the transportation so that it would also result in good business plus profit, smoke coming out of the train would absolutely damage the environment. Thoreau, the true environmentalist, extremely objected the railway building. But what could a Thoreau do to stop it? Even, his good friend as well as teacher, Emerson, only expressed his objection toward the then government’s so-called crazy idea. Emerson did not do any real action to show it.
Bike-to-work idea itself is great and easy to do. This is also obviously more possible to carry out rather than Thoreau’s idea to leave the city he lived to live in a forest, living like a hermit, away from other people, only consuming anything he found in the forest. I believe that it is an absurd thing to do what Thoreau did in this internet era. Do you agree?
So, why is it difficult to attract people’s attention to join b2w community? (This is the result of seeing some people’s reluctant reaction when getting the flyer of b2w during ‘fun bike’ held in Semarang on June 15, 2008) It is essential that we do care for our environment, isn’t it?
I think the answer is on Indonesian people’s way of life. We are ‘popular’ to have high-class lifestyle. Have you ever heard how Indonesian government officials went to a building where they would get debt from some debtor countries? While the officials from the debtor countries came by a simple car, Indonesian officials came by a luxurious car.
Japan that used to colonize Indonesia from 1942-1945 successfully rose from the crumble due to the bomb to Hiroshima and Nagasaki. It has become one giant country in Asia. But look at the people’s way of living. Although many of them have private cars, they would prefer to go by public transportation. In Indonesia, people would prefer to show off their ‘property’ by driving cars or riding motorcycles that probably they haven’t fully paid. They would rather expose their prestige. Likewise, other people would prefer to show their respect to people driving cars rather than people riding motorcycles. (Try going to a mall or supermarket close to your dwelling place by bike and see how the parking person will treat you!)
Last Saturday morning on my way to my workplace located 11 kilometers away from my dwelling place, when passing Gombel ‘hill’, suddenly I daydreamed to see other motorists riding a bike. No vehicles on the road but bikes and buses (as public transportation). I daydreamed not to breathe polluted air.
PT56 21.31 150608

No responses yet

Jul 17 2008

B2W Semarang

Published by afemaleguest under b2w


“Bike to work” alias sering disingkat menjadi b2w mulai mendapatkan atensi yang lumayan serius di Semarang, dengan dibentuknya komunitas bike to work Indonesia Chapter Semarang. Salah satu anggota komunitas yang sangat gigih yakni Triyono (bisa dilihat profile-nya di http://aluizeus.multiply.com merintis komunitas ini dengan mengumpulkan beberapa orang yang berminat sama dengannya, dengan cara ‘bergerilya’ lewat jaringan dunia maya di www.multiply.com juga dengan membentuk mailing list b2w-semarang@yahoogroups.com.
Hari Minggu jam enam pagi dipilih sebagai saat untuk kopi darat anggota komunitas b2w Semarang di depan Gedung Telkom Jalan Pahlawan Semarang. Kebetulan pada tanggal 15 Juni 08 ada acara ‘fun bike’ di Balai Kota Semarang. Event ini digunakan oleh komunitas b2w Semarang untuk menjaring lebih banyak anggota, dengan menyebarkan flyer b2w. Itu sebab pada hari tersebut acara kopi darat dipindah ke Jalan Pemuda.
Inilah motto yang dicetak di flyer tersebut:

KURANGI DAMPAK GLOBAL WARMING.

KALAU BUKAN KITA LALU SIAPA?
KALAU TIDAK SEKARANG LALU KAPAN?
LET’S ACT BEYOND GREEN!
LET’S BIKE TO WORK!!

AYO BERSEPEDA KE TEMPAT KERJA!
CIPTAKAN GAYA HIDUP BARU YANG LEBIH SEHAT, HEMAT DAN RAMAH LINGKUNGAN. BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI BIKE TO WORK INDONESIA CHAPTER SEMARANG

Kita lah yang telah membuat lingkungan tempat tinggal kita menjadi tidak bersahabat dengan kita, dengan menciptakan kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup kita, menebang pohon semena-mena tanpa perhitungan yang matang. Kita sendiri pula yang harus menderita karena tindakan kita merusak alam. Sehingga kita juga yang harus melakukan tindakan preventif untuk mencegah perusakan alam menjadi lebih parah.
Gerakan menanam sejuta pohon telah mulai digalakkan di beberapa tempat.
Bagaimana kalau kita ikut serta dengan membiasakan diri naik sepeda untuk mengurangi kadar polusi di bumi yang kita tinggali?

Salam sejuta sepeda di Semarang.
PT56 20.10 150608

Di bawah ini, foto-foto event 15 Juni 2008



No responses yet

Jul 17 2008

Bersepedaan Yuk?

Published by afemaleguest under b2w


Beberapa minggu yang lalu, aku disapa oleh seseorang di Multiply page-ku yang beralamat di http://afemaleguest.multiply.com. Sapaan dari seseorang yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com itu merupakan ajakan untuk ikut komunitas “b2w”.
“b2w” apaan yah?” tanyaku kepada seorang rekan kerja, sekeluarku dari warnet yang terletak di sebelah tempat kerjaku.
“No idea either, Ma’am,” jawabnya.
But then ketika di buku CV1 yang dia bawa dia temukan istilah ‘bike to work’, kontan dia langsung berkomentar, “Bike to work, kali Ma’am?”
“Aha … probably,” jawabku.
Kontan aku ingat Abangku yang pernah bercerita tatkala dia masih tinggal di Kelapa Gading, Jakarta dia pernah memiliki kebiasaan ‘bike to work’, alias berangkat bekerja naik sepeda. Waktu itu dia memiliki kantor yang berlokasi di kompleks perumahan yang sama, Kelapa Gading, tahun 1998-2001, sehingga dia bisa mempraktekkan kebiasaan yang ramah lingkungan ini, tanpa harus menjadi ‘korban’ menghirup udara Jakarta yang penuh polusi (karena tidak perlu keluar dari kompleks.) itu. Kadang-kadang dia bersama komunitasnya melakukan off-road trip ke daerah Puncak dan sekitarnya dengan naik sepeda tentu saja. FYI, dia pindah ke OZ tahun 2002. Sejak itu hanya di musim summer saja dia bersepeda di akhir pekan.
Waktu aku bercerita kepadanya aku pernah naik sepeda untuk ‘napak tilas’ jalan-jalan yang kulalui sewaktu ikut karate LEMKARI di bangku SMP sejauh 10 kilometer (dalam kegiatan karate, kita melaluinya sambil berlari, campur berjalan kaki, tanpa memakai alas kaki), dia ketawa, “Ah, 10 kilometer sih kecil Na. Itu jarak yang kulahap setiap hari!” katanya. Lah, memang aku kecil, sedangkan dia besar! Hahaha … But, aku lupa satu hal yang seharusnya kuceritakan kepadanya waktu itu. Waktu ‘napak tilas’ itu, aku sendirian, naik sepeda mini berwarna kuning milik kakakku (NOTE: bagi pengunjung baru blogku, yang kusebut ‘kakakku’ berbeda dengan ‘Abangku’), dengan kondisi rem blong. So? Tatkala melewati tanjakan, sepeda kutuntun, waktu di jalan menurun pun sama, sepeda juga kutuntun. LOL. (NOTE: bagi orang Semarang, route napak tilas ini dari Pusponjolo ke arah Selatan, ke daerah Gedung Batu Sam Po Kong, Phaphros (carane nulis piye? Aku lali! LOL), naik ke daerah Jalan Gedong Songo, jalanan menanjak, (kalau ga salah ingat nama jalannya), trus sampai di daerah Manyaran, belok kanan yang sekarang menuju ke Gedung Persaudaraan Haji, turun setelah melewati rumah dinas Walikota Semarang, sampailah di Jalan Abdul Rahman Saleh, sebelum sampai Museum Ronggowarsito, belok kanan ke daerah Jalan Soeratmo, trus belok kiri ke arah Pamularsih, dari depan SMA Kesatrian, terus lurus ke Timur, sampai ke daerah Pusponjolo kembali.)
Kembali ke sapaan di multiply page-ku.
Betapa senang aku mendengar mulai ada komunitas ‘b2w’ di kota kelahiranku ini, meskipun rada skeptis karena kontur geografis Semarang yang kurang mendukung untuk bike to work. Semarang memang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Bagi Abangku yang telah memiliki ‘track record’ mengikuti off-road trips tentu dataran tinggi ini tidak menjadi masalah, namun bagi para pemula, wah … ngos-ngosan pisan!!! Bayangkan aku yang tinggal di Pusponjolo, dataran rendah, berangkat kerja ke kantor yang terletak di daerah Tembalang, dataran tinggi. (melewati berapa ‘bukit’ tuh? Naik di Gajah Mungkur, kemudian di Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, dan puncaknya, di Gombel.) Sampai kantor, pingsan. LOL.
Seminggu berikutnya, mas Triyono yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com menyapaku lagi, “Kalau mbak Nana sempat ke Simpang Lima besok Minggu pagi, mampir ya ke komunitas b2w Semarang, kita kumpul di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan. Kita memasang tagline bike to work berwarna kuning di bawah sadel.”
He is such a determined person, isn’t he? 
Melihat kegigihannya, aku menawarkan adikku yang mulai menyukai naik sepeda untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah, misal ke pasar. Ini berkat ‘komporan’ kakakku yang sudah mulai bike to work di tempat tinggalnya di Cirebon. Ternyata adikku senang dengan tawaran ikut komunitas b2w.
By the way …
Meskipun aku sempat menawari Angie mengantarnya ke sekolah naik sepeda, tatkala harga bensin naik sampai Rp. 6000,00 per liter, (Angie langsung menolaknya mentah-mentah!!!) untuk benar-benar mempraktekkan kebiasaan bike to work, aku punya satu kendala yang sangat mengganjal. AKU BELUM PUNYA SEPEDA milik sendiri.
Di rumah saat ini ada dua buah sepeda. Yang pertama, sepeda federal, yang di’import’ dari Cirebon tahun 1991, sehingga dia seusia my Lovely Star. Sepeda ini sudah lumayan lama, bertahun-tahun, mangkrak tidak dipakai. Setelah adikku dikompori kakakku untuk bike to work, sewaktu dia ke Cirebon beberapa bulan lalu, dia akhirnya memperbaiki sepeda yang sudah seusia Angie ini, dan kemudian mulai menaikinya, untuk olah raga, beberapa kali seminggu di pagi hari.
Sepeda yang kedua, sepeda mini, yang bentuknya tidak mini alias cukup besar, baru saja di’impor’ dari Cirebon juga beberapa minggu yang lalu. Sepeda ini dikirim kakakku untuk sarana olah raga adik bungsuku yang di bulan Desember dan Januari kemarin sempat opname di rumah sakit karena terkena penyakit typhoid dan dengue fever. Banyak orang yang menyarankannya untuk mulai rajin berolah raga untuk meningkatkan daya immune tubuhnya. Ditengarai karena dia tidak pernah berolah raga, tubuhnya menjadi rentan penyakit. Itu sebab kakakku tidak keberatan mengirimkan sepeda yang biasanya dinaiki istrinya ke Semarang. Lah, trus kakak iparku itu naik sepeda apa dong? Kebetulan, selain sepeda yang biasa dia naiki untuk berangkat ke kantor, kakakku punya sepeda ‘tandem’ yang bisa dinaiki berdua, sehingga sepeda ‘tandem’ ini cukup menjadi sarana olah raga jika kakak iparku kepengen berolah raga bareng kakakku.
Aku belum ada rencana untuk membeli sepeda sendiri. Rencana dalam waktu dekat: naik sepeda—pinjam sepeda mini yang semula milik kakak iparku itu—untuk pergi ke Paradise Club, tempatku ber-erobik ria maupun fitness dan berenang, yang terletak di Pondok Indraprasta, selama Angie libur kenaikan kelas, yang katanya berlaku selama kurang lebih tiga minggu, mulai 22 Juni sampai 13 Juli 2008.
PT56 14.54 150608

One response so far