Nov 29 2007

I Don’t Change?

Published by afemaleguest at 5:38 am under daily

I often wonder whether my face has not really changed a lot since I was a kid.

Hari pertama aku memberikan pelatihan Bahasa Inggris di Bank Jateng Demak tanggal 20 November 2007, tatkala aku sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di lantai dua, seorang pegawai perempuan mendekatiku, sembari menyapa,

Koyok’e aku kenal ki. Nana toh?” dan menggenggam tanganku dengan erat.

Aku lumayan senang karena ternyata I was not really a total stranger in that strange place. Tapi setelah dia mengenaliku, dan menyebut namaku dengan tepat, aku merasa terbebani untuk berusaha mengenalinya kembali. Sangat tidak sopan kalau aku tidak mengenalinya, so I thought.

Namun daya ingatku ternyata parah. Setelah setengah memohonnya untuk menyebutkan satu masa atau tempat dimana dulu kita saling mengenal, akhirnya dia menyebutkan nama SD tempat kita dulu bersekolah bersama,

Inget Al-Khoiriyyah?”

GOT YA!!! Setelah memandang wajahnya dengan lebih lekat, dan berusaha mengumpulkan ingatan berita yang pernah kudengar tentang seorang teman sekelas waktu di SD diterima di sebuah bank pemerintah (meskipun seingatku di BRI), dengan yakin aku menyebut namanya,

Zetty!”

Yah, lumayanlah aku tidak perlu terlalu malu karenanya. LOL. Zetty dengan serta merta memperkenalkanku kepada rekan kerjanya yang lain, yang ada di ruangan itu.

Wah, ternyata guru yang akan mengajari kita Bahasa Inggris ini teman lamaku, waktu duduk di bangku SD. Sejak dulu dia memang paling pintar, selalu mendapatkan ranking pertama.”

Aku cuma tersenyum-senyum mendengarnya. (Sembari mengusahakan agar dadaku tidak terlalu mengembang!!! LOL. Atau kepalaku melar. LOL.)

Hal-hal lain yang masih diingat Zetty adalah,

Nana paling suka nyeplos cabe banyak-banyak kalau sedang makan gorengan.”

Weleh … LOL. LOL. Bisa saingan dengan Abang dong yang katanya paling doyan makan pedas. Padahal saat ini rasanya aku ga begitu tergila-gila cabe lagi, meskipun cabe masih tetap merupakan kewajiban jika aku sedang menyantap gorengan, kecuali kalau ada “substitute” nya, yakni sambal, plus kecap. Waktu SMA aku paling suka mencampur petis plus sambal, kemudian gorengan akan kucemplungkan ke adonan petis dan sambal itu sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Lepas dari SMA, ternyata sulit mencari petis, akhirnya aku memakai kecap sebagai ganti.

Kalau ada lomba hafalan 101 hadits, Nana selalu menang.” Lanjut Zetty lagi.

Juga lomba hafalan Alquran juz 30,” sambungku. LOL.

Kalau masalah memenangkan lomba hafalan hadits maupun Alquran ini, tentu saja aku ingat dengan baik. Namun tidak dengan makan cabe banyak untuk sebiji gorengan. LOL.

Kemudian aku bercerita kepada Zetty beberapa bulan lalu ada seorang perempuan yang mengantar anaknya les Bahasa Inggris di tempatku bekerja. Waktu melihatku di kantor administrasi (yang memang bisa terlihat dari lobby), perempuan itu menyapaku dengan riang,

Hello mbak. Dulu sekolah di Al-Khoiriyyah kan?”

Aku bengong mendengarnya. Dan seperti yang kulakukan terhadap Zetty, aku pun menatapnya lekat-lekat, berusaha mencari garis-garis yang bisa kukenali. Dulu satu kelas (semua perempuan), jumlahnya tidak lebih dari 30 orang. It would be very bad of me if I could not recognize her.

Namun ternyata aku tak juga mengenalinya.

Akhirnya dia bilang, “Aku dulu bersekolah di Al-Khoiriyyah 2. Mbak-e di Al-Khoriyyah 1 kan?”

Goodness.

Aku ingat waktu ujian, memang kedua sekolah yang terletak kurang lebih 2,5 kms melakukan “swap” setengah siswanya. Kebetulan aku mendapatkan tugas untuk mengikuti ujian di gedung Al-Khoriyyah 2.

Berapa lama sih ujian dilaksanakan? Untuk ujian tertulis, tidak lebih dari satu minggu kukira. How amazing kalau hanya dalam kurun waktu satu minggu itu, seseorang tetap mengingat wajahku setelah 27 tahun berlalu.

Dan masih ada beberapa pengalaman lain yang senada (bertemu dengan teman atau kakak kelas maupun adik kelas sewaktu duduk di bangku SD), dimana mereka mengenaliku sedangkan aku tidak mengenali mereka.

Masak sih wajah Mama ga berubah?” tanya Angie tak percaya. LOL.

PT56 21.10 281107




2 Responses to “I Don’t Change?”

  1.   Helfion 29 Nov 2007 at 5:05 pm

    Miss, bagian akhirnya kok jadi serem gitu…ga nyambung lagi hehehe…maaf. Klo menurut saya sih, bebas merdeka lah tiap orang punya selera masing2 ttg teman seperjalanan ataupun tempat duduk di bis. Saya sendiri, sapa aja boleh duduk di sebelah saya asal bukan copet atau si tangan jahil (he3 pernah ada tangan jahil yang saya tusuk pakai peniti…abisnya udah dilabrak teteup ‘rajin’ sih kqkqkq…self defense boleh dong). Kalo tempat duduk sbtulnya senengnya di depan deket Pak sopir itu lho, bisa liat pemandangan tanpa gangguan tapi kok gada sandarannya ya…jadi pas ngantuk ga bisa tidur deh :P

  2.   Nanaon 01 Dec 2007 at 2:34 am

    Dear Helfi,
    Waktu posting lagi ngantuk tuh, plus buru-buru, so seharusnya masuk posting lain, eh, malah jadi satu posting. Sekarang udah kupisah tuh. :D Thanks for the correction. But, sebelum baca komentar Helfi sih di rumah aku udah kerasa ada yang aneh, waktu kucek, eh, iya, jadi satu postingan. :D Wah, that’s a good idea Helfi, bawa peniti kemana-mana, for self defense. :D Next time boleh deh tip-nya kucoba. hahahaha …

Comments RSS

Leave a Reply