Aug 05 2007

Nyanyi dan ‘Blue Moon’

Published by afemaleguest at 1:34 am under daily

Recently I have often attacked by “blue moon” out of the blue. (NOTE: ‘blue moon’ di sini bermakna seperti yang diungkapkan oleh Abang.) It was not really clear what caused it. Biasanya dengan menulis aku bisa menyembuhkan rasa yang seperti menimpa kaum perempuan menjelang mendapatkan “monthly guest” ini. But entah kenapa akhir-akhir ini writing doesn’t really cure me. I need something else.
Hari Sabtu 4 Agustus 07 kemarin aku mampir ke warnet langganan. But berhubung akses drop, aku harus pulang dengan tangan hampa. L Aku telah membayangkan akan menyapa Abang di YM, wah … jadi buyar deh. L
Aku kembali diserang blue moon itu lagi. L
FYI, di daerah Beringin, Pemuda, Indraprasta listrik mati Sabtu sore itu karena ada kebakaran di satu tempat. Hal inilah yang menyebabkan warnet KPDE drop aksesnya karena listrik di kantor pusat-tempat internet diakses untuk kemudian dialirkan ke KPDE-mati.
Dua warnet lain yang terletak di gang Sadewa pun tutup.
I tried to calm down my restlessness but it didn’t seem to work well sampai akhirnya aku sampai di warnet lain, terletak di jalan Indraprasta juga yang kulihat listriknya menyala. Aku langsung mampir meskipun agak ragu karena di tempat parkir tak kulihat satu kendaraan pun. Ternyata listrik baru saja menyala. I had to wait around 20 minutes, kepanasan, sampai akhirnya internet bisa diakses.
My restlessness did not automatically go after I saw Abang’s nick online di YM. Aku malah heran, tumben dia pakai ‘visible’ alias’ available’? Biasanya kan ngumpet? Kayak aku yang suka ngumpet di balik ‘invisible mode’. J dia lagi ngapain tuh? Ternyata dia sedang nyoba cara baru (well, bagiku baru, karena aku baru ngerti LOL) dimana dia terlihat visible hanya untukku, atau untuk beberapa orang lain yang sengaja dia ‘set’ seperti itu. Setelah dilihatnya aku nongol, menyapanya, dan aku heran bertanya masalah ‘visible’ dan ‘invisible’ tersebut, dia umpetin lagi nicknya.
“Aku sedang nonton Black Sabbath nih Na di televisi,” katanya. Aku yang ternyata belum berhasil ‘menyatukan’ jiwaku yang rasanya berhamburan entah kemana, LOL, ga langsung ngeh what the hell he was watching on television.
“Tentang apa tuh Bang?” tanyaku. Well, kupikir dia sedang nonton film yang berjudul Black Sabbath.
“Waduh Na, masak kamu ga tahu sih group band Black Sabbath?” tanyanya heran.
Aku mencoba mengingat-ingat, oh iya, kelompok musik rock yah kalau tidak salah? Aku memang tidak begitu menyukai jenis musik satu ini, so yang kuhafal ya group rock yang memang namanya super terkenal (bagiku telingaku tentu saja LOL) such as Bon Jovi, Europe, Gun N Roses, apalagi? Lupa. LOL. Oh ya, aku suka dua lagu dari Meatloaf yang berjudul, “I would do anything for love” dan “I’d lie for you” sedangkan Abang kurang suka Meatloaf.
Setelah itu Abang bilang, “Sekarang sedang nonton Queen dengan “Bohemian Raphsody”.
“Lagunya enak tuh Bang,” komentarku.
“Nyanyi dong!” sahut Abang.
Nyanyi? Waktu Abang bilang begitu aku baru nyadar aku sudah lama ga teriak-teriak mengikuti lagu yang kudengarkan dari desktop. Dengerin musik tiap hari tapi cuma dengerin doang, ga ikutan nyanyi. Pernah satu kali niruin seorang penyanyi yang lagunya sedang kudengarkan, ternyata suaraku berkelana sampai kamar mandi di belakang. Angie langsung komplain, “Mama tuh gila ya? Teriak-teriak kayak orang kesurupan?”
Kayaknya semenjak itu aku menahan diri untuk tidak nyanyi di rumah. lagipula memang aku ga narsis-narsis amat dengan suara yang keluar dari kerongkonganku ini.
Komentar Abang, “Nyanyi dong!” jadi mengingatkanku tatkala aku ngekos. Suasana kos yang sering sepi di pagi hari, teman-teman kos ke kampus, sedangkan aku anteng di kos, maksudku ga pergi kemana-mana, membuatku suka dengerin musik keras-keras, sambil ikutan nyanyi. Bahkan di awal-awal balik ngekos di bulan April 2005 itu, aku dengan sengaja ikutan jingkrak-jingkrak di kamar kos sembari berteriak-teriak, saingan dengan suara dari loud speaker yang kuhubungkan dengan CPU, ingin menikmati my freedom to escape from the hellish life trapping me several months before that.
Aku jadi pengen ngekos lagi. Pengen teriak-teriak sembari nyanyi tatkala keresahan menghinggapiku. I suppose I need it recently.
Waktu aku cerita ke Abang kalau aku suka teriak-teriak waktu ngekos, dia nanya, “Emang teman kosmu ga ada yang protes?”
“Ga adalah Bang. Mana berani mereka? Kalah tua.” LOL. Budaya Jawa yang tentu masih kuat melekat membuat kita ga berani menegur orang yang lebih tua. Ya, aku manfaatin aja deh. huehehehe … But, as I wrote above, aku lebih sering melakukannya tatkala kos sepi, teman-teman ke kampus atau kemana kek.
“Kalau ada aku di situ? Berani kamu?” tanya Abang, sok merasa lebih tua dariku. LOL.
“Loh kalau ada Abang di sini, ya Abang ikut nyanyi bareng aku dong!” jawabku.
“Pinter!” komentarnya. LOL.
Lah siapa dulu? Si Nana yang ngaku sebagai an intellectual snob gitu loh. Huehehehe … Dasar gila, snob kok bangga. LOL. LOL.
PT56 11.55 050807




2 Responses to “Nyanyi dan ‘Blue Moon’”

  1.   cigon 09 Aug 2007 at 12:21 am

    “Love is Blue” itukan artinya cinta yang menyedihkan.
    Jadi “Blue Moon” kurang lebih artinya adalah Bulan yang sedang bersedih…, betul?

  2.   Nanaon 10 Aug 2007 at 5:55 am

    Penjabarannya gitu ya Bang? :) oke deh :) btw, lirik yang diselipin di blog klangenanku bagus loh :) tentang ‘blue moon’…

Comments RSS

Leave a Reply