Archive for July, 2007

Jul 30 2007

Minggu 29 Juli 2007

Published by afemaleguest under daily

Minggu 29 Jul. 07
Pagi hari.
Aku pergi berenang setelah libur
selama kurang lebih 3 minggu, if I am not mistaken. Seusai berenang,
seperti biasa aku nongkrong di bangku kesayanganku di Paradise Club
yang terletak di sebelah Timur kolam renang. Entah kemana meja yang
biasanya terletak di depan bangku itu sehingga terpaksa aku memangku
the cutie tatkala aku mengetik sesuatu di situ.
Di bawah ini foto bangku tempat aku nongkrong (minus meja), dan foto kolam dijepret dari arah Timur.


Usai
mengetik (harus usai karena the cutie udah ngomelin aku minta
dicharge), aku membaca tiga cerpen dalam kumpulan cerpen “Perjalanan
Celanda Dalam” karya Nugroho Suksmanto. Sayangnya ketiga cerpen yang
kubaca pagi tadi tak lagi memiliki setting place Semarang. :( Bagi
diriku pribadi, ternyata daya tarik kumcer satu ini terletak pada
setting place Semarang plus setting time yang kubayangkan terjadi di
dekade aku lahir atau tatkala aku duduk di bangku SD, karena membantuku
bernostalgia.
Siang hari.
Angie pergi diajak Tantenya nonton Harry Potter.

Aku
bukan salah satu fans HP sehingga aku tidak ikut. Ini alasan pertama
aku tetap tinggal di rumah. Alasan kedua, aku tidak pernah menikmati
nonton di bioskop. Alasan ketiga, BOROS. LOL. Beruntunglah Angie yang
memiliki seorang Tante yang juga suka HP, sehingga dia pun ada yang
nraktir nonton HP. LOL. Jikalau tidak, dia harus bersabar menunggu DVD
aau VCD HP keluar, baik yang resmi maupun yang bajakan. LOL.
Tatkala
Angie pergi nonton, I occupied our bedrrom by myself. Huh … I must
admit that I love it a lot. :) I could do some favorite things without
feeling uncomfortable. “What things?” well … rahasia ah. LOL.
Salah
satunya adalah ngetik di dekstop full concentration tanpa ada yang
ngajakin cerita ini itu, sehingga aku tidak perlu membagi konsentrasi.
(I have produced four writings so far for my various blogs).
Yang kedua, aku bisa tidur siang di pinggir tempat tidur dekat dengan kipas angin, tanpa ada yang ngusir. LOL.
Sore hari.
Semula
rencananya Angie dan Tantenya mau nonton jam 14.00. Berhubung sampai
jam 16.30 Angie belum sampai rumah, aku langsung bisa menyimpulkan they
didn’t get the tickets for the 14.00 show so they had to watch the show
at 16.10.
I was supposed to enjoy lingering my “free of disturbance”
time LOL, but in fact I was somewhat lazy to continue writing something
for blogs. Untunglah aku ingat ada satu film di harddisk yang belum
sempat kutonton, “John Tucker must die”. So you can guess what I did:
watch the movie. (FYI, watching movies is okay with me, but I would
rather watch it at home, in my bedroom, in my desktop with the monitor
only 14 inches. Apa bagusnya? LOL. Yah, aku memang super males pergi ke
bioskop kalau hanya untuk nonton sih.)
Have you ever heard the title “John Tucker Must Die”? Have you watched it?

Well,
this movie is for teenagers’ consumption, not my type of course,
because I am no longer a teenager. But untuk menunggu waktu anak semata
wayangku pulang dari nonton ya gapapalah. 
Adegan di awal-awal yang
membuatku geli adalah tatkala Kate, the main female character in the
movie felt that she was not as attractive as her hot mother.
Aku
ingat tatkala satu hari Angie cemburu kepadaku hanya karena her dream
boy—her ex for more appropriate, but she still likes him, although she
doesn’t want to admit it—was very nice to me. LOL. “Why does every guy
like you Mama? Including him?” hahahaha … “Sebenarnya dulu itu dia
naksir Angie atau naksir Mama sih? kok dia nice banget ke Mama,
sedangkan ke Angie suka jutek?” lanjutnya. Wakakakaka …
“Honey, he is very nice to me because I am his teacher.” Jawabku.
“Yah, kayaknya dia ga nice-nice amat kok ke guru yang lain?” komentar Angie, tetap dengan nada cemburu. LOL.
“Oh, perhaps because I am his teacher who is your mother?” kelitku. LOL.
Biasalah
remaja suka cemburu ngawur begitu. LOL. But, ga nyangka kalau Angie pun
bakal memandangku dengan cemburu seperti itu only because that boy is
very nice to me. Sementara aku sendiri “membacanya” sebagai cara cowo
itu menarik perhatianku UNTUK MENARIK PERHATIAN ANGIE. LOL.
Coba
bandingkan fotoku dengan Angie di bawah ini yang dijepret di studio SWA
GAYA bulan September 2006 lalu. Sama-sama narsis kan? Hahaha … But,
pertanyaannya adalah, pantas ga sih Angie cemburu padaku? LOL.

Sempat
kutinggal mandi setelah usai nonton disc 1, sekitar pukul 18.40 Angie
sampai rumah, aku belum usai menonton disc 2. Angie sempat
terheran-heran melihatku nonton “John Tucker Must Die.”
“Kirain Mama ga mau nonton?” tanyanya.
“Well
honey, I only wait for my idle time, and good mood to watch this kind
of movie.” Nunjukin bahwa aku memanglah seseorang yang moody. Payah.
Sekarang? While I am scribbling here, Angie is doing her homework.
PT56 19.35 290707

No responses yet

Jul 30 2007

Mandi Pagi

Published by afemaleguest under Angie

Jam berapakah kamu beranjak mandi pada hari
Minggu, atau hari-hari libur yang lain?

Hasil didikan strict kedua orang tuaku dalam
menghargai waktu, pada hari Minggu maupun hari-hari libur lain, aku tetap saja
mandi di pagi hari, paling lambat pukul 9. (During my younger years, paling
lambat jam 8!) Namun, menilik diary yang kutulis di tahun 2005 saat aku
berkutat dengan tesis (hasil dari mempersiapkan content blog di http://jogjaklangenanku.blogspot.com)
kadang-kadang aku pun mandi di atas jam 10, karena keasikan menulis. Dan aku
tahu, untuk itu aku cukup merasa tidak nyaman pada diri sendiri. I felt like I
did a very big mistake, yang bakal akan mengguncangkan ketentraman dunia. LOL.

Harus kuakui hasil didikan ortuku “harus
bangun pagi”, “harus mandi pagi di pagi hari”, “harus mandi dulu sebelum
sarapan” cukup berhasil dalam diriku, karena aku selalu merasa uncomfortable
when disobeying it. bahkan sampai usiaku saat ini.

But, aku tidaklah se-strict itu kepada
Angie. Aku tahu bahwa tidak bangun pagi, tidak mandi pagi di pagi hari, tidak
mandi dulu sebelum sarapan di hari libur tidak akan menyebabkan perang
kurusetra terjadi lagi di jagad pewayangan. LOL. Masalahnya adalah, aku tidak
menemukan alasan yang masuk akal untuk “memaksa” Angie melakukan ketiga hal
tersebut. Dari pengalaman hidup ngekos waktu kuliah S2 dulu membuatku sadar
bahwa tidak bakal terjadi apa-apa jika kita tidak melakukan ketiga hal
tersebut. Teman-teman kosku semua nampak baik-baik saja meskipun mereka bisa
dikategorikan melakukan pelanggaran berat. Well, menurut peraturan ortuku tentu
saja. Bahkan aku ingat aku ditertawakan seorang teman tatkala aku bilang, “Eh,
kata ortuku kita harus bangun pagi agar kita tidak kehilangan rejeki.” Dia bilang,
“Bangun pagi-pagi di kos, siapa yang bakal kasih kita rejeki Na?” LOL.

Nah, berhubung aku tidak strict seperti itu,
Angie pun seenak udelnya saat hari libur datang. Lagipula setiap hari dia sudah
terbiasa mandi pagi untuk mempersiapkan diri berangkat sekolah. So, tatkala
hari Minggu datang, ya gapapalah kalau dia agak nyante, mandi agak siangan,
atau siang banget. LOL.

Hal yang nampaknya “sepele” ini ternyata
bisa menyulutkan ketegangan between Angie and her strict granny. Semula my mom
bilang ke aku, “Angie tuh disuruh mandi di pagi hari meskipun hari libur, toh
ga rugi.” Aku hanya berkomentar, “Ok, I will tell her.”

Setelah dilihat it didn’t work, my mom
langsung ngomel ke Angie, dan tidak lewat aku. LOL. Hal inilah yang sering
membuat Angie sewot.

Beberapa hari yang lalu, my mom sempet
bercerita tentang hal ini kepada seorang temannya, “Angie tuh kalau hari
Minggu, dia baru beranjak mandi setelah pukul 11.”

Guess what my mom’s friend said? “Lah, malah
Putty tidak mandi kalau hari Minggu.” LOL.

Tadi siang, sewaktu Angie pamitan ke her
granny untuk berangkat nonton Harry Potter dengan Tantenya (sekitar pukul
12.10), her granny asked her, “Sudah mandi belum?” LOL. Angie pun dengan sewot
mengadu kepadaku. LOL.

How about your experience?

PT56 21.35 290707

2 responses so far

Jul 30 2007

Minggu 15 Juli 2007

Published by afemaleguest under daily

Hari Minggu 15 Juli 07 aku dan Angie mengunjungi satu acara, entah apa
namanya, yang diselenggarakan di Lawang Sewu, salah satu landmark
Semarang yang akhir-akhir ini lumayan sering dipakai untuk ‘venue’
acara-acara tertentu, seperti pameran. Salah satu sebabnya tentu adalah
untuk mempromosikan Lawang Sewu, dalam rangkaian kegiatan SEMARANG
PESONA ASIA yang akan diselenggarakan tanggal 10 Agustus sampai 15
Agustus 2007.

Hampir
tiap hari aku melewati Lawang Sewu tatkala mengantarkan Angie sekolah,
terutama tentu setelah dia masuk SMA. SMA N 3 Semarang terletak tidak
jauh dari Lawang Sewu. Kebetulan juga kedua gedung ini sama-sama
peninggalan zaman kolonial Belanda. Namun terakhir kali aku memasuki
Lawang Sewu, kalau aku tidak salah ingat, adalah sekitar pertengahan
1980-an, tatkala aku masih duduk di bangku SMA. Bukan karena aku tidak
bangga dengan keberadaan Lawang Sewu di kota kelahiranku ini, namun
sifatku yang berubah menjadi homebody type yang membuatku jarang
keluyuran.
Tanggal 15 Juli kemarin aku setengah memaksa Angie
menemaniku kesana karena aku ingin menjepret beberapa bagian dalam
gedung untuk kutunjukkan di blog. Hal ini bermula dari tanggapan hangat
dari teman-teman milis RumahKitaBersama akan tulisanku “Semarang Pesona
Asia”. Apakah kondisi di dalam gedung Lawang Sewu sama megahnya seperti
Lawang Sewu dari luar? Sering aku dengar gosip bahwa Lawang Sewu akan
dijual ke tangan swasta untuk dijadikan ini itu karena pemerintah tidak
memiliki cukup dana untuk maintainance.
Sebagai jawabannya, lihat saja foto-foto berikut ini.
Foto di bawah ini dijepret dari lantai dua, menunjukkan kurang perawatan.

Foto
berikut ini dijepret dari tempat yang sama dengan foto di atas, hanya
kamera diarahkan lebih ke atas. Bisa dilihat bahwa ini merupakan
langit-langit dari salah satu kubah Lawang Sewu. Seperti foto di atas,
keadaan yang buruk ini menunjukkan kurang perawatan.

Foto
ini merupakan salah satu kaca jendela. Meskipun tembok-tembok di
sekitarnya menunjukkan perawatan yang kurang, jendela ini masih
menunjukkan ukiran-ukiran yang indah. Mengapa ukiran di jendela ini
berwujud perempuan berkulit putih dan berpakaian a la Eropa tentu
karena Lawang Sewu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Foto
di bawah ini (ada yang numpang pamer kenarsisannya, LOL) hasil jepretan
salah satu lorong yang ada di bagian dalam, namun tetap terkena sinar
matahari. Perhatikan lantai yang menunjukkan kondisi yang cukup lumayan.

Foto
berikut ini menunjukkan salah satu lorong, di mana di sebelah kiri
kanan ada ruang-ruang dengan pintu-pintu besar kokoh tertutup rapat. Si
narsis ikutan nongol di bawah ini. LOL. Foto diambil dari dalam gedung.
Sinar matahari yang terlihat di ujung lorong merupakan teras sebelah
luar.

Di
bawah ini kamu bisa lihat kondisi lantai paling atas Lawang Sewu,
kotor, singup (what language is it? LOL) dan sama sekali tidak terawat.
Aku ga bakal mau ke sini di malam hari hanya berdua dengan Angie. Kalau
ditemani sang jagoan yang katanya tidak takut apa-apa (baca: Abangku),
barangkali aku mau juga uji nyali. Wakakakaka … Ini belum ke lantai
bawah tanah yang konon lebih misterius. :)

Di bawah ini salah satu pintu di antara seribu pintu (lawang sewu). :)

Si narsis nongol lagi, di satu lorong yang terletak di bagian luar, menghadap arah Barat. Kondisi yang terlihat cukup bagus.

Dua foto di bawah ini adalah keadaan di luar gedung, jika diadakan pameran di Lawang Sewu.


Tugumuda jika dijepret dari lantai dua Lawang Sewu, di lorong sayap selatan.

Hari
Minggu 15 Juli 07 setelah berputar-putar di Lawang Sewu, aku mengajak
Angie ke Gedung Batu Sam Po Kong, bukan untuk menjepret gedungnya,
melainkan pohon-pohon yang memiliki akar yang menjulur ke sana ke mari,
salah satu keanehan yang terjadi di muka bumi. (Aku menyitir kata Abang
nih.)
Lihat sendiri ya di foto-foto berikut ini.







Tempat
terakhir yang kukunjungi bersama Angie hari itu adalah warung bakso Pak
Geger yang terletak di Jalan Mintojiwo, Semarang Barat.

NOTE: Semua foto hasil jepretan digital camera yang ada dalam hape Sony Ericson K510i, milik Angie.
PT56 13.25 290707

No responses yet

Jul 27 2007

Nana in 2005 vs 9n 2007

Published by afemaleguest under daily

Karena sesuatu dan lain hal, terutama yang berkaitan antara pilihan hidup dan tidak hidup, LOL, aku off dari Paradise Club selama kurang lebih 3 minggu. Tepatnya mulai tanggal 5 Juli sampai 25 Juli 2007. Selama kurang lebih 3 minggu itu aku sama sekali tidak melakukan kegiatan olah raga sama sekali, kecuali menyempatkan diri untuk mengepel rumah Bundaku yang lumayan luas beberapa kali.

Akibatnya?

Aku rasanya ingin kembali mengeluh lemak yang bertengger di perut atas maupun bawah, di pinggang, di pinggul, dan sekitarnya itu. Seandainya aku masih tetap rajin menulis diary seperti tatkala aku (somewhat) menderita schizophrenia di tahun 2005 lalu, keluhan ini tentu akan kutulis di dalam diary hampir tiap jam. LOL.

Apa yang membuat keadaanku sekarang (terutama dalam waktu 3 minggu kemarin) dengan tatkala aku masih berkutat dengen tesis di tahun 2005?

Waktu itu selama berada di Yogya, aku tidak punya kegiatan apapun selain membaca, menulis, berpikir, menulis, membaca, berpikir, ngetik. Begitu melulu sebosannya. Terutama selama kurang lebih empat hari dalam satu minggu. Plus, ngapeli dosen pembimbing tesis. Biasanya pada hari Selasa, aku dan Julie berjalan ke rumah Pak Bakdi (NOTE: aku berjalan dari Jalan Kaliurang km 5, membelah UGM ke Kuningan, menjemput Julie yang tinggal di satu rumah mungil di sana. Dari Kuningan, Julie dan aku berjalan membelah UNY sampai ke Jalan Gejayan, sampai di Hotel Plaza (kayaknya namanya sekarang berubah deh) dan menyusuri gang di samping Hotel itu, menuju kediaman Pak Bakdi yang berlokasi di Jalan Kepodang.)

Kegiatan membaca, berpikir, menulis, plus ngeprint dan menyambangi Pak Bakdi ini Di tahun 2005 itu, selama empat hari aku tinggal di Yogya. Tiga hari yang lain aku berada di Semarang dengan kegiatan mengajar. Saat “peak” mengejar deadline (yang kubuat sendiri), aku sama sekali tidak pernah melakukan hobby yang sangat relaxing bagiku: berenang.

Walhasil ya itulah. Tatkala aku membaca-baca diary di tahun 2005 itu lagi, penuh dengan keluhan, “I feel so fatty around my waist, my belly.” Ini memang hasil dari “policy” yang digencarkan oleh media bahwa yang cantik itu yang langsing. LOL. Dan aku memang pernah menjadi korbannya. Selain setelah di tahun 2000 lalu aku berhasil dengan gemilang menurunkan berat badanku dari 55 kg menjadi 41 kg, tanpa minum obat pelangsing. Murni dari berolah raga dan diet, yang tentu saja didukung dengan disiplin diri yang amat tinggi. (FYI, yang paling ngomel-ngomel melihatku menjadi “kurus kering” itu adalah my dearest Mom.)

Nah, setelah “mengalami” memiliki tubuh langsing selama bertahun-tahun, kesibukan kuliah yang tak memberiku kesempatan untuk melakukan olah raga dengan rajin, plus kerakusan untuk selalu makan, dengan dalih menjaga kondisi agar tidak jatuh sakit karena keasikan mengerjakan tugas, akhirnya tubuhku pun pelan-pelan kembali melar. LOL. Tubuhku rasanya jadi ga enak bener.

So ya itulah, depresi in my hellish life, a very strong indoctrination in my religion yang kuterima in my younger years, ditambah berkutat dengan “woman’s madness” idea all the time selama menulis tesis, membuka “virus” schizophrenia untuk merasuki kehidupanku. Plus setelah menikmati memiliki tubuh langsing kemudian “menderita” melar kembali. LOL. Semua itu benar-benar bisa kubaca dengan jelas dalam diary tahun 2005. (Dalam hal ini aku tidak perlu menggunakan segala macam teori, apalagi teori yang “mematikan si penulis”, the Death of the Author. LOL.)

Nah, kembali ke masa “off” dari Paradise Club selama 3 minggu.

Kesibukan blogging memang telah “menyelamatkanku” dari “penyakit” menulis diary yang berkepanjangan, tiap jam menulis, “Gosh, rasanya setelah menyantap satu biji mendoan tadi, plus minum teh hangat, kok perutku melar ga karuan yah” misalnya. LOL.

Namun rasanya tetap saja aku mengeluh dalam hati. LOL. Apalagi Angie pun ikut mengiyakan. Wah … LOL. Entah karena dia bosan mendengar aku mengeluh, “Kok Mama rasanya tambah gendut ya Sayang?” atau dia gagal membuatku blingsatan kegelian tatkala dia ngitikin pinggangku yang tertimbun lemak, sehingga tidak langsung mengena di pusat kegelian. Kemarin pagi waktu aku sudah siap dengan baju senamku tatkala akan mengantarnya ke sekolah, dia memandangku dengan mata berbinar.

Kemarin aku sempat fitness selama satu jam. Kemudian ikut erobik selama satu jam pula. Aku agak khawatir juga kalau tubuhku bakal pegal-pegal ga karuan karena dipaksa kerja keras setelah selama tiga minggu bermalas-malasan.

Namun ternyata tubuhku baik-baik saja. Aku tidak merasa capek yang berkepanjangan, maupun pegal-pegal.

Tadi pagi, setelah mengantar Angie sekolah, aku pun langsung meluncur ke Paradise Club. Tatkala cycling, aku baru ngerasa, “Waduh, kakiku kok masih terasa capek yah?” so, aku cycling hanya dalam waktu 20 menit. Itupun “terbantu” dengan konsentrasi membaca buku (yang ringan dan menghibur, bukan yang bikin kepala pusing dan membuatku mengerutkan kening). Tatkala akan melakukan gerakan untuk menguatkan otot bahu, waduh … aku ga kuat!!! Hahahaha … ya sudahlah, aku pulang saja.

Sesampai di rumah, aku nyalakan komputer. Langsung mengetik tulisan ini. setelah ini aku akan mandi. Yang kedua kali. Tadi pagi sebelum ngantar Angie sekolah tentu aku telah mandi.

PT56 08.45 280707

No responses yet

Jul 27 2007

Perjalanan Celana Dalam

Published by afemaleguest under Books

Hari Selasa 24 Juli kemarin aku memintaku siswa Elementary Class 2 untuk membawa buku bacaan favorit masisng-masing karena topik Lesson 3 adalah "My Favorite Book". Tak ketinggalan tentu aku pun membawa beberapa buku favoritku. Yang kubawa: "Si Parasit Lajang" kumpulan essay Ayu Utami (always become my favorite, since I bought it in 2003), "Lelaki Terindah" novel dengan topik yang masih bisa dianggap lumayan kontroversial tulisan Andrei Aksana, "Melampaui Pluralisme" hasil karya Hendar Riyadi, dan "Srinthil" Media Perempuan Multikultural edisi Oktober 2003.

Dari hasil diskusi tentang buku favorit masing-masing, seorang siswa bertanya padaku apakah aku telah membaca buku yang berjudul "Perjalanan Celana Dalam". Mungkin aku pernah mendengar judul buku ini, namun aku belum membacanya. Ketika aku bertanya ke Berti, nama siswa itu, siapa nama penulisnya, dia lupa. Seorang siswa lain menyebut nama "Djenar Maesa Ayu" yang tentu saja langsung tidak kusetujui. Meskipun aku tidak memasukkan nama Djenar sebagai salah satu penulis kesukaan, aku memiliki semua buku tulisannya. (atau bisa juga dibalik, meskipun aku memiliki semua buku tulisan Djenar, dia tidak kumasukkan ke dalam salah satu penulis kesukaanku. LOL. Dasar guru Bahasa iseng. LOL.) Kebetulan Berti memiliki buku tersebut, yang tentu saja kemudian membuatku memintanya untuk membawanya ke kelas pada pertemuan berikutnya, Kamis 26 Juli.

Hari Kamis, Berti tidak lupa membawa buku yang ternyata berisikan kumpulan cerpen tulisan Nugroho Suskmanto yang kelahiran Semarang. Bahkan dengan baik hatinya dia pinjamkan buku itu kepadaku. Waktu aku bertanya, "Berti, do you remember how much it costs?" Dia lupa, dan mengatakan, "You can borrow it, Ma’am. I have finished reading it." Tentu saja hal ini membuatku bersuka cita. LOL. Well, secara sekilas tatkala membaca salah satu cerpen yang dijadikan judul buku, "Pengalaman Celana Dalam", aku langsung suka dengan cara menulis Nugroho. Hal ini membuatku berpikir untuk membeli buku ini. Namun kalau Berti meminjamkan buku ini kepadaku, berarti aku bisa segera membacanya, tanpa perlu menunggu aku harus ke toko buku dulu untuk membelinya, dan aku harus menunggu waktu luang yang akan bisa kupakai untuk pergi ke toko buku, isn’t it great?

"Perburuan Wirog" adalah cerpen yang dicetak di halaman pertama. Tentu karena alasan judul ini kurang komersil akhirnya tidak dipilih sebagai judul buku. LOL. Nugroho yang kelahiran Semarang menunjukkan kecintaannya pada kota kelahirannya ini, plus ingatan yang sangat bagus akan masa kecil yang dia lewatkan di satu daerah yang disebut sebagai batasan perbatasan Pendrikan dan Magersari. Sekarang tentunya yang disebut sebagai Jalan Indraprasta, jalan yang selalu kulalui tiap hari, tatkala akan berangkat kerja, maupun berangkat ke Paradise Club ataupun ke warnet langganan.

Membaca "Perburuan Wirog" serasa melemparkanku kembali pada masa kecilku, sekitar tahun 1970-an. Aku tinggal di satu daerah yang disebut Bulu Setalan, terletak di sebelah Selatan Magersari. Masa kecil (baca: masa SD) cukup kulewatkan di daerah Bulu Setalan pula. Nama Magersari dan Pendrikan tentu sangat familiar bagiku. Namun berhubung untuk mencapai Magersari, aku harus menyeberang jalan besar, Jalan Sugiyopranoto, aku tidak pernah keluyuran kesana. Apalagi kakakku satu-satunya yang dengannya aku banyak menghabiskan masa kecilku sambil bermain kelereng, "umbul", gobak sodor, layang-layang, naik sepeda, sampai ke bekel, dakon, lompat tali, tipe orang rumahan. Mana pernah dia ngajakin aku nyebrang jalan raya?

Meskipun begitu aku masih ingat aku pernah diajak ke salah satu teman my dearest Mom ke sana, naik becak. Jalanan yang lengang, (maklum, masih tahun 1970-an), suasana yang asri, angin semilir mengalir lembut (again, it was still in 1970-an), membuatku menikmati kunjungan itu.

Membaca beberapa cerpen dalam "Perjalanan Celana Dalam" benar-benar membuatku sadar betapa aku mencintai kota kelahiranku ini. Kota yang memiliki landmarks Tugumuda dan Lawangsewu. Kota yang cukup damai, karena merupakan salah satu kota yang tidak dilanda kerusuhan yang hebat, tatkala kota-kota lain menderita hal tersebut di tahun 1998, masa menjelang runtuhnya Orde Baru; kota yang sebentar lagi akan menggelar acara super akbar, "Semarang Pesona Asia" tanggal 10-15 Agustus.

Membaca "Perjalanan Celana Dalam" pun mengingatkanku atas satu novel detektif anak-anak yang berjudul NONI. Aku dulu sangat menyukai NONI, bukan hanya lantaran lakonnnya seorang anak perempuan (anak perempuan jadi jagoan? Wah NANA banget deh, huehehehe …) namun karena setting place yang mengambil nama-nama daerah Semarang, mulai dari Krapyak, Karangayu, Gombel, Wonodri (sayang Pusponjolo tidak disebut LOL, namun "Pasar Bulu" tentu sempat disebut) membuat novel anak-anak ini terasa sangat membumi, dibandingkan dengan Lima Sekawan tulisan Enid Blyton (yang juga sangat kusukai waktu aku duduk di bangku SMP) yang tentu saja mengambil setting place London, Hampshire, dan sebagainya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, bagi yang hobby membaca apalagi yang hobby koleksi buku, beli yuk buku yang berjudul "Perjalanan Celana Dalam" ini? Terutama yang asli Semarang, dan hobby bernostalgia masa kecil, kumpulan cerpen ini cukup menghibur, dan menemani kita kembali mengingat masa lalu.

("Mengapa masa kecil selalu terasa lebih indah dan membahagiakan dibanding masa sekarang?" I keep asking myself. Jawabanku sementara adalah, "Masa kecil adalah masa tanpa beban berat, such as harus bertanggung jawab mengerjakan ini itu, cara berpikir anak kecil yang innocent tidak pernah berpikir yang sulit-sulit.")

PT56 10.08 280707

No responses yet

Jul 26 2007

Dreams

Published by afemaleguest under daily


In her article “How not to have sex with your friend”, Ayu Utami mentioned two possible reasons why out of the blue some people get the urge to have sex with their friends. First, because of alcoholic influence; second, having erotic dreams.
The question is: have you ever had erotic dreams with your friend(s)? The following question is: How could this kind of dream come into our sleep?
How about the first cause? Well, I have never tried any alcoholic drink so that I don’t know whether this kind of drink can really weaken the center of the brain whose function to control ourselves. LOL.
Several weeks ago when awake one morning, suddenly I realized that I had an erotic dream with one of my workmates. I was surprised to remember that. Why him? In my opinion he belongs to the loyal type of husband, with big control to himself. He is also the pious type. (read  pious type is referred to those who have big control of their emotion, passion, and sort of things, so in my opinion, a pious person will not have any idea to flirt other women. If we still find a “pious” person who cannot control himself, it means that he is just “fake”. LOL. If a “pious” person still greedily enjoys looking at other women, it means he even just abuses his religion. )
It was really an accident for me to have that dream. LOL. I don’t think I need to write the details of the dream, right? LOL.
If referring to the psychoanalytical theory saying that dream is the way out of what we keep in our subconsciousness, can I say that in my subconsciousness, I have ever wanted something erotically with that workmate of mine? LOL. I must say that this theory is wrong. I have never thought of that possibility. I have never consumed any alcoholic drink either that probably will “help” trigger that erotic want to come out of its hiding place. LOL.
In episode 7 season 5 of “Sex and the City” with the title “The Big Journey”, Carrie told her good friends about her want to have sex badly. She mentioned of her going to San Fransisco on a book tour, to promote her book, and perhaps to meet Big, her ex boyfriend. When Miranda gave her a stern look, Carried said, “Guys, I need to have sex. It has been too long. Lately I have been having dreams where I run up to complete strangers and I just start kissing them.”


I am of opinion that the psychoanalytical theory is properly applied in Carrie’s case. She wanted to have sex badly so that it appeared in her dream. Instead of doing it with a complete stranger, she chose to travel across the country to meet her ex boyfriend to get laid.
And I still don’t find the answer why I had such an erotic dream with a workmate of mine. If I could choose, I would rather have erotic dreams with complete strangers, just like what Carrie had. LOL. I don’t need to feel awkward when seeing that workmate of mine at the office after the dream. LOL.
PT56 11.17 260707

No responses yet

Jul 24 2007

Friendster & Multiply

Published by afemaleguest under Weblogs

Ada
satu surat pembaca yang cukup menggelitik di surat kabar Suara
Merdeka hari ini, 24 Juli 2007. Si penulis ini mengkritik keberadaan
satu komunitas di dunia maya yang disebut “friendster”. Banyak
mahasiswa (si penulis secara khusus menyebut ‘mahasiswa’ padahal
sekarang banyak pula anak-anak yang masih duduk di bangku SMA, maupun
yang sudah lulus kuliah) yang ikut “friendster”, satu cara yang
dianggap cara “modern” untuk mencari kawan baru. Cara yang
“modern” ini dianggap akan menularkan penyakit “asosial” pada
masyarakat, sehingga orang-orang akan berhenti berinteraksi secara
langsung karena mereka akan lebih memilih berinteraksi lewat
internet, maupun hape. Apalagi tidak sedikit pula para member
‘friendster’ yang tidak menulis identitas yang sesungguhnya di
profile mereka, plus foto-foto yang bisa jadi merupakan hasil
manipulasi belaka.

Sebegitu
burukkah situs di dunia maya ini? Dan benar-benarkah tidak ada
manfaatnya sama sekali?

Sebagai
salah satu member ‘friendster’ sejak Desember 2004 tentu saja aku
tidak setuju bahwa ‘friendster’ merupakan cara yang buruk untuk
mencari kawan baru. Juga aku tidak setuju bahwa cara mencari kawan
baru lewat salah satu situs di dunia maya akan membuat orang menjadi
asosial, dan malas berinteraksi secara langsung. ‘Friendster’
justru merupakan salah satu cara untuk bersosialisasi dengan lebin
intensif, terutama dengan teman-teman yang tinggalnya jauh di belahan
bumi yang lain.

Banyak
orang yang menemukan teman lama yang telah menghilang selama sekian
waktu di ‘friendster’. Banyak juga orang yang menemukan teman
baru yang justru bisa kita jadikan tempat curhat yang enak, terutama
bagi mereka yang cenderung memiliki sifat introvert dan sulit curhat
kepada teman-teman yang berinteraksi secara langsung, dalam kehidupan
mereka sehari-hari.

Bagiku
sendiri?

Aku
memang tidak banyak mendapatkan teman baru lewat friendster. Kalaupun
toh ada ‘invitation’ dari orang-orang yang tidak kukenal
sebelumnya, aku terima. Bila nyaman diajak berkawan, go ahead, kalau
tidak ya it is not harmful, mengingat kita hanya berinteraksi lewat
dunia maya. Namun, lewat friendster, aku berusaha tetap menjalin
hubungan dengan teman-teman, maupun mantan mahasiswa  yang telah
melanglang buana. Tanpa friendster? Mungkin aku telah lost contact
dengan mereka.

Lewat
friendster pula, aku mengenal dunia blogging untuk pertama kali.
Media blog sangatlah bermanfaat bagi orang yang hobby menulis
sepertiku, dan ingin tulisannya dibaca orang banyak, tanpa harus
melewati cara yang berbelit-beli, misal, mengirimkannya ke satu
koran/majalah, melewati seleksi, dll. Media blog memungkinkanku
menulis tentang apa saja yang aku inginkan. Sebagai seorang feminis,
tentu saja terutama tentang keresahanku hidup di kultur patriarki
yang selalu menomorduakan perempuan ini.

Selain
friendster, aku juga mengenal satu situs lain yang tidak kalah
menariknya dibanding friendster, yakni multiply. Bahkan bisa
kukatakan bahwa multiply memiliki features yang lebih lengkap
dibandingkan friendster, karena kita bisa meng-upload maupun
men-download musik dan video kesukaan kita. Di friendster semula aku
hanya bisa post lirik lagu yang aku suka, di multiply aku bisa upload
file lagu dalam bentuk mp3. ada saat ketika aku begitu keranjingan
upload lagu-lagu di multiply tanpa aku tahu untuk apa, selain narsis
ingin menunjukkan kepada orang-oranga bahwa aku memiliki file
lagu-lagu tersebut.

Di
kemudian hari, setelah aku tahu bahwa multiply memiliki fasilitas
untuk melihat siapa-siapa saja yang telah mengunjungi multiply page
ku, goodness!!! Aku begitu terpana mengetahui ternyata telah ribuan
orang yang mengunjungi music pageku. Sebagian dari mereka menuliskan
pesan, “Terima kasih telah berbagi lagu. Aku suka sekali dengan
lagu ini. Telah sekian lama aku mencarinya, eh, ketemu di multiply
mu.” Kadang ada yang meninggalkan pesan dengan kalimat yang begitu
menyentuh, “Tuhan yang akan membalas kebaikanmu ini.” Gosh!!! Is
that so valuable?

And
you know what? Ini membuatku ingin lebih rajin lagi upload lagu di
multiply pageku, untuk berbagi dengan orang banyak, untuk membuat
orang lain senang. Dan kata orang yang percaya, membuat orang lain
senang akan mendatangkan pahala. Benar? LOL.

Adikku
yang juga menjadi keranjingan multiply semenjak ku-invite ke
multiply, telah mendapatkan banyak lagu yang dia inginkan. Kadang,
dia menemukan satu multiply page yang menyediakan lagu yang dia
sukai, dari penyanyi tertentu. Tatkala dia tidak menemukan lagu dari
penyanyi tersebut, dia cukup meninggalkan pesan, misal, “Eh, kamu
punya lagunya Uriah Heep yang berjudul bla bla bla ga? Kalau ada,
tolong di-upload dong.”

Tak
lama kemudian, si multiply-er membalas, “Ada, tunggu, nanti segera
ku-upload.” Dan yah … bersukacitalah adikku.

Segala
sesuatu memang memiliki dua sisi, positif dan negatif. Sekarang
tergantung kepada kita si pengguna yang dianugerahi oleh Tuhan akal.
Mampukah kita mamaksimalkan manfaat sesuatu itu? Atau akankah kita
membiarkan diri menjadi korban?

PT56
14.55 240707

3 responses so far

Jul 24 2007

Reading Between the Lines

Published by afemaleguest under daily

Seberapa
sadarkah kamu bahwa apa yang kita ucapkan/tulis akan selalu memiliki
makna lain?

Beberapa
minggu yang lalu seorang rekan kerja (a newbie in my workplace)
bertanya kepadaku,

Ms.
Nana tuh pakai kacamata minus atau plus?”

Aku
langsung “membacanya” sebagai, “Ms. Nana umurnya udah tua yah?”
karena yang terpatri di benakku adalah orang yang biasanya menderita
rabun jauh (rabun jauh atau dekat yah yang tidak bisa melihat barang
yang di dekatnya dengan jelas?) sehingga perlu memakai kacamata plus
adalah mereka yang dikategorikan telah mencapai middle ages (read

more than forty years old). Sedangkan aku merasa bahwa usiaku masih
bisa dikategorikan young age karena belum mencapai usia empatpuluh.

Do
I really look older than my real age?

Well,
ini adalah pengalaman pertama aku bertemu dengan orang “menuduhku”
berusia lebih tua dari semestinya. (“There is always THE FIRST in
everything”

motto yang dulu sering kujadikan bahan candaan dengan seseorang yang
kuanugerahi dengan sebutan “Lelaki Terindah” dalam hidupku. LOL.)
Biasanya orang mengira aku masih berusia di bawah tigapuluhan, atau
yah … the beginning of thirties lah, sehingga mereka selalu
terkaget-kaget tatkala mereka tahu aku telah memiliki seorang anak
gadis yang sekarang telah duduk di bangku kelas II SMA.

Tatkala
aku bercerita tentang hal ini kepada seorang rekan kerja yang lain,
dia gantian bercerita kepadaku tentang pengalamannya yang kurang
mengenakkan pula.

Rekan
kerjaku yang ini baru saja melahirkan anaknya yang kedua, sekitar dua
bulan yang lalu. Dia menikah sekitar tiga tahun yang lalu, pada usia
yang dianggap “terlambat”, in the middle of thirties. Beberapa
minggu setelah melahirkan, dia pergi ke satu toko untuk membeli
‘pilis’, I don’t know whether there is a word in Bahasa
Indonesia for this. LOL. FYI, ‘pilis’ ini bisa dikategorikan
semacam obat oles untuk perempuan yang baru saja melahirkan. ‘Pilis’
ini dioleskan di kening, kalau tidak salah. Apakah fungsinya? Aku
sendiri kurang tahu. Nyokapku yang orang Gorontalo tidak mengajariku
untuk mengoleskan pilis setelah aku melahirkan Angie di tahun 1991
lalu. Kesimpulan sementara, ‘pilis’ merupakan kebiasaan orang
Jawa.

Di
toko, tatkala temanku mengatakan kepada si penjaga toko bahwa dia
akan membeli pilis, si penjaga toko berbasa basi bertanya, “Pilis
untuk anaknya ya Bu?”

GUBRAK!!!

Buat
saya sendiri!” jawab temanku galak. LOL.

Waduh
mbak, emang dikira usiaku udah berapa kok sampai dianggap aku punya
anak yang baru saja melahirkan?” yang berarti aku dianggap sudah
pantas punya cucu? LOL. LOL.

Setelah
terbengong sejenak tatkala mendengar ceritanya yang kurang
mengenakkan itu, akhirnya aku tertawa bersamanya. Oh … poor her!
LOL.

Cerita
lain yang berkebalikan terjadi kepada nyokapku. Satu hari ada tamu
datang ke rumah. Tatkala si tamu melihat Angie, si tamu bertanya,
“Anak bungsu ya Bu?”

Nyokapku
bengong. LOL. Masih dengan nada heran, dia menjawab, “Ini cucu saya
yang pertama.”

Waktu
menceritakan pengalamannya kepadaku, nyokapku yang biasanya memandang
masalah dari kacamata yang berseberangan denganku LOL, mengeluh,
“Masak usia sudah setua ini, mana suami sudah lama meninggal lagi,
kok Mami dianggap punya anak seusia Angie? Dengan siapa coba?” LOL.
LOL.

Dengan
serta merta, aku pun menjawab, “Loh, itu berarti Mami dianggap
masih cukup muda sehingga masih pantas memiliki anak seusia Angie.”
LOL.

Nyokapku
pun tertawa mendengar ‘bacaanku’ mengenai ‘tuduhan’ bahwa dia
punya anak seusia Angie.

How
good in reading between the lines are you?

PT56
22.46 220707

2 responses so far

Jul 19 2007

Poverty and Education

Published by afemaleguest under Current Affairs

There
is a quite interesting true story in the local tabloid today. It is
about a girl who is now working as a migrant worker—a housemaid—in one
neighboring country of Indonesia.

 

She
was born in a very poor family. When she was born, her poor parents had
to give her to one relative, a widow, because they did not have enough
money to raise her. They focused more on her older siblings. However,
as poor as her own parents, the widow could not support her education
well. She stopped supporting the writer’s education after she graduated
from elementary school. Luckily, her first sibling who already worked
at that time was willing to support her education until she graduated
from senior high school.

 

After
graduating from senior high school, she lived together with this first
sibling and helped doing household chores, taking care of her niece and
nephew. Unfortunately, the first sibling in fact treated her as unpaid
maid. Perhaps it was as a way to pay back for the fund for her
education?

 

Feeling worried about her future, the writer who was smart enough, joined one PJTKI, one institution in Indonesia whose business is to send workers abroad. She worked in Malaysia
for four years. Her experience, luckily, belongs to the lucky migrant
workers who can get much money. Her plan actually was to get enough
money to continue her study to college. However then she changed her
mind after going home. When she saw that her adopted mother lived in an
almost broken house, she decided to use her money to help build a
decent house for the widow who raised her. This caused jealousy in her
own parents. Besides, the first sibling asked her to pay back all the
money she used to study in junior and senior high school. Her other
relatives also came to her to ask for her help in finance.

 

Her
disappointment because she could not make her dream come true—to
continue to study in college—made her go abroad again. This time she
worked in Hong Kong
as a housemaid too. She was “lucky” too because she got good employers.
Her problem was still the same—her relatives who kept asking her to
send them most of her paycheck.

 

However,
this time she was determined to continue her study. She started to be
strict to her relatives. She told them that she wanted to use her money
for her future investment—education. She wanted to study in Hong Kong
while she was still there. Of course her relatives were very
disappointed to hear that. They said that she had better think of
getting married, being a good wife, and taking care of children now
that she was almost thirty years old. However, she stayed put.

 

If you have any suggestion for her, you can send email to her email address at

 

 

****

 

Reading the above true story reminded me of …

To read the complete article click the following site:

http://afeministblog.blogspot.com/2007/07/poverty-and-education.html

No responses yet

Jul 17 2007

Technology Savvy

Published by afemaleguest under daily

How technology savvy are you?

Sekitar 10 hari yang lalu aku menghadiri acara ‘dissemination of HI4” yang diselenggarakan oleh kantor. Aku dan adikku bekerja di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris yang sama namun berbeda afiliasi.

Ketika acara akan dimulai trainer dari Jakarta heran karena para guru kebanyakan duduk di sisi yang berbeda, guru-guru dari afiliasi tempatku bekerja duduk di sisi Utara (kalau aku tidak salah membaca mata anginnya LOL), sedangkan guru-guru dari afiliasi yang lain di sisi Selatan. Itu sebab sang trainer dengan hormat meminta kita untuk berbaur, toh we are colleagues, not foes.LOL. Verra yang semula duduk di sisi kananku dengan rela pindah ke tempat duduk lain. Sebagai gantinya seorang guru dari afiliasi yang satunya duduk di sampingku. Dengan ramah dia langsung menyodorkan tangannya, “Inez” sambil menyebut namanya.

Aku menyambut uluran tangannya dengan hangat sambil menyebut namaku, “Nana.”

Kemudian Inez berkomentar, “Kakaknya mbak Lala ya?”

Adikku yang di rumah dipanggil Nunuk namun di tempat kerja dipanggil Lala ternyata telah membuat namaku cukup terkenal di kantornya. LOL.

“Iya,” jawabku sambil tersenyum manis. (Suwer, ini fakta, bukan gosip. Wakakakaka …)

Setelah itu kita sibuk mengikuti acara diseminasi—or whatever you call it—sehingga tidak sempat ngobrol. Ketika pembagian kelompok untuk meneliti hasil tulisan siswa HI4 yang telah melewati ujian kelulusan, aku bekerja dengan Agung, rekan sekantorku yang duduk di sebelah kiri, plus Bimo, guru dari afiliasi yang lain yang duduk di sebelah kiri Agung. Again I didn’t have time to chat with Inez.

Meanwhile, ternyata Inez yang telah mengetahui bahwa aku adalah kakak Lala sebelum berkenalan langsung denganku, cukup penasaran ingin ngobrol denganku. Di tengah-tengah diskusi hasil tulisan tiga siswa HI4, Inez membuka percakapan,

“Mbak Lala itu technology savvy ya?”

Aku heran mendengarnya karena menurutku adikku ga savvy amat dengan teknologi. Maklum, aku membandingkannya dengan Abang yang expert in technology. LOL. Namun untuk tidak mengecewakannya (sembari berusaha kira-kira apa ya yang membuat Inez beranggapan bahwa adikku technology savvy?), aku tersenyum mengiyakan, “yah … lumayanlah,” jawabku.

“Lihat aja gadget yang dia miliki, digital camera, PDA, hape yang featuresnya lumayan lengkap.” Kata Inez lagi.

Aku manggut-manggut.

“Apa mbak Nana juga technology savvy kayak mbak Lala?” tanya Inez.

“Well … no. You know she is still single. It means that she can use up all her earnings for herself, to buy some sophisticated things that for other people are not really necessary. I have a daughter. It means I have to divide my earnings into two, my own needs, and for daughter.” Jawabku berkilah. LOL.

Inez gantian manggut-manggut.

“Anak mbak Nana berapa?” tanyanya kemudian.

“Satu. Naik kelas !! SMA,” jawabku.

“Aku juga punya anak satu, umur 8 bulan. Beberapa minggu yang lalu mbak Lala jepret-jepret anakku trus dikirimkannya ke email suamiku. Wah bagus-bagus deh.” wajah Inez begitu riang ketika mengatakan hal itu.

Aku tersenyum mendengarnya. Aku ingat adikku menceritakan hal itu juga dan merasa senang karena membuat seorang temannya senang.

Namun, tiba-tiba Inez bertanya, “Anak mbak Nana naik kelas berapa?”

“Kelas II SMA,” jawabku, heran. Dia tidak mendengar dengan jelaskah pernyataanku tadi?

Wajah Inez menunjukkan keheranan yang kental, terus menatap wajahku dengan teliti seolah-olah ingin menaksir umurku berapa, kok punya anak naik kelas II SMA. LOL.

“Oh … mbak Lala sering cerita tentang keponakannya yang bernama Angie. Apa mbak Nana ini mamanya Angie?” tanyanya.

“Betul. Ya memang baru satu itu keponakan adikku,” jawabku geli.

“Oooo….’ komentar Inez, seolah masih belum percaya aku yang masih imut ini memiliki anak naik kelas II SMA. Hahahaha …

****

Meanwhile pernyataan Inez bahwa adikku technology savvy membuatku berusaha membandingkanku dengan adikku. Dalam beberapa hal aku memang kalah savvy dibanding dia.

  1. Flash disk

Nunuk telah menggunakan teknologi flash disk jauh sebelum aku mendapatkannya secara cuma-cuma dari Abang bulan September 2006, sebagai salah satu hadiah ulang tahunku. Nunuk yang menyarankanku untuk membeli kabel perpanjangan untuk mencolok flash disk karen CPU yang kumiliki tidak punya tempat colokan flash disk di depan, melainkan di belakang CPU.

  1. MP3 player

Nunuk telah menggunakan media pemutar musik ini jauh sebelum aku mendapatkannya secara cuma-cuma dari Abang bulan November 2006, sebagai penghibur rasa sedihku kehilangan pekerjaan. Aku yang gaptek tidak tahu bagaimana cara menggunakan MP4 player (punyaku selangkah lebih keren dibandingkan punyanya), sehingga Nunuk yang mencoba-coba memakainya dan mengajariku.

NOTE: waktu bingkisan dari Abang datang, aku cuma mengamatinya dengan takjub, dan merasa bego sekali, “How to use it?” LOL. Kemudian aku tinggalkan di kamar tatkala aku berangkat bekerja. Sepulang dari kantor jam 9 malam, Angie yang telah diajari Nunuk gantian menunjukkan kepadaku bagaimana cara menggunakannya.

  1. PDA

Nunuk telah membeli PDA (meskipun used PDA LOL) jauh sebelum aku mendapatkan notebook secara cuma-cuma dari Abang.

  1. Hape

Saat ini hape yang kumiliki adalah Samsung SGH X640 berteknologi digital camera VGA sementara Nunuk menggunakan hape SonEr entah seri yang mana, namun digital cameranya lebih canggih dibanding punyaku, bisa dihubungkan dengan MMC (opo kuwi mboh gak ruh LOL), juga memiliki blue tooth. Hapeku ga ada blue tooth maupun infra red.

  1. Digital camera

Untuk satu hal ini aku tidak punya. Well, untuk sementara kupikir digital camera yang ada di hapeku maupun di hape Angie yang SonEr K510i sudah cukup memadai.

Nevertheless, dalam blogging aku lebih savvy dibanding Nunuk, maklum aku bisa dikategorikan blog addict sedangkan dia ga terlalu. Namun berkat provokasiku dia pun punya account di multiply dan friendster. Pernah juga membuat account di www.blog.co.uk namun kemudian tidak dia openi lagi. J

Sementara itu, dibandingkan aku dalam hal blogging, Abang yang technology expert pun kalah. Bukan karena dia gaptek, melainkan karena dia ga punya waktu untuk buka-buka diri di forum publik  begini. Mana maulah dia menyediakan waktu khusus untuk bagaimana mempercantik tampilan sebuah blog, dll. Dia lebih suka menyediakan waktu untuk bermilis ria.

****

Hari Senin kemarin, tiba-tiba salah satu siswa kelas Advanced 4 bertanya padaku, “Miss Nana, what is your friendster address? Do you mind if I add you in my friend list?”

“Sure, why not?” trus aku menulis alamat emailku di white board.

“Kakakku toh Miss ga mau tuh mau ku-add di friendster. Katanya, orang tiap hari ketemu di rumah juga ngapain pake ketemu di friendster lagi,” katanya.

“Oh, I put my daughter on the first rank in my friendster list,” jawabku. “We meet everyday at home,” I went on saying.

“Enak ya anaknya Miss Nana,’ celetuknya.

“Why?” tanyaku heran.

“Iya, soalnya Mamanya ga gaptek.”

LOL. LOL. LOL.

PT56 13.35 170707

No responses yet

Next »