Archive for July, 2007

Jul 17 2007

Hari pertama Angie

Published by afemaleguest under Angie

Dsc01823 Hari pertama Angie di sekolah pada tahun ajaran 2007/2008.

Angie bangun lebih pagi dari biasanya, pukul 05.20. Dia memang berpesan kepadaku untuk dibangunkan lebih pagi sehingga dia bisa mempersiapkan diri berangkat sekolah lebih awal. Satu hal penting yang ingin dia lakukan adalah agar dia lebih leluasa untuk memilih tempat duduk, yang menurutnya strategis.

Jam 06.15 aku mengantarkannya ke sekolah. Jalanan benar-benar jauh lebih padat dibanding selama tiga minggu sebelumnya waktu anak-anak sekolah menikmati libur kenaikan kelas.

Siang hari sekitar pukul 13.30 dia kirim sms, “Ma, Angie berangkat les Bahasa Inggris dari rumah mbak Nana. Ma, tolong bawain buku HI3 sama sepatu yang biasa tak pake kursus itu loh Ma. Pake sepatu ini kakinya Angie sakit.” (NOTE: tulisan sudah “kuterjemahkan” sehingga dapat dipahami orang awam, tak hanya para remaja. LOL.) FYI, “mbak Nana” yang disebut Angie adalah sobat kentalnya sejak kelas IV SD.

Kita bertemu sore hari di kantor, aku mengajar, Angie kursus.

Seusai jam pelajaran, kita pulang bersama. Dalam perjalanan pulang, Angie dengan heboh menceritakan pengalaman tidak enaknya di hari pertama tahun ajaran 2007/2008: dia dituduh mencuri hape. Nah lo. Menyebalkan toh?

Cerita singkatnya begini. Seperti sekolah-sekolah lain, SMA N 3 pun mengadakan masa orientasi perkenalan sekolah selama tiga hari. Yang berbeda adalah anak-anak SMA N 3 tidak perlu memakai ‘atribut’ yang aneh-aneh, misal, untuk anak perempuan rambut harus dikucir berapa biji, diberi pita berwarna-warni, atau memakai topi karton, dll. Masa perkenalan ini benar-benar ditujukan agar para siswa baru mengenal sekolah mereka yang baru. Salah satunya adalah, para senior masuk ke kelas-kelas X untuk memperkenalkan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti.

Tatkala Angie mendapatkan tugas untuk memperkenalkan CEMETI, majalah sekolah, dia harus meninggalkan kelas dan masuk ke kelas-kelas X. Pada waktu itu ditengarai ada 26 hape milik anak kelas X yang hilang. Entah bagaimana ceritanya panitia masa orientasi sekolah masuk ke kelas-kelas dan menggeledah dengan paksa tas-tas yang ada. Kebetulan Angie meninggalkan satu hapenya di tas, hanya mengantongi satu hapenya yang lain dalam rangka touring promoting CEMETI.

Ketika salah satu panitia menggeledah tas Angie, dia menemukan hape yang Angie simpan di dalamnya. Dengan serta merta, anak itu menuduh Angie telah melakukan pencurian hape. “Kenapa anak ini ga bawa hapenya di kantong ya? Ini pasti hape curian.” Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Bahkan guru yang berada di kelasnya pun mengiyakan tuduhan itu. Untungnya, ketika anak yang tak tahu diri itu melontarkan ide, “Hape ini kita sita saja ya?” beberapa teman-teman sekelas Angie (yang tentu belum mengenal Angie dengan baik) mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang bijaksana. Untungnya lagi, (dasar wong Jowo, sudah dapat tuduhan menyakitkan gini ya tetap saja bilang “untungnya …” LOL), Mita teman kursus Bahasa Inggris Angie sejak tahun 2004 yang sekarang satu kelas dengan Angie di kelas XI IA 1 melihat kejadian ini, dan dia langsung mengatakan, “Saya kenal Angie sejak dia kelas III SMP. Dan memang dia punya dua buah hape kok. Ini memang hape dia.”

Ketika Angie kembali ke kelasnya, dia dipanggil oleh guru yang berada di dalam kelas dan ditanya, “Apa benar kamu punya hape dua? Apa benar hape yang di dalam tasmu ini milikmu?”

Waduh … aku kesel banget waktu mendengar cerita ini. Sayangnya Angie yang tidak tahan ingin segera bercerita (misal menunggu setelah kita tiba di rumah sehingga dia bisa bercerita secara leluasa), dia bercerita di atas motor. Aku harus membagi konsentrasi antara mendengarkan ceritanya dengan mengendarai motor. Angie yang duduk di belakangku pun tentu tak bisa kupandang mimik wajahnya tatkala bercerita. Apakah dia pun sama kesalnya denganku?

Tak lama kemudian, sesampai di rumah, Angie pun bercerita hal lain lagi yang dia sukai. Ketika touring classes untuk promosi mengikuti ekstra kurikuler CEMETI, dia dapati wajah-wajah imut yang biasa dia lihat di kursus Bahasa Inggris. “Waduh Ma … akhirnya mereka pun ngikutin jejak Angie, bersekolah di SMA N 3. Asik asik … ada tontonan apik …” hahahahaha …

Dasar remaja. … LOL.

PT56 11.20 170707

No responses yet

Jul 17 2007

Globalization and Divorce

Published by afemaleguest under Gender

Commenting to the high number of women filing divorce, HM As’ad Fathoni, the secretary of the Religion Department of Semarang said that probably it was caused by globalization era that influenced women’s point of view; they are of opinion that they are now equal to men.
It cannot be denied that one impact of globalization era is the changing behavior of attitude in people, including their perspective in viewing life.

To read the complete article of mine, just click the following site:

http://afeministblog.blogspot.com/2007/07/globalization-and-divorce.html

Thanks a lot :)

No responses yet

Jul 17 2007

Maskulinitas dan Femininitas

Published by afemaleguest under Gender

Kun Fayakun, kata Tuhan. Maka jadilah kami seperti ini. Tetapi mengapa manusia terperangkap dalam dua kutub perempuan dan laki-laki, sehingga kami yang seperti ini dipersoalkan? Mengapa manusia yang diakui sah hanyalah perempuan dan laki-laki? Dan kami dimana? Apakah ini mengingkari sunnatullah? Allah a’lam bisshawab.
(Puang Saidi, percakapan tengah tahun 2003)

dari Srinthil, Media Perempuan Multikultural,
Kajian Perempuan Desantara, Oktober 2003, halaman 5

To read the complete article of mine, please open the following site:

http://afeministblog.blogspot.com/2007/07/maskulinitas-dan-femininitas.html

Thanks a million :)

No responses yet

Jul 16 2007

Divorce

Published by afemaleguest under Gender

Today Monday 16 July 2007 the
local newspaper quoted data from Dirjen Bimas Islam (Islamic Societal
Councelling) that mentioned high percentage of divorce in big cities.
In Jakarta, 75% married women filed divorce, in Semarang, my hometown,
70% women did it, while in Surabaya, the capital city of East Java, 80%
women did it. This data was stated by Khofifah Indar Parawansa, the
chief of Muslim women division of Nahdlatul Ulama, one biggest Islamic
social organization in Indonesia yesterday in Sragen, one town located
in Central Java.

To read the complete article, click the following link:

http://afeministblog.blogspot.com/2007/07/divorce.html

Thanks a million.
KPDE 19.45

No responses yet

Jul 16 2007

From Angie to Jogja

Published by afemaleguest under Angie

                           Angie masuk kelas XI IA (baca =>Zzzzzzzz213
Ilmu Alam) 1 mulai Senin 16 Juli 2007. Ini berarti libur kenaikan
sekolah telah usai. Tiga minggu telah berlalu.

Hal ini mengingatkanku akan rencana-rencana
yang kutulis beberapa minggu lalu, apa-apa yang kurencanakan akan kulakukan
bersama Angie selama liburan.

1. Ngenet lebih dari biasa, for fun buat Angie, sedangkan untukku sendiri
tentu saja blogging.

2. Sewa VCD untuk hiburan, well untuk pengisi waktu saja, lebih murah
dibanding aku ajakin nonton di bioskop toh?

3. Membiarkan Angie menggunakan desktop seharian sedangkan aku mengalah
menggunakan the cutie.

4. Wisata kuliner

5. Berbelanja di supermarket dekat rumah

6. Ke Toko Buku

7. (Bermimpi) mengunjungi Jogja, kota klangenanku di kala jauh begini.

Dari keenam rencana itu, yang manakah yang
akhirnya benar-benar kita lakukan bersama?

1. Ngenet lebih dari biasa

Hal pertama ini
benar-benar terjadi. Aku ingat hari Sabtu pertama Angie libur (aku juga pas
libur), kita ngejogrok di depan komputer di warnet selama tujuh jam. Ck ck ck
… aku blogging, mulai dari posting, berkunjung ke blog teman-teman plus
ninggalin komentar di beberapa posts, plus ngedit template blog (aku sedang
hot-hotnya posting di http://jogjaklangenanku.blogspot.com
tentu saja), sekaligus membaca messages dari milis. Angie? Downloading
lagu-lagu, theme (buat hape SonEr K 510i), video clip, friendster, dll.

2. Sewa VCD

Tidak jadi
kulakukan. Entah kenapa kok rasanya aku sibuk banget sampai ga sempet ke VCD
rental (yo opo seh sibuknya? LOL). Tapi Angie cukup beruntung karena selama
Tantenya libur kerja, dia sewa beberapa VCD dan Angie ikutan nonton. Dua film
yang dia ‘bajak’ ke harddisk adalah SHE’S THE MAN dan JOHN TUCKER. Aku sudah
sempat diprovokasinya untuk nonton SHE’S THE MAN. Karena kesibukan nyiapin
posting buat http://jogjaklangenanku.blogspot.com
lah yang membuatku sampai sekarang belum sempat menulis review buat film yang
lumayan feministic ini menurutku.

3. Menggunakan desktop

Kenyataannya
selama aku libur kerja (yang berbarengan dengan minggu pertama Angie libur
kenaikan), aku tetaplah lebih sering menggunakan desktop dibandingkan Angie,
karena aku sedang keranjingan nyiapin posting buat blog klangenanku itu. Untuk
sementara ini, demi mengantisipasi kemungkinan terkena virus, the cutie aku
“karantina”, flash disk tidak kucolokin ke situ. So, demi mudahnya aku ngetik
menggunakan desktop, sehingga tatkala akan kupost di blog, tinggal kutransfer
ke flash disk.

Setelah aku masuk
kerja lagi, ya Angie pun menggunakan desktop sebosennya selama aku di kantor.

4. Wisata kuliner

Belum jadi
kulakukan.
L Namun, di akhir libur, hari Minggu 15
Juli 07 akhirnya aku sempat juga menraktir Angie di bakso PAK GEGER yang
berlokasi di Jalan Mintojiwo (kalo ga salah ingat LOL), setelah berkunjung ke
Gedung Batu Sam Po Kong.

Btw, semenjak
posting artikel yang berjudul SEMARANG PESONA ASIA, dan ada sambutan hangat
tentang LAWANGSEWU di milis RumahKitaBersama, aku sudah ngebet banget untuk
berkunjung ke Lawangsewu plus Sam Po Kong. Angie males melulu kalo kuajak
kesana. Untunglah akhirnya aku kesampaian juga “memaksa” Angie untuk menemaniku
ke dua tempat tersebut. LOL.

Oh yah, beberapa
hari yang lalu, aku sempat juga ngajakin Angie minum es teler dan makan tahu
gimbal di Jalan Menteri Supeno, dekat SMA N 1 Semarang.

5. Berbelanja ke ADA Supermarket

Sebenarnya ini
merupakan kegiatan bulanan. Namun selain belanja bulanan, seminggu yang lalu
aku ajakin Angie ke ADA Supermarket lagi untuk membelikannya sepatu baru plus
buku tulis untuk persiapan masuk sekolah lagi. “She is really in good hands,”
aku ingat komentar Rick di tahun 2000 lalu tatkala aku membelikan kacamata
berenang, buku bacaan, plus baju baru buat Angie. LOL.

6. Ke toko buku

Seperti di
postingan yang kutulis tanggal 4 Juli, aku dan Angie ke toko buku TOGA MAS
Semarang. Aku belikan Angie satu teenlit novel, dan untukku sendiri JURNAL
PEREMPUAN no 50 dengan topik utama “Pengarusutamaan Gender”.

7. Mimpi ke Jogja

Hanya mimpi. L L Kenyataannya aku ga punya dana yang
cukup untuk mengajak Angie berkunjung ke kota klangenanku.

(Kata Angie:
“Angie ga pernah kangen Semarang tuh Ma? Rasanya juga Angie ga cinta kota
kelahiran Angie ini. Biasa-biasa aja.”

Jawabku: “Honey,
you will feel it when you are away from this city. Seperti sekarang, Mama
kangen Jogja melulu karena Jogja jauh, dan Mama berada di Semarang. Waktu Mama
di Jogja, ya kangen Semarang lah.”)

Waktu aku ke
bengkel 10 hari yang lalu, dan harus mengeluarkan dana Rp. 350.000,00 rasanya
aku ga rela. Dengan jumlah itu, aku bisa ngajakin Angie ke Jogja, nginep barang
semalam di hotel yang murah, dan melakukan ‘napak tilas’, seperti jalan dari
kos ke Hasilnet, makan di RM Pak To, trus jalan ke Fakultas Ilmu Budaya lewat
Fakultas Kehutanan, belok kanan sedikit, aku akan sampai di balairung, jalan ke
selatan, aku akan melewati FISIPOl, Gedung MM lama, Fakultas Ekonomi, dan …
sampailah aku di Fakultas Ilmu Budaya. Dengan hape Angie yang memiliki
fasilitas digital camera, aku bisa jepret bangunan-bangunan tertentu sebagai
kenang-kenangan (waktu aku masih kuliah S2 kemarin, aku belum mampu
membelikannya hape berdigital camera), juga untuk mengisi blog klangenanku.
Namun apa daya??? Semua itu hanya ada dalam anganku.

Jadi inget
beberapa hari lalu aku mimpi tersesat di daerah UGM, tidak tahu arah. Aku
melihat gedung MM yang baru nan megah itu (yang terletak di Jakal, seberang
ARTHA Photo), namun lokasi MM ini ada di selatan Gedung Sabha Pramana. Nah lo.
Bingung kan? Serasa aku terjebak di sebuah kota metropolis yang megah dengan
gedung-gedung tinggi menjulang gagah, dan aku resah tak tahu kemana arah kakiku
melangkah. Halah … Hahahahaha … Dasar mimpi. Kenyataannya tatkala
menuliskan mimpi itu di sini, ah, tentu saja aku ga bakal tersesat kalau hanya
belusukan di UGM sih. LOL.

Eh, jadi inget
(lagi) waktu bulan Januari 2002 aku dan Julie berangkat ke Jogja untuk membeli
formulir pendaftaran S2 (waktu itu aku belum tahu apakah bisa mendaftar lewat
internet, so kita berdua melakukan “out of date activity” alias conventional
ini. Meskipun telah bertahun-tahun meninggalkan kota Jogja, aku yakin aku masih
bisa menemukan jalan menuju UGM, dibandingkan Julie yang sama sekali buta Jogja
pada waktu itu.

But ternyata,
kita berdua sempat tersesat sampai ke terminal Umbul Harjo. Nah lo. Masalahnya
adalah, aku ga tahu kalau bus AKAP sesampai di Jombor belok kanan, trus
langsung menuju terminal Umbul Harjo. Waktu aku S1 dulu bus AKAP masuk kota,
dan aku turun di Borobudur Plaza, terus ganti bus yang langsung menuju UGM.
Terminal Jombor tentu saja belum exist waktu itu.
J

Tentu saja kita
berdua sampai di UGM akhirnya, but it took longer time. LOL.

Kita berdua
langsung jatuh cinta sewaktu melihat Gedung Lengkung, dan membayangkan kuliah
di dalamnya. KEREN BO. Kenyataannya? Kita berdua kuliah di situ hanya satu mata
kuliah, SEJARAH AMERIKA (AMERICAN HISTORY) yang disampaikan oleh Prof. Ibrahim
Alfian, di semester 1. Selebihnya? Di ruang kelas Fakultas Ilmu Budaya atau
gedung Pasca Sarjana lama yang terletak di belakang Fakultas Ekonomi, atau di
seberang Fakultas Psikologi, ga jauh-jauh amat sih dari Fakultas Ilmu Budaya
yang terletak di samping Fakultas Psikologi.

Nah lo. Semula aku menulis buat blog Angie
yang di http://my-lovely-star.blogspot.com
Lha kok berakhir di Jogja? Huehehehe … Ini artinya, tulisan ini bisa
kuposting di blog Angie itu, maupun di blog klangenanku, plus blog friendster,
dan mungkin pula blog multiply. Dasar narcist. Wakakakaka … suka pamer diri
di beberapa blog sekaligus. LOL. LOL.

PT56 23.30 150707

No responses yet

Jul 15 2007

Sabtu 14 Juli 2007

Published by afemaleguest under daily

Hari ini Sabtu 14 Juli 2007 tiba-tiba aku diusili oleh
seseorang yang tentulah menyebalkan. Ceritanya begini:

Seusai ngajar jam 16.00 aku menuju warnet S-NET, warnet
baru yang sekitar dua minggu terakhir ini cukup sering kusambangi. Mengapa aku
tidak ke warnet KPDE langgananku saja? Well, rencana seusai maghrib aku akan
mengajak Angie ke sana. Aku ga enak aja ke KPDE sekitar pukul 16.00-18.00. Trus
balik ke rumah, jemput Angie, balik ke tempat yang sama lagi. Well, salahku
sendiri sih mengapa aku harus merasa ga enak.
J Tapi, S-NET warnet baru ini lumayan
murah sewanya, meskipun akses agak lelet dibanding KPDE. Kadang-kadang tatkala
akses KPDE kumat leletnya, akses S-NET terasa mendingan juga.
J

Setiba di S-NET, aku memilih booth nomor 4, karena booth
yang biasa kupakai nomor 3 sedang dipakai orang. Mengapa tidak memakai booth
nomor 3? Lokasinya kurang nyaman karena ketika ada orang yang masuk maupun
keluar lewat pintu, orang tersebut akan langsung bisa melihatku. Ga enak ajalah
dipandang orang melulu. Mending juga kalau memandangnya dengan cara biasa-biasa
aja. Paling sebel dan kesel kalau sorot matanya bisa kuterjemahkan, “Wah …
ngapain onlen mbak? Cari gebetan yah?”

Namun it was not my lucky day karena tiba-tiba mouse
ngadat, tak lama setelah aku membuka beberapa sites langgananku:

http://afeministblog.blogspot.com

http://jogjaklangenanku.blogspot.com

http://afemaleguest.blog.co.uk

http://afemaleguest.multiply.com

www.mail.yahoo.com

(narcist abis kan? Yang dibuka ya blog milikku sendiri.
LOL.)

YM ku juga sedang online, meskipun seperti biasa aku
selalu memilih invisible mode. Aku perlu chat dengan Abang untuk meminta
bantuannya untuk “mengeluarkan” beberapa gambar dari file power point (mohon
dimaafkan kegaptekanku ini. LOL) selain kangen ngusilin dia dan diusilin
olehnya. LOL. Namun sayangnya Abang sedang sibuk menjamu teman-teman baiknya
yang berbondong-bondong ke rumahnya, biasa gathering orang-orang Indo yang
‘terdampar’ ataupun ‘mendamparkan diri’ di negeri orang yang terletak di
belahan Bumi Selatan.

Akhirnya aku melaporkan masalah mouse yang ngadat ini ke
clerk yang jaga. Seorang cowo yang kutengarai berusia sekitar 25 tahun (baru
kali ini aku mendapati seorang cowo jaga warnet S-NET ini karena biasanya cewe)
kemudian mencoba membetulkan mouse. Namun it didn’t work. Dia menyarankan aku
pindah ke booth lain. Ya sudah. Dengan sangat terpaksa aku tinggalkan windows
yang terbuka, beberapa blog plus mailboxku di yahoo.

Aku pindah ke booth nomor 3. Seperti biasa, aku membuka
my own blogs, my yahoo mailbox, dan YM, tetap dengan invisible mode.

Ketika sedang asik membaca messages dari beberapa milis
yang kuikuti, tiba-tiba aku disapa oleh seseorang di YM. Semula kupikir Abang.
Aku hampir saja dengan suka cita menyambutnya, namun, eits … kok ID-nya lain?
Dan dia bukan orang yang ID nya ada di list YM ku. Dengan terus terang aku
bilang ke beberapa teman yang ID nya ada di list YM bahwa aku dengan sengaja
selalu memilih invisible mode, karena aku moody sekali untuk masalah chatting,
juga karena aku tidak mau diganggu kalau sedang sibuk blogging.

Who the hell was he?

How did he know my ID?

How did he know that I was online?

Aku cuek aja dan tetap melanjutkan membaca beberapa
komentar baru di blog, maupun messages baru dari milis. Aku berharap orang itu
tahu sopan santun: menyapa di YM (maupun other chatting facilities at the
internet), tidak mendapatkan respons berarti yang disapa tidak mau diganggu.

Namun ternyata orang yang menyebalkan ini tidak tahu
sopan santun. Tetap saja dia menggangguku. Semakin lama dia semakin kurang
ajar; contoh

“fe36smg, apanya yang 36 mbak? Usia atau ukuran bra nih?”

Hah, ini mah zaman baheula, tatkala aku memakai nick
“fe-36” untuk online di IRC. Kesibukan blogging dan memiliki regular chat
friends—my one and only Abang, kadang-kadang plus my dearest friends yang
sedang melanglang buana di Eropa dan Amerika—membuatku melupakan online di IRC.
Jikalau aku online di IRC memakai nick tersebut, aku harus siap mental untuk
mendapatkan pertanyaan menyebalkan seperti itu, and I just blamed myself for
choosing such a nick and showing off at IRC.

But di YM? Mana aku pakai invisible mode lagi?

Pesan berikut yang dia kirim,

“Malam minggu kok sepi-sepi aja sih mbak? Ayo chat dong.
Masak dari tadi diem aja?”

Akhirnya aku menjawab juga,

“Aku heran posisi kamu dimana saat ini. Darimana kamu
tahu aku online sedangkan aku menggunakan invisible mode? Aku sedang tidak mood
chat saat ini.”

Terus terang aja aku curiga yang menyapaku itu si tukang
jaga warnet. Dia boleh saja bilang tahu ID ku dari search yahoo, tapi darimana
dia tahu aku sedang online di YM, padahal aku pake invisible mode? Waktu aku
pindah komputer tadi kan terus dia betulin mouse di komputer booth nomor 4, dan
di monitor dia bisa lihat aku online di YM, menggunakan ID “fe36smg”

Dia tidak mengaku tentu saja. Selain mengatakan bahwa dia
tahu ID ku dari search yahoo, dia mengaku berada di Malang. Salah satu
kelemahan YM, kita tidak bisa dengan mudah mengetahu IP address komputer yang
dipakai seorang chatter. Menggunakan IRC lebih mudah mengecek IP address sebuah
komputer.

Pukul 18.15 aku off, setelah berhasil mengirim satu file
power point ke Abang, menambahi repotnya dia. LOL.

Sampai di rumah, aku ganti celana jeans plus T-shirt
hadiah lomba blog, kemudian dengan Angie aku ke warung nasi goreng Surabaya
langganan kita berdua. Setelah usai makan, kita ke KPDE.

Begitu online di YM, aku dapati invitation dari orang
yang menyebalkan itu. Aku sempat cek information tentang dia di Yahoo
profilenya. Dia tidak menulis apa-apa di situ, namun dia sertakan satu alamat
geocities. Aku klik, and … there he was. Ada sedikit data tentang dia: dia
bekerja sebagai tukang jaga warnet di salah satu warnet yang terletak di Jl.
Pleburan Semarang. Ada satu pic dia. And I was right: dialah si penjaga warnet
S-NET.

Aku ingat sekitar satu tahun yang lalu, aku sering merasa
terganggu dengan abusive look dari salah satu tukang parkir di KPDE, juga salah
satu clerk (yang kata orang dia salah satu pemilik saham warnet ini). Namun
seiring waktu berjalan, lama-lama that abusive look in their eyes was gone. Aku
pun tidak perlu merasa tidak nyaman dengan sorot mata yang sering kuterjemahkan
“Looking for a gebetan?” (salahku sendiri juga sih kenapa judgmental begitu?
LOL. Dan bukankah cari gebetan juga bukan merupakan sesuatu yang memalukan?
LOL. Kenapa aku harus merasa tersinggung? LOL.) Hasil “pergaulanku” dengan
Abang, plus teman-teman milis lain, berhasil meyakinkanku bahwa internet memang
bisa menjadi media bagi kita untuk mendapatkan teman-teman yang baik, and not
just a one-night sex partner.

Btw, aku approve invitation si tukang jaga warnet yang
menyebalkan itu di YM. Tapi jangan harap dia akan pernah melihatku online di
YM, karena aku selalu menggunakan invisible mode. Satu-satunya orang yang bisa
memprovokasiku keluar dari persembuyianku adalah Abangku seorang. LOL.

PT56 23.23 140606

No responses yet

Jul 15 2007

My Sweet Angie

Published by afemaleguest under Angie

Ag

Siang tadi Sabtu 14 Juli 07 aku sempat
ngobrol dengan seorang rekan kerja. Kebetulan kita berdua sampai di kantor pada
jam yang memungkinkan kita ngobrol terlebih dahulu sebelum masuk kelas. Dia
berkeluh kesah tentang biaya sekolah yang semakin mahal, padahal kedua anaknya
masih kecil-kecil. Tatkala aku bilang padanya tentang uang sumbangan masuk PTN
yang semakin menggila (hasil dari otonomi kampus), aku iseng godain dia,
“Nanti, pada waktu anakmu masuk PTN, mungkin kamu perlu menyediakan dana
ratusan juta rupiah.”

Obrolan kemudian pindah ke seorang teman
kita yang sejak tahun 2003 pindah ke Bandung mengikuti suaminya yang kuliah
lagi di Universitas Padjadjaran Bandung. Awal Juni lalu dia sempat sms aku
minta informasi tentang TK Internasional di Semarang. Ketika aku bertanya
padanya, :Kenapa harus TK Internasional? Toh TK nasional juga cukup?” Jawabnya,
“Karena aku telanjur memasukkan anak pertamaku ke TK Internasional. Masak
adiknya harus diperlakukan berbeda? Entar kamu protes lagi aku tidak adil
karena anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan. Tentu kamu
hubung-hubungkan dengan masalah gender.” LOL.

Tatkala bercerita tentang hal ini, tiba-tiba
aku ingat mimpiku beberapa bulan yang lalu, yang kemudian aku ceritakan pula
kepada rekan kerjaku itu.

“Beberapa bulan lalu aku bermimpi punya anak
lagi. Dalam mimpi aku sedang bingung karena dia akan masuk TK. Mau kumasukkan
ke TK biasa-biasa saja kok rasanya tidak adil karena Angie kakaknya dulu
kusekolahkan di TK Nasima. Tapi mau kumasukkan ke TK Nasima kok sekarang mahal,
mana aku mampu? Dalam mimpi aku sempat bercerita tentang hal ini kepada Angie,
dan Angie pun protes mengapa aku tidak memperlakukan adiknya seperti aku dulu
memperlakukan dia.”

What a dream … LOL. LOL.

Komentar pertama dari rekan kerjaku, “Hah?
Mimpi punya anak lagi? Memang kamu
pengen punya anak lagi toh mbak?”

Jawabku, “Engga sih. Sadar usia dan sadar
keuangan.” LOL.

Dia bertanya, “How could you have such a
dream then?”

Jawabku, “Entahlah aku sendiri ga tahu.”
LOL.

Dia berkomentar, “Loh Angie dulu sekolah di
TK Nasima toh mbak? Hebat dong.”

Jawabku, “Well, Angie adalah angkatan kedua,
masuk tahun 1996. TK Nasima buka pertama kali tahun 1995. Waktu itu uang
sumbangan masih murah, cuma Rp. 250.000,00. Ketika Angie memasuki TK B, dan TK
Nasima semakin terkenal, adik kelasnya sudah dikenai uang sumbangan tiga kali
lipat dibanding Angie. Angie lulus TK, uang sumbangan masuk TK Nasima sudah
mencapai jutaan rupiah. Ga tahu sekarang.”

Ceritaku selanjutnya, “Aku sengaja tidak
memasukkan Angie ke SD Nasima karena sebagai SD baru, biaya masuk dan SPP
termasuk mahal. Padahal kan aku belum tahu kualitasnya? TK bisa jadi bagus,
namun belum tentu SD nya pun memiliki kualitas yang sama kan? Karena itulah dia
kumasukkan ke SDN Siliwangi, sekolah negeri yang tentu sumbangan masuk dan SPP
bulanan jauh lebih murah dibanding SD swasta, dengan mutu yang sudah cukup
terjamin karena SDN Siliwangi terkenal di Semarang bagian Barat. Tapi kamu tahu
reaksi Angie pertama kali masuk sekolah di SDN Siliwangi? Dia bilang, “Kok ruang
kelasnya jelek ya Ma? Ga ada AC lagi. Penerangan di ruang kelas kurang memadai
juga.” Dengan berusaha bijak (huehehehe … namun cheating, LOL, oh well, not
really sih, LOL) aku menjawab ke Angie, “Tapi mutu pendidikan di SD ini bagus
Sayang. Lama-lama nanti Angie akan bisa beradaptasi. Oke?” dan my very sweet
Angie pun dengan mudah mengerti, dan tidak komplain.”

Temanku yang satu ini memang selalu
terpesona dengan Angie yang tidak demanding. Karena itulah dia bertanya, “How
did you raise her? Share your secret with me, please?”

Aku lupa bagaimana caraku membesarkan Angie,
sehingga menghasilkan Angie yang seperti ini (meskipun Abang suka bilangin
Angie masih netek aku gara-gara dia sering memintaku cepat pulang kalau sedang
pergi. LOL.)

Kemudian temanku bercerita tentang
tetangganya yang memasukkan anaknya ke playgroup yang “bagus” (baca : mahal).
Namun tatkala masuk TK, dia memindahkannya ke TK yang “biasa-biasa saja” (baca
: murah). Si anak protes, “Ini bukan sekolahku. Teman-temanku tidak ada di sini.
Anak-anak lain itu bukan teman-temanku.” Si orang tua pun bingung bagaimana
mengatasi si anak yang kemudian menjadi mogok sekolah.

Ketika aku bercerita tentang obrolan ini
kepada Angie, dia berkomentar, “Semoga nanti anaknya Angie pun manis seperti
Angie ya Ma?” LOL. LOL.

PT56 00.20 150707

No responses yet

Jul 11 2007

Ke Bengkel

Published by afemaleguest under daily

Aktifitas yang selalu kuhindari akhir-akhir ini adalah
membawa motor ke bengkel. Super males pokoknya. Padahal, motor kesayanganku ini
(honda Grand Astrea keluaran tahun 1996, sudah bisa masuk kategori jadul nih
sekarang LOL) dengan sangat setia menemani kemana pun aku pergi tiap hari:
Ngantar Angie ke sekolah, ke Paradise Club fitness center, ke kantor, dan ke
warnet (kebetulan 4 tempat ini letaknya tidak terlalu berjauhan, aku hanya
butuh kurang dari 7 menit dari rumah). Kadang-kadang aja aku ke Gramedia yang
tidak jauh pula jaraknya dari tempat tinggalku. Well, aku memang beruntung
karena tinggal di satu daerah yang bisa dimasukkan ke downtown area.

FYI, aku ke bengkel sekitar bulan Februari 2006. Itu pun
terpaksa. (Kalau ga terpaksa begitu tentu aku ga bakal ke bengkel juga bulan
itu. LOL.) Aku baru saja mengurus perpanjangan STNK dan aku mendapatkan plat
nomor kendaraan baru yang harus kupasang di motor. Lima tahun sebelumnya (2001)
aku pasang plat nomor kendaraan itu sendiri. Namun tahun 2006 kemarin aku males
memasangnya sendiri (dasar pemalas berat nih aku
L L) Untuk itulah aku membawa motor ke bengkel. Yang paling
utama bukan untuk servis motor tapi untuk memasang plat nomor. Dan waktu itu,
aku harus ngendon di bengkel dalam waktu cukup lama, hampir sekitar 3 jam.

Mengapa aku super males ke bengkel untuk servis motor?

Pertama, males.

Wakakakakaka …

Well, aku males nungguin mekanik melakukan ini itu
sementara aku menjadi idle. Aku bisa sih bawa buku untuk membaca. Namun
semenjak aku gila blogging dan maunya memproduksi tulisan, dan bukan sekedar
membaca, aku menjadi tidak puas jika aku harus menahan diri dalam waktu sekitar
3 jam dalam keadaan idle begitu. Pengennya tatkala aku membaca satu dua
paragraf di satu buku/artikel, dan aku mendapatkan ide menulis, aku ingin
segera menuliskannya, ga sabar kalau harus menunggu pulang ke rumah, atau
eman-eman kalau ide yang mampir ke benakku tiba-tiba hilang karena tidak segera
dituliskan. Semenjak terbiasa pergi kemana-mana membawa my cutie notebook dan
scribble di situ, aku males kalau harus menulis di kertas menggunakan bolpen.
Kalau menulis diary masih agak mending. Tapi kalau menulis sesuatu untuk blog,
wah, repot poll.

Mengapa aku ga langsung scribble aja di cutie? Well,
akhir-akhir ini cutie sering mogok. Baru nyala 30 menit (dengan keadaan battery
full pada waktu aku nyalakan), udah ngomel-ngomel padaku minta diistirahatkan.
Di bengkel tentu aku merasa ga enak kan kalau minta aliran listrik untuk
menghidupkan cutie kembali?

Alasan kedua: males kalau dikecengin mekanik yang
tiba-tiba jadi narsis begitu tahu ada cewe cakep ke bengkel. Wakakakakaka …
Apalagi stereotyping bahwa bengkel itu “dunia kaum laki-laki” masih kuat
menurutku. Ogah banget kalau ditanyain, “Kok bawa motor sendiri ke bengkel
mbak? Masnya kemana?”

Satu hal yang memang kuakui aku harus belajar banyak dari
Abang untuk nyuekin apa yang diomongin orang. (Seperti kata dia yang dia cuma
ketawa aja waktu ada seorang member milis ngatain dia sebagai seseorang yang
sombong. LOL.) Kupikir tentu Abang akan nyaranin aku jawab begini, “Bilang aja
‘Masnya ke kantor’, ato ‘Masnya sedang melanglang buana ke belahan bumi
Selatan’ ato apa kek. Jangan mudah sewot gitu dong Non!” LOL.

Hari Kamis 5 Juli kemarin akhirnya aku bawa motor ke
bengkel untuk servis setelah beberapa hari sebelumnya motorku mogok, busi minta
diganti yang baru. Waktu aku cerita ke adikku tentang motor mogok ini, plus
bahwa telah satu tahun motor ga kubawa ke bengkel, dia melotot dan bilang,
“Kamu tuh kebangeten kok mbak!!!” LOL. Ini pun setelah aku menemukan satu
bengkel yang terletak tak jauh dari salon tempat aku biasa creambath. Daripada
bete nungguin motor diservis, mending aku ke salon.

Sesampai di bengkel, motor kuparkir di depan. Seorang
mekanik keluar menyambutku bertanya, “Motornya mau diapain mbak?”

Aku: “Servis mas.”

Mekanik: “Servis kecil atau besar sampai ke sekring?”

Aku: “Besar aja mas. Sekalian ganti oli dll karena motor
ini telah lebih dari satu tahun tidak pernah diservis.”

Mekanik langsung melotot mendengarnya, sambil
geleng-geleng kepala. LOL. Aku menerjemahkan mimik wajahnya, “How could you???”
hahahaha …

Aku: “Mas, kutinggal ke salon ya?”

Mekanik: “Ya mbak. Ini lampu-lampu diganti ga mbak?
Accu-nya juga dicek?”

Aku: “Iya, semuanya aja.”

*****

Aku di salon kurang lebih selama satu setengah jam untuk
creambath. Aku super jarang facial karena aku merasa ga butuh-butuh amat. Toh
aku rajin membersihkan wajah setiap hari dengan cleanser dan toner.

Sesampai di bengkel, seorang mekanik langsung laporan,
“Mbak, nih onderdil-onderdil yang perlu diganti. Mbok ya punya motor tuh
diopeni dengan baik.” Bla bla bla … LOL.

Karena servis belum selesai, aku duduk di bangku yang
tersedia, mengeluarkan SRINTHIL media perempuan multikultural yang memang
sengaja kubawa di tas dan membaca. Kadang aku scribble di diary.

Saat aku resah kebosanan akhirnya usai pula lah
penantianku. Si mekanik tak lupa wanti-wanti padaku, “Jangan males bawa motor
ke bengkel dong mbak. Paling ga tuh dua bulan sekali.” Aku manggut-manggut aja.
Semoga aja dua bulan lagi aku ga males. LOL. Mending juga nongkrong di depan
desktop di rumah, ngetik sesuatu untuk blog.
:) ditemani secangkir kopi lagi.

PT56 22.45 070707

One response so far

Jul 10 2007

Musim Liburan

Published by afemaleguest under Angie

"Musim liburan" ternyata bisa juga berarti "musim kecelakaan".

L

Berapa kecelakaan yang terjadi secara beruntun di "musim liburan" tahun ini yang telah dimuat di surat kabar cetak maupun diberitakan lewa media elektronik? Mulai dari rem blong sebagai penyebab kecelakaan (yang terjadi pada rombongan SD Ciantra 2 Cikarang Selatan, atau rombongan siswa SMP Ar-Ridho Jati Mulya Depok) sampai ke sekumpulan anak-anak yang meninggal karena keracunan gas beracun di Kawah Ratu Gunung Salak (terjadi pada enam siswa SMP 67 Jakarta.) Aku juga masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu yang menimpa sebuah SMK Sleman tatkala bus yang ditumpangi terbakar, dan hampir seluruh siswa satu kelas menjadi korbannya.

Hal ini membuat seorang rekan kerja komplain, "Memang sebaiknya sekolah itu tidak perlu mengadakan wisata seperti itu jikalau akhirnya malah akan menyebabkan sejumlah nyawa terbuang percuma. Buat apa sih mengadakan wisata seperti itu? Mending juga tidak usah. Selain kita sebagai orang tua bisa mengirit pengeluaran—baik untuk membayar iuran untuk wisata itu sendiri, maupun memberikan uang saku selama anak kita pergi—kita juga tidak perlu khawatir yang berlebihan tatkala anak kita pergi jauh tanpa pengawasan kita secara langsung."

Teman kerjaku ini beberapa bulan lalu mengalami kejadian yang kurang mengenakkan. Tatkala musim "class meeting" semester ganjil 2006/2007 kemarin, anaknya minta ijin untuk ikut rombongan teman-teman sekolahnya pergi ke Yogya untuk mengikuti seleksi olimpiade Sains. Temanku tidak mengijinkan anaknya ikut dengan alasan, "Kalau terjadi apa-apa di perjalanan, nanti kamu malah tidak jadi ikut study tour ke Bali. Kan sayang." Si anak yang tahun ini naik ke kelas III SMA pun mengikuti anjuran bapaknya untuk tidak ikut rombongan ke Yogya. Sebagai ganti, dia bermain sepak bola sore harinya dengan beberapa teman lain. Guess what happened? Kecelakaan justru terjadi pada waktu bermain sepak bola. Entah bagaimana cerita lengkapnya yang kudengar adalah anaknya mengalami patah tulang tangan kiri ketika terjatuh berebut sepak bola. Akibatnya? Dia pun tidak bisa ikut study tour ke Bali yang dilaksanakan seminggu setelah dia mengalami patah tulang karena dia harus menjalani perawatan.

Terus terang aku juga kadang-kadang merasakan hal yang sama dengan rekan kerjaku itu. Inginnya tiap kali Angie pergi berwisata ke satu tempat, aku pun ikut serta. Waktu Angie duduk di bangku SD dan bepergian pertama kali dengan teman-teman sekolahnya, rasanya ingin aku ikut. Kebetulan waktu itu dia berdarmawisata ke Yogya dan aku pun telah menjadi "penduduk sementara" Yogya karena kuliah. Aku minta ijin untuk diperbolehkan berangkat bersama rombongan dari Semarang. Setelah selesai acara, tatkala mereka kembali ke Semarang, aku akan tinggal di Yogya, karena memang aku harus stay di sana. You know what? Angie menolak mentah-mentah ide ini. "Malu-maluin," katanya.

Akhirnya aku berangkat seperti biasa naik bus Nusantara. Sekitar pukul 12 aku menuju Monumen Jogja Kembali karena menurut jadual sekitar jam itu Angie beserta rombongan akan ke sana. Setelah nungguin beberapa puluh menit di pintu masuk, akhirnya rombongan Angie datang. You know what? Angie didn’t really welcome me. LOL. Masih tetap dengan alasan yang sama, "Malu ah, udah gede gini mosok Mama ngikutin kemana pun Angie pergi?" Justru teman-teman Angie yang heran melihatku ikut rombongan masuk ke Monumen Jogja Kembali. Mereka bertanya, "Kok nyokapmu tiba-tiba ada di sini Ngie? Emang tadi ikutan naik bus yang mana?" LOL.

Dari Monjali mereka melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Dengan setengah dipaksa oleh Angie, "Mama pulang kos aja, ga usah ngikutin kemana pun Angie pergi. Ok? I will be fine. Ok?" LOL akhirnya aku pun pulang kos tatkala bus rombongan Angie berangkat menuju Malioboro. Aku berbicara dalam hati, "Anakku sudah besar. I have to let her go and enjoy having fun with her friends."

Setelah itu (Angie kelas 6 SD), tatkala Angie duduk di bangku SMP, dia beberapa kali mengikuti wisata dengan teman-teman sekolahnya. And I could do nothing but let her go. Aku ingat waktu aku duduk di bangku SMP dan SMA aku paling tidak suka tatkala orang tuaku tidak mengizinkanku pergi camping ataupun yang lain-lain. Untunglah aku masih bisa menikmati ikut pergi ke Surabaya (waktu kelas 3 SMP) maupun ke Bali (waktu kelas 2 SMA). So? Aku tahu aku akan membuat Angie sangat sedih seandainya aku tidak mengizinkannya ikut berdarmawisata dengan teman-teman sekolahnya, meskipun alasannya adalah, "I love you honey. I want nothing wrong happens to you."

So? Bagaimana dengan "musim kecelakaan" di musim liburan ini? Harus kuakui pilihan yang sangat sulit bagi orang tua. Bagiku sendiri, well, tut wuri handayani aja deh. Loh apa hubungannya? LOL. Kita sebagai orang tua sebaiknya tidak terlalu protektif yang hanya akan membuat anak kita merasa seperti terpenjara. Kata orang bijak, seperti tatkala kita main layang-layang, kita lepas kepalanya, namun tetap kita pegangi ekornya. (Angie punya ekor ga ya? Wakakakaka …) Angie has her own life, her own choice. But as her mom, absolutely I will always be wherever and whenever she needs me, in all kinds circumstances. Kecuali kalau panyakit aloof-ku sedang kumat. Halah, podo wae? Wakakakaka …

PT56 14.30 100707

No responses yet

Jul 09 2007

Sibuk … :)

Published by afemaleguest under daily

Beberapa hari
terakhir ini aku sibuk mengerjakan “proyek”ku, mengikuti lomba blog yang
diselenggarakan oleh www.jogjarumahku.com
sampai aku ga sempet menulis untuk blog “ofisial”ku yang di http://afeministblog.blogspot.com
Well, semula aku ikut lomba ini hanya untuk menyenangkan hati salah satu
siswaku yang menawariku untuk ikut lomba. “Topiknya LIVING IN JOGJA loh Miss.
Kan Miss Nana sudah pernah tinggal di sana. Jadi kan ga susah-susah amat toh?”

Setelah mendaftarkan
blog ku yang beralamat di http://themysteryinlife.blogspot.com
aku malah akhirnya berpikir untuk membuat special blog untuk lomba itu. Making
a new blog is really a piece of cake. Ya kan? Bagaimana kita mengelola sebuah
blog, mempromosikannya agar dikenal dan semakin banyak pengunjung, termasuk
menempelkan aksesori di sana-sini lah yang lebih menantang. Ide inilah yang
akhirnya membuatku ‘occupied’ dengan blog yang kuberi alamat http://jogjaklangenanku.blogspot.com
Mulai dari memilihi artikel lama yang akan kupost di blog, yang tentu saja
semua harus “berbau” Jogja, sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuat blog
ini menjadi semacam refleksi satu episode dalam hidupku, terutama dalam kurun
waktu April 2005, saat aku kembali ngekos ke Jogja untuk ngebut menyelesaikan
tesis, sampai Januari 2006, saat aku wisuda. Untuk itulah aku kembali membuka
file-file lama yang berisikan diary yang kutulis sepanjang April - Januari
2006. khusus untuk posting yang kuberi label ‘diary’ terutama, aku harus
benar-benar ekstra hati-hati, memilih mana yang aku merasa ‘nyaman’ dibaca
orang banyak, terutama yang berhubungan dengan penulisan tesis, sehingga bisa
kupost di blog, mana yang harus tetap tersimpan di desktop di rumah. Bukannya
apa-apa, seextrovert apa pun aku di blog, aku tetaplah memiliki sisi introvert
dalam diriku ini.

Pagi ini, Minggu 8
Juli 2007 aku sengaja tidak berenang karena tubuhku sedang dalam masa transisi
akan terkena flu. Sudah beberapa hari terakhir ini aku dilanda bersin-bersin
melulu. Dan sejak kemarin aku mulai terserang pusing yang tidak jelas apa
penyebabnya. Sebagai gantinya, aku menyibukkan diri dengan ‘proyek’ku. Aku
ingin segera selesai dan kembali menulis untuk blog ku yang lain.

Dalam mengerjakan
‘proyek’ ini, godaan terbesar adalah MENGANTUK. LOL. Persis seperti waktu aku
menyibukkan diri menulis tesis dua tahun yang lalu. Biasanya kalau mengantuk
dan kopi tidak mempan membuatku agar lebih ‘alert’, aku bermain computer game.
Kalau masih mengantuk juga, aku menonton serial kesayanganku, SEX AND THE CITY.
Humor ringan dan cerdas yang dilontarkan oleh empat cewe cantik di serial ini
selalu membuat mataku ‘melek’ akhirnya. Durasi yang hanya sekitar 30 menit
untuk satu episode kurasa cukup membuatku refreshed dan bisa langsung kembali
mengerjakan tesis.

Hal ini pulalah yang
kulakukan sekitar satu jam yang lalu. Tatkala main game tidak mempan membuat
mataku melek, aku putar saja SEX AND THE CITY episode 7 season kelima, yang
berjudul A BIG JOURNEY. Aku sudah menonton episode ini berulang kali, sudah
hampir hafal ceritanya, namun toh masih saja aku menemukan kelucuan dan
kegenitan yang sangat menarik bagiku. Hasilnya? Aku melek sekarang. Namun
bukannya melanjutkan mengerjakan proyekku, malah ngetik di sini deh. LOL. I got
another idea to write for my blog from that episode. But I have to learn to set
my priorities, yang mana yang harus kukerjakan terlebih dahulu mana yang bisa
kukerjakan belakangan. Pengennya sih aku mengerjakan semuanya dalam waktu yang
bersamaan, termasuk membalas email Abang yang mencapai 7000-an kata. LOL.
Fiiuuuhhh ….

PT56 11.55 080707

P.S.: Bagi pengunjung blogku, tolong dong VOTE aku dengan mengunjungi blog-ku yang beralamat di:

http://jogjaklangenanku.blogspot.com

Trus, klik banner LOMBA BLOG yang ada di situ yah?

THANKS AND THANKS AND THANKS :)

No responses yet

« Prev - Next »