Jun 30 2007

Utopia 2

Published by afemaleguest at 3:58 am under Current Affairs

Aku sedang membaca
beberapa file tempatku menyimpan artikel-artikel yang telah ku-post di blog
tatkala aku menemukan satu artikel yang kutulis setelah mendapatkan inspirasi
dari satu artikel dalam harian nasional berbahasa Inggris yang menyebutkan
“satu tempat tanpa adanya diskriminasi sosial hanyalah merupakan satu utopia
saja.”

Artikel ini mengingatkanku
pada satu email pendek yang kuterima dari seorang teman kuliah beberapa minggu
yang lalu. Dia bekerja di sebuah universitas swasta di satu kota kecil yang
terletak di Jawa Tengah. PTS ini milik salah satu organisasi massa Islam
terbesar di Indonesia. Temanku ini
mengeluh karena akhir-akhir ini tempat kerjanya mulai memberlakukan beberapa
peraturan yang menurutnya mulai mencampuri kehidupan pribadi pegawainya; misal:
para pegawai diwajibkan shalat Dzuhur di masjid kampus dan sebulan sekali harus
menghadiri acara pengajian yang dilaksanakan pada satu hari pukul 7 malam.
Selain itu, setiap fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Pusat organisasi massa
tersebut yang berlokasi di Jakarta harus diikuti oleh seluruh pegawai. Para
pegawai seolah tidak memiliki pilihan untuk melakukan apa yang mereka yakini
sebagai sesuatu yang “benar” karena segala sesuatu yang “benar” telah
ditetapkan oleh Majlis Pusat. Jika seorang pegawai tidak shalat Dzuhur di
masjid kampus atau tidak menghadiri acara pengajian, maka dia akan dipanggil
oleh atasan untuk kemudian diinterogasi.

Temanku ini, seorang
perempuan, bisa kukategorikan sebagai seseorang yang kritis terhadap apa yang
dia lihat dan alami, dan tidak begitu saja dengan mudah menerima apa-apa yang
di”jejal”kan kepadanya. Dia jarang mengikuti acara shalat Dzuhur di masjid
kampus, maupun menghadiri pengajian karena pada waktu itu dia mempunyai
kewajiban untuk mengajar. Dia bisa melihat dan menilai bahwa apa-apa yang
disampaikan dalam acara pengajian tersebut bermisi politik, maupun bertendensi
untuk mengajarkan doktrin-doktrin tertentu yang dikeluarkan oleh Majlis Pusat.
Di mataku, temanku ini merupakan seorang Muslim yang baik, memakai jilbab dalam
kesehariannya, shalat lima kali sehari, dan melakukan rukun Islam yang lain, bukan
sebagai hasil indoktrinasi yang lebih sering dipaksakan, namun merupakan hasil
pencarian spiritualnya atas satu Dzat yang serba Maha.

Dalam email
pendeknya, dia juga bercerita tentang seorang teman kerjanya yang baru saja
dikeluarkan dari kantor. Teman kerjanya tersebut tidak pernah menghadiri
pengajian yang diselenggarakan sebulan sekali, tidak melakukan apa-apa yang
difatwakan oleh Majlis Pusat (misal: tatkala hari Idul Fitri lalu tidak shalat
Ied pada hari yang telah ditentukan oleh Majlis Pusat). Tatkala dia dipanggil
oleh atasannya dan diinterogasi apakah dia bukan pengikut organisasi massa
Islam dimana PTS tersebut membawa
benderanya, dengan tegas dia menjawab, “Bukan.” Hasilnya? Sang atasan pun
berkata kepadanya, “Anda diberhentikan dari tugas anda di sini. Silakan mencari
pekerjaan di tempat lain.”

“Mengapa sebuah PTS
(ataupun perusahaan lain) menilai seorang pegawai bukan dari etos kerjanya
melainkan hanya dari bagaimana dia menjalankan aktifitas keagamaannya? Bukankah
yang paling berhak untuk menilai iman seseorang hanyalah Yang Di Atas sana? Dan
bukannya sesama manusia? Kita tidak bisa menilai ketaqwaan maupun iman
seseorang hanya dari bagaimana seseorang tersebut menjalankan aktifitas
keagamaannya. Hal tersebut bersifat sangat pribadi. Tuhan tidak akan berkurang
keperkasaan-Nya hanya karena seseorang tidak menghadiri acara pengajian maupun
shalat di masjid yang telah ditentukan.” Komplain temanku dalam emailnya.

Pada saat yang
bersamaan aku ingat kasus seorang teman yang kukenal pertama kali lewat dunia
maya. Beberapa bulan lalu dia bercerita bahwa dia dikeluarkan dari tempat
kerjanya karena dia satu-satunya pegawai yang non Muslim di kantornya. Berbeda
dengan kasus di atas, kantor tempatnya bekerja tidak secara terus terang
mengatakan padanya bahwa kasus pemberhentian tersebut dikarenakan alasan agama
melainkan karena perampingan jumlah pegawai demi keefektifan dan keefisiensian.

Aku juga ingat
kasusku sendiri. Beberapa bulan lalu aku diberhentikan dari PTS tempatku
bekerja karena aku adalah seorang pegawai Muslim. Beberapa tahun terakhir ini
telah terdengar selentingan yang mengatakan bahwa PTS tersebut akan mengubah
visinya menjadi Kampus yang berorientasikan ke Gereja Kristen (Church Campus).
PTS tersebut memang milik seseorang yang beretnis Cina dan memiliki profesi
sebagai seorang pendeta, yang kebetulan juga merupakan seorang pebisnis. Selain
itu aku juga tahu bahwa atasanku langsung, Dekan FBS yang juga memiliki profesi
sebagai seorang pendeta yang dahulu merupakan mahasiswaku merasa tidak nyaman
dengan keberadaanku di situ. Aku dianggap terlalu cerdas dan kritis di matanya.
Sama seperti kasus yang menimpa temanku di atas, Rektor berusaha menyembunyikan
alasan sebenarnya (diskriminasi agama).

Diskriminasi memang
terjadi dimana-mana. Diskriminasi terjadi tidak hanya kepada kaum perempuan di
kultur patriarki ini, namun juga terjadi antar etnik, antar agama, bahkan juga
terjadi dalam satu agama yang sama namun bergabung dengan kelompok
agama/organisasi massa yang berbeda.

PT56 14.25 290607




Comments RSS

Leave a Reply