Oct 23 2007

Lebaran 2007

Published by afemaleguest at 6:34 am under Religion

Seperti tahun lalu, tahun ini Muhammadiyah memutuskan Hari Raya Idul
Fitri jatuh satu hari lebih cepat daripada yang diputuskan oleh
pemerintah. Dan karena keluargaku—my dearest Mom and my siblings,
including my late dad—adalah alumni sekolah Muhammadiyah, kita
sekeluarga pun melakukan shalat Idul Fitri pada hari Jumat 12 Oktober
2007. Di bawah ini adalah foto-foto sewaktu shalat Id di lapangan
tennis Jalan Pamularsih Semarang.




Jika
tahun lalu kakakku dan istrinya sudah ada di Semarang, tahun ini mereka
berdua melakukan shalat Id di Cirebon, baru kemudian ‘mudik’—bagi
kakakku tentu untuk memenuhi panggilan ‘primitif’nya atas masa
kanak-kanaknya yang dia habiskan di Semarang bersama adik-adiknya—ke
Semarang. Kebetulan istrinya berasal dari Cirebon sehingga tidak perlu
mudik ke kota lain.
Sepulang dari shalat Id, aku, mom, kedua
adikku, plus Angie mampir ke pasar Krempyeng di ujung Jalan Pusponjolo
Selatan. Suasana pasar cukup ramai, banyak penjual janur dan selongsong
ketupat. Harga-harga yang naik hampir 50% dari satu hari sebelumnya
tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk berbelanja untuk menyambut
Lebaran.
Sepulang dari pasar (FYI, mom helped by my sister and me
cooked opor etc on Thursday), kita sekeluarga tidak pergi kemana-mana,
seperti masa kecilku dulu, Lebaran kita ngendon di rumah saja. Cuma
dulu aku dan kakak beserta adik suka duduk-duduk di ruang tamu
ngeliatin orang-orang yang lalu lalang, kali ini aku ngendon di kamar
melulu, bercinta dengan my dearest desktop.  Seandainya warnet
langgananku buka, tentu aku akan mengajak Angie ngenet. 
Selepas
Maghrib, suasana di Pusponjolo mulai ramai dengan suara takbir dan
bedug yang dipukul bertalu-talu, banyak orang larut dengan kegembiraan
bertakbir, menyambut kedatangan hari yang paling ditunggu selama bulan
Ramadhan. Angie dan adikku ikut nonton dari teras depan rumah.

Aku
tetap ngendon di kamar, ngebut balesin email Abang yang telah ngendon
di desktop sejak dua bulan lalu. (Karena kesibukanku ngikut lomba blog
bulan Agustus kemarin, emailnya pun tersingkir dengan damai. LOL.)
Kakakku dan istrinya datang sekitar pukul 20.00. Mereka berangkat
meninggalkan Cirebon selepas shalat Jumat karena pagi hari setelah
shalat Id jalan pantura macet.
Hari Sabtu, I didn’t go anywhere.
Seperti biasa, ngendon di depan desktop, nge-game, ngetik, nonton film,
plus ngobrol dengan Angie. Adikku yang merayu kakakku untuk jalan-jalan
nampaknya tidak berhasil. LOL. Kakakku satu ini termasuk usil pula,
suka godain adik-adiknya.
Hari Minggu pagi, saat pergi berenang!
Suasana kolam renang yang sepi pengunjung membuatku merasa nyaman untuk
berenang selama satu jam tanpa berhenti. Sinar matahari yang telah
memantul ke kolam renang semenjak aku nyemplung kolam (sekitar pukul
06.15) tidak kupedulikan. Btw, seandainya aku benar-benar tidak peduli,
mungkin aku tidak akan naik sampai aku teler berenang kali. LOL.
Kenyataannya pukul 07.20 aku sudah meninggalkan kolam, menuju tempat
shower.
Seusai mandi, seperti biasa (kalau tidak terburu-buru
harus menghadiri suatu acara penting), aku nongkrong di salah satu
bangku yang tersedia, scribbling in my diary, plus baca Jurnal
Perempuan no 51 yang bertajuk “Mengapa Mereka Diperdagangkan”. Dari
judulnya, kita bisa menebak isinya berupa artikel-artikel yang membahas
tentang children and women trafficking.
Begitu rambutku kering,
aku cabut. Ga langsung pulang ke rumah, tapi mampir ke warnet. Email
balasan buat Abang ga bisa nunggu sampai warnet langgananku buka
tanggal 22 Oktober nanti. (Well, you can also read it as “I cannot wait
that long to send the reply. ) Rencana untuk ngumpet dari milis RKB
sampai sok tanggal 22 Oktober tak jadi kulakukan karena aku tergoda
untuk menulis komentar dua postingan. 
Pulang dari ngenet, sesampai rumah, my mom greeted, “Kerasan amat di kolam renang, eh?” LOL.
Selesai
sarapan (rasanya lapar poll kayak orang ga makan seharian aja LOL),
cuci piring, help Mom cook in the kitchen, aku masuk kamar. Berhubung
Angie asik menggunakan desktop, aku scribbling di the cutie. But ga
lama … baru satu jam aku nulis dan baca di the cutie, telerlah aku
sambil memeluk bantal cinta pemberian mbak Icha bulan Agustus lalu.
Cuapekkkk … ZzzZZzZZzzzzzzz …
****
Tiga jam napping. Nyaman
sekali, eh? Padahal Semarang panas banget siang ini. Setelah bangun,
aku langsung ke dapur membuat cappuccino dingin. Balik ke kamar, nonton
disk 2 FREEDOM WRITERS. I do want to write a review on this great movie
but berhubung terlalu banyak yang ingin kutulis, jadi bingung mau mulai
dari mana. :(
Sementara itu, ternyata kakak dan adik-adik pergi
entah kemana. They didn’t offer me to join. Akhirnya aku berinisiatif
ngajakin Angie keluar.
Tujuan pertama adalah kawasan CITY WALK
Semarang yang berlokasi di Jalan Merak Kota Lama. Seperti biasa, aku
ini tipe lelet, sehingga meskipun kawasan CITY WALK telah diresmikan
oleh pemerintah beberapa minggu lalu (entah tepatnya kapan, aku lupa),
aku baru kali ini berkesempatan jalan-jalan ke sana. Bulan puasa
kemarin tentu membuatku malas jalan-jalan. (Biasa lah, ngeles! LOL)
Mengapa
tiba-tiba aku pengen mengunjungi CITY WALK? Beberapa hari lalu seorang
siswa meminta bantuanku untuk menerjemahkan laporannya ke dalam Bahasa
Inggris, tentang kunjungannya ke CITY WALK. Hal ini membuatku ingin
berkunjung ke sana sendiri, membuktikan bahwa CITY WALK benar-benar
sepi, yang berarti tujuan pemerintah Semarang untuk ‘mengubah’ citra
kawasan tersebut, sekaligus untuk menambah pusat kuliner di Semarang
gagal.
Mengubah citra?
Kawasan
yang dipilih untuk menjadi CITY WALK dulu (mungkin sekarang pun masih)
adalah kawasan ‘hitam’, tempat para kriminal dan pemabuk mangkal,
tempat para PSK (pekerja seksual komersial) menunggu langganan yang
berhidung belang (kayak zebra? LOL) dan biasa terjadi perkelahian antar
geng. Wah, seperti kawasan Long Beach dalam film FREEDOM WRITERS? Nana
adalah tipe ‘anak manis’ yang tentu tidak tahu apa-apa kalau ditanya
masalah perkelahian antar geng di Semarang, tempat kriminal, pemabuk,
dan PSK mangkal. Count me out. (Dengan kata lain you can say NANA YANG
KUPER.)
Dengan memilih kawasan itu menjadi CITY WALK, memang
diharapkan akan mengubah citra kawasan tersebut menjadi satu kawasan
yang ramah penduduk, tak lagi dicap ‘hitam’. Masyarakat akan berani
berkunjung ke sana karena tak lagi merupakan area yang harus dihindari.
Unfortunately usaha pemerintah kota Semarang ini nampaknya gagal.
Paling tidak untuk ukuran saat ini.
Menambah pusat kuliner.
Semarang
bisa dianggap cukup berhasil dengan usaha WAROENG SEMAWIS tempat
masyarakat bisa berkunjung untuk mendapati berbagai macam makanan.
WAROENG SEMAWIS yang dikelola oleh KOPI SEMAWIS (Komunitas Pecinan
Semarang untuk Pariwisata) diselenggarakan setiap hari
Jumat-Sabtu-Minggu tiap minggu.
Pemerintah kota Semarang
berkeinginan menjadikan CITY WALK juga menjadi pusat kuliner seperti
WAROENG SEMAWIS yang telah berhasil menyedot perhatian masyarakat
Semarang yang terkenal suka makan enak.
Mengapa proyek CITY WALK
gagal menarik minat masyarakat? Pemerintah harus segera introspeksi dan
segera pula memperbaikinya agar proyek ini tidak gagal total begitu
saja.
Berikut ini gambar CITY WALK yang memang lengang, hanya ada tenda-tenda kosong tanpa seorang pedagang pun.


Dari
kawasan CITY WALK, aku mengajak Angie ke WAROENG SEMAWIS. Lebaran
ternyata tidak berarti WAROENG SEMAWIS tutup. Tatkala aku sampai di
sana, kurang lebih pukul 18.15, suasana masih sepi, mungkin karena aku
sampai di sana terlalu sore. Beberapa pedagang sedang sibuk menata
barang dagangannya. Tidak ada tumpukan pelancong di jalanan maupun di
tenda-tenda yang menawarkan berbagai macam makanan. Selain makanan, ada
pula stand pakaian, pernak pernik aksesoris, dan dua stand khusus
ramalan, seperti biasa.
Waktu aku dan Angie menikmati makan malam,
gerimis turun. Namun gerimis tidak berarti minat masyarakat turun.
Beberapa orang kulihat segera mengembangkan payungnya dan tetap
berjalan, menunjukkan bahwa mereka telah mempersiapkan diri dari rumah
seandainya turun hujan, mereka akan tetap bisa berjalan-jalan di
sepanjang jalan yang disebut Gang Warung itu.
Di bawah ini beberapa foto yang kujepret di kawasan WAROENG SEMAWIS pada hari Minggu 14 Oktober 2007..



Sayangnya
makan malam itu kurang nikmat. Aku pesan tahu dan tempe penyet,
sambelnya ampuuuuunnn… pedesnya ga karuan. :( :( Angie yang ingin
makan siomay membuatku memilih makanan yang terletak di tenda tidak
jauh dari stand siomay itu. Di sebelah kanan stand siomay, ada stand
sate babi. Count me out for this kind of food.  Di sebelah kiri ada
pusat lalapan yang berjualan ayam goreng, bebek goreng, burung dara
goreng, plus tempe dan tahu penyet. Aku ingin burung dara goreng, tapi
mereka tidak punya. Ayam goreng, wah .. Lebaran selalu identik dengan
ayam, so aku males makan ayam goreng di situ. Ditawari bebek goreng, ah
… ga berani nyoba aku. (I am not a food adventurer!!!) akhirnya aku
pilih tahu dan tempe penyet yang sambelnya minta ampun pedesnya itu.
(Perhaps my Abang would enjoy it coz he said he loved spicy food.)
Selesai
makan, dan gerimis telah reda, aku dan Angie jalan-jalan lagi, yah cuma
muter-muter doang sih di sekitar situ. :) kali ini aku tidak sampai ke
kelenteng Tay Kak Sie dan replika kapal Cheng Ho.
Sewaktu aku dan
Angie meninggalkan pelataran parkir, kulihat lebih banyak pengunjung
yang berdatangan. Kata tukang parkir, malam minggu pengunjung Waroeng
Semawis banyak seperti biasa, tidak ada perubahan meskipun hari itu
merupakan Lebaran hari pertama.
Aku dan Angie sampai di rumah sekitar pukul 20.00. begitu memasuki kamar, hujan turun dengan deras. Wah … pas banget? :)
PT 22.40 141007




Comments RSS

Leave a Reply