Archive for May, 2008

May 29 2008

Harkitnas 2008 di Semarang

Published by afemaleguest under Current Affairs

Dalam
rangka memperingati perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus
tahun, sekaligus untuk ‘mengingat kembali’ peristiwa Mei hitam sepuluh
tahun yang lalu (peristiwa yang kedua ini dikemukakan oleh ketua
panitia Harjanto Halim), warga kota Semarang mengadakan tiga kegiatan
sekaligus yang diselenggarakan pada hari Jumat 23 Mei dan Sabtu 24 Mei
2008.
 

Pada
hari Jumat pagi, sekitar pukul 08.00-12.00 diselenggarakan bedah buku
PUTRI CINA, sebuah novel yang meramu antara mitos dan sejarah hasil
karangan Sindhunata. Acara diselenggarakan di gedung Study World Jalan
Kyai Saleh Semarang.

Malam
harinya diselenggarakan pertunjukan ACAPELLA MATARAMAN dari Jogja di
panggung utama Waroeng Semawis, Gang Warung, kawasan Pecinan Semarang.

Sedangkan
acara puncak adalah pementasan ketoprak PUTRI CINA yang ide utamanya
diambil dari novel karangan Sindhunata. Ketoprak dipentaskan oleh
kelompok ‘Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogdjakarta’ pada hari Sabtu
pukul 18.30 sampai menjelang tengah malam.

Pada
acara puncak ini hadir para petinggi Semarang/Jawa Tengah, seperti
Gubernur Ali Mufiz beserta ibu, Wali Kota Sukawi Sutarip beserta ibu,
bahkan hadir pula Bupati Kudus. Para budayawan yang hadir dalam acara
ini Eko Budiharjo (mantan calon ‘calon gubernur’ Jawa Tengah yang tidak
jadi), Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.

 

Apa
hubungan antara hari Kebangkitan Nasional dengan etnis Cina? Mengapa
acara yang diselenggarakan sangat berbau etnis yang satu ini?

 

Mungkin pertanyaan ini akan keluar dari benak para pembaca blog ini.

 

Konon
ide mementaskan ketoprak PUTRI CINA ini pertama kali dikemukakan oleh
Anton Wahyu yang bekerja di TB Gramedia (Gramedia merupakan penerbit
novel Sindhunata ini). Haryanto Halim, salah satu penggiat budaya di
kota Semarang segera menyambutnya dengan antusias. Panitia yang terdiri
dari beragam etnis, agama, profesi, dan kalangan pun terbentuk dan
bekerja keras untuk mewujudkan pertunjukkan yang diharapkan merupakan
benih untuk menggiatkan kegiatan kebudayaan di kota Semarang, terutama.

 

Masih
ingat peristiwa ‘lampion Cina’ yang bertebaran di beberapa jalan
protokol di kota Semarang bulan Agustus 2007 yang lalu? Seorang
budayawan yang pada waktu itu menggugat digantungkannya lampion Cina
karena mengkhawatirkan kecemburuan etnis lain (baca
è etnis Jawa dan Arab) pun menyumbangkan sebuah puisinya dan membacakannya pada acara puncak.

 

Mengacu ke sebuah artikel yang dimuat The Jakarta Post yang berjudul “Another May Tragedy Possible” (bisa dicek di http://themysteryinlife.blogspot.com)
kenaikan harga BBM beberapa hari yang lalu, yang dibarengi oleh
demonstrasi massa, dimana aparat tak segan-segan menangkap para
demonstran (layaknya yang terjadi di zaman rezim Orde Baru) yang
terjadi di beberapa kota di Indonesia, usaha panitia untuk lebih
memasyarakatkan ide pluralisme/multikulturalisme lewat pertunjukan
ketoprak PUTRI CINA tentu saja terasa sangat pas. Ide utama ketoprak
ini—untuk merangkul semua etnis agar menjadi satu, tak ada lagi saling
curiga yang tidak perlu—sangat perlu diketahui oleh masyarakat luas,
terutama kalangan bawah, agar tak lagi mudah diprovokasi oleh
pihak-pihak yang hanya bermaksud mengail di air yang keruh, agar tak
lagi terjadi peristiwa hitam saling membunuh anak bangsa sendiri.

 

Agar Indonesia benar-benar bangkit.

 

PT56 16.11 250508

   

No responses yet

May 22 2008

Bensin oh bensin

Published by afemaleguest under daily

Seusai
mengajar pukul 19.00 di kawasan Tembalang malam ini, aku baru menyadari
bahwa aku harus segera membeli bensin. I was wrong to predict that I
could buy the gasoline tomorrow.
Meskipun begitu toh aku tetap
dengan keras kepala tidak mau mampir ke SPBU yang terletak di pojok
jalan yang akan masuk ke kawasan Bukit Sari alias ujung atas Gombel.
Males, karena harus menyeberang, mana gelap dan gerimis!
Sesampai di SPBU di depan rumah dinas Direktur BI (kalo ga salah ) pokoknya yang berseberangan dengan Taman Sudirman (again, kalo ga salah ),
aku tetap saja melaju. Tujuanku SPBU yang terletak di Jalan
Indraprasta, ga jauh dari kantorku yang terletak di Jalan Tendean,
langgananku beli bensin, yang hitungan liternya selalu bisa
dipertanggungjawabkan (at least, based on my experience). But aku
kecele, ada tulisan besar ‘menyambut’ kehadiranku (juga para calon
pembeli yang lain) PREMIUM HABIS.
G U B R A K!!!
Bukan apa-apa,
kalo aku benar-benar kehabisan bensin, bakal aku harus menuntunnya
sampai rumah, setelah menjemput Angie yang sedang kursus Bahasa Inggris
di kantorku yang di Tendean. Walhasil aku sudah membayangkan aku dan
Angie, kedua perempuan yang sama-sama mungil ini berjalan kaki, aku
sambil menuntun motor sampe Pusponjolo. Nah lo!!!
Well, aku sudah
pernah sih menuntun motor dari kawasan Indraprasta sampe rumah. But aku
tentu males harus mengulang lagi. Mana aku HARUS melihat my Lovely Star
berjalan bersamaku, malam-malam. (How I always want to protect her, not
to make her in an unconvenient situation.)
But I had to try to get gasoline first, didn’t I?
Aku langsung ke SPBU yang terletak di pojok Jalan Hasanudin.
Sesampai sana … my goodness!!! Banyak banget yang sudah ngantri???
But aku ya lega karena ga ada, atau belum ada, tulisan PREMIUM HABIS.
After
I got what I needed, aku sempat menjepret orang-orang yang ngantri
membeli bensin dengan digital camera yang ada di hapeku. But tentu aku
ga bisa langsung upload foto itu di sini.
Indonesian government has declined in serving the citizens, do you agree with me? Everything seems in chaos recently!!!
Beberapa hari lalu Angie sempat bertanya kepadaku, "Mengapa sampai terjadi bensin langka Mama?"
"Orang-orang
yang egois menimbun bensin untuk kemudian menjualnya lagi setelah harga
naik. You know, honey, presiden sudah mengumumkan akan menaikkan harga
BBM kan?
This absolutely broke my heart.

KPDE 20.41 220508

No responses yet

May 19 2008

Breastfeeding Bill?

Published by afemaleguest under Gender

This recent week one mailing list I join has been talking about the
plan of the Health Institution of South Sulawesi to issue a provincial
bill to (somewhat) force women who just deliver babies to breastfeed
them as well as to manage the distribution of formula milk in the area.
The deputy head of the Health Institution, Saad Bustam said that there
was a tendency for women (especially working women) nowadays to give
their babies formula milk instead of breastfeed them with practicality
as the main reason while in fact it is believed that mothers’ milk is
the best for babies. The background of this plan is because Human
Development Index of the area is in the twenty-third rank. It is
assumed that giving mothers’ milk to the babies will improve the
quality of human resources in the area so that in the future it is
expected to be able to increase the Human Development Index.
The
discussion of this subject in the mailing list is related to the anti
pornography bill that eventually just makes women criminals. For
example, women are not allowed to wear sheer clothes that will turn on
men in public places. When sexual abuse is done by those men, due to
the sheer clothes women wear, the women will be imprisoned. So, instead
of protecting women from sexual abuse, the anti pornography bill just
makes women criminals.
So will the “mothers’ milk bill”, I assume.
When a woman cannot breastfeed her baby—with so many reasons, such as
the woman has to go out of town to work while she doesn’t have money to
bring the baby with her so that she has to leave the baby in the
village where the grandmother, or any other female relatives, takes
care of the baby, or because of natural cause, the woman cannot produce
any milk from her breasts, which is oftentimes possible to happen—the
woman will be put in jail, or pay fine.
A good thing has been done
by the Health Institution though: providing special rooms for women who
want to breastfeed their babies in malls so that the women do not do
that in open public areas. Related to the anti pornography bill, a
woman can be imprisoned too when she breastfeeds her baby in a public
area. She will be accused to intentionally show the sensual part of her
body—breasts.
*****
When delivering my baby in 1991, I did that
in one midwife’s house close to my dwelling place. Before my breasts
produced milk, the assistant of the midwife prepared a glass of sugared
water to give Angie when she was crying because of feeling thirsty or
hungry. We used a small teaspoon to put the water into Angie’s tiny
mouth. (She weighed 2.6 kg and 49 cm long.) Several hours after that,
my breasts produced milk and I could breastfeed Angie directly. The
midwife also prepared a box of formula milk in case we needed that. The
midwife opined that it was better not to give the baby any formula milk
yet before the mother produced milk.
I concluded that the midwife
wanted to indirectly campaign to breastfeed babies for women who
delivered babies in her house. This is absolutely good.
FYI, I
breastfed Angie till she was four months old without giving her any
other milk or any food. After that, I still breastfed her until she was
one year old, (because I had to resume my study out of town and she was
with her granny) but of course plus food. I started to give her formula
milk when I was busy resuming my study.
*****
Recently when
some good friends of mine got married, got pregnant, and then delivered
their babies in hospitals (not in a midwife’s house like my
experience), I heard similar experiences. Before their breasts produced
milk, the nurses gave the babies formula milk when the babies cried.
They apparently didn’t have patience to wait until the babies’ mothers
could breastfeed them. Or perhaps there was cooperation between the
hospital and the formula milk distributors for profit.
What happened
after that? Some friends told me that their babies didn’t want to drink
the mother’s milk, they chose the formula milk instead. That was the
first liquid they tasted and they didn’t want any other. Some others
said that they still could breastfeed their babies, but not as the main
milk, only as the additional one.
*****
Is breastfeeding included
women’s destiny? So that they are not supposed to avoid it? I don’t
agree with it although only women have breasts, and not men. Under some
special circumstances, some women cannot produce milk from their
breasts although they just deliver babies. What is wrong? Well, I never
know why.
When Angie was born in April 1991, there was a neighbor of
mine who delivered her baby several weeks afterwards. Without knowing
why, her breasts didn’t produce any milk so that she had to give her
baby formula milk. She felt very disappointed but any effort she did to
make her breasts produce milk was in vain. Was she a bad mother? Of
course not. What happened was really beyond her capability.
PT56 11.45 190508

3 responses so far

May 06 2008

Cervical Cancer

Published by afemaleguest under Health

Doctors warn about cervical cancer

By Desi Nurhayati

 

Doctors have
warned women to be aware of the risk of cervical cancer, a disease that usually
shows no symptoms but has the highest mortality rate of cancers in Indonesia.

An estimated
20 women die of cervical cancer in Indonesia everyday, and 41 new cases are
diagnosed, according to Yanto Sinaga, an obstetrician and gynecologist from the
Indonesian Cancer Foundation.

“Breast cancer
is the most deadly disease for women in the rest of the world, but in Indonesia
it is second to cervical cancer,” Yanto said in a discussion recently.

Cervical
cancer affects more than 500,000 women worldwide annually, killing half of
them. about 80 percent of women with cervical cancer live in developing
countries, including Indonesia.

The cervix is
the part of the woman’s reproductive system that connects the uterus to the
vagina.

Cervical
cancer is usually caused by human papillomavirus (HPV)m a sexually transmitted
virus.

“Promiscuity
is among risk factors for cervical cancer. Women who have more than six sexual
partners and those who first have sex before the age of 15 are at a higher risk
of infection,” Yanto said.

“A man who has
sex with a woman who carries HPV could pass the virus to another woman, even if
he uses a condom.

He said the
risk for women who used hormonal contraceptive such as contraceptive pills for
more than four years was about one to one-and-a-half times higher than that for
other women.

Women who
smoke, have an insufficient antioxidant intake or a high birth rate are also
among the high-risk groups, he said.

According to
the American Cancer Society, cervical cancer is usually diagnosed in women aged
between 35 and 55 years old, but it can occur at younger ages.

Even though
about 92 percent of cervical cancer cases are asymptomatic, especially in the
early stages, Yanto said women should be aware of certain signs that might
appear.

“Abnormal
vaginal discharges and bleeding during sexual intercourse are some of the
symptoms,” he said.

“In the mid
and late stages, the disease usually causes metabolic disorders because it
affects major organs such as the kidneys and the liver.”

To test for
signs of cervical cancer, the American College of Obstetrician and
Gynecologists recommends an annual pap smear for sexually active women aged 28
years and above.

Pap smears
have helped reduce the incidence and mortality rate of cervical cancer in many
countries.

To conduct a
pap smear, a doctor inserts a speculum into the patient’s vagina to collect a
cell sample from the cervix.

“Unfortunately,
many women in Indonesia are still reluctant to have a pap smear because they
are shy. In many cases, women think it is not necessary to have the test
because there are no symptoms of the disease,” Yanto said.

Immunization
against HPV could prevent the disease, but does not guarantee immunity because
the vaccine currently available cannot fight all types of HPV.

Cited from The
Jakarta Post

Tuesday April 29, 2008

Page 9

 

 

No responses yet

May 06 2008

Nana Podungge

Published by afemaleguest under Weblogs

Seperti yang
telah kutulis di post sebelum ini, tatkala kenarsisanku muncul sewaktu ngenet,
hari Sabtu 3 Mei 08 kemarin aku pun OUT OF THE BLUE menemukan seorang sepupu
yang belum pernah kudengar namanya, apalagi beritanya. Well, mungkin my dearest
Mom pernah bercerita, namun aku yang lahir jauh dari tanah kelahiran Mom
tercinta, tak pernah memperhatikan tentang saudara-saudaraku yang tinggal di
Gorontalo.

Ceritanya begini.

Kalau
kenarsisanku muncul, aku suka menulis ‘nana podungge’ sebagai keyword di search
engine google. Dan, muncul lah site-site blogku yang tersebar di mana-mana
(benar-benar narsis yah? LOL). Hari Sabtu kemarin agak berbeda karena site yang
muncul paling atas adalah blogku yang beralamat di http://afeministblog.blogspot.com.

“Lah, emang
biasanya yang muncul site mana Na?”

Biasanya site
milik A Fatih Syuhud di blognya di wordpress atau mana lah begitu, aku ga
begitu ingat. Tentu saja posting Fatih yang mem’feature’ kan blogku yang
muncul.

Hari Sabtu
kemarin ada site yang memuat blogku yang muncul sebagai “Blogger of the Week”
di nomor 40. Artikel itu merupakan artikel yang sama, yang ditulis oleh Fatih,
namun dimuat di site yang berbeda. Yang membuatku tertarik meng-klik site itu
karena ada dua komentar yang ditulis oleh seseorang. Tentu saja hal ini sangat
menarik bagiku. “Who on earth left comment on a post about my blog?”

And … V I O L A …

Kedua komentar
itu ditulis oleh seseorang yang mengaku bernama Basir Podungge. We have the same
family name! Dia mengaku sebagai sepupu yang belum pernah kukenal. Tentu karena
merasa terheran-heran seorang ‘Podungge’ dia temukan di internet, sehingga
Basir pun menulis komentar. Karena tulisanku berbahasa Inggris, dan artikel
yang meng’highlight’ blogku itu pun berbahasa Inggris, rupanya Basir agak ragu
apakah aku bisa berbahasa Indonesia, sehingga dia menulis komentar dua kali,
pertama dalam Bahasa Indonesia, yang kedua in English. Dia dengan sengaja
menulis nama seorang sepupu yang kukenal sejak aku kecil karena dia dulu
sekolah di Pondok Gontor, sehingga tiap libur panjang dia berlibur ke Semarang.
Nah, karena dia menulis nama kak Ramiez inilah, aku jadi yakin banget bahsa
Basir Podungge ini benar-benar sepupuku.

So?

Aku langsung
kirim sms, menyapanya, memperkenalkan diri, sembari memberitahunya bahwa
akhirnya aku menemukan komentar yang dia tulis bulan Juli 2007. Dia pun
terheran-heran mengapa aku baru menemukannya 10 bulan kemudian.

Ah, jadi ingat
awal-awal aku menemukan cara untuk semakin menjadi narsis. LOL. Abangku yang
menunjukkan padaku bahwa feature VIEW MY STATS yang kupasang di blog bisa
memberitahuku banyak hal. ‘nana podungge’ merupakan salah satu keyword yang
‘membawa’ orang untuk mengunjungi blogku. Dengan googling sembari mengetikkan namaku
sebagai keyword membuatku terheran-heran, seorang A Fatih Syuhud telah memilih
blogku untuk di’highlighted’, membaca tulisanku dengan seksama, sebelum membuat
tulisan tentang aku. (Makanya ‘google page rank’ ku melonjak ke angka 3!!!)
Selain itu juga masih ada banyak orang lain lagi yang dengan mengagumkan
‘mempelajariku’ lewat tulisan-tulisanku.

Jadi ingat sebuah
komentar ‘asal’ yang ditulis oleh seseorang yang tidak jelas latar belakangnya
di blog http://afemaleguest.blog.co.uk
yang menuduhku karena unhappily married I turned to be a feminist who hates
men. “Find another foolish guy to marry you, then go home, clean the house,
cook, and do ‘women’s job. Don’t write here anymore!” katanya.

Anyway, kebanggaan
dan kepuasan seorang penulis adalah tatkala dia mengetahui bahwa tulisannya
dibaca orang, apalagi sampai ditelaah, meskipun akhirnya beberapa orang akan
‘membacaku’ dengan ala kadarnya, yang tentu saja akan menghasilkan ‘bacaan’
yang sempit pula.

“Once your
writing is published, you, as the writer, are already dead!”

Tentu begitu
komentar para strukturalis sejati. LOL. Ya biarin aja deh. LOL.

Btw, kembali ke
sepupu yang ‘telah menemukanku’ di belantara dunia maya, aku akan terus dengan
kehidupanku di kota kelahiranku, Semarang, dan dia di kota kelahiran my Mom,
Gorontalo. Aku tahu di belahan bumi Sulawesi Utara sana aku punya banyak
saudara yang belum pernah kukenal langsung.

FBB U 20.21
050508

No responses yet

May 03 2008

Nana si Narcissist

Published by afemaleguest under Weblogs

Tatkala iseng ngenet begini (wow
… tumben si Nana punya waktu ISENG NGENET, padahal akhir-akhir ini
suka sok sibuk, mampir ke warnet ga sempet lah, apalagi iseng begini,
huehehehe …) Nana kumat narsisnya. LOL. Biasanya sih kalo lagi kumat
narsis kayak gini, aku nulisnya di blog friendster. But berhubung
friendster sedang ada error, (katanya ada ‘temporary finance’, kayak
yang biasanya kutemui di multiply), maka aku menuliskan kenarsisanku
pun di blog mutliply aja. huehehehe …

Bagaimanakah cara Nana iseng ngenet?
Pertama, buka www.google.com
Kedua,
ketik ‘nana podungge’ sebagai keyword di search engine. V O I L A …
it will put me on a site full of NANA PODUNGGE things.

Ketiga,
klik aja salah satu site address yang nongol. Btw, semenjak mengetahui
bahwa ‘nana podungge’ PERNAH menjadi salah satu keyword yang sering
membawa para browsers (maksudku orang-orang yang sedang browse di
internet) (aku tahunya dari facility VIEW MY STATS yang kupasang di
blog http://afeministblog.blogspot.com)
beberapa bulan lalu, aku hafal site-site yang sudah pernah kukunjungi
(misal blog A Fatih Syuhud yang highlight blogku di alamat yang sama,
blog milik Marissa Duma, dll.) This means, ketika aku memuaskan
kenarsisanku kali ini, aku mencari-cari site yang belum pernah
kukunjungi.

Kali ini, pengembaraanku mampir ke site berikut:

http://greatliteraryworks.blogspot.com/2008/04/feminist-cultural-studies-and-javanese.html

Di
situ ditampilkan review yang kutulis atas buku AQUARINI PRIYATNA atas
bukunya "Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop". Keren
kan? (namanya juga narsis, muji diri sendiri lah tentu, huehehehe …)

Btw,
banyak site lain yang telah menghilang dari google.com, yang
bener-bener keren juga menuliskan tentang aku, termasuk dari Jennie S.
Bev. huehehehe …

Udah
ah, harus balik ke kantor nih. (Barusan seorang teman sms, "Ma’am …
namamu di tulis di announcement board, gara-gara belum ngumpulin
monthly report kelas EC2!!!" huehehehe …)

KPDE 15.40 030508

No responses yet