Apr 13 2008

Wanita Mulia Berumah di Surga

Published by afemaleguest at 2:56 am under Sastra

Beberapa minggu terakhir di milis JURNAL PEREMPUAN sedang heboh membahas artikel Katrin Bandel di harian Republika, yang berjudul lumayan bombastis "Membongkar Kasus ‘Politik Sastra Gombal’. FYI, milis JP penuh dengan orang-orang akademik yang cerdas dan berpengetahuan luas, yang membuatku terpaku membaca polemik tentang SAMAN novel perdana karya Ayu Utami versus artikel Katrin Bandel tersebut.
Btw, ternyata polemik di JP itu akhirnya melebar ke beberapa milis lain, seperti milis "Apresiasi-Sastra", "PPIIndia", juga "Sastra-Pembebasan". Tatkala aku iseng menjenguk website milis SP, aku nemuin cerpen di bawah ini, sebagai
ungkapan ’selamat datang’ kepada Mariana Aminudin, dari jurnal yang
berjudul JURNAL PEREMPUAN.

Cerpen ini menohok alam pikiranku, yang membuatku berpikir, kali aja pengunjung blogku akan suka ikut membacanya.
Happy reading. :)

WANITA MULIA BERUMAH DI SURGA
oleh Rahmat Hidayat

1. Mariana Bangkit dari Kubur

Tepat pada malam hari
keempat puluh tujuh, saat dunia tengah
berharap-harap cemas menanti kabar
terakhir dari Paus yang tengah
gering, Mariana memutuskan untuk bangkit dari
kubur. Ia menyingsingkan
kafan penutup tubuhnya, lalu mulai merangkak naik.
Mariana menjebol
kuburannya sendiri dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
Lantas adegan
yang tercipta saat pelan-pelan tanah kuburan yang telah
bertembok
tiba-tiba bengkah berbarengan dengan amblasnya nisan ke dalam
tanah,
semestinya hanyalah ada dalam film-film horor lokal. Tapi ini
bukan
adegan dalam Sundel Bolong di mana seorang perempuan hamil yang
tewas
penasaran bangkit untuk menuntut balas. Sama sekali bukan. Ini
adalah
kebangkitan dari kubur seorang perempuan yang tidak sedang
mengandung
saat meninggal, meski beberapa minggu lewat baru saja melahirkan
janin
beku dan biru. Ini kematian seorang perempuan terhormat, seorang
istri
dan ibu teladan. Kematiannya wajar dan jamak serupa kematian
ahli-ahli
fikir. Ia tidak mati penasaran. Ia mati sesuai dengan prosedur
baku.
Sakit, sekarat dan mati. Di ujung hayatnya, ia meninggalkan petuah
dan
nasehat untuk suami dan kedua anaknya yang berangkat remaja. Ia
mangkat
secara baik dan benar.

Makam yang telah tertembok rapi dan
bagus itu pun jebol
berantakan bagai termeriam. Mariana melayang naik, kini
telah berdiri
di samping makamnya sendiri. Sejenak ia merasa sayang telah
menjebol
kuburannya yang apik dan permai. Pasti mahal, pikir Mariana. Kak
Saut
pasti telah banyak mengeluarkan uang untuk kuburannya. Lihatlah,
marmer
merah jambu yang kini bersisa puing. Merah jambu warna kesukaannya,
Kak
Saut tahu itu. Dan ada sesuatu yang terukir di pelat pada batu
nisannya
yang kini terguling.

Ia mendekat, berlutut, membalik nisan
yang terguling. Ia dapati nisannya
berukir epitaf indah keemasan. Deretan
huruf yang seketika membuatnya
terharu biru.

Terbaring dengan
tenang, istri tercinta dan ibu terkasih

Wanita mulia yang berumah di
surga

Mariana AS

Lahir 1 Januari 1968

Wafat 14 Februari
2005

Maka Mariana merasa dadanya menghangat. Lihatlah, lihat.
Kak
Saut tak melupakannya. Kak Saut mencintai dan memuliakannya.
Epitaf
indah ini adalah buktinya. Maka kelirulah engkau wahai malaikat
penjaga
kubur!

Ada yang berdesir di belakangnya. Mariana berbalik. Di
bawah
cahaya bulan ia dapati si malaikat penjaga kubur mengapung
dan
berpendar di atas sebuah makam. Dengan sepasang sayap serupa dua
bentang
kepak angsa (putih lembut demikian bercahaya!), si malaikat tampak
teduh
dan indah. Mariana menelan ludah sebelum berujar. "Aku rasa
kau
keliru."

Si malaikat melayang mendekat tak menjejak.
"Jangan
bilang kau berubah pikiran, Mariana."

"Tapi lihatlah," Mariana
menuding makam dan nisannya
yang porak poranda, "suamiku jelas mencintaiku.
Sebab untuk apa ia
membangun nisan merah jambu kalau bukan karena cinta
untukku?"

"Karena sebentuk makam dan nisan merah jambu kau
pikir
suamimu benar mencintaimu?"

"Tulisan di nisan itu…."

Si
malaikat tertawa. Sayapnya terguncang-guncang. Beberapa
lembar bulu putih
melayang jauh dan lenyap menjadi cahaya yang sebentar.

"Mariana, Mariana.
Semikian percaya engkau pada suamimu?
Tidakkah engkau mengingat segala hal
yang kita bicarakan bersama saat
kau masih di liang kubur?"

"Aku
ingat, tapi kau bisa saja keliru."

"Aku boleh keliru. Tapi waktu itu kau
sendiri juga mulai sangsi. Kau
sendiri yang memutuskan untuk bangkit dan
membuktikan semua ucapanku.
Aku hanya memberimu tawaran. Ingat
itu."

Mariana terdiam. Empat puluh tujuh hari yang lalu saat
upacara
pemakamannya telah usai, ia ingat saat itu berbaring dalam
liang
lahatnya dengan harap-harap bahagia. Ia telah mangkat, dan ia
bisa
mendengar bunyi terompah para pelayat satu persatu beranjak
meninggalkan
makamnya. Lahat yang gelap tak buatnya cemas. Keyakinannya
membuatnya
penuh percaya diri menghadapi alam kubur. Ia seorang hamba yang
baik dan
Tuhan pasti kasih padanya. Ia tak pernah lupa bersembahyang. Ia
berusaha
tak menyakiti orang lain atau mahluk lain. Jika pun ia alpa dan
hilaf,
sebisa mungkin ia akan beroleh maaf dari sesiapa yang ia sakiti. Tapi
di
atas segalanya ia adalah istri dan ibu yang baik. Kak Saut
selalu
memujinya sebagai istri yang saleh dan taat.

Kata Kak Saut, ia
adalah istri yang sempurna. Istri yang baik adalah
istri yang senantiasa taat
dan berbakti pada suami, mendidik anak,
menjaga kehormatan diri, memelihara
kerukunan dan keharmonisan rumah
tangga, dan sebisa mungkin dengan sekuat
tenaga berusaha menyenangkan
suami.

Taat berbakti dan berusaha
menyenangkan suami ternyata berkonsekuensi
pada banyak hal. Mariana sadar
benar itu. Tapi cinta Tuhan ada pada
cinta suami. Mariana ingat, suaminya
selalu berkata bahwa seandainya tak
terbentur pada dosa sirik, Tuhan akan
perintahkan para istri untuk
bersujud dan menyembah suami. Selama hidup
Mariana berupaya sekuat
tenaga untuk menjadi hamba yang baik, istri yang
sempurna, menyenangkan,
dan dikasihi suami. Maka Tuhan pun akan kasih
padanya. Mariana masih
mencamkan semua itu saat berbaring dalam kegelapan
liang lahat menunggu
tibanya para malaikat. Menanti, dengan ketenangan
seorang hamba yang
saleh.

* * *

Lalu saat sesosok malaikat itu
(Mariana tak habis pikir
sebab setahunya mereka harus datang berdua) datang
mengambang dan lahat
tiba-tiba melapang, Mariana terpesona beberapa saat oleh
keindahan rupa
sang malaikat. Tapi ia sadar dan telah bersiap. Inilah masa
tanya
jawab dan Mariana telah bersiap dengan segenap kunci
jawaban.

Cepat lugas ia jawab segala pertanyaan dengan tuntas.
Persis
seperti yang dibayangkannya. Segala jawab atas pertanyaan telah
berada
di ujung lidahnya dan hanya perlu meloncat keluar saat pertanyaan
datang
mengundang. Si malaikat mengangguk-angguk, berdehem sejenak,
lantas
kemudian melayang berputar
mengelilinginya.

"Sempurna."

Mariana tersenyum puas. Mengucap
syukur dalam hati.

"Tapi kita lupakan pertanyaan-pertanyaan bodoh tadi.
Aku penat harus
menanyakan hal yang sama berulang-ulang pada setiap yang
mati.
Menjemukan!"

Mariana, perempuan saleh yang kini mangkat,
terkesiap. Ini tak ada dalam
referensinya. Tak pernah diketahuinya ada
malaikat yang mengaku bosan.
Bukankah telah menjadi tugasnya? Bukan malaikat
adalah mahluk yang
paling taat? Bukankah mereka maksum dan suci…

"Ya,
ya, ya. Aku tahu apa yang ada dalam dipikiranmu. Bahwa kami
diciptakan tanpa
cacat dan selalu penuh pengabdian. Bahwa kami serupa
robot dengan program
maha sempurna," Si malaikat tertawa kecil,
berputar lagi, menatap Mariana
yang melongo. "Tapi sudahlah.
Sekarang lebih baik kau ceritakan tentang
hidupmu. Hidup kamu
sendiri."

"Hidup saya?"

"Ya. Hidup kamu.
Tepatnya, apa yang telah kau lakukan dalam
hidupmu." Si malaikat menatap
Mariana tepat di manik matanya.

Mariana mengerutkan kening. Lagi-lagi tak
pernah terlintas dalam
benaknya pertanyaan semacam itu akan terarah padanya
di alam kubur. Tapi
ia menurut juga. Terbata-bata ia bercerita. Dalam sendat
ia katakan jika
ia adalah ibu yang baik. Berusaha ia utarakan kalau ia adalah
istri yang
sempurna tanpa cela. Ia patuh pada suami tanpa prasyarat, tanpa
pamrih.
Ialah istri dan ibu dengan huruf kapital dan tanpa kesalahan
besar.

Si malaikat mengangguk-angguk. "Apa lagi?"
tanyanya.

Mariana menelengkan kepala. Apa lagi? Apa lagi? Cuma itu. Ya,
cuma itu.
Mendadak ia tersadar jika kisah hidupnya hanya berkisar dan
terhenti
pada hal yang itu-itu saja. Menjadi istri dan ibu yang baik.
Kisah
hidupnya terangkum hanya pada beberapa kalimat sederhana, betapa
ia
adalah pengabdi yang baik bagi keluarga. Mariana diam-diam
merasa
gamang.

"Sudah selesai," katanya terus terang.

Si
malaikat mendengus tiba-tiba. "Hanya itu? Kau berpikir itu sudah
cukup?" Ia
melayang berputar mengelilingi Mariana.

"Tapi bukankah itu yang tertera
di kitab suci? Juga ujaran-ujaran
itu? Bukankah Tuhan menginginkan hal
seperti itu? Bahwa seorang istri
harus patuh pada suami? Cukup dengan itu dan
ibadah kepada Tuhan pintu
surga melapang untuk wanita?" Mariana berputar
mengikuti malaikat
yang mengapung berkitar.

Si malaikat tertawa
melengking. Sayapnya berkepak-kepak. Cahaya
berkeredapan di mana-mana oleh
bulu-bulu yang berjatuhan dan melenyap.

"Mengapa? Mengapa segalanya harus
terserah suamimu? Mengapa
menghambakan hidupmu hanya pada suamimu? Engkau
juga manusia, sama
seperti suamimu. Tidakkah engkau juga punya kehidupan,
cita-cita,
impian?"

"Hidup saya adalah mengabdi pada suami dan
keluarga." Mariana
bersikukuh.

"Dan siapa yang mengatakan harus
seperti itu?"

"Aku mau seperti itu…."

"Benar?"

Mariana
tergeragap sebelum menjawab. "Y-ya, Ya. Pula di kitab suci,
sabda orang-orang
suci…"

Si malaikat mengibaskan tangan dengan tampang jemu. "Aku
tidak
bertanya tentang apa yang kau baca atau dengar, atau apa yang
kau
percaya. Aku tanyakan apa yang kau mau." Si malaikat menggamit
udara,
dan sekonyong-konyong di tangannya tergeber sebuah kitab besar.
Si malaikat
membuka lembar demi lembar dengan rupa tak sabar.

"Di sini dikatakan, kau
tak boleh ke luar rumah tanpa seizin
suamimu. Benar begitu?"

"Ya,
tapi…."

"Kau punya beragam keterampilan. Kau dahulunya seorang
guru."

"Ya. Tapi saya memutuskan untuk menjadi guru bagi anak-anak
saya
sendiri."

"Tapi kau sering merindukan murid-muridmu. Benar,
kan?"

Mariana terdiam.

"Lalu kau tak boleh menerima tamu lelaki
tanpa seizin suamimu. Benar
begitu?"

"Tentu saja. Tapi…"

Si
malaikat memintas tak sabar. "Lalu kau juga harus mengatakan iya
terhadap
hasrat suamimu, sebab adalah kewajiban untuk tunduk terhadap
gairah suami,
benar begitu?"

Mariana merapatkan geraham. Ia tersinggung. Pikirnya
masalah tempat
tidur tak semestinya diseret masuk.

"Juga kau tak boleh
memakai kontrasepsi lantaran suamimu melarang,
meski kau telah punya anak
lima dan kau punya penyakit yang membuat
setiap kehamilanmu bagai sebuah
perjudian dengan maut?"

Mariana bungkam. Ia ingat bayinya yang biru. Ia
ingat betapa ia harus
terus menerus hamil dan melahirkan. Demi umat, kata Kak
Saut, dan demi
Ia ingat olok-olok tetangga yang mengatakan dirinya bagai
pabrik bayi.

Si malaikat menatap Mariana. Pandangannya mengendur dan
berubah iba.
"Mengapa semua harus terserah suamimu? Bahkan tubuhmu sendiri
pun
bukan lagi milikmu. Mengapa? Mengapa nasib dan bahkan keinginanmu
tak
lagi sepenuhnya menjadi hakmu? Engkau manusia, dengan segenap
keluhuran
dari Tuhan. Tak pantas menjadi budak suamimu, budak segala
perangkat
aturan, sampai menistakan harkatmu sendiri."

Mariana mulai
kesal. Sesaat lenyap segala kekagumannya pada rupa si
malaikat. "Kamu,"
tudingnya, suaranya meninggi mendekati ambang
tangis. "Malaikat atau iblis?
Kenapa segala yang kau katakan
menyalahi aturan baku?!"

* *
*

Di tepi makam yang poranda, Mariana tercenung. Ia ingat,
percakapan
panjang dan panas dalam lahad berujung pada keputusan bahwa ia
harus
bangkit dari kubur dan menemui suaminya. Lewat interogasi oleh
si
Malaikat, ia harus bangun dari kematian, untuk mendapati kenyataan.
Kata
si Malaikat, kehidupannya habis tercuci oleh suaminya dan
ajaran-ajaran
untuk kepentingan suaminya. Saut suaminya tanpa lelah
menyuapinya dengan
segala macam ajaran untuk melestarikan kepatuhannya
sebagai seorang
istri. Ia adalah istri tapi juga boneka bagi Saut, suami
sekaligus
pemilik, dan saatnya ia harus menuntut apa yang ia dapat dari
termiliki
dan kepatuhan sepanjang hayat.

Untuk itu ia harus bangkit.
Dan dengan karunia kekuatan dari si
Malaikat, telah ia jebol lahad berikut
tembok makamnya. Kini di bawah
kerlip bintang dan gelap langit, Mariana
berdiri di tepi makam dengan
tubuh telanjang.

"Mariana, kau harus
pergi sekarang." Si Malaikat mendekat dengan
sorot mata ganjil, separuh iba
separuh penuh tekad. "Temui suamimu,
di selatan kota tepat di perbatasan. Ada
villa di sana. Dengan karunia
dariku kau bisa tiba di sana secepat yang kau
mau. "

"Aku ingin pula menemui anak-anakku."

"Tak bisa.
Kebangkitanmu bukan untuk anak-anakmu. Tapi untuk segala
hutang piutang
hidupmu. Temui suamimu. Dan perkara hidupmu akan terang
benderang."

*
* *

Dan di sinilah Mariana. Berdiri di depan pagar villa di luar
kota.
Tangannya mencengkeram besi teralis pagar. Gembok pagar telah
ia
retaskan sejak tadi. Ia lihat mobil Saut suaminya parkir di
depan
gerbang. Sejenak kerinduan pada suaminya membuatnya tertegun-tegun.
Kata
si malaikat, suaminya ada di dalam. Kata si malaikat, ia akan
menemukan
kenyataan yang sebenarnya.

Ada yang bergerak di balik tirai
di ruang tamu. Itu Kak Saut, suaminya.
Sedang berbicara dengan seseorang.
Tengah malam begini?

Mariana memicingkan mata. Sosok suaminya yang tengah
berbicara dengan
seseorang di ruang tamu membuatnya urung mendorong pintu
pagar. Mariana
memicing, penglihatannya ia lipatgandakan, menembus tembok dan
tirai.

Di ruang keluarga ia menyaksikan Saut suaminya tengah
duduk,
demikian rileks dan seorang perempuan duduk di di
sampingnya.
Malam-malam begini Kak Saut menerima tamu perempuan? Mariana
yakin
perempuan itu bukan sanak famili suaminya. Ia tahu seluruh sanak
famili
suaminya. Lantas mengapa ia ada di situ?

Mariana melihat
suaminya mengangguk-angguk sambil
berdehem-dehem.

"Kita toh tidak
perlu terburu-buru."

"Tapi kapan? Aku cuma minta waktu yang
pasti."

"Sabarlah. Tunggu sampai anak-anak
mengerti.Mereka…"

"Tugas Kakaklah yang membuat mereka mengerti." Si
perempuan
memintas cepat.

Di luar, dalam kegelapan malam, Mariana
semakin penasaran. Perempuan itu
memanggil suaminya dengan sebutkan Kakak.
Tapi siapa dia?

"Aku tak enak pada keluarga mendiang
istriku."

"Bukankah kau kini bukan bagian dari mereka? Bahkan dulu, kau
pernah
berpikir untuk mengawiniku dan saat itu istrimu masih ada. Kata
Kakak,
beristri rangkap tak dilarang…"

"Ya, ya, Tapi…"

Kata
Kakak waktu itu, Kakak akan membujuknya. Kata Kakak, Kakak bisa
beralasan
kalau Kakak tak puas dengan dia, dan berkehendak mengambil aku
sebagai istri
lain. Kata Kakak lagi, istri Kakak pasti akan mengijinkan.
Sekarang saat ia
sudah tak ada, apa lagi yang kau tunggu? Aku capek main
belakang terus-terus.
Sudah tiga tahun! Sudah tiga tahun, Kak!"

"Tapi kau
istriku…."

"Iya, tapi disembunyikan terus mene…"

"Dengar, dengar!
Kau istriku. Dan kau telah kunikahi. Akad telah
kuikrarkan. Pernikahan kita
halal. Cukuplah Tuhan jadi saksi. Sebagai
suami telah kupenuhi segala
kewajibanku. Kau tak kekurangan sandang
pangan papan. Rumah ini kubangun
untukmu. Jadi diam dan bersikaplah
sebagai istri yang baik!"

Beberapa
saat si perempuan benar-benar terdiam. Lalu berujar lirih,
"Aku cuma ingin
Kakak mau membawa saya ke keluarga Kakak, ke
orang-orang, memperkenalkan saya
sebagai istri Kakak. Tidak terus
menerus sembunyi dalam status sebagai istri
simpanan." Perempuan itu
mulai terisak.

Di luar Mariana terpana dengan
perasaan koyak. Jadi inilah kenyataan
itu! Kepasrahan dan kepatuhannya
terbayar dengan penghianatan. Ia
merasakan dadanya ngilu. Telinganya
berdenging. Mariana nyaris terduduk
oleh tungkai yang mendadak lemah. Teralis
kini tercengkeram kuat, kini
sebagai penopang. Di dalam di lihatnya suaminya
merentak bangkit,
sejenak berujar pada si perempuan yang terduduk diam
sembari mengusap
mata.

Kini ia melihat suaminya melangkah keluar dan
berjalan terburu-buru. Ia
melayang, menyembunyikan diri dalam gelap rimbun
perdu tetamanan di
pekarangan.

* * *

Dalam terpaan gerimis,
Saut melangkah terburu-buru. Sepatunya berjibaku
dengan kecibak air di
pekarangan. Jika tak ada halangan berarti dua
puluh menit lagi ia akan tiba
di sisi lain kota, tempat seorang
perempuan lain menunggu. Ia tersenyum
kecil. Perempuan selalu terlalu
mudah diperdaya.

Sesuatu bergetar
dalam saku bajunya. Ia merogoh ke dalam. Sejenak
melihat ke layar telepon
selulernya. Tersenyum sejenak lantas
mendekatkannya ke telinga.

"Ya.
Sebentar lagi aku ke sana."

"Kamu di mana?"

"Di rumah." Ia
tersenyum.

"Cepat ya? Aku kangen nih, Yang."

Ia tersenyum. "Aku
juga kangen, Sayang. Sampai nanti."

"Mmmuach!"

Telepon dimatikan.
Tapi senyum di bibirnya masih terpasang. Puas separuh
geli. Ia kembali
melangkah dan senyum itu seolah meningkahi gegas sol
sepatunya menerpa
genangan air. Tapi senyumannya itu lenyap seketika,
saat Mariana mendadak
melayang muncul dengan kemarahan meluap. Dan
jeritan kengerian tak terperi
urung membahana, terhenti di tenggorokan,
saat tangan Mariana terulur
menjemput lehernya.

* * *

Hujan berguntur dan pekat belukar
menyembunyikan Mariana yang tengah
berjibaku dengan tanah. Mariana menggali
bagai kesetanan. Hujan membuat
tanah gembur dalam hutan bagai adonan raksasa
dengan sepasang lengan
Mariana sebagai pengaduk. Mariana terus menggali,
mengeduk, mengubur,
menimbun, dengan wajah basah oleh hujan dan air mata.
Saat sebuah makam
selesai berbarengan dengan hujan yang mereda, langit hanya
menyisakan
rinai dan guntur.

Kesumat telah lunas. Mariana menyeka
wajah, menghapus air dan airmata.
Lumpur dan tanah menggambari wajahnya.
Selesai sudah. Di atas makam
nisan kayu ia tancapkan sepenuh tekad, menembus
jauh, jauh ke dalam,
hingga terdengar bunyi gemeretak. Ia pastikan nisan kayu
itu menghujam
deras menembus badan Saut suaminya nun di dalam
liang.

Nisan kini terpasang kokoh meski oleng, Mariana bisa membayangkan
tubuh
suaminya terbaring dalam timbunan tanah dengan nisan menancap di
dada,
dan darah yang mengalir keluar bersenyawa dengan tanah.

Selesai
semua.

Lantas ia melayang pergi.

Dini hari itu, saat dunia
terhenyak menerima kabar kematian Paus, dalam
hutan terkucil di pelosok hutan
yang penuh belukar beronak, dengkung
kodok dan lolong serigala, dengan tangan
sendiri Mariana telah tuntas
mengubur Saut suaminya.
Hidup-hidup.

Sesudahnya, dalam beberapa bulan, di dusun-dusun sekitar
hutan, ramai
kabar angin berhembus tentang temuan sebuah makam di tengah
kelebatan
hutan. Makam dengan jasad lelaki tanpa kafan terkubur serampang.
Makam
dengan nisan kayu terpacak sembarang. Pada nisan kayu tergores
tulisan:

Telah terkubur di sini

Lelaki bajingan tak
berhati

Layak dikubur dalam makam tanpa nama

Dalam hutan dengan
kawanan srigala…

Makassar-Amsterdam, April 2008




Comments RSS

Leave a Reply