Oct 23 2007

Kopi Darat Milis RumahKitaBersama

Published by afemaleguest at 6:38 am under daily

KOPI DARAT YANG MENGESANKAN

Pesawat
yang kutumpangi menuju Jakarta meninggalkan bandara Ahmad Yani Semarang
kurang lebih pukul 12.00, terlambat 20 menit dari jadual semula. Namun
hal tersebut tidak mengurangi my excitement karena membayangkan akan
bertemu some wonderful people yang selama ini hanya kukenal nama, cara
menulisnya, dan beberapa fotonya lewat milis RumahKitaBersama. Oh well,
kecuali mbak Icha yang telah datang ke Semarang dua kali, sehingga aku
telah bertemu dengannya dua kali.
Pesawat mendarat di bandara
Soekarno Hatta sekitar pukul 12.55. Tatkala sedang antri ambil luggage,
ponselku berbunyi. Pasti Abang yang ngecek apakah aku sudah sampai (so
caring of him!!!). Yeah, it was him, so I told him that I was waiting
for my luggage and he said that he was waiting for me—and my lovely
star, Angie, plus my sister—outside. Setelah mendapatkan luggage aku
keluar. Sempat celingukan kesana kemari mencari dimana Abang berada,
akhirnya dia pun muncul, mobilnya berada di tengah-tengah taksi yang
sedang mengharapkan segera mendapatkan penumpang. Wah, untung aku telah
mengenalinya lewat beberapa foto yang dia kirimkan kepadaku, juga lewat
webcam beberapa kali sewaktu kita chat lewat Yahoo! Messenger, sehingga
aku langsung tahu ketika dia melambaikan tangannya, memintaku
berburu-buru karena mobilnya menghalangi taksi yang ada di belakangnya!
Berhubung
kita harus buru-buru sebelum disumpahi para sopir taksi yang nampak
sama tidak sabarnya dengan Abang (LOL), aku tidak sempat mengulurkan
tangan untuk berjabatan, apalagi cium pipi. LOL. And there I was,
sitting next to him, mantan pereli antar negara. LOL. Dia langsung
tancap gas sembari bertanya, “Siap untuk ngebut?” Bukan sebuah
pertanyaan kukira, tapi pernyataan. Hahahaha …Well, memang aku sudah
lama penasaran ingin membuktikan bagaimana caranya mengemudikan mobil.
Kata mbak Omie Abang kalo nyetir gila-gilaan. (Bayangin aja kalau
rombongan RKB dari Jakarta berkunjung ke Semarang dan Candi Sukuh
dengan sesekali Abang yang nyetir, bakal mabuk darat semua. Wakakakaka
…)
“Loh, mbak Angel kemana Bang? Bukannya dia seharusnya sudah
sampai sebelum aku?” aku sempat bertanya sebelum mobil meninggalkan
terminal 1B.
“Pesawatnya delay entar jam 3. Biar dia entar naik taksi aja.” Jawabnya. Wah …
Setelah
meninggalkan kompleks bandara Soekarno Hatta, ternyata lalu lintas
padat, sehingga Abang ga bisa tancap gas melulu, meskipun sempat juga
membuatku merasa, “Kayak main game di playstation Bang! Itu loh yang
kebut-kebutan naik mobil.” Komentarnya, “Iya, sama. Cuma kalau cuma
main game, kamu tetap hidup meskipun nabrak. Di sini, bablaslah kamu
kalau nabrak.” Hahahaha …
Well, terakhir kali aku ke Jakarta di
tahun 2001 untuk menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan
oleh LBPP LIA Jakarta, rasanya Jakarta waktu itu belum sepadat
sekarang. Atau mungkin kebetulan saja waktu itu aku tidak berada di
jalan pada saat peak hours. Abang ternyata hobby ngomel sewaktu nyetir
karena lalu lintas padat (sorry nih, buka kartu Bang, wakakakaka ..).
Mungkin banyak orang lain lagi yang suka ngomel juga yah karena lalu
lintas yang padat. Di Semarang, sepadat apapun lalu lintas, ga bakal
segila di Jakarta. Apalagi kebetulan kantorku terletak tidak jauh dari
rumah, perjalanan dari rumah ke kantor cuma butuh 5 menit, macet parah
paling-paling aku butuh waktu 15 menit deh. Entah karena aku tidak
terbiasa dengan lalu lintas padat, atau karena Abang ngomelin
pemerintah kota Jakarta yang tidak becus mengatur tata kota melulu, aku
pun dengan mudah ikut senewen. (Meskipun begitu, ternyata perjalananku
dari bandara ke The Sultan Hotel masih mending dibandingkan mbak Angel
yang datang belakangan, dan terhalang macet, sampai taksi tidak mampu
bergerak maju sampai satu jam! Gosh!!!)
Sesampai di hotel sekitar pukul 14.00, ah … leganya!
Setelah mengantarku ke kamar nomor 885, dan ngobrol sejenak, Abang turun ke lobby, menunggu kedatangan mbak Icha dan mbak Angel.
Aku
turun sekitar pukul 17.00 karena acara buka puasa bersama akan dimulai
pukul 18.00. Namun ternyata mbak Icha dan keluarga, juga mbak Angel
belum nongol juga. Traffic jam yang gila penyebab mereka berdua belum
sampai.
Mbak Icha bersama kedua buah hatinya, Bastian dan Vanessa
datang terlebih dahulu. Kak Frisch yang sedang mencari tempat untuk
parkir mobil masuk belakangan. Bas ternyata lebih ramah dan murah
senyum dibandingkan Van sehingga dia langsung menyambut uluran tanganku
dan membiarkanku mencium pipinya, sedangkan Van menghindar. Lah, heran
kan aku? kata mbak Icha, Van kenes, Bas pemalu. Oh, ternyata karena Van
masih jet lag karena perjalanan dari Ciledug ke hotel. “Nyawanya belum
ngumpul tuh!” kata mbak Icha. LOL.
Mbak Angel akhirnya muncul juga
sekitar pukul 17.30. Oh, she must have been very tired! Dan aku heran,
kok mbak Angel datang sendirian, kemana Luna, sang jagoannya? Ternyata
Luna akan nyusul dari Lippo Karawaci, tempat sekarang dia menimba ilmu
di Universitas Pelita Harapan. Dan tentu bisa dimaklumi, perjalanan
Luna pun terhalang macet sehingga dia akan datang belakangan.
Adzan
maghrib menunjukkan waktu berbuka telah terdengar sewaktu kita
serombongan akan meninggalkan hotel menuju RM Pulau Dua. Kegembiraan
bertemu dengan orang-orang special itu membuatku lupa bahwa aku
berpuasa. Aku lupa bahwa seharusnya aku merasa lapar. LOL. Aku bersama
Angie dan Nunuk plus mbak Angel berada dalam mobil Abang, sedangkan
mbak Icha sekeluarga berada dalam mobil lain.
Sewaktu memasuki
tempat parkir RM Pulau Dua, Abang sempat menyapa seseorang, “Liquid!”
Oh … he must be si anak bangor, yang hobby kirim postingan yang
lucu-lucu tur saru (wakakakaka …). “Kok masih nampak muda banget?”
komentar mbak Angel. “Masih kayak anak kuliahan,” katanya lagi. Loh,
saingan sama Luna dong? LOL.
Memasuki RM Pulau Dua, gile, rame
banget? aku sempat mikir kayak orang-orang Jakarta tumplek bleg di
sana, buka puasa bersama. Sewaktu aku dan rombongan sampai di meja
nomor 300, Pak Anwari dan istri, plus Pak Djoko beserta istri dan anak
putrinya yang mantan sopir busway telah duduk di meja menunggu kita.
Setelah bersalam-salaman, saling memperkenalkan diri masing-masing,
kita duduk. Pak Anwari berkomentar dengan bangga, “Saya datang nomor
satu! Sudah ada foto yang menunjukkan saya datang tepat waktu, juga
hidangan yang lengkap sudah ada di kamera saya.” Wah … Pak, di
Semarang aku juga termasuk punctual comers, Abang juga begitu di
tempatnya sono, dan sering ngomentarin aku lelet kayak kuya. Wakakakaka
… But pada kesempatan itu, ya mohon dimaklumi kalau kita datang
terlambat. Pesawat mbak Angel yang delay dari jam 11.00-an, mundur
sampai jam 14.00-an (if I am not mistaken), lalu lintas macet yang tak
terkira membuat kita semua datang terlambat.
Btw, Pak Anwari yang
tidak memakai topi (maklum, aku hafalnya fotonya yang banyak bertebaran
di www.superkoran.info memakai topi) terlihat lebih muda dari usianya
yang 69 tahun. Sewaktu aku bilang, “Wah Pak Anwari terlihat lebih muda
di aslinya loh dibanding di foto,” Bu Anwari bilang, “Waduh mbak, nanti
kepalanya jadi membesar! Topinya bakal ga muat dipakai lagi.” Hahahaha

Setelah minum teh manis yang tersedia untuk membatalkan puasa
alias berbuka, aku, Angie dan Nunuk, beserta Bu Djoko dan anaknya
shalat dulu di musholla yang tersedia.
Kembali ke meja nomor 300,
kita langsung makan, sambil ngobrol, foto-foto, khas orang-orang kopi
darat deh. obrolan yang semula kita lakukan lewat dunia
“maya”—milis—kita lanjutkan di dunia “nyata”. Mas Budiman yang juragan
minyaknya RKB datang setelah kita ramai-ramai makan, ngobrol, dan lain
lain. Setelah bersalam-salaman dengan semua yang hadir, dia pun
langsung gabung.
Pak Djoko yang duduk di sebelahku, sempat
memberiku buku “Semarang Tempo Dulu, Teori Desain Kawasan Bersejarah”.
Wah, tentu sudah dipersiapkan sebelumnya. Thanks a lot Pak Djoko. Pak
Anwari yang duduk berhadapan dengan pak Djoko bilang aku dan Angie look
like sisters. Well, banyak sih yang bilang begitu. Waktu Pak Anwari
nanya, “Kalau begitu siapa yang dimudakan siapa yang dituakan?” untuk
menggoda Angie, aku bilang, “Dia dituakan Pak, sehingga pantas menjadi
adik saya.” LOL. But tentu saja di dalam hati aku pengennya aku yang
dimudakan dari usiaku sebenarnya. (Goodness, Pak Djoko masih ingat yang
kukatakan di milis, bahwa usiaku akan selalu 36 tahun, seperti alamat
emailku fe36smg@yahoo.com)
Acara ngobrol-ngobrol beramai-ramai ini
sempat terganggu karena kebetulan kita duduk di dekat panggung yang ada
live music nya. Abang yang semula didaulat untuk menyanyi di milis,
tidak mau menyanyi di situ. Dia berencana mengajak kita ke karaoke
setelah acara buka puasa bersama itu selesai. Nah, kalau di karaoke dia
mau menyanyi tentu. He told me he loves berkaraoke-ria.
Yang
paling belakangan datang Pak Danar beserta Ibu Roosye yang cantik
jelita. Tentu karena macet. Luna pun datang hampir berbarengan. Tepat
pada waktu itu, beberapa meja yang ada di dalam ruangan telah kosong
sehingga rombongan RKB memutuskan untuk pindah ke dalam sehingga acara
ngobrol kita tidak terganggu live music. Meskipun begitu ternyata suara
orang berceloteh—ga cuma rombongan RKB yang ngobrol dan bercanda—tetap
saja mengganggu.
Angie yang ngantuk, bersandar di bahuku, sambil
memejamkan mata menjadi sasaran empuk kamera Pak Anwari. LOL. Akhirnya
kak Frisch menawarkan mengantar Angie balik ke hotel. Nunuk pun ngikut.
Thanks a lot kak Frisch.
Pak Djoko dan istri plus anak
meninggalkan tempat sebelum pukul 21.00 karena Bu Djoko ingin melakukan
shalat tarawih. Sekitar 30 menit kemudian, Pak Anwari beserta Ibu mohon
diri karena telah dijemput sang pengawal. LOL.
Kita semua yang tersisa meninggalkan RM Pulau Dua sekitar pukul 22.00.
Sesuai
rencana, Abang ngajakin aku berkaraoke. Sayangnya Liquid dan mas Bud’s
pulang, ga ngikut. Mbak Angel dan Luna yang kecapaian pun memilih balik
ke hotel untuk beristirahat. “Wah, ga rame nih, masak cuma 4 orang?”
komentar Abang. Yah, mau bagaimana lagi Bang? Aku tentu saja semangat
45 ngikut karena berkaraoke bareng Abang kan merupakan salah satu item
dalam daftar yang ingin kita lakukan bersama jikalau kita bertemu?
Setelah
mengantar mbak Angel dan Luna balik ke The Sultan, kita berempat,
terbagi dalam dua mobil, menuju ke karaoke yang terletak di Kelapa
Gading, tak jauh dari tempat tinggal Abang. Jalan tol dalam kota tetap
saja macet membuat Abang ga habis pikir. “Sudah hampir jam 11 malam
gini jalan tol tetap macet? What is wrong with Jakarta?” omelnya. LOL.
Well, aku ga perlu lah ikutan ngomel. Hahahaha … aku dengerin aja dia
ngomel ngalor ngidul tentang kota kelahirannya itu, sembari menikmati
pemandangan di luar kaca mobil, Jakarta di waktu malam hari.
“Jakarta benar-benar ga pernah tidur ya Bang?” tanyaku.
“Iyalah. Kamu baru tahu toh?” tanyanya balik. LOL.
Setelah
lalu lintas lancar lagi, nah … aku serasa naik mobil reli lagi deh.
LOL. Abang langsung ngebut! Aku bayangin kak Frisch yang ada di
belakang, harus ikut-ikutan ngebut agar tidak kehilangan jejak. Oh ya,
Van dan Bas sudah balik ke hotel, diantar Papanya, jauh sebelum kak
Frisch nganter Angie dan tantenya balik ke hotel.
Dan …
Betapa
kecewanya Abang tatkala mendapati “Happy Puppy” tempatnya biasa
berkaraoke tutup. Iya, T U T U P!!! Aku, mbak Icha, dan kak Frisch
ketawa aja. Mau bagaimana lagi? Akhirnya Abang ngajakin kita minum
juice di salah satu tempat makan di Kelapa Gading. Kata kak Frisch,
daerah Kelapa Gading memang terkenal memiliki banyak pusat jajan yang
enak dengan harga terjangkau. Banyak orang dari seantero Jakarta datang
ke Kelapa Gading hanya untuk makan.
Seusai ngobrol sambil minum
juice, kita memisahkan diri. Abang pulang ke rumah, aku bersama mbak
Icha dan kak Frisch balik ke The Sultan. Berbeda dengan Abang yang
mantan pereli antar negara sehingga kalau nyetir ngebut, kak Frisch
nyetir dengan santai, sambil ngobrol, sekaligus menjadi tourist guide
yang sabar. LOL. Aku ditunjukinya tempat-tempat yang pernah memiliki
sejarah, misal eks lapangan IKADA, dan yang lain-lain, termasuk “Ini
dia rumah sakit Papinya Icha,” katanya. LOL. Mbak Icha langsung ketawa,
“Emang orang kaya punya rumah sakit? Maksudnya di rumah sakit inilah
Papiku dirawat selama kurang lebih satu bulan sebelum beliau
menghembuskan nafas yang terakhir. Kita anaknya bersebelas bergantian
menjaganya di rumah sakit.”
Dalam perjalanan kita sempat ketemu
rombongan sahur on the road. Entah mereka beneran beribadah
melakukannya atau sekedar hura-hura di malam hari di bulan puasa,
sehingga tidak bakal ditangkap polisi. Oh ya, kita sempat dicegat
polisi yang ngecek kelengkapan surat-surat seperti STNK mobil dan SIM.
Heran, malam hari gitu, kok ya masih ada oknum yang mencari tambahan
duit buat Lebaran? Hahahaha …
Semula mbak Icha mau ngajakin aku
beli sesuatu untuk sahur di Jalan Sabang, tapi ga jadi karena pertemuan
dengan rombongan sahur on the road. Akhirnya kita jadi juga mampir di
satu jalan—aku lupa bertanya apa namanya dan mbak Icha ga bilang—dimana
banyak kafe tenda bertebaran, berjualan segala macam makanan. Aku
memilih menu nasi goreng yang ga ribet cara makannya. Banyak manusia
kalong di sini, LOL, yang sedang makan, entah makan malam yang sangat
terlambat, atau makan sahur yang terlalu awal.
Kita bertiga sampai di hotel sekitar pukul 01.30, if I am not mistaken.
*****
Walaupun
tidur sangat terlambat, dan bangun untuk sahur sekitar pukul
03.30-04.00, jam 6 pagi aku sudah bangun, tergolek kesana kemari. I
don’t know what made me not able to sleep. Akhirnya pukul 06.30 aku
turun, berenang, meskipun aku bilang ke mbak Icha aku akan berenang
bersama Van sekitar pukul 09.00. Well, kalau pengen berenang lagi, toh
aku bisa juga melakukannya. 
“Puasa-puasa kok berenang Na?”
“Well,
yang membatalkan puasa kan makan, minum dan have sex secara sengaja di
siang hari? Berenang tidak termasuk minum secara (tidak) sengaja toh?
Kan kata hadits yang penting nawaitunya? Berniat berenang untuk bisa
minum air secara sengaja atau berenang untuk berolahraga?” LOL.
Seusai
berenang selama kurang lebih satu jam, (pengennya berendam selama
mungkin sebenarnya hahahaha …) aku balik ke kamar, mandi. Angie masih
molor. Nunuk melakukan yoga, or whatever it is called. LOL.
Sekitar
pukul 9, Abang nelpon aku dari kamar 895, tempat mbak Angel dan Luna
menginap. Dituduhnya aku baru bangun tidur. Enak aja, udah berenang kok
dibilang baru bangun tidur. Aku segera ke kamar 895, berkumpul. Mbak
Icha dan si cantik Van yang sudah keliatan aslinya, kenes LOL, nyusul.
Dan, di sanalah kita mempertontonkan diri bersama-sama di depan web cam
untuk dilihat mbak Omie. Mbak Omie pengen lihat kebersamaan kita, ikut
merasakan kegembiraan kita yang berkumpul di darat, ga cuma lewat milis
doang.
Selesai chatting dengan mbak Omie, Abang dan lain-lain
turun untuk sarapan. Aku balik ke kamar, packing. Seusai packing, aku
ajakin Angie turun, berkumpul dengan mbak Icha yang sedang nungguin Van
bermain air. Abang sempat bergabung dengan kita, ngobrol-ngobrol. Aku
ga jadi nyebur lagi. Abang ngeledek, “Takut item ya Na?” LOL. Aku bawa
baju berenang full body kok, yang kayak baju selam itu. Males harus
mandi lagi, ngeringin rambut lagi, dll. Abang yang bilang di milis
katanya mau bertopless ria (untuk nunjukin kalau dirinya memang
laki-laki, bukan perempuan LOL) di kolam renang juga ga jadi. It means,
kita masih bisa menodongnya untuk melakukannya di kesempatan yang akan
datang. LOL. Cihui!!! LOL. LOL.
Btw, di film SHE’S THE MAN, Viola
Hastings dan Sebastian Hastings, si kembar yang bertukar tempat,
tatkala membuktikan bahwa diri mereka perempuan/laki-laki, Viola
menunjukkan dadanya, sedangkan Sebastian melorotkan celananya. It means
kalau Abang hanya akan bertopless ria untuk menunjukkan bahwa dia
laki-laki, itu kurang mantap. Wakakakakaka …
Setelah mbak Angel
turun dan ngobrol sejenak dengan kita bertiga, Abang pamitan karena dia
akan pergi ke satu tempat lain. Aku dan mbak Angel pamitan ke mbak Icha
karena kita akan berangkat ke bandara bareng. Mbak Icha dan kakaknya
Beby masih menunggui si kecil-kecil bermain air.
Aku dan mbak Angel
saling berpelukan dan cium pipi kiri kanan di taksi setelah sampai di
bandara. Oh ya, komentar mbak Angel tentang aku, “Aku bayangin mbak
Nana ini tinggi besar, karena dia kan feminis? Eh, ga tahunya mbak Nana
ini kecil mungil dan feminin.” Kata mbak Icha, “Berarti mbak Angel ga
nyimak ya waktu di milis kita bercanda siapa yang paling enak
digendong, ya tentu si Nana yang kecil.” Ah, ini sih candaan setahun
yang lalu di milis lain, waktu Abang bilang dia sedang belajar ginkang
sehingga dia bisa gendong aku naik Borobudur. Hahahahaha …
What a lovely and wonderful kopi darat. (what is it called in English? LOL.)
I
am looking forward to mbak Omie’s coming next year. Hopefully we can
spend time together. Kalau bisa barengan dengan yang lain, misal mbak
Roslina, Don Marco, Kang Beth, Pak Sumar … tentu saja sekaligus
Abang, Pak Danar, dan Pak Anwari yang home-based nya di luar, what a
miracle comes true.
Love you all,
Nana
PT56 10.35 011007
Below are some pictures of that dinner :) Can you guess which one is my Abang? :)







2 Responses to “Kopi Darat Milis RumahKitaBersama”

  1.   Jey Love Finnon 24 Oct 2007 at 1:50 pm

    wah.. serunya bisa kopi darat sama anggota milis ya?.. ikut happy bacanya kaya aku ikut aja Mba Nana.. he..he.. oh ya dulu di emailku pernah ada loh yg kirim untuk join milis ini, kalo saat itu tahu ada Mba Nana aku join juga deh.. abis mau jg dong ikut kopi daratnya he..he..

  2.   Nanaon 01 Dec 2007 at 2:45 am

    Dear Jey,
    Kayaknya aku deh yang kirim email invite Jey untuk ngikut milis RKB :D Btw, kan sekarang Jey masih di negara papanya Finn?

Comments RSS

Leave a Reply