Dec 29 2007
Adikku Sakit …
“Ternyata capek banget yah kalo ada salah satu anggota keluarga kita harus opname di rumah sakit?”
Demikianlah pertanyaan retorika yang kuucapkan kepada seorang rekan kerja hari Kamis, 27 Desember 2007.
Sejak malam Natal, adikku yang paling kecil (Angie memanggilnya TeLi) harus dirawat rumah sakit karena typhus. Suhu tubuhnya mulai naik pada Hari Raya Idul Adha, 20 Desember 2007, namun dia masih ikut berangkat melaksanakan Shalat Idul Adha di sebuah tempat di kawasan Jalan Pamularsih. Semenjak kasus “salah obat” yang dia derita kurang lebih empat tahun yang lalu, dia sering menolak diajak periksa ke dokter kalau sedang sakit. Adikku yang satu lagi (Angie memanggilnya TeLa), yang beberapa tahun lalu pernah aktif di PRANA, dulu biasa ‘mengobati’ adikku yang terkecil, menggunakan olahan tenaga dalam yang dia pelajari di PRANA. Namun sejak dia mulai ikut FALUN, sejenis olah raga mengolah tenaga dalam untuk kesehatan diri sendiri (berkebalikan dengan PRANA yang biasanya digunakan untuk ‘mengobati’ orang lain), dia gagal setiap kali mencoba untuk ‘mengobati’ orang lain, tak terkecuali adik terkecilku, TeLi, karena tenaga dalam yang dia coba kerahkan untuk orang lain, justru kembali lagi di dalam dirinya sendiri. Walhasil, TeLi yang sempat tergantung ke TeLa untuk menyalurkan tenaga dalam ke dalam tubuhnya, jika dia sedang tidak enak badan.
Berhubung TeLi-nya Angie ini trauma jika dibawa ke dokter, meskipun suhu tubuhnya naik, dia tidak mau diajak periksa ke dokter. Seorang temannya yang dokter, memberinya resep obat, sembari berpesan, “Jika sampai 3 hari panasnya tidak turun, kamu harus periksa darah, barangkali kena demam berdarah atau typhus.”
Senin pagi akhirnya my dear Mom berhasil membujuk TeLi ke dokter, sekaligus periksa darah. Hasilnya: gejala typhus. Dokter pun memberi obat yang—kata Angie—sama dengan yang Angie minum tatkala dia terkena gejala typhus di awal tahun 2006. Obat yang sama, diberikan oleh dokter yang sama, kepada pasien yang berbeda dengan diagnosa penyakit yang sama ternyata menghasilkan dampak yang berbeda: Angie sembuh, TeLi, harus opname di rumah sakit. Tubuhnya “menolak” obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. (NOTE: Angie langsung kubawa ke dokter pada hari pertama dia mengeluh tubuhnya panas, adikku tiga hari setelah hari pertama dia mengeluh tubuhnya panas.)
Aku ingat kata seorang dokter yang suami sobatku bahwa kemampuan dokter-dokter di Indonesia dalam keadaan genting lebih mumpuni dibandingkan dokter-dokter di luar negeri yang bisa jadi kurang cakap karena mereka biasa ‘dimanjakan’ oleh alat-alat maupun fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dibandingkan di dalam negeri. Mereka tentu tidak akan ‘hebat’ lagi tatkala mereka diharuskan bekerja dengan fasilitas minim seperti di Indonesia. Namun dia juga berpesan untuk berhati-hati memilih dokter. Kasus ‘malpraktek’ yang beberapa tahun terakhir ini marak, dia tengarai, menunjukkan hasil ‘privatisasi’—atau komersialisasi or whatever you call it—dari Fakultas Kedokteran yang ada di Indonesia. Dengan adanya otonomi kampus, beberapa universitas yang memiliki Fakultas Kedokteran ‘menjual’ beberapa kursi dengan harga tinggi, tanpa melihat kualitas calon mahasiswa. Para mahasiswa yang masuk menggunakan ‘jalur uang’ pun biasanya melakukan hal yang sama tatkala mereka menghadapi ujian semester, begitu terus menerus sampai akhirnya mereka mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran, sampai gelar dokter. Kalau begini, mereka pun akan menjadi dokter yang asal-asalan. Lebih buruk lagi, mungkin yang penting di benak mereka adalah bagaimana caranya agar modal mereka cepat kembali, sama persis dengan para politikus yang mendapatkan jabatan yang mereka inginkan setelah menghabiskan uang banyak dalam kampanye, sehingga setelah mereka dilantik, mereka langsung berpikir bagaimana cara mendapatkan modal mereka kembali.
Artikel ini kutulis lima hari setelah adikku opname di rumah sakit. Sekarang dia nampak tidur nyenyak sesudah makan siang dan minum. Kondisinya hari ini memburuk padahal kemarin dia sudah nampak ceria. Waktu dokter datang dan bertanya, “Mau bermalam tahun baruan di sini huh?” aku menjawab, “Ngga mau dok. Di rumah aja malam tahun baruannya.” “Ya, kalau begitu kita lihat lagi saja besok,” responsnya. Seperti biasa, dokter datang diikuti oleh para calon dokter yang nampak seperti lalat mengerubungi makanan yang lezat—si dokter itu maksudku. L
Kembali ke betapa capeknya kita tatkala salah satu anggota keluarga kita harus dirawat di rumah sakit, aku dan adikku gantian jagain adik bungsu kita. Si bungsu masuk rumah sakit sekitar pukul 21.30, si kakak bungsu langsung ikutan ‘mondok’ malam itu. Paginya, sekitar pukul 07.00, aku langsung cabut ke rumah sakit, gantian jaga. Adikku datang lagi sore hari, sekitar pukul 17.00, setelah Maghrib aku pulang. Begitu terus setiap hari. Tidak hanya capek fisik, namun juga capek psikologis.
Tolong doain adik bungsuku cepet sembuh ya?
BWT 14.09 291207
Semoga adiknya cepet sembuh Mba Nana & selalu sehat seperti sedia kala.. & bisa menyambut tahun baru dimalam tahun baru.. bersama keluarga semua dalam keadaan Sehat.. Selamat Tahun Baru.. semoga kita mendapat kebaikan di tahun 2008 lebih dari tahun2 sebelumnya.. Amin..
Jey, thanks a million for the concern.
Wish you all the best for this year.