Jan 20 2008

High Heels …

Published by afemaleguest at 2:35 am under daily

Minggu 6 Januari 2008 aku mendapatkan undangan resepsi perkawinan seorang rekan kerja di Semarang. Seperti biasa, aku mengajak Angie untuk menemaniku. (NOTE: I am not really JOMBLO, because I have a plus one, my beloved daughter. LOL.) Salah satu “resiko” mengajak Angie ke resepsi perkawinan, aku harus menyatukan dress code dengannya: celana jeans. Alhasil, hari itu pun aku memakai celana jeans. Sebagai padanannya, agar aku nampak tidak terlalu informal (plus maskulin) aku memilih memilih T-shirt yang bermodel feminine, karena ada hiasan manik-manik di bagian dada. Untuk menambah penampilanku agar lebih feminine (meskipun aku memakai celana jeans) aku membawa tas tangan yang modelnya feminine pula, plus sepatu boots (mengurangi kefemininan penampilanku yah? Ah biarin deh. LOL.)

Sebagian rekan kerja perempuan yang “terhitung” lumayan baru di tempat kerjaku nampak memakai baju yang feminine pula, dan saling memuji penampilan satu sama lain, “Wah … bajumu bagus…” dll. Salah satu dari mereka mengomentari penampilanku, “Wah, Bu Nana asik banget pakai celana jeans?”

(NOTE: di tips-tips yang biasa muncul di tabloid maupun majalah “wanita”, kalo tidak salah ingat, celana jeans tidak termasuk yang direkomendasikan untuk dipakai perempuan ke resepsi, bahkan cenderung untuk dihindari, karena memberi kesan informal dan kurang feminin. Sebagian besar, kalau tidak semua tips menyarankan agar perempuan tampil feminin tatkala mengunjungi sebuah pesta.)

*****

Pulang dari resepsi aku mengajak Angie window shopping di DP Mall, salah satu mall terbaru di Semarang, yang telah kutulis di blog setelah launchingnya akhir Agustus 2007 lalu, namun aku belum pernah kesana. Akhirnya untuk menghindari tatapan mata yang bertanya, “Masak sih Ma’am, bu Nana belum ke DP Mall? Kan deket?” terus menerus, LOL, aku berhasil pula menyempatkan diri ke DP Mall.

FYI, sudah lama sekali aku ga jalan-jalan ke mall dengan penampilan yang lumayan “wah”, biasanya cowboy-nan gitu deh: celana jeans, T-shirt biasa (tanpa manik-manik), tas punggung, plus sepatu “jalan” (read sepatu yang enak buat jalan jauh, karena ga bakal bikin kaki sakit). Sudah lama sekali atau malah belum pernah yah? Lupa. LOL. Ternyata hari itu, banyak salesman/salesgirl yang tiba-tiba tertarik menawariku membeli ini itu. Tentu saja hal ini membuatku heran.

“Ada apa ya Sayang?” tanyaku ke Angie.

“Mama nampak seperti nyonya-nyonya kaya kali. Terutama tas Mama yang baru ini loh yang menarik perhatian orang,” kata Angie, berusaha analitikal. LOL.

“They were cheated, then. I don’t belong to the haves,” komentarku ke Angie, sambil kita berdua cekikikan geli.

(NOTE: “cekikikan” berarti ketawa kecil, atau dengan nada rendah. Lawan katanya “cekakakan”. LOL.)

*****

Kamis 10 Januari 2008, aku mengajak Angie menjenguk seorang rekan kerja yang dirawat di rumah sakit, karena typhus. (“Sedang musim ya mbak?” kata adikku heran, mendengar rekan kerjaku ini terkena typhus. FYI, adik bungsuku ini barusan masuk rumah sakit selama satu minggu, dari malam Natal sampai malam tahun baru karena typhus.)

“Setelah itu kita jalan-jalan!” kataku ke Angie.

“Kalau kita jalan-jalan, Mama bawa tas Mama yang keren itu ya Ma? Biar nanti para salesman/salesgirl jadi tertarik nawarin Mama beli ini itu,” rayu Angie, iseng.

“I think it was not only the hand bag, honey, but it also included the clothes and the boots I was wearing,” kataku agak keberatan. “Kalo cuma sekali-sekali pake sepatu boots jalan-jalan ke mall sih ga papa. Itu aja kan karena kita barusan ke resepsi pernikahan. Kalo tiap kali jalan-jalan, Mama pake sepatu hak tinggi begitu, capek dong, dan kasihan kaki Mama.”

Meskipun aku bilang keberatan ke Angie, akhirnya aku pun mengikuti keinginannya. Aku membawa tas tangan yang lumayan feminine, namun bukan tas yang kubawa ke resepsi rekan kerjaku. Sebagai ganti sepatu hak tinggi, aku memakai sandal hak tinggi, yang kata Abangku, “They are too ‘loud’.” Karena berwarna keemasan. Semenjak Abang berkomentar begitu, aku jarang memakainya. Bukan karena komentar Abang loh (toh dia tinggal jauh banget dari Semarang), namun karena aku sendiri lebih suka memakai sepatu “jalan” yang membuat kakiku ga bakal kesakitan meskipun aku jalan sampai berkilo-kilo meter. Aku juga memakai T-shirt yang “bagus” (well, menurutku sih. )

Memasuki pelataran parkir Rumah Sakit Roemani, out of the blue, sandal sebelah kiri rusak. Waduh. “Ga jadi jalan-jalan nih entar ke CL?” kataku dalam hati. “Yang, sandal Mama lepas nih yang kiri,” bisikku ke Angie. Angie bengong melihatnya. LOL.

Akhirnya, waktu berjalan memasuki rumah sakit, dengan pede (alias cuek LOL), aku tenteng sandal sebelah kiri, aku berjalan sembari menjinjitkan kaki kiri, karena kaki kanan memakai sandal hak tinggi, sehingga aku ga keliatan seperti orang pincang. Mungkin orang-orang ga akan begitu memperhatikan kakiku, kalau aku tidak menenteng sandal sebelah kiri dengan mencolok. Lah, mau bagaimana? Aku ga punya tas plastik di dalam tas tangan untuk menyimpan sandal kiri yang naas itu. LOL.

FYI, aku ga sempat memperhatikan orang-orang di sekitarku, meskipun aku tahu sebagian dari mereka tersenyum geli menatapku. Mungkin geli campur kasihan. LOL. Namun Nana terlalu pede untuk merasa tidak nyaman karena tatapan mata orang-orang itu. Cie… LOL.

Tatkala sedang di dalam rumah sakit, hujan turun deras sekali. “Ga jadi jalan-jalan ke CL ya Sayang? Kita ke toko buku Toga Mas aja,” kataku ke Angie. Angie mengangguk.

Waktu akan pulang, di teras rumah sakit banyak sekali pengunjung yang sedang berteduh, menunggu hujan reda. Dan jelas aku adalah sasaran pemandangan yang “indah” dilihat, namun dengan sengaja aku menghindari tatapan mata mereka langsung ke mataku.

“Mama kok bisa cuek gitu sih? Ga malu?” tanya Angie.

“Ya cuek ajalah Sayang, ga papa. Ini kan “kecelakaan” yang bisa terjadi ke siapa saja.” Jawabku.

Sebelum mampir ke Toga Mas, aku beli sendal jepit terlebih dahulu di depan Rumah Sakit Roemani. Bukan karena kepedeanku habis, LOL, namun agar aku tak perlu menjinjitkan kaki sebelah kiri tatkala berjalan. LOL.

PT56 19.01 100108




One Response to “High Heels …”

  1.   black-coffeeon 25 Sep 2008 at 2:02 am

    Beda banget ama aku mam, Dari jaman kuliah aku udah terbiasa pakai yang nama nya high heels. Sampe sekarang aku tetep selalu pake high heels, even my subordinates once called me Ms. High Heels.

    Aku tidak bisa pakai sandal atau sepatu yang hak nya pendek dan lebih parah lagi kalo tidak ada hak nya.

    Kalo ngga pake high heels aku jalan nya jingkit-jingkit gitu mam, aneh ya…

    High Heels boost my confidence to face the opposite attorney at court..he..

    Btw aku baca beberapa artikel di blog anda terus terang aku kagum.

    Menarik memang untuk membahas this ”universal sisterhood” dan filosofi dari feminisme itu sendiri. Namun sepertinya aku belum cukup yakin untuk mendeklarasikan diriku sendiri sebagai feminist.

    Membaca artikel-artikel di blog anda sepertinya anda orang yang sangat menyenangkan untuk diajak berdiskusi.

    Regards,
    Nia

Comments RSS

Leave a Reply