Archive for February, 2008

Feb 28 2008

Semarang - Demak

Published by afemaleguest under daily

“A tough girl!” commented one driver working for Bank Jateng Demak when he saw me preparing myself to ride my dearest motorcycle in the parking lot, after finishing giving English training to some employees of Bank Jateng Demak last Thursday 21 February 2008. It was raining cats and dogs outside.
For your information, it is around 35 kilometers from my home to the office building of Bank Jateng Demak located on Jalan Sultan Trenggono Demak, some meters on the South of the Great Mosque built by Sunan Kalijaga. I usually need around 45 minutes by motorcycle, with the speed around 60-80 kilometers per hour. However, to go home, I need a longer time since the road from Demak to Semarang is not as smooth as the road from Semarang to Demak. I cannot speed around 60-80 kilometers on my way home. One employee of Bank Jateng Demak told me that the road from Semarang to Demak was one heritage from the Dutch Colonial government. (Remember the history lesson you got at school, Daendels inhumanely forced Indonesian people to work to build a very long road from Anyer to Panaruka from 1808 till 1811.) Meanwhile, the road from Demak to Semarang was built during Soeharto era. The condition of this new road is even worse than the one built in the beginning of the nineteenth century.
Because of the rainy season, on my way back to Semarang by motorcycle, I saw the different condition of the road clearly. Look at the picture below.
Cutie0226

A workmate jokingly said to me, “The road from Demak to Semarang is not like ‘Kaligarang’ Ma’am, but it is like ‘kaligaring’.” (NOTE: ‘Kaligarang is a name of one river in Semarang. Kaligaring means a dry river. Imagine the condition of the surface of a dry river at the bottom.)
What conclusion can you draw? Not much corruption done during the Dutch colonial government. During Soeharto era? You say it.
Last Thursday was the third time I had to go home from Demak to Semarang by motorcycle in the heavy rain. I am tough? Ask my dearest Abang for that. LOL.
To be the breadwinner is absolutely not a piece of cake. And women surely can do it as well as men. And I am very proud to do it for myself, and for my only Lovely Star.
PT56 11.55 25022008

No responses yet

Feb 28 2008

Flood … flood … flood

Published by afemaleguest under daily

It has been raining very often in Semarang recently. This is understandable because this is still the rainy season. However, as far as I remember, this rarely happens. I mean, not to see the sunshine for several weeks in succession in Semarang is not something very common to happen, despite during the rainy season. Due to this, I have become somewhat spoilt, especially in terms of taking a shower. I have to boil some water first so that I can use warm water for shower. Besides, I always depend on the dryer in the washing machine to dry the clothes I just wash.
However, this post will not focus on this kind of thing. :)
Last Thursday February 21 on my way back from Demak after teaching at Bank Jateng Demak, I was trapped in a flooded area. I had to ride my dearest motorcycle at that time because Pak Har, my ‘ojek driver’ LOL, couldn’t give me a lift. His car was broken, he said. That Kaligawe is always flooded when there is big rain is something everybody knows. And I already know the alternative way to avoid Kaligawe, that is through ‘the artery road’. Nah, the flood recently also reached the ‘mouth’ of the artery road. Willy nilly I had to pass the flooded area and I didn’t have any idea how deep the flood was.
When I was thinking what I would do, a kid, perhaps around ten until twelve years approached me, asking me politely,
“Wanna pass the flooded area Ma’am? Here, let me help you. You get down from your motorcycle first and I will push it to pass this flooded area. The machine of your motorcycle will be safe. And you can just walk behind me.”
I knew the boy just needed some money from me. And of course I didn’t mind it at all. So, I let him do what he said and I followed him while taking some pictures of what was going on around me. I have read articles in the newspaper how flood could give people a chance to get some extra money. And I experienced it myself. J
Here are some pictures I took at that time (around 09.00 am Thursday 21 February 2008).
Cutie0218

Below is the picture of some kids helping the motorcycle riders to find the safe road.

Cutie0223

Cutie0222

Cutie0221

My dearest hometown, with its common problems, especially during the rainy season.
PT56 11.25 25022008

No responses yet

Feb 24 2008

Angie Berenang

Published by afemaleguest under Angie

‘Ketiba-tibaan’ Angie untuk kembali ikut berenang bersamaku membuat kita berdua berebut kacamata berenang. Kacamata renang Angie yang lama (beli tahun 2002) terpaksa kupakai, dan aku harus merelakan Angie memakai kacamata renangku yang kubeli pertengahan tahun 2006 lalu, karena kacamata renangku yang kubeli bareng dengan kacamata renang Angie hilang waktu itu. (I might accidentally have left them in the shower room of the pool!) Biasalah, seorang anak maunya pake barang yang baru dibeli, dan memaksa nyokapnya memakai barang lama. LOL. (Does it happen to everyone else? I think so. :) )
Namun hari Minggu kemarin tiba-tiba aku mendapati kacamata renang ‘tua’ itu patah tatkala aku akan memakainya. Terpaksa hari Minggu kemarin aku tidak memakai kacamata tatkala berenang. Tanpa kacamata tentu aku tidak tahan berenang lama. Kalaupun tahan, mataku akan mudah terkena iritasi dan berubah warna menjadi merah. Tidak bagus untuk kesehatan mata.
Itu sebab hari Rabu 6 Februari kemarin aku menyempatkan diri ke Mall Ciputra untuk membeli kacamata renang. Demi efisiensi waktu aku tidak masuk ke dalam mall, karena ada satu toko jualan alat-alat/baju olah raga tak jauh dari tempat aku memarkir motor, di deretan luar mall.
Kamu percayakah bahwa para penjual—atau para salesperson—senantiasa melakukan taksiran kepada para calon pembeli? Salah satu pengalamanku: tatkala aku hanging out dengan Angie mengenakan busana yang lumayan keren, para salespersons serta merta menawariku membeli ini itu. LOL. Dibandingkan dengan tatkala aku ‘hanya’ mengenakan celana jeans, T-shirt biasa, tanpa manik-manik, plus sepatu ‘biasa’ tak satu pun salesperson yang tertarik menyapaku. LOL.
Demikian pula tatkala aku memasuki toko olahraga tersebut. Seorang perempuan menyapa, “Mencari apa mbak?”
“Kacamata renang,” jawabku.
Dia langsung mengambilkan sepasang kacamata renang, dengan harga berkisar 70.000-an. Namun berhubung warnanya kuning ngejreng, aku langsung menolak, “Yang warna hitam mbak!” kataku.
Dia langsung mengambilkan sepasang kacamata renang, warna hitam, seharga Rp. 40.000,00. Tentu saja aku senang dengan harga yang sangat ekonomis itu (sebagai perbandingan, di tahun 2002, aku membeli kacamata renang seharga Rp. 40.000,00. Tahun 2006 lalu seharga Rp. 65,000,00.) Namun tatkala aku mencobanya, aku tidak menyukainya.  Ada kesan tidak pas, plus kaca yang agak buram. (Memang di kolam renang, tak bakal ada ‘kecelakaan’ yang mematikan kalau hanya bertabrakan dengan perenang lain karena kacamata renang yang buram.)
Sewaktu aku mencoba itu, si perempuan itu bertanya, yang lebih cenderung ke ‘tuduhan’ daripada ‘pertanyaan’ (atau mungkin karena aku sedang PMS, sehingga kadar sensi tinggi.) “Mbak-e ga kerja?”
“Nanti masuk jam 3.”
“Kerja dimana kok masuk jam 3?” tanyanya (tentu saja kali ini pure pertanyaan, dan bukan tuduhan. LOL.)
(Aku langsung berpikir dia sedang mencoba menaksir kemampuanku untuk membeli kacamata renang berharga berapa dengan pertanyaan itu. LOL.)
“LIA,” jawabku pendek.
“Emang LIA apaan sih?” tanyanya lagi. (This is really not a big deal for me if people don’t know what kind of institution LIA is.)
“Kursus Bahasa Inggris.”
Selain itu sesi ‘interogasi’ masih terus berjalan sementara aku juga terus mencoba kacamata yang lain. Dia berusaha meyakinkanku bahwa kacamata pilihannya yang seharga Rp. 40.000,00 itu lumayan bagus, karena dia telah membelikan sepasang untuk anaknya, dan kacamata itu awet sampai sekitar 3-4 tahun, asal setelah selesai berenang, kacamata langsung dibasuh dengan air bersih, untuk menghapus sisa-sisa kaporit yang menempel.
“Saya telah membelikan kacamata renang buat anak saya tatkala dia duduk di kelas 3 SD. Sekarang dia telah duduk di bangku SMP.”
Perhatikan kata TELAH yang dia pakai. Sebagai seseorang yang berkutat dengan bahasa, pemilihan kosa kata, plus interpretasi di balik pemilihan kosa kata itu hampir tiap hari, aku langsung menginterpretasikan kalimatnya yang terakhir sebagai, “Kok mbak baru beli kacamata renang sekarang? Ga punya duit ya?” LOL. LOL.
Untuk menjawab pernyataan itu, aku bilang, “Kacamata renang yang kupakai, yang kubeli 6 tahun lalu rusak. Itu sebab aku beli yang baru lagi.”
Aku agak ‘tinggi hati’ juga, tidak mau dituduh ‘ga punya duit ya’? LOL. Sehingga aku merasa perlu untuk ‘pamer’ bahwa aku telah punya kacamata renang sebelum itu.
Karena aku termasuk agak ‘rewel’ dengan kacamata yang dia tawarkan, akhirnya dia menunjuk kacamata yang seharga Rp. 110.000,00. “Atau mau yang itu mbak? Tapi harganya mahal.”
Kalimatnya yang kedua “tapi harganya mahal” bisa diinterpretasikan dengan, “Can you afford that?” LOL.
Aku langsung memintanya untuk mengambilkan yang seharga Rp. 110.000,00. Setelah mencobanya, dan langsung merasa cocok, aku serta merta bilang, “Saya minta yang ini aja mbak. Paling enak dipakai, dibandingkan yang lain.”
Sempat kulihat dia melongo, LOL, sebelum akhirnya menuliskan nota buatku.
Well, sebenarnya aku sudah merasa terganggu dengan pertanyaan alias tuduhannya yang pertama, “Mbak ga kerja ya?” seolah-olah di jidatku ini tertulis, “housewife, financially dependent on man” karena pukul 11.30 keluyuran ke mall, memakai bukan busana kerja (I was wearing jeans, T-shirt, jacket—showing I was riding a motorcycle and not driving a car, that meant I did not belong to the haves, that probably wouldn’t spend much money to buy a pair of googles—and carrying a cute backpack.)
Hal ini tidak berarti aku menyepelekan para perempuan yang memilih sebagai housewife karena bagiku menjadi housewife justru merupakan pilihan yang sangat sulit. Being financially dependent on a man akan membuatku meletakkan diri sebagai the second sex, tanpa kusadari, karena (masih) terlalu melekatnya stigma itu di benakku meskipun aku telah membaptis diri menjadi seorang feminis semenjak tahun 2003. Karena aku ingin melepaskan stigma itu dari hidupku, aku memilih untuk menjadi a single parent. Salah satu hal yang diperjuangkan oleh para feminis adalah kebebasan untuk memilih dalam hidup, apakah ingin bekerja untuk menjadi financially independent, ataukah memilih untuk menjadi a full housewife. Seorang perempuan hanya butuh menjadi manusia biasa, dan tidak perlu menjadi seorang superwoman (dengan membebani diri menjadi a good housewife, a good mother, a good career woman, a good social worker who cares much to the neighborhood, etc). Namun, seandainya ada seorang perempuan yang mendapatkan kebahagiaan dengan memaksa diri menjadi seorang superwoman, ya silakan saja, dengan catatan tetap menghargai pilihan perempuan lain—such as being a single woman, being a full career woman although she is married, being a single parent, dll. Tidak perlu ada paksaan bahwa seorang perempuan harus (atawa sebaiknya) berkarir di dalam rumah saja, agar tetap bisa menjadi a full housewife plus a full mother, untuk memberi kesempatan kepada suaminya untuk berkiprah di ranah publik. Beri perempuan hak untuk memilih, dan jangan memakai agama maupun budaya sebagai alat untuk memasung perempuan.
What the hell have I been scribbling? Lha wong dari beli kacamata renang kok menjadi hak-hak perempuan? LOL. Maklum, feminis gitu loh. Cie … LOL.
PT56 18.40 070108

One response so far

Feb 24 2008

I M L E K

Published by afemaleguest under Angie

Kamis 7 Februari merupakan hari libur nasional karena bertepatan dengan Imlek, alias tahun baru Cina. Sejak aku melek, sekitar pukul 04.30 pagi hari, aku telah mendengar percikan air hujan di luar. Mungkin sejak semalam hujan turun terus menerus. Tanda peruntungan yang baik, kata orang-orang Cina. (So I heard.)
Aku pun melanjutkan meringkuk di bawah selimut, plus memeluk guling kesayanganku saampai satu jam kemudian.
Setelah mengerjakan ‘tugas rumah di pagi hari’, aku bersiap-siap berangkat berenang sekitar pukul 06.30. Hujan sudah agak mereda, tinggal gerimis. Aku iseng membangunkan Angie untuk ikut berenang. (FYI, Angie ‘mogok’ ikut berenang selama beberapa tahun. Baru mulai bulan Januari kemarin dia tiba-tiba bilang kepengen ikut berenang, karena dia ingin berolahraga. ‘Ketiba-tibaan’ itu berbuah aku harus mengeluarkan ekstra uang untuk membelikannya baju renang, plus membelikan tiket berenang ‘terusan’ bulan kemarin. (Tiket terusan berarti, aku langsung membeli 10 lembar tiket yang berlaku selama 3 bulan. Dengan membeli tiket terusan, aku bisa menghemat Rp. 3500,00 per tiket.) Dan ternyata Angie tidak keberatan untuk berangkat berenang denganku.
FYI, ada satu ‘dampak’ kalau aku berangkat berenang berdua dengan Angie: aku tidak bisa berenang secara maksimal karena Angie sering memaksaku berhenti dan ngerumpi di pojokan. So, kalau sendirian, aku bisa berenang 25 m kali 50 kali dalam waktu satu jam, bersama Angie aku bisa berenang 20 kali sepanjang 25 m itu aja sudah cukup bagus.
Dan pagi tadi, seharusnya aku bisa menikmati cuaca mendung, plus sesekali gerimis disertai angin berhembus cukup kencang (suasana ngelangut yang kusukai, seperti yang kutulis di blog beberapa bulan yang lalu), aku tidak bisa. Beberapa hari terakhir ini aku dan Angie memang sangat jarang memiliki waktu untuk berbincang-bincang berhubung Angie sibuk melulu sepulang sekolah mengerjakan satu tugas besar: mempersiapkan drama untuk pelajaran Bahasa Indonesia bersama teman-teman satu kelompoknya. Dia baru sampai rumah sekitar pukul 17.00, bahkan kadang lebih. (Sama sibuknya tatkala dia mengerjakan tugas membuat film dalam pelajaran Bahasa Inggris semester lalu). Tatkala aku pulang kerja, Angie sudah tidur kecapekan.
Di kolam renang tidak banyak orang lain, hanya sekitar 5 orang, termasuk aku dan Angie. ‘Berendam’ di kolam selama kurang lebih 2 jam, paling banter aku berenang hanya 750m, sisanya ya itu tadi, ngobrol dengan Angie.
Sekitar pukul 08.45 Angie sudah memaksaku berhenti berenang dan segera ke shower room untuk mandi.
Keluar dari shower room setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras. Uh … my mouth really watered because I wanted to jump to the pool again!!! And this time, alone, without Angie. Ingin aku menikmati tamparan air hujan di wajahku, disertai angin yang bertiup lumayan kencang. Ingin aku merasa ngelangut karena cuaca yang muram. Betapa inginku digigit kesunyian yang perih. (What a sado masochist I am!!!)
“Silakan loh kalo Mama mau nyebur lagi!” goda Angie, melihatku memandangi air kolam yang beriak-riak kecil dengan sorot mata orang yang sedang nyidam. LOL.
Aku tahu seandainya aku benar-benar nyebur lagi, Angie bakal protes berat. Akhirnya kita hanya nongkrong di bangku tempatku biasa nongkrong, sembari menyeruput secangkir nescafe panas untuk berdua.
Sepulang dari kolam renang, setelah mencuci baju renang kita berdua, aku dan Angie kembali menempatkan diri di atas tempat tidur yang hangat, meringkuk di bawah selimut, beralaskan bantal cinta pemberian mbak Icha.
What a nice start to enter the ‘mouse year’ according to the Chinese calendar. It rained all day!!!
PT56 17.00 070108

No responses yet

Feb 24 2008

Sate Ayam

Published by afemaleguest under daily

SATE AYAM merupakan salah satu menu yang selalu kucari tatkala menghadiri suatu acara yang melibatkan makan-makan. Namun herannya, tatkala orang bertanya kepadaku, “What’s your favorite food, Ma’am?” aku hampir tidak pernah menyebut, “Chicken satay.” Biasanya yang selalu kusebutkan pertama kali adalah nasi goreng, kemudian berturut-turut pecel, gado-gado (dua jenis makanan yang memiliki bumbu yang mirip  sambal kacang), petis kangkung, rujak, bakmi—baik bakmi Jowo maupun bakmi Suroboyo—baru ke cap cay dan kwetiau. (For kwetiau, I owe my ex very pretty private student who once cooked kwetiau for me when I arrived to her house, to give her private class, saying that it was her favorite food to cook. Sebelum itu, aku belum pernah makan kwetiau. LOL. Better late than never, eh? LOL.)
Seandainya aku menemukan sate ayam di antara banyak jenis makanan lain di dalam sebuah resepsi, aku pasti akan bercerita ke orang rumah, “Makanannya enak, karena ada sate ayam!” LOL. Kalau tidak ada, aku akan bilang, “Lumayan sih, sayangnya ga ada sate ayam.”
Beberapa tahun lalu, aku mendapatkan undangan resepsi pernikahan dimana menu makanannya kebanyakan masakan oriental (sayangnya cap cay dan kwetiau yang bisa dimasukkan Chinese food tidak ada), dan tak ada sate ayam, aku mengeluh, “I don’t need this foreign kind of food. Ga usahlah nyediain makanan yang mahal-mahal gini, cukup dengan sate ayam aja, I will love it a lot.”
                                                   *****
Ada sebuah restoran yang khusus menjual berbagai jenis sate, tidak jauh dari lokasi sekolah Angie. Aku pun telah bilang kepadanya untuk kapan-kapan mampir ke situ. Namun, berhubung Angie tidak begitu suka sate, sampai sekarang kita belum pernah mampir kesana. Malah kita berdua sudah ke rumah makan yang berjualan bakso, yang terletak di samping restoran sate itu, meskipun rumah makan ini baru buka beberapa bulan yang lalu (Aku selalu mengalah kepada selera Angie tatkala memilih satu tempat makan ketika kita berdua sedang eating out.)
Satu peristiwa terjadi kurang lebih dua minggu yang lalu yang membuatku harus mengubur keinginanku mengajak Angie mampir ke restoran sate itu. Dua rekan kerjaku yang pernah ke sana, bercerita, “It is too damn expensive!!! Masak satu porsi sate yang berisi tiga tusuk sate, baik ayam maupun kambing, harganya Rp. 18.000,00” Uh .. oh … goodbye deh … Jelas bukan kelas kantongku deh rumah makan ini. LOL. Maklum, kalau makan sate ayam, satu porsi bagiku minimal 10 tusuk lah. LOL. Tiga tusuk doang mana cukup?
                                             *****
Selasa malam 5 Februari 2008, sepulang dari kantor, sekitar pukul 21.15 tatkala memasuki halaman rumah tempat tinggalku, ada seorang penjual sate ayam sedang nongkrong di tembok dekat pintu pagar. Hal ini sebenarnya merupakan pemandangan yang sangat jamak bagiku, karena si Bapak penjual sate ayam itu memang sering nongkrong di situ, menunggu pembeli. Satu alasan utama yang membuatku tidak pernah membeli sate ayam jualannya adalah karena malam telah lumayan larut. Kalau jam segitu aku baru memesan sate, jam berapa aku akan selesai memakannya? Jam berapa aku akan berangkat ke peraduan? Masalahnya, kalau mataku telah ngantuk berat, sehingga aku terpaksa tidur dalam kondisi perut terisi penuh, keesokan harinya, plus beberapa hari sesudahnya, aku akan stress karena lemak di perutku akan semakin menebal. Dengan perut berlemak berlebihan, aku akan kesulitan kalau duduk di atas lantai, di hadapan monitor komputer. Kalau berjalan rasanya juga bakal terganjal lemak di perut ini. Baju pun bakal sangat ngepas di badan, bahkan sesak. Wis to, pokoke rak enak poll. LOL.
Namun hari Selasa 5 Februari kemarin beda. Perutku lapar. Plus ada satu kerjaan yang mau tak mau harus kulakukan sebelum tidur  mencuci seragam sekolah Angie. Dan agar bisa kukeringkan menggunakan mesin pengering, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang cukup banyak. (FYI, mesin cuci di rumah suka ‘ngamuk’ kalau ‘dipaksa’ mengeringkan cucian dalam jumlah yang sedikit. LOL. Berguncang-guncang kesana kemari plus suara gedebag gedebug ga karuan.) Dalam keadaan lapar, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang lumayan banyak, aku bakal pingsan kali ya? LOL. Dan, mencuci akan ‘memaksaku’ untuk tetap melek, bahkan mengeluarkan energi, sampai kurang lebih 2 jam setelah makan. 2 jam merupakan waktu yang cukup untuk ‘membuat makanan turun ke bawah’ sehingga tidak akan terlalu membuat perutku (tambah) gembul. LOL.
So, sebelum memasukkan motor ke dalam garasi, aku menghampiri si Bapak penjual sate, “Pak, sejinah pinten, nggih?”
“Biasa to mbak, petung ewu.”
“Nggih pun Pak, kulo pesen sejinah nggih? Sa’niki kulo mlebet rumiyin, ajeng mendet piring.”
“Nggih mbak.”
Aku sengaja tidak menutup pintu garasi, bahkan membiarkannya terbuka lebar.
Namun, adikku yang datang tak lama kemudian, menutup pintu garasi, sembari terheran-heran, “What the hell has happened? Why was the garage door widely open?” aku yakin dia bertanya-tanya pada diri sendiri.
Tatkala aku keluar sembari membawa piring, sebelum adikku bertanya, aku langsung bilang, “Aku beli sate.”
“Oh …” sahutnya pendek.
Setelah aku keluar, si Bapak bertanya, “Itu tadi adik ya mbak?” (FYI, perbincanganku dengannya menggunakan boso Jowo kromo madyo.)
Aku mengiyakan. Setelah itu, ternyata si Bapak termasuk orang yang cukup talkative dan hobby bergosip ria. LOL. Dia menyebut nama-nama orang penghuni kawasan Pusponjolo yang telah pindah, juga termasuk salah satu criminal yang ‘hobby’nya mencuri barang-barang milik tetangga sendiri.
Waktu aku bilang, “Bapak tahu banyak sejarah orang-orang yang tinggal di sini ya?” dia mengaku pindah ke Pusponjolo tahun 1978, tiga tahun sebelum keluargaku menempati rumah yang beralamatkan di PT56. Setelah itu aku baru nyadar, bahwa pertanyaan, “Itu tadi adik ya mbak?” hanya merupakan basa basi belaka. I believe he must have known about my family.
Malam itu aku jadinya memesan “rong jinah” alias dua puluh tusuk sate karena Mami plus kedua adikku masih melek, dan bersuka cita untuk membantuku menghabiskan sate. Angie telah tidur nyenyak, tentu kecapekan karena mengerjakan tugas sekolah, seusai jam sekolah.
Waktu makan rame-rame itu, aku baru nyadar bahwa aku selalu “melupakan” sate ayam sebagai salah satu makanan terfavorit. Untuk itu pulalah aku merasa ‘perlu’ menulisnya untuk blog so kalau pembaga blog ada yang akan mengundangku makan, jangan lupa sediakan sate ayam sebanyak-banyaknya buatku yah? LOL.
PT56 16.25 07012008

No responses yet

Feb 18 2008

One Day in My Life

Published by afemaleguest under daily

“You don’t work, do you?” accused a salesclerk when I was about to buy
a pair of goggles the other day, in one sport store at Ciputra Mall
Semarang.
I understood why she accused me like that. I went there
around 11.40 am (usual working hours), wearing jeans, t-shirt, a
jacket, and carrying a backpack; not usual outfit for workingwomen, is
it?
I wanted to find out what made her fussy like that (instead of just considering it as a small talk to a customer).
The first possibility: Was she jealous of me because she had to work as a salesclerk to make her ends meet?
Referring
to women from low social class who had to work hard to earn money, to
be able to give their children food and clothing (perhaps including
education) in the nineteenth century America, they could be said that
they were somewhat jealous of their fellow women citizens who came from
middle and high social classes. The latter did not need to keep their
nose to the grindstone only to buy food and clothing. Therefore, the
first probably did not have any idea what on earth made the latter
struggled to get right to work outside home.
This similar
phenomenon is also easily seen in Indonesia. Many women coming from low
class society do not understand why women from higher social class have
to work (they don’t understand self actualization as well as self
esteem needs proposed by Maslow) when their husbands can give them
enough earnings every month. (enough is always relative, isn’t it?)
The second possibility:
did she underestimate me as a financially dependent creature? Since she
thought I didn’t work, it was easily concluded that to her I was a
housewife. To some people, a housewife is just a pathetic ‘profession’
because she financially depends on her husband. Being a financial
dependant, a woman is prone to domestic violence, especially if she has
a husband who doesn’t appreciate a housewife because this ‘profession’
doesn’t make money, a husband who thinks that money maker is always
superior.
Why should she underestimate me if I chose to be a
housewife? Because in this twenty first century, with its gender
equality “phenomenon”, women are more honored when they make money?
I
assume that she needs to read this blog of mine to know my personal
‘ideology’. LOL. As a feminist I am fully aware that the core of gender
equality lies in the right to make choices in life. Women have full
rights to have their own kind of life. (You can refer to my previous
post.)
PT56 20.17 070108

No responses yet