Aug 12 2007
Perburuan Wirog
“Perburuan Wirog” merupakan salah satu cerpen kesukaanku dalam kumcer
“Petualangan Celana Dalam”. Bukan karena aku suka berburu wirog
tentunya, melainkan karena ilustrasi Nugroho Suksmanto akan daerah
kelahirannya, perbatasan kawasan Pendrikan dan Kampung Magersari
membuatku sibuk mengira-ira seperti apakah daerah ini di dekade
1950-1960-an? Aku menebak bahwa latar waktu yang diambil oleh Nugroho
dalam cerpen ini sekitar dua dekade tersebut.
Dari cerpen ini aku
tahu bahwa di zaman dulu (seberapa dulu? Yah … dimulai dari zaman
kolonial Belanda tentu saja, karena kata ‘Pendrikan’ ternyata berasal
dari Fendrijk, nama seorang tuan tanah Belanda, penguasa wilayah barat
daya kota Semarang) Pendrikan merupakan kawasan tempat tinggal para
priyayi, sedangkan Kampung Magersari merupakan tempat tinggal para
pendatang yang konon non priyayi. Kedua kawasan ini dibatasi oleh
sebuah sungai yang disebut ‘Ngemplak’, bukan jalan Indraprasta seperti
yang kutulis di postinganku sebelum ini yang kuberi judul “Petualangan
Celana Dalam”. Apakah waktu itu daerah Pendrikan hanya melingkupi mulai
dari Jalan Sugiyopranoto sampai jalan yang sekarang disebut Jalan
Indraprasta? Dimanakah sungai yang disebut ‘Ngemplak’ oleh Nugroho?
Nampaknya
bukan, karena di sebelah utara jalan Indraprasta seingatku daerah itu
juga masih disebut daerah Pendrikan. Sekarang dibuktikan dengan
keberadaan SD Pendrikan Utara 03-04 yang terletak di mulut Jalan
Abimanyu; SD Pendrikan Utara 03-04 ini menghubungkan Jalan Abimanyu
dengan Jalan Indraprasta. Seingatku pula waktu aku masih kecil (waktu
duduk di bangku SD), kadang-kadang aku diajak shalat Jumat oleh
Ibundaku di masjid milik SD/SMP/SMEA Muhammadiyah yang terletak di
pinggir Jalan Indraprasta, sebelah Utara. Waktu dulu disebut-kalau aku
tidak salah ingat-Muhammadiyah Pendrikan. Tahun 1950an, my dearest late
Dad pernah menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah ini. Entah mengapa
kemudian beliau tak lagi menjadi guru/Kepala Sekolah, dan bekerja di
Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia).
Sedangkan daerah yang disebut
Kampung Magersari, setahuku sekarang ini hanya di kawasan pemukiman di
antara dua jalan raya, Jalan Sugiyopranoto dan Jalan Indraprasta.
Sesempit itukah kawasan yang dihuni oleh para pendatang yang non
priyayi tersebut?
Nampaknya aku benar-benar terhipnotis oleh Nugroho
sehingga sekarang setiap kali aku berangkat bekerja melewati Jalan
Indraprasta, aku selalu celingukan mencari sungai yang disebutnya
sungai ‘Ngemplak’. Saking biasanya aku melewati jalan ini, aku tidak
pernah memperhatikan memang ada dua buah sungai, yang satu lebih lebar,
yang lainnya lagi lebih sempit. Ini berarti Pendrikan terletak di
sebelah Timur ‘sungai’ Ngemplak (kalau masih bisa disebut ‘sungai’ sih,
karena sekarang ‘sungai’ ini terlalu sempit, sehingga hanya menyerupai
selokan. Dengan Selokan Mataram yang membatasi daerah UGM dengan
pemukiman Jalan Kaliurang saja, ‘sungai’ Ngemplak masih lebih sempit.)
sedangkan Kampung Magersari terletak di sebelah Barat ‘sungai’ Ngemplak.
Dan
dari hasil celingukan tatkala berangkat bekerja, menyusuri jalan
Indraprasta, aku melihat sebuah gapura yang bertuliskan Jl EMPLAK
INDRAPRASTA. Nah, ini diakah daerah perbatasan tersebut? Di bawah ini
gambar gapura tersebut. Di sebelah kiri ada sebuah sungai.
Hal
ini juga membuatku benar-benar ingin kembali ke dekade aku
lahir-mungkin di tahun-tahun tersebut setting time yang dipilih oleh
Nugroho-untuk melihat what that area looked like; memandangnya dengan
menggunakan kacamata seorang Nana saat sekarang ini; kalau bisa
mengabadikannya dalam bentuk jepretan foto. Apakah ‘sungai’ ini sejak
dulu hanya selebar itu? Ataukah karena perubahan alam-yang sering
disebabkan oleh manusia-sungai Ngemplak sekarang ini menjadi begitu
sempit. Juga aku ingin tahu dimanakah letak ‘papringan’ yang konon
sering terdengar tangis seorang bocah perempuan mungil?
PT 56 21.15 050807