Archive for October, 2007

Oct 27 2007

When You’re Gone

Published by afemaleguest under Song

When You’re Gone *
By Avril Lavigne

I always needed time on my own
I never thought I’d need you there when I cry
And the days feel like years when I’m alone
And the bed where you lie
Is made up on your side

When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?

When you’re gone
The pieces of my heart are missing you
When you’re gone
The face I came to know is missing too
When you’re gone
The words I need to hear to always get me through the day
And make it OK
I miss you

I never felt this way before
Everything that I do
Reminds me of you
And the clothes you left
They lie on the floor
And they smell just like you
I love the things that you do

When you walk away
I count the steps that you take

Do you see how much I need you right now?

When you’re gone
The pieces of my heart are missing you
When you’re gone
The face I came to know is missing too
When you’re gone
The words I need to hear to always get me through the day
And make it OK
I miss you

We were made for each other
Out here forever
I know we were
Yeah Yeah

All I ever wanted was for you to know
Everything I do I give my heart and soul
I can hardly breathe I need to feel you here with me
Yeah

When you’re gone
The pieces of my heart are missing you
When you’re gone
The face I came to know is missing too
And When you’re gone
The words I need to hear will always get me through the day
And make it OK
I miss you

P.S.: If you want to download the mp3 file, visit my multiply page at http://afemaleguest.multiply.com/music/item/304/When_Youre_Gone
Don’t forget that to have an account at multiply is a must. Ok?

* Special buat yang lagi ngambek. Kok lama??? :(((

No responses yet

Oct 23 2007

Big Girls Don’t Cry

Published by afemaleguest under Song

Big Girls Don’t Cry
by Fergie

Da da da da

The smell of your skin lingers on me
now

You’re probably on your flight back
to your hometown

I need some shelter of my own
protection, baby

To be with myself and centre, clarity

Peace, serenity

I hope you know

I hope you know

That this has nothing to do with you

It is personal, myself and I

We’ve got some straightenin’ out to
do

And I’m gonna miss you

Like a child misses their blanket

But I’ve got to get a move on with my
life

It’s time to be a big girl now

And big girls don’t cry

Don’t cry

Don’t cry

Don’t cry

The path that I’m walking

I must go alone

I must take the baby steps till I’m
full grown

Fairytales don’t always have a happy
ending, do they?

And I foresee the dark ahead if I stay

I hope you know

I hope you know

That this has nothing to do with you

It is personal, myself and I

We’ve got some straightenin’ out to
do

And I’m gonna miss you

Like a child misses their blanket

But I’ve got to get a move on with my
life

It’s time to be a big girl now

And big girls don’t cry

Like the little schoolmate in school
yard

We’ll play jacks and uno cards

I’ll be your best friend and you’ll
be my valentine

Yes you can hold my hand if you want to

Cause I want to hold yours too

We’ll be playmates and lovers and
share our secret worlds

But it’s time for me to go home

It’s getting late, dark outside

I need to be with myself and centre
clarity

Peace and serenity

I hope you know

I hope you know

That this has nothing to do with you

It is personal, myself and I

We’ve got some straightenin’ out to
do

And I’m gonna miss you

Like a child misses their blanket

But I’ve got to get a move on with my
life

It’s time to be a big girl now

And big girls don’t cry

P.S.:

  1. If you love this song and want to
    download the mp3 file, go visit my multiply page at http://afemaleguest.multiply.com/music/item/302/Big_Girls_Dont_Cry
    One
    requirement though: you’ve got to have a multiply account.

  2. For someone special: I am a big
    girl now, just like I told you that “my life has begun”. But
    still sometimes I need to cry.

No responses yet

Oct 23 2007

Kopi Darat Milis RumahKitaBersama

Published by afemaleguest under daily

KOPI DARAT YANG MENGESANKAN

Pesawat
yang kutumpangi menuju Jakarta meninggalkan bandara Ahmad Yani Semarang
kurang lebih pukul 12.00, terlambat 20 menit dari jadual semula. Namun
hal tersebut tidak mengurangi my excitement karena membayangkan akan
bertemu some wonderful people yang selama ini hanya kukenal nama, cara
menulisnya, dan beberapa fotonya lewat milis RumahKitaBersama. Oh well,
kecuali mbak Icha yang telah datang ke Semarang dua kali, sehingga aku
telah bertemu dengannya dua kali.
Pesawat mendarat di bandara
Soekarno Hatta sekitar pukul 12.55. Tatkala sedang antri ambil luggage,
ponselku berbunyi. Pasti Abang yang ngecek apakah aku sudah sampai (so
caring of him!!!). Yeah, it was him, so I told him that I was waiting
for my luggage and he said that he was waiting for me—and my lovely
star, Angie, plus my sister—outside. Setelah mendapatkan luggage aku
keluar. Sempat celingukan kesana kemari mencari dimana Abang berada,
akhirnya dia pun muncul, mobilnya berada di tengah-tengah taksi yang
sedang mengharapkan segera mendapatkan penumpang. Wah, untung aku telah
mengenalinya lewat beberapa foto yang dia kirimkan kepadaku, juga lewat
webcam beberapa kali sewaktu kita chat lewat Yahoo! Messenger, sehingga
aku langsung tahu ketika dia melambaikan tangannya, memintaku
berburu-buru karena mobilnya menghalangi taksi yang ada di belakangnya!
Berhubung
kita harus buru-buru sebelum disumpahi para sopir taksi yang nampak
sama tidak sabarnya dengan Abang (LOL), aku tidak sempat mengulurkan
tangan untuk berjabatan, apalagi cium pipi. LOL. And there I was,
sitting next to him, mantan pereli antar negara. LOL. Dia langsung
tancap gas sembari bertanya, “Siap untuk ngebut?” Bukan sebuah
pertanyaan kukira, tapi pernyataan. Hahahaha …Well, memang aku sudah
lama penasaran ingin membuktikan bagaimana caranya mengemudikan mobil.
Kata mbak Omie Abang kalo nyetir gila-gilaan. (Bayangin aja kalau
rombongan RKB dari Jakarta berkunjung ke Semarang dan Candi Sukuh
dengan sesekali Abang yang nyetir, bakal mabuk darat semua. Wakakakaka
…)
“Loh, mbak Angel kemana Bang? Bukannya dia seharusnya sudah
sampai sebelum aku?” aku sempat bertanya sebelum mobil meninggalkan
terminal 1B.
“Pesawatnya delay entar jam 3. Biar dia entar naik taksi aja.” Jawabnya. Wah …
Setelah
meninggalkan kompleks bandara Soekarno Hatta, ternyata lalu lintas
padat, sehingga Abang ga bisa tancap gas melulu, meskipun sempat juga
membuatku merasa, “Kayak main game di playstation Bang! Itu loh yang
kebut-kebutan naik mobil.” Komentarnya, “Iya, sama. Cuma kalau cuma
main game, kamu tetap hidup meskipun nabrak. Di sini, bablaslah kamu
kalau nabrak.” Hahahaha …
Well, terakhir kali aku ke Jakarta di
tahun 2001 untuk menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan
oleh LBPP LIA Jakarta, rasanya Jakarta waktu itu belum sepadat
sekarang. Atau mungkin kebetulan saja waktu itu aku tidak berada di
jalan pada saat peak hours. Abang ternyata hobby ngomel sewaktu nyetir
karena lalu lintas padat (sorry nih, buka kartu Bang, wakakakaka ..).
Mungkin banyak orang lain lagi yang suka ngomel juga yah karena lalu
lintas yang padat. Di Semarang, sepadat apapun lalu lintas, ga bakal
segila di Jakarta. Apalagi kebetulan kantorku terletak tidak jauh dari
rumah, perjalanan dari rumah ke kantor cuma butuh 5 menit, macet parah
paling-paling aku butuh waktu 15 menit deh. Entah karena aku tidak
terbiasa dengan lalu lintas padat, atau karena Abang ngomelin
pemerintah kota Jakarta yang tidak becus mengatur tata kota melulu, aku
pun dengan mudah ikut senewen. (Meskipun begitu, ternyata perjalananku
dari bandara ke The Sultan Hotel masih mending dibandingkan mbak Angel
yang datang belakangan, dan terhalang macet, sampai taksi tidak mampu
bergerak maju sampai satu jam! Gosh!!!)
Sesampai di hotel sekitar pukul 14.00, ah … leganya!
Setelah mengantarku ke kamar nomor 885, dan ngobrol sejenak, Abang turun ke lobby, menunggu kedatangan mbak Icha dan mbak Angel.
Aku
turun sekitar pukul 17.00 karena acara buka puasa bersama akan dimulai
pukul 18.00. Namun ternyata mbak Icha dan keluarga, juga mbak Angel
belum nongol juga. Traffic jam yang gila penyebab mereka berdua belum
sampai.
Mbak Icha bersama kedua buah hatinya, Bastian dan Vanessa
datang terlebih dahulu. Kak Frisch yang sedang mencari tempat untuk
parkir mobil masuk belakangan. Bas ternyata lebih ramah dan murah
senyum dibandingkan Van sehingga dia langsung menyambut uluran tanganku
dan membiarkanku mencium pipinya, sedangkan Van menghindar. Lah, heran
kan aku? kata mbak Icha, Van kenes, Bas pemalu. Oh, ternyata karena Van
masih jet lag karena perjalanan dari Ciledug ke hotel. “Nyawanya belum
ngumpul tuh!” kata mbak Icha. LOL.
Mbak Angel akhirnya muncul juga
sekitar pukul 17.30. Oh, she must have been very tired! Dan aku heran,
kok mbak Angel datang sendirian, kemana Luna, sang jagoannya? Ternyata
Luna akan nyusul dari Lippo Karawaci, tempat sekarang dia menimba ilmu
di Universitas Pelita Harapan. Dan tentu bisa dimaklumi, perjalanan
Luna pun terhalang macet sehingga dia akan datang belakangan.
Adzan
maghrib menunjukkan waktu berbuka telah terdengar sewaktu kita
serombongan akan meninggalkan hotel menuju RM Pulau Dua. Kegembiraan
bertemu dengan orang-orang special itu membuatku lupa bahwa aku
berpuasa. Aku lupa bahwa seharusnya aku merasa lapar. LOL. Aku bersama
Angie dan Nunuk plus mbak Angel berada dalam mobil Abang, sedangkan
mbak Icha sekeluarga berada dalam mobil lain.
Sewaktu memasuki
tempat parkir RM Pulau Dua, Abang sempat menyapa seseorang, “Liquid!”
Oh … he must be si anak bangor, yang hobby kirim postingan yang
lucu-lucu tur saru (wakakakaka …). “Kok masih nampak muda banget?”
komentar mbak Angel. “Masih kayak anak kuliahan,” katanya lagi. Loh,
saingan sama Luna dong? LOL.
Memasuki RM Pulau Dua, gile, rame
banget? aku sempat mikir kayak orang-orang Jakarta tumplek bleg di
sana, buka puasa bersama. Sewaktu aku dan rombongan sampai di meja
nomor 300, Pak Anwari dan istri, plus Pak Djoko beserta istri dan anak
putrinya yang mantan sopir busway telah duduk di meja menunggu kita.
Setelah bersalam-salaman, saling memperkenalkan diri masing-masing,
kita duduk. Pak Anwari berkomentar dengan bangga, “Saya datang nomor
satu! Sudah ada foto yang menunjukkan saya datang tepat waktu, juga
hidangan yang lengkap sudah ada di kamera saya.” Wah … Pak, di
Semarang aku juga termasuk punctual comers, Abang juga begitu di
tempatnya sono, dan sering ngomentarin aku lelet kayak kuya. Wakakakaka
… But pada kesempatan itu, ya mohon dimaklumi kalau kita datang
terlambat. Pesawat mbak Angel yang delay dari jam 11.00-an, mundur
sampai jam 14.00-an (if I am not mistaken), lalu lintas macet yang tak
terkira membuat kita semua datang terlambat.
Btw, Pak Anwari yang
tidak memakai topi (maklum, aku hafalnya fotonya yang banyak bertebaran
di www.superkoran.info memakai topi) terlihat lebih muda dari usianya
yang 69 tahun. Sewaktu aku bilang, “Wah Pak Anwari terlihat lebih muda
di aslinya loh dibanding di foto,” Bu Anwari bilang, “Waduh mbak, nanti
kepalanya jadi membesar! Topinya bakal ga muat dipakai lagi.” Hahahaha

Setelah minum teh manis yang tersedia untuk membatalkan puasa
alias berbuka, aku, Angie dan Nunuk, beserta Bu Djoko dan anaknya
shalat dulu di musholla yang tersedia.
Kembali ke meja nomor 300,
kita langsung makan, sambil ngobrol, foto-foto, khas orang-orang kopi
darat deh. obrolan yang semula kita lakukan lewat dunia
“maya”—milis—kita lanjutkan di dunia “nyata”. Mas Budiman yang juragan
minyaknya RKB datang setelah kita ramai-ramai makan, ngobrol, dan lain
lain. Setelah bersalam-salaman dengan semua yang hadir, dia pun
langsung gabung.
Pak Djoko yang duduk di sebelahku, sempat
memberiku buku “Semarang Tempo Dulu, Teori Desain Kawasan Bersejarah”.
Wah, tentu sudah dipersiapkan sebelumnya. Thanks a lot Pak Djoko. Pak
Anwari yang duduk berhadapan dengan pak Djoko bilang aku dan Angie look
like sisters. Well, banyak sih yang bilang begitu. Waktu Pak Anwari
nanya, “Kalau begitu siapa yang dimudakan siapa yang dituakan?” untuk
menggoda Angie, aku bilang, “Dia dituakan Pak, sehingga pantas menjadi
adik saya.” LOL. But tentu saja di dalam hati aku pengennya aku yang
dimudakan dari usiaku sebenarnya. (Goodness, Pak Djoko masih ingat yang
kukatakan di milis, bahwa usiaku akan selalu 36 tahun, seperti alamat
emailku fe36smg@yahoo.com)
Acara ngobrol-ngobrol beramai-ramai ini
sempat terganggu karena kebetulan kita duduk di dekat panggung yang ada
live music nya. Abang yang semula didaulat untuk menyanyi di milis,
tidak mau menyanyi di situ. Dia berencana mengajak kita ke karaoke
setelah acara buka puasa bersama itu selesai. Nah, kalau di karaoke dia
mau menyanyi tentu. He told me he loves berkaraoke-ria.
Yang
paling belakangan datang Pak Danar beserta Ibu Roosye yang cantik
jelita. Tentu karena macet. Luna pun datang hampir berbarengan. Tepat
pada waktu itu, beberapa meja yang ada di dalam ruangan telah kosong
sehingga rombongan RKB memutuskan untuk pindah ke dalam sehingga acara
ngobrol kita tidak terganggu live music. Meskipun begitu ternyata suara
orang berceloteh—ga cuma rombongan RKB yang ngobrol dan bercanda—tetap
saja mengganggu.
Angie yang ngantuk, bersandar di bahuku, sambil
memejamkan mata menjadi sasaran empuk kamera Pak Anwari. LOL. Akhirnya
kak Frisch menawarkan mengantar Angie balik ke hotel. Nunuk pun ngikut.
Thanks a lot kak Frisch.
Pak Djoko dan istri plus anak
meninggalkan tempat sebelum pukul 21.00 karena Bu Djoko ingin melakukan
shalat tarawih. Sekitar 30 menit kemudian, Pak Anwari beserta Ibu mohon
diri karena telah dijemput sang pengawal. LOL.
Kita semua yang tersisa meninggalkan RM Pulau Dua sekitar pukul 22.00.
Sesuai
rencana, Abang ngajakin aku berkaraoke. Sayangnya Liquid dan mas Bud’s
pulang, ga ngikut. Mbak Angel dan Luna yang kecapaian pun memilih balik
ke hotel untuk beristirahat. “Wah, ga rame nih, masak cuma 4 orang?”
komentar Abang. Yah, mau bagaimana lagi Bang? Aku tentu saja semangat
45 ngikut karena berkaraoke bareng Abang kan merupakan salah satu item
dalam daftar yang ingin kita lakukan bersama jikalau kita bertemu?
Setelah
mengantar mbak Angel dan Luna balik ke The Sultan, kita berempat,
terbagi dalam dua mobil, menuju ke karaoke yang terletak di Kelapa
Gading, tak jauh dari tempat tinggal Abang. Jalan tol dalam kota tetap
saja macet membuat Abang ga habis pikir. “Sudah hampir jam 11 malam
gini jalan tol tetap macet? What is wrong with Jakarta?” omelnya. LOL.
Well, aku ga perlu lah ikutan ngomel. Hahahaha … aku dengerin aja dia
ngomel ngalor ngidul tentang kota kelahirannya itu, sembari menikmati
pemandangan di luar kaca mobil, Jakarta di waktu malam hari.
“Jakarta benar-benar ga pernah tidur ya Bang?” tanyaku.
“Iyalah. Kamu baru tahu toh?” tanyanya balik. LOL.
Setelah
lalu lintas lancar lagi, nah … aku serasa naik mobil reli lagi deh.
LOL. Abang langsung ngebut! Aku bayangin kak Frisch yang ada di
belakang, harus ikut-ikutan ngebut agar tidak kehilangan jejak. Oh ya,
Van dan Bas sudah balik ke hotel, diantar Papanya, jauh sebelum kak
Frisch nganter Angie dan tantenya balik ke hotel.
Dan …
Betapa
kecewanya Abang tatkala mendapati “Happy Puppy” tempatnya biasa
berkaraoke tutup. Iya, T U T U P!!! Aku, mbak Icha, dan kak Frisch
ketawa aja. Mau bagaimana lagi? Akhirnya Abang ngajakin kita minum
juice di salah satu tempat makan di Kelapa Gading. Kata kak Frisch,
daerah Kelapa Gading memang terkenal memiliki banyak pusat jajan yang
enak dengan harga terjangkau. Banyak orang dari seantero Jakarta datang
ke Kelapa Gading hanya untuk makan.
Seusai ngobrol sambil minum
juice, kita memisahkan diri. Abang pulang ke rumah, aku bersama mbak
Icha dan kak Frisch balik ke The Sultan. Berbeda dengan Abang yang
mantan pereli antar negara sehingga kalau nyetir ngebut, kak Frisch
nyetir dengan santai, sambil ngobrol, sekaligus menjadi tourist guide
yang sabar. LOL. Aku ditunjukinya tempat-tempat yang pernah memiliki
sejarah, misal eks lapangan IKADA, dan yang lain-lain, termasuk “Ini
dia rumah sakit Papinya Icha,” katanya. LOL. Mbak Icha langsung ketawa,
“Emang orang kaya punya rumah sakit? Maksudnya di rumah sakit inilah
Papiku dirawat selama kurang lebih satu bulan sebelum beliau
menghembuskan nafas yang terakhir. Kita anaknya bersebelas bergantian
menjaganya di rumah sakit.”
Dalam perjalanan kita sempat ketemu
rombongan sahur on the road. Entah mereka beneran beribadah
melakukannya atau sekedar hura-hura di malam hari di bulan puasa,
sehingga tidak bakal ditangkap polisi. Oh ya, kita sempat dicegat
polisi yang ngecek kelengkapan surat-surat seperti STNK mobil dan SIM.
Heran, malam hari gitu, kok ya masih ada oknum yang mencari tambahan
duit buat Lebaran? Hahahaha …
Semula mbak Icha mau ngajakin aku
beli sesuatu untuk sahur di Jalan Sabang, tapi ga jadi karena pertemuan
dengan rombongan sahur on the road. Akhirnya kita jadi juga mampir di
satu jalan—aku lupa bertanya apa namanya dan mbak Icha ga bilang—dimana
banyak kafe tenda bertebaran, berjualan segala macam makanan. Aku
memilih menu nasi goreng yang ga ribet cara makannya. Banyak manusia
kalong di sini, LOL, yang sedang makan, entah makan malam yang sangat
terlambat, atau makan sahur yang terlalu awal.
Kita bertiga sampai di hotel sekitar pukul 01.30, if I am not mistaken.
*****
Walaupun
tidur sangat terlambat, dan bangun untuk sahur sekitar pukul
03.30-04.00, jam 6 pagi aku sudah bangun, tergolek kesana kemari. I
don’t know what made me not able to sleep. Akhirnya pukul 06.30 aku
turun, berenang, meskipun aku bilang ke mbak Icha aku akan berenang
bersama Van sekitar pukul 09.00. Well, kalau pengen berenang lagi, toh
aku bisa juga melakukannya. 
“Puasa-puasa kok berenang Na?”
“Well,
yang membatalkan puasa kan makan, minum dan have sex secara sengaja di
siang hari? Berenang tidak termasuk minum secara (tidak) sengaja toh?
Kan kata hadits yang penting nawaitunya? Berniat berenang untuk bisa
minum air secara sengaja atau berenang untuk berolahraga?” LOL.
Seusai
berenang selama kurang lebih satu jam, (pengennya berendam selama
mungkin sebenarnya hahahaha …) aku balik ke kamar, mandi. Angie masih
molor. Nunuk melakukan yoga, or whatever it is called. LOL.
Sekitar
pukul 9, Abang nelpon aku dari kamar 895, tempat mbak Angel dan Luna
menginap. Dituduhnya aku baru bangun tidur. Enak aja, udah berenang kok
dibilang baru bangun tidur. Aku segera ke kamar 895, berkumpul. Mbak
Icha dan si cantik Van yang sudah keliatan aslinya, kenes LOL, nyusul.
Dan, di sanalah kita mempertontonkan diri bersama-sama di depan web cam
untuk dilihat mbak Omie. Mbak Omie pengen lihat kebersamaan kita, ikut
merasakan kegembiraan kita yang berkumpul di darat, ga cuma lewat milis
doang.
Selesai chatting dengan mbak Omie, Abang dan lain-lain
turun untuk sarapan. Aku balik ke kamar, packing. Seusai packing, aku
ajakin Angie turun, berkumpul dengan mbak Icha yang sedang nungguin Van
bermain air. Abang sempat bergabung dengan kita, ngobrol-ngobrol. Aku
ga jadi nyebur lagi. Abang ngeledek, “Takut item ya Na?” LOL. Aku bawa
baju berenang full body kok, yang kayak baju selam itu. Males harus
mandi lagi, ngeringin rambut lagi, dll. Abang yang bilang di milis
katanya mau bertopless ria (untuk nunjukin kalau dirinya memang
laki-laki, bukan perempuan LOL) di kolam renang juga ga jadi. It means,
kita masih bisa menodongnya untuk melakukannya di kesempatan yang akan
datang. LOL. Cihui!!! LOL. LOL.
Btw, di film SHE’S THE MAN, Viola
Hastings dan Sebastian Hastings, si kembar yang bertukar tempat,
tatkala membuktikan bahwa diri mereka perempuan/laki-laki, Viola
menunjukkan dadanya, sedangkan Sebastian melorotkan celananya. It means
kalau Abang hanya akan bertopless ria untuk menunjukkan bahwa dia
laki-laki, itu kurang mantap. Wakakakakaka …
Setelah mbak Angel
turun dan ngobrol sejenak dengan kita bertiga, Abang pamitan karena dia
akan pergi ke satu tempat lain. Aku dan mbak Angel pamitan ke mbak Icha
karena kita akan berangkat ke bandara bareng. Mbak Icha dan kakaknya
Beby masih menunggui si kecil-kecil bermain air.
Aku dan mbak Angel
saling berpelukan dan cium pipi kiri kanan di taksi setelah sampai di
bandara. Oh ya, komentar mbak Angel tentang aku, “Aku bayangin mbak
Nana ini tinggi besar, karena dia kan feminis? Eh, ga tahunya mbak Nana
ini kecil mungil dan feminin.” Kata mbak Icha, “Berarti mbak Angel ga
nyimak ya waktu di milis kita bercanda siapa yang paling enak
digendong, ya tentu si Nana yang kecil.” Ah, ini sih candaan setahun
yang lalu di milis lain, waktu Abang bilang dia sedang belajar ginkang
sehingga dia bisa gendong aku naik Borobudur. Hahahahaha …
What a lovely and wonderful kopi darat. (what is it called in English? LOL.)
I
am looking forward to mbak Omie’s coming next year. Hopefully we can
spend time together. Kalau bisa barengan dengan yang lain, misal mbak
Roslina, Don Marco, Kang Beth, Pak Sumar … tentu saja sekaligus
Abang, Pak Danar, dan Pak Anwari yang home-based nya di luar, what a
miracle comes true.
Love you all,
Nana
PT56 10.35 011007
Below are some pictures of that dinner :) Can you guess which one is my Abang? :)




2 responses so far

Oct 23 2007

Lebaran 2007

Published by afemaleguest under Religion

Seperti tahun lalu, tahun ini Muhammadiyah memutuskan Hari Raya Idul
Fitri jatuh satu hari lebih cepat daripada yang diputuskan oleh
pemerintah. Dan karena keluargaku—my dearest Mom and my siblings,
including my late dad—adalah alumni sekolah Muhammadiyah, kita
sekeluarga pun melakukan shalat Idul Fitri pada hari Jumat 12 Oktober
2007. Di bawah ini adalah foto-foto sewaktu shalat Id di lapangan
tennis Jalan Pamularsih Semarang.




Jika
tahun lalu kakakku dan istrinya sudah ada di Semarang, tahun ini mereka
berdua melakukan shalat Id di Cirebon, baru kemudian ‘mudik’—bagi
kakakku tentu untuk memenuhi panggilan ‘primitif’nya atas masa
kanak-kanaknya yang dia habiskan di Semarang bersama adik-adiknya—ke
Semarang. Kebetulan istrinya berasal dari Cirebon sehingga tidak perlu
mudik ke kota lain.
Sepulang dari shalat Id, aku, mom, kedua
adikku, plus Angie mampir ke pasar Krempyeng di ujung Jalan Pusponjolo
Selatan. Suasana pasar cukup ramai, banyak penjual janur dan selongsong
ketupat. Harga-harga yang naik hampir 50% dari satu hari sebelumnya
tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk berbelanja untuk menyambut
Lebaran.
Sepulang dari pasar (FYI, mom helped by my sister and me
cooked opor etc on Thursday), kita sekeluarga tidak pergi kemana-mana,
seperti masa kecilku dulu, Lebaran kita ngendon di rumah saja. Cuma
dulu aku dan kakak beserta adik suka duduk-duduk di ruang tamu
ngeliatin orang-orang yang lalu lalang, kali ini aku ngendon di kamar
melulu, bercinta dengan my dearest desktop.  Seandainya warnet
langgananku buka, tentu aku akan mengajak Angie ngenet. 
Selepas
Maghrib, suasana di Pusponjolo mulai ramai dengan suara takbir dan
bedug yang dipukul bertalu-talu, banyak orang larut dengan kegembiraan
bertakbir, menyambut kedatangan hari yang paling ditunggu selama bulan
Ramadhan. Angie dan adikku ikut nonton dari teras depan rumah.

Aku
tetap ngendon di kamar, ngebut balesin email Abang yang telah ngendon
di desktop sejak dua bulan lalu. (Karena kesibukanku ngikut lomba blog
bulan Agustus kemarin, emailnya pun tersingkir dengan damai. LOL.)
Kakakku dan istrinya datang sekitar pukul 20.00. Mereka berangkat
meninggalkan Cirebon selepas shalat Jumat karena pagi hari setelah
shalat Id jalan pantura macet.
Hari Sabtu, I didn’t go anywhere.
Seperti biasa, ngendon di depan desktop, nge-game, ngetik, nonton film,
plus ngobrol dengan Angie. Adikku yang merayu kakakku untuk jalan-jalan
nampaknya tidak berhasil. LOL. Kakakku satu ini termasuk usil pula,
suka godain adik-adiknya.
Hari Minggu pagi, saat pergi berenang!
Suasana kolam renang yang sepi pengunjung membuatku merasa nyaman untuk
berenang selama satu jam tanpa berhenti. Sinar matahari yang telah
memantul ke kolam renang semenjak aku nyemplung kolam (sekitar pukul
06.15) tidak kupedulikan. Btw, seandainya aku benar-benar tidak peduli,
mungkin aku tidak akan naik sampai aku teler berenang kali. LOL.
Kenyataannya pukul 07.20 aku sudah meninggalkan kolam, menuju tempat
shower.
Seusai mandi, seperti biasa (kalau tidak terburu-buru
harus menghadiri suatu acara penting), aku nongkrong di salah satu
bangku yang tersedia, scribbling in my diary, plus baca Jurnal
Perempuan no 51 yang bertajuk “Mengapa Mereka Diperdagangkan”. Dari
judulnya, kita bisa menebak isinya berupa artikel-artikel yang membahas
tentang children and women trafficking.
Begitu rambutku kering,
aku cabut. Ga langsung pulang ke rumah, tapi mampir ke warnet. Email
balasan buat Abang ga bisa nunggu sampai warnet langgananku buka
tanggal 22 Oktober nanti. (Well, you can also read it as “I cannot wait
that long to send the reply. ) Rencana untuk ngumpet dari milis RKB
sampai sok tanggal 22 Oktober tak jadi kulakukan karena aku tergoda
untuk menulis komentar dua postingan. 
Pulang dari ngenet, sesampai rumah, my mom greeted, “Kerasan amat di kolam renang, eh?” LOL.
Selesai
sarapan (rasanya lapar poll kayak orang ga makan seharian aja LOL),
cuci piring, help Mom cook in the kitchen, aku masuk kamar. Berhubung
Angie asik menggunakan desktop, aku scribbling di the cutie. But ga
lama … baru satu jam aku nulis dan baca di the cutie, telerlah aku
sambil memeluk bantal cinta pemberian mbak Icha bulan Agustus lalu.
Cuapekkkk … ZzzZZzZZzzzzzzz …
****
Tiga jam napping. Nyaman
sekali, eh? Padahal Semarang panas banget siang ini. Setelah bangun,
aku langsung ke dapur membuat cappuccino dingin. Balik ke kamar, nonton
disk 2 FREEDOM WRITERS. I do want to write a review on this great movie
but berhubung terlalu banyak yang ingin kutulis, jadi bingung mau mulai
dari mana. :(
Sementara itu, ternyata kakak dan adik-adik pergi
entah kemana. They didn’t offer me to join. Akhirnya aku berinisiatif
ngajakin Angie keluar.
Tujuan pertama adalah kawasan CITY WALK
Semarang yang berlokasi di Jalan Merak Kota Lama. Seperti biasa, aku
ini tipe lelet, sehingga meskipun kawasan CITY WALK telah diresmikan
oleh pemerintah beberapa minggu lalu (entah tepatnya kapan, aku lupa),
aku baru kali ini berkesempatan jalan-jalan ke sana. Bulan puasa
kemarin tentu membuatku malas jalan-jalan. (Biasa lah, ngeles! LOL)
Mengapa
tiba-tiba aku pengen mengunjungi CITY WALK? Beberapa hari lalu seorang
siswa meminta bantuanku untuk menerjemahkan laporannya ke dalam Bahasa
Inggris, tentang kunjungannya ke CITY WALK. Hal ini membuatku ingin
berkunjung ke sana sendiri, membuktikan bahwa CITY WALK benar-benar
sepi, yang berarti tujuan pemerintah Semarang untuk ‘mengubah’ citra
kawasan tersebut, sekaligus untuk menambah pusat kuliner di Semarang
gagal.
Mengubah citra?
Kawasan
yang dipilih untuk menjadi CITY WALK dulu (mungkin sekarang pun masih)
adalah kawasan ‘hitam’, tempat para kriminal dan pemabuk mangkal,
tempat para PSK (pekerja seksual komersial) menunggu langganan yang
berhidung belang (kayak zebra? LOL) dan biasa terjadi perkelahian antar
geng. Wah, seperti kawasan Long Beach dalam film FREEDOM WRITERS? Nana
adalah tipe ‘anak manis’ yang tentu tidak tahu apa-apa kalau ditanya
masalah perkelahian antar geng di Semarang, tempat kriminal, pemabuk,
dan PSK mangkal. Count me out. (Dengan kata lain you can say NANA YANG
KUPER.)
Dengan memilih kawasan itu menjadi CITY WALK, memang
diharapkan akan mengubah citra kawasan tersebut menjadi satu kawasan
yang ramah penduduk, tak lagi dicap ‘hitam’. Masyarakat akan berani
berkunjung ke sana karena tak lagi merupakan area yang harus dihindari.
Unfortunately usaha pemerintah kota Semarang ini nampaknya gagal.
Paling tidak untuk ukuran saat ini.
Menambah pusat kuliner.
Semarang
bisa dianggap cukup berhasil dengan usaha WAROENG SEMAWIS tempat
masyarakat bisa berkunjung untuk mendapati berbagai macam makanan.
WAROENG SEMAWIS yang dikelola oleh KOPI SEMAWIS (Komunitas Pecinan
Semarang untuk Pariwisata) diselenggarakan setiap hari
Jumat-Sabtu-Minggu tiap minggu.
Pemerintah kota Semarang
berkeinginan menjadikan CITY WALK juga menjadi pusat kuliner seperti
WAROENG SEMAWIS yang telah berhasil menyedot perhatian masyarakat
Semarang yang terkenal suka makan enak.
Mengapa proyek CITY WALK
gagal menarik minat masyarakat? Pemerintah harus segera introspeksi dan
segera pula memperbaikinya agar proyek ini tidak gagal total begitu
saja.
Berikut ini gambar CITY WALK yang memang lengang, hanya ada tenda-tenda kosong tanpa seorang pedagang pun.


Dari
kawasan CITY WALK, aku mengajak Angie ke WAROENG SEMAWIS. Lebaran
ternyata tidak berarti WAROENG SEMAWIS tutup. Tatkala aku sampai di
sana, kurang lebih pukul 18.15, suasana masih sepi, mungkin karena aku
sampai di sana terlalu sore. Beberapa pedagang sedang sibuk menata
barang dagangannya. Tidak ada tumpukan pelancong di jalanan maupun di
tenda-tenda yang menawarkan berbagai macam makanan. Selain makanan, ada
pula stand pakaian, pernak pernik aksesoris, dan dua stand khusus
ramalan, seperti biasa.
Waktu aku dan Angie menikmati makan malam,
gerimis turun. Namun gerimis tidak berarti minat masyarakat turun.
Beberapa orang kulihat segera mengembangkan payungnya dan tetap
berjalan, menunjukkan bahwa mereka telah mempersiapkan diri dari rumah
seandainya turun hujan, mereka akan tetap bisa berjalan-jalan di
sepanjang jalan yang disebut Gang Warung itu.
Di bawah ini beberapa foto yang kujepret di kawasan WAROENG SEMAWIS pada hari Minggu 14 Oktober 2007..



Sayangnya
makan malam itu kurang nikmat. Aku pesan tahu dan tempe penyet,
sambelnya ampuuuuunnn… pedesnya ga karuan. :( :( Angie yang ingin
makan siomay membuatku memilih makanan yang terletak di tenda tidak
jauh dari stand siomay itu. Di sebelah kanan stand siomay, ada stand
sate babi. Count me out for this kind of food.  Di sebelah kiri ada
pusat lalapan yang berjualan ayam goreng, bebek goreng, burung dara
goreng, plus tempe dan tahu penyet. Aku ingin burung dara goreng, tapi
mereka tidak punya. Ayam goreng, wah .. Lebaran selalu identik dengan
ayam, so aku males makan ayam goreng di situ. Ditawari bebek goreng, ah
… ga berani nyoba aku. (I am not a food adventurer!!!) akhirnya aku
pilih tahu dan tempe penyet yang sambelnya minta ampun pedesnya itu.
(Perhaps my Abang would enjoy it coz he said he loved spicy food.)
Selesai
makan, dan gerimis telah reda, aku dan Angie jalan-jalan lagi, yah cuma
muter-muter doang sih di sekitar situ. :) kali ini aku tidak sampai ke
kelenteng Tay Kak Sie dan replika kapal Cheng Ho.
Sewaktu aku dan
Angie meninggalkan pelataran parkir, kulihat lebih banyak pengunjung
yang berdatangan. Kata tukang parkir, malam minggu pengunjung Waroeng
Semawis banyak seperti biasa, tidak ada perubahan meskipun hari itu
merupakan Lebaran hari pertama.
Aku dan Angie sampai di rumah sekitar pukul 20.00. begitu memasuki kamar, hujan turun dengan deras. Wah … pas banget? :)
PT 22.40 141007

No responses yet

Oct 22 2007

My idea was stolen

Published by afemaleguest under daily

Bagaimana perasaanmu jika idemu dicomot begitu saja dan ditulis oleh
seorang jurnalis, dimuat di sebuah surat kabar yang mengaku terbesar di
Jawa Tengah, tanpa menuliskan namamu sebagai si pemilik ide?
Hari
Jumat 19 Oktober 2007 di surat kabar tersebut halaman 4 termuat sebuah
artikel dengan judul “Hipermarket, Memangsa Mom and Pop’s Store?” aku
langsung heran. Istilah MOM AND POP’S STORE aku dapatkan dari Professor
Kenneth Hall, dosen tamu sewaktu aku kuliah di American Studies UGM
yang waktu itu memberikan mata kuliah “American Capitalism”. Aku
menuliskannya dalam postinganku yang kuberi judul HYPERMARKET (klik
link berikut ini
http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/09/hypermarket.html )
bulan September kemarin setelah DP MALL diresmikan dan menarik
perhatian jutaan penduduk Semarang. Aku ingat sepulang dari kuliah
waktu itu, aku dan Julie berdiskusi tentang hypermarket yang mencaplok
Mom and Pop’s Store yang mengingatkan kita berdua pada film YOU’VE GOT
MAIL, contoh yang sangat realistis terjadi dilukiskan dalam film yang
berkisah tentang sepasang (calon) kekasih yang bertemu pertama kali
lewat dunia maya.
Lha kok tahu-tahu ide itu nongol di surat kabar tersebut?
Di
dalam artikel yang sama, aku menulis pernyataan Michael Sunggiardi,
presenter utama dalam seminar “SOLUSI IT MURAH UNTUK DUNIA BISNIS” yang
diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata, “Di Sudan yang konon
merupakan negara yang lebih miskin dibandingkan Indonesia, menjual
rokok eceran saja minimal 5 batang dan kelipatannya. Di Indonesia yang
nampak lebih makmur dibandingkan Sudan, orang-orang masih biasa membeli
rokok eceran satu batang.”
Namun si jurnalis salah membaca
tulisanku di artikel tersebut. Yang dicomot justru adalah pertanyaan
(atau pernyataan) dariku, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall?
Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom
and Pop’s Store?” dan dituliskan di artikel di surat kabar tersebut
sebagai pernyataan dari Michael Sunggiardi, yang nampaknya sobat lama
Ridwan Sanjaya, dekan Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata.
(FYI, I attended the seminar coz I got the invitation for free after
winning the blog competition held by IKOM Unika Soegijapranata.) Lah,
kalau Michael Sunggiardi membaca artikel tersebut, bakal heran lah dia
karena ditulis dia menyatakan, “Mana bisa membeli rokok satu batang di
mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun
di Mom and Pop’s Store?”
By the way, dalam hobbyku blogging, aku
selalu berusaha untuk menulis darimana aku mendapatkan ide, seandainya
ide itu tidak murni datang dariku. Misal, pernyataan di Sudan yang
boleh membeli rokok minimal 5 batang. Kalau tidak menghadiri seminar
itu dan mendengarkan presentasi Michael Sunggiardi dengan tekun, mana
aku tahu? Kalau aku cabut dari kuliah Professor Kenneth Hall, mana aku
tahu kalau hypermarket di Amerika benar-benar memangsa Mom and Pop’s
Store? Mana aku bisa menulis artikel yang kuberi judul “HYPERMARKET”
itu? Dan aku sebutkan nama kedua orang tersebut dalam artikel itu.
By
the way (again), beberapa tulisanku yang terinspirasikan tulisan Adi
Ekopriyono, salah satu wartawan di surat kabar itu, aku tak lupa
menyebut namanya tatkala aku menuliskannya..
Jadi ingat
‘kecelakaan’ di milis Forum Interaktif bla bla bla tatkala seorang
member komplain karena tulisan di blognya di’culik’ dan dimuat di surat
kabar online dan nama penulisnya diganti nama salah satu moderator
milis tersebut. Contoh plagiarisme yang benar-benar memalukan.
Masih
untunglah kasus yang terjadi padaku hanya pencomotan ide. Cuma
nyebelinnya yaitu blogging adalah suatu non profitable activity,
sedangkan jurnalis kan dibayar secara profesional oleh surat kabar
tempat mereka bekerja?
PT56 20.35 201007

4 responses so far

Oct 22 2007

Angie and Pocahontas

Published by afemaleguest under Angie




“Mama, nanti tolong pinjamkan VCD POCAHONTAS di Lestat ya Ma. Ada tugas dari sekolah?”
Itu adalah sms yang Angie kirimkan beberapa minggu yang lalu.
“Kalau
Lestat punya Sayang, ntar Mama pinjamkan. Mama juga mau nonton. Soalnya
di rental yang di Puspowarno ga punya. Beberapa tahun lalu Mama nyari
kesana ga ada.” Itu sms jawabanku.
Dan ternyata Lestat VCD/DVD
rental tempatku menjadi member tidak punya VCD “Pocahontas”, yang
dimiliki hanya “Pocahontas 2”. Angie semula tidak mau pinjam, namun aku
bilang, “It’s okay honey. Let’s rent it. We will look for the story of
Pocahontas in the internet, and then combine it with the story in
“Pocahontas 2”.
Sesampai rumah, Angie langsung nonton “Pocahontas
2” yang ternyata membuatnya bingung. “Angie ga bisa bayangin ceritanya
bagaimana Mama. Harus nonton dari yang pertama dulu.”
Akhirnya aku
buka-buka buku THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE. Aku baca
pas bagian John Smith, salah satu the first settler di Amerika Serikat
di awal abad ke 17, sekitar tahun 1620-an. Ada sedikit cerita tentang
Pocahontas tatkala dia dan rakyatnya membantu John Smith survive in
that wilderness.
*****
Angie dan kelompoknya mendapatkan tugas
dari guru Bahasa Inggrisnya untuk mementaskan cerita “Pocahontas”.
Mementaskan di sini maksudku tidak hanya bermain di atas pentas, namun
merekamnya menggunakan handycam. Untungnya salah satu teman di
kelompoknya mendapatkan DVD POCAHONTAS, sehingga Angie dan
teman-temannya pun menonton bareng, termasuk VCD POCAHONTAS 2 yang
kusewa dari Lestat, untuk mendapatkan gambaran what the story is like.
Kemudian
mereka berbagi tugas. Dua anak membuat naskah “Pocahontas” ala mereka.
Kemudian mereka menyerahkan naskah itu kepada Angie, sembari berkata,
“Bilangin Nyokapmu agar diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dong.”
Wah …  “Jangan lupa, bilangin agar pilihan kata dan grammarnya
jangan terlalu canggih, ntar ketahuan kalau naskah itu bukan bikinan
kita.” LOL.
Kenyataannya hari Senin 8 Oktober lalu, sepulang dari
kursus Bahasa Inggris, (sekitar pukul 21.00, karena mampir dulu ke
warnet, trus mampir ke “permak jeans”, baru balik ke rumah, mana hujan
deras banget malam itu, yang membuat busi motorku terciprat air banjir
dan mogok 10 hari setelah itu), Angie langsung nongkrong di depan
monitor desktop sehingga aku mengetik/membaca artikel menggunakan the
cutie. I made her a cup of hot nescafe. Angie menerjemahkan naskah yang
dibuat temannya ke dalam Bahasa Inggris sendiri, tanpa merepotkanku.
Hanya sesekali bertanya beberapa kosa kata, atau grammar.
Sekitar
pukul 23.30 aku sudah teler sedangkan Angie masih bekerja di depan
desktop. Setelah mematikan the cutie, aku langsung menempatkan diri di
pojok, memeluk guling dan pamitan ke Angie, “Mama udah ga kuat Sayang.
Mama bobo duluan ya?” Aku pikir tentu ga lama lagi Angie akan nyusul
tidur, karena dia kan ga betah melek sampai malam?
Sekitar pukul
02.30 aku terbangun, dan terkejut melihat Angie yang tetap dalam posisi
yang sama sebelum aku jatuh tertidur: duduk di depan monitor, mengetik,
sesekali memelototi kertas berisi naskah berbahasa Indonesia yang dia
letakkan di samping monitor, sambil sesekali juga chatting lewat hape
menggunakan fasilitas ‘MXIT” yang akhir-akhir ini populer melanda
anak-anak remaja di Indonesia. Oh God, I felt so guilty, to let my
Lovely Star work all alone. “Honey … belum bobo dari tadi?” teriakku.
Dengan
tenangnya, Angie menjawab, “Belum Ma. Lah teman-teman minta naskah ini
sudah jadi besok. Kita mau latihan di sekolah sekitar pukul 09.00.”
Namun
akhirnya sekitar pukul 03.00, Angie beranjak ke tempat tidur, berusaha
mengistirahatkan mata dan tubuhnya sejenak sebelum akhirnya kubangunkan
pukul 03.30 untuk makan sahur.
Seusai sahur, Angie tidur, setelah
sempat mengeluh, “Kerjaan belum selesai. Angie sudah capek dan ngantuk.
Ah, Angie mau bobo dulu.”
Akhirnya sekitar pukul 05.00-06.30 aku menyelesaikan menerjemahkan naskah itu.
Angie
bangun sekitar pukul 06.45 setelah alarm di hape berbunyi. Dia langsung
duduk di depan monitor komputer lagi, siap melanjutkan pekerjaannya.
Namun, sebelum ‘nyawanya berkumpul lagi’, LOL, aku bilang padanya, “I
have finished it honey. It’s done now.”
Angie menatapku dengan
bengong (belum benar-benar bangun dia kayaknya LOL), but then smiled,
didn’t say anything. Namun dari sorot matanya aku tahu, she wanted to
say, “Thanks a lot Mama. You are the best.” Cie … LOL.
*****
Minggu
pagi 21 Oktober 07 aku sedang bersiap-siap berangkat berenang tatkala
aku iseng membaca sms di hapeku. Ada sms dari teman Angie untuk
mengajak berkumpul di sekolah sekitar pukul 07.00 karena mereka akan
berangkat menuju Gedong Songo untuk pengambilan gambar drama
POCAHONTAS. Sehari sebelumnya Angie dan beberapa temannya sudah ke
sana, hunting tempat-tempat untuk pengambilan gambar.
“Angie mau pergi lagi hari ini?” tanyaku, retorika. LOL.
Angie yang masih molor cuma mengangguk.
“Mama pengen berenang nih. Gimana?”
“Yah
… ga ada yang ngantar Angie ke sekolah dong Ma? Angie sama
teman-teman janjian ketemuan di sekolah pukul 07.00, trus berangkat
bersama-sama ke Gedong Songo.”
Setelah sempat bingung sejenak,
apakah aku akan memanjakan keegoisanku untuk berangkat berenang, atau
mengalah to stay home dan mengantar Angie ke sekolah, akhirnya I made
up my mind: kutanggalkan baju berenangku dan menyalakan desktop.
Mengetik sedikit di diary, main game sebentar, kemudian menyiapkan sarapan Angie setelah dia usai mandi.
Sekitar
pukul 07.00 aku mengantarnya ke sekolah. Seorang teman Angie
wanti-wanti, “Janjian kumpul di sekolah jam 07.00 ya Ngie? Jangan telat
loh!”
Kenyataannya, aku harus menemani Angie menunggu teman-temannya
kurang lebih 40 menit di depan gedung sekolah agar Angie ga perlu
merasa menjadi seperti “anak ilang”. LOL.
Pulang dari mengantar
Angie ke sekolah, I made a cup of cold cappuccino, karena meskipun
masih pagi, udara di Semarang sudah terasa hangat, sebelum akhirnya
menjadi panas di siang hari.  Then, balik ke kamar, nongkrong lagi di
depan monitor desktop.
Dan inilah hasil my ‘humming’ about Angie and Pocahontas. LOL.
Btw,
beberapa minggu lalu waktu Angie meminta sumbangan ide untuk menulis
paper di tempatnya kursus bahasa Inggris, dengan iseng aku bilang,
“Hubungan antara Pocahontas dan sejarah berdirinya negara Amerika
Serikat…”
Angie langsung manyun. LOL. Dan aku bilang, “Well, your class teacher will comment, ‘Ini sih Bu Nana banget!!!’” LOL.
“Atau ini Sayang … ‘Keberadaan pusat wisata kuliner Waroeng Semawis sebagai salah satu upaya pembauran etnik di Semarang’ …”
Angie pun tambah manyun. Hahahahaha …
PT56 09.20 211007

No responses yet

Oct 22 2007

My dear Motorcycle

Published by afemaleguest under daily

Aku
super heran dengan motorku yang rada ajaib (kayak yang punya kali.
LOL.) Gimana ga heran, setahun yang lalu, tak pernah kubawa ke
bengkel sekalipun, namun tak pernah sekalipun dia membuatku repot,
karena mogok misalnya. Busi pun ga pernah kuganti. Sakti kan? LOL.
Paling-paling yah … cuma nambah angin untuk bannya.

Nah,
sekitar bulan Juli lalu motor akhirnya kubawa ke bengkel setelah
beberapa minggu sebelumnya sempat mogok sejenak, meskipun setelah
kuganti businya dengan yang baru, motor langsung hidup lagi, dan
dengan setianya mengantarku kemana-mana lagi. Akhirnya motor kubawa
ke bengkel setelah adikku ngomelin aku, “Kamu tuh kebangeten.
Motormu setia banget padamu, kamu cuma mau menaikinya doang. Tapi ga
mau membawanya ke bengkel.” (Udah untung yah aku mau menaikinya?
Berapa banyak orang yang ngantri minta kunaiki tapi kucuekin?
Wakakakaka … Ssssssttt .. dilarang parno meskipun bulan Ramadhan
telah usai. LOL).

Setelah
bulan Juli yang lalu, awal bulan September kemarin motor kubawa ke
bengkel lagi, karena kebetulan ban luar roda belakang perlu diganti,
sekaligus servis dan stroom accu.

Kalau
dihitung-hitung, motor perlu kubawa ke bengkel lagi paling cepet
bulan November lah kupikir, karena motor jarang kunaiki ke satu
tempat yang jauh. (aku bukan tipe orang yang suka keluyuran
kemana-mana. Kegiatanku setiap hari hanya mengantar anak semata
wayangku ke sekolah, menjemputnya, trus ke kantor. Jarak rumah ke
sekolah Angie, sekitar 3 km. Jarak rumah ke kantor juga cuma sekitar
3 km. Oh yah, selain itu, ke Paradise Club fitness center, mungkin ya
sekitar 3-4 km. Warnet tempatku online untuk blogging, milising, dan
chatting dengan Abangku seorang juga berada di daerah yang sama.)
Namun ternyata perhitunganku meleset.

Hari
Kamis sore 18 Oktober 2007 sekitar pukul 18.15, seusai berenang,
motorku mogok dalam perjalanan pulang. Aku yakin pasti businya harus
diganti karena sekitar 10 hari sebelumnya, waktu hujan turun deras,
aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, sempat terjebak
banjir. Mungkin busi kena cipratan air waktu itu. Cukup ajaib pula
kalau ternyata motorku masih bisa bertahan selama kurang lebih 10
hari setelah kejadian terjebak banjir itu.

Setelah
menuntun motor (bayangkan, aku kalah gede dibandingkan motorku LOL),
selama kurang lebih 2 km (bayangkan lagi, aku memakai rok panjang
hitam, jaket yang lumayan tebal, sandal jepit, plus tas punggung
berisi baju berenang, handuk, dll), akhirnya aku menemukan sebuah
bengkel buka. Alhamdulillah … Tanpa ba bi bu, aku langsung bilang
ke pemilik (atau pegawai … atau apalah) bengkel, “Busi Pak…”

Si
pemilik segera mengambilkan busi dan menyerahkannya kepadaku.

Aku
tidak mengatakan apa-apa selain menunjuk ke arah motorku. Dia
langsung bertanya, “Sekalian dipasang?”

Iya
…” wah … not a bad body language, eh? LOL.

Setelah
busi diganti, motor langsung bisa nyala setelah distarter. Syukurlah

*****

Namun
tiba-tiba motorku ga mau distarter lagi keesokan harinya, Jumat 19
Oktober 2007 seusai aku ngenet (sepulang dari kantor). Si Bapak
pemilik warnet yang (ternyata) baikan, langsung menawarkan jasa untuk
menstarterkan motor, dengan alasan, “Eman-eman sepatunya mbak,
kalau dipakai untuk starter motor nanti cepat rusak.” (FYI, aku
memakai sepatu boots hitamku yang memiliki hak setinggi (cuma) 5 cm.)
Namun ternyata jasa baiknya tidak disambut baik oleh motorku yang
sedang ngambek (kayak Abangku yang sedang ngambek saat ini. LOL.)
Mesin motor tetap saja ga mau nyala meskipun telah ada 3 orang yang
membantu menstarternya. Busi juga dicek lagi, meskipun aku sudah
bilang kalau busi barusan ganti satu hari sebelumnya.

Aku
yang merasa ga enak karena ngerepoti banyak orang, akhirnya bilang,
“Sampun Pak, dalem beto wonten bengkel kemawon. Wonten bengkel
caket mriki to nggih?” Kebetulan memang letak warnet yang satu ini
dekat dengan bengkel tempat aku membeli busi satu hari sebelumnya.
Akhirnya si Bapak itu mengalah, ga lagi ngotot untuk bisa membuat
mesin motorku nyala. LOL.

But
… it was not my lucky day.
:(

Abangku ngambek, motor ngambek, eh, bengkel ngambek pula, LOL, alias
tutup. Aku langsung berinisiatif menuntun motor ke arah rumah, karena
seingatku sepanjang jalan Indraprasta itu ada beberapa bengkel.
Bayangkan keadaanku waktu itu, memakai rok panjang hitam, blazer
hitam, kalung pemberian anakku tersayang, sepatu boots berhak 5 cm,
membawa tas punggung mungil berisi the cutie, buku, dll. Dalam
perjalanan, aku ternyata sempat “menarik perhatian” beberapa
orang. Ada dua orang laki-laki yang dengan sengaja berhenti,
menyapaku, “Mogok mbak?” dan dengan sok pahlawan menawariku untuk
melakukan sesuatu. LOL. Misal: mencoba menstarterkan motor, ngecek
busi, nanya apakah aku bawa peralatan di bawah jok motor. Setelah
gagal, mereka menawariku untuk mendorong motorku. Caranya begini,
motorku dan motornya berjalan bersisian. Dia akan menarik motorku
sembari menaruh kakinya di knalpot, atau bagaimanalah, yang penting
motorku mau jalan, tanpa aku menuntunnya. Namun dengan simple
kujawab, ”Waduh … kulo mboten wantun menawi ngoten.” Akhirnya
mereka (keduanya menawari hal yang sama, dalam waktu yang berbeda.
Heran, kok mereka bisa punya ide yang sama yah?) pun meninggalkanku
sembari bilang, “Nyuwun ngapunten mbak nggih, kulo tak rumiyin…”
dengan sorot mata yang kuterjemahkan, “I do want to help you, but I
cannot.” LOL.

Dan
aku pun heran ternyata masih ada juga orang yang baik hati begitu?
Atau aku memang terlalu merasuk ke dalam my individualistic lifestyle
sehingga perlu merasa heran dan hostile tatkala ada orang asing
menawarkan jasa baiknya kepadaku?

Dalam
perjalanan pulang masih banyak orang yang menyapa, “Mogok mbak?
Bisa saya bantu?” namun aku cuma tersenyum (entah manis entah pahit
entah kecut LOL) sembari meneruskan perjalanan. Well, kira-kira aku
berjalan sembari menunton motor sekitar 2 km. Capek sih engga, tapi
yang kukhawatirkan adalah telapak kakiku yang mungkin akan lecet
karena aku memakai high-heeled boots. Betapa lega ketika aku sudah
memasuki kompleks Pusponjolo. Lebih lega lagi setelah sampai rumah
tentu.
dan ternyata telapak kakiku
ga lecet. Kalau lecet repot lah ke kantor. Sepatu ketsku yang
berwarna hitam rusak, yang ada cuma high-heeled shoes plus boots,
yang tentu akan semakin memperparah lecet.

Sekarang
hari Sabtu 20 Oktober 2007 pukul 19.20. Aku belum sempat bawa motor
ke bengkel. Tadi pagi ngajar pukul 08.00-12.00, aku dipinjami motor
adikku terkecil yang kebetulan ga pergi kemana-mana. Setelah pulang,
makan siang, aku berangkat lagi ke kantor naik bus. Jadi bernostalgia
waktu sering pulang pergi ke Jogja.

Pulang
dari kantor naik bus. Waktu turun dari bus, memasuki jalan Pusponjolo
Tengah aku memang berniat untuk jalan kaki saja, ga naik becak (waktu
berangkat aku ya jalan kaki), lumayan berolah raga, jalan kaki kurang
lebih 10 menit naik high-heeled boots. LOL. Namun, waktu turun dari
bus, seorang tukang becak menawariku, aku langsung menggelengkan
kepala, sembari bilang, “Mboten Pak…” pas waktu itu aku menatap
matanya, dan kulihat sinar kekecewaan di sana.

Aduh … Tapi masak setelah bilang, “Mboten Pak…” aku balik
lagi dan meralat, “Nggih pun Pak…” kok aku ya merasa ga nyaman?
Kok jadi plintat plintut? (Betapa aku memang sering merumitkan
masalah yang sebenarnya ga rumit-rumit amat. :) )
Walhasil, selama berjalan sampai rumah, di pelupuk mataku terus
terbayang sorot mata dengan sinar kekecewaan itu. I was unhappy. :(

PT56
19.40 201007

No responses yet

Oct 22 2007

K A L U N G

Published by afemaleguest under Angie

Beberapa bulan yang lalu di kantin
kantor, aku ditawari oleh Ibu penjaga kantin,

“Bu Nana … kalungnya indah-indah
loh. Murah-murah lagi.”

Aku sempat bengong. Heran, mengapa
Ibu kantin menawariku kalung? Apakah tak pernah dia perhatikan aku
bukan tipe orang yang suka memakai berbagai macam aksesori? Aku hanya
memakai anting lama, pemberian my beloved Mom, mungkin tatkala aku
duduk di bangku SMA, atau bahkan sebelum itu. Kalung yang dibelikan
oleh my Mom waktu aku masih duduk di bangku kuliah S1 kujual tahun
2002 lalu, dan uangnya kubelikan handphone, sebelum aku berangkat
untuk melanjutkan kuliah di American Studies UGM. Handphone lebih
penting bagiku waktu itu agar bisa berkomunikasi dengan Angie yang
berada di Semarang.

Namun karena tawaran Ibu kantin
itulah, aku mulai memperhatikan aksesori yang dikenakan para
siswa/mahasiswa yang datang. Nampaknya aksesori kalung mulai digemari
lagi. Atau mungkin aku yang terlalu kuper dan tidak pernah
memperhatikan hal tersebut karena aku sendiri tidak pernah peduli.
Akan tetapi hal ini tidak berarti aku serta merta ngikut apa yang
sedang trend. Aku tetap tidak kepengen memakai kalung, so ngapain
beli?

(Telah cukup lama aku tidak lagi
memperhatikan penampilan dan aksesorisnya, seperti tas tangan,
sepatu, bros, dan lain-lain. Pakaian pun aku memakai yang berwarna
hitam melulu sehingga dijuluki “Ms. Black” oleh banyak
siswa/mahasiswa. Namun, di zaman ‘jahiliyah’ku dulu, aku suka
juga koleksi sepatu dan tas berwarna warni, bros, dll.)

****

Hari Sabtu 29 September 2007 di hotel
The Sultan, mbak Angel menunjukkan padaku kalung yang dia pakai.
“Kalung ini yang membelikan Luna loh mbak Nana, satu hari waktu di
sekolah ada acara semacam bazaar untuk memperingati Mother’s Day.
Luna masih duduk di bangku SD waktu itu. Sepulang sekolah dia berikan
kalung ini kepada saya. I do appreciate it much more than a golden
necklace, karena yang memberi Luna, anakku semata wayang, di hari Ibu
pula.”

Dan aku pun memandangnya dengan
takjub. Sorot mata kebanggaan terpancar dari mata mbak Angel.
Sedangkan Luna yang disebut-sebut tersenyum simpul, berbangga hati
pula karena kalung pemberiannya sangat dibanggakan oleh Mamanya.

Aku beberapa kali sempat bertanya
pada diri sendiri, apakah aku akan tetap memiliki hubungan yang
harmonis dengan anakku, seandainya anakku laki-laki. Dan pada hari
itu kulihat keharmonisan antara mbak Angel dengan Luna, anak
laki-lakinya. Would I experience like that if my child were a son?

Aku yang feminis ini, plus semasa
kecil sering mainan “khas anak laki-laki” sebangsa layang-layang,
kelereng, mobil-mobilan, dan sewaktu SMP ikut ekstra kurikuler
karate, sehingga aku merasa ‘pernah’ bersikap tomboy, tetap
merasa tidak mampu menyelami jiwa laki-laki. Mungkin aku akan tetap
bisa berusaha membina hubungan harmonis dengan seorang anak laki-laki
(jika dikaruniai seorang anak laki-laki LOL). Namun untuk
‘membentuknya’ menjadi seorang sosok laki-laki yang macho,
entahlah.

Beberapa minggu lalu waktu
mengunjungi dugderan, aku senang melihat permainan kapal-kapalan,
(aku pernah membelikan Angie kapal-kapalan, sekedar untuk
‘menularkan’ kebahagiaan kepadanya sewaktu aku kecil bermain
kapal-kapalan ini dengan kakakku.) gasing, mobil-mobilan. Tapi
tatkala melihat satu stand PSIS yang berjualan segala macam atribut
sepakbola, aku tak bisa membayangkan apakah aku akan dengan senang
hati mengajak anak laki-lakiku ke stand tersebut. Satu hal yang
pasti, waktu aku kecil di dugder belum ada stand seperti itu. LOL.
Dugderan memang merupakan salah satu perekatku dengan ‘akar budaya’
masa kecilku.

****

Kurang lebih sepuluh hari yang lalu
tatkala membeli sebuah rok dengan belahan dada yang agak rendah, aku
bilang ke Angie, “Bakal terlihat aneh ya Yang kalau di leher Mama
kosong? Mama mau beli kalung ah.”

Angie yang semula tidak begitu
tertarik dengan kalung (waktu kecil yang dia sukai adalah aksesori
untuk rambut) ternyata waktu itu ikut antusias memilihkan kalung
buatku. Beberapa hari kemudian aku menemukan jawabannya, “Angie
bisa pinjam kalungnya Mama waktu pentas drama POCAHONTAS nanti. Kan
Angie jadi Ratu?” Wah … ternyata … LOL.

****

Hari Sabtu 6 Oktober 07 lalu sepulang
dari latihan drama POCAHONTAS dengan beberapa teman sekolahnya, Angie
menunjukkan kepadaku sebuah kalung dengan bandul Mickey Mouse. “Ma
… ini Mickey loh! Imut kan?”

Ternyata dia beli kalung itu di DP
Mall, waktu jalan-jalan dengan teman-temannya, tatkala hunting
aksesori apa aja yang akan dikenakan waktu pentas drama di sekolah.

Hari Senin 8 Oktober 07, sepulang
dari latihan drama lagi, Angie mengulurkan kalung lain. Kali ini
bandulnya berbentuk hati.

“Tadi Angie dan teman-teman hunting
aksesori lagi di DP Mall, dan Angie lihat ini. Angie beli buat Mama.”

Uh … aku jadi ingat mbak Angel yang
dengan bangga mengenakan kalung pemberian Luna anaknya. Dan akupun
merasa bahagia menerima kalung pemberian Angie.

****

Hari ini Rabu 10 Oktober 07, aku
memakai kalung pemberian Angie waktu mengajar. Beberapa teman kerja
mengomentari, “Wah kalungya eye-catching banget Ms. Nana.”

“Wah … kalungnya ABG banget Ms.
Nana.”

Dengan bangga aku menjawab, “Ini
kalung pemberian Angie. Maklumlah kalau modelnya ABG lha wong yang
beli juga seorang ABG.”

Ternyata bangga banget ya diberi
sesuatu oleh anak kita? :)

PT56 23.55 101007

No responses yet

Oct 08 2007

MUDIK atau MULIH?

Published by afemaleguest under Religion

Ada
hubungan yang sangat erat antara mudik dengan akar budaya yang
dimiliki oleh seseorang.” Demikianlah salah satu point penting yang
kutarik dari perbincangan antara Triyanto Triwikromo dengan Budi
Darma, penulis kumpulan cerpen “Orang-Orang Bloomington”.
Perbincangan ini dimuat di Suara Merdeka edisi hari Minggu 7 Oktober
2007 halaman 28. Tatkala seseorang mudik, dia akan berusaha menemukan
kembali akar keluarga dan akar tanah kelahiran. Seandainya akar
keluarga ini sulit ditemukan kembali, seseorang paling tidak akan
berusaha mengaitkannya dengan masa kanak-kanaknya, yang bisa dia
anggap sebagai ‘akar’, darimana dia berasal.

Masa
kanak-kanak, seberapapun pahit masa itu, akan tetap berurat berakar
pada diri seseorang, sehingga mengingat masa kanak-kanak akan
senantiasa memanggil seseorang untuk ‘kembali’.

Akar
budaya sebuah komunitas aalah ‘masa kanak-kanak’ komunitas itu,
yaitu aspek primitif yang pasti dimiliki oleh setiap orang dalam
komunitas,” kata Budi Darma.

Point
yang sangat menarik bagiku karena sampai di usia menjelang empatpuluh
tahun ini, mimpi masa kanak-kanak yang masih sering hadir adalah
tatkala aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah, masa
pengindoktrinasian yang kuat antara yang hitam dan putih di batok
kepalaku. Ini pula sebabnya tatkala aku membaca beberapa cerpen dalam
kumpulan cerpen “Petualangan Celana Dalam” aku merasakan
ketertarikan yang sangat kuat karena cerpen-cerpen tersebut memiliki
latar waktu dan tempat Semarang di dekade 60-70-an, masa
kanak-kanakku. Ada ‘akar budaya’ku yang dilukislan di situ.

Hal
ini pun seolah menjelaskan kepadaku mengapa seseorang yang telah lama
tinggal di negeri orang selalu merasakan ‘panggilan’ yang sangat
kuat dari kota kelahirannya, Jakarta, meskipun Jakarta sekarang tak
lagi senyaman tiga sampai empat dekade yang lalu. Seberapa pun
‘modern’ hidup dan life style seseorang, dia tetaplah memiliki
‘aspek primitif’ seperti yang dikatakan oleh Budi Darma.

Apakah
dengan begitu kedua orang tuaku yang asli Gorontalo, dan sama-sama
memiliki nama keluarga ‘Podungge’ itu berusaha melepaskan ‘aspek
primitif’ yang mereka miliki karena sejak aku kecil, mereka tidak
membiasakan diri untuk mudik ke kota dimana kedua orang tuaku bisa
menemukan ‘akar keluarga’ dan ‘akar tanah kelahiran’?
Sehingga aku pun benar-benar merasa ‘sebatangkara’ tanpa sanak
saudara kecuali seorang kakak dan dua adik dan Ibu? (My father passed
away in 1989.) Betapa ‘kuat’ ‘pembaleloan’ yang dilakukan
oleh kedua orang tuaku atas aspek primitif yang diyakini oleh Budi
Darma dimiliki oleh setiap manusia. Tidak ada tradisi mudik dalam
keluarga Podungge yang berada di Semarang.

Membaca
perbincangan antara Triyanto Triwikromo dan Budi Darma mengingatkanku
pada waktu kecil di hari Lebaran, aku beserta saudara-saudaraku
duduk-duduk di ruang tamu, memandang ke jalan di depan rumah. Banyak
orang lalu lalang, tidak pernah kita mengerti mengapa orang-orang
begitu sibuk. Kemana mereka pergi? Ke tempat wisata? Libur Lebaran
tentu membuat tempat-tempat wisata itu penuh sesak, sesuatu yang
tidak begitu menyenangkan bagiku karena kepadatan manusianya.

Setelah
menikah, dan “tiba-tiba” memiliki jadual kunjungan setiap kali
Lebaran datang, yaitu mengunjungi sanak saudara dari ayah anakku itu,
aku baru memahami, mengapa orang-orang lain—minus keluargaku—begitu
sibuk setiap kali Lebaran tiba. Bagiku pribadi, tentu bukan untuk
‘menemukan kembali’ hubunganku saat ini dengan ‘akar
keluarga’ku, namun justru lebih ke ‘membentuk’ akar keluarga
baru. Akan tetapi karena pembentukan akar keluarga baru ini dilakukan
tidak pada masa kanak-kanak, seperti yang digarisbawahi oleh Budi
Darma, aku merasa gagal menemukan suatu ritual yang mengasikkan dari
jadual kunjungan tersebut.

Artikel
lain lagi yang tak kalah menariknya mengenai mudik ini ditulis oleh
Adi Ekopriyono dalam Suara Merdeka edisi hari Senin 8 Oktober 2007
halaman 6. Adi Ekopriyono lebih memilih menggunakan istilah ‘mulih’
daripada ‘mudik’. ‘Mulih’ dipercaya memiliki kaitan dengan
‘pulih’. Kamus Basa Jawa (Balai Bahasa Yogyakarta, 2006:639)
menyebutkan bahwa kata ‘mulihake’ (mengembalikan) berarti
‘mbalekake kaya kaanane sing sakawit’, artinya ‘memulihkan
menjadi seperti keadaan semula’. Para ulama mengatakan bahwa ibadah
puasa yang dilakukan dengan sebagaimana mestinya, akan membawa
seseorang kembali ke ‘fitrah’. Keadaan “fitrah” yang berarti
‘suci’ ini biasanya dihubungkan dengan seorang bayi yang masih
polos, suci. Melakukan ibadah puasa akan mengembalikan seseorang
keadaan semula, yang berarti tanpa dosa, polos. (Dan bukannya seorang
penjahat setelah melewati bulan Ramadhan akan kembali menjadi
penjahat lagi, koruptor boleh melakukan kejahatannya lagi, dst.)

Karena
hal ini pulalah bisa jadi jika masyarakat Jawa akan memberi ‘julukan’
pengkhianat bagi mereka yang tidak pulang di hari Lebaran, karena
bisa berkonotasi memutuskan tali silaturrahmi pada sanak saudara.
“Mulih” yang bisa bermakna ‘memulihkan’ ke keadaan
semula—ngumpulke balung pisah—setelah mungkin selama 11 bulan
merantau, ‘mulih’ akan membuat hubungan kekeluargaan erat kembali
seperti sebelumnya. (Thank God, orang tuaku bukan orang Jawa sehingga
mereka tidak akan ‘didakwa’ sebagai pengkhianat keluarga besar
Podungge hanya karena tidak ‘mulih’ di hari Lebaran.)

Bagi
mereka yang akan pulang ke kampung halaman di hari Lebaran ini, entah
makna yang mana yang anda ambil, mudik yang berkonotasi ‘kembali ke
akar keluarga dan tanah kelahiran’ versi Budi Darma, maupun ‘mulih’
yang berkonotasi ‘memulihkan ke keadaan semula’, kuucapkan
selamat menempuh perjalanan yang telah merupakan ritual dalam
kehidupan ini. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa jaga
kesehatan.

PT56
12.42 081007


No responses yet