Archive for August, 2007

Aug 25 2007

UU PKDRT

Published by afemaleguest under Gender

Kdrt2Dalam rangka untuk lebih
memperkenalkan UU PKDRT (Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga)
nomor 34 tahun 2004, KOMNAS Perempuan menyelenggarakan beberapa
kegiatan, dimana salah satunya adalah talkshow di empat kota:
Jogjakarta, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Dengan melibatkan Lembaga
Pers Mahasiswa UNDIP MANUNGGAL, talkshow di Semarang diselenggarakan
di pelataran tempat parkir Fakultas Sastra UNDIP pada hari Kamis 23
Agustus 07, pukul 09.00 sampai sekitar pukul 12.30. Ada tiga
pembicara utama, yaitu Myra Diarsi dan Pipit yang merupakan wakil
dari Komnas Perempuan, dan Uke dari The Body Shop Indonesia. Satu
pembicara lagi, Putri, perwakilan dari Penerbit Erlangga yang
menyelenggarakan Lomba Penulisan naskah dengan topik KDRT. Acara ini
dimoderatori oleh Ninik, perwakilan dari LBH APIK Semarang.

Ninik memberikan
kesempatan pertama kepada Putri untuk menyampaikan tentang
diselenggarakannya lomba penulisan naskah dengan tema KDRT yang
diberi judul KISAH—Kontes Inspirasi dan Harapan. Komnas Perempuan
percaya bahwa salah satu upaya untuk menurunkan angka KDRT adalah
dengan MENULIS, bukan untuk menguak tragedi ataupun menyebar trauma,
tetapi untuk menyerukan perjuangan, cinta dan keberanian wanita dalam
menghadapi tantangan hidup yang paling berat. Dengan menuliskan
pengalaman sendiri maupun orang lain, dan melemparkannya ke publik,
masyarakat akan semakin terbuka kesadarannya bahwa kekerasan itu
hadir dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, nyata, bukan hanya di
awang-awang.

Bagi yang tertarik
untuk mengikuti sayembara penulisan naskah dengan topik KDRT ini bisa
klik
www.erlangga.co.id

Pembicara berikutnya,
Pipit, dari Komnas Perempuan. Pipit menjelaskan empat jenis kekerasan
dalam rumah tangga, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis,
kekerasan seksual, dan penelantaran rumah tangga. Di luar negeri,
VIOLENCE IN THE HOME ini hanya terdiri dari tiga jenis yang disebut
pertama, sedangkan untuk jenis yang terakhir ini sengaja ditambahkan
di Indonesia karena kultur Indonesia yang berbeda dari negara lain.
Hal ini mengacu kepada UU perkawinan dimana disebutkan bahwa seorang
suami mendapatkan peran sebagai pencari nafkah sedangkan istri
berperan sebagai ibu rumah tangga. Dalam banyak hal UU perkawinan ini
telah banyak merugikan kaum perempuan yang bekerja di ranah publik,
misal gaji lebih rendah dibandingkan laki-laki, meskipun memiliki
posisi yang sama penting, jenjang pendidikan, pengalaman bekerja, dan
lama bekerja yang sama, karena perempuan bekerja hanya dianggap
sebagai ‘pelengkap’, side worker, dan bukan sebagai the
breadwinner.

Di tabel di bawah ini bisa
dilihat jumlah kekerasan yang dilaporkan:

 




Tahun

Angka
Pelaporan Kekerasan

Angka
Pelaporan

Remarks

 

terhadap
Perempuan

KDRT

 

2003

7787 kasus

 

 

2004

14.020 kasus

9000 kasus

naik 100%

2005

20.391 kasus

16.615 kasus
(82%)

naik 45%

2006

22.512 kasus

16.709 kasus
(74%)

naik 10%

 

Sedangkan KDRT menurut
relasi korban pelaku:

 



Kekerasan
terhadap istri

82%

12.726

Kekerasan
terhadap anak

3.50%

552

Kekerasan
dalam pacaran

5%

816

Kekerasan
terhadap PRT

0.40%

73

KDRT/KDP
(sulit dipilah)

9%

1348

 

Perlu diingat bahwa
angka-angka di atas HANYA berdasarkan mereka yang melaporkan kejadian
kekerasan tersebut, sedangkan yang belum melaporkan—bisa jadi
karena tidak berani karena adanya ancaman, ataupun kurangnya
kesadaran diri bahwa tindakan kekerasan yang mereka terima merupakan
tindakan kriminal dan seyogyanya dilaporkan kepada pihak yang
berwajib—mungkin akan  menjadi berkali-kali lipat dari jumlah
kekerasan yang telah dilaporkan, suatu hal yang biasa dikenal sebagai
fenomena gunung es.

Pembicara berikutnya Uke
dari The Body Shop. Motto The Body Shop “We believe business can be
profitable and responsible” ingin menekankan bahwa merupakan
tanggung jawab bersama untuk mengurangi KDRT. The Body Shop memang
berkomitmen untuk selalu membela hak asasi manusia dan meningkatkan
harga diri perempuan. Uke pun menunjukkan gambar-gambar yang
menunjukkan perwakilan The Body Shop di banyak negara dalam rangka
mengkampanyekan STOP VIOLENCE IN THE HOME.

Uke menjelaskan bahwa tiap
tahun ada 16 hari yang khusus disediakan untuk kampanye anti
kekerasan dalam rumah tangga, yakni mulai 25 November sampi 10
Desember, dan hal ini diselenggarakan di seluruh penjuru dunia.
Kampanye ini dilakukan melalui budaya, misal di Indonesia melalui
pertunjukan wayang kulit; di daerah pedalaman, bisa melalui upacara
adat dll.

Semula Myra Diarsi memang
dimaksudkan untuk ‘disimpan’ sebagai gong acara talkshow
tersebut. Namun karena dari sesi tanya jawab yang telah diberikan
moderator kepada hadirin, akhirnya Myra pun langsung menjawab banyak
pertanyaan dari para penanya tentang topik utama: penghapusan
kekerasan dalam rumah tangga.

Apa yang bisa kita lakukan
untuk ikut aktif berperan serta dalam mengurangi angka KDRT?

  • Menjadi sukarelawan
    dengan menghubungi Women Crisis Center di kota masing-masing. Untuk
    kota Semarang, anda bisa menghubungi dua alamat di bawah ini:

LBH
APIK Semarang

Jl.
Kelengan Kecil no. 594 Semarang

Telepon
(024) 3510499

LRC
KJHAM

Jl.
Lemah Gempal II no. 765A Semarang

Telepon
(024) 3521124

Email:
lrc-kjham2004@yahoo.com

  • Ikut berperan serta
    dalam menggalang dana

Untuk
ini, anda bisa mengirimkan ke

PUNDI
PEREMPUAN

No.
Rekening: 025-01-00098-00-3

Bank
Niaga Cabang Jatinegara – Jakarta Timur

A/n
Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan

  • Mendorong
    advokasi bersama

    melakukan pendampingan kepada para korban

  • Menulis

Untuk cara yang
terakhir—menulis—dengan bangga aku bisa menyebut diri telah ikut
berkecimpung dengan menulis di blog, terutama tentang segala hal yang
berhubungan dengan permasalahan gender dan perempuan. Dengan demikian
aku telah ikut berpartisipasi dalam usaha untuk menekan KDRT.

Jika anda ingin mengetahui
sekilas tentang UU PKDRT, klik alamat berikut ini:

http://themysteryinlife.blogspot.com/2007/08/uu-pkdrt_25.html

Terima kasih.

PT56 22.27 240807

No responses yet

Aug 18 2007

Lomba Blog

Published by afemaleguest under daily

Hello dear visitors blog of mine here :)
(sok pede bahwa ada yang suka visiting my blog here, huehehehe …)
Nana sedang asik berblogging ria di blog baru yang beralamat di

http://serbaserbikehidupan.blogspot.com

Blog ini kuikutkan lomba blog yang diselenggarakan oleh Fak Ilmu Komputer Unika Soegijapranata Semarang. Berhubung mepetnya waktu penyelenggaraan lomba (tanggal 8 Agustus sampai 1 September 2007) Nana jadi berasik masuk deh di situ. huehehehe … Dasar tidak setia dengan blog friendster nih si Nana.
Kunjungin dong blog ku di situ yah? Leave comments kalo sempet ya? I will be very grateful.

Love,
Nana

No responses yet

Aug 12 2007

Perburuan Wirog

Published by afemaleguest under Books

“Perburuan Wirog” merupakan salah satu cerpen kesukaanku dalam kumcer
“Petualangan Celana Dalam”. Bukan karena aku suka berburu wirog
tentunya, melainkan karena ilustrasi Nugroho Suksmanto akan daerah
kelahirannya, perbatasan kawasan Pendrikan dan Kampung Magersari
membuatku sibuk mengira-ira seperti apakah daerah ini di dekade
1950-1960-an? Aku menebak bahwa latar waktu yang diambil oleh Nugroho
dalam cerpen ini sekitar dua dekade tersebut.
Dari cerpen ini aku
tahu bahwa di zaman dulu (seberapa dulu? Yah … dimulai dari zaman
kolonial Belanda tentu saja, karena kata ‘Pendrikan’ ternyata berasal
dari Fendrijk, nama seorang tuan tanah Belanda, penguasa wilayah barat
daya kota Semarang) Pendrikan merupakan kawasan tempat tinggal para
priyayi, sedangkan Kampung Magersari merupakan tempat tinggal para
pendatang yang konon non priyayi. Kedua kawasan ini dibatasi oleh
sebuah sungai yang disebut ‘Ngemplak’, bukan jalan Indraprasta seperti
yang kutulis di postinganku sebelum ini yang kuberi judul “Petualangan
Celana Dalam”. Apakah waktu itu daerah Pendrikan hanya melingkupi mulai
dari Jalan Sugiyopranoto sampai jalan yang sekarang disebut Jalan
Indraprasta? Dimanakah sungai yang disebut ‘Ngemplak’ oleh Nugroho?
Nampaknya
bukan, karena di sebelah utara jalan Indraprasta seingatku daerah itu
juga masih disebut daerah Pendrikan. Sekarang dibuktikan dengan
keberadaan SD Pendrikan Utara 03-04 yang terletak di mulut Jalan
Abimanyu; SD Pendrikan Utara 03-04 ini menghubungkan Jalan Abimanyu
dengan Jalan Indraprasta. Seingatku pula waktu aku masih kecil (waktu
duduk di bangku SD), kadang-kadang aku diajak shalat Jumat oleh
Ibundaku di masjid milik SD/SMP/SMEA Muhammadiyah yang terletak di
pinggir Jalan Indraprasta, sebelah Utara. Waktu dulu disebut-kalau aku
tidak salah ingat-Muhammadiyah Pendrikan. Tahun 1950an, my dearest late
Dad pernah menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah ini. Entah mengapa
kemudian beliau tak lagi menjadi guru/Kepala Sekolah, dan bekerja di
Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia).
Sedangkan daerah yang disebut
Kampung Magersari, setahuku sekarang ini hanya di kawasan pemukiman di
antara dua jalan raya, Jalan Sugiyopranoto dan Jalan Indraprasta.
Sesempit itukah kawasan yang dihuni oleh para pendatang yang non
priyayi tersebut?
Nampaknya aku benar-benar terhipnotis oleh Nugroho
sehingga sekarang setiap kali aku berangkat bekerja melewati Jalan
Indraprasta, aku selalu celingukan mencari sungai yang disebutnya
sungai ‘Ngemplak’. Saking biasanya aku melewati jalan ini, aku tidak
pernah memperhatikan memang ada dua buah sungai, yang satu lebih lebar,
yang lainnya lagi lebih sempit. Ini berarti Pendrikan terletak di
sebelah Timur ‘sungai’ Ngemplak (kalau masih bisa disebut ‘sungai’ sih,
karena sekarang ‘sungai’ ini terlalu sempit, sehingga hanya menyerupai
selokan. Dengan Selokan Mataram yang membatasi daerah UGM dengan
pemukiman Jalan Kaliurang saja, ‘sungai’ Ngemplak masih lebih sempit.)
sedangkan Kampung Magersari terletak di sebelah Barat ‘sungai’ Ngemplak.
Dan
dari hasil celingukan tatkala berangkat bekerja, menyusuri jalan
Indraprasta, aku melihat sebuah gapura yang bertuliskan Jl EMPLAK
INDRAPRASTA. Nah, ini diakah daerah perbatasan tersebut? Di bawah ini
gambar gapura tersebut. Di sebelah kiri ada sebuah sungai.

Hal
ini juga membuatku benar-benar ingin kembali ke dekade aku
lahir-mungkin di tahun-tahun tersebut setting time yang dipilih oleh
Nugroho-untuk melihat what that area looked like; memandangnya dengan
menggunakan kacamata seorang Nana saat sekarang ini; kalau bisa
mengabadikannya dalam bentuk jepretan foto. Apakah ‘sungai’ ini sejak
dulu hanya selebar itu? Ataukah karena perubahan alam-yang sering
disebabkan oleh manusia-sungai Ngemplak sekarang ini menjadi begitu
sempit. Juga aku ingin tahu dimanakah letak ‘papringan’ yang konon
sering terdengar tangis seorang bocah perempuan mungil?
PT 56 21.15 050807

No responses yet

Aug 12 2007

Semarang

Published by afemaleguest under Current Affairs

Saturday 11 August 2007 I successfully forced Angie to accompany me to
go around Semarang to take some pictures of this dearest hometown of
mine. J I have had this idea for several months, especially since my
friends at one mailing list welcomed my writing about “Semarang Pesona
Asia” warmly. Four weeks ago, Angie and I visited Lawang Sewu-on July
15, 2007 there was cultural exhibit there-and we took some pictures of
the building. Then we went to Gedung Batu Sam Po Kong, to take some
pictures of trees that have long roots hanging from one branch to
another, something amazing to my Abang. After that visit, I asked Angie
to continue our ‘adventure’. And we did it yesterday, 11 August 2007.
Below you can see the pictures of Jalan Pemuda, one main street in Semarang.


To
welcome “Semarang Pesona Asia” event, some main streets are decorated
with Chinese lantern. When reading the news in Suara Merdeka, I didn’t
consider it too much to promote one ethnic group. However, one expert
in culture, Djawahir Muhammad said that the government played favorite
to a certain ethnic group by decorating some main streets with those
lanterns. He said that Semarang citizens are divided into three ethnic
groups: Arabian, Javanese, and Chinese. He even mentioned an acronym
that is totally new for me: ARWANA (ARab, JaWA, ChiNA). (This made me
wonder of Tukul popular comedian from Semarang chose ARWANA as his last
name from this acronym?) He suggested that the government was supposed
to accommodate the three ethnic groups when decorating the main streets.
As
someone who is always fascinated by Chinese culture, I don’t mind it at
all. Besides, from the book “Semarang Tempoe Doeloe” we cannot deny the
Chinese influence in forming Semarang culture because in the past, many
Chinese people became landlords here, together with Dutch people in the
previous centuries.
To counter what Djawahir Muhammad said, Prof.
Eko Budiharjo stated that it was okay for the government to decorate
the main streets with those lanterns. Nevertheless, he also didn’t deny
that it would be more advisable that the government used different
special characters in some special areas. For example, in Pecinan
(Chinatown), it is okay to hang as many Chinese lanterns as possible
for decoration. In the Old City area, the government can give
decoration that is closely related to European heritage. (Aha … I am
wondering if in the Old City area there are many people having European
blood living there?)
When talking about this to my sister, she
asked, “Where about do you think people with Arabian blood live in
Semarang so that the decoration can be related to Arabian heritage?”
There is one area called ‘Pekojan’ in Semarang. If Pecinan is from
China word, Pekojan is from Koja word, that refers to people from
India, or probably Arab too. however, ‘Pekojan’ is also a part of
Pecinan.
Below you can see the pictures of the Town Hall (Balai Kota) located on Jalan Pemuda.


Below
you see the pictures of some shops selling Semarang special food, such
as lumpia, wingko babat, bandeng presto, some traditional food (jajan
pasar) etc. During long weekend or holiday these shops located on Jalan
Pandanaran are always full of visitors coming to Semarang. This made
Jalan Pandanaran one busiest street, and sometimes traffic jam happens
there.


Below
you can see the picture of Java Mall, one biggest mall in Semarang that
is full of decoration/banner to welcome “Semarang Pesona Asia” event.




The
pictures below are some tent cafes located on Jalan Pahlawan. This is
also to welcome the big event so that the street vendors on that
street, and some other areas too, such as around Simpang Lima look
tidier.


Angie
and I also visited Masjid Agung Jawa Tengah. There are many visitors
coming from out of town. I can see it from the buses and cars parked in
the parking lot. I am wondering whether they come to fulfill their
curiosity to take a look at this grand mosque closely (now that
religious tour has become a trend recently), or whether they come
because of the spectacular event, SPA.


Next
we had lunch in one tent café located on Jalan Menteri Supeno. Our menu
for our lunch on that Saturday was: tahu gimbal, rujak, and es teler.
Tahu gimbal (it consists of chili sauce with peanut, tofu, lontong, shrimp, etc.)

Rujak (some kinds of fruit and chilli sauce)

Es teler


At
the same time there was decorating plants exhibition close by, perhaps
also to welcome SPA. Therefore there were more customers coming to café
tents located around there.
The last place we visited is the Old
City area. Below is the picture of the main post office in Semarang.
The building is also one heritage from Dutch colonization.

Below are some pictures of Jalan Merak. The street has been especially decorated for SPA.






Some
buildings in the Old City area are still in good condition, especially
when those buildings are made use by some companies. Some other
buildings were terribly damaged and very filthy. :(






Gereja Blenduk from different angles.





One thing we must not forget, along the street there are many people who sell flags to welcome the Independence Day.

Below are some pictures of banners special for the great event, Semarang Pesona Asia.


All pictures were taken using the digital camera in Sony Ericsson K510i mobile phone, on August 11, 2007, around 11.00-14.00.
PT56 12.45 120807

No responses yet

Aug 10 2007

Denias Senandung di Atas Awan

Published by afemaleguest under Film

Denias_movie_02 Denias_movie_04                   "Denias Senandung di Atas Awan" is one of good movies produced by Indonesian producers. It is produced by Alenia Pictures. The story-based one a true story-is about one boy named Denias living in Papua, one quite big island in Indonesia, located in the eastern part of the archipelago. The island has one so-called biggest gold mining company in the world, the Freeport. However, it doesn’t mean that the native people there live wealthily. Denias used to live in one poor village located in inland and the villagers still practice the ritual ceremonies from their ancestors.
There are five interesting things that I noted when watching it.
MOURNING RITUAL CEREMONY
DISCRIMINATIVE TREATMENT TOWARD OTHER PEOPLE
PAPUA IS ONE OF THE RICHEST ISLAND IN
INDONESIA, BUT THE MOST OF THE NATIVE PEOPLE LIVE POORLY.
STUDYING IN FORMAL SCHOOL.
"KOTEKA", TRADITIONAL CLOTHES IN PAPUA.
"Denias Senandung di Atas Awan" is indeed worth watching with so many moral lessons behind. The casts are: Albert Fakdawer as Denias, Ari Sihasale as Maleo, Michael Jakarimilena as Samuel, Marcella Zalianty as Sam Koibur, one teacher who helps Denias accepted in the school in the town nearby.
PT56 12.21 100807
   
To read the more complete article of mine, visit the following site:
   
 
http://afeministblog.blogspot.com/2007/08/denias-senandung-di-atas-awan.html
   
KPDE 18.28 100807

No responses yet

Aug 09 2007

The Holiday

Published by afemaleguest under Film

Theholiday_bigreleaseposter

“… a vacation is supposed to be doing the unexpected…”

What kind of holiday is your favorite? Would you prefer spending your time in a beach with its white sand, blue sea, sunshine, the sound of waves and also seagulls? You can swim to your heart’s content; or you can build sand castles; at other times sunbathing to get tanned. Or would you spend it in a small cottage in a slope of a mountain during winter? You can build snowman, ski, etc. Would you like to spend your holiday with the one you love—such as your plus one—or with family members or a group of close friends? Or would you choose to be all alone?

This movie—THE HOLIDAY—gives a great idea to spend a holiday: exchanging homes and everything. The two main characters, Amanda Woods played by Cameron Diaz, living in a sunny area of Los Angeles exchanges dwelling place with Irish Simpkins played by Kate Winslet. The illustration that both of them are single, live on their own in their respective home perhaps makes this exchanging dwelling place for two weeks easier to do. Although both of them are single, they have different experience that makes them end up without a plus one. Irish’s boyfriend—Jasper—cheats her by having a relationship with another woman and then he gets engaged with the other woman; leaving Irish broken hearted. Amanda breaks her relationship with her boyfriend—Ethan—after he admits that he sleeps with his receptionist. Both of them have the same reason to leave their dwelling place temporarily: to forget the pain due to their unfaithful boyfriends..

Can both of them forget their boyfriends who have made them broken-hearted? Will they find someone new in the new place that will help them forget the pain?

PT56 21.37 050807

No responses yet

Aug 05 2007

Nyanyi dan ‘Blue Moon’

Published by afemaleguest under daily

Recently I have often attacked by “blue moon” out of the blue. (NOTE: ‘blue moon’ di sini bermakna seperti yang diungkapkan oleh Abang.) It was not really clear what caused it. Biasanya dengan menulis aku bisa menyembuhkan rasa yang seperti menimpa kaum perempuan menjelang mendapatkan “monthly guest” ini. But entah kenapa akhir-akhir ini writing doesn’t really cure me. I need something else.
Hari Sabtu 4 Agustus 07 kemarin aku mampir ke warnet langganan. But berhubung akses drop, aku harus pulang dengan tangan hampa. L Aku telah membayangkan akan menyapa Abang di YM, wah … jadi buyar deh. L
Aku kembali diserang blue moon itu lagi. L
FYI, di daerah Beringin, Pemuda, Indraprasta listrik mati Sabtu sore itu karena ada kebakaran di satu tempat. Hal inilah yang menyebabkan warnet KPDE drop aksesnya karena listrik di kantor pusat-tempat internet diakses untuk kemudian dialirkan ke KPDE-mati.
Dua warnet lain yang terletak di gang Sadewa pun tutup.
I tried to calm down my restlessness but it didn’t seem to work well sampai akhirnya aku sampai di warnet lain, terletak di jalan Indraprasta juga yang kulihat listriknya menyala. Aku langsung mampir meskipun agak ragu karena di tempat parkir tak kulihat satu kendaraan pun. Ternyata listrik baru saja menyala. I had to wait around 20 minutes, kepanasan, sampai akhirnya internet bisa diakses.
My restlessness did not automatically go after I saw Abang’s nick online di YM. Aku malah heran, tumben dia pakai ‘visible’ alias’ available’? Biasanya kan ngumpet? Kayak aku yang suka ngumpet di balik ‘invisible mode’. J dia lagi ngapain tuh? Ternyata dia sedang nyoba cara baru (well, bagiku baru, karena aku baru ngerti LOL) dimana dia terlihat visible hanya untukku, atau untuk beberapa orang lain yang sengaja dia ‘set’ seperti itu. Setelah dilihatnya aku nongol, menyapanya, dan aku heran bertanya masalah ‘visible’ dan ‘invisible’ tersebut, dia umpetin lagi nicknya.
“Aku sedang nonton Black Sabbath nih Na di televisi,” katanya. Aku yang ternyata belum berhasil ‘menyatukan’ jiwaku yang rasanya berhamburan entah kemana, LOL, ga langsung ngeh what the hell he was watching on television.
“Tentang apa tuh Bang?” tanyaku. Well, kupikir dia sedang nonton film yang berjudul Black Sabbath.
“Waduh Na, masak kamu ga tahu sih group band Black Sabbath?” tanyanya heran.
Aku mencoba mengingat-ingat, oh iya, kelompok musik rock yah kalau tidak salah? Aku memang tidak begitu menyukai jenis musik satu ini, so yang kuhafal ya group rock yang memang namanya super terkenal (bagiku telingaku tentu saja LOL) such as Bon Jovi, Europe, Gun N Roses, apalagi? Lupa. LOL. Oh ya, aku suka dua lagu dari Meatloaf yang berjudul, “I would do anything for love” dan “I’d lie for you” sedangkan Abang kurang suka Meatloaf.
Setelah itu Abang bilang, “Sekarang sedang nonton Queen dengan “Bohemian Raphsody”.
“Lagunya enak tuh Bang,” komentarku.
“Nyanyi dong!” sahut Abang.
Nyanyi? Waktu Abang bilang begitu aku baru nyadar aku sudah lama ga teriak-teriak mengikuti lagu yang kudengarkan dari desktop. Dengerin musik tiap hari tapi cuma dengerin doang, ga ikutan nyanyi. Pernah satu kali niruin seorang penyanyi yang lagunya sedang kudengarkan, ternyata suaraku berkelana sampai kamar mandi di belakang. Angie langsung komplain, “Mama tuh gila ya? Teriak-teriak kayak orang kesurupan?”
Kayaknya semenjak itu aku menahan diri untuk tidak nyanyi di rumah. lagipula memang aku ga narsis-narsis amat dengan suara yang keluar dari kerongkonganku ini.
Komentar Abang, “Nyanyi dong!” jadi mengingatkanku tatkala aku ngekos. Suasana kos yang sering sepi di pagi hari, teman-teman kos ke kampus, sedangkan aku anteng di kos, maksudku ga pergi kemana-mana, membuatku suka dengerin musik keras-keras, sambil ikutan nyanyi. Bahkan di awal-awal balik ngekos di bulan April 2005 itu, aku dengan sengaja ikutan jingkrak-jingkrak di kamar kos sembari berteriak-teriak, saingan dengan suara dari loud speaker yang kuhubungkan dengan CPU, ingin menikmati my freedom to escape from the hellish life trapping me several months before that.
Aku jadi pengen ngekos lagi. Pengen teriak-teriak sembari nyanyi tatkala keresahan menghinggapiku. I suppose I need it recently.
Waktu aku cerita ke Abang kalau aku suka teriak-teriak waktu ngekos, dia nanya, “Emang teman kosmu ga ada yang protes?”
“Ga adalah Bang. Mana berani mereka? Kalah tua.” LOL. Budaya Jawa yang tentu masih kuat melekat membuat kita ga berani menegur orang yang lebih tua. Ya, aku manfaatin aja deh. huehehehe … But, as I wrote above, aku lebih sering melakukannya tatkala kos sepi, teman-teman ke kampus atau kemana kek.
“Kalau ada aku di situ? Berani kamu?” tanya Abang, sok merasa lebih tua dariku. LOL.
“Loh kalau ada Abang di sini, ya Abang ikut nyanyi bareng aku dong!” jawabku.
“Pinter!” komentarnya. LOL.
Lah siapa dulu? Si Nana yang ngaku sebagai an intellectual snob gitu loh. Huehehehe … Dasar gila, snob kok bangga. LOL. LOL.
PT56 11.55 050807

2 responses so far

Aug 05 2007

Kopi dan Jogja

Published by afemaleguest under daily

Hari Sabtu 4 Agustus 2007 aku sampai di kantor pukul 13.40. Mengantuk. Nah lo, repot kan? Kelas akan dimulai pukul 14.00. Satu hal yang paling kubenci adalah mengantuk di dalam kelas. Kok bisa sih ngantuk di kelas? LOL. Well, biasanya kalau siswa-siswiku sedang mengerjakan Periodic Test atau mungkin kuminta menulis sesuatu (dengan skills focus WRITING pada pertemuan tersebut) kadang aku mengantuk.
So, what did I do to overcome the sleepiness?
I bet you can guess the answer: MINUM KOPI.
Segera aku beranjak ke dapur untuk membuat secangkir mungil kopi tubruk yang kental. Seorang teman menawariku kopi campur (campur cream maksudku J), tapi aku menolaknya karena aku sedang kepengen minum kopi tubruk hitam, tanpa campuran cream, apalagi susu, ugghh!!! L L Setelah masuk ke ruang guru dengan uap mengepul dari cangkir yang kubawa, harum aroma kopi menyeruak ke seluruh ruangan, aku disapa seorang rekan guru yang sudah seusia nyokapku (dan anaknya satu-satunya seusia anakku LOL). “Bu Nana nih kuat banget yah minum kopinya?”
Aku bengong. Lah, seingatku sudah berapa minggu aku tidak minum kopi di kantor karena ga sempet bikin kopi. Ini nyindir aku minum kopi melulu (yang tentu saja membuat kantor harus sering-sering beli kopi dan gula untuk pegawai sepertiku LOL) atau heran aku suka minum kopi, atau bagaimana? Dia bilang dia super jarang minum kopi, kadang-kadang hanya sekali dalam waktu sekitar tiga bulan!
Entah karena aku sedang PMS atau memang aku yang sedang rada sensi, aku jawab, “Aduh Pak, ini cangkir pertama kopi untuk hari ini. Sesuka apapun aku terhadap kopi, paling-paling kubatasi hanya satu cangkir dalam waktu satu hari.” Karena usianya yang sudah sangat senior dibandingkan aku, jawabanku masih terdengar biasa-biasa saja kan, dan ga keliatan sensi? LOL.
Seorang teman lain, yang juga mengaku tidak begitu menikmati kopi, ikutan nimbrung, “Iya memang, bu Nana nih kuat minum kopi dan perutnya kayaknya ga bermasalah dengan itu. Ga papa sih minum kopi asal olah raganya kuat, seperti bu Nana.”
Obrolan ini jadi mengingatkanku masa-masa aku menyeruput kopi di pagi hari, setelah bangun tidur. untuk memaksa mataku melek seratus persen dan siap berkonsentrasi nulis tesis tatkala aku masih tinggal di kos Jalan Kaliurang Km5 no 81C di belakang RM Pondok Bello. Waktu itu aku juga mencoba membatasi diri satu hari satu cangkir. Hanya dalam suasana terjepit, aku benar-benar harus memaksa konsentrasi, alert, dan tidak ngantuk (karena dikejar deadline untuk menyerahkan lembaran-lembaran baru tesis ke Pak Bakdi, dosen pembimbing tesis pertama) aku pernah minum tiga cangkir; satu cangkir di pagi hari, setelah bangun tidur, dua cangkir di sore dan malam hari.
Rasanya asik ajalah sembari melototin monitor desktop, aku menyeruput kopi; biasanya nescafe three in one original, kadang-kadang indocafe cappuccino. Orang yang kurang suka tantangan sepertiku ini tidak berani mencoba berbagai merk kopi, setelah aku merasa lidahku cocok dengan nescafe original three in one. Pernah mencoba nescafe three in one cream dan moccacino (moccachino? Entahlah piye nulise LOL) aku langsung tidak suka. Merupakan siksaan yang amat berat untuk menghabiskannya. LOL. So what did I do? Kuberikan kepada orang lain. Misal: waktu Julie berkunjung ke kos, aku buatin dia nescafe mocacino. LOL.
Well, kopi memang selalu mengingatkanku pada masa-masa hectic menulis tesis, mengejar deadline, agar ga bayar SPP lagi, yang waktu itu sebesar empat juta rupiah per semester (tentu saja karena scholarship allowance ku sudah habis di semester lima).
PT56 11.15 050807

No responses yet

Aug 04 2007

Petualangan Celana Dalam

Published by afemaleguest under Books

Di
balik sifat perfeksionis yang kumiliki—yang menyebabkanku memiliki
satu sifat buruk lain yakni procrastinator (aku tulis di blog juga,
bulan Juni 2007)—aku juga kadang bersifat grusa-grusu. LOL. Kalo
sedang punya satu ide untuk ditulis, maunya segera menulis, sekaligus
menyelesaikannya dalam satu kali tulisan/duduk di depan monitor
komputer. But, tentu saja satu hal ini tidak berlaku tatkala aku
menulis tesis.

Salah
satu sifat grusa-grusuku dapat dilihat dengan jelas dalam tulisanku
sebelum ini. Judul kumpulan cerpen Nugroho Suksmanto yang
“Petualangan Celana Dalam” kutulis menjadi “Perjalanan Celana
Dalam”. Kamu setuju kan kata ‘petualangan’ dalam konteks
tertentu memiliki makna ‘perjalanan’? LOL. (Si Nana ngeles. LOL.)
Buku kumcer milik Berti, salah satu siswa Elementary Class 2 ini
masih kupinjam, yang berarti masih bisa kubawa kesana kemari. Dan
toh, aku tetap tidak nyadar bahwa aku telah melakukan satu kesalahan
fatal. Coba bayangkan jika ada orang yang memang terprovokasi
tulisanku untuk membeli kumcer ini, trus nyari di toko buku, tanya
salah satu pramuniaga, “Buku kumcer PERJALANAN CELANA DALAM di
sebelah mana ya?” atau mungkin ngecek di komputer. Ga bakal ketemu
kan?

And
you know what, kumcer ini kubawa kemana-mana, ke Paradise Club
fitness center (bisa kubaca sewaktu cycling, atau menunggu erobik
dimulai sambil menyeruput secangkir Nescafe original three in one),
ke kantor, ke warnet, kadang juga waktu jemput Angie sekolah, eh, aku
tetap tidak NGEH bahwa aku telah mengubah secara paksa judul kumcer
milik Nugroho Suksmanto ini.

So,
kapan aku nyadarnya?

Hari
Kamis waktu aku online, membuka mailbox, dan menemukan satu balasan
atas tulisan yang kukirim ke dua milis “Lapanpuluhan” (karena aku
nyebut-nyebut masa kecilku di tahun 1970-an, cuma beda satu dekade
dengan nama milis itu kan? Biasalah, si Nana suka maksain diri.
Hahahaha …) dan “Pria Sehat Tanpa Celana” (nama milis yang
terlalu norak kata Abang, and obviously he didn’t like it, ini yang
disebut “judge a book by its cover” wakakakaka … it is
absolutely not wise, is it? LOL) dari Kumalaratih (atawa Ratih
Kumala) yang mengoreksi tulisanku,

Dear
FeMale

Yang
kamu maksud tentunya kumpulan cerpen berjudul PETUALANGAN CELANA
DALAM tulisan Nugroho Suksmanto kan?”

GUBRAKKKKKKKKKKKK!!!
Serasa atap warnet itu runtuh menimpa kepalaku yang tentu tidak
memakai helm. LOL namun aku tidak begitu saja percaya, “MASAK SIH
SEORANG NANA MELAKUKAN KESALAHAN SEPELE NAMUN FATAL INI?’ satu
kesalahan yang tidak akan kumaafkan. LOL. Aku langsung ambil kumcer
itu dari tas punggung mungilku, kukeluarkan, kupelototi judulnya, dan
… VOILA … I HAVE MADE A TRIVIAL BUT EMBARRASSING AND ANNOYING
MISTAKE.

Aku
yang sedang chat dengan Abang, langsung mengadu ke dia, “How could
a perfectionist Nana make such a mistake?” Abang yang sudah sangat
biasa kugodain dan tertawakan atas kelupaannya akan sesuatu hal
merasa memiliki senjata untuk menertawakanku balik. Aduh … Seneng
dia ngetawain aku sampai gulung-gulung di lantai!!!

Buat
pak Nugroho, please forgive me. I love reading your short stories,
especially the ones that have Semarang as the setting.

PT56
11.45 030807

No responses yet

Aug 04 2007

Elvaretta

Published by afemaleguest under Current Affairs

I went to bed very late last night, almost 1am. It was not because I was
still creative to express things crowding my mind in a form of writing.
I was even idle, I was not a creator, just a consumer: I watched
television!
Bagi mereka yang mengenalku dengan baik—bahwa aku
tidak suka duduk di depan kotak ajaib (I am no longer sure though
whether people still consider television a magical box LOL)—tentu
heran, ada magnit apakah yang membuatku rela duduk berjam-jam melototin
monitor televisi di ruang makan, dan meninggalkan desktop kesayangan di
kamar tidur? Mana banyak nyamuk di ruang makan ikut bersuka cita
mendapatkan mangsa empuk—AKU.
Magnit itu bernama acara PEMILIHAN PUTRI INDONESIA.
Well,
sejak kapan Nana bersedia menonton acara beauty pageant macam ini yang
bagi para SEBAGIAN feminis justru merendahkan kaum perempuan? Meskipun
konon penilaiannya berdasarkan brain, behavior, and beauty, banyak
orang menuduh acara pageant seperti ini hanyalah untuk mengukur berapa
ukuran dada, pinggang, dan pinggul, dan bukan how brainy a woman is.
(Catatan:
hanya SEBAGIAN, bukan SELURUH feminis. Ini tidak berarti bahwa para
feminis suaranya terbagi menjadi dua, tidak. Menurut pendapatku
pribadi, yang paling penting dan krusial dalam perjuangan kesetaraan
jender yang dilakukan oleh para feminis adalah memberikan kesempatan
yang adil kepada para perempuan untuk mengejar apa yang mereka
cita-citakan dalam segala bidang; tentunya termasuk mengikuti acara
beauty pageant. Seorang perempuan harus tahu bahwa mereka tetap bisa
menjadi SUBJEK, dan tidak melulu menjadi OBJEK. Bahkan tatkala seorang
perempuan menjadikan dirinya sebagai ‘objek’ dalam satu kasus dengan
sadar, dia tetaplah memegang peran sebagai subjek dari dalam dirinya
sendiri. Seorang Inul adalah SUBJEK yang menyihir para penontonnya
dengan goyang ngebornya.
Contoh kecil: tatkala the second wave of
women’s movement in 1960s kaum feminis “memerangi” pilihan sebagai
seorang housewife (perempuan selalu menjadi pihak yang ‘dikalahkan’
dalam satu perkawinan karena ego laki-laki yang selalu ingin menjadi
lebih dibanding perempuan yang biasanya dapat direalisasikan dalam
sebuah institusi perkawinan; seperti kata Dennison “Marriage is an
institution that robs a woman of her individuality and reduces her to
the level of a prostitute”) kaum feminis beberapa dekade setelah itu
melihat pilihan untuk menjadi seorang housewife juga merupakan sesuatu
yang harus dihormati dan bukan lagi ditertawakan. Seorang feminis tidak
selalu harus berkonotasi anti perkawinan, lesbian, memilih pekerjaan
yang maskulin, dll.)
Kembali ke PPI (Pemilihan Putri Indonesia). Ada
magnit apa dalam PPI semalam? Kebetulan wakil Jawa Tengah yang bernama
Elvaretta Nathania Gunawan (baru akhir-akhir ini aku NGEH nama lengkap
Elva LOL) adalah salah satu ex student of mine in my ex workplace (you
can read my post I entitled UTOPIA di blog
http://afeministblog.blogspot.com to know why I no longer worked
there).
Kurang lebih satu tahun yang lalu Elva bercerita tentang
ambisinya untuk mengikuti PPI, karena Nadine Chandrawinata—Putri
Indonesia 2005—inspired her. Kalau Nadine yang berwajah bule itu (yang
tentu saja tidak menunjukkan keeksotisan kecantikan perempuan
Indonesia) bisa terpilih sebagai Putri Indonesia, mengapa Elva tidak
berpeluang? Menurutku pribadi, Elva tentulah mampu mewujudkan impiannya
tersebut mengingat dia merupakan salah satu mahasiswa yang cukup
menonjol dengan kecerdasan yang di atas rata-rata mahasiswa lain,
selain memang tinggi tubuhnya yang menonjol, 178cm. Bukan melulu karena
wajah cantiknya yang kebule-bulean.
Kekalahan Nadine dalam ajang
Miss Universe—dengan melakukan kesalahan yang cukup fatal menurutku,
membuat dia menjadi bulan-bulanan media maupun milis-mlis di tahun 2006
lalu—kupikir akan sedikit menyurutkan niat Elva. Media pun menuduh
pihak PPI bersifat kekanak-kanakan dengan memilih Nadine sebagai Putri
Indonesia justru karena tubuhnya yang tinggi semampai dengan wajah
kebule-bulean, dengan alasan “Agar terlihat di antara finalis-finalis
Miss Universe yang lain.” Media pun berujar bahwa seharusnya PPI
memilih finalis yang berwajah eksotis khas Indonesia.
Sekitar satu
setengah bulan yang lalu dalam profile friendsternya, Elva menuliskan,
“Frends, aku mewakili Jawa Tengah dalam PPI. Doakan aku ya?” Wah …
she really pursued her dream? I was amazed. She dreamed of following
Nadine’s step, and she did real things to make her dream come true.
(Bandingkan denganku yang bermimpi menulis novel, ataupun menulis buku
untuk diterbitkan dan sampai sekarang I don’t do any real things yet.
Dasar lelet!!! LOL. A perfectionist procrastinator!!!)

I
wished Elva all the best. I wished she could represent Indonesia in
Miss Universe pageant. Meskipun tentu saja cemoohan media terhadap
Nadine membuatku kurang yakin. Jikalau Nadine terpilih sebagai Putri
Indonesia 2005 karena wajahnya yang kebule-bulean, jangan-jangan Elva
justru terjegal karena hal yang sama.
Semalam tatkala dia masuk ke
sepuluh besar, aku biasa-biasa saja, tidak terlalu excited, karena
dengan kualitas yang dimiliki Elva, dia memang pantas—dan harus—masuk
ke sepuluh besar. Maklum lah, kata pepatah tidak kenal maka tidak
sayang. aku tidak kenal para finalis dari propinsi yang lain, ya wajar
kan kalau aku tidak menjagokan mereka? LOL. Namun tatkala penjurian di
tingkat 10 besar ini, finalis dari Sumatra Utara, Duma Riris Silalahi,
cukup menarik perhatianku dengan her smart answer, confidence, tidak
terlihat grogi sama sekali, meskipun dia ketiban sampur untuk maju
nomor satu. (Jadi ingat pelatih modelling Angie yang selalu ingin Angie
maju nomor satu untuk langsung mencuri perhatian para juri tatkala
Angie kecil dulu sering ikut lomba fashion.) Duma bakal menjadi pesaing
ketat bagi Elva, menurut penjurianku sendiri. LOL.

Aku
cukup bangga tatkala Elva mampu melewati 10 besar dan terpilih sebagai
salah satu finalis lima besar. Jawaban Elva akan pertanyaan Dewi Motik
Pramono yang berhubungan dengan global warming pun sangat meyakinkan,
kata terakhir terucap di detik 29, dari 30 detik yang diberikan. Karena
yang kujagokan hanya dua—Elva dan Duma—aku jadi tidak begitu
memperhatikan jawaban ketiga finalis lain, kecuali finalis Jatim yang
terlihat grogi tatkala menjawab pertanyaan juri. I directly
ren-penciled her.
Namun ternyata selepas tengah malam, entah aku
yang ngantuk, atau para juri di JCC yang ngantuk, LOL finalis
Jatim—Putri Raesmawati—yang terlihat grogi tatkala menjawab pertanyaan
juri justru masuk tiga besar, dan langkah Elva harus terhenti di situ.
Duma masih melaju ke babak ke tiga besar. Aku menjagokan Duma untuk
menjadi Putri Indonesia 2007.
Pertanyaan terakhir yang diucapkan
oleh Ferdy Hasan untuk ketiga finalis, “Apa beda pahlawan dan
pecundang?” ternyata merupakan pemicu keberuntungan bagi Putri
Raesmawati. Jawabannya, “Beda pahlawan dan pecundang adalah bahwa
pahlawan mati hanya satu kali dalam hidupnya, sedangkan pecundang mati
berkali-kali” memukai dewan juri di JCC, bukan di rumahku yang
berlokasi di PT56. LOL. Di babak puncak ini, Duma terlihat agak grogi,
padahal jawabannya menurutku lebih cerdas dibandingkan Putri. Jawaban
paling mengecewakan bagiku dilontarkan oleh Tri Handayani, wakil DKI,
“Pahlawan karena mereka sedang beruntung, pecundang karena mereka
sedang sial.” In some cases, memang ada orang yang mendapatkan gelar
‘pahlawan’ karena keberuntugnan semata, namun toh tidak bisa dipukul
rata seperti itu?
(Contoh: Siapakah seorang Pangeran Diponegoro? Dia
adalah pahlawan di mata orang Indonesia, dan beliau berjuang dengan
keras, bukan semata-mata karena keberuntungan kita menyebutnya sebagai
pahlawan. Di mata orang Belanda memang dia adalah seorang pemberontak.
Siapakah seorang Datuk Maringgih dalam SITTI NURBAJA? Dia adalah
seorang lelaki bandot tua yang suka daun muda, an antagonist, oleh
karena itu harus dibinasakan. Demikian tulis Marah Roesli yang menulis
novel itu berdasarkan ‘pesanan’ pemerintah kolonial Belanda. Sedangkan
bila kita menggunakan teori poskolonial, Datuk Maringgih adalah seorang
pahlawan, karena dalam novel tersebut dikisahkan menentang Belanda, a
protagonist, isn’t he?)
Jawaban Putri “seorang pecundang adalah
seseorang yang mati berkali-kali”, bisa diinterpretasikan (read it
between the lines) adalah seseorang yang memiliki determination yang
sangat tinggi. Mencoba satu hal, gagal (atau mati), dia akan bangkit
lagi, mencoba di bidang lain, gagal lagi? (mati lagi) bangkit lagi,
mencoba lagi. STOP TRYING IS NOT A CHOICE. Bukankah ada kata pepatah,
“Kegagalan adalah sukses yang tertunda?”)
Well, Elva, you did not
fail. You have done a very great job. And I am very proud of you, just
like your parents, your friends, and the citizens of Central Java. Go
on pursuing your dream.
PT56 12.15 040807
P.S.: Especially written for Elvaretta Nathania Gunawan

3 responses so far

Next »