Aug 05 2007
Kopi dan Jogja
Hari Sabtu 4 Agustus 2007 aku sampai di kantor pukul 13.40. Mengantuk. Nah lo, repot kan? Kelas akan dimulai pukul 14.00. Satu hal yang paling kubenci adalah mengantuk di dalam kelas. Kok bisa sih ngantuk di kelas? LOL. Well, biasanya kalau siswa-siswiku sedang mengerjakan Periodic Test atau mungkin kuminta menulis sesuatu (dengan skills focus WRITING pada pertemuan tersebut) kadang aku mengantuk.
So, what did I do to overcome the sleepiness?
I bet you can guess the answer: MINUM KOPI.
Segera aku beranjak ke dapur untuk membuat secangkir mungil kopi tubruk yang kental. Seorang teman menawariku kopi campur (campur cream maksudku J), tapi aku menolaknya karena aku sedang kepengen minum kopi tubruk hitam, tanpa campuran cream, apalagi susu, ugghh!!! L L Setelah masuk ke ruang guru dengan uap mengepul dari cangkir yang kubawa, harum aroma kopi menyeruak ke seluruh ruangan, aku disapa seorang rekan guru yang sudah seusia nyokapku (dan anaknya satu-satunya seusia anakku LOL). “Bu Nana nih kuat banget yah minum kopinya?”
Aku bengong. Lah, seingatku sudah berapa minggu aku tidak minum kopi di kantor karena ga sempet bikin kopi. Ini nyindir aku minum kopi melulu (yang tentu saja membuat kantor harus sering-sering beli kopi dan gula untuk pegawai sepertiku LOL) atau heran aku suka minum kopi, atau bagaimana? Dia bilang dia super jarang minum kopi, kadang-kadang hanya sekali dalam waktu sekitar tiga bulan!
Entah karena aku sedang PMS atau memang aku yang sedang rada sensi, aku jawab, “Aduh Pak, ini cangkir pertama kopi untuk hari ini. Sesuka apapun aku terhadap kopi, paling-paling kubatasi hanya satu cangkir dalam waktu satu hari.” Karena usianya yang sudah sangat senior dibandingkan aku, jawabanku masih terdengar biasa-biasa saja kan, dan ga keliatan sensi? LOL.
Seorang teman lain, yang juga mengaku tidak begitu menikmati kopi, ikutan nimbrung, “Iya memang, bu Nana nih kuat minum kopi dan perutnya kayaknya ga bermasalah dengan itu. Ga papa sih minum kopi asal olah raganya kuat, seperti bu Nana.”
Obrolan ini jadi mengingatkanku masa-masa aku menyeruput kopi di pagi hari, setelah bangun tidur. untuk memaksa mataku melek seratus persen dan siap berkonsentrasi nulis tesis tatkala aku masih tinggal di kos Jalan Kaliurang Km5 no 81C di belakang RM Pondok Bello. Waktu itu aku juga mencoba membatasi diri satu hari satu cangkir. Hanya dalam suasana terjepit, aku benar-benar harus memaksa konsentrasi, alert, dan tidak ngantuk (karena dikejar deadline untuk menyerahkan lembaran-lembaran baru tesis ke Pak Bakdi, dosen pembimbing tesis pertama) aku pernah minum tiga cangkir; satu cangkir di pagi hari, setelah bangun tidur, dua cangkir di sore dan malam hari.
Rasanya asik ajalah sembari melototin monitor desktop, aku menyeruput kopi; biasanya nescafe three in one original, kadang-kadang indocafe cappuccino. Orang yang kurang suka tantangan sepertiku ini tidak berani mencoba berbagai merk kopi, setelah aku merasa lidahku cocok dengan nescafe original three in one. Pernah mencoba nescafe three in one cream dan moccacino (moccachino? Entahlah piye nulise LOL) aku langsung tidak suka. Merupakan siksaan yang amat berat untuk menghabiskannya. LOL. So what did I do? Kuberikan kepada orang lain. Misal: waktu Julie berkunjung ke kos, aku buatin dia nescafe mocacino. LOL.
Well, kopi memang selalu mengingatkanku pada masa-masa hectic menulis tesis, mengejar deadline, agar ga bayar SPP lagi, yang waktu itu sebesar empat juta rupiah per semester (tentu saja karena scholarship allowance ku sudah habis di semester lima).
PT56 11.15 050807