Dec 08 2007

Wisata Bahari Lamongan

Published by afemaleguest at 3:55 am under daily


Minggu
4 November 2007 aku beserta beberapa rekan kerja plus keluarga
berwisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang juga disebut Tanjung
Kodok, yang terletak di kota kecil Lamongan, Jawa Timur.

Rombonganku
meninggalkan kantor kurang lebih pukul 05.00, waktu di dalam bus
Sindoro Satria Mas. Sopir bus memilih jalur utara, melewati Kaligawe
yang sedang dipenuhi air banjir pada waktu itu. Aku sempat melihat
beberapa mobil yang memutar untuk memilih jalur yang lain, karena tidak
bisa memperkirakan seberapa dalam genangan air yang disebabkan hujan
tersebut. Rombongan berhenti di Kudus, di sebuah rumah makan untuk
memberi kesempatan kepada para penumpang yang ingin mengeluarkan hajat
kecilnya. Kali kedua rombongan berhenti di Tuban, dengan maksud yang
sama.
Kami sampai di Wisata Bahari Lamongan pukul 11.30. Setelah
makan siang berupa nasi kotak di dalam bus, kami memasuki daerah
wisata.

I
myself was completely in the dark what kind of place is WBL Hanya satu
petunjuk yang diberikan oleh guide, “Semua wahana bisa dinaiki karena
panjenengan saya belikan karcis terusan yang memungkinkan panjenengan
melakukan itu, kecuali dua tempat: arena permainan go kart, dan banana
boat. Panjenengan harus membayar jika ingin naik go kart dan banana
boat.”
“Is it something like Dufan in Jakarta Mama?” Angie asked me.
“Perhaps honey.” Jawabku.
Aku
dan Angie masuk area WBL terlambat karena Angie menyempatkan diri
mengganti celana jeans panjangnya dengan celana jeans selutut. Pesan
dari guide yang disampaikan kepada koordinator wisata dari kantor,
“Jangan lupa bawa baju ganti.”

****
Bangunan
pertama yang kumasuki bersama Angie adalah “Rumah Kucing”. Di dalamnya
banyak terdapat berbagai macam kucing dari seluruh penjuru dunia. Bagi
pecinta kucing, mungkin di sinilah tempat yang paling mengasyikkan,
karena bisa melihat berbagai varian kucing yang imut-imut, sekaligus
merasa kasihan, karena biasanya kucing yang lebih dikenal sebagai
domestic pet, dibiarkan berkeliaran bebas di dalam rumah, di “Rumah
Kucing” ini kucing-kucing tersebut “dikerangkeng” di sebuah kotak
berukuran kurang lebih 2 x 2 m, seperti binatang-binatang buas di kebun
binatang. Anyway, kucing memang satu keturunan dengan singa, harimau,
maupun leopard dan panther (World Book 2005), yang bisa dikategorikan
binatang buas.
Lihat gambar beberapa kucing-kucing koleksi WBL di bawah ini:




Keluar dari “Rumah Kucing”, Angie dan aku melanjutkan perjalanan ke gedung selanjutnya: Bioskop 3 dimensi.
Waktu
akan ngantri untuk masuk ke dalam bioskop, Angie komplain panjangnya
antrian sehingga aku ikuti keinginannya untuk langsung melanjutkan
perjalanan. Untung sorenya, sebelum keluar dari areal WBL, menjelang
pukul 4, waktu kita berdua balik melewati bioskop, tidak ada antrian
sama sekali, sehingga Angie pun mau masuk ke dalam. Film yang kita
tonton adalah perjalanan masuk ke dalam terowongan yang gelap gulita,
naik kereta api, penuh dengan pemandangan yang mengerikan. Waktu kita
serasa tercebur ke dalam air sungai yang airnya menggelegak, tiba-tiba
para penonton disembur air sungguhan entah berasal dari mana. Menurutku
pribadi bioskop 3 dimensi di WBL ini lebih memberi kesan “sungguhan”
daripada yang ada di Dufan.
Meninggalkan bioskop 3 dimensi, ada
“Rumah Sakit Hantu” yang konon di dalamnya diset seperti bentuk rumah
sakit yang dipenuhi oleh “hantu-hantu” yang meninggal karena sakit atau
mati kecelakaan. Angie menolak masuk, sehingga aku hanya mendengar
cerita mereka yang masuk ke dalamnya. FYI, Angie lumayan suka nonton
film horror, namun ogah kuajak masuk ke areal permainan yang
berhubungan dengan ‘setan’ dan ‘hantu’. 
Setelah Rumah Sakit Hantu,
ada areal permainan ketangkasan. Angie pun tidak mau mencoba seberapa
tangkas dia bermain lempar melempar, atau tembak menembak. So, kita
jalan terus aja.
Gedung di sebelahnya diberi judul “Istana Bawah
Laut”. Setelah aku dan Angie masuk ke dalamnya, ah .. ternyata tempat
bermain anak-anak kecil, seperti kereta api mainan, mobil-mobilan,
robot yang bisa bergerak naik turun, dll. Hanya saja gedung itu diset
seperti berada di bawah laut. Hiasan di dinding dan di langit-langit
gedung yang menunjukkan kita seperti berada di bawah laut.
Dari sana
aku dan Angie sempat memasuki areal go kart. Satu orang dikenai biaya
Rp. 18.000,00 untuk mencoba naik go kart selama kurang lebih 5 menit,
merasakan laksana racer.  Angie and I didn’t try riding it.
Gedung
berikutnya adalah “Taman Bajak Laut”. Angie yang semula menolak melulu
kuajak ini itu, akhirnya kupaksa masuk ke dalam taman bajak laut.
(Informasi tambahan: hari Senin 5 November, Angie harus menghadapi
ujian harian terpadu di sekolah. Mungkin itu sebab dia kurang begitu
menikmati suasana. Blame her mother yang memaksanya untuk ikut
berdarmawisata. LOL.) “Taman Bajak Laut” diset seperti sebuah kapal
yang karam setelah dibajak oleh para perompak di tengah laut.
Pengunjung dibatasi hanya empat orang untuk sekali perjalanan masuk ke
dalam. Di dalam suasana agak temaram, dengan pemandangan khas kapal
yang karam, ada bajak laut yang menakut-nakuti di sana sini. Bersamaku
dan Angie, ada seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 30 tahun,
bersama keponakannya. Mereka berdua ada di depanku. Angie yang merasa
agak takut, memeluk lengan kananku dengan erat, dan aku memegangi kaos
yang dipakai oleh anak kecil yang memeluk omnya dari belakang. LOL.
Begitu “selamat” keluar dari “serangan para bajak laut” di dalam “kapal
karam” itu, Angie pun berteriak lega. LOL. (felt like ikut pengalaman
dalam Pirates of the Caribbean, kata Angie. LOL.)
Dari sana, Angie
yang moodnya sudah bagus, mau ikut aku masuk ke “Planet Kaca” yang di
dalamnya tak jauh beda dengan “rumah kaca”, or whatever it is called di
Dufan.
Keluar dari “Planet Kaca”, aku melihat, wahana “Tagada”
yang mirip seperti “kora-kora” di Dufan. Aku menolak diajak Angie naik,
karena ogah pusing, plus perut mual setelah itu. LOL. Ada “planet
insectarium” yang isinya (mungkin) berbagai macam insects, yang kurang
menarik bagi Angie sehingga kita berdua pun tidak masuk ke dalamnya.
Perjalanan
selanjutnya kita masuk ke “Taman Berburu” yang antrinya jauh lebih lama
dibanding waktu ‘berburu’nya sendiri. LOL. Aku dan Angie menaiki
semacam mobil kecil terbuka, yang dilengkapi oleh “senapan” untuk
menembak binatang buas yang “berkeliaran” di dalam taman tersebut.
Keluar
dari “Taman Berburu”, aku dan Angie memasuki “playground remaja” yang
di dalamnya ada banyak pasangan remaja yang duduk berdua-dua.
Playground ini terletak tepat di pinggir laut. Lihat foto yang kujepret
di daerah itu di bawah ini.


Aku
dan Angie naik “jet coaster” yang terletak di tebing yang lumayan
curam. Jet coasternya sendiri tidak begitu “mendebarkan hati”
dibandingkan yang ada di Dufan, yang dulu “memaksaku” untuk berteriak
ketakutan kalau sampai jatuh. LOL. Sorry, lupa njepret jet coaster plus
tebingnya yang curam. LOL.
Berikutnya aku dan Angie naik “space
shuttle” yang membuatku seperti sedang naik ayunan. Waktu kecil aku
suka sekali naik ayunan seperti rasanya aku kepengen punya ayunan
pribadi di halaman rumah. LOL. (Belum terkabulkan sampai sekarang.
LOL.) Dari ‘space shuttle”, aku ajak Angie makan bakso, karena waktu
melihat rumah makan tak jauh dari situ, rasanya aku nyidam makan bakso.
LOL. FYI, I am NOT a bakso freak. Waktu makan sambil ngobrol inilah,
aku baru kepikiran, “Sayang, tolong space shuttlenya ntar difoto yah?”
begitu aku bilang ke Angie. Ini dia foto “space shuttle”nya.

Setelah
itu, aku memaksa Angie ikut ngantri di areal “bumper car” alias bom bom
car. “Di Semarang juga banyak Ma kalo cuma kayak gini,” Angie
bersungut-sungut.
“Masalahnya adalah, kita yang ga pernah nyempatin
diri ke mall untuk mainan bom bom car. Nah, sekalian aja sekarang,
mumpung sudah ada di depan mata,” kataku merayu Angie. LOL. Bedanya
adalah, kalau bom bom car di Semarang, mobil mainannya lumayan besar
sehingga bisa dinaiki dua orang. Di WBL, satu mobil hanya cukup untuk
satu orang.
Areal terakhir yang kumasuki bersama Angie adalah
“permainan air” berupa taman biasa aja. Aku semula sempat
terheran-heran mengapa taman yang biasa saja itu disebut “permainan
air”, mana sebelum masuk ada peringatan, “Bagi mereka yang menderita
sakit jantung dilarang masuk. Tempat ini merupakan tempat yang memiliki
teknologi sensor tinggi.” What the hell? Ternyata tatkala enak-enak
berjalan, tiba-tiba dari satu tempat yang tidak jelas, meluncurlah
“serangan air” yang tidak mungkin bisa dihindari. Demikianlah
kejadiannya sepanjang berjalan di taman itu. Walhasil keluar dari areal
“permainan air” aku dan Angie sama-sama basah kuyup. Keluar dari taman
itu, kita disambut dengan tulisan seperti di bawah ini:



Berikutnya
aku dan Angie naik kano. Wah … ternyata asik naik kano. Jika ada kano
di pantai Marina Semarang, tentu aku bakal rajin main ke Marina.
Sayangnya ga ada … Aku dan Angie tidak naik banana boat (speed boat).

Berikutnya kita cuma ngobrol sambil berfoto-foto di pinggir pantai.
Hampir sepanjang perjalanan di dalam WBL, aku dan Angie tidak
berpapasan dengan anggota rombongan lain sehingga laksana kita hanya
piknik berdua.
Berikut foto-foto yang sempat dijepret menggunakan
hape Angie SonEr K510i yang kayaknya hasilnya sudah tidak sebagus
beberapa bulan lalu.










Aku
dan rombongan meninggalkan areal WBL sekitar pukul 18.30 waktu di dalam
bus Sindoro. LOL. Mampir sebentar untuk makan malam di Tuban. Kita
sampai di kantor Semarang, sekitar pukul 00.30.
PT56 07.42 021207




3 Responses to “Wisata Bahari Lamongan”

  1.   vixon 01 May 2009 at 2:07 am

    Wah…kliatannya emang asyik bener ya ke WBL…
    Bentar lg q juga mo liburan ke sana………Ikutz…….!

  2.   ilhamon 26 Jun 2009 at 5:21 am

    wbl top bngtzzzzzzzzzzzzzzz

  3.   ilhamon 26 Jun 2009 at 5:26 am

    wbl kayakx ada yg kurang dech……..?!
    apa ya…..?”
    o iya….. saya rasa wbl tuch…. kurang permainan tornadox dech…..
    kayak di DUFAN getoooo!

Comments RSS

Leave a Reply