Archive for November, 2007

Nov 29 2007

I Don’t Change?

Published by afemaleguest under daily

I often wonder whether my face has not really changed a lot since I was a kid.

Hari pertama aku memberikan pelatihan Bahasa Inggris di Bank Jateng Demak tanggal 20 November 2007, tatkala aku sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di lantai dua, seorang pegawai perempuan mendekatiku, sembari menyapa,

Koyok’e aku kenal ki. Nana toh?” dan menggenggam tanganku dengan erat.

Aku lumayan senang karena ternyata I was not really a total stranger in that strange place. Tapi setelah dia mengenaliku, dan menyebut namaku dengan tepat, aku merasa terbebani untuk berusaha mengenalinya kembali. Sangat tidak sopan kalau aku tidak mengenalinya, so I thought.

Namun daya ingatku ternyata parah. Setelah setengah memohonnya untuk menyebutkan satu masa atau tempat dimana dulu kita saling mengenal, akhirnya dia menyebutkan nama SD tempat kita dulu bersekolah bersama,

Inget Al-Khoiriyyah?”

GOT YA!!! Setelah memandang wajahnya dengan lebih lekat, dan berusaha mengumpulkan ingatan berita yang pernah kudengar tentang seorang teman sekelas waktu di SD diterima di sebuah bank pemerintah (meskipun seingatku di BRI), dengan yakin aku menyebut namanya,

Zetty!”

Yah, lumayanlah aku tidak perlu terlalu malu karenanya. LOL. Zetty dengan serta merta memperkenalkanku kepada rekan kerjanya yang lain, yang ada di ruangan itu.

Wah, ternyata guru yang akan mengajari kita Bahasa Inggris ini teman lamaku, waktu duduk di bangku SD. Sejak dulu dia memang paling pintar, selalu mendapatkan ranking pertama.”

Aku cuma tersenyum-senyum mendengarnya. (Sembari mengusahakan agar dadaku tidak terlalu mengembang!!! LOL. Atau kepalaku melar. LOL.)

Hal-hal lain yang masih diingat Zetty adalah,

Nana paling suka nyeplos cabe banyak-banyak kalau sedang makan gorengan.”

Weleh … LOL. LOL. Bisa saingan dengan Abang dong yang katanya paling doyan makan pedas. Padahal saat ini rasanya aku ga begitu tergila-gila cabe lagi, meskipun cabe masih tetap merupakan kewajiban jika aku sedang menyantap gorengan, kecuali kalau ada “substitute” nya, yakni sambal, plus kecap. Waktu SMA aku paling suka mencampur petis plus sambal, kemudian gorengan akan kucemplungkan ke adonan petis dan sambal itu sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Lepas dari SMA, ternyata sulit mencari petis, akhirnya aku memakai kecap sebagai ganti.

Kalau ada lomba hafalan 101 hadits, Nana selalu menang.” Lanjut Zetty lagi.

Juga lomba hafalan Alquran juz 30,” sambungku. LOL.

Kalau masalah memenangkan lomba hafalan hadits maupun Alquran ini, tentu saja aku ingat dengan baik. Namun tidak dengan makan cabe banyak untuk sebiji gorengan. LOL.

Kemudian aku bercerita kepada Zetty beberapa bulan lalu ada seorang perempuan yang mengantar anaknya les Bahasa Inggris di tempatku bekerja. Waktu melihatku di kantor administrasi (yang memang bisa terlihat dari lobby), perempuan itu menyapaku dengan riang,

Hello mbak. Dulu sekolah di Al-Khoiriyyah kan?”

Aku bengong mendengarnya. Dan seperti yang kulakukan terhadap Zetty, aku pun menatapnya lekat-lekat, berusaha mencari garis-garis yang bisa kukenali. Dulu satu kelas (semua perempuan), jumlahnya tidak lebih dari 30 orang. It would be very bad of me if I could not recognize her.

Namun ternyata aku tak juga mengenalinya.

Akhirnya dia bilang, “Aku dulu bersekolah di Al-Khoiriyyah 2. Mbak-e di Al-Khoriyyah 1 kan?”

Goodness.

Aku ingat waktu ujian, memang kedua sekolah yang terletak kurang lebih 2,5 kms melakukan “swap” setengah siswanya. Kebetulan aku mendapatkan tugas untuk mengikuti ujian di gedung Al-Khoriyyah 2.

Berapa lama sih ujian dilaksanakan? Untuk ujian tertulis, tidak lebih dari satu minggu kukira. How amazing kalau hanya dalam kurun waktu satu minggu itu, seseorang tetap mengingat wajahku setelah 27 tahun berlalu.

Dan masih ada beberapa pengalaman lain yang senada (bertemu dengan teman atau kakak kelas maupun adik kelas sewaktu duduk di bangku SD), dimana mereka mengenaliku sedangkan aku tidak mengenali mereka.

Masak sih wajah Mama ga berubah?” tanya Angie tak percaya. LOL.

PT56 21.10 281107

2 responses so far

Nov 29 2007

Reading

Published by afemaleguest under Books

Reading”
is always one thing I mention when people ask what hobbies I have,
besides swimming, and recently blogging. At home, if I am not
mistaken I have more than one thousand titles of books although my
paycheck is just so so. (Well, so I think.
)
It means people can add another hobby of mine: collecting books.

Do
you then think that my days are full of reading activities?

Recently
I start to suspect myself that in fact I am not that fond of reading.

I just want to show off to people around me that I belong to the
intellectual type by saying that I love reading.

Also by bringing book(s) anywhere I go while in fact I don’t always
have time (or force myself to spare time) to read.

What
made me accuse myself that horrible (and pathetic) thing? LOL.

Recently,
I start paying attention to one workmate of mine who loves bringing
books to the workplace. She is lucky to get one stand by time (I have
never got one since five or six years ago) so that if all teachers on
duty are present, she doesn’t have lots of things to do but
pressing the bell as a sign the class starts and ends. I always see
her taking out a book. She is still interested in reading books about
raising children. FYI, her first child is around two years old while
the second one is around six months old. After one or two weeks she
will bring a new book to read. That made me conclude that she already
finished reading the previous book. Different from me that mostly
bringing my own book, she brings books she borrows from a public
library where she is one of the members. (I am even no longer a
member of one library, after finishing my study around two years
ago.) Because the books do not belong to her, she has to read the
books she borrows from the library at a certain period of time. This
quite amazed me of course because that is one thing I cannot do: have
to read books at a certain period of time. I don’t enjoy reading
books like that.

I
remember one friend from my ex workplace that also loves reading. She
can finish reading one book—novels oftentimes—in a very short
time.

Is
it because I don’t really have much spare time I can use to read
books?

Around
a year ago, a workmate gave me a registration form to be a member of
one library located not far from my workplace. Not wanting to
disappoint him (or perhaps I wanted him to see me as a reading freak
),
I received that registration form, put it in one book I had with me
at that time, then … forgot it peacefully. When another workmate of
mine asked whether I had registered myself at the library, I
snobbishly (and annoyingly) said, “I have lotsa books at home and I
don’t finish reading all of them yet. I don’t need to borrow any
book yet from a library.” Huuuuuuuuuuuu…

I
know I always have difficulty to finish reading one book (especially
the non fiction ones) because I easily get bored. I will just jump to
read another book. But when I love one book, I will have it with me
until I produce some writings for blogs. Well, you can check them
under topic “Books” or “Book review”. Many writings of mine
are inspired by the books I (have) read, besides experiences of
people around me.

I
think this then became my Abang’s idea to “provoke” one new
member of the mailing list we
possess
together (he made that milis but then always says that it belongs to
all the members LOL). And his “provocation” took its toll. LOL.
The new member who just had his first novel published sent one copy
to me, expecting I would make a review, or analysis, or whatever it
is called. I didn’t want to disappoint him so I agreed although I
was a bit worried because I was not a pro (yet). LOL. I have written
some reviews or interpretations of books I have read because I love
reading the books. What if in fact I don’t like the book?

And
my worry came true. The book is not to my interest.

Thus, it becomes a very heavy burden for me to finish reading it
until the last page, 482. (moreover to “peel it out”) So far, I
stopped reading it till page 5 because it gave me an illustration
like Indonesian sinetrons that are full of unnecessary violent acts
and insulting words that are inappropriate to be heard. Not to
mention his illustrating characters that are not suitable for
children.

This
made me question myself what makes me fall in love with a book? I
love SI PARASIT LAJANG very much. Oh no, perhaps I cannot compare a
non fiction book to a fiction one. I like SAMAN (from the same
author) although not as crazy as I am for SI PARASIT LAJANG. And as a
melancholic romantic feminist, I think I like female authors more
than male ones. (I am not a lesbian though. LOL.) I believe you can
understand why I love Ayu Utami’s books because we view this life
from similar point of view. Meanwhile I like Dewi Lestari because to
me we have undergone similar spiritual journeys, questioning deeply
about this life and religiosity; only she has made a (can be said
temporary, she once said) choice in being a Buddhist while I still
stay Muslim.

How
about the book one member of the mailing list gave me? So far, until
page 5, it didn’t give me any feministic point of view nor
spiritual journey. It tells about parents who quarrel in front of
their young children. Perhaps it is too quick of me to jump to a
conclusion. But the problem is, like what I stated in the beginning
of this writing, in fact I don’t think I really like reading, or I
don’t always succeed forcing myself to spare time to read.

As
for more information some books written by male writers I like:

  • Lelaki
    Terindah” by Andrei Aksana, full of romantic and beautiful poems.
    I directly fell in love with the book when I read the poem printed
    in the back cover.

  • Cantik
    Itu Luka” by Eka Kurniawan. This novel is not thinner than Harry
    Potter’s series. I like the book, first by it’s mysterious yet
    attractive title. The plot is mixture of forward and backward, and
    the story, similar to its mysterious title, is also somewhat horror
    (although I don’t like horror movies anymore, this was only during
    my teenage years). He is a real expert in narrating the story.

  • Ronggeng
    Dukuh Paruk” by Ahmad Tohari. This novel tells about a woman
    destined to be born a “ronggeng” or a sensual dancer and her
    complicate life: having many admirers and foes at the same time.

  • Selingkuh
    itu Indah” a collection of short stories by Agus Noor. Well,
    perhaps this name is already a guarantee of good writings. He is
    smart in choosing the title of one short story to be the title of
    the book. And he cheated the people who “judged the book by its
    cover/title”. Instead of narrating a beautiful love affair outside
    the wedlock, Agus in fact wanted to criticize such affairs.

  • Petualangan
    Celana Dalam” a collection of short stories, the first book
    written by Nugroho Suksmanto. Some short stories written with
    Semarang as their settings really attracted my attention, somewhat
    forced me back to my childhood (and tried finding my “root”, as
    Budi Darma said when talking about MUDIK tradition on Lebaran
    ).
    I like some other stories too, including the story whose title was
    chosen to be the title of the book “Petualangan Celana Dalam”.
    One weakness, in my opinion, one (or more, I forget) short stories
    when Nugroho chose a girl as the main character. Nugroho didn’t do
    deep and thorough investigation of women’s emotional and
    psychological problems.

Btw,
at the moment I am still reading AKAR, the second novel (in Supernova
series) by Dewi Lestari. I have time to read it only some minutes in
the early morning while waiting for one student of mine at Bank
Jateng Demak to pick me up and we leave together, and on my way home
from teaching there, while sitting in the bus. Many philosophical
statements I found in this book that made me want to write, to “peel
out” my own spiritual, emotional, as well as psychological
problems. I must admit that as a blogger, I just look for a media to
expose my being narcissistic. However, this is really RELIEVING.

(Meanwhile
I still have that big burden: to finish reading the novel a member of
the mailing list has sent me and then write my interpretation on it.
Sigh deeply …)

PT56
12.55 281107


2 responses so far

Nov 29 2007

Obrolan …

Published by afemaleguest under daily

Obrolan antara aku dengan Pak Har dalam perjalanan dari Pusponjolo ke Bank Jateng Demak.

Dua anaknya sekarang kuliah di UGM. Yang pertama jurusan Kimia dari Fakultas MIPA, laki-laki. Yang kedua, ambil jurusan Kedokteran Gigi, perempuan.

Tatkala beliau tahu anakku kelas II SMA, dia mempromosikan UGM kepadaku.

Sekarang gampang loh mbak kalau mau masuk kuliah di UGM. syarat pertama nilai di raport kelas I sampai kelas III minimal rata-rata 78. setelah itu ambil saja program PSB (Program Siswa Berprestasi—ini cuma kepanjangan PSB perkiraanku sendiri. LOL).”

Bayar berapa Pak?” tanyaku.

Cuma 30 juta. Murah kan mbak? Daripada ambil program reguler, belum tentu keterima. 30 juta untuk masuk UGM kan ga mahal mbak?”

Gosh, ga mahal dan mahal itu kan relatif ya? Bagi beliau ga mahal, bagiku ga tercapai dong. :( Kalau nilai rata-rata di raport yang “hanya” 78 sih ga terlalu sulit bagi Angie. Bukankah kurikulum SBI membebani Angie dan teman-temannya nilai minimal 78 di raport?

Saya dulu juga kuliah di UGM Pak, ambil Sastra Inggris. Zaman itu, lulus PMDK itu berarti lolos tanpa tes, dan benar-benar tanpa bayar apa-apa lagi. Ga seperti zaman sekarang. Ketrima lewat jalur PMDK pun masih harus bayar mahal.”

Obrolan kedua tentang hobby Pak Har berenang. Wah, sama dong denganku? Dia bercerita berenang paling tidak satu minggu satu kali di kolam renang Ngaliyan Tirta Indah. Well, semenjak menjadi anggota Paradise Club lagi bulan Februari 2006, aku tak lagi pergi berenang di tempat lain, kecuali tatkala aku berkunjung ke Cirebon bulan Januari 2007 lalu.

Saya kuat loh mbak kalau berenang. Muter terus sampai sepuluh kali. Sekitar satu jam, tanpa berhenti.”

Di kolam yang terletak paling atas itu Pak ya?” tanyaku, lebih pasnya untuk menunjukkan kepadanya bahwa keadaan kolam renang Ngaliyan sangat familiar buatku. Di kolam renang Ngaliyan ini ada 4 kolam renang. Dulu aku juga paling suka berenang di kolam yang terletak paling atas, ukuran sekitar 15 m lebarnya, dan 50 m panjangnya.

Teman-teman kantor heran loh mbak, saya kuat berenang sampai lama ga berhenti,” katanya bangga.

Well, untuk itu Bapak bisa saingan dengan saya. Saya juga kalau berenang ya begitu itu, satu jam muter tanpa berhenti.”

Nah lo. LOL. Aku tidak merasa terkontaminasi Abangku yang suka
menantangku melakukan ini itu (LOL), tapi ternyata kok virusnya telah menulariku? LOL.

(Ingat mottoku Bang: enak punya scapegat!!! LOL. LOL.)

PT56
22.25 251107

2 responses so far

Nov 29 2007

My Recent Activities

Published by afemaleguest under daily

Mulai
20 November 2007 aku mendapatkan kegiatan baru setiap hari Selasa,
Rabu, Kamis, dan Jumat pagi hari; yakni memberikan pelatihan Bahasa
Inggris kepada para pegawai di lingkup Bank Jateng Demak. Berhubung
pelatihan diberikan pada pagi hari, pukul 06.30 sampai 08.00 (sebelum
mereka mulai bekerja), aku harus meninggalkan rumah paling lambat
pukul 05.30, karena jarak yang kutempuh lumayan jauh, sekitar 35
kilometer, melewati jalan Kaligawe yang terkenal banjir di kala hujan
turun, dan macet, setiap hari, baik di musim kemarau maupun musim
hujan. Orang-orang menyarankan untuk melewati jalan alternatif jika
turun hujan, sehingga aku tidak akan terjebak banjir di daerah
Kaligawe. Namun tentu saja melewati jalan alternatif ini jarak yang
kutempuh akan menjadi lebih jauh, bisa sampai 45 kilometer.

Sebelum
memutuskan untuk menerima tawaran ini, aku merasa perlu bertanya
terlebih dahulu kepada Angie apakah dia tidak keberatan karena itu
berarti aku tidak akan bisa menyetrika seragam sekolahnya,
menyediakan sarapan sebelum dia berangkat sekolah, dan mengantarnya
ke sekolah. Tatkala Angie bilang, “Oke”, aku baru menerima
tawaran tersebut.

Hari
Selasa 20 November 2007, aku meninggalkan rumah sekitar pukul 05.28,
naik motor kesayanganku. Aku sampai di tempat parkir Bank Jateng
Demak, sekitar pukul 06.13. Pulangnya, gangguan terberat adalah
NGANTUK. Aku memang sering juga merasa ngantuk tatkala naik motor,
tapi waktu itu ngantukku parah banget. dan tubuhku yang sebelum itu
biasa kugenjot untuk berolahraga empat sampai lima kali satu minggu,
ternyata tetap saja terserang rasa capek luar biasa. Ngantuk dan
capek. Very bad indeed.
 

Btw,
waktu mendengar aku datang naik motor, beberapa pegawai Bank Jateng
Demak menyarankanku untuk naik bus saja. Namun, tatkala salah satu
dari mereka yang ternyata temanku sekelas waktu SD, dan mengetahui
aku tinggal di Pusponjolo, dia bilang ada seorang pegawai yang
kebetulan tinggal di Pusponjolo juga, tidak jauh dari tempat
tinggalku, hanya berjarak dua gang. “Kamu berangkat bareng Pak Har
aja Na naik mobil, nanti aku bilang ke dia. Kebetulan hari ini beliau
ga masuk karena sakit.”

A
very nice offer, so aku setuju saja, meskipun agak ragu dengan
kendala macet yang akan kuhadapi dalam perjalanan pulang. Naik motor
jelas ga bakal terlalu terganggu macet karena aku bisa memilih jalan
di pinggir. Kalau naik bus? Namun kupikir menolah tawaran yang
bermaksud baik bukanlah sesuatu hal yang bijaksana.

Semula
kupikir, sepulang dari Bank Jateng Demak, aku masih sempat mampir
sejenak ke Paradise Club untuk berfitness ria sejenak, barang 30-60
menit. Namun pengalaman hari pertama itu ternyata aku ngantuk dan
capek berat membuatku harus merelakan aku tidak akan melakukan
fitness maupun erobik selama tiga hari berturut-turut setiap minggu.
Hari Jumat masih agak mending karena aku masih bisa mampir berenang
seusai mengajar jam 4 sore.

Tanggal
20 November kemarin aku sampai rumah sekitar pukul 09.00, setelah
melepaskan jaket, blazer dan blus, aku langsung menghempaskan tubuhku
ke atas tempat tidur. Gile capek banget.

Sempet ngebayangin orang-orang Jakarta yang setiap hari harus
meninggalkan rumahnya pukul 05.00 berangkat ke kantor. Pulang bisa
sampai rumah pukul 19.00 atau lebih.

I
took a nap around two and a half hours.

Hari
Rabu 21 November aku meninggalkan rumah pukul 05.28, jam yang sama
dengan satu hari sebelumnya, sampai di Bank Jateng Demak pun jam yang
sama, pukul 06.13. Namun untunglah pulangnya aku tidak terserang
mengantuk yang membahayakan jiwaku. (Jalan raya selepas Kaligawe
Semarang sampai masuk ke Jalan Sultan Fatah Demak, aku harus berpacu
dengan kendaraan-kendaraat berat, bus dan truck.) Sepulang dari sana
pun aku tidak capek-capek amat. Waktu listrik mati di rumah, daripada
kegerahan, aku kabur ke bengkel, servis motor dan ganti oli. Para
mekanik yang biasa jadi centil kalau ngeliat cewe cakep datang ke
bengkel (LOL, makanya aku pernah ngajakin Abangku ke bengkel untuk
nemenin, daripada dikecengin para mekanik yang kecentilan itu, namun
tentu saja Abangku ga bisa, he lives far away from me!!!), langsung
menyambutku dengan hangat, “Hello mbak, wah udah lama ga ke sini!”

Yah,
motor terakhir kuservis bulan September kemarin, kan belum lama. Trus
tanggal 31 Oktober kemarin aku juga kesini beli spion karena
peraturan pemerintah memberlakukan bulan November ini sebagai bulan
tertib berlalu lintas memaksaku membeli spion baru. Lagipula ngapain
juga aku sering-sering kesini?”

Jutek
yah nadaku menjawab? LOL.

Ya
nengok-nengok kita lah mbak,” jawab salah satu dari mereka. LOL.

Om,
motor kutinggal yah? Mau ke salon dulu,” pamitku ke Om si empunya
bengkel.

Sore
hari Pak Har, pegawai Bank Jateng Demak yang katanya adalah
tetanggaku menelpon, bertanya dimana tepatnya aku tinggal, dan
janjian keesokan harinya dia akan menjemputku jam berapa.

So,
hari Kamis 22 November dan Jumat 23 November 2007 aku berangkat
bareng Pak Har. Berangkatnya enak, pulangnya terpaksa terkendala
macet. Hari Kamis aku sempet kesel dan jadi ragu lebih enak naik
motor—namun capek dan terlalu riskan tatkala aku mengantuk—karena
jam 9 aku masih terhalang macet di daerah Sayung, sebelum masuk ke
pertigaan antara Demak, Tlogosari, dan Terminal Terboyo. Padahal
biasanya jam 9 aku sudah sampai rumah. Hari itu aku baru nyampe rumah
pukul 10.30! Hari Jumat, untunglah macetnya ga keterlaluan, aku
sampai rumah pukl 09.45.

Komentar
my dearest Mom tentang kegiatan baruku, mengajar pagi-pagi di Demak?

Mami
malah lebih suka mbak Nana dinas pagi-pagi gitu, agar Angie belajar
mandiri. Seragam disetrikain. Sarapan aja yang ngambilin mboknya,
trus disuapin. Setelah itu diantar ke sekolah.” Weleh … LOL.

FYI,
kegiatan ini akan berlaku sampai tiga bulan ke depan. Aku masih
berpikir kira-kira siapa yang bersedia menggantikanku tatkala aku
menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan oleh Unika
Soegijapranata sok 16-17 Januari 2008.

PT56
22.02 251107

No responses yet

Nov 17 2007

Ngurus SIM

Published by afemaleguest under daily

Selasa 6 November 2007 aku ninggalin rumah sekitar pukul 08.30 menuju
kantor SATLANTAS Semarang yang terletak di Jalan Letjen Soeprapto
kawasan Kota Lama yang terkenal (atau tercemar?) banjir tiap musim
hujan datang.
“Ngapain ke SATLANTAS Na?”
Ngurus SIM.
“Emang
masa berlaku SIM-mu habis? Ini kan bulan November, sedangkan ulang
tahunmu bulan Agustus. Harusnya kalau habis ya bulan Agustus kemarin
diurus?”
Well, ceritanya begini. Aku kecopetan dompet satu hari
bulan September 2002 (LIMA TAHUN LALU!!!) tatkala aku turun dari bus
PATAS NUSANTARA di terminal Jombor. Selain sejumlah uang, yang ada di
dalamnya SIM, KTP, dan kartu anggota JAMSOSTEK. Yang lain, aku sudah
lupa. Maklum five years has gone. 
Karena kesibukanku riwa riwi
(atau wira wiri yah?) Semarang Jogja Semarang sampai aku lulus tahun
2005, aku males banget ngurus SIM baru lagi. Sedangkan KTP kan gampang,
tinggal memberi sejumlah uang kepada karyawan Kelurahan, aku bisa
mendapatkan KTP baru.
“Aku ga kuliah di luar kota aja males mbak
kalo ngurus SIM, karena birokrasi yang complicated,” kata seorang
teman, memberiku dukungan. LOL.
Tahun 2005 pertengahan aku sudah
sering berada di Semarang sebenarnya, dan sibuk bekerja lagi, dan
lumayan sering “mobile” menaiki sepeda motor, tapi dasar aku LELET,
ngurus SIM pun males banget. Kebetulan juga aku bukan tipe orang yang
suka kelayapan. Seperti yang pernah kutulis di post sebelum ini,
kegiatanku hanya ngantar Angie sekolah, ke kantor, ke PC fitness center
dan ke warnet yang kebetulan tempatnya berdekatan satu sama lain.
Kadang ya was was juga ketika aku melakukan ‘perjalanan’ yang tidak
biasa, misal, mengunjungi Julie yang tinggal di daerah Citarum ataupun
Yulia yang tinggal di daerah Klipang (jauuuhhhhh banget dari tempat
tinggalku!!!) ketika kebetulan mereka berdua pulang ke Semarang. But,
semenjak pertengahan 2005 itu, aku “cuma” sekali “ketangkap” patroli
polisi ketika satu hari Minggu aku lewat Kampung Kali (Jalan Mayjen
Sutoyo) sekitar pukul 14.00, setelah membantu AFS Chapter Semarang
untuk mengadakan seleksi di SMP N 3 yang terletak di kawasan tersebut.
Sekitar bulan Juni/Juli 2007 yang lalu.
Kembali ke hari Selasa 6
November 2007. setelah muter-muter mencari jalan yang tidak banjir,
akhirnya aku mengalah, harus melewati banjir. Aku tidak tahu nama
jalannya, namun berlokasi setelah jalan Merak (yang direncanakan
sebagai lokasi CITY WALK), belok kanan. Ini dia foto jalan yang
dipenuhi dengan air banjir sebelum kulewati dengan nekad. :)

Masuk
ke Jalan Letjen Soeprapto dari arah Timur (memang hanya satu arah),
banjir masih menggenangi sebagian jalan itu. Untungnya di depan
SATLANTAS, air sudah surut. Waktu memarkir motor, seseorang memakai
seragam biru tua (blue black) yang berkeliaran di pelataran parkir
menyapaku, “Mau ngurus apa mbak?”
“SIM Pak. SIM saya hilang.” Jawabku.
“Mau saya bantu?” tawarnya.
Aku diam saja. Aku ingin mencoba mengurus sendiri.
Loket pertama yang kudatangi adalah loket INFORMASI. Seorang pegawai menanyaiku, “Ada apa mbak?”
“Mau ngurus SIM Pak. SIM saya hilang.”
“KTP dan surat kehilangan dari Poltabes,” katanya.
Aku langsung menyerahkan kedua hal yang diminta itu kepadanya.
“Tunggu ya mbak? Silakan duduk dulu.” Katanya lagi.
Waktu
duduk-duduk menunggu (di halaman, tidak di dalam sebuah gedung), aku
melihat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO. “Just wait and see
what will happen today,” kataku dalam hati.
Lihat gambar di bawah ini.

Sekitar
15 menit kemudian, aku dengar namaku disebut, lengkap dengan nama fam
PODUNGGE. (orang itu tidak salah membacanya! :)) aku mendekati loket
informasi itu lagi.
“Ngurus SIMnya terlambat ya mbak?” tanya orang yang sama.
“Terlambat?” tanyaku balik.
“SIM mbak berlaku sampai tahun 2004. berarti mbak terlambat 3 tahun mengurusnya  Harus diuji ulang lagi.” Katanya.
W A D U H…   
“Emang hilangnya kapan?” tanyanya.
“Tahun
2002 Pak, dan saya lupa masa berlaku SIM saya itu sampai tahun berapa.
Tapi memang baru kemarin saya mengurus surat hilangnya di Poltabes.”
“Berarti mbak harus diuji ulang. Seperti mengajukan SIM baru lagi.” Katanya.
Uji
ulang? Aku ingat di tahun 1984 dulu waktu my dear late Dad menguruskan
SIM buatku, setelah beliau membelikanku sebuah sepeda motor baru,
hadiah diterima di SMA N 3 Semarang, sekolah negeri terfavorit, beliau
mengantarku ke SATLANTAS, menungguiku yang sedang ujian teori di sebuah
ruangan. Di luar hujan, dan beliau (dengan seorang teman yang
“menjembatani” antara my dear Dad dengan pihak kepolisian) harus
berdiri di “tritisan” (what is it called in Bahasa Indonesia? LOL) agar
tidak terkena tetesan air hujan.
Setengah bengong aku menerima
secarik kertas yang diulurkan oleh si Bapak di loket “Informasi” itu.
Dia mengatakan, “Sepuluh ribu.”
Meskipun aku tidak jelas uang itu
untuk apa, karena tidak ada kuitansi yang jelas, aku berikan juga uang
sepuluh ribu kepadanya. Di sebuah lembaran kertas yang dia ulurkan,
tertulis dataku sebagai pemilik SIM C, yang dikeluarkan pada tahun
1999. Aku berpikir apakah uang sepuluh ribu rupiah itu untuk membayar
jasanya mencarikan dataku di komputer? Padahal dengan sistem
komputeriasi, mencari data merupakan suatu hal yang sangat mudah,
tinggal satu KLIK, keluarlah data yang kita butuhkan. (Seperti
seseorang yang mencari dataku di internet, tinggal ketik NANA PODUNGGE
di search engine, kemudian KLIK, voila … akan keluarlah segala hal
yang berhubungan dengan NANA PODUNGGE. Apa susahnya?”) Kemudian dia
tinggal ngeprint. Apa sulitnya?
But … yah … orang bilang
SATLANTAS merupakan gudang “uang-uang yang berpindah tangan tanpa
keterangan yang jelas” so … ya mohon dimaklumi.
Dari loket
informasi, aku ke loket pembayaran, yang ternyata aku diminta untuk
membayar Rp 20.000,00 untuk cek kesehatan. Ada kuitansi yang jelas
untuk ini.
Dari situ, aku ke Poliklinik untuk cek kesehatan.
Apa
yang terjadi di Poliklinik? Tekanan darahku dicek, kemudian juga mata,
untuk mengecek apakah aku buta warna. Kemudian sedikit wawancara,
apakah aku memakai kacamata, kalau iya apakah minus atau plus. That’s
all. Kemudian aku diminta ke ruang I yang terletak di sebelah ruang II.
LOL.
Sesampai di sana, kusodorkan berkas-berkas yang kubawa (surat
kehilangan dari Poltabes, KTP, satu lembar data yang kudapatkan dari
loket informasi, dan surat keterangan kesehatan dari poliklinik) kepada
seorang polwan yang duduk di balik counter. Setelah sekilas melihat
data yang menunjukkan aku terlambat mengurus SIM, polwan itu
mengatakan, “Ini harus diuji ulang mbak.”
“Iya. Saya harus kemana?” tanyaku.
“Ke ruang ujian teori. Yang menguruskan siapa?” tanyanya.
“Saya
urus sendiri,” jawabku pede. Sembari teringat tulisan HINDARI
PENGURUSAN SIM MELALUI CALO, mengapa polwan itu bertanya, “Yang
menguruskan siapa?”
Aku lupa memperhatikan rona wajah sang polwan
mendengar jawabanku tadi. Kemudian dia menyerahkan selembar formulir
yang harus kuisi, formulir permintaan SIM baru (satu halaman bolak
balik), dan memintaku membayar seribu rupiah. Sebagai ganti fotocopy
formulir? LOL. Kok mahal amat? LOL.
Setelah itu aku menuju ke
ruang ujian teori. Well, meskipun fisik gedung telah mengalami
perbaikan di sana sini, letak ruang ujian teori masih tetap di lokasi
yang sama dengan waktu aku mengajukan SIM pertama kali tahun 1984. Aku
masuk ke sebuah ruangan yang ada tulisan “Ujian teori”. Aku serahkan
semua berkas yang kubawa (setelah aku mengisi formulir pendaftaran SIM)
kepada seseorang yang duduk di balik sebuah meja.
“Yang ngurus siapa mbak?” tanyanya.
Nah lo! LAGI!!!
“Saya urus sendiri Pak, “ jawabku.
“Mau ikut ujian teori?”tanyanya.
“Lah, bukannya wajib?” tanyaku sendiri di dalam hati. Untuk menjawab pertanyaan orang itu, aku hanya menganggukkan kepala.
“Kalau tidak lulus, mbak harus ngulang lagi 14 hari sesudahnya.”
Weleh, repot amat? Komplainku dalam hati (lagi).
“Ya!”
jawabku, sambil mengira-ira, soal-soalnya seperti apa ya? Traffic
signs? Aku ga hafal semua dong ya.  but aku penasaran, pengen lihat
soal-soalnya seperti apa.
Kemudian orang itu mengantarku ke ruang
sebelahnya, yang kutengarai sebagai tempat dilakukannya ujian teori
(aku salah masuk berarti tadi!!!) Tidak banyak orang yang duduk di
ruangan ber-AC itu. Sekitar lima atau enam orang. Sementara itu aku
melihat beberapa orang berseliweran keluar masuk. Di antara orang-orang
itu, aku sempat mendengar seseorang mengatakan, “Habis ini kamu bisa
langsung ke tempat pas foto. Gampang kan? Ga perlu repot-repot.”
Aku
ingat Mita, salah satu sobat Angie, yang ayahnya polisi. I should have
asked his help? But aku pun penasaran untuk mengikuti “semua prosedur”
yang harus kutempuh, ujian teori, ujian praktek, dll. Tahun 1984 dulu,
untuk ujian praktek aku langsung GAGAL (LOL) karena baru belajar naik
motor waktu itu. But karena ada yang menguruskan (a workmate of my dear
Dad), ya ujian teori dan praktek itu hanya untuk “syarat” saja.
Sekarang kan aku sudah jauh lebih lihai naik motor dibanding 23 tahun
lalu itu? Masak aku ga lulus ujian praktek?
But ada satu pemikiran
juga jangan-jangan sistem telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
ada orang yang memilih ikut ujian resmi (yang berarti tidak ‘nembak’)
yang lulus, sehingga semua orang akhirnya (terpaksa) mengikuti aturan
main yang di’baku’kan?
Setelah menunggu selama kurang lebih 30
menit, tanpa jelas apa yang kutunggu, seseorang dengan wajah yang
lumayan cute (boleh ngelaba kan? Wakakakaka …) memasuki ruangan, dan
memanggil namaku.
“N Podungge?”
Aku acungkan tanganku. Dia memberi tanda agar aku mendekatinya ke sebuah meja panjang yang terletak di dekat sebuah tembok.
Bla bla bla …
Aku setuju dengan pertimbangan:
Pertama, pemikiran (atau kekhawatiran) yang kutulis di atas.
Kedua,
efisiensi waktu, agar aku bisa segera melakukan aktifitasku yang lain,
misal nongkrong di depan desktop di rumah, nge-game maupun nulis buat
blog, preparing material for teaching, dll.
Aku serahkan sejumlah uang yang tiga kali lipat “harga” yang ditulis besar-besar di loket pembayaran untuk mengurus SIM baru.
Setelah itu, the cute guy memintaku menunggu, sementara dia melakukan ‘prosedur’ yang aku yakin telah ‘dilegalkan’.
Aku
harus menunggu lagi. Kukeluarkan Jurnal Perempuan nomor 50 dengan topik
PENGARUSUTAMAAN GENDER, dan mulai membaca. Aku sempat membuka
percakapan dengan seorang perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatku
duduk
“Mengurus SIM Bu?”
Dia menjawab menggunakan boso Jowo
Kromo yang tidak begitu susah bagiku untuk memahaminya, namun sulit
untuk meresponsnya karena keterbatasan kosa kata yang kumiliki.  Dia
mengurus SIM untuk adiknya. Dia bahkan harus mengeluarkan uang yang
lebih besar daripada aku. namun dia nampak tidak keberatan sama sekali.
“Daripada ngurus sendiri mbak, bingung, ga tahu kemana ngurus ini itu.
Biar sajalah diurus orang, kebetulan tetangga.” Katanya.
Kurang
lebih tiga puluh menit kemudian, the cute guy appeared, memanggilku dan
aku kembali mendekatinya, dan kita berbicara di tempat yang sama, ada
meja panjang yang membatasi kita berdua. Dia melihat JP yang ada di
genggamanku dan bertanya,
“Buku apa mbak?”
Aku sodorkan buku itu.
“Mbak aktivis ya?” tanyanya.
“Engga. Eh, belum. Saya cuma suka menulis,” jawabku.
Dan
obrolan kita ternyata menjadi lumayan panjang, terutama tentang para
perempuan yang tidak sadar haknya (di satu daerah yang dia sebut,
terjadi kawin cerai dengan mudahnya, dan sang mantan suami tidak
mempedulikan kesejahteraan anak-anak yang dilahirkan. Para perempuan di
sana males mengurus itu, karena tidak tahu bagaimana mengurusnya, siapa
yang akan membela mereka, karena mereka tidak punya uang, membuat
anak-anak ditelantarkan), poligami, dll.
Seusai ngobrol, the cute
guy menunjukiku ruangan tempat pas foto yang terletak tidak jauh dari
loket informasi. After saying “thanks” kepadanya, aku ke ruangan pas
foto.
Lima belas menit kemudian SIM ku jadi. Jauh lebih cepat
dibanding 8 tahun yang lalu karena aku harus balik lagi ke SATLANTAS
hanya untuk pas foto, karena tidak bisa dilakukan di hari sebelumnya.
It took around two days to get a driving license at that time, meskipun
hanya mengurus perpanjangan.
Sistem komputerisasi memang telah menyingkat banyak waktu yang tak perlu. Kapankah sistem yang “legal” benar-benar dijalankan?
“This is INDONESIA, Nana!!! Face the reality!!!”
PT56 12.35 071107

No responses yet

Nov 15 2007

Keyword: NANA PODUNGGE (2)

Published by afemaleguest under daily

I have been amused by the ‘keyword’ in ‘View My Stats’ facility in my blog (read the previous post) for several weeks, knowing that some people want to find out about me and then just type NANA PODUNGGE in www.google.com or other search engine. This evening I tried to do it by myself (not because I am a narcissist, though I admitted like that to my Abang LOL), but I was just curious what kind of results I would find if I did some googling on that nick of mine.
And I got dumbfounded when finding out someone named KEVIN "bothered" himself to do some interpretations of what I have written, it is even much farther serious than what Fatih Syuhud wrote in his blog (by giving me an honor to put me in number 40, of the whole bloggers from Indonesia). Check this site:

http://pub13.bravenet.com/forum/1108592048/show/715271

Read it carefully (if you care anyway LOL). The discussion reminded me of a "silly thing" I did when I was in elementary school, doing some ‘foretelling’. It told me that I would be very talented in philosophy things. Of course it was an ‘alien’ thing to me back then. And Kevin honorably mentioned my questions, or whatever it is, as philosophical.
Well, so, what did it tell me?
I just love that other people "have done some studies" on me, especially on my writing. This is really incredible to know. FOR MYSELF of course. :)
KPDE 20.52 151107

No responses yet

Nov 15 2007

Keyword: NANA PODUNGGE

Published by afemaleguest under Weblogs

Di antara sekian banyak pernak pernik yang bisa ditambahkan ke dalam
suatu blog oleh si pemilik blog adalah fasilitas untuk menghitung
pengunjung atou disebut juga counter. Untuk ini seorang blogger
memiliki beberapa pilihan, misal www.doneeh.com www.statcounter.com
www.amazingcounter.com dan beberapa yang lain. Kebetulan untuk blog-ku
di
http://afeministblog.blogspot.com dan
http://serbaserbikehidupan.blogspot.com aku menggunakan
www.statcounter.com
Meskipun hobby blogging, aku sendiri tidak
begitu memperhatikan fasilitas-fasilitas yang telah kupajang di blog,
selain hanya untuk sebagai pemanis tampilan blog. Suatu hari, beberapa
bulan yang lalu, Abang bertanya kepadaku mengapa aku tidak menambahi
asesori nama-nama kota atau negara para pengunjung blog-ku. Aku pernah
melihat fasilitas sejenis ini di www.neocounter.com kalau tidak salah
dan aku pernah pula mencobanya. Namun ternyata it didn’t work well, aku
yang bego kali sehingga fasilitas tersebut ga bisa berfungsi dengan
baik. 
Tatkala aku sedang menjelaskan panjang lebar tentang
kegagalanku memasang www.neocounter.com di blog (yang juga akhirnya
kuketahui fasilitas ini tidak gratis, jadi harus membayar sejumlah uang
agar fasilitas tersebut berjalan dengan baik), Abang justru telah
menemukan bahwa di balik ikon—or whatever it is called—View My Stats
dari www.statcounter.com pun menunjukkan negara, kota, bahkan IP
address para pengunjung blog. Wah … Semenjak itu pun aku rajin ngecek
di ‘View My Stats’ dari negara dan kota mana saja para pengunjung blog
datang. Bahkan masih banyak fasilitas lain yang disediakan oleh
www.statcounter.com mulai dari “popular pages” (sehingga aku tahu
artikel mana yang paling sering dibaca orang), sampai “where from”. Ada
petunjuk dari mana sajakah seorang pengunjung “menemukan” blogku.
Hari
Sabtu 3 November kemarin aku iseng ngeklik “where from” di balik ikon
‘View My Stats”, dan kutemukan pada tanggal tersebut ada lima kunjungan
ke blog (di afeministblog.blogspot.com) berasal dari www.google.com
dengan keyword: NANA PODUNGGE. Aku memandangnya dengan rasa tidak
percaya. Lha kok sama dengan tatkala aku mencari data tentang Charlotte
Perkins Gilman, dan kuketik namanya sebagai keyword di search engine.
Without my awareness, ada orang yang ngefans padaku..LOL. Orang
tersebut mencari data tentangku lewat google dengan mengetikkan namaku.
Maklum, narsis, so ya heboh gitu deh. LOL. Padahal nama PODUNGGE
termasuk sulit diingat, menurutku, berdasarkan pengalaman di masa kecil
waktu my late Dad sering menerima surat dengan nama fam yang salah
ditulis. PODUNGGE bisa menjadi PONGGE (menghina amat yah? ‘Pongge’ kan
nama isi buah durian dalam boso Jowo? LOL), bahkan pernah menjadi
PADUKONE. FYI, waktu itu pemain bulutangkis Prakash Padukone dari India
masih terkenal. Lah, emang keluargaku memiliki darah India? LOL.
Tatkala
kuklik NANA PODUNGGE yang nongol di balik “View My Stats” itulah
kemudian aku menemukan blog milik Fatih Syuhud (if I am not mistaken to
remember his name LOL) yang mem-feature-kan blogku di blognya. Kalau
mau nyoba apa aja yang bakal nongol setelah kamu ketik NANA PODUNGGE di
search engine, coba aja deh ya. 
FYI, mungkin di dunia ini hanya
ada satu NANA PODUNGGE yang berkeliaran di dunia maya. My dear Mom
pernah bilang kalau salah satu sepupu yang tinggal di Gorontalo ada
yang diberi nama sama denganku, sekaligus nickname yang sama, NANA.
Namun karena dia tidak (atau belum) mencoba meninggalkan jejaknya di
dunia maya, yang akan kamu temukan setelah mengetik NANA PODUNGGE di
search engine, yang muncul tentu saja data-data tentangku, mulai dari
alamat blogku, data di Friendster, dll.
Aku memang merasa hidupku
(saat ini) tidak bisa dipisahkan dari blogging, meskipun dengan begitu
aku meninggalkan jejak di dunia maya, dan hidupku pun tak lagi
benar-benar private (kata Abang orang yang blogging itu kayak orang
yang ngomong sendiri, kurang kerjaan amat. Aku bilang, justru itulah
yang kubutuhkan, I need to express myself, aku membutuhkan suatu media
untuk menyalurkan cara berpikirku yang masih dianggap kurang lazim di
komunitasku. Dan blog is the best media for that.) Jika ada orang yang
menyukai menggunakan nickname (misal: ‘pink rose’, ‘ferror’ dl) untuk
nama di blognya, karena tetap ingin menyimpan identitas dirinya dengan
rapi, aku memilih menggunakan nickname yang diberikan oleh my dear
parents sejak bayi, yang juga biasa dipakai di tempat kerja. Aku juga
menyediakan diri untuk berdiskusi bagi mereka yang mendukung maupun
menentang ide-ide yang kukemukakan di blog, langsung melalui komentar
di blog, maupun lewat email. Aku ingin orang merasa berdiskusi dengan
seseorang yang bernama NANA, yang benar-benar nyata ada, dan bukan
seorang (atau sebuah?) pink rose. :)
PT56 23.10 061107

No responses yet

Nov 03 2007

Sabtu 3 November 2007

Published by afemaleguest under daily

Aku lupa cerita how to stumble on one blog waktu aku sedang browsing, and found I WAS FEATURED by one blogger of Indonesia. Here is the URL:

http://fatihsyuhud.com/2007/09/07/blogger-indonesia-of-the-week-40-nana-podungge/

And below is what he wrote about me:

Blogger Indonesia of the Week (40): Nana Podungge

Posted on September 7, 2007
Filed Under Blogger of WeekIndonesiaFatih SyuhudBlogger Indonesia

 

Notes of an Indonesian Feminist Blogger

If there’s a topic which is classic and everlasting it’s feminism.
Feminism becomes a talking point since time immemorial because feminism
does not only connote to a name of a gender, the opposite of male, the
offsprings of Eve and the spouse of Adam. It also means mother of
humanity without whom we, boys and girls, will never exist. Feminism
can also mean struggle of women to achieve what they call “men
discriminatory behaviour against women.”

The struggle towards freedom from men’s oppression; towards equality in
terms of life, education, rights to choose whatever path they want to
take, rights to be treated with respects by men, and many other things.
You name it.
Men
with strong common sense will certainly agree with what women have been
campaigning for all along in regard to feminism. Yet, like many other
struggles and discourses, the purpose and meaning of feminism could be
interpreted in many different ways including by women themselves.
Different background and upbringing, level of education, diversity in
geography and culture would ensure and shouldn’t suprise anyone to see
the diverse opinion and school of thought on how far the feminism can
and would go.
 

Nana Podungge’s– as a self-proclaimed feminist–opinions in her blog, therefore, should be read in this context.

For her, like any feminist, in fact as interpreted by many men as
well, the paradigm of feminism is crystal clear that “… women are
created equal to men, in all facets of life.”

When discussing and interpreting the nitty-gritty, however, the
different interpretation start to surface even among the feminists
themselves. In other words, if you, male or female, do not agree with a
feminist on a particular issue, for example, it does not mean that you
are not a feminist yourself or against the feminism.

What feminists ara trying to achieve in the long term? She has no doubt responding

…patriarchy has dominated this world since time
immemorial, of course, we need a very long time to create a more equal
community, not just in one decade, two decades, or even a century. It
needs a daring and tireless effort from people who are concerned with
that.

As far as Indonesia is concerned, she thinks feminism goes too slowly, because

Many men still are not ready to accept the fact that
women are created equally with them, and they are supposed to work hand
in hand to create that happiness for the two parties.

She’s also disappointed that Indonesian women themselves contribute in one way or another to that assumption in which she says

Even, many women still think that they are created to be
inferior, that men were created to be leader while women follower; men
the decision maker while women do the decision made; men the strong
while women the weak; that men protector while women protected, etc.

Many interesting stuff she wrote in her blog, not only she’s so
candid in telling stories and opinions but also is very frank from an
Indonesian women standard. Agree or disagree aside, we have to
acknowledge her honesty in expressing what she like to talk and her
bravity in showing her true identity which, in my opinion, adds to her
credibility.

—————————————————————————————————

Look at the way he compiled what I wrote in some articles spread along my blog. He indeed need special time to read many articles of mine there and then wrote the above post.

I do hope that what I have written (and I will write) really enlighten many people who drop by and read my posts and then tell their friends, to enlighten them too.

What a nice day today after my Abang ignored me.

A-NET 22.10 031107

No responses yet