Dec 08 2007

Kaligawe Banjir

Published by afemaleguest at 4:21 am under daily

Hari Senin 3 Desember 2007 seusai mengajar pukul 19.00, tiba-tiba hujan
turun dengan deras tatkala aku menuruni tangga, meninggalkan kelas
untuk menuju ruang guru. Semenjak aku “commute” Semarang-Demak-Semarang
mulai tanggal 20 November 2007, aku selalu merasa “excited” yang lebih
cenderung ke “anxious” kalau hujan tiba. What is Kaligawe like? Kawasan
Kaligawe, Semarang ke arah Utara, menuju ke Terminal Terboyo, memang
terkenal (atawa ‘tercemar’) dua hal: macet dan banjir. Apalagi hujan
Senin malam itu deras, bahkan sampai aku meninggalkan kantor pukul
21.00 (tertahan di kantor gara-gara hujan itu), hujan masih turun
dengan cukup deras. Aku memang membawa mantel, namun aku eman-eman aja
sepatuku bakal basah kuyup.
“Emang kamu cuma punya sepatu satu pasang Na?”
Well,
aku punya satu pasang sepatu boots lain yang berukuran 36, ukuran
“asli” kakiku yang mengikuti standard kecantikan kaki perempuan China
di zaman dahulu LOL. Aku juga masih punya dua pasang sepatu high-heeled
lain, yang dengan alasan tidak jelas, aku malas memakainya. LOL.
(Khawatir kalau “trade mark” si pemakai busana serba hitam plus sepatu
boots hitam diserobot orang di kantor tempat aku bekerja LOL.)
Satu-satunya sepatu yang paling suka kupakai ya sepatu boots-ku yang
berukuran “tidak asli” yakni ukuran 37, yang sudah lecet di sana sini,
terutama gara-gara aku jatuh dari motor, kaki kananku terseret beberapa
meter, sekitar dua tahun yang lalu, plus sering kupakai untuk
menstarter motor kalau “automatic starter” nya ngadat. Ukuran yang satu
nomor lebih besar dari “ukuran asli” kakiku yang mungil ini membuatku
leluasa memakai “kaos kaki bola” (LOL) yang rada tebal itu untuk
melindungi kakiku. Kalau memakai sepatu boots yang berukuran 36, ga
bisa lah aku memakai kaos kaki bola, karena bakal sempit.
Tatkala
aku akhirnya meninggalkan kantor, hujan yang sudah agak mereda ternyata
membuat sepatuku aman, alias tidak basah kuyup kemasukan air hujan.
****
Selasa
4 Desember aku sudah siap duduk di teras sekitar pukul 05.15, menunggu
Pak Har menjemput. Kira-kira nanti kita lewat jalan mana ya untuk
menghindari banjir di Kaligawe? FYI, mobil yang biasa dinaiki Pak Har
itu saingan mungilnya dengan diriku (plus ukuran kakiku LOL). Kasihan
kalau dipaksa melewati banjir di Kaligawe. (Dijamin, Abangku ga bakal
muat naik mobil itu LOL, kepalanya bakal kejedot langit-langit mobil,
plus kakinya harus menekuk dalam-dalam, yang tentu membuatnya ga bakal
bisa melakukan salah satu hobbynya: menjadi pereli antar negara. LOL.)
Pak
Har datang sekitar pukul 05.35. Seolah membaca pertanyaan “Mau lewat
mana Pak?” yang tertulis di jidatku LOL, beliau bilang, “Kaligawe tentu
banjir parah mbak. Nanti kita lewat jalan arteri saja.”
Aku yang
cuma jadi penumpang tentu pasrah sajalah. LOL. And you can guess.
Selama perjalanan menuju Sayung (daerah setelah Kaligawe), melewati
arteri, Nana yang homebody type ini pun tiba-tiba menjadi turis lokal.
LOL. Aku terbengong-benong memandang daerah di kotaku yang sangat asing
di mataku. Dan ternyata Pak Har diam-diam memandangiku yang nampak
begitu antusias melihat ke arah kanan kiri, bertanya kepadanya, “Itu
gedung apa Pak ya?” tatkala aku melihat sebuah gedung yang lumayan
mencolok bagiku.
Setelah melewati daerah pertigaan
Terboyo—Tlogosari—Demak, seperti biasa aku memandangi sungai yang ada
di pinggir sebelah kiri, yang airnya hanya sedikit, dan keruh, namun
tetap saja dipakai orang-orang di daerah sekitar untuk mencuci, dll.
Tiba-tiba Pak Har nyeletuk, “Masih suka memandangi sungai itu toh
mbak?” LOL. LOL.
Seperti orang yang ketahuan nyolong mangga, LOL,
aku menjawab, “Saya pengen lihat apakah sungai ini bakal penuh berisi
air setelah hujan turun.”
FYI, meskipun Demak terletak tidak jauh
dari Semarang, Demak ternyata terkenal sebagai daerah yang sulit air.
Itu sebab di Demak tidak pernah ada berita kebanjiran.
****
Perjalanan
pulang dari Demak, terutama tatkala melewati Kaligawe, dengan antusias
aku menjepret pemandangan banjir di depan mataku, untuk menghindari
kejenuhan macet. Seseorang yang duduk di sampingku memandangku dengan
heran, perhaps he thought, “What the hell is this lady doing? Who the
hell is she? Banjir begitu saja kok difoto.” LOL.
Ini dia foto-foto
hasil jepretanku, menggunakan digital camera yang ada dalam hape
Samsung SGH X640, diambil dari dalam bus. Kalau hasilnya seadanya, ya
mohon dimaklumi. :) Aku salut pada mereka yang naik motor, dan nekad
melewati kawasan Kaligawe yang sedang banjir, meskipun aku heran juga,
ada jalan alternatif—jalan arteri—mengapa mereka tetap memilih jalan
itu? Efisiensi waktu? Probably.





Yang di bawah ini banjir di daerah lain.

Semarang
memang penuh air. :( Akankah ada walikota terpilih yang bakal bisa
membebaskan Semarang dari “masalah klasik” ini? (Inget lagunya Waljinah
“Semarang kaline banjir” …)
PT56 11.33 041207




2 Responses to “Kaligawe Banjir”

  1.   ReaNon 24 Feb 2008 at 10:00 pm

    tau’ah gelap

  2.   Nanaon 21 Mar 2008 at 8:55 pm

    Enak kali di kegelapan? wekekekeeke …

Comments RSS

Leave a Reply