Oct 22 2007

K A L U N G

Published by afemaleguest at 5:50 am under Angie

Beberapa bulan yang lalu di kantin
kantor, aku ditawari oleh Ibu penjaga kantin,

“Bu Nana … kalungnya indah-indah
loh. Murah-murah lagi.”

Aku sempat bengong. Heran, mengapa
Ibu kantin menawariku kalung? Apakah tak pernah dia perhatikan aku
bukan tipe orang yang suka memakai berbagai macam aksesori? Aku hanya
memakai anting lama, pemberian my beloved Mom, mungkin tatkala aku
duduk di bangku SMA, atau bahkan sebelum itu. Kalung yang dibelikan
oleh my Mom waktu aku masih duduk di bangku kuliah S1 kujual tahun
2002 lalu, dan uangnya kubelikan handphone, sebelum aku berangkat
untuk melanjutkan kuliah di American Studies UGM. Handphone lebih
penting bagiku waktu itu agar bisa berkomunikasi dengan Angie yang
berada di Semarang.

Namun karena tawaran Ibu kantin
itulah, aku mulai memperhatikan aksesori yang dikenakan para
siswa/mahasiswa yang datang. Nampaknya aksesori kalung mulai digemari
lagi. Atau mungkin aku yang terlalu kuper dan tidak pernah
memperhatikan hal tersebut karena aku sendiri tidak pernah peduli.
Akan tetapi hal ini tidak berarti aku serta merta ngikut apa yang
sedang trend. Aku tetap tidak kepengen memakai kalung, so ngapain
beli?

(Telah cukup lama aku tidak lagi
memperhatikan penampilan dan aksesorisnya, seperti tas tangan,
sepatu, bros, dan lain-lain. Pakaian pun aku memakai yang berwarna
hitam melulu sehingga dijuluki “Ms. Black” oleh banyak
siswa/mahasiswa. Namun, di zaman ‘jahiliyah’ku dulu, aku suka
juga koleksi sepatu dan tas berwarna warni, bros, dll.)

****

Hari Sabtu 29 September 2007 di hotel
The Sultan, mbak Angel menunjukkan padaku kalung yang dia pakai.
“Kalung ini yang membelikan Luna loh mbak Nana, satu hari waktu di
sekolah ada acara semacam bazaar untuk memperingati Mother’s Day.
Luna masih duduk di bangku SD waktu itu. Sepulang sekolah dia berikan
kalung ini kepada saya. I do appreciate it much more than a golden
necklace, karena yang memberi Luna, anakku semata wayang, di hari Ibu
pula.”

Dan aku pun memandangnya dengan
takjub. Sorot mata kebanggaan terpancar dari mata mbak Angel.
Sedangkan Luna yang disebut-sebut tersenyum simpul, berbangga hati
pula karena kalung pemberiannya sangat dibanggakan oleh Mamanya.

Aku beberapa kali sempat bertanya
pada diri sendiri, apakah aku akan tetap memiliki hubungan yang
harmonis dengan anakku, seandainya anakku laki-laki. Dan pada hari
itu kulihat keharmonisan antara mbak Angel dengan Luna, anak
laki-lakinya. Would I experience like that if my child were a son?

Aku yang feminis ini, plus semasa
kecil sering mainan “khas anak laki-laki” sebangsa layang-layang,
kelereng, mobil-mobilan, dan sewaktu SMP ikut ekstra kurikuler
karate, sehingga aku merasa ‘pernah’ bersikap tomboy, tetap
merasa tidak mampu menyelami jiwa laki-laki. Mungkin aku akan tetap
bisa berusaha membina hubungan harmonis dengan seorang anak laki-laki
(jika dikaruniai seorang anak laki-laki LOL). Namun untuk
‘membentuknya’ menjadi seorang sosok laki-laki yang macho,
entahlah.

Beberapa minggu lalu waktu
mengunjungi dugderan, aku senang melihat permainan kapal-kapalan,
(aku pernah membelikan Angie kapal-kapalan, sekedar untuk
‘menularkan’ kebahagiaan kepadanya sewaktu aku kecil bermain
kapal-kapalan ini dengan kakakku.) gasing, mobil-mobilan. Tapi
tatkala melihat satu stand PSIS yang berjualan segala macam atribut
sepakbola, aku tak bisa membayangkan apakah aku akan dengan senang
hati mengajak anak laki-lakiku ke stand tersebut. Satu hal yang
pasti, waktu aku kecil di dugder belum ada stand seperti itu. LOL.
Dugderan memang merupakan salah satu perekatku dengan ‘akar budaya’
masa kecilku.

****

Kurang lebih sepuluh hari yang lalu
tatkala membeli sebuah rok dengan belahan dada yang agak rendah, aku
bilang ke Angie, “Bakal terlihat aneh ya Yang kalau di leher Mama
kosong? Mama mau beli kalung ah.”

Angie yang semula tidak begitu
tertarik dengan kalung (waktu kecil yang dia sukai adalah aksesori
untuk rambut) ternyata waktu itu ikut antusias memilihkan kalung
buatku. Beberapa hari kemudian aku menemukan jawabannya, “Angie
bisa pinjam kalungnya Mama waktu pentas drama POCAHONTAS nanti. Kan
Angie jadi Ratu?” Wah … ternyata … LOL.

****

Hari Sabtu 6 Oktober 07 lalu sepulang
dari latihan drama POCAHONTAS dengan beberapa teman sekolahnya, Angie
menunjukkan kepadaku sebuah kalung dengan bandul Mickey Mouse. “Ma
… ini Mickey loh! Imut kan?”

Ternyata dia beli kalung itu di DP
Mall, waktu jalan-jalan dengan teman-temannya, tatkala hunting
aksesori apa aja yang akan dikenakan waktu pentas drama di sekolah.

Hari Senin 8 Oktober 07, sepulang
dari latihan drama lagi, Angie mengulurkan kalung lain. Kali ini
bandulnya berbentuk hati.

“Tadi Angie dan teman-teman hunting
aksesori lagi di DP Mall, dan Angie lihat ini. Angie beli buat Mama.”

Uh … aku jadi ingat mbak Angel yang
dengan bangga mengenakan kalung pemberian Luna anaknya. Dan akupun
merasa bahagia menerima kalung pemberian Angie.

****

Hari ini Rabu 10 Oktober 07, aku
memakai kalung pemberian Angie waktu mengajar. Beberapa teman kerja
mengomentari, “Wah kalungya eye-catching banget Ms. Nana.”

“Wah … kalungnya ABG banget Ms.
Nana.”

Dengan bangga aku menjawab, “Ini
kalung pemberian Angie. Maklumlah kalau modelnya ABG lha wong yang
beli juga seorang ABG.”

Ternyata bangga banget ya diberi
sesuatu oleh anak kita? :)

PT56 23.55 101007




Comments RSS

Leave a Reply