Oct 22 2007

My dear Motorcycle

Published by afemaleguest at 5:55 am under daily

Aku
super heran dengan motorku yang rada ajaib (kayak yang punya kali.
LOL.) Gimana ga heran, setahun yang lalu, tak pernah kubawa ke
bengkel sekalipun, namun tak pernah sekalipun dia membuatku repot,
karena mogok misalnya. Busi pun ga pernah kuganti. Sakti kan? LOL.
Paling-paling yah … cuma nambah angin untuk bannya.

Nah,
sekitar bulan Juli lalu motor akhirnya kubawa ke bengkel setelah
beberapa minggu sebelumnya sempat mogok sejenak, meskipun setelah
kuganti businya dengan yang baru, motor langsung hidup lagi, dan
dengan setianya mengantarku kemana-mana lagi. Akhirnya motor kubawa
ke bengkel setelah adikku ngomelin aku, “Kamu tuh kebangeten.
Motormu setia banget padamu, kamu cuma mau menaikinya doang. Tapi ga
mau membawanya ke bengkel.” (Udah untung yah aku mau menaikinya?
Berapa banyak orang yang ngantri minta kunaiki tapi kucuekin?
Wakakakaka … Ssssssttt .. dilarang parno meskipun bulan Ramadhan
telah usai. LOL).

Setelah
bulan Juli yang lalu, awal bulan September kemarin motor kubawa ke
bengkel lagi, karena kebetulan ban luar roda belakang perlu diganti,
sekaligus servis dan stroom accu.

Kalau
dihitung-hitung, motor perlu kubawa ke bengkel lagi paling cepet
bulan November lah kupikir, karena motor jarang kunaiki ke satu
tempat yang jauh. (aku bukan tipe orang yang suka keluyuran
kemana-mana. Kegiatanku setiap hari hanya mengantar anak semata
wayangku ke sekolah, menjemputnya, trus ke kantor. Jarak rumah ke
sekolah Angie, sekitar 3 km. Jarak rumah ke kantor juga cuma sekitar
3 km. Oh yah, selain itu, ke Paradise Club fitness center, mungkin ya
sekitar 3-4 km. Warnet tempatku online untuk blogging, milising, dan
chatting dengan Abangku seorang juga berada di daerah yang sama.)
Namun ternyata perhitunganku meleset.

Hari
Kamis sore 18 Oktober 2007 sekitar pukul 18.15, seusai berenang,
motorku mogok dalam perjalanan pulang. Aku yakin pasti businya harus
diganti karena sekitar 10 hari sebelumnya, waktu hujan turun deras,
aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, sempat terjebak
banjir. Mungkin busi kena cipratan air waktu itu. Cukup ajaib pula
kalau ternyata motorku masih bisa bertahan selama kurang lebih 10
hari setelah kejadian terjebak banjir itu.

Setelah
menuntun motor (bayangkan, aku kalah gede dibandingkan motorku LOL),
selama kurang lebih 2 km (bayangkan lagi, aku memakai rok panjang
hitam, jaket yang lumayan tebal, sandal jepit, plus tas punggung
berisi baju berenang, handuk, dll), akhirnya aku menemukan sebuah
bengkel buka. Alhamdulillah … Tanpa ba bi bu, aku langsung bilang
ke pemilik (atau pegawai … atau apalah) bengkel, “Busi Pak…”

Si
pemilik segera mengambilkan busi dan menyerahkannya kepadaku.

Aku
tidak mengatakan apa-apa selain menunjuk ke arah motorku. Dia
langsung bertanya, “Sekalian dipasang?”

Iya
…” wah … not a bad body language, eh? LOL.

Setelah
busi diganti, motor langsung bisa nyala setelah distarter. Syukurlah

*****

Namun
tiba-tiba motorku ga mau distarter lagi keesokan harinya, Jumat 19
Oktober 2007 seusai aku ngenet (sepulang dari kantor). Si Bapak
pemilik warnet yang (ternyata) baikan, langsung menawarkan jasa untuk
menstarterkan motor, dengan alasan, “Eman-eman sepatunya mbak,
kalau dipakai untuk starter motor nanti cepat rusak.” (FYI, aku
memakai sepatu boots hitamku yang memiliki hak setinggi (cuma) 5 cm.)
Namun ternyata jasa baiknya tidak disambut baik oleh motorku yang
sedang ngambek (kayak Abangku yang sedang ngambek saat ini. LOL.)
Mesin motor tetap saja ga mau nyala meskipun telah ada 3 orang yang
membantu menstarternya. Busi juga dicek lagi, meskipun aku sudah
bilang kalau busi barusan ganti satu hari sebelumnya.

Aku
yang merasa ga enak karena ngerepoti banyak orang, akhirnya bilang,
“Sampun Pak, dalem beto wonten bengkel kemawon. Wonten bengkel
caket mriki to nggih?” Kebetulan memang letak warnet yang satu ini
dekat dengan bengkel tempat aku membeli busi satu hari sebelumnya.
Akhirnya si Bapak itu mengalah, ga lagi ngotot untuk bisa membuat
mesin motorku nyala. LOL.

But
… it was not my lucky day.
:(

Abangku ngambek, motor ngambek, eh, bengkel ngambek pula, LOL, alias
tutup. Aku langsung berinisiatif menuntun motor ke arah rumah, karena
seingatku sepanjang jalan Indraprasta itu ada beberapa bengkel.
Bayangkan keadaanku waktu itu, memakai rok panjang hitam, blazer
hitam, kalung pemberian anakku tersayang, sepatu boots berhak 5 cm,
membawa tas punggung mungil berisi the cutie, buku, dll. Dalam
perjalanan, aku ternyata sempat “menarik perhatian” beberapa
orang. Ada dua orang laki-laki yang dengan sengaja berhenti,
menyapaku, “Mogok mbak?” dan dengan sok pahlawan menawariku untuk
melakukan sesuatu. LOL. Misal: mencoba menstarterkan motor, ngecek
busi, nanya apakah aku bawa peralatan di bawah jok motor. Setelah
gagal, mereka menawariku untuk mendorong motorku. Caranya begini,
motorku dan motornya berjalan bersisian. Dia akan menarik motorku
sembari menaruh kakinya di knalpot, atau bagaimanalah, yang penting
motorku mau jalan, tanpa aku menuntunnya. Namun dengan simple
kujawab, ”Waduh … kulo mboten wantun menawi ngoten.” Akhirnya
mereka (keduanya menawari hal yang sama, dalam waktu yang berbeda.
Heran, kok mereka bisa punya ide yang sama yah?) pun meninggalkanku
sembari bilang, “Nyuwun ngapunten mbak nggih, kulo tak rumiyin…”
dengan sorot mata yang kuterjemahkan, “I do want to help you, but I
cannot.” LOL.

Dan
aku pun heran ternyata masih ada juga orang yang baik hati begitu?
Atau aku memang terlalu merasuk ke dalam my individualistic lifestyle
sehingga perlu merasa heran dan hostile tatkala ada orang asing
menawarkan jasa baiknya kepadaku?

Dalam
perjalanan pulang masih banyak orang yang menyapa, “Mogok mbak?
Bisa saya bantu?” namun aku cuma tersenyum (entah manis entah pahit
entah kecut LOL) sembari meneruskan perjalanan. Well, kira-kira aku
berjalan sembari menunton motor sekitar 2 km. Capek sih engga, tapi
yang kukhawatirkan adalah telapak kakiku yang mungkin akan lecet
karena aku memakai high-heeled boots. Betapa lega ketika aku sudah
memasuki kompleks Pusponjolo. Lebih lega lagi setelah sampai rumah
tentu.
dan ternyata telapak kakiku
ga lecet. Kalau lecet repot lah ke kantor. Sepatu ketsku yang
berwarna hitam rusak, yang ada cuma high-heeled shoes plus boots,
yang tentu akan semakin memperparah lecet.

Sekarang
hari Sabtu 20 Oktober 2007 pukul 19.20. Aku belum sempat bawa motor
ke bengkel. Tadi pagi ngajar pukul 08.00-12.00, aku dipinjami motor
adikku terkecil yang kebetulan ga pergi kemana-mana. Setelah pulang,
makan siang, aku berangkat lagi ke kantor naik bus. Jadi bernostalgia
waktu sering pulang pergi ke Jogja.

Pulang
dari kantor naik bus. Waktu turun dari bus, memasuki jalan Pusponjolo
Tengah aku memang berniat untuk jalan kaki saja, ga naik becak (waktu
berangkat aku ya jalan kaki), lumayan berolah raga, jalan kaki kurang
lebih 10 menit naik high-heeled boots. LOL. Namun, waktu turun dari
bus, seorang tukang becak menawariku, aku langsung menggelengkan
kepala, sembari bilang, “Mboten Pak…” pas waktu itu aku menatap
matanya, dan kulihat sinar kekecewaan di sana.

Aduh … Tapi masak setelah bilang, “Mboten Pak…” aku balik
lagi dan meralat, “Nggih pun Pak…” kok aku ya merasa ga nyaman?
Kok jadi plintat plintut? (Betapa aku memang sering merumitkan
masalah yang sebenarnya ga rumit-rumit amat. :) )
Walhasil, selama berjalan sampai rumah, di pelupuk mataku terus
terbayang sorot mata dengan sinar kekecewaan itu. I was unhappy. :(

PT56
19.40 201007




Comments RSS

Leave a Reply