Dec 23 2007
Minggu 23 Desember 2007
Minggu 23 Desember 2007, seingatku, merupakan hari Minggu pertama dimana hujan turun di pagi hari di Semarang, semenjak aku kembali aktif di fitness center Paradise Club di bulan Februari 2006. Atau kalaupun aku salah ingat, 23 Desember 2007 merupakan hari Minggu pertama aku tetap berangkat berenang ke kolam renang Paradise Club meskipun hujan mengguyur kota kelahiranku semenjak aku membuka mata di pagi hari.
Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu waktu aku dan Angie siap berangkat berenang di satu sore hari. Hujan pun turun waktu itu sehingga aku harus mengenakan jas hujan. Seorang teman adikku yang duduk di teras bertanya, “Mau kemana mbak hujan-hujan gini?”
“Berenang,” jawabku.
“Lah, hujan-hujan kok berenang?” tanyanya lagi, heran.
“Well, apa bedanya? Tanpa hujan, berenang tetap akan membuat tubuhku basah.” Jawabku, lebih heran lagi. LOL.
Satu hal yang sangat kusukai tatkala berenang di pagi hari dengan hujan turun: matahari tak berkuasa menyebarkan sinarnya à satu hal yang tidak disukai oleh para korban ideologi “putih itu cantik”. (Honestly, I, the swimming freak, who claimed myself a feminist, am one of its biggest victim!!! What an annoying paradox. LOL.) Dengan matahari yang tak mampu memamerkan kegarangan sinarnya, aku tak perlu buru-buru meninggalkan kolam renang. I CAN SWIM TO MY HEART’S CONTENT. Sampe bosen. LOL.
Satu hal lain lagi yang kusukai saat berenang dengan hujan turun: tak banyak orang yang membiarkan diri mereka kedinginan dengan menceburkan diri ke dalam kolam renang. As a result? Aku tak perlu menabrak-nabrak orang lain, yang kadang-kadang menceburkan diri ke dalam kolam renang bukan untuk berenang, melainkan hanya pindah tempat ngobrol, atau ngelaba nontonin orang-orang yang (biasanya) berbusana minim di kolam renang, atau mungkin pamer tubuh. Atau berbagai alasan lain yang tak pernah terlintas di dalam benakku.
“Serasa kolam renang pribadi,” begitu komentar kakakku yang mengantarku berenang di kolam renang Linggarjati, bulan Januari 2007 lalu, karena aku satu-satunya pengunjung yang berenang waktu itu.
*****
Tatkala aku berhenti sejenak, membersihkan kacamata berenangku yang berembun, wajahku serta merta diterpa tetes-tetes air hujan yang dibawa angin dingin. Mendung yang lumayan tebal menggantung di langit, membuat suasana temaram.
“This is absolutely my favorite moment,” bisikku pada diri sendiri.
Aku tak pernah tahu mengapa aku selalu menyukai saat-saat seperti itu: suasana temaram, angin dingin bertiup cukup kencang menerpa wajahku, bersamaan dengan tetes-tetes air hujan yang membuat kulit pipiku mendingin.
Saat rasa ngelangut yang menggigit menusuk relung hati terdalam, namun pada saat yang bersamaan menimbulkan rasa nikmat yang jarang kukecap; rasa nikmat yang setara dengan bercinta dengan kekasih jiwa yang tak kuketahui bentuk dan rupanya,
Saat-saat yang HARUS kulalui seorang diri, not even with my Lovely Star.
Special moments that PROBABLY I wanna spend with a (most) special one with whom I am romantically, sensually, and sexually in love …
Someone that has never come to my life (yet) …
*****
Setiap kali “rasa aneh” (ngelangut namun nikmat yang datang bersamaan dengan suasana temaram, angin kencang yang membawa tetes-tetes air hujan menerpa wajahku) itu menyergapku, aku selalu berusaha mencari AKAR darimana semua itu berasal, suatu waktu di masa yang sangat lalu yang tak pernah (atau belum) kutemukan jawabannya.
Aku pernah mencurigai mungkin satu masa tatkala aku duduk di bangku SMP, when I was crazily (and childishly, or whatever you call it) in love with the leading star of one television serial. Aku suka menyembunyikan diri dengan naik ke genting atap rumah di sore hari, menjelang maghrib, berangan bertemu dengannya (and I would practice my English!), sembari menulis puisi cinta untuknya. Komunikasi yang buruk dengan bokap nyokap membuatku serasa memiliki backstreet love affair. J
Namun mungkin saja rasa itu telah hadir jauh sebelum my first backstreet love affair: berakar dari masa kehidupanku yang lalu yang tak bisa kuingat lagi di kehidupanku masa kini.
*****
“Rasa aneh” itu yang membuatku ‘berendam’ di kolam renang sampai lebih dari 2 jam, tanpa mengenal rasa lelah (berapa kilometer kulalui dengan berenang???)
Rasa aneh itu pula yang membuatku duduk di salah satu bangku yang terletak di sebelah Timur kolam renang setelah mandi, lebih dari 2 jam, dengan ditemani segelas nescafe yang semakin mendingin, MP yang memutar lagu-lagu delapanpuluhan, diary, sebuah buku, dan hape. Membiarkanku menggigil diterpa angin dingin. And I did wish that time would stop so that I didn’t need to go home.
PT56 12.50 231207