Sep 12 2007

My Response on ‘Dorce Show’

Published by afemaleguest at 5:59 am under Gender

      

Dorce

“Dorce Show” yang
kukirim ke milis kesayanganku—RumahKitaBersama—telah menghasilkan
beberapa sambutan hangat dari para member. Salah duanya dari mbak Icha
dan mbak Angel. Dalam postingan ini, aku sertakan komentar dari mereka
berdua, dan jawabanku.
Happy reading …


Icha:
Dorce Show?
Aku
suka menonton kalau gak ada kerjaan. Isi Dorce show yang kamu bahas aku
setuju dengan kamu. Persoalannya media tv dalam hal Trans TV tidak
punya misi apa-apa selain sekedar menjadikan acara konyol-konyolan
saja. Rasanya hampir semua media tv
tidak peka. Tinggal kita yang menonton jadi sewot dan marah-marah. Rugi sendirilah kita.

Nana:
Seperti
yang kutulis di postingan sebelum ini aku memang jarang nonton TV mbak,
dan aku setuju dengan mbak Icha bahwa banyak program di televisi
(mungkin tidak hanya Trans TV) yang acaranya tidak punya misi apa-apa,
kecuali entertaining, giving fun, atau bahkan malah membodohi
masyarakat (contoh sinetron-sinetron sampah). Namun untuk acara Dorce
Show, aku tidak melihatnya hanya sekedar acara konyol-konyolan belaka.
(Beda dengan “Empat Mata” yang menurutku lebih jelas terlihat sebagai
acara konyol semata, yang dibalut dengan acara talkshow.) sebagai
seorang feminis (yang mungkin saja karena terlalu sensitif), pada
acara-acara tertentu, terlihat kekurangpekaan Dorce. Well, tentu saja
terlalu jauh memang untuk membandingkan acara lokal satu ini dengan
Oprah Winfrey Show (cuma persamaan penggunaan kata SHOW doang nih. LOL).
Temanku
yang sama bercerita satu kali dalam tayangan Dorce Show dikisahkan
tentang seorang perempuan—mungkin berusia sekitar 30-an—yang memiliki
seorang ibu yang katanya genit dan doyan laki-laki. Bahkan menantu
sendiri pun diembatnya. Sang cucu yang sering melihat sang ayah dengan
sang nenek bepergian bersama, bertanya kepada ibunya, “Mama, kenapa
Papa sering pergi bersama Nenek?” dan si perempuan ini tidak menjawab
apa-apa.
Sama seperti kasus yang kuceritakan di postingan sebelum
ini, Dorce pun bertanya kepada perempuan tersebut apakah dia akan
menceraikan sang suami yang jelas-jelas mengkhianatinya di depan
matanya. Si perempuan mengatakan “Tidak”. Acara tanya jawab berhenti di
sini. Tidak ada kelanjutan pertanyaan (atau interogasi) mengapa si
perempuan tidak bersedia menceraikan sang suami; misal apakah dia
tergantung secara finansial kepada sang suami; atau apakah seperti yang
biasa terjadi di kalangan kaum pemuja perkawinan bahwa lebih baik
bobrok di dalam hati daripada menjadi seorang janda yang konotasinya
masih sangat negatif di kultur negara kita; atau apakah karena dia
cinta mati kepada sang suami; atau apakah karena doktrin agama yang dia
terima bulat-bulat bahwa perempuan yang sengsara hidupnya di dunia
ini—karena dizholimi—memiliki kunci surga.
Si perempuan tersebut
juga tidak berani menegur sang Ibu, mungkin karena menelan begitu saja
hadits yang mengatakan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.
Anak-anak
yang dibesarkan dalam keadaan seperti itu akan “belajar”. Misal: jika
si perempuan memiliki anak laki-laki, dia akan meniru ayahnya, karena
toh ibunya diam saja? Laki-laki memang dilahirkan untuk menjadi
berkuasa, seperti apa yang dilakukan oleh ayahnya? Misal jika si
perempuan memiliki anak perempuan, dia akan melihat ibunya sebagai role
model dan kemungkinan dia akan mengadopsi apa yang dilihatnya; dia akan
belajar, “A good woman is like my mom …” tanpa mengetahui hak-haknya
sebagai manusia.

Icha:
Status
Dorce dianggap tak penitng karena dia seleb. Balutan seleb ini
mengaburkan pandangan dan pemaham orang terhadap si Dorce. Apalagi
Dorce selalu mengemukakan dalil-dalil agama dan bagi Dorce orang yang
mempersoalkan statusnya akan memberi keuntungan bagi dirinya. Karena
Dorce yakin jika dia dizolimi, Dorce akan mendapat banyak berkat.

Nana:
Betul
banget mbak. Status Dorce yang seorang public figure, apalagi dia
sering tampil dengan mengenakan penutup kepala dan mengemukakan segala
hal yang berbau agama, orang-orang akan mudah jatuh simpati kepadanya.
Tak
lama sebelum ini Dorce menunaikan ibadah Umroh. Setelah dia pulang,
kadang-kadang terlihat dia “hanya” mengenakan gaun sepanjang
lutut—tidak menutup sampai mata kaki—itu pun menjadi bahan gosip. Sama
dengan celebrity perempuan lain yang setelah menunaikan ibadah Umroh
maupun Haji, justru mengenakan baju yang “lebih terbuka”. Hal ini
menunjukkan, ke’selebriti’an Dorce telah membuat orang “lupa” bahwa dia
adalah seorang transseksual.

Icha:
Bukan karena percaya apa yang Dorce yakini, aku memilih tidak peduli dan tidak membicarakannya.

Nana:
Seorang
rekan kerjaku—yang akhir-akhir ini terlihat begitu peduli dengan KDRT
(karena dia justru dituding oleh beberapa kalangan bahwa dia telah
melakukan “kekerasan” psikis kepada suaminya)—kadang-kadang mengajakku
berdiskusi tentang hal ini. Kebetulan saja jika Dorce Show menjadi
salah satu topik diskusi kita, yang kemudian kuolah menjadi tulisan
untuk blog.

Icha:
Mengenai
nasib para perempuan yang masih banyak mengalami kekerasan di
lingkungannya terutama dari suami-suaminya. Itu menjadi salah satu
agenda kita untuk terus urun rembuk dan mensuarakan protes pada kondisi
tersebut.
Kita harus terus mensuarakan hak dasar setiap manusia
terutama kaum perempuan yang sebenarnya memiliki hak yang sama dengan
kaum pria dalam hal memilih dan menentukan kehidupannya
(Kebahagiaannya) sendiri.

Nana:
Betul banget mbak. Thanks a lot for the comment. :)

==================

Dorce_gamalama_1

Angel:
Wanita
adalah manusia, sebagai manusia wanita mempunyai hak dan kewajiban yang
sama dengan pria di segala bidang, sesuai dengan peran dan kondisinya.

Nana:
Kadang-kadang
mbak Angel, “peran” dan “kondisi” ini tidak sama di satu daerah dengan
kultur tertentu dengan daerah lain yang memiliki kultur yang berbeda.
Hal inilah yang sering dijadikan perhatian utama para feminis, atau
para pejuang kesetaraan gender.

Angel:
Wanita
dan pria, masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri2 yang
seharusnya bisa saling memperbaiki dan saling mengisi.

Nana:
Iya,
no matter what kondisi biologis laki-laki dan perempuan yang berbeda
akan membuat mereka menjadi berbeda, sehingga memang bisa dikatakan
bahwa mereka bisa saling mengisi.

Angel:
Sering
kita lihat kemunafikan sesorang dalam hubungannya "Memperjuangkan
hak2nya sebagi manusia". Dalam hal kasus Dorce, hak yang diperjuangkan
sebagai manusia yang memilih jalan hidupnya dengan cara berganti
kelamin, seharusnya Dorce sadar, sewaktu dia berganti kelamin, hal
semacam itu di Indonesia belumlah umum. Harusnya Dorce sadar, jika dia
akhirnya banyak dikecam orang, itu memang resikonya sendiri bukan? Jadi
tidaklah tepat jika dia mengatakan bahwa dia di "Zalomi" oleh orang2.
Jadi, jika ada banyak orang yang mengecamnya, itu adalah resiko atas
keputusannya. Berani ambil
resiko ya berani menanggung resiko kan?

Nana:
Betul,
dalam hal ini aku setuju, itu adalah resiko yang harus diterima oleh
seorang Dorce, apalagi kebetulan dia adalah seorang celebrity. Seperti
tatkala Dede Oetomo dengan berani menuliskan kata GAY dalam KTP untuk
bagian jenis kelamin, aku yakin dia telah siap dengan segala resikonya.
Namun tatkala seandainya dia mengeluh, orang-orang tak juga
memahaminya, ya kita dengerin aja toh keluhannya itu? Atau tidak usah
didengarkanlah. (Aku belum pernah membaca tulisan dia yang ‘mengeluh’
setelah dengan berani dan pede mengaku kepada publik tentang
ke-GAY-annya. Yang sering dia tulis adalah perjalanan panjangnya untuk
‘berdamai’ dengan apa yang ada di dalam dirinya.

Angel:
Sebagai
presenter, harusnya Dorce berdiri di tengah2, bukan memihak kepada
apapun keputusan orang lain. Jika si ibu yang di interview tersebut
tidak ingin "bercerai" itu adalah haknya untuk tidak bercerai dan
menanggung sendiri akibat2nya. Kita tidak bisa menilai bahwa ibu itu
HARUS bercerai, karena mungkin ibu tersebut mempunyai pemikiran sendiri
yang membuatnya mengambil keputusan untuk "TIDAK BERCERAI" dan itu
adalah haknya pribadi sesuai dengan kondisinya sendiri.

Nana:
Setuju.
Karena terus terang yang menjadi masalah adalah applause yang dia
berikan kepada perempuan-perempuan yang dia wawancarai, memberikan
kesan bahwa “perempuan seharusnya begitu, agar mendapatkan applause
dari masyarakat, agar mendapatkan predikat “perempuan baik-baik”, yang
solehah, yang akan mendapakan kunci surga.
Kadang-kadang mbak Angel,
sayangnya perempuan-perempuan yang memutuskan untuk TIDAK BERCERAI itu
tidak semua sadar atas pilihannya itu. Indoktrinasi agama dan kultur
yang mengatakan bahwa perempuan adalah warga kelas dua membuat banyak
perempuan tidak sadar bahwa mereka punya hak untuk memilih jalan lain.
Seperti
kisah dalam tabloid Cempaka yang juga kutulis sedikit tentang seorang
Ibu yang bersikeras tidak menginginkan perceraian padahal anak-anaknya
merasa begitu kasihan melihatnya menjadi bulan-bulanan kekerasan sang
suami. Salah satu alasan yang dikemukakan oleh sang Ibu adalah, “Anak
yang keempat dan kelima belum menikah. Nanti kalau mereka menikah,
mereka kan butuh wali? Butuh kehadiran ayahnya, sebagai wali nikah.”
Ini jelas bahwa sang Ibu menjadi korban indoktrinasi agama, padahal
dalam ajaran agama sendiri wali hakim boleh digunakan jika ada
kasus-kasus tertentu. Namun mungkin dia tertutup cara berpikirnya.
Aku
ingat salah satu adegan dalam film “Mona Lisa Smile” tatkala Betty
Warren kembali ke rumah orang tuanya satu malam karena suaminya pergi
keluar kota, dan sebelum itu mereka sempat bertengkar. Apa yang
dikatakan oleh ibunya? “Tempat seorang perempuan adalah di rumah, di
samping suaminya. Kamu tidak boleh di sini. Sana kamu pulang.” Bahkan
saat ketahuan bahwa sang suami selingkuh, ibu si Betty masih mengatakan
hal yang sama. Setting time film di tahun 1950-an menunjukkan masih
kentalnya kebijakan “The Cult of True Womanhood” yang sangat menonjol
di Amerika setelah pertengahan abad ke-19 dalam kehidupan di banyak
keluarga Amerika.
Kisah ini mungkin hanya fiksi. Namun masalah ini
sangat banyak terjadi di Indonesia ini. (Prof. Kenneth Hall salah satu
dosen tamu waktu aku kuliah dulu mengatakan bahwa kultur di Indonesia
ini ketinggalan 50 tahun dari Amerika.) Seorang perempuan yang memilih
untuk tidak bercerai tidak selalu karena mereka telah memikirkannya
secara matang-matang, dengan segala resikonya, namun bisa jadi karena
mereka dididik untuk menjadi seperti itu, lupa bahwa mereka pun berhak
untuk berbahagia dengan cara mereka sendiri.
Mengacu ke kisah pendek
dalam tabloid Cempaka, apakah si Ibu dari anak lima ini berbahagia
dengan pilihannya untuk tetap tidak menceraikan suaminya? Dari apa yang
ditulis oleh salah satu anaknya dalam kisah itu, orang bisa
menyimpulkan bahwa si Ibu ini tidak bahagia, karena kondisi fisiknya
yang melemah, sinar mata yang kuyu, namun dia “dikalahkan” oleh kultur
yang telah mendoktrinnya untuk tetap berada di samping suaminya (karena
sang suami mengancam ini itu jika si Ibu ini menceraikannya, atau
bahkan hanya meninggalkannya sehingga status pernikahan mereka
“menggantung”, si Ibu tidak berani).

Angel:
Jika
ada seorang wanita bersuami dan dianiaya dengan berbagai cara oleh sang
suaminya, sedangkan si istri berusaha menanggulangi ketimpangan "human
right tersebut tanpa mendapatkan jalan keluar, disanalah si ibu
memerlukan bantuan untuk memperjuangkan hak2nya sebagai "MANUSIA" yang
tidak pantas di aniaya oleh siapapun.

Nana:
Untuk inilah memang UU PKDRT no 23 tahun 2004 dikeluarkan.

Angel:
Tetapi
jika kita lihat secara detail, penganiayaan apa yang diterima oleh si
wanita tersebut? Jika physic, memang itu tidak boleh di tolerer oleh
siapapun. Tetapi jika si suami marah2 terus karena si istri tidak mau
menyediakan makanan di rumah, tidak mau mencuci pakaian, tidak mau
beririt2 uang belanja, dan tidak becus mengurus anak, padahal si istri
tidak mau bekerja membantu suami mencari nafkah… ya wajar saja jika
si suami yang pontang panting mencari nafkah suka marah.

Nana:
Dalam
UU PKDRT disebutkan bahwa ada empat macam kekerasan, selain kekerasan
fisik, ada juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran rumah
tangga.
Waktu aku kuliah dulu, aku punya seorang teman yang suaminya
sering melakukan kekerasan psikis dengan mengacu ke bentuk tubuhnya
yang melar setelah melahirkan. Dia sering mengatai temanku (yang
kebetulan berdarah Bali), “Kamu tuh malu-maluin aja. Jaga tubuhmu
dong!” Karena pernyataan yang tidak selayaknya keluar dari seseorang
yang berpendidikan ini berulang kali, hal tersebut akan bisa
menyebabkan temanku kehilangan harga dan kepercayaan dirinya, hal ini
sudah bisa dikategorikan sebagai kekerasan psikis. Jika yang terjadi
adalah kekerasan fisik, membuktikannya akan sangat mudah dengan visum
et repertum. Kalau kekerasan psikis yang terjadi secara berulang-ulang,
selama bertahun-tahun, bagaimana cara membuktikannya?
Kembali ke
komentar mbak Angel di atas. Jika memang si istri yang tidak becus
melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, dll, dia bisa dikenai
tuduhan penelantaran rumah tangga.

Angel:
Jangan
lupa, banyak juga pria merasa teraniaya karena harus menjadi sapi
perahan pontang panting mencari nafkah, tetapi si istri hanya enak2
saja di rumah, menghamburkan uang, bahkan kurang menghargai usaha si
suami untuk mendapatkan nafkah yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Nana:
Jangan
lupa dalam kasus KDRT yang telah dilaporkan, jumlah perempuan sebagai
korban kekerasan mendekati 100%, sehingga jumlah laki-laki yang seperti
mbak Angel sebutkan di sini jumlahnya tidak sepadan dengan kekerasan
yang terjadi kepada kaum perempuan. Kalau tidak terima, bisa juga kasus
seperti ini dilaporkan bahwa si istri telah melakukan penelantaran
rumah tangga.
Masalahnya adalah, dalam UU Perkawinan tahun 1974
dijelaskan bahwa tugas suami adalah sebagai ‘breadwinner’ sedangkan
istri adalah sebagai “ibu rumah tangga”. Si istri yang ‘nampak’
enak-enak saja tinggal di rumah ini sedang melakukan perannya sebagai
“ibu rumah tangga” loh. Jangan lupa itu.
Well, berdasarkan dengan
diskusi yang pernah kulakukan dengan teman kuliahku yang berdarah Bali,
aku sedikit tahu bahwa perempuan Bali itu pekerja keras, yang tidak
bisa hanya diam saja berpangku tangan tinggal di rumah. (Waktu itu kita
membahas novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini, yang dibandingkan
dengan satu novel tulisan orang Mexico, aku lupa judulnya dan nama
penulisnya.) Namun di kultur di beberapa daerah lain di Indonesia
berbeda mbak.

Angel:
Memang
banyak suami yang sewenang2 terhadap si istri di rumah bahkan sampai
mengarah kepada kekerasan di rumah tangga terhadap si istri dan
anak2nya. Jangan lupa, banyak juga terjadi bahwa dengan cara lain, si
istrilah yang bertindak sewenang2 terhadap si suami.

Nana:
Kita
harus mencari tahu penyebab mengapa si istri bertindak sedemikian rupa.
Beberapa tahun lalu ada seorang teman laki-laki mengeluh kepadaku
tentang istrinya yang mata duitan (katanya). Dia akan disambut dengan
hangat oleh istrinya jika saat pulang bekerja dia membawa sejumlah
uang. Jika tidak, ya tidaklah. “Dia hanya mencintai uangku namun tidak
mencintaiku,” keluhnya.
Sayangnya dalam kultur yang menentukan
“peran suami adalah pencari nafkah dan peran istri adalah ibu rumah
tangga” mendukung para perempuan untuk melakukan hal tersebut. Jika
tidak, si suami telah menyalahi peran yang dibebankan kepadanya oleh UU
Perkawinan tahun 1974. Selain itu, bisa jadi cara ‘mendidik’ kepada
anak gadis, misal, “Pilihlah suami yang kaya…” telah menciptakan
perempuan-perempuan seperti di atas.
Kasus lain dari salah satu
rekan kerjaku. Sebelum menikah, memang sudah diketahui bahwa si
laki-laki berada satu level di bawah temanku, dari latar belakang
keluarga, pendidikan (temanku lulusan S1, suaminya SMA), sampai dalam
hal income. Rekan kerjaku yang lumayan ‘melek’ masalah kesetaraan
gender ini inginnya memberlakukan hal tersebut dalam relasinya dengan
sang suami. Dan mungkin karena merasa dia lebih berpendidikan, dia
mengaku kepadaku bahwa dia sering ‘mengajari’ tentang hak-hak suami
istri. Misal: kalau di mata temanku suaminya melakukan kesalahan, dia
akan menegurnya tanpa sungkan-sungkan. Tatkala temanku lelah pulang
kerja, dia ingin istirahat, dia meminta sang suami mengurusi kedua anak
mereka. Ternyata, di mata keluarga—baik dalam keluarga temanku itu
maupun keluarga suami—temanku ini dianggap keterlaluan, tidak
menghormati suami. Seorang istri harusnya mendengarkan apapun yang
dikatakan oleh sang suami dan tunduk, kata keluarga. Apalagi adik
laki-laki teman kerjaku ini yang bekerja sebagai muballigh (alias
tukang ceramah agama) justru mengatakan hal yang menyakitkan telinga,
“Mbak, kamu tuh harusnya merasa beruntung dia mau menikahimu. Kalau
tidak, kamu akan tetap menjadi perawan tua.” (FYI, she got married when
she was 35 years old.) Apa boleh buat? Si adik ini pun merupakan
“korban doktrin agama” yang dia terima mentah-mentah begitu saja.
Di mata orang awam di Indonesia, bisa jadi temanku ini dianggap telah bertindak sewenang-wenang kepada suaminya.

Angel:
Bukannya
saya tidka mau membela kaum saya sendiri yaitu kaum wanita tetapi say
amelihat banyak ketimpangan di dalam hal perjuangan wanita itu sendiri.
Contohnya, kita wanita ingin memperjuangkan hak2 kita dalam persamaan
hak dibidang pekerjaan… di kantor, kita wanita ingin mempunyai hak
yang sama dengan pria, dimana juga mendapatkan kesempatan yang sama
dalam menduduki jabatan yang sama dengan pria. Tetapi saya sering
melihat, si wanita sering berdalih untuk menghindari pekerjaan di
kantor yang menurut si wanita tersebut susah dikerjakan oleh wanita.
Tidak mau mengangkat barang2 berat, menghindari pekerjaan physic yang
berat sna selalu melimpahkannya kepada si pria. Bahkan jika duduk di
kursi, selalu berkumpul bersama2 wanita agar bisa bergosip lebih
nyaman, bahkan jika duduk di mobil, maunya duduk di tempat yang paling
nyaman, bahkan jika di bus kantor, maunya ingin diberi tempat duduk
terdahulu,
baru sisanya untuk si pria. Dalam hal semacam ini bagaimana bisa para
pria disekitar wanita tersebut dapat memberikan hak2 persamaan kepada
si wanita?

Nana:
Aku
punya seorang teman laki-laki yang bekerja di pertambangan. Satu tahun
yang lalu dia bercerita mempunyai bawahan seorang perempuan. Dia
mengeluh, “Kalau perempuan mana aku tega memberinya tugas berat, misal,
melakukan drilling di tengah hutan? Terpaksa aku melakukannya sendiri,
atau menyuruh bawahan yang laki-laki.” Aku bilang ke dia, si perempuan
itu seharusnya sudah tahu hak dan kewajibannya tatkala dia memilih
bekerja di pertambangan. “Aku pikir kamu tidak perlu memberi dia
privilege. Biar saja dia melakukan apa yang memang menjadi
kewajibannya.” Ketika dia bilang, “Lah, aku ya ga tega,” aku jawab,
“Salahmu sendiri tidak tega.”
Sebenarnya yang dimaksudkan dalam
perjuangan kesetaraan gender—yang selama ini kuketahui—adalah pemberian
hal-hal yang memang seharusnya perempuan pun berhak, dan janganlah dia
dikurangi ataupun dihentikan haknya hanya karena dia perempuan.
Akibatnya? Ya tentu perempuan harus menanggungnya. Misal: dalam bidang
pendidikan. Masih banyak keluarga di sekitarku sini yang berpikir bahwa
pendidikan untuk perempuan tidak begitu penting (hare gene??? Kata para
muda. LOL) dibandingkan untuk laki-laki karena toh nantinya perempuan,
setelah menikah, akan menjadi “Ibu rumah tangga” sedangkan laki-laki
yang akan menjadi “pencari nafkah”. Padahal harusnya kan baik laki-laki
maupun perempuan sama-sama berhak untuk mendapatkan pendidikan? Jika
para perempuan tersebut hanya dididik dan dipersiapkan menjadi ibu
rumah tangga saja, kemudian ternyata si laki-laki bukan tipe yang
bertanggung jawab, dan menelantarkannya begitu saja, gigit jarilah si
perempuan.
Akibat apakah yang harus diterima oleh perempuan
tatkala dia mengejar pendidikan? Dia harus belajar keras, tentu. (Dan
tidak seperti yang ada dalam gambaran film “Mona Lisa Smile” bahwa para
perempuan melanjutkan sekolah HANYA untuk menunggu sampai seorang
pangeran datang untuk meminangnya, dan bukan untuk membekali diri untuk
masa depannya.) Setelah mendapatkan pendidikan, then what? Bekerja
dong. Aplikasikan ilmu untuk kemaslahatan bersama.
Aku juga tidak
setuju dengan para perempuan yang cuma bisa bergosip ria. Bukan itu
cara kita menunjukkan bahwa kita setara dengan laki-laki. Untuk waktu
naik bus, aku pun tipe orang yang tidak keberatan jika memang tidak
mendapatkan tempat duduk, dan harus berdiri. Namun khusus untuk para
perempuan hamil, harus ada privilege, menurutku. Aku sudah kenyang
melihat situasi dalam bus ekonomi yang berdesak-desakan, dari Jogja ke
Semarang, maupun dari Semarang ke Jogja, banyak perempuan yang berdiri
tegar—aku pernah menjadi salah satunya, berdiri full 3 jam—dan banyak
laki-laki yang terkantuk-kantuk di kursinya. Para perempuan dari
kalangan bawah begini ini menurutku justru lebih tegar. Apakah aku
merasa maskulin tatkala berdiri selama 3 jam dalam bus? Iya. LOL.(Dalam
tulisanku yang berjudul “Maskulinitas dan Femininitas” aku telah
menulis bagaimana aku ‘membentuk’ kemaskulinanku, meskipun tetap juga
ada sisi femininitas yang sangat kuat dalam diriku.)

Angel:
Wanita
di dalam hubungannya dengan pasangan hidup pria memang agak berbeda
hubungannya sebagai pencari nafkah. Jika si wanita adalah pencari
nafkah dan sang suami hanya di rumah, sepantasnyalah sang istri tidka
sempat membersihkan rumah atau mengasuh anak tetapi bukan berarti si
istri melanggar hak2 si pria. Tetapi dalam hubungan emosianal tetaplah
berlaku hukum wanita dan pria, diamana si pria mungkin
lebih logic cara berpikirnya dan memberikan solusi2 yang logic bagi persoalan2 di rumah.

Nana:
Waduh
mbak, ga ada loh ‘hukum wanita dan pria’. Aku pernah sempat
‘gontok-gontokan’ dengan Bang Audy mengenai who is (more) logical
between men and women. Yang ada (kesimpulan diskusi kita) adalah
laki-laki maupun perempuan bisa sama-sama berpikir secara logis. Hal
ini tergantung dari seberapa sering kita melatih diri untuk selalu
berpikir secara logis. :)

Angel:
Sering
kita mendengungkan kesetaraan gender. Harusnya kita bertanya kepada
diri sendiri, kesetaraan apa yang kita inginkan? Tidak mungkin kita
wanita bisa sama persis dengan pria, sebaliknya pria juga tidak akan
mungkin bisa persis sama dengan wanita. Kita wanita tidak mungkin bisa
menyamakan gender kita satu sama lain, melainkan kita bisa menyetarakan
hak2 kita, sebagai sesama manusia. Mungkin maksud kita para wanita
adalah mendapatkan hak kita mencapai sesuatu yang kita inginkan,
seperti apa yang kita pikir dimiliki oleh pria yaitu tidak pantas
dianiaya oleh siapapun, mendapat kesempatan
memilih sesuatu sesuai
dengan kebaikan diri kita sendiri demi mencapai kehidupan layak yang
sama dengan siapapun, baik pria maupun wanita manapun. Itulah yang kita
perjuangkan, bukan hanya memperjuangkannya sebagai wanita melawan pria
yang zalim, tetapi juga sebaliknya sebagai pria melawan wanita yang
zalim, tentunya kita perjuangkan sebagai manusia sesama manusia dengan
segala perbedaanya.

Nana:
Agree.
Yang dimaksudkan dalam kesetaraan gender ya bahwa perempuan juga
manusia, yang memiliki hak yang sama dengan laki-laki, bukan sebagai
the second sex. Kebetulan aku telah menuliskannya di atas.

Bagi
para miliser, wah … panjang banget nih tulisanku kali ini. yang bosen
boleh ditinggalin aja diskusi ini.  Bagi Abangku seorang, GA BOLEH
DILEWATKAN TULISANKU INI. OK? Huehehehe … maksain nih. LOL.

Love,
Nana
(I needed three hours to write it. :) )
PT56 21.39 090907

      
   

   
   
      




Comments RSS

Leave a Reply