Jun 30 2007

Utopia 1

Published by afemaleguest at 3:56 am under Current Affairs

“A place
without social discrimination would be utopia.”

Kalimat di atas merupakan salah satu pernyataan dalam
artikel yang berjudul “Being a Chinese-Indonesian” yang dimuat The Jakarta Post
tanggal 13 Juni 2006 halaman 6. Sang penulis artikel adalah seorang laki-laki
etnis Cina yang menikahi seorang perempuan pribumi.

Diskriminasi sosial terjadi dimana-mana dalam banyak
bentuk; misal diskriminasi terhadap orang-orang beretnis Cina di Indonesia, dan
diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam di Amerika.

Bebeapa minggu yang lalu aku membaca sebuah artikel yang
berisikan wawancara dengan seorang laki-laki beretnis Cina di salah satu
tabloid lokal. Dia berharap bahwa di masa depan tak ada lagi perlakuan
diskriminatif terhadap orang-orang beretnis Cina; misal mereka bisa menjadi
pegawai negeri, tak ada lagi proses yang berbelit-belit untuk memiliki sebuah
KTP, dll. Artikel tersebut memang khusus difokuskan pada diskriminasi sosial
terhadap orang-orang beretnis Cina di Indonesia. Sang narasumber yang
diwawancara seolah-olah menutup mata bahwa ada banyak perusahaan milik
orang-orang beretnis Cina di Indonesia yang memperlakukan pegawai-pegawainya
yang non Cina secara diskriminatif. Dan si jurnalis pun seolah-olah melupakan
adanya perlakuan diskriminatif balik terhadap orang-orang non Cina.

Namun, di dalam artikelnya yang berjudul “Being a Chinese
Indonesian”, Wijanto Hadipuro menggambarkan hal tersebut. Dia menulis bahwa
istrinya mendapatkan perlakuan yang diskriminatif di tempat kerjan; misal dia
mendapatkan gaji yang lebih rendah dibandingkan teman kerjanya yang beretnis
Cina meskipun istrinya bekerja lebih lama dan memiliki posisi manajerial yang
sama.

Hal ini mengingatkanku satu makalah yang dipresentasikan
oleh seorang teman kuliah dengan topik yang sama: diskriminasi sosial yang
diperlakukan terhadap orang-orang beretnis Cina di Indonesia. Teman kuliahku
ini kebetulan memiliki kulit berwarna kuning langsat dan mata sipit, dua
karakteristik yang biasa diasosiasikan milik orang-orang beretnis Cina meksipun
dia tidak memiliki darah keturunan Cina. Kebetulan pula dia bekerja di sebuah
instansi dimana banyak orang-orang beretnis Cina bekerja di sana. Dalam
makalahnya dia menyampaikan perlakuan diskriminatif terhadap rekan-rekan
kerjanya yang beretnis Cina, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah
Indonesia, sementara mungkin mereka merupakan generasi kelima atau lebih yang
lahir asli di Indonesia.

Saat mendengarkan presentasinya, Julie dan aku
mendiskusikan perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh orang-orang beretnis
Cina kepada kaum pribumi. Adik Julie menerima gaji yang lebih rendah daripada
rekan kerjanya yang beretnis Cina karena kebetulan dia bekerja di perusahaan
milik seseorang beretnis Cina; bagaimana mereka memperlakukan PRT (pekerja
rumah tangganya) yang kebanyakan kaum pribumi dengan buruk, meskipun tidak
semua, terkadang sama buruknya dengan perlakuan kaum kulit putih terhadap
budak-budak mereka yang berkulit hitam di zaman perbudakan di Amerika.

Sekitar tahun 1994-2000 aku bekerja di sebuah perusahaan
milik seorang pribumi beragama Islam. Ketika aku pertama kali diterima, aku
mendengar selentingan bahwa perusahaan mempunyai kebijakan hanya menerima
pegawai yang beragama Islam saja. Namun kenyataannya aku mendapati dua orang
rekan kerja yang beragama non Islam, dan aku bisa melihat dengan jelas betapa
tidak nyamannya mereka tatkala ada pertemuan, misalnya berbuka bersama di bulan
Ramadhan. Demikian juga sebaliknya, aku sering mendengar perusahaan swasta milik
seorang non Islam yang hanya mempekerjakan orang-orang non Islam. Seandainya
kebetulan ada orang Islam yang bekerja di sana, dia tidak akan memperoleh waktu
untuk melakukan kegiatan ritual keagamaannya, misal shalat di jam-jam kerja.
Bahkan mereka pun diwajibkan untuk mengikuti ritual keagamaan agama si pemilik
perusahaan, misal menghadiri misa tertentu.

Betapa aku menginginkan perlakuan diskriminatif ini
berakhir. Aku pun berharap masyarakat menghormati anggota masyarakat lain
sebagai sesama manusia, meskipun berbeda agama, berbeda warna kulit, juga
berbeda etnik, apalagi hanya berbeda jenis kelamin.

“Treat other people just like how you want other people
to treat you.”

PT56 09.20 290607

P.S.: artikel asli kuberi judul “Utopia” kutulis pada
tanggal 15 Juni 2006




Comments RSS

Leave a Reply