Archive for December, 2007

Dec 29 2007

Adikku Sakit …

Published by afemaleguest under Health

“Ternyata capek banget yah kalo ada salah satu anggota keluarga kita harus opname di rumah sakit?”
Demikianlah pertanyaan retorika yang kuucapkan kepada seorang rekan kerja hari Kamis, 27 Desember 2007.
Sejak malam Natal, adikku yang paling kecil (Angie memanggilnya TeLi) harus dirawat rumah sakit karena typhus. Suhu tubuhnya mulai naik pada Hari Raya Idul Adha, 20 Desember 2007, namun dia masih ikut berangkat melaksanakan Shalat Idul Adha di sebuah tempat di kawasan Jalan Pamularsih. Semenjak kasus “salah obat” yang dia derita kurang lebih empat tahun yang lalu, dia sering menolak diajak periksa ke dokter kalau sedang sakit. Adikku yang satu lagi (Angie memanggilnya TeLa), yang beberapa tahun lalu pernah aktif di PRANA, dulu biasa ‘mengobati’ adikku yang terkecil, menggunakan olahan tenaga dalam yang dia pelajari di PRANA. Namun sejak dia mulai ikut FALUN, sejenis olah raga mengolah tenaga dalam untuk kesehatan diri sendiri (berkebalikan dengan PRANA yang biasanya digunakan untuk ‘mengobati’ orang lain), dia gagal setiap kali mencoba untuk ‘mengobati’ orang lain, tak terkecuali adik terkecilku, TeLi, karena tenaga dalam yang dia coba kerahkan untuk orang lain, justru kembali lagi di dalam dirinya sendiri. Walhasil, TeLi yang sempat tergantung ke TeLa untuk menyalurkan tenaga dalam ke dalam tubuhnya, jika dia sedang tidak enak badan.
Berhubung TeLi-nya Angie ini trauma jika dibawa ke dokter, meskipun suhu tubuhnya naik, dia tidak mau diajak periksa ke dokter. Seorang temannya yang dokter, memberinya resep obat, sembari berpesan, “Jika sampai 3 hari panasnya tidak turun, kamu harus periksa darah, barangkali kena demam berdarah atau typhus.”
Senin pagi akhirnya my dear Mom berhasil membujuk TeLi ke dokter, sekaligus periksa darah. Hasilnya: gejala typhus. Dokter pun memberi obat yang—kata Angie—sama dengan yang Angie minum tatkala dia terkena gejala typhus di awal tahun 2006. Obat yang sama, diberikan oleh dokter yang sama, kepada pasien yang berbeda dengan diagnosa penyakit yang sama ternyata menghasilkan dampak yang berbeda: Angie sembuh, TeLi, harus opname di rumah sakit. Tubuhnya “menolak” obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. (NOTE: Angie langsung kubawa ke dokter pada hari pertama dia mengeluh tubuhnya panas, adikku tiga hari setelah hari pertama dia mengeluh tubuhnya panas.)
Aku ingat kata seorang dokter yang suami sobatku bahwa kemampuan dokter-dokter di Indonesia dalam keadaan genting lebih mumpuni dibandingkan dokter-dokter di luar negeri yang bisa jadi kurang cakap karena mereka biasa ‘dimanjakan’ oleh alat-alat maupun fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dibandingkan di dalam negeri. Mereka tentu tidak akan ‘hebat’ lagi tatkala mereka diharuskan bekerja dengan fasilitas minim seperti di Indonesia. Namun dia juga berpesan untuk berhati-hati memilih dokter. Kasus ‘malpraktek’ yang beberapa tahun terakhir ini marak, dia tengarai, menunjukkan hasil ‘privatisasi’—atau komersialisasi or whatever you call it—dari Fakultas Kedokteran yang ada di Indonesia. Dengan adanya otonomi kampus, beberapa universitas yang memiliki Fakultas Kedokteran ‘menjual’ beberapa kursi dengan harga tinggi, tanpa melihat kualitas calon mahasiswa. Para mahasiswa yang masuk menggunakan ‘jalur uang’ pun biasanya melakukan hal yang sama tatkala mereka menghadapi ujian semester, begitu terus menerus sampai akhirnya mereka mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran, sampai gelar dokter. Kalau begini, mereka pun akan menjadi dokter yang asal-asalan. Lebih buruk lagi, mungkin yang penting di benak mereka adalah bagaimana caranya agar modal mereka cepat kembali, sama persis dengan para politikus yang mendapatkan jabatan yang mereka inginkan setelah menghabiskan uang banyak dalam kampanye, sehingga setelah mereka dilantik, mereka langsung berpikir bagaimana cara mendapatkan modal mereka kembali.
Artikel ini kutulis lima hari setelah adikku opname di rumah sakit. Sekarang dia nampak tidur nyenyak sesudah makan siang dan minum. Kondisinya hari ini memburuk padahal kemarin dia sudah nampak ceria. Waktu dokter datang dan bertanya, “Mau bermalam tahun baruan di sini huh?” aku menjawab, “Ngga mau dok. Di rumah aja malam tahun baruannya.” “Ya, kalau begitu kita lihat lagi saja besok,” responsnya. Seperti biasa, dokter datang diikuti oleh para calon dokter yang nampak seperti lalat mengerubungi makanan yang lezat—si dokter itu maksudku. L
Kembali ke betapa capeknya kita tatkala salah satu anggota keluarga kita harus dirawat di rumah sakit, aku dan adikku gantian jagain adik bungsu kita. Si bungsu masuk rumah sakit sekitar pukul 21.30, si kakak bungsu langsung ikutan ‘mondok’ malam itu. Paginya, sekitar pukul 07.00, aku langsung cabut ke rumah sakit, gantian jaga. Adikku datang lagi sore hari, sekitar pukul 17.00, setelah Maghrib aku pulang. Begitu terus setiap hari. Tidak hanya capek fisik, namun juga capek psikologis.
Tolong doain adik bungsuku cepet sembuh ya?
BWT 14.09 291207

2 responses so far

Dec 23 2007

Contagious …

Published by afemaleguest under daily

Aku baru tahu betapa bangga Abangku menjadi makhluk "menular". LOL.
Ceritanya begini. Kemarin, 22 Desember 2007, aku kirim tulisanku yang bertajuk "Ayu Utami" ke beberapa milis yang kuikuti, salah satunya milis media-jateng. Hari ini, aku mendapatkan ‘komentar’ atas postinganku tersebut. (FYI, akhir-akhir ini aku mendapatkan komentar atas postinganku di milis media-jateng dari Tyas, a classmate di American Studies UGM dulu yang anggota "gang of seven", sebutan dari Professor Hugh Egan, yang dulu memperhatikan tujuh mahasiswa–selain aku, ketujuh mahasiswa lain yaitu JULI, TYAS, PUTU, WIWIN, TETTY, dan DIDI– yang sering duduk bersisian, sering terlibat diskusi serius untuk mengerjakan tugas-tugas darinya.) Setelah kubuka, ah, ternyata bukan komentar, melainkan kritik atas penulisanku yang campur baur antara menggunakan English dan Bahasa. (Hey … Don’t get me wrong! I love the criticism anyway!) Dia menuduhku sok pintar menggunakan campuran English, karena toh dari segi "laporan" yang cukup komprehensif orang sudah bisa tahu bahwa si penulis reportase tersebut cerdas (baca ==> AKU, LOL. LOL.) Jadi, ga perlulah aku menegaskan kecerdasanku dengan sok menulis pake English segala.
Aku balas komentar itu dengan mengatakan bahwa tulisan itu memang bukan untuk konsumsi koran, melainkan hanya untuk kupost di blog, yang memang menurutku bersifat personal. Kalau aku menulis untuk konsumsi koran jelas bedalah cara menulisku. Sembari juga kusertakan EXCUSE bahwa aku berangkat dari menulis in English, baru kemudian mulai menulis dalam Bahaa Indonesia.
Tatkala aku menceritakan hal ini kepada Abang, sambil MENGINGATKANNYA bahwa dialah SCAPEGOAT mengapa aku menulis menggunakan bahasa campur aduk. Ternyata, dia BANGGA banget jadi SCAPEGOAT. Bukan hanya padaku, tapi pengaruh buruk itu juga dia tularkan kepada teman-temannya yang lain. Weleh …

"Kamu bilang deh Na ke dia kalau kamu tuh bukannya sok pinter, tapi karena ketularan Abangmu yang tinggal di LN." katanya. Nampaknya dia seneng banget kalau dia kucomot jadi PENYEBAB kebiasaan burukku. Wakakakakaka …

"Ah, dia tentu tidak membaca tulisanku di blog yang JELAS-JELAS NYALAHIN ABANG kenapa aku pake bahasa campur-campur," jawabku. LOL.

"Iya, kamu kasih aja link di blogmu ke dia, kalo dia ga percaya bahwa kebiasaanmu nulis campur aduk itu karena AKU."

Tuh, seneng banget toh dia kulibatkan? LOL.

Nampaknya semua orang setuju bahwa kebiasaan buruk itu MUDAH BANGET menular yah? Wakakakakaka … (Contoh: KESETARAAN GENDER merupakan sesuatu yang sulit diterima karena merupakan ideologi yang BAIK. Maksa ga nih? hahahahaha …)

C-NET 17.18 231207

No responses yet

Dec 23 2007

Mother’s Day

Published by afemaleguest under Angie

Dsc00276_dj

Saturday is my busiest day due to the tight teaching schedule I have this term: from 8am to 12pm, and from 14 to 16pm. I seldom go home during lunch break. I usually just go to one food stall close to my workplace to have my lunch.
December 22, 2007 I did my ‘routine’. A workmate greeted me, “Happy mother’s day, Ma’am.” I smiled widely. I asked her, “When is the children’s day?” She grinned hearing that question of mine.
I never consider mother’s day a special day in my life. It doesn’t mean that I don’t love my mother. Perhaps I am wrong to think that my mother just does her obligation toward her children so that I never think that I need to do a special thing to show my love to her on the day chosen by Indonesian government as “mother’s day”. There are 364 other days in one year I can “use” to do things I want to do to show my mother that I love her.
I myself never consider my role as a mother for Angie very important so that she needs to, let’s say, give me a special gift on this “special” day. Anything I have done (and will do) for and toward Angie comes from my own willingness because I am happy to do that so that she does not need to pay it back.
After teaching at 4pm, I dropped by for a while at one cyber café, checking my mailboxes, posting some writings in my blogs, including reading some writings on “mothers’ day” at some mailing lists, including at some friends’ blogs. I came to a conclusion that those writings still put women—especially who have become mothers, either because they have delivered some babies from their womb, or because they automatically become a mother after marrying men who have kids—at a pedestal position, I opine this situation often then traps women to be softly oppressed (such as: don’t do this or that because you are a mother; don’t make yourself very busy outside home because you have a very highly adorable role as a mother: to take care of children, and not as a breadwinner, don’t make yourself boss by having a higher paycheck than your husband because men don’t want to be under you, so please focus only on your DESTINY, a mother, etc).
At 5pm I left the café because it was going to close.
Arriving home, entering my shared bedroom with my Lovely Star, I found it a bit cleaner and tidier than the morning when I left it (NOTE: ONLY A BIT CLEANER AND TIDIER LOL). Aha … what did Angie do when I was busy at the office? FYI, she had some days off from school, from December 20, Idul Adha holiday, until December 25, Christmas. When I went to the dining room, I didn’t find the pile of clothes waiting to be ironed. Instead, some were hanging neatly in the clothes hanger, some others were folded neatly in one pile. Hohoho … my spoilt Lovely Star has eased my household chores, eh? LOL. I believe she wouldn’t agree if the whole days in one year is Mother’s Day. LOL. LOL. (Ssssstttt… this is the first time she did it. LOL. LOL.)
PT56 13.25 231207

No responses yet

Dec 23 2007

Minggu 23 Desember 2007

Published by afemaleguest under daily

Minggu 23 Desember 2007, seingatku, merupakan hari Minggu pertama dimana hujan turun di pagi hari di Semarang, semenjak aku kembali aktif di fitness center Paradise Club di bulan Februari 2006. Atau kalaupun aku salah ingat, 23 Desember 2007 merupakan hari Minggu pertama aku tetap berangkat berenang ke kolam renang Paradise Club meskipun hujan mengguyur kota kelahiranku semenjak aku membuka mata di pagi hari.
Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu waktu aku dan Angie siap berangkat berenang di satu sore hari. Hujan pun turun waktu itu sehingga aku harus mengenakan jas hujan. Seorang teman adikku yang duduk di teras bertanya, “Mau kemana mbak hujan-hujan gini?”
“Berenang,” jawabku.
“Lah, hujan-hujan kok berenang?” tanyanya lagi, heran.
“Well, apa bedanya? Tanpa hujan, berenang tetap akan membuat tubuhku basah.” Jawabku, lebih heran lagi. LOL.
Satu hal yang sangat kusukai tatkala berenang di pagi hari dengan hujan turun: matahari tak berkuasa menyebarkan sinarnya à satu hal yang tidak disukai oleh para korban ideologi “putih itu cantik”. (Honestly, I, the swimming freak, who claimed myself a feminist, am one of its biggest victim!!! What an annoying paradox. LOL.) Dengan matahari yang tak mampu memamerkan kegarangan sinarnya, aku tak perlu buru-buru meninggalkan kolam renang. I CAN SWIM TO MY HEART’S CONTENT. Sampe bosen. LOL.
Satu hal lain lagi yang kusukai saat berenang dengan hujan turun: tak banyak orang yang membiarkan diri mereka kedinginan dengan menceburkan diri ke dalam kolam renang. As a result? Aku tak perlu menabrak-nabrak orang lain, yang kadang-kadang menceburkan diri ke dalam kolam renang bukan untuk berenang, melainkan hanya pindah tempat ngobrol, atau ngelaba nontonin orang-orang yang (biasanya) berbusana minim di kolam renang, atau mungkin pamer tubuh. Atau berbagai alasan lain yang tak pernah terlintas di dalam benakku.
“Serasa kolam renang pribadi,” begitu komentar kakakku yang mengantarku berenang di kolam renang Linggarjati, bulan Januari 2007 lalu, karena aku satu-satunya pengunjung yang berenang waktu itu.
                                                  *****
Tatkala aku berhenti sejenak, membersihkan kacamata berenangku yang berembun, wajahku serta merta diterpa tetes-tetes air hujan yang dibawa angin dingin. Mendung yang lumayan tebal menggantung di langit, membuat suasana temaram.
“This is absolutely my favorite moment,” bisikku pada diri sendiri.
Aku tak pernah tahu mengapa aku selalu menyukai saat-saat seperti itu: suasana temaram, angin dingin bertiup cukup kencang menerpa wajahku, bersamaan dengan tetes-tetes air hujan yang membuat kulit pipiku mendingin.
Saat rasa ngelangut yang menggigit menusuk relung hati terdalam, namun pada saat yang bersamaan menimbulkan rasa nikmat yang jarang kukecap; rasa nikmat yang setara dengan bercinta dengan kekasih jiwa yang tak kuketahui bentuk dan rupanya,
Saat-saat yang HARUS kulalui seorang diri, not even with my Lovely Star.
Special moments that PROBABLY I wanna spend with a (most) special one with whom I am romantically, sensually, and sexually in love …
Someone that has never come to my life (yet) …
                                                  *****
Setiap kali “rasa aneh” (ngelangut namun nikmat yang datang bersamaan dengan suasana temaram, angin kencang yang membawa tetes-tetes air hujan menerpa wajahku) itu menyergapku, aku selalu berusaha mencari AKAR darimana semua itu berasal, suatu waktu di masa yang sangat lalu yang tak pernah (atau belum) kutemukan jawabannya.
Aku pernah mencurigai mungkin satu masa tatkala aku duduk di bangku SMP, when I was crazily (and childishly, or whatever you call it) in love with the leading star of one television serial. Aku suka menyembunyikan diri dengan naik ke genting atap rumah di sore hari, menjelang maghrib, berangan bertemu dengannya (and I would practice my English!), sembari menulis puisi cinta untuknya. Komunikasi yang buruk dengan bokap nyokap membuatku serasa memiliki backstreet love affair. J
Namun mungkin saja rasa itu telah hadir jauh sebelum my first backstreet love affair: berakar dari masa kehidupanku yang lalu yang tak bisa kuingat lagi di kehidupanku masa kini.
                                                    *****
“Rasa aneh” itu yang membuatku ‘berendam’ di kolam renang sampai lebih dari 2 jam, tanpa mengenal rasa lelah (berapa kilometer kulalui dengan berenang???)
Rasa aneh itu pula yang membuatku duduk di salah satu bangku yang terletak di sebelah Timur kolam renang setelah mandi, lebih dari 2 jam, dengan ditemani segelas nescafe yang semakin mendingin, MP yang memutar lagu-lagu delapanpuluhan, diary, sebuah buku, dan hape. Membiarkanku menggigil diterpa angin dingin. And I did wish that time would stop so that I didn’t need to go home.
PT56 12.50 231207

No responses yet

Dec 22 2007

Ayu Utami

Published by afemaleguest under Sastra

Senin 17 Desember 2007 aku menghadiri acara ‘talk show’ dengan pembicara utama Ayu Utami dengan moderator Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka. ‘Talk show’ diselenggarakan di sebuah event yang diberi tajuk KAMPOENG WEDANGAN bertempat di kampus BLPT Jalan Brotojoyo Pondok Indraprasta Semarang.
Menurut info yang kubaca di Suara Merdeka, acara dimulai pukul 19.00, sedangkan aku baru sampai ke tempat sekitar pukul 19.30. Untuk memberi alasan mengapa aku datang terlambat (coz I always insist I belong to the punctual type ) aku selesai mengajar pukul 19.00. I needed some time untuk berjalan dari classroom ke teachers’ room, mengembalikan attendance list ke tempatnya, minum, dll. Setelah itu, aku harus mengantar Angie pulang ke rumah dulu, karena dia harus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi final semester di sekolah, sehingga dia ga bisa ngikut aku nongkrongin Ayu Utami.  Sesampai di rumah, aku sempatin mengganti “baju kebesaranku” mengajar (rok panjang hitam, blus, plus blazer hitam), dengan celana jeans plus sweater (hawa di Semarang sedang cukup dingin karena hujan yang sedang “rajin” turun membasahi bumi yang memiliki landmark Tugumuda ini).
Meskipun datang terlambat, dengan pedenya aku langsung menempatkan diri duduk di salah satu kursi yang terletak di deretan paling depan. Aku tengarai karena hujan yang mengguyur sejak siang hari, sehingga tidak banyak masyarakat Semarang yang mengunjungi KAMPOENG WEDANGAN; tidak banyak juga orang yang menempati kursi yang disediakan oleh panitia untuk “menikmati” Ayu Utami. LOL. Begitu duduk, Triyanto bertanya kepada hadirin, “Ada pertanyaan?” Waduh … jelas I had no question karena aku belum tahu sampai mana perbincangan antara Ayu dan Triyanto, dan aku juga lumayan kaget karena aku yakin acara belum lama dimulai (mengingat ‘budaya’ buruk jam karet yang nampaknya telah mendarah daging di orang-orang Jawa; sorry, bukan bermaksud menghakimi nih: AKU YAKIN TIDAK SEMUA ORANG JAWA MEMPRAKTEKKAN BUDAYA—if we can call it BUDAYA—JAM KARET.) kok tahu-tahu Triyanto sudah ‘menyeruduk’ hadirin dengan “Ada pertanyaan?”
Berhubung tidak, atau belum ada satu pun pengunjung yang mengacungkan tangan sebagai tanda ingin mengajukan pertanyaan, Triyanto turun dari panggung, menghampiri seorang pengunjung yang duduk di sebelah kananku, dan bertanya,
“Apa yang membuat anda menghadiri acara ini?”
Berhubung jawabannya terlalu berbelit-belit, atau memang aku yang sudah menjadi makhluk pelupa, LOL, aku pun lupa apa alasan yang dia kemukakan. Aku sudah mempersiapkan diri jika Triyanto menanyaiku pertanyaan yang sama: “I am one fan of Ayu Utami! That for sure made me come to this place.” But ternyata harapanku itu terlalu tinggi. Triyanto langsung balik ke panggung, tanpa melirikku sedetikpun. (kayaknya sih. LOL.)
Satu hal yang sangat menarik bagiku yang dikemukakan oleh Ayu adalah dia menegasikan teori Roland Barthes tentang “The author is dead” begitu seorang pengarang usai menulis buku, dan buku tersebut dipublikasikan dan disebar ke masyarakat. (You can read one post of mine, I entitled “The death of the author” or similar like that in my blog http://afeministblog.blogspot.com) di post ini, aku pun menuliskan ketidakpedeanku untuk menggunakan teori Barthes ini, karena aku lebih condong ke teori Genetic Structuralism milik Lucien Goldmann, yang melibatkan ketiga elemen penting dalam menelaah suatu karya sastra, world view, the author’s view, plus his/her background, as well as the work itself.)
Berbeda denganku yang tidak mengimani teori Barthes karena aku bukan seorang yang pede, Ayu menjelaskan bahwa dia baru saja kembali dari Prancis, dalam rangka menghadiri launching SAMAN dalam versi Francaise. Sebelum buku SAMAN berbahasa Prancis itu diluncurkan ke masyarakat Prancis, Ayu diminta untuk menjelaskan kepada publik, “What is Saman all about?” yang bermakna Ayu tidak dimatikan oleh masyarakat sastra disana, Ayu tetap dianggap hidup sehingga suaranya perlu didengar untuk menjelaskan apa sih yang dia kemukakan, maupun yang dia kritisi, lewat novel perdananya yang dianugerahi sebagai tonggak bangkitnya Sastrawan Angkatan tahun 2000.
Seorang pengunjung bertanya tentang polemik sastra yang heboh di internet beberapa waktu lalu, antara pihak Forum Lingkar Pena—yang dimotori oleh Taufik Ismail—dengan Komunitas Utan Kayu—tempat dimana SAMAN dulu dilahirkan, meskipun sekarang Ayu tidak lagi terlibat secara aktif di KUK. Aku ingat yang ‘heboh’ di internet, adalah pelaku polemik yang menurutku mengklasifikasikan diri mereka ke dalam dua ‘kubu’ yakni ‘penghujat’ dan ‘pembela’ KUK dengan alasan masing-masing, bersaing siapa yang mampu mengemukakan alasan yang lebih intelektual. Ayu sendiri yang dihujat adem ayem saja. “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” mungkin Ayu berpikir begitu.
Dan, ternyata setelah bertemu langsung, Ayu pun tetap memilih untuk tidak ‘menceburkan’ diri ke kelompok pembela KUK, ataupun pembela diri sendiri. Dengan kata lain Ayu tetap dengan arif membiarkan para ‘anjing’ itu menggonggong, dan dia tetap berlenggang. 
Tatkala mendapatkan kesempatan, aku bertanya, “Bukankah itu berarti mbak Ayu ‘dimatikan’ oleh kelompok penghujat?”
Dari jawaban yang diberikan olehnya, aku mengambil kesimpulan bahwa dia memang memilih sikap, “I don’t give a damn.” Katanya lagi, dari sekian banyak kritik yang ditulis oleh para krittikus sastra, baik dalam maupun luar negeri, satu kritik yang dia soroti, ditulis oleh seorang feminis Australia yang mengatakan, bahwa sebenarnya SAMAN akhirnya kembali lagi ke dikotomi makhluk publik dan domestik, makhluk superior dan inferior, karena SAMAN, sang karakter laki-laki lah yang mendapatkan porsi sebagai ‘pahlawan’, makhluk publik dan superior, sedangkan karakter perempuan yang ada, tetaplah merupakan tokoh pelengkap, seperti biasa, kehadiran makhluk berpayudara dan bervagina ini hanya untuk menjadikan satu suasana, era, or whatever we call it, menjadi lebih colorful.
FYI, tujuan utama panitia KAMPOENG WEDANGAN mengundang Ayu Utami adalah untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat Semarang, bahwa menulis bisa dijadikan salah satu cara berwirausaha, mengingat tema utama KAMPOENG WEDANGAN adalah “Expo Kewirausahaan dan Budaya”.
Berbicara tentang menulis, Ayu Utami membagi profesi menulis ini menjadi dua
1.penulis yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai WRITER, sebagai tataran pemula
2.pengarang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai AUTHOR, sebagai kelas yang lebih tinggi, lebih sesuai disejajarkan dengan SENIMAN
Untuk menjadi AUTHOR, seseorang seyogyanya memulai dari tataran pemula, sebagai WRITER. Tulislah apa saja, misal tentang “How to be a millionaire”, “How to say NO to your boyfriend when he asks you to have sex” (NOTE: ini ideku, bukan yang disampaikan oleh Ayu. LOL.) Dalam menggapai ke-AUTHOR-annya, Ayu memulainya dengan profesinya sebagai wartawan dan kolumnis. Setelah merasa capable, dia baru memulai menulis proyek idealis (plus ambisius)nya, yakni menulis novel yang dia beri judul SAMAN.
Masih banyak lagi yang dikemukakan oleh Ayu, kusimpan untukku sendiri. LOL. Atau, kalau mood nulis datang (lagi), akan kutulis di post yang lain.
LL TBL 10.52 221207

No responses yet

Dec 21 2007

Angie versus Mia

Published by afemaleguest under Angie


Angie
means my Lovely Star—Dzikrina Angie Pitaloka; while Mia is the nickname
of Mia Thermopolis, the narrator of teen-lit novel entitled Princess
Diaries written by Meg Cabot.
I bought the first serial of Princess
Diaries in 2003, four years ago, when Angie was twelve years ago. In
the first book, Mia was fourteen years old. As far as I remember
Princess Diaries is the first teen-lit novel Angie read. At first, she
complained why I bought here such a book, “Mia is fourteen while I am
only twelve,” she said.
“Well honey, only two years difference,
that’s not a big deal of course. I do hope you can get a good lesson
from this novel.” I reasoned four years ago.
And my guess was right:
Angie loved it. And sometimes she even was so absorbed that she saw
herself as a “princess to be”. LOL. I assume she mixed it with
Cinderella story (with its Cinderella complex!!!) (Un)luckily, in the
first serial, Meg Cabot didn’t illustrate Mia as a feminist, only her
mother: as a feminist who often did weird things with her weird
feminist friends. It was similar to Angie and me: Angie didn’t know
much about feminism, and perhaps she also saw me as weirdo: a feminist
who was much different from her friends’ mothers, or our female
neighbors who seemed to enjoy being full housewives. Unfortunately, in
the first series of Princess Diaries, the relationship between Mia and
her mother was not as open as my relationship with Angie since Mia
seemed not to like her mother’s “weird” things many feminists
(probably) do: such as not marrying Mia’s father, although she already
got a baby from the man: Mia. One thing I remember (though I don’t
remember in which serial Cabot wrote about it): when Mia’s mother
offered her to talk about sexuality openly by coming to Mia’s room and
encouraging her to talk about it heart to heart: instead of having a
lively and comfortable talk with her feminist mother, Mia rejected it,
saying to herself: “Sex? Oh no, my mom must be insane thinking that I
am already interested in sex.” Well, I don’t remember how old Mia was
when Cabot narrated that part. (FYI, I have the complete serials of
Princess Diaries, only Angie doesn’t collect them in one bookshelf.
Perhaps some books are borrowed by her friends. 
Realizing that as
a teenager, Angie is still undergoing unstable mental progress, frankly
speaking I often feel worried that Angie will blatantly follow her
“role models” in some teen-lit novels she reads, including Princess
Diaries. (The era when I bought her some religious collection short
stories has been over! It is because in those stories the narration is
clearly only between black and white, good and bad, no character is in
grey area. In the reality, life is not just black and white like that,
oftentimes we are surrounded by “grey things”, moreover I raise Angie
as a secular, which in my opinion is often related to grey area.)
Mostly after reading some teen-lit novels or watching movies/soap
operas on television about teenagers, I wait for Angie to ask me about
what she has read/watched, and discuss it together. She seldom does
that, though.
In the last serial of Princess Diaries (the title is
“Princess in the Brink” if I am not mistaken), Mia was narrated to be
thinking of doing lovemaking for the first time with Michael. I
assumed, no matter what, Cabot wouldn’t let it happen. (Honestly, as a
feminist living in Indonesia, an area called “the Eastern” part of the
globe, thinking of Angie will do it before getting married—moreover in
a very young age, just like Mia who was still sixteen years old, the
same age as Angie at the moment—really scared me, although I DO REALIZE
that doing sex is everybody’s right.)
I must admit that there was a
relief feeling in me when coming to the part that Mia didn’t do that
with Michael. (silly of me! LOL.) Surprisingly, Cabot then wrote the
“intimate scene” between Mia and her mother, because Mia needed to
confide in someone, and she chose her mother as the first person to
release her disappointment knowing that in fact Michael was no longer
virgin. 
After reading that, I noticed that recently, Angie loved
to be intimate with me on the bed before both of us fell asleep: one
thing she used to love doing as a kid, but she seldom did that after
she reached teenage.
Two nights ago, while lying on the bed in the
dark, Angie was very close to me, kissing my right ears, and whispered,
“You smell nice Mama. Will I still smell good like you after I become a
mother?” LOL.
As what always happens to anybody else, kids will
always be kid, won’t they? Anyway, I still love when Angie does things
like what she used to do to me when she was a small kid. :) A mother
will always be a mother? LOL. LOL.
PT56 15.30 151207

No responses yet

Dec 15 2007

Keyword: NANA PODUNGGE (3)

Published by afemaleguest under daily

Dilihat dari judul di atas, jelas terlihat bahwa ada hubungan antara judul post ini dengan kenarsisanku yang semakin kronis, LOL, begitu kubilang ke Abangku. Tatkala pertama kali aku mengetahui ‘keyword’ yang dipakai orang untuk menuntun mereka ke blog ku yang beralamat di http://afeministblog.blogspot.com adalah NANA PODUNGGE (you can check it yourself by clicking VIEW MY STATS in that blog) aku menebak yang melakukannya adalah Julie, my soulmate tatkala aku kuliah di UGM, setelah dari hasil googling dengan keyword NANA PODUNGGE, aku menemukan blog Julie yang berisikan artikel-artikel yang dia comot dari blog-ku yang tentu saja tak dia lupakan to cite my URL. Di awal post, dia nulis something like, "Here is what my friend wrote … " Aku lumayan surprised juga dia mencomot artikelku untuk blog dia, karena beberapa bulan lalu, dia benar-benar idle dari dunia maya, especially since she moved to Malang. Ternyata dia sempatin pula come back ke dunia maya, meskipun untuk mengisi blog-nya, dia postingin artikel-artikelku. (FYI, padahal Julie dan aku buka blog di website yang sama, yakni di www.blog.co.uk lah, para pengunjung blogku yang beralamat di http://afemaleguest.blog.co.uk bakal nemuin tulisanku dua kali dong yah? :))

Namun ternyata …

Beberapa waktu lalu, ketika aku iseng ngecek VIEW MY STATS, klik sana klik sini, and voila … aku terkejut dengan kecanggihan si penemu internet ini, mengetahui betapa no matter what, apa yang kita lakukan akan selalu tercatat oleh alat canggih ini. Bisa nebak apa yang kutemuin di balik VIEW MY STATS? Aku temuin bahwa keyword NANA PODUNGGE ini, jika diliat dari IP addressnya, banyak berasal dari sebuah komputer yang berada di University of Berkeley California!!! NAH LO. What the hell those people are doing??? What made them so interested in seorang NANA PODUNGGE? Dan darimana mereka tahu ada makhluk bernama NANA PODUNGGE di kolong langit ini?

Aku jadi ingat sekitar satu setengah tahun lalu aku menerima sebuah email dari seseorang yang tinggal di Amerika, yang meminta izinku untuk menjadikan blog ku yang di http://afeministblog.blogspot.com sebagai bahan riset kuliahnya. Aku ijinkan, dan aku minta dia kirimkan hasil riset yang dia lakukan. Unfortunately … tak lama kemudian, dia kirim email membatalkannya karena jumlah artikel yang kupost kurang banyak. Tiwas seneng, ya to? huehehehehe … But I said to her, "That’s fine. Thanks for your interest in my blog anyway."

Tatkala menemukan segerombolan orang mengunjungi blogku, dan menjadikan NANA PODUNGGE merupakan keyword yang paling banyak dipakai orang untuk menuntun mereka ke blogku, aku ingat peristiwa ini kembali. Dan, dari REFERENSI salah satu artikel di Jurnal Perempuan nomor 54 ada judul sebuah artikel yang ditulis oleh seorang scholar dari University of Berkeley California, dari Program Studi South East Asian Studies, aku jadi menyimpulkan mungkin orang-orang itu meneliti blogku sebagai salah satu source riset mereka tentang South East Asian culture, or feminist movement, or any other thing like that.

WOW …

Wish I could read the result of their research. Kira-kira topik utamanya apa yah yang membuat blog ku menarik bagi mereka?

Sebagai seorang narsis yang semakin kronis, this is really a great HONOR for me. :)

C-Net 18.22 151207

2 responses so far

Dec 12 2007

Wednesday December 12, 2007

Published by afemaleguest under daily

Guess what happened to me this morning?

Or well, no need to guess, just go on
reading this writing. :)

On my way back home (from giving
training in English to some employees of Bank Jateng Demak) there
were some things I wanted to do:

  • Going swimming

  • Doing some exercises (read
    ‘fitness’) at Paradise Club

  • Reading some articles at Jurnal
    Perempuan number 54, coz I was attacked by sleepiness when sitting
    in the bus, while the article (about “fairy tales in Indonesia”)
    I was reading really attracted me, although still couldn’t make me
    awake. LOL.

  • Sitting in front of the desktop,
    enjoying a cup of coffee while writing—or typing—something.
    Well, recently, since I was busy with the BJD (read

    Bank Jateng Demak) project, I really haven’t had enough time to
    write, both to practice my capability to analyze some cases and to
    expose my need to express myself via writing.

Of course I could not do all those
things at the same time. I’ve got to set my priority. To do some
exercises, actually I wanted to swim more than ‘fitness’.
However, as a chronic victim of “beauty is white” policy
,
I had better bury my dream to go swimming after 10am, in an outdoor
swimming pool. I could have done that by going to one indoor swimming
pool in Semarang. Unfortunately, it means I have to spend extra money
for that because the swimming pool at Paradise Club is located in an
open-air area.

I eventually chose the second
option—going to Paradise Club to do some exercises (cycling,
climbing, and some other equipment that I don’t know the name;
people say this kind of exercise is good to ‘collect’ or ‘shape’
mass in our bones to avoid the possibility of osteoporosis attack in
our later years). By cycling, I also could do the third option,
reading some articles at JP number 54.

I could not avoid giving up the fourth
option, because I only have one body and one mind. LOL. Besides, I
can do it at any other time.

*****

On my way home from PC, I didn’t
realize that a guy followed me. Perhaps because I was too busy
listening to some songs from my MP. When I stopped in front of my
house, I saw a guy stop next to me, opening his helmet, and then
smiling to me. My poor eyesight of course hampered me to get a clear
picture of who the hell he was. Convinced that probably he was one of
my old friends, I approached him, and asked,

(FYI, the chat was in Bahasa)

“Anything I can help?”

“Mbak Yanti ya?”

I was puzzled, but I still politely
answered, “No I am not.”

“Oh, I thought you were one of my
friends named Yanti.” He went on insisting.

“No.” I replied, still puzzled.

But then I left him, entering the front
yard of my mom’s house. I expected that he would leave soon.
Meanwhile, there was a woman with her two children coming. Although I
didn’t recognize her, I accepted her hand to shake mine.

“Is your Mom in?” she inquired.
(this time she didn’t say it in Bahasa, but in Boso Jowo
)

I directly knew that she was one of
several people who regularly come to my house, expecting some money
(read
‘zakat’).

“Please wait a second,” I said to
her, while I still saw that strange (or weird) guy sitting on his
motorcycle, in front of the house.

I opened the garage’s door, parked my
motorcycle inside, then closed the door.

Inside, my mom welcomed me by giving me
some money to be given to the woman, and asked, “Who is that?”

Oh, in fact, my mom was sitting in the
living room when I had a short chat with the weirdo. LOL.

After that, I went out, to give the
money to the woman, telling her that my mother couldn’t go out coz
she needed to rest. The weirdo patiently (LOL) or strangely still
waited. After the woman went away, I greeted the weirdo, “Whuzzup?”

“So, here is your house?”

I nodded.

“Do you live here alone?”

(What do you think that question
referred to? I am sorry to say that I had ill feeling to him,
accusing him that he expected I was all alone in the house, and
wanted to enter my house, to fuck me.
 )

“No, I live here with my mom, and two
younger sisters.”

“Are your sisters at home?”

“Nope, they are at their office.”

“Will you let me rest for a while
here, sitting in the porch, while having a chat with you? I have
nowhere to go actually, just want to hang around Semarang. You see, I
am a new bie in this city.”

Imagine, I was still wearing my workout
clothes, wet with sweat, and I was still putting on my jacket!

“Send him away Na!” will you
suggest me like that?

I wish I could, but I thought it would
be impolite to just send him away like that. Anyway, I was still not
sure if he would really harm me, wouldn’t he?

We had a chat for around 30 minutes,
until Angie arrived from school. She went home early because the
following day, she would start having final test for this semester.

*****

This event inevitably reminded me of
one ex student of mine, a very pretty woman. At the beginning when we
had sightseeing in a mall, some guys were very attracted to her. I,
the ignorant person (supported by my poor eyesight), oftentimes
didn’t realize that those guys were very attracted to her. She was
the one who told me.

“Look at that guy Nana!” she often
whispered.

“Do you know what happened just now
when you went to the cashier to pay our meal? That cute guy came to
me, and asked my mobile phone number!” one time she said to me.

Naively, or blindly, I thought it was
all caused by her outstanding beauty with very fair complexion
(remember the standard of beauty advertised by continuous commercials
everywhere in the media), until one day I found out.

In fact she was the type of flirt. She
loved to play her eyes, to look around people who were walking around
us, inviting them. (So, I thought. LOL.)

So, I am wondering what made that
weirdo followed me?

(FYI, I was wearing knee-length
“training” trousers, a jacket, white sneakers, helmet covering my
face, and carrying a cute backpack.)

LL 18.50 121207

No responses yet

Dec 08 2007

Kaligawe Banjir

Published by afemaleguest under daily

Hari Senin 3 Desember 2007 seusai mengajar pukul 19.00, tiba-tiba hujan
turun dengan deras tatkala aku menuruni tangga, meninggalkan kelas
untuk menuju ruang guru. Semenjak aku “commute” Semarang-Demak-Semarang
mulai tanggal 20 November 2007, aku selalu merasa “excited” yang lebih
cenderung ke “anxious” kalau hujan tiba. What is Kaligawe like? Kawasan
Kaligawe, Semarang ke arah Utara, menuju ke Terminal Terboyo, memang
terkenal (atawa ‘tercemar’) dua hal: macet dan banjir. Apalagi hujan
Senin malam itu deras, bahkan sampai aku meninggalkan kantor pukul
21.00 (tertahan di kantor gara-gara hujan itu), hujan masih turun
dengan cukup deras. Aku memang membawa mantel, namun aku eman-eman aja
sepatuku bakal basah kuyup.
“Emang kamu cuma punya sepatu satu pasang Na?”
Well,
aku punya satu pasang sepatu boots lain yang berukuran 36, ukuran
“asli” kakiku yang mengikuti standard kecantikan kaki perempuan China
di zaman dahulu LOL. Aku juga masih punya dua pasang sepatu high-heeled
lain, yang dengan alasan tidak jelas, aku malas memakainya. LOL.
(Khawatir kalau “trade mark” si pemakai busana serba hitam plus sepatu
boots hitam diserobot orang di kantor tempat aku bekerja LOL.)
Satu-satunya sepatu yang paling suka kupakai ya sepatu boots-ku yang
berukuran “tidak asli” yakni ukuran 37, yang sudah lecet di sana sini,
terutama gara-gara aku jatuh dari motor, kaki kananku terseret beberapa
meter, sekitar dua tahun yang lalu, plus sering kupakai untuk
menstarter motor kalau “automatic starter” nya ngadat. Ukuran yang satu
nomor lebih besar dari “ukuran asli” kakiku yang mungil ini membuatku
leluasa memakai “kaos kaki bola” (LOL) yang rada tebal itu untuk
melindungi kakiku. Kalau memakai sepatu boots yang berukuran 36, ga
bisa lah aku memakai kaos kaki bola, karena bakal sempit.
Tatkala
aku akhirnya meninggalkan kantor, hujan yang sudah agak mereda ternyata
membuat sepatuku aman, alias tidak basah kuyup kemasukan air hujan.
****
Selasa
4 Desember aku sudah siap duduk di teras sekitar pukul 05.15, menunggu
Pak Har menjemput. Kira-kira nanti kita lewat jalan mana ya untuk
menghindari banjir di Kaligawe? FYI, mobil yang biasa dinaiki Pak Har
itu saingan mungilnya dengan diriku (plus ukuran kakiku LOL). Kasihan
kalau dipaksa melewati banjir di Kaligawe. (Dijamin, Abangku ga bakal
muat naik mobil itu LOL, kepalanya bakal kejedot langit-langit mobil,
plus kakinya harus menekuk dalam-dalam, yang tentu membuatnya ga bakal
bisa melakukan salah satu hobbynya: menjadi pereli antar negara. LOL.)
Pak
Har datang sekitar pukul 05.35. Seolah membaca pertanyaan “Mau lewat
mana Pak?” yang tertulis di jidatku LOL, beliau bilang, “Kaligawe tentu
banjir parah mbak. Nanti kita lewat jalan arteri saja.”
Aku yang
cuma jadi penumpang tentu pasrah sajalah. LOL. And you can guess.
Selama perjalanan menuju Sayung (daerah setelah Kaligawe), melewati
arteri, Nana yang homebody type ini pun tiba-tiba menjadi turis lokal.
LOL. Aku terbengong-benong memandang daerah di kotaku yang sangat asing
di mataku. Dan ternyata Pak Har diam-diam memandangiku yang nampak
begitu antusias melihat ke arah kanan kiri, bertanya kepadanya, “Itu
gedung apa Pak ya?” tatkala aku melihat sebuah gedung yang lumayan
mencolok bagiku.
Setelah melewati daerah pertigaan
Terboyo—Tlogosari—Demak, seperti biasa aku memandangi sungai yang ada
di pinggir sebelah kiri, yang airnya hanya sedikit, dan keruh, namun
tetap saja dipakai orang-orang di daerah sekitar untuk mencuci, dll.
Tiba-tiba Pak Har nyeletuk, “Masih suka memandangi sungai itu toh
mbak?” LOL. LOL.
Seperti orang yang ketahuan nyolong mangga, LOL,
aku menjawab, “Saya pengen lihat apakah sungai ini bakal penuh berisi
air setelah hujan turun.”
FYI, meskipun Demak terletak tidak jauh
dari Semarang, Demak ternyata terkenal sebagai daerah yang sulit air.
Itu sebab di Demak tidak pernah ada berita kebanjiran.
****
Perjalanan
pulang dari Demak, terutama tatkala melewati Kaligawe, dengan antusias
aku menjepret pemandangan banjir di depan mataku, untuk menghindari
kejenuhan macet. Seseorang yang duduk di sampingku memandangku dengan
heran, perhaps he thought, “What the hell is this lady doing? Who the
hell is she? Banjir begitu saja kok difoto.” LOL.
Ini dia foto-foto
hasil jepretanku, menggunakan digital camera yang ada dalam hape
Samsung SGH X640, diambil dari dalam bus. Kalau hasilnya seadanya, ya
mohon dimaklumi. :) Aku salut pada mereka yang naik motor, dan nekad
melewati kawasan Kaligawe yang sedang banjir, meskipun aku heran juga,
ada jalan alternatif—jalan arteri—mengapa mereka tetap memilih jalan
itu? Efisiensi waktu? Probably.





Yang di bawah ini banjir di daerah lain.

Semarang
memang penuh air. :( Akankah ada walikota terpilih yang bakal bisa
membebaskan Semarang dari “masalah klasik” ini? (Inget lagunya Waljinah
“Semarang kaline banjir” …)
PT56 11.33 041207

2 responses so far

Dec 08 2007

Wisata Bahari Lamongan

Published by afemaleguest under daily


Minggu
4 November 2007 aku beserta beberapa rekan kerja plus keluarga
berwisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang juga disebut Tanjung
Kodok, yang terletak di kota kecil Lamongan, Jawa Timur.

Rombonganku
meninggalkan kantor kurang lebih pukul 05.00, waktu di dalam bus
Sindoro Satria Mas. Sopir bus memilih jalur utara, melewati Kaligawe
yang sedang dipenuhi air banjir pada waktu itu. Aku sempat melihat
beberapa mobil yang memutar untuk memilih jalur yang lain, karena tidak
bisa memperkirakan seberapa dalam genangan air yang disebabkan hujan
tersebut. Rombongan berhenti di Kudus, di sebuah rumah makan untuk
memberi kesempatan kepada para penumpang yang ingin mengeluarkan hajat
kecilnya. Kali kedua rombongan berhenti di Tuban, dengan maksud yang
sama.
Kami sampai di Wisata Bahari Lamongan pukul 11.30. Setelah
makan siang berupa nasi kotak di dalam bus, kami memasuki daerah
wisata.

I
myself was completely in the dark what kind of place is WBL Hanya satu
petunjuk yang diberikan oleh guide, “Semua wahana bisa dinaiki karena
panjenengan saya belikan karcis terusan yang memungkinkan panjenengan
melakukan itu, kecuali dua tempat: arena permainan go kart, dan banana
boat. Panjenengan harus membayar jika ingin naik go kart dan banana
boat.”
“Is it something like Dufan in Jakarta Mama?” Angie asked me.
“Perhaps honey.” Jawabku.
Aku
dan Angie masuk area WBL terlambat karena Angie menyempatkan diri
mengganti celana jeans panjangnya dengan celana jeans selutut. Pesan
dari guide yang disampaikan kepada koordinator wisata dari kantor,
“Jangan lupa bawa baju ganti.”

****
Bangunan
pertama yang kumasuki bersama Angie adalah “Rumah Kucing”. Di dalamnya
banyak terdapat berbagai macam kucing dari seluruh penjuru dunia. Bagi
pecinta kucing, mungkin di sinilah tempat yang paling mengasyikkan,
karena bisa melihat berbagai varian kucing yang imut-imut, sekaligus
merasa kasihan, karena biasanya kucing yang lebih dikenal sebagai
domestic pet, dibiarkan berkeliaran bebas di dalam rumah, di “Rumah
Kucing” ini kucing-kucing tersebut “dikerangkeng” di sebuah kotak
berukuran kurang lebih 2 x 2 m, seperti binatang-binatang buas di kebun
binatang. Anyway, kucing memang satu keturunan dengan singa, harimau,
maupun leopard dan panther (World Book 2005), yang bisa dikategorikan
binatang buas.
Lihat gambar beberapa kucing-kucing koleksi WBL di bawah ini:




Keluar dari “Rumah Kucing”, Angie dan aku melanjutkan perjalanan ke gedung selanjutnya: Bioskop 3 dimensi.
Waktu
akan ngantri untuk masuk ke dalam bioskop, Angie komplain panjangnya
antrian sehingga aku ikuti keinginannya untuk langsung melanjutkan
perjalanan. Untung sorenya, sebelum keluar dari areal WBL, menjelang
pukul 4, waktu kita berdua balik melewati bioskop, tidak ada antrian
sama sekali, sehingga Angie pun mau masuk ke dalam. Film yang kita
tonton adalah perjalanan masuk ke dalam terowongan yang gelap gulita,
naik kereta api, penuh dengan pemandangan yang mengerikan. Waktu kita
serasa tercebur ke dalam air sungai yang airnya menggelegak, tiba-tiba
para penonton disembur air sungguhan entah berasal dari mana. Menurutku
pribadi bioskop 3 dimensi di WBL ini lebih memberi kesan “sungguhan”
daripada yang ada di Dufan.
Meninggalkan bioskop 3 dimensi, ada
“Rumah Sakit Hantu” yang konon di dalamnya diset seperti bentuk rumah
sakit yang dipenuhi oleh “hantu-hantu” yang meninggal karena sakit atau
mati kecelakaan. Angie menolak masuk, sehingga aku hanya mendengar
cerita mereka yang masuk ke dalamnya. FYI, Angie lumayan suka nonton
film horror, namun ogah kuajak masuk ke areal permainan yang
berhubungan dengan ‘setan’ dan ‘hantu’. 
Setelah Rumah Sakit Hantu,
ada areal permainan ketangkasan. Angie pun tidak mau mencoba seberapa
tangkas dia bermain lempar melempar, atau tembak menembak. So, kita
jalan terus aja.
Gedung di sebelahnya diberi judul “Istana Bawah
Laut”. Setelah aku dan Angie masuk ke dalamnya, ah .. ternyata tempat
bermain anak-anak kecil, seperti kereta api mainan, mobil-mobilan,
robot yang bisa bergerak naik turun, dll. Hanya saja gedung itu diset
seperti berada di bawah laut. Hiasan di dinding dan di langit-langit
gedung yang menunjukkan kita seperti berada di bawah laut.
Dari sana
aku dan Angie sempat memasuki areal go kart. Satu orang dikenai biaya
Rp. 18.000,00 untuk mencoba naik go kart selama kurang lebih 5 menit,
merasakan laksana racer.  Angie and I didn’t try riding it.
Gedung
berikutnya adalah “Taman Bajak Laut”. Angie yang semula menolak melulu
kuajak ini itu, akhirnya kupaksa masuk ke dalam taman bajak laut.
(Informasi tambahan: hari Senin 5 November, Angie harus menghadapi
ujian harian terpadu di sekolah. Mungkin itu sebab dia kurang begitu
menikmati suasana. Blame her mother yang memaksanya untuk ikut
berdarmawisata. LOL.) “Taman Bajak Laut” diset seperti sebuah kapal
yang karam setelah dibajak oleh para perompak di tengah laut.
Pengunjung dibatasi hanya empat orang untuk sekali perjalanan masuk ke
dalam. Di dalam suasana agak temaram, dengan pemandangan khas kapal
yang karam, ada bajak laut yang menakut-nakuti di sana sini. Bersamaku
dan Angie, ada seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 30 tahun,
bersama keponakannya. Mereka berdua ada di depanku. Angie yang merasa
agak takut, memeluk lengan kananku dengan erat, dan aku memegangi kaos
yang dipakai oleh anak kecil yang memeluk omnya dari belakang. LOL.
Begitu “selamat” keluar dari “serangan para bajak laut” di dalam “kapal
karam” itu, Angie pun berteriak lega. LOL. (felt like ikut pengalaman
dalam Pirates of the Caribbean, kata Angie. LOL.)
Dari sana, Angie
yang moodnya sudah bagus, mau ikut aku masuk ke “Planet Kaca” yang di
dalamnya tak jauh beda dengan “rumah kaca”, or whatever it is called di
Dufan.
Keluar dari “Planet Kaca”, aku melihat, wahana “Tagada”
yang mirip seperti “kora-kora” di Dufan. Aku menolak diajak Angie naik,
karena ogah pusing, plus perut mual setelah itu. LOL. Ada “planet
insectarium” yang isinya (mungkin) berbagai macam insects, yang kurang
menarik bagi Angie sehingga kita berdua pun tidak masuk ke dalamnya.
Perjalanan
selanjutnya kita masuk ke “Taman Berburu” yang antrinya jauh lebih lama
dibanding waktu ‘berburu’nya sendiri. LOL. Aku dan Angie menaiki
semacam mobil kecil terbuka, yang dilengkapi oleh “senapan” untuk
menembak binatang buas yang “berkeliaran” di dalam taman tersebut.
Keluar
dari “Taman Berburu”, aku dan Angie memasuki “playground remaja” yang
di dalamnya ada banyak pasangan remaja yang duduk berdua-dua.
Playground ini terletak tepat di pinggir laut. Lihat foto yang kujepret
di daerah itu di bawah ini.


Aku
dan Angie naik “jet coaster” yang terletak di tebing yang lumayan
curam. Jet coasternya sendiri tidak begitu “mendebarkan hati”
dibandingkan yang ada di Dufan, yang dulu “memaksaku” untuk berteriak
ketakutan kalau sampai jatuh. LOL. Sorry, lupa njepret jet coaster plus
tebingnya yang curam. LOL.
Berikutnya aku dan Angie naik “space
shuttle” yang membuatku seperti sedang naik ayunan. Waktu kecil aku
suka sekali naik ayunan seperti rasanya aku kepengen punya ayunan
pribadi di halaman rumah. LOL. (Belum terkabulkan sampai sekarang.
LOL.) Dari ‘space shuttle”, aku ajak Angie makan bakso, karena waktu
melihat rumah makan tak jauh dari situ, rasanya aku nyidam makan bakso.
LOL. FYI, I am NOT a bakso freak. Waktu makan sambil ngobrol inilah,
aku baru kepikiran, “Sayang, tolong space shuttlenya ntar difoto yah?”
begitu aku bilang ke Angie. Ini dia foto “space shuttle”nya.

Setelah
itu, aku memaksa Angie ikut ngantri di areal “bumper car” alias bom bom
car. “Di Semarang juga banyak Ma kalo cuma kayak gini,” Angie
bersungut-sungut.
“Masalahnya adalah, kita yang ga pernah nyempatin
diri ke mall untuk mainan bom bom car. Nah, sekalian aja sekarang,
mumpung sudah ada di depan mata,” kataku merayu Angie. LOL. Bedanya
adalah, kalau bom bom car di Semarang, mobil mainannya lumayan besar
sehingga bisa dinaiki dua orang. Di WBL, satu mobil hanya cukup untuk
satu orang.
Areal terakhir yang kumasuki bersama Angie adalah
“permainan air” berupa taman biasa aja. Aku semula sempat
terheran-heran mengapa taman yang biasa saja itu disebut “permainan
air”, mana sebelum masuk ada peringatan, “Bagi mereka yang menderita
sakit jantung dilarang masuk. Tempat ini merupakan tempat yang memiliki
teknologi sensor tinggi.” What the hell? Ternyata tatkala enak-enak
berjalan, tiba-tiba dari satu tempat yang tidak jelas, meluncurlah
“serangan air” yang tidak mungkin bisa dihindari. Demikianlah
kejadiannya sepanjang berjalan di taman itu. Walhasil keluar dari areal
“permainan air” aku dan Angie sama-sama basah kuyup. Keluar dari taman
itu, kita disambut dengan tulisan seperti di bawah ini:



Berikutnya
aku dan Angie naik kano. Wah … ternyata asik naik kano. Jika ada kano
di pantai Marina Semarang, tentu aku bakal rajin main ke Marina.
Sayangnya ga ada … Aku dan Angie tidak naik banana boat (speed boat).

Berikutnya kita cuma ngobrol sambil berfoto-foto di pinggir pantai.
Hampir sepanjang perjalanan di dalam WBL, aku dan Angie tidak
berpapasan dengan anggota rombongan lain sehingga laksana kita hanya
piknik berdua.
Berikut foto-foto yang sempat dijepret menggunakan
hape Angie SonEr K510i yang kayaknya hasilnya sudah tidak sebagus
beberapa bulan lalu.










Aku
dan rombongan meninggalkan areal WBL sekitar pukul 18.30 waktu di dalam
bus Sindoro. LOL. Mampir sebentar untuk makan malam di Tuban. Kita
sampai di kantor Semarang, sekitar pukul 00.30.
PT56 07.42 021207

3 responses so far

Next »