Archive for June, 2007

Jun 23 2007

My Blogging Experience

Published by afemaleguest under Weblogs

From my blogging at http://afemaleguest.blog.co.uk, I got some lively and intensive discussion on some topics, especially on women status in patriarchal culture, and secularism with some bloggers that mostly come from western countries. You can guess that the discussion is mostly on comparison between the condition of women in Indonesia and that of women in western countries, besides the situation of patriarchal society in Indonesia and that of in western countries. I can come to the conclusion that Indonesia is still undergoing what happened in western countries some fifty or sixty years ago. This is exactly what one guest lecturer—a Professor of History—said too when I was pursuing my study at American Studies Graduate Program three years ago. During his stay and lecturing at Gadjah Mada University—one oldest state university in Indonesia—he made some observations and he concluded that Indonesia is left behind around 50 years compared to America.

Some examples of the conclusion:

  1. Around a year ago, I posted an article about how some regions in Indonesia started thinking of applying regulation on wearing hijab for uniform for girls at junior and senior high schools. The reason was to “protect” those girls from sexual abuse. The hot issue in some mailing lists a year ago about this made me remember my own experience when I was at senior high school. My mother made my skirt seven cm under the knees because that was the regulation from school. And in fact I was the only girl who wore that and that made me laughed at by many boys at school. I still remember some of them said, “Look at that girl. She is wearing her mother’s skirt!” And that embarrassed me.

When making senior high school uniforms for Angie my daughter, I found the same regulation too from the school, the skirt must be some cm under the knees, while the sleeves must reach the elbow. However, remembering my embarrassing experience, I asked the tailor to make it exactly at Angie’s knees. And still Angie complained because it was still too long compared to her other school friends, except some girls who decided to wear hijab to school, so consequently the length of their skirt reached their feet.

Commenting on my post, some western bloggers said that it also happened in their era when they were teenagers, more than forty years ago. Schools also had regulations to decide how long a skirt had to be. Nowadays, it is not really important anymore. Sexual abuse happens not because of the clothes women wear but because of how men look at women: as human being or as sexual temptation.

  1. When I wrote that I needed to be a declared feminist to show people around me that I don’t conform to social patriarchal norms in my community (people in my community still strongly believe that women are just the second sex; that women were born to be domestic creatures; that women must be submissive; that women were born to be motherly, feminine, gentle; that women must always give first priority to their husbands, then the kids, and they were at the last turn), my western blog friends said that it needed to be done in the west in 1960s. Although perhaps nowadays there are still some men who have such an old-fashioned way of thinking, western men accept equality between men and women more openly.

  2. When I wrote that getting married is still mostly the ultimate goal in girls’ minds in Indonesia (meaning that Cinderella complex is still haunted many teenagers), my western blog visitors said that many women in the west already see the imbalance relationship between husband and wife, therefore, they would prefer to be in a relationship just for companionship (and not really legally married, I mean legally recognized by the country with some documents as proof) rather than to get married. Or it is already a trend to live single and happy.

A couple of days ago when I posted my article I entitled “Marriage, Polygamy, and Single”, one blog friend said, “How odd! Here in England, people no longer see marriage as the only gate to get worldly happiness. Youngsters would rather choose a more equal relationship which is somewhat difficult to find in a relationship between husband and wife in a marriage.”

I remember what is illustrated in MONA LISA SMILE movie where Katherine Watson, a lecturer of art, encouraged her female students to pursue their own career after graduating from college rather than end up only as homemakers. She was considered weird due to that. Or an imaginary character, Laura Brown in THE HOURS movie that chose to leave her family to follow what her own heart called her—to live all alone rather than to live as a housewife. The setting of these two movies was in 1950s America. Nowadays, it is not a weird thing anymore for women to choose to live single and be happy.

I believe in natural law that says everything changes. Nothing stays the same. I am of opinion that the tendency of this avoiding marriage will happen too in Indonesia sooner or later.

PT56 21.00 230607

No responses yet

Jun 22 2007

UTOPIA

Published by afemaleguest under Current Affairs

I have been reading some files in the desktop containing some old writings of mine that I have posted in my blogs when I found one article inspired by one article I read in one national newspaper published in English. “A place without social discrimination would be utopia.”
Check my post at

http://afeministblog.blogspot.com/2006/06/utopia.html

It reminded me of one short email I got from my college friend some months ago. She works for a private university in a quite small town. The university belongs to one biggest Islamic organization in Indonesia.

To read the complete article, you can view it at

http://afeministblog.blogspot.com/2007/06/utopia.html

No responses yet

Jun 22 2007

Marriage, Polygamy, Single

Published by afemaleguest under Gender

Boring topic!!! Still I find people that to me are blinded by their old-fashioned way of thinking.

Read the complete article in the following site:

http://afeministblog.blogspot.com/2007/06/marriage-polygamy-single.html

Thanks.
Nana

No responses yet

Jun 22 2007

FANATIK

Published by afemaleguest under Religion

Below is the Bahasa Indonesia version of my previous article "FANATIC". One mailing list respectfully asked me to translate it into my mother tongue. :)

Ketika pertama kali berkenalan dengan ideologi feminisme tahun 2003, aku begitu terpesona dengan ide-ide yang terkandung di dalamnya (karena aku menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantuiku bertahun-tahun, yang karena indoktrinasi agama yang sangat kuat yang kuterima sejak kecil membuatku tak berani berpikir bahwa sebenarnya ide perempuan adalah makhluk nomor dua setelah laki-laki hanyalah hasil bentukan konstruksi sosial dan bukanlah diciptakan oleh Tuhan) sehingga aku tak bersedia membaca buku-buku/artikel-artikel yang tidak ditulis dari perspektif feminis. Dengan sengaja aku menghindari berbagai macam tulisan yang ditulis untuk mengukuhkan status quo budaya patriarki. Sebelum aku memutuskan untuk membeli sebuah buku/novel/jurnal, aku harus memastikan dulu bahwa buku/novel/jurnal tersebut ditulis oleh para penulis feminis, atau paling tidak bebas dari bias gender.
Karena itulah seorang teman dekatku menertawakanku atas tindakanku yang menurutnya menggelikan ini. “Hal ini menunjukkan bahwa hati kecilmu sendiri masih merasa khawatir bahwa kamu akan menemukan ideologi lain lagi yang akan mematahkan kepercayaanmu pada ideologi feminisme.” Katanya.
Tatkala membeli buku-buku yang berkaitan dengan Feminisme dan Islam, kebetulan aku menemukan buku-buku tulisan Fatima Mernissi dan Riffat Hassan (diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul “Setara di Hadapan Allah”), Qasim Amin (judulnya diterjemahkan menjadi “Matinya Perempuan”), Nawal El Sadawi (novel berjudul “Perempuan di Titik Nol” dan bukunya yang berjudul “Perempuan dalam Budaya Patriarki”), dll. Dalam artikelnya yang berjudul “Menyikapi Feminisme dan Isu Gender”, Dr. Syamsuddin Arif ternyata melabeli mereka sebagai “Feminis Muslim Radikal”. Seradikal apakah ide yang mereka lontarkan kepada khalayak ramai? Menurutku tentu saja tidak seradikal Mary Daly ataupun Germaine Greer yang memutuskan untuk menjadi homoseksual yang sampai sekarang masih dianggap melenceng dari “norma sosial yang normal”.
Ternyata, dalam proses pembentukan diri menjadi seorang feminis, “perkenalanku” dengan ideologi feminisme telah memanjakan diriku sendiri dengan ide-ide liberal (dan mungkin pula “radikal”) untuk memenuhi karakterku sebagai seorang rebel (penentang) selain untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah memenuhi otakku semenjak kecil. Bila bagi banyak orang Indonesia kata LIBERAL dicurigai sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif, di mataku kata ini menjadi begitu menarik untuk dipelajari. Hal ini membuatku membaca lebih banyak buku yang lebih bervariatif, termasuk buku-buku yang tentu bakal kena sensor oleh guru-guruku tatkala masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam), mungkin juga orang tuaku sendiri.
Keingintahuanku yang besar apakah Tuhan cenderung untuk memilih agama mana yang akan Dia ridhai perlu mendapatkan jawaban. Aku ingat chat yang kulakukan beberapa kali dengan beberapa orang yang tinggal di belahan bumi yang lain tentang “kebenaran absolut” atas satu agama, seseorang berkata, “Bagaimana mungkin seseorang akan percaya bahwa hanya agamanyalah yang benar? Dan pada saat yang bersamaan banyak orang lain lagi yang berpendapat sama, dari agama yang berbeda. Bagaimana mungkin begitu banyak orang mengklaim hal yang sama?”
Selain itu, keyakinanku bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu benar-benar Maha Penyayang, dan bukan Maha Penghukum maupun Maha Pemarah telah mendorongku untuk membaca buku lebih banyak lagi.
Juga keyakinanku bahwa cara berpikir manusia yang sok tahu itu tentulah sangat jauh berbeda dengan cara berpikir Tuhan yang bukan makhluk, melainkan sang Khalik. Kita sering berpikir (atau menuduh) bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan melakukan ini itu, sesuai dengan cara berpikir kita yang tentu sebagai makhluk sangatlah terbatas.
Dan, tanpa kusadari aku mulai meninggalkan sikapku yang menggelikan di tahun 2003 lalu itu. Aku tak lagi memenjarakan diri untuk mebaca buku-buku yang ditulis menggunakan perspektif feminis maupun yang ditulis oleh para Muslim fanatik yang dengan mudah menuduh agama atau keyakinan lain sebagai sesat hanya karena mereka tidak beragama Islam. Tentu saja pada saat yang bersamaan aku juga geli (dan kasihan) pada mereka yang beragama Non-Islam yang beranggapan bahwa Islam maupun agama-agama lain (yang tidak mereka peluk) sebagai agama yang sesat. Hal yang menyedihkan pula bagiku karena kemudian hal tersebut membuat mereka sibuk menjelek-jelekkan agama lain dan menghasut agar orang-orang tersebut untuk murtad.
Siapa tahu di atas sana Tuhan yang kita perjuangkan (dalam agama masing-masing) justru sedih melihat makhluk-Nya berperang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu sampai mengeluarkan darah, mengorbankan jiwa dan raga.
Atau seperti yang pernah kudiskusikan dengan seorang teman kerjaku yang beragama Kristen, “Eh, siapa tahu ya Tuhan di atas sana malah menertawakan kita yang merasa sok paling benar dalam agama kita.”
Aku tak lagi memenjarakan diri dengan bacaan-bacaan tertentu karena:
1. Aku memiliki keyakinan yang kuat bahwa keberadaan ideologi feminisme membantu mengurangi penindasan yang dilakukan kepada kaum perempuan. Selain itu, ideologi ini juga membantu melepaskan beban berat di pundak laki-laki yang dipaksa untuk menjadi pencari nafkah utama dalam budaya patriarki.
2. Aku memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan tidak pilih kasih atas umat-Nya yang beragama tertentu. Aku tetap memilih untuk beragama Islam karena aku pun memiliki keyakinan yang kuat pada agama yang telah kupeluk sejak aku lahir. Satu hal yang tentu sangat berbeda dibandingkan kondisiku di waktu lalu: aku Islam karena orang tuaku beragama Islam, seolah-olah aku tidak memiliki pilihan lain. Saat ini aku Islam karena pilihanku sendiri.
Namun aku bukanlah seorang fanatik. Aku bukan seorang feminis fanatik. Banyak teman perempuan yang kukenal lewat milis maupun dari blogging yang mengatakan mereka tidak perlu merasa menjadi seorang feminis hanya untuk berpendirian bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Yang penting mereka tahu hak-hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Aku juga bukan seorang Muslim yang fanatik yang harus memusuhi (meskipun hanya dalam hati, apalagi ditunjukkan dalam tindak tanduk yang nyata dalam kehidupan sehari-hari) orang-orang lain agama.
Sekitar satu tahun yang lalu aku menemukan satu pepatah bijak mengenai fanatisme ini di salah satu blog seorang teman dari Inggris:
A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject.
Seseorang yang fanatik adalah seseorang yang tidak dapat mengubah cara berpikirnya, dan tidak akan mengubah topik pembicaraannya.
Kataku sendiri, seorang fanatik hanya mempertontonkan kesempitan nalarnya.
Sir James Dewar mengatakan,
Minds are like parachutes; they only function when they are open.
Otak itu seperti parasut; dia hanya berfungsi tatkala terbuka.
Seorang fanatik membiarkan nalarnya terus tertutup yang berarti otaknya tak berfungsi dengan baik.
PT56 11.30 210607

No responses yet

Jun 21 2007

Memilih Sekolah 2

Published by afemaleguest under Current Affairs

Dalam kolom SURAT PEMBACA harian SUARA MERDEKA dua hari lalu ada satu surat yang cukup menarik perhatianku. Surat itu berjudul “Ilmu atau Gengsi” ditulis oleh seorang siswa salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal di Semarang. Ricko—demikian nama si penulis surat pembaca tersebut—menuliskan beberapa jalur yang bisa diambil oleh seorang lulusan SMA tatkala akan melanjutkan pendidikannya ke PTN. Saat ini beberapa PTN favorit Indonesia memiliki tiga macam jalur: pertama PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), UM (Ujian Masuk), dan SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang di zamanku dulu disebut Sipenmaru.

Di zamanku lulus SMA 21 tahun yang lalu, yang namanya PMDK, semua siswa kelas 3 bisa mengikuti proses penyeleksian. Universitas negeri memberikan formulir pendaftaran sejumlah siswa kelas 3, tidak ekslusif untuk anak-anak yang memiliki ranking tinggi, misal ranking 1-5 di masing-masing kelas. Semua universitas negeri bekerja sama, mirip dengan Sipenmaru, sehingga tidak mungkin satu anak diterima di lebih satu universitas negeri. Begitu seorang siswa dinyatakan diterima di salah satu PTN melalui jalur PMDK, hanya satu syarat yang harus dia lakukan, dikarantina selama dua hari, bersamaan dengan dilaksanakannya Sipenmaru, sehingga dia tidak mungkin akan “mengambil kesempatan” untuk calon mahasiswa lain. Tidak ada wawancara berapa jumlah uang yang akan dibayarkan oleh orang tua.

Tidak lulus PMDK, hanya ada satu kesempatan lain lagi yang bisa dilakukan oleh calon mahasiswa PTN, bersaing dalam Sipenmaru.. Jika dia gagal pada tahun itu, dia masih bisa mengulangi tahun berikutnya.

Zaman telah berubah. Sistem penerimaan mahasiswa baru pun berubah. PMDK ekslusif hanya milik para murid yang memiliki ranking tinggi di sekolah. Selain itu, masih ada proses berikutnya: tawar menawar berapa jumlah uang yang akan dibayarkan oleh orang tua calon mahasiswa. Konon bahkan tiap-tiap fakultas telah memiliki jumlah minimal dimana orang tua murid diharapkan tidak menawar di bawah itu. Misal: di UGM untuk fakultas kedokteran, orang tua calon mahasiswa harus menyiapkan uang sejumlah minimal 80 juta rupiah, jumlah paling tinggi di antara fakultas-fakultas lain karena sampai sekarang fakultas kedokteran tetap merupakan jurusan yang terfavorit. (Hal ini berdasarkan wawancara yang kulakukan dengan seorang siswa di lembaga tempatku mengajar.)

Untuk jalur PMDK ini masing-masing PTN mengelolanya sendiri-sendiri. Demikian juga UM (Ujian Masuk). UGM yang merupakan PTN pelopor pelaksana UM ini, tidaklah “semata duitan” PTN lain. Jika di PTN lain, pertimbangan utama diterima atau tidaknya seorang calon mahasiswa melalui UM adalah jumlah uang sumbangan, sedangkan hasil tes tidak terlalu mempengaruhi, di UGM, jika hasil tes benar-benar bagus, sumbangan nol pun tetap bisa diterima. (Hal ini berdasarkan surat pembaca di Suara Merdeka 19 Juni 2007).

SPMB merupakan jalur tanpa sejumlah uang sumbangan tertentu yang harus dibayarkan oleh orang tua calon mahasiswa. Meskipun begitu, nampaknya kepopuleran SPMB semakin memudar karena para calon mahasiswa yang tidak begitu pede apakah mereka akan mampu menembusnya, mengingat masing-masing PTN telah mampu menjaring sejumlah calon mahasiswa melalui jalur PMDK dan UM, sehingga PTN hanya akan menerima sedikit jumlah calon mahasiswa, hanya untuk menutup kekurangan jumlah kursi yang ditawarkan. Selain itu, peminat SPMB jauh lebih tinggi dibandingkan jalur UM yang membuat persaingan amat ketat. Banyak siswa di lembaga tempatku mengajar yang menunjukkan ketidakpedeannya mengikuti SPMB karena ketatnya persaingan ini. SPMB hanya merupakan alternatif terakhir jika ternyata mereka tidak lulus UM.

Mengetahui perubahan jalur penerimaan calon mahasiswa di universitas negeri ini sangatlah penting bagiku, mengingat dua tahun lagi Angie akan berada di posisi itu.

Time does fly!!!

PT56 13.40 210607

No responses yet

Jun 21 2007

MEMILIH SEKOLAH

Published by afemaleguest under Current Affairs

Tahun ajaran 2006/2007 akan segera usai. Para orang tua mulai disibukken mencari sekolah buat anak-anaknya. Yang lulus TK, sibuk mencari SD, yang lulus SD, sibuk mencari SMP, yang lulus SMP, sibuk mencari SMA, yang lulus SMA, sebagian telah lulus Ujian Masuk yang telah diselenggarakan oleh beberapa universitas (misal UGM dan Undip), yang belum berharap-harap cemas menunggu SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Menurutku, para orang tua yang keuangannya pas-pasan, atau yah .. berlebih sedikit, akan berharap anaknya diterima di Universitas Negeri karena selain mutu yang tidak begitu mengecewakan, SPP juga tidaklah sememberatkan seperti universitas swasta dengan mutu yang lumayan bagus.

Tahun ini aku tidak disibukkan kegiatan mencari sekolah karena tahun lalulah aku sibuk menimbang-nimbang SMA mana yang akan dimasuki oleh Angie. Alhamdulillah Angie diterima di sekolah impianku (dan juga impiannya, SMA N 3 Semarang). Namun ada seorang rekan kerjaku yang anaknya akan masuk SD tahun ini. Hampir tiap hari tatkala kita berbincang di kantor, tak bosan-bosannya dia bercerita tentang TK tempat anaknya bersekolah yang mata duitan dan tidak memperhatikan mutu.

Dulu dia pernah bilang bahwa baginya untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu, demi pembentukan sifat dan mental seseorang, orang tua harus (dengan catatan jikalau mampu) menyekolahkan anaknya di TK yang bermutu dan agamis, karena pendidikan TK lah yang akan menjadi dasar bagi seseorang. Itu sebabnya dua tahun yang lalu dia memasukkan anaknya ke sebuah TK Islam yang lumayan terpandang di Semarang, yang terletak tepat di pusat kota Semarang. Biaya masuk dan SPP bulanan yang lumayan mahal (bagi kantong seorang guru, bukan seorang pengusaha atau pegawai kantoran kelas atas) tidak menghalanginya asal anaknya mendapatkan pendidikan dasar yang, well, diharapkannya bermutu dan agamis.

Namun, apakah dia mendapatkan apa yang dia harapkan dan impikan?

“Masak sekolah Islam kok tidak mengajari murid-muridnya mengaji?” komplainnya satu kali.

Memang sangatlah mengherankan, meskipun kemampuan untuk mengaji ini menurutku tidak bisa orang tua mempasrahkannya kepada pihak sekolah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Waktu Angie masih duduk di bangku TK, aku telah memperkenalkannya dengan huruf-huruf Arab dengan mengajarinya membaca QIRAATI atau yang sejenis itu yang kita (di Indonesia) kenal sebagai IQRA. Sehingga ketika di sekolah Angie belajar membaca huruf Arab dari guru-gurunya, Angie tak lagi merasa asing.

Kebetulan waktu itu Angie kumasukkan ke TK Islam, yang masih termasuk kategori sekolah baru didirikan di tahun 1995 itu. Ada dua alasan kuat mengapa Angie kumasukkan di sekolah itu dan tidak di TK Islam yang sudah terkenal yang terletak di pusat kota Semarang itu. Alasan pertama: karena masih sekolah baru, biaya masuk dan SPP bulanan tentu tidak semahal di TK Islam yang telah terkenal tersebut. Alasan kedua: sekolah baru ini terletak dekat dengan rumah, sekitar 300m.

Tatkala Angie duduk di bangku TK, belajar membaca huruf Arab termasuk salah satu pelajaran wajib di sekolah. Sedangkan di TK Islam terkenal dimana temanku menyekolahkan anak sulungnya, membaca huruf Arab merupakan kegiatan ekstra kurikuler. Sekolah mengundang guru mengaji. Satu orang guru mengaji akan mengajari sekelompok anak, dan orang tua anak-anak itu harus iuran untuk membayar guru mengaji tersebut.

Salah satu contoh komersil sekolah swasta menurutku. Istilah yang dipakai adalah “Sekolah membantu para orang tua mencarikan guru mengaji untuk anak-anaknya.” Istilah lainnya, sekolah memiliki bisnis sampingan. Menurutku. Juga menurut temanku itu.

Tatkala aku bertanya apakah orang tua murid lain juga mengeluhkan hal yang sama dengannya, temanku bilang, “Nampaknya tidak. Mereka semua orang kaya yang uangnya berlebih. Tentu mereka tidak keberatan mengeluarkan uang tambahan tiap bulan untuk itu.” BACA è bagi orang miskin jangan bermimpi untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta mahal karena memimpikan pendidikan yang bermutu untuk anak-anaknya.

Komplain lain lagi dari temanku adalah tidak adanya kurikulum yang jelas di sekolah. Hal ini dia simpulkan dari jawaban sang guru kelas, “Ya kita lihat saja nanti Pak…” tatkala temanku bertanya kepadanya, “Outputnya nanti diharapkan anak-anak bisa mencapai apa/melakukan apa di akhir semester?”

Selain itu tidak adanya kerjasama antar guru kelas untuk melakukan satu kegiatan setiap hari. Ada empat kelas dengan empat guru yang berbeda. Di satu kelas yang gurunya kreatif menciptakan kegiatan tertentu pada hari-hari tertentu, para murid di kelas itupun akan ikut kreatif belajar melakukan ini itu. Di tiga kelas lain mungkin saja tidak melakukan apa-apa kecuali melanjutkan aktifitas yang belum selesai di hari-hari sebelumnya. Ketika temanku bertanya kepada anaknya, “Kok hari ini kamu menggambar pemandangan lagi?” anaknya menjawab, “Kemarin belum selesai. Ya hari ini dilanjutkan.” Jawaban yang menunjukkan tidak adanya tujuan yang jelas apa yang diharapkan dari anak-anak. Mungkin para guru akan merasa senang tatkala anak-anak belum selesai melakukan satu kegiatan di satu hari sehingga keesokan hari sang guru tak perlu repot mempersiapkan kegiatan apa yang akan dilakukan di kelas.

Kecenderungan sekolah “memanfaatkan” para orang tua yang kebetulan kaya (BACA è memiliki mobil) juga terlihat dari beberapa kegiatan yang mengharuskan anak-anak keluar sekolah. Beberapa kali pihak sekolah memberikan alasan, “Karena mobil sekolah tidak ber-AC” atau “Mobil sekolah sedang rusak” untuk kemudian meminta para orang tua murid untuk meminjamkan mobilnya untuk mengangkut anak-anak ke satu tempat, misal: museum.

Jika memang kegiatan keluar sekolah ini telah menjadi agenda rutin dari pihak sekolah, dan masuk dalam kurikulum, seharusnya sekolah selalu siap dengan armada angkutan yang akan membawa anak-anak ke lokasi tersebut.

Puncak kekecewaan temanku adalah tatkala acara perpisahan/pelepasan kemarin. Setiap anak dimintai iuran Rp. 100.000,00. Dengan jumlah uang yang cukup besar ini temanku mengharapkan paling tidak konsumsi yang pantas untuk orang tua murid dan para murid. Namun ternyata tidak. Yang dia dapati hanyalah snack sekedarnya. “Kemana uang yang Rp. 100.000,00 itu?” tanya temanku pada para orang tua murid lain.

“Oh, uang itu dipakai untuk membuat seragam baru para guru agar mereka memakai seragam baru di hari perpisahan ini. Juga untuk memberikan kenang-kenangan kepada para guru, masing-masing guru menerima cincin emas sebesar 2 gram. Dan hal ini telah berlaku selama bertahun-tahun.”

Dan, sekali lagi, bagi para orang tua yang kebanyakan orang kaya, tak satupun komplain. Hanya temanku yang mengeluh.

Satu peringatan bagi orang tua yang tidak memiliki uang berlebih, telitilah sebelum memilih sekolah untuk anak-anak.

PT56 12.42 210607

No responses yet

Jun 21 2007

IPA - IPS - BAHASA

Published by afemaleguest under Angie

Aku tidak tahu apa yang menggayuti pikiran Guru Wali Kelas Angie tatkala dia berbicara basa basi sejenak kepada orang tua murid yang akan mengambil raport, hasil belajar anak-anaknya selama satu semester. Kalimat pertama yang dia ucapkan adalah, “Maafkan saya Bapak-Bapak…” (mana dia ga nyebut Ibu-Ibu lagi. Grogi kali dia ya? LOL.)

Ada apakah gerangan sehingga belum apa-apa Guru Wali Kelas itu harus meminta maaf kepada orang tua murid?

Ternyata dia memberi alasan karena tidak semua siswa kelas X-9 itu naik kelas dan masuk jurusan IPA. Seperti pertemuan pihak sekolah dan orang tua siswa tanggal 21 Februari 2007 lalu, Guru Wali Kelas mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah bahwasanya karena input yang kurang bagus tahun ini, dengan jumlah NEM yang sangat bervariasi, SMAN 3 Semarang terpaksa membuka jurusan BAHASA yang telah sekian lama tidak dibuka. Hal ini secara tidak langsung memberitahu kita bahwa jurusan BAHASA dianggap jurusan sampah.

Sebagai seorang alumni jurusan BAHASA SMA N 3 Semarang aku merasa tersinggung. Well, tidak melulu kepada cara berbicara Guru Wali Kelas itu, maupun apa yang dikemukakan oleh Kepala Sekolah bulan Februari lalu. Namun terutama kepada masyarakat kita yang tetap saja mengkotak-kotakkan pendidikan.

IPA è pintar

IPS è kurang pintar

BAHASA è bodoh

Padahal semua itu berhubungan dengan sistem motorik otak kanan dan otak kiri. Otak sebelah manakah yang bekerja dengan lebih giat yang akan menentukan apakah seseorang lebih berbakat untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan IPA, IPS, maupun BAHASA.

Aku datang untuk mengambil raport Angie dan merasa siap dengan segala hasil yang akan aku terima. Aku memang termasuk orang tua yang sangat demokratis, menyerahkan segala pilihan kepada anak. Angie sendiri yang ingin masuk ke IPA dengan alasan yang dia sendiri yang tahu pasti. Jikalau hasil test Angie (yang kebanyakan hafalan doang, maklum sistem pendidikan di Indonesia kan memang begitu?) dianggap tidak memadai masuk IPA, karena mungkin sistem motorik otak kanannya lebih aktif, aku yang akan menghiburnya untuk menerimanya dengan lapang dada. So, tidak perlu seorang Guru Wali Kelas meminta maaf kepada orang tua murid.

Tapi aku paham bahwa tidak semua orang tua murid memiliki jalan berpikir sehat sepertiku. LOL. So, aku anggap saja permintaan maaf Guru Wali Kelas itu ditujukan kepada orang tua murid yang belum sadar bahwa anaknya bukan miliknya seutuhnya, sehingga dia tidak terlalu berhak untuk mencampuri segala macam urusan sang anak. LOL. LOL.

Dan, memang, selama menunggu giliranku menghadap Guru Wali Kelas, aku mendapati (overheard, maklum tempat dudukku cukup dekat dari meja guru) beberapa orang tua murid yang masih saja ingin mencoba merayu agar anaknya bisa pindah ke jurusan IPA.

Menyedihkan.

PT56 11.30 220607

No responses yet

Jun 21 2007

HARI TERIMA RAPORT

Published by afemaleguest under Angie

Aku tak menyangka bahwa Angie begitu nervous-nya menunggu hari ini, 22 Jun. 07. Pertama: dia begitu khawatir bahwa dia tidak akan naik kelas karena standard nilai yang cukup tinggi untuk masing-masing bidang studi di sekolahnya, SMA N 3 Semarang, yakni 75. Waktu penerimaan raport semester ganjil kemarin, guru wali kelasnya telah mengumumkan bahwa untuk naik kelas, nilai yang masih bisa ditolerir yaitu jika ada maksimal 3 mata pelajaran yang nilainya masih di bawah 75. Lebih dari itu, seorang siswa akan tinggal kelas.

Kedua: jika dia naik kelas, Angie sendiri kurang yakin akan kemampuannya apakah dia akan masuk ke jurusan IPA. Seperti yang telah kutulis di blog beberapa minggu lalu, Angie ingin masuk jurusan IPA karena dia ingin melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi setelah lulus SMA nanti. Dan syarat utama untuk melanjutkan ke Fakultas Psikologi seorang calon mahasiswa harus lulus dari jurusan IPA.

Aku sendiri tentu tidak nervous, tidur tetap nyenyak, makan pun tetap terasa enak. LOL.

Namun semalam tatkala Angie bilang, “Ma … Angie deg-degan nih besok terima raport. Angie sudah mimpi beberapa kali Angie tinggal kelas.” Aku jadi begitu kasihan melihatnya. Aku ingin ikut merasakan keresahan yang telah melandanya sejak usai Ujian Blog Akhir Semester beberapa minggu lalu. Namun toh aku tetap saja tidak merasa resah dan gelisah. J

Pagi tadi aku masih sempat kabur ke Paradise Club untuk berfitness sejenak, kurang lebih satu jam. Setelah itu aku baru mempersiapkan diri berangkat ke sekolah Angie. Angie sendiri masih molor tatkala aku pulang dari PC. (memang jagoan molor kok dia. LOL.)

Aku sampai di kelas Angie, X-9 yang terletak di lantai dua gedung sayap kanan dari gedung utama SMA N 3 kurang lebih pukul 09.10. Sudah ada lebih dari 20 orang tua murid yang duduk di dalam ruangan. Setelah basa-basi sejenak dari Guru Wali Kelas, mulailah satu per satu orang tua murid menghadap untuk menerima raport.

Aku yang merasa tidak datang paling awal, meskipun duduk di kursi paling depan, aku tidak serta merta langsung ikutan berebut untuk menghadap untuk segera menerima raport. Sekitar pukul 09.40 ada miscall di hape. Waktu kulihat, ternyata Angie. Oh well, mungkin dia sudah semakin nervous. Saat itu ternyata aku ikutan nervous. Apalagi dua orang yang duduk di belakangku saling berbisik, “Kok jadi ikut merasa tegang yah? Padahal anakku masuk jurusan apa aja ga masalah bagiku. Mengapa juga harus memaksakan diri masuk IPA kalau si anak tidak mampu?”

Berdasarkan perasaanku yang ikut tegang, aku jadi mulai ambil ancang-ancang untuk ikut segera berebut maju ke depan. LOL.

Tak lama kemudian, aku mendapatkan kesempatan itu.

Setelah berbasa-basi sejenak, Guru Wali Kelas menyerahkan raport Angie, aku menjabat tangannya, dan segera keluar ruangan.

Mengetahui bahwa Angie sudah begitu ingin tahu hasil belajarnya selama satu semester ini, aku langsung sms ke dia.

“You got what you wanted honey, PROMOTED TO THE ELEVENTH GRADE è IPA!!!

Congrat! Luv you.”

PT56 10.55 220607

No responses yet

Jun 20 2007

My Blog

Published by afemaleguest under Weblogs

Sudah beberapa bulan aku tidak begitu memperhatikan statistik blog ku yang beralamat di http://afemaleguest.blog.co.uk

Aku tetap memiliki pengunjung setia di blogku yang satu ini, meskipun semenjak Phillip mundur dari blogging beberapa bulan lalu, aku kehilangan komentator yang paling rajin. :) Padahal dari Phillip lah aku belajar banyak tentang kultur di western, terutama di Inggris tempat tinggal Phillip, dari diskusi kita atas postinganku.

Bulan ini, tiba-tiba pengunjung blogku melonjak dengan tajam. Ada blogger baru yang baru saja menemukan blogku, dan amazed dengan tulisan-tulisanku di situ? Well, tentu saja aku senang dan cukup berbangga diri dengan hal ini. Namun tentu aku sebenarnya pengen juga tahu siapa ya yang "baru saja menemukanku" itu? Dan artikel-artikel yang mana saja yang menarik baginya? Kan ga mungkin kalau semua artikel menarik? (dasar si Nana kadang ga pede juga, huehehehe …)

Di bawah ini statistik blog ku:

Days of current month

Date Total Pageviews Total Visitors
06/20/07 411 45
06/19/07 159 107
06/18/07 149 93
06/17/07 132 83
06/16/07 125 87
06/15/07 98 72
06/14/07 508 86
06/13/07 78 65
06/12/07 112 77
06/11/07 129 70
06/10/07 586 185
06/09/07 80 63
06/08/07 116 83
06/07/07 299 147
06/06/07 137 93
06/05/07 168 84
06/04/07 192 87
06/03/07 70 54
06/02/07 98 72
06/01/07 57 40

Bandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya:

Monthly history

Month Total Pageviews Total Visitors
May 2007 2516 1308
April 2007 2803 1242
March 2007 3637 1705
February 2007 3481 1596
January 2007 2733 1453
December 2006 4656 1377
November 2006 3991 1460
October 2006 3313 1265
September 2006 3304 804
August 2006 3886 1076
July 2006 3428 1044
June 2006 2721 709
May 2006 2555 603
April 2006 577 273
March 2006 512 237
February 2006 176 95
January 2006 63 36
December 2005 3 3

Sayangnya blog ku yang kukomersilkan sejak bulan April kemarin, yang beralamat di http://afeministblog.blogspot.com belumlah seterkenal blog yang domainnya di www.blog.co.uk di atas.

Aku masih berusaha mencari cara lain lagi untuk promosi blogku yang kukomersilkan itu, selain promosi lewat milis. Dan seperti biasa, kata Abangku, aku agak lelet dalam hal ini, karena terlalu membiasakan diri asik melakukan hal-hal yang lain, such as yah nulis untuk blog, dan juga akses internet yang beberapa hari terakhir ini SUPER LELET di warnet langgananku. Super sedih pokoknya kalo warnet satu itu akses jadi lelet.

Ga kebayang deh kalau aku berada di kota Abangku dimana dia tinggal sekarang. Begitu terpananya aku dengan akses yang super cepat, mungkin aku bisa ngenet berhari-hari tanpa istirahat. Tahu-tahu, BLUGGG!!! jatuh pingsan deh karena kelelahan. Wakakakaka …

K-NET 20.50 200607

One response so far

Jun 18 2007

FANATIC

Published by afemaleguest under daily

Lovely poem, a comment of my post FANATIC, in my blog http://afemaleguest.blog.co.uk from one blog friend of mine, Uncle Frank from India

All fanatics,
Should be barred in attics,
There they can indulge in their antics,
Hysterics,
And anything else they wish to,
They have nothing better to do,
They cannot change their mind,
Because they are blind,
To the good that is around them,
They can’t distinguish a rose from its leaves and stem,
You are not a fanatic feminist,
Else you would have shown us your fist,
You are a concerned Muslim woman,
And we as men,
Should realize that,
And when you pass by doff our hat!
In praise to you,
For you know just what you should do,
You heart is true,
So what is there for us to rue?

KPDE 20.53 180607

No responses yet

« Prev - Next »