Archive for June, 2007

Jun 30 2007

Time Machine

Published by afemaleguest under daily

TIME MACHINE

 

Percayakah kamu
dengan kemampuan manusia untuk menciptakan mesin waktu?

Berikut ini adalah
obrolanku dengan Abang.

Nana: “Tadi nonton film apaan Bang?”

Abang: “TIME MACHINE.”

Nana: “Wah … asik dong Bang. Kita
berselancar yuk ke zaman-zaman dahulu?”

Abang: “Emang kamu percaya hal begituan?”

Nana: “Well, not really sih. tapi asik ajalah
kalo bayangin bisa kembali ke masa lampau, yah, ngelongok ke masa ini sedikit,
ke masa itu sedikit, kesana kemari sebentar.”

Abang: “Yah, kalo cuma untuk berfantasi ria
sih ayo aja.”

Nana: “Aku pengen ngelongok ke era waktu
Borobudur dibuat!!! Aku juga pengen liat taman gantung Babilonia. Seperti
apakah indahnya taman yang sampai sekarang ini tetap dikenal sebagai taman yang
super indah? Apakah memang benar-benar indah seperti yang ktia bayangkan
sebagai orang yang hidup di abad 21??

Abang: “Aku ingin liat saat kamu dilahirkan,
juga waktu kamu ngelahirin Angie.”

Nana: “Weleh, emang Abang bayangin aku seperti
apa waktu dilahirkan dan juga ngelahirin Angie?”

Abang: “Nah itu dia, aku ga bisa bayangin.
Makanya aku pengen liat!”

Nana: “Ah Abang nih, ada-ada aja!!!”

Abang: “Aku juga
pengen liat Perang Dunia ! dan !!.”

Nana: “Ye Abang. Kenapa Abang pengennya liat
zaman-zaman yang ga terlalu jauh dari sekarang? Aku justru pengennya liat
zaman-zaman duluuuuuuuuuuuu sekali. Seperti apakah perempuan di zaman manusia
masih nomaden? Tatkala laki-laki dan perempuan setara dan tidak
dikotak-kotakkan sebagai makhluk publik dan makhluk domestik? Tatkala perempuan
menemukan caranya bercocok-tanam? Hingga bagaimana prosesnya karena perempuan
yang menemukan cara bercocok-tanam, sehingga menandakan hampir berakhirnya masa
nomaden, namun justru karena itu pulalah perempuan mulai didomestikasi!”

Abang: “Oh? Zaman yang duluuuuuuuuuuuu sekali?
Well, aku ingin liat Cleopatra telanjang! Bagaimanakah rupa perempuan yang
sangat terkenal itu?”

Nana: “Ya ya ya … apakah Cleopatra
benar-benar seperti yang digambarkan orang-orang sekarang? Seperti apakah
masyarakat menggambarkan kecantikan seorang perempuan pada saat itu?”

Abang: “That’s it!”

Nana: “Tapi, kenapa dia harus telanjang
Bang?”

Abang: “Ya asik ajalah bayangin dia
telanjang!”

Nana: “Wakakakakakaka …”

(Sssstttt … bukan
alasan yang cerdas bukan? Hahahahaha … Kenapa dia ga bilang aja kalo dia itu
lelaki “normal” yang penasaran ngeliat perempuan telanjang? Huahahahahahaha …
You know what? Karena di mataku dia agak kurang “normal” untuk masalah “yang
satu ini” huehehehehehe… karena itulah aku sering mengatakan padanya untuk
memasukkannya ke dalam museum khusus. LOL. LOL. LOL.)

Abang: “Sssshhhh!!! By the way, film itu
mengatakan bahwa sejarah itu tidak bisa diubah!”

Nana: “Hmmm … bahwa kalau pun kita bisa
kembali lagi ke masa dahulu kala, dan mengulangi segalanya dari mula, akhirnya
perempuan toh tetap saja akan mengalami marginalisasi setelah penemuan cara
bercocok tanam itu?”

Abang: “Iya! Perkembangan zaman sudah seperti
itu Nana. Kamu jangan sok menjadi yang paling Maha Kuasa untuk mengubah zaman
menjadi matriarki.”

Nana: “Jangan sok tahu dong Bang! Sebagai
feminis aku bukannya pengen kultur patriarki ini menjadi matriarki, dimana
kemudian perempuanlah yang memarginalisasi laki-laki. ENGGA. Sebagai feminis
aku menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan bukannya balas
dendam. Abang toh tahu juga bahwa dalam kultur patriarki pun banyak laki-laki
yang menjadi korban, meskipun tidak sebanyak perempuan.”

Abang: “Laki-laki menjadi korban dalam kultur
patriarki? Thats definitely NOT ME.”

Nana: ”I know that’s definitely NOT YOU,
Abangku yang sok arogan!”

Abang: “Waduh, sekarang aku dituduh orang yang
arogan deh!
L L

Nana: “You know what? To some people, terlalu
pede bisa menjadi sombong.”

Abang: “Memang aku pede kok. That’s not my
mistake! Tapi aku bukan orang yang sombong! Weks! :-P”

Nana: “Btw, kembali ke laptop. Eh, kembali ke
masalah mesin waktu.”

Abang: “Kamu tahu ga Na, sekarang jargon
‘kembali ke laptop’ udah katrok!”

Nana: “Wakakakakaka … my quick learner
Abang. Barusan kemarin belajar istilah katrok dari Yuli Holland, sekarang Abang
sudah fasih menirukannya. Hahahaha …”

Abang: “That’s definitely me, a quick learner.”

Nana: “Halah!!!”

Abang: “[-( [-(“

Nana: “Abang tahu ga di TVRI dulu ada film
seri yang berjudul “TIME TUNNEL, sejenis time machine gitu deh?”

Abang: “Ya, tapi aku ga begitu suka. :-o :-o”

Nana: “Kalau FRIDAY THE 13th?”

Abang: “Tahu juga. Dan sama, aku juga ga
begitu suka film seri itu. Film yang khayali begitu ga menarik bagiku, kecuali
kalau pembuatannya canggih, seperti MATRIX tuh. Kamu tahu MATRIX ga?”

Nana: “Tahu sih, tapi belum nonton. Dan
kayaknya aku juga ga begitu tertarik untuk nonton. Untuk “TIME MACHINE” well
mungkin entar aku mau sewa VCD nya. Pengen liat apa sih yang Abang liat di
situ. Kalau tertarik mungkin entar aku mau juga nulis reviewnya karena aku
selalu tertarik untuk membayangkan kembali ke masa lalu.”

Abang: “Kalau kembali itu ya ke masa lalu dong
Non. Masak ke masa depan?”

Nana: “Loh Bang, kan ada tuh film yang
berjudul BACK TO THE FUTURE? Yang main si imut Michael J. Fox?”

Abang: “Ga suka. :-o :-o”

Nana: ”Di film itu, sama dengan salah satu
atau dua episode dalam film seri FRIDAY THE 13th, kalau kita kembali ke masa
lalu, dan kemudian terjadi sesuatu yang mengubah satu kejadian, maka sejarah
akan berubah.”

Abang: “Ga percaya. :-o :-o :-o”

Nana: “Hahahaha … tahu ga Bang, aku suka
banget ngeliat emoticon di atas yang nunjukin Abang sedang geleng-geleng kepala
gitu. Imut banget, euy! Kalau Abang geleng-geleng kepala, beneran imut gitu ga?
Hahahahaha …”

Abang: “Ya kamu kesini dong!”

Nana: “Pinjam pintu ajaibnya Doraemon dulu
yah Bang?”

Abang: “Kayak apaan tuh pintu ajaibnya Doraemon?”

Nana: “Yah pintu yang bisa membawa kita pergi
kemana aja dalam satu kali kedipan mata.
J

Abang: “Ah, apalagi tuh? Ga percaya!”

Nana: “Yee … Abang, namanya juga imajinasi.
Weks! :-P”

Dan … “chatting”
yang kutulis di atas pun murni hasil imajinasiku yang melibatkan Abangku
seorang sebagai salah satu tokoh imajiner dalam tulisan ini. wakakakakaka …

PT56 08.30 290607

No responses yet

Jun 30 2007

Semarang Pesona Asia

Published by afemaleguest under Current Affairs

Program SPA ini telah cukup lama digulirkan oleh Wali Kota Semarang,
Sukawi Sutarip, namun aku sendiri kurang begitu tertarik dengannya.
Bukan karena aku tidak mencintai kota kelahiranku ini, melainkan karena
aku sendiri pesimis dengan ide utama program tersebut, bahwa Semarang
diharapkan untuk menjadi pesona Asia. ASIA? Di seluruh Indonesia
sendiri saja belum tentu. :(
Namun tatkala mbak Omie menyatakan
keinginannya untuk berkunjung ke kotaku, dan bertanya, “Kalau aku ke
Semarang, aku akan kamu ajak kemana Na?” aku mulai berpikir apa sih
yang bisa kupamerkan di kota Lumpia ini?
Pertanyaan itu
mengingatkanku beberapa tempat yang kukunjungi bersama kakak adik plus
Angie selama libur Lebaran tahun lalu: Vihara Buddhagaya (yang kayaknya
waktu kukunjungi bulan Oktober 2006 lalu bernama Avalokitasvara),
Masjid Agung Jawa Tengah, dan Pantai Marina. Selain tiga tempat itu,
tentu mbak Omie bisa kuajak berkunjung ke Gedung Batu Sam Po Kong yang
memang sejak dulu telah terkenal.
Well, mungkin Semarang tidak
seeksotis Yogya yang memiliki Malioboro, Kraton dan pantai-pantai
berpasir putih, seperti Pantai Samas maupun Parangtritis. Namun
Semarang cukup memiliki beberapa tempat yang bisa menarik minat turis
datang ke Semarang. Sedangkan bagi teman-temanku yang tersebar di
berbagai benua, yah … bertemu dengan Nana pun sudah sangat
menyenangkan. Wakakakaka …
Hal-hal tersebut di ataslah yang ada di
benakku tatkala beberapa minggu lalu Inne, salah satu siswa Advanced 4,
datang kepadaku dan menyodorkan proposal paper dengan topik SEMARANG
PESONA ASIA. Aku langsung menyambutnya dengan antusias.
Beberapa
alasan yang membuat Semarang memiliki karakteristik yang berbeda
dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia adalah:
1. Semarang terletak di satu daerah yang permukaannya dapat dibagi menjadi dua: kawasan atas dan kawasan bawah.
Dari daerah atas yang kadang dikenal sebagai kawasan “Candi”, kita bisa
melihat Semarang kawasan bawah dan mendapatkan pemandangan yang sangat
menakjubkan. Apalagi tatkala kita memandang kota Semarang bagian bawah
dari kawasan “Candi” di malam hari, kita akan disuguhi pemandangan yang
sangat indah dengan berjuta kerlap kerlip lampu di kejauhan.
2. Bangunan-bangunan yang menunjukkan bahwa Semarang merupakan kota damai dengan berbagai agama yang dianut oleh penduduknya.
a. Masjid Agung Jawa Tengah
Tentu
saja MAJT bukan satu-satunya masjid agung (besar) yang ada di kota
Semarang. Justru MAJT adalah satu masjid terbesar yang paling baru
dibangun. Kelebihan masjid ini dibandingkan dengan Masjid lain, misal
Masjid Kauman yang merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda, ada
pada menara yang cukup tinggi, mencapai 60 m. Di musim liburan, MAJT
cukup menarik pengunjung yang ingin naik ke menara untuk melihat kota
Semarang dari ketinggian.

b. Gedung Batu Sam Po Kong
Kuil
yang semula merupakan masjid ini dibangun oleh Laksamana Cheng Ho dari
Tiongkok yang dalam perjalanannya keliling dunia mampir di daerah
Simongan. Setelah dipugar beberapa kali, GB SPK merupakan klenteng yang
konon paling besar di seluruh Asia Tenggara. Replika kapal yang dinaiki
oleh Laksamana Cheng Ho dan pohon-pohon besar dimana akarnya
bergelantungan kesana kemari juga merupakan dua hal yang menarik orang
untuk datang berkunjung ke GB SPK. Selain itu, keunikan GB SPK juga
terletak pada cukup bervariasinya agama yang dianut oleh para
pengunjung yang datang bukan hanya untuk berwisata namun juga untuk
ngalap berkah (mengharapkan rejeki) dari Yang Di Atas. Mereka datang
pada hari-hari tertentu, misal malam Jumat Kliwon.

c. Gereja Blenduk
Gereja
yang kubahnya seperti mangkok terbalik ini (blenduk dalam boso Jowo
bisa diartikan menggelembung) merupakan peninggalan zaman kolonial
Belanda. Terletak di kawasan yang dikenal sebagai Kota Lama, Gereja
Blenduk merupakan salah satu gedung yang harus dikonservasi agar tetap
terjaga untuk mengingat sejarah masa lalu.
Selain Gereja Blenduk
tentu saja masih ada gereja-gereja lain yang juga merupakan peninggalan
Belanda, seperti Gereja Gedangan yang terletak di kawasan Kaliwiru.

d. Vihara Buddhagaya
Vihara
ini terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Semarang dan
Ungaran, salah kota kecil yang terletak di Kabupaten Semarang. Vihara
ini selain dipakai untuk beribadah umat Buddha, juga merupakan salah
satu tempat wisata.

3. Bangunan-bangunan yang memiliki nilai historis.
a. Lawang Sewu
Bangunan
yang disebut Lawang Sewu (Pintu Seribu) ini memiliki banyak pintu yang
konon jumlahnya mencapai seribu. Lawang Sewu juga merupakan peninggalan
Belanda. Di ruang bawah tanah terdapat banyak ruang-ruang sempit yang
di zaman dulu dipakai untuk penjara.

b. Tugumuda
Tugumuda
merupakan satu tugu yang terletak di pusat kota, dibangun untuk
memperingati para kaum muda yang meninggal dalam perang melawan
Belanda.

c. Museum Mandala Krida dan Ronggowarsito
Museum
sangat berguna untuk menyimpan benda-benda bersejarah, untuk
mempelajari masa lalu, terutama bagi anak-anak, maupun turis yang ingin
mengetahui sejarah satu tempat.
d. Beberapa gedung sekolah
Beberapa
gedung sekolah, misal SMA N 1 dan SMA N 3 Semarang merupakan dua gedung
yang dibangun semenjak zaman Belanda. Sampai sekarang kedua gedung
sekolah ini masih memiliki sebagian gedung asli peninggalan Belanda
selain gedung-gedung bangunan baru untuk pemekaran.

4. Tourist resorts
Selain
tempat-tempat yang telah disebutkan di atas, beberapa tempat yang bisa
dikunjungi oleh wisatawan adalah Maerokoco, dimana dibangun miniatur
Jawa Tengah, pantai Marina yang meskipun tidak berpasir putih memiliki
pemdangan yang cukup indah kala matahari terbit maupun tenggelam.
Sedikit
ke arah Selatan, kurang lebih 40 km dari pusat kota Semarang, turis
bisa berkunjung ke Bandungan dan Gedong Songo yang memiliki hawa sejuk
karena terletak di kaki gunung Ungaran. Di Gedong Songo turis bisa
berkeliling naik kuda, maupun hiking bagi mereka yang menyukai olah
raga jalan kaki sambil mengunjungi beberapa candi Hindu peninggalan
zaman dulu. Msekipun namanya Gedong Songo (Gedung Sembilan), sayangnya
hanya ada lima candi yang masih tersisa yang bisa dikunjungi karena
keempat candi yang lain telah hilang.

5. Shopping Places
Simpang
Lima, jantung kota Semarang, merupakan pusat perbelanjaan modern. Di
sini terdapat Mall Ciputra dan Plasa Semarang dengan berbagai macam
toko/gerai/outlet. Dari Simpang Lima, bisa ke arah Selatan, kurang
lebih 5km kita bisa berbelanja di Java Mall. Harus diakui bahwa
mall-mall yang terletak di kota Semarang jauh lebih kecil dibandingkan
mall-mall yang tersebar di Jakarta maupun Surabaya, namun tidak berarti
bahwa turis tidak bisa memuaskan keinginannya untuk berbelanja.
Untuk
pasar tradisional, pasar Johar yang terletak di Jl. KH Agus Salim,
kurang lebih 5km ke arah Utara dari Simpang Lima merupakan pasar
tradisional terbesar di Semarang. Pasar Johar juga merupakan
peninggalan Belanda. Tak jauh dari Pasar Johar terletak Masjid Besar
Kauman yang juga merupakan peninggalan Belanda.
Untuk berbelanja
makanan khas kota Semarang, turis bisa berkunjung ke Jalan Pandanaran,
pusat oleh-oleh makanan khas kota Semarang. Semarang terkenal dengan
tiga macam makanan khasnya yakni lumpia, wingko babat, dan bandeng
presto. Selain ketiga makanan khas Semarang tersebut, toko-toko di
Jalan Pandanaran juga menyediakan berbagai macam jajanan pasar khas
Semarang.

6. Akomodasi
Untuk
keperluan tinggal para turis, Semarang memiliki banyak pilihan hotel,
mulai dari hotel melati, sampai hotel bintang lima tersedia di kota
Semarang. Bagi para pebisnis, mungkin tinggal di Hotel Ciputra maupun
Hotel Grand Santika yang terletak tak jauh dari Simpang Lima merupakan
pilihan yang tepat. Bagi mereka yang menginginkan ketenangan bisa
memilih tinggal di Hotel Patrajasa maupun Hotel Grand Candi yang
terletak di kawasan atas.
Bila anda tertarik lebih jauh lagi
tentang program SEMARANG PESONA ASIA, kliklah website khusus itu di
www.semarangpesonaasia.com
PT56 16.55 290607

No responses yet

Jun 30 2007

Utopia 2

Published by afemaleguest under Current Affairs

Aku sedang membaca
beberapa file tempatku menyimpan artikel-artikel yang telah ku-post di blog
tatkala aku menemukan satu artikel yang kutulis setelah mendapatkan inspirasi
dari satu artikel dalam harian nasional berbahasa Inggris yang menyebutkan
“satu tempat tanpa adanya diskriminasi sosial hanyalah merupakan satu utopia
saja.”

Artikel ini mengingatkanku
pada satu email pendek yang kuterima dari seorang teman kuliah beberapa minggu
yang lalu. Dia bekerja di sebuah universitas swasta di satu kota kecil yang
terletak di Jawa Tengah. PTS ini milik salah satu organisasi massa Islam
terbesar di Indonesia. Temanku ini
mengeluh karena akhir-akhir ini tempat kerjanya mulai memberlakukan beberapa
peraturan yang menurutnya mulai mencampuri kehidupan pribadi pegawainya; misal:
para pegawai diwajibkan shalat Dzuhur di masjid kampus dan sebulan sekali harus
menghadiri acara pengajian yang dilaksanakan pada satu hari pukul 7 malam.
Selain itu, setiap fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Pusat organisasi massa
tersebut yang berlokasi di Jakarta harus diikuti oleh seluruh pegawai. Para
pegawai seolah tidak memiliki pilihan untuk melakukan apa yang mereka yakini
sebagai sesuatu yang “benar” karena segala sesuatu yang “benar” telah
ditetapkan oleh Majlis Pusat. Jika seorang pegawai tidak shalat Dzuhur di
masjid kampus atau tidak menghadiri acara pengajian, maka dia akan dipanggil
oleh atasan untuk kemudian diinterogasi.

Temanku ini, seorang
perempuan, bisa kukategorikan sebagai seseorang yang kritis terhadap apa yang
dia lihat dan alami, dan tidak begitu saja dengan mudah menerima apa-apa yang
di”jejal”kan kepadanya. Dia jarang mengikuti acara shalat Dzuhur di masjid
kampus, maupun menghadiri pengajian karena pada waktu itu dia mempunyai
kewajiban untuk mengajar. Dia bisa melihat dan menilai bahwa apa-apa yang
disampaikan dalam acara pengajian tersebut bermisi politik, maupun bertendensi
untuk mengajarkan doktrin-doktrin tertentu yang dikeluarkan oleh Majlis Pusat.
Di mataku, temanku ini merupakan seorang Muslim yang baik, memakai jilbab dalam
kesehariannya, shalat lima kali sehari, dan melakukan rukun Islam yang lain, bukan
sebagai hasil indoktrinasi yang lebih sering dipaksakan, namun merupakan hasil
pencarian spiritualnya atas satu Dzat yang serba Maha.

Dalam email
pendeknya, dia juga bercerita tentang seorang teman kerjanya yang baru saja
dikeluarkan dari kantor. Teman kerjanya tersebut tidak pernah menghadiri
pengajian yang diselenggarakan sebulan sekali, tidak melakukan apa-apa yang
difatwakan oleh Majlis Pusat (misal: tatkala hari Idul Fitri lalu tidak shalat
Ied pada hari yang telah ditentukan oleh Majlis Pusat). Tatkala dia dipanggil
oleh atasannya dan diinterogasi apakah dia bukan pengikut organisasi massa
Islam dimana PTS tersebut membawa
benderanya, dengan tegas dia menjawab, “Bukan.” Hasilnya? Sang atasan pun
berkata kepadanya, “Anda diberhentikan dari tugas anda di sini. Silakan mencari
pekerjaan di tempat lain.”

“Mengapa sebuah PTS
(ataupun perusahaan lain) menilai seorang pegawai bukan dari etos kerjanya
melainkan hanya dari bagaimana dia menjalankan aktifitas keagamaannya? Bukankah
yang paling berhak untuk menilai iman seseorang hanyalah Yang Di Atas sana? Dan
bukannya sesama manusia? Kita tidak bisa menilai ketaqwaan maupun iman
seseorang hanya dari bagaimana seseorang tersebut menjalankan aktifitas
keagamaannya. Hal tersebut bersifat sangat pribadi. Tuhan tidak akan berkurang
keperkasaan-Nya hanya karena seseorang tidak menghadiri acara pengajian maupun
shalat di masjid yang telah ditentukan.” Komplain temanku dalam emailnya.

Pada saat yang
bersamaan aku ingat kasus seorang teman yang kukenal pertama kali lewat dunia
maya. Beberapa bulan lalu dia bercerita bahwa dia dikeluarkan dari tempat
kerjanya karena dia satu-satunya pegawai yang non Muslim di kantornya. Berbeda
dengan kasus di atas, kantor tempatnya bekerja tidak secara terus terang
mengatakan padanya bahwa kasus pemberhentian tersebut dikarenakan alasan agama
melainkan karena perampingan jumlah pegawai demi keefektifan dan keefisiensian.

Aku juga ingat
kasusku sendiri. Beberapa bulan lalu aku diberhentikan dari PTS tempatku
bekerja karena aku adalah seorang pegawai Muslim. Beberapa tahun terakhir ini
telah terdengar selentingan yang mengatakan bahwa PTS tersebut akan mengubah
visinya menjadi Kampus yang berorientasikan ke Gereja Kristen (Church Campus).
PTS tersebut memang milik seseorang yang beretnis Cina dan memiliki profesi
sebagai seorang pendeta, yang kebetulan juga merupakan seorang pebisnis. Selain
itu aku juga tahu bahwa atasanku langsung, Dekan FBS yang juga memiliki profesi
sebagai seorang pendeta yang dahulu merupakan mahasiswaku merasa tidak nyaman
dengan keberadaanku di situ. Aku dianggap terlalu cerdas dan kritis di matanya.
Sama seperti kasus yang menimpa temanku di atas, Rektor berusaha menyembunyikan
alasan sebenarnya (diskriminasi agama).

Diskriminasi memang
terjadi dimana-mana. Diskriminasi terjadi tidak hanya kepada kaum perempuan di
kultur patriarki ini, namun juga terjadi antar etnik, antar agama, bahkan juga
terjadi dalam satu agama yang sama namun bergabung dengan kelompok
agama/organisasi massa yang berbeda.

PT56 14.25 290607

No responses yet

Jun 30 2007

Utopia 1

Published by afemaleguest under Current Affairs

“A place
without social discrimination would be utopia.”

Kalimat di atas merupakan salah satu pernyataan dalam
artikel yang berjudul “Being a Chinese-Indonesian” yang dimuat The Jakarta Post
tanggal 13 Juni 2006 halaman 6. Sang penulis artikel adalah seorang laki-laki
etnis Cina yang menikahi seorang perempuan pribumi.

Diskriminasi sosial terjadi dimana-mana dalam banyak
bentuk; misal diskriminasi terhadap orang-orang beretnis Cina di Indonesia, dan
diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam di Amerika.

Bebeapa minggu yang lalu aku membaca sebuah artikel yang
berisikan wawancara dengan seorang laki-laki beretnis Cina di salah satu
tabloid lokal. Dia berharap bahwa di masa depan tak ada lagi perlakuan
diskriminatif terhadap orang-orang beretnis Cina; misal mereka bisa menjadi
pegawai negeri, tak ada lagi proses yang berbelit-belit untuk memiliki sebuah
KTP, dll. Artikel tersebut memang khusus difokuskan pada diskriminasi sosial
terhadap orang-orang beretnis Cina di Indonesia. Sang narasumber yang
diwawancara seolah-olah menutup mata bahwa ada banyak perusahaan milik
orang-orang beretnis Cina di Indonesia yang memperlakukan pegawai-pegawainya
yang non Cina secara diskriminatif. Dan si jurnalis pun seolah-olah melupakan
adanya perlakuan diskriminatif balik terhadap orang-orang non Cina.

Namun, di dalam artikelnya yang berjudul “Being a Chinese
Indonesian”, Wijanto Hadipuro menggambarkan hal tersebut. Dia menulis bahwa
istrinya mendapatkan perlakuan yang diskriminatif di tempat kerjan; misal dia
mendapatkan gaji yang lebih rendah dibandingkan teman kerjanya yang beretnis
Cina meskipun istrinya bekerja lebih lama dan memiliki posisi manajerial yang
sama.

Hal ini mengingatkanku satu makalah yang dipresentasikan
oleh seorang teman kuliah dengan topik yang sama: diskriminasi sosial yang
diperlakukan terhadap orang-orang beretnis Cina di Indonesia. Teman kuliahku
ini kebetulan memiliki kulit berwarna kuning langsat dan mata sipit, dua
karakteristik yang biasa diasosiasikan milik orang-orang beretnis Cina meksipun
dia tidak memiliki darah keturunan Cina. Kebetulan pula dia bekerja di sebuah
instansi dimana banyak orang-orang beretnis Cina bekerja di sana. Dalam
makalahnya dia menyampaikan perlakuan diskriminatif terhadap rekan-rekan
kerjanya yang beretnis Cina, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah
Indonesia, sementara mungkin mereka merupakan generasi kelima atau lebih yang
lahir asli di Indonesia.

Saat mendengarkan presentasinya, Julie dan aku
mendiskusikan perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh orang-orang beretnis
Cina kepada kaum pribumi. Adik Julie menerima gaji yang lebih rendah daripada
rekan kerjanya yang beretnis Cina karena kebetulan dia bekerja di perusahaan
milik seseorang beretnis Cina; bagaimana mereka memperlakukan PRT (pekerja
rumah tangganya) yang kebanyakan kaum pribumi dengan buruk, meskipun tidak
semua, terkadang sama buruknya dengan perlakuan kaum kulit putih terhadap
budak-budak mereka yang berkulit hitam di zaman perbudakan di Amerika.

Sekitar tahun 1994-2000 aku bekerja di sebuah perusahaan
milik seorang pribumi beragama Islam. Ketika aku pertama kali diterima, aku
mendengar selentingan bahwa perusahaan mempunyai kebijakan hanya menerima
pegawai yang beragama Islam saja. Namun kenyataannya aku mendapati dua orang
rekan kerja yang beragama non Islam, dan aku bisa melihat dengan jelas betapa
tidak nyamannya mereka tatkala ada pertemuan, misalnya berbuka bersama di bulan
Ramadhan. Demikian juga sebaliknya, aku sering mendengar perusahaan swasta milik
seorang non Islam yang hanya mempekerjakan orang-orang non Islam. Seandainya
kebetulan ada orang Islam yang bekerja di sana, dia tidak akan memperoleh waktu
untuk melakukan kegiatan ritual keagamaannya, misal shalat di jam-jam kerja.
Bahkan mereka pun diwajibkan untuk mengikuti ritual keagamaan agama si pemilik
perusahaan, misal menghadiri misa tertentu.

Betapa aku menginginkan perlakuan diskriminatif ini
berakhir. Aku pun berharap masyarakat menghormati anggota masyarakat lain
sebagai sesama manusia, meskipun berbeda agama, berbeda warna kulit, juga
berbeda etnik, apalagi hanya berbeda jenis kelamin.

“Treat other people just like how you want other people
to treat you.”

PT56 09.20 290607

P.S.: artikel asli kuberi judul “Utopia” kutulis pada
tanggal 15 Juni 2006

No responses yet

Jun 28 2007

Rindu Tapi Benci

Published by afemaleguest under daily

“RINDU TAPI BENCI”

Kalimat di atas diucapkan oleh Abangku
beberapa minggu yang lalu tatkala dia terjebak kemacetan lalu lintas yang sudah
sangat jamak terjadi di kota kelahirannya, Jakarta. Karena sebal dengan macet
itu, dia sempatin telpon aku dan ngomel, bukan untuk ngomelin aku, tapi hanya
untuk meluapkan kekesalannya terhadap kota yang di awal bulan Apri lalu
terendam banjir yang sangat hebat, dan daerah Kelapa Gading dimana dia memiliki
rumah tempat dia bersinggah tatkala berkunjung ke Indonesia pun terendam banjir
cukup parah.

Namun ya itulah, jikalau dia berada di kota
tempat dia tinggal saat ini, yang terletak di bumi belahan Selatan, dimana
bulan Juni-Juli-Agustus ini sedang mengalami musim dingin, dia bakal kangen
berat dengan Jakarta.

Dan saat ini aku sedang kangen Yogya, kota
yang selalu kurindui tatkala aku berada di Semarang. Namun berbeda dengan Abang
yang suka ungkapan dalam lagu Diana Nasution itu, seingatku aku tak pernah
mengomel benci kepadanya.
J 

Musim liburan ini—both Angie and I are on
holiday together—benar-benar menyesakkan dada karena kerinduan yang tiba-tiba
menjadi tak tertahankan. Aku seperti seorang kekasih yang harus selalu menahan
keperihan di dada karena merindukan yang dikasihi yang sibuk melulu sehingga
tak punya waktu untuk dia luangkan untukku. Namun berbeda dengan seorang
kekasih yang karena sibuk sehingga tak punya waktu untukku, Yogyalah yang
menanti kedatanganku. Yogya tak akan pernah berlari menjauh dariku.

Dan aku ingat komentar seorang teman di
salah satu postingan blog dimana aku menulis “Aku Kangen Yogya”
=> “Tiada kata seindah AKU PULANG tatkala kerinduan itu datang.”

Ah …

PT56 07.25 280607

No responses yet

Jun 26 2007

Music Lover

Published by afemaleguest under Music

Listening Music at Home or Going to a Music Concert?

Are you a music lover?

Perhaps I can be categorized into the one who doesn’t really love music since I very rarely go to a music concert. (In case one requirement to be considered as a music lover is also love going to a music concert.)

When I was studying at bachelor’s degree (the time when my dad gave me pocket money for one month fully and I managed it by myself), I more often spent my spare money to buy books than cassette as far as I remember. I had one radio complete with tape recorder at that time. I could listen to the radio for various kinds of music, right? That was enough for me so that I didn’t really need to buy many cassettes. However, I was of opinion that for people who were really freak for music, they would spend much money for cassettes, (no CDs yet at that time), or to buy a good quality radio/tape recorder so that they could listen to really good music.

When I was studying at master’s degree at the first time. I had no radio, nor a computer yet. So, how did I entertain myself while hiding in my “nest” doing abundant assignments from campus? I sometimes just enjoyed listening to some music my “neighbors” staying next door of my room played in their radio/tape recorder. Or, yeah, sometimes I just sang some songs, and listened to my own voice. It was not about being narcissist of my voice, LOL, (because I was not really confident with my own voice), but just to avoid boredom, being all alone, “buried” under my assignments, no entertainment at all.

When I got some money to do research for my thesis, I used it to buy a computer set. A very generous workmate lent me lots of his CDs that happily I grabbed into the harddisk. It was the time when my life started to be full of music everyday. But, still I didn’t spend much money for that because I just borrowed my friends’ CDs. J

I just bought two CDs after that, Bryan Adams and Shania Twain’s. (Thrifty or stingy? LOL.) You know, as a bookworm, I spent more money to buy books.

Different from my Abang, he really loves music and doesn’t mind spending money for good CDs, etc. Knowing I love music too (I am a bit pessimistic if there is someone who doesn’t like music anyway), he sent me some CDs, on which he made very special ones, containing his favorite songs since he wanted to share them with me. He said, “You will not find these CDs anywhere else in the world although you are willing to spend much money for them because these were especially made for some special people for me.” To make those special CDs, he spent days and nights in the middle of his hectic schedule.

Not enough sending me those CDs, Abang also sent me MP4 player, hoping that I would always be able to access music anywhere I go. As I wrote in the blog around three weeks ago, he also sent me special earphones that produce amazing sound from the player. It was all because he loves music and he wanted me to enjoy the best music as he does!!!

I am wondering if he loves going to a music concert?

But I know he loves karaoke and feel confident with his voice. I love singing, without any karaoke equipment, but only for myself, or for lullaby when Angie was about to sleep when she was very little.

PT56 22.25 260607

No responses yet

Jun 26 2007

Perfectionist

Published by afemaleguest under daily

Am I a perfectionist?

I never thought like that until one day, around seven or eight years ago an (ex) workmate of mine said so about me. At that time I was busy typing some material to give my students at the office. After I printed it, I read the printout, found some mistakes (not really fatal mistyped though), I revised it, then printed it again. When the result of the printout was not really satisfying to me (perhaps the ink in some lines was not as thick as the others, or the margin was not really fit like what I wanted), I printed it again and again until I got the best result like what I wanted.

Seeing me busy like that, she commented, “You are really a perfectionist, huh?”

And I was dumbfounded because I never considered myself like that.

However, since then on I started to be alert to anything I did. I often found myself troubled when I mistyped. When I wrote in English, and realized I used a wrong diction, I would quickly revise it. When I was not really sure of one word, I would look up in the dictionary. However, I considered those things just common things. It didn’t really show that I was a perfectionist. That’s what I thought of myself.

Until the day I resumed my study. I found out that Julie was included into a lousy person for mistyping words, for not really good margins when typing, and she was not troubled at all with those things. How come?

Until the time for me to write my thesis, I always never felt ready to start writing it. I always felt that I lacked material. Feeling nervous when writing it, feeling not sure to write a good one, I always tried finding excuse for myself not to finish it soon. For example: I was waiting for some textbooks I ordered from America, I was also waiting for the comment from Prof Egan about the proposal of my thesis. I sent it to him although he already went back to New York one year before, to ask for his suggestion for betterment. At the same time, I also underwent difficult times in my private life.

I kept postponing writing my thesis.

Until I could not postpone it any longer due to financial constraint I got (no more allowance from the scholarship!!! LOL.) I had to force myself to finish it soon.

Meantime I found an article stating that one main characteristic of a perfectionist was being a procrastinator. Feeling worried not to do his/her best, a perfectionist keeps postponing doing his/her assignment until due. After he/she has no time to postpone it anymore, he/she will be forced to do his/her assignment. When he/she doesn’t produce the best one, he/she will have the best excuse, “Not enough time to do the assignment.”

Huh!!! Annoying, right? LOL.

PT56 21.40 260607

No responses yet

Jun 26 2007

Angie Libur

Published by afemaleguest under Angie

Angie libur sekolah. Kali ini berbeda dengan libur yang dia dapatkan bulan Mei kemarin lantaran kakak kelasnya ujian. Dia libur setelah menerima raport kenaikan kelas. Apa yang membuatnya berbeda?

Pertama, kali ini tentu saja liburnya lebih panjang ketimbang bulan Mei kemarin.

Kedua, mengingat Angie baru saja naik kelas dan masuk jurusan yang dia harapkan, entah mengapa aku menjadi merasa ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya senang. Yah, misalnya berlibur kemana kek. Atau kalau tidak mengajaknya berlibur, mengajaknya melakukan sesuatu yang akan membuatnya senang. Well, seperti kebanyakan orang tua lain, aku pun selalu ingin membuat anak semata wayangku itu senang. Apalagi aku pun minggu ini libur dari tempat kerjaku.

So, tunggu apa lagi? Pergi aja berlibur toh? Misal, ke Yogya, kota kedua yang kucintai di Indonesia ini. Apalagi menurut kabar yang kubaca di koran, Yogya telah memiliki tempat wisata baru, entah apa namanya aku lupa. Pengunjung bisa merasakan bagaimana rasanya berada di suatu tempat yang bersalju. Nah, salju di Yogya? Jelas tidak mungkin bukan?

Bagi orang yang punya duit berlebih masalah berlibur ke luar kota tentulah tidak akan membuat orang itu repot mikir, sampai perlu pusing tujuh keliling. Lah aku???

Aku harus menelan ludahku sendiri. LOL.

Dan memang rencana ini hanya berhenti di pikiranku. Belum pernah aku lontarkan ke Angie. Yah, karena aku ga yakin apakah aku bisa mengajaknya berlibur ke Yogya di musim liburan kali ini. Padahal timingnya tepat banget. Dibandingin tahun lalu, misalnya. Setelah bersenang-senang Angie lulus  SMP dengan nilai yang tidak mengecewakan, aku dan Angie harus berburu SMA. Kita berdua bersibuk ria melihat pengumuman di beberapa sekolah, kapan membeli formulir, syarat apa saja yang harus disertakan, mengembalikan formulir, mengecek jurnal tiap hari, etc. Sebelum yakin diterima di satu sekolah, tentu aku dan Angie belum bisa berlega hati.

Selain itu aku juga harus memikirkan jumlah uang sumbangan pembangunan yang harus dibayar. Seragam sekolah yang harus dijahitkan. Membeli buku. Dll.

Timing tepat tinggal timing tepat. Aku tetap harus menelan ludah. LOL.

So, kira-kira apa yang akan kulakukan selama musim liburan ini untuk menyenangkan hati my Lovely Star?

Aku sebaiknya merelakannya menggunakan desktop seharian dan aku menggunakan notebook tatkala ingin mengetik sesuatu. Satu sisi positif jika aku menggunakan the cutie. Berhubung tidak ada game di situ, aku tidak akan tergoda untuk main game. Aku terpaksa harus langsung fokus akan mengetik apa. Sifat procrastinatorku yang buruk (yang konon merupakan salah satu negative point atau mungkin justru menjadi excuse yang paling tepat bagi seorang perfeksionis sepertiku) selalu mendapatkan bala bantuan dari beberapa game yang ada di desktop. LOL.

Sewa VCD film yang ingin Angie tonton. Untuk sementara ini aku belum tahu film apa aja yang ingin dia tonton.

Mengajaknya ngenet. Well, just like her mom, Angie suka ngenet juga, terutama ber-friendster ria, browsing lirik lagu atau lagu, membuka www.youtobe.com entah apa yang dia cari, dll.

Aku berencana untuk mengajaknya berwisata kuliner di Semarang saja. Well, beberapa rumah makan yang dulu sering kukunjungi dengan ex siswa privatku mungkin akan kukunjungi lagi, kali ini bersama Angie. Kalau dulu aku ditraktir, kali ini aku yang nraktir Angie. LOL.

Berbelanja ke supermarket yang terletak paling dekat dari rumah. Ah, ini sih tiap bulan juga kita lakukan berdua. LOL.

Ke toko buku. Aku merasa harus membelikan Angie barang satu dua buku yang dia inginkan sebagai hadiah dia naik kelas. (CATAT: aku tidak menjanjikan dia apa-apa sebelum ini. Misal, “Kalau Angie naik kelas trus masuk IPA, akan Mama belikan sesuatu.” Itu dulu, waktu Angie duduk di bangku SD, kadang-kadang aku melakukannya, untuk mendorongnya melakukan sesuatu. Sekarang, aku tidak lagi melakukannya. Angie sudah cukup besar. Aku ingin dia melakukan sesuatu karena dia tahu bahwa dia harus melakukannya demi kebaikannya sendiri, dan bukan karena iming-iming hadiah yang kuberikan.)

Look??? Semua butuh duit untuk melakukannya. Jadi ingat pepatah yang kutemui di game ‘tumblebugs’. “Money cannot buy you happiness. But money can make you unhappy in some fine places.” NAH LO!!!

PT56 19.10 260607

No responses yet

Jun 26 2007

Jogja vs Semarang

Published by afemaleguest under daily

Putu, salah satu teman kuliah, dan termasuk salah satu member “Gang of Seven” pernah bilang padaku bahwa Yogya bukanlah tempat yang tepat untuk mencari makanan yang enak. Dia yang berdarah Bali namun lahir dan besar di Semarang bilang Yogya bukanlah saingan Semarang untuk wisata kuliner (istilah yang cukup popular akhir-akhir ini berkat program di televisi). Dan aku percaya saja apa yang dikatakannya tatkala aku sangat jarang menemukan masakan yang cocok dengan lidahku sepanjang kuliah S2. (Ternyata aku gampang juga diprovokasi kadang-kadang. LOL.) Semua makanan yang kumakan rasanya paling banter standar lah, ga sampai uenak banget.

Tidak pernah aku makan nasi goreng selezat nasi goreng yang biasa kutemukan di warung-warung Nasi Goreng Surabaya yang terletak di Semarang. Nasi goreng yang biasa kita pesan ketika nongkrong di kantin BONBIN di belakang FIB pun tentu rasanya sangat jauh dibanding nasi goreng yang biasa kubelikan untuk Angie, atau di warung tenda dekat kantor dimana teman kerjaku kadang-kadang beli untuk kita (yang kita kenal sebagai “nasi goreng akhir term”).

Tidak pernah aku makan bakso sedahsyat bakso PAK GEGER yang pernah kukunjungi bersama mbak Icha, teman milis dari Jakarta. Semua bakso yang pernah kumakan di Yogya rasanya biasa-biasa saja. Apalagi yang dijual di pedagang kaki lima di sekitar bundaran UGM maupun di sekitar gelanggang mahasiswa. Kebetulan juga mungkin aku bukanlah penggemar bakso.

Ayam goreng tulang lunak NINIT memang cukup enak di lidahku, namun sayang tidak dibarengi dengan sambel yang hhmmm …

Lesehan di sepanjang Malioboro juga rasanya biasa-biasa saja.

Pernah satu kali aku dan teman-teman seangkatan makan bareng di salah satu rumah makan yang terletak di Jalan Kaliurang km 5.5, dengan menu ikan bakar. Ikan bakarnya tidak selezat dibanding masakan ikan bakar di Ngrembel maupun Jimbaran. Sambelnya pun kurang ‘nendang’. (well, bakal mbak Omie terheran-heran dengan kata ini, “Mana bisa sambel nendang Na?” LOL. Terlalu lama tinggal di USA membuatnya “kuper” bahasa gaulnya bahasa Indonesia.

Namun tatkala aku mendengarkan obrolan antara Mayda dan Adit, aku jadi berpikir mungkin karena aku kurang berkeliaran aja untuk mencoba makan di satu rumah makan dengan rumah makan yang lain. Aku suka makan di rumah makan ayam bakar PAK TO yang terletak di pinggir Selokan Mataram mungkin karena harga yang cukup murah untuk kantong mahasiswa S2 yang keuangannya tergantung kepada beasiswa dari pemerintah. LOL. Dan bukan karena masakan yang lezat. Ah …

Sementara itu, tatkala ditanya Abang, “Di Semarang dimana kita bisa makan enak Na?” Nah lo, aku juga ga begitu ngerti. Hahahahaha … Sewaktu kecil ortu tidak membiasakan anak-anak makan di luar. Berbeda dengan Putu yang masa kecil dan remajanya dia habiskan di Semarang, dia mungkin lebih tahu banyak tempat. (FYI, Semarang cukup terkenal sebagai kota dimana penduduknya lebih suka mengeluarkan uang untuk makan enak. Sedangkan Bandung cukup terkenal sebagai kota dimana penduduknya lebih memilih kelaparan karena menggunakan uangnya untuk belanja baju baru.)

Yang aku tahu ya yang cukup sering aku kunjungi bersama Angie untuk eating out. Pertama, “Kahuripan” yang terletak di Puspogiwang, tidak jauh dari sekolah Angie sewaktu SMP. Setiap kali kesini aku pesan kwetiau. Menurut lidahku kwetiau di “Kahuripan” mengalahkan rasa kwetiau yang dijual di Rumah Makan Bakso Tennis Lapangan Tembak yang terletak di Grage Mall Cirebon. Yang di Semarang aku sendiri belum pernah nyoba. Kwetiau di rumah makan “de Koning” Semarang juga uenak banget, sayang porsinya super besar untuk perutku yang mungil ini. LOL.

Kedua, setiap kali aku dan Angie makan di food court Citraland Mall, aku paling sering pesan Bakmi Jowo. Ada beberapa stand yang berjualan Bakmi Jowo di situ, dan sekarang aku lupa yang mana yang biasa kupesan. LOL.

Aku dan Angie dulu suka sekali beli nasi goreng di food court Java Mall lantai 2. (BACA, DULU è sekitar tahun 2000-2001) Terakhir kali kesana beberapa bulan lalu, aku sudah lupa di stand sebelah mana untuk memesan nasi goreng yang uenak tenan itu.

Untuk bakso, bakso PAK GEGER memang terkenal nyamleng, apalagi pernah masuk ke acara wisata kuliner di televisi. Aku pernah juga ditraktir teman bakso yang terletak di taman Erlangga. Enak juga. Tapi aku agak curiga, apa karena ditraktir sehingga rasanya enak? LOL.

Untuk pecel, well, di warung dekat rumahku rasanya cukup enak. Malah kadang menurutku bumbunya lebih enak dibanding bumbu pecel BU SRI yang sangat terkenal di kota Semarang itu. (demi alasan yang etis aku tidak cantumkan lokasinya. LOL. Well, the real reason is aku lupa nama daerahnya. Wakakakaka …)

Lumpia sebagai salah satu makanan khas kota Semarang memang uenak tenan jikalau kita membeli yang satu biji seharga 5000 perak itu, yang bisa kita beli di Jalan Pandanaran, pusat belanja oleh-oleh khas kota Semarang. Well, mungkin harganya sekarang sudah naik? Entahlah. Aku sendiri ga pernah beli sendiri. Kadang-kadang dibelikan oleh mahasiswa yang berbaik hati, sebagai balasan aku membimbing skripsinya. LOL. Atau dibelikan kakakku tatkala dia balik ke Semarang.

Anyway, I love these two cities with different reasons. Siapa bilang kita ga bisa berbagi cinta? LOL. LOL. LOL.

PT56 13.35 260607

No responses yet

Jun 26 2007

From Semarang to Jogja with Love

Published by afemaleguest under daily

Hari Minggu 24 Juni 2007 aku mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu juri seleksi tahap ketiga program AFS dari Yayasan Bina Antarbudaya Chapter Semarang (The Indonesian Foundation for Intercultural Learning). Kebetulan aku ditempatkan di ruang 4, bersama dua juri lain (still very much younger than I am) yang kemudian kuketahui mereka adalah alumni AFS (BACA è pernah terpilih dalam seleksi AFS beberapa tahun lalu). Kebetulan salah satu dari mereka, bernama Mayda, sekarang tercatat sebagai mahasiswa UGM jurusan Komunikasi.

Bertemu seseorang yang sekarang sedang mengejar masa depannya di UGM, apalagi dia tinggal di kos dekat mantan kosku dulu, wah, benar-benar membawaku membawa kembali ke kota kedua yang kucintai di Indonesia ini. (No matter what, I still put Semarang, my hometown, in the first rank!) Kebetulan Mayda kos di daerah yang disebut Tawangsari, di daerah Jalan Kaliurang (untuk singkatnya disebut Jakal. Btw, menurut salah satu guru besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, orang-orang Yogya terkenal paling suka membuat singkatan. Contoh lain adalah Jalan Monjali yang merupakan singkatan dari Monumen Jogja Kembali) km 5. untuk masuk ke daerah Tawangsari seseorang bisa masuk melalui Gang Megatruh. Di sebelah Gang Megatruh ada gang yang cukup mungil—kayak aku LOL—yang disebut Gang Mijil. Nah, zaman aku kuliah S1 (1986-1990) juga ketika aku kuliah S2 (tahun 2004 bulan Februari sampai Oktober) aku tinggal di sebuah rumah nomor 11.

Tatkala Mayda menyebut kosnya berada di satu lokasi dengan salon “Larasati”, wah, aku jadi ingat lagi dulu aku cukup sering melewati jalan itu, terutama dalam perjalanan dari kos ke kolam renang UNY. Sering juga aku beli sego pecel di warung yang terletak dekat salon “Larasati” itu. Atau kadang mampir hanya untuk membeli es teh dalam perjalanan pulang dari kampus di siang hari yang cukup terik.

Usai “menonton” partisipan AFS unjuk kebolehan kekreatifan mereka, aku dan para juri yang lain asik makan siang di sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk Sekretariat. (Ups, lupa bilang, seleksi diadakan di SMP N 3 Semarang.) Saat makan siang ini aku mendengarkan obrolan Mayda dengan Adit, salah satu juri lain, yang baru kuketahui ternyata juga merupakan “salah satu penduduk temporer” Yogya. Mayda yang sedang senang-senangnya menikmati kehidupannya sebagai mahasiswa di kota yang mendapatkan predikat KOTA PELAJAR di Indonesia, ternyata sudah cukup berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mencicipi makanan/masakan lezat di Yogya. Mulai dari angkringan di daerah UGM, sampai warung makan yang terletak lumayan jauh dari daerah UGM yang terletak di daerah Malioboro maupun lebih ke Selatan lagi.

Mendengarkan obrolan ini mengingatkanku saat-saat aku kuliah S2. AKU GA KEMANA-MANA!!! Dan nama-nama rumah makan yang disebut Mayda dan Adit sangat asing di telingaku yang kuper ini. LOL. Sedangkan rumah makan PAK TO yang ayam bakarnya sangat kusukai sama sekali tidak disebut oleh mereka berdua. NAH LO.

Kalau kuingat-ingat lagi apa yang menyebabkan aku tidak tahu menahu nama-nama rumah makan maupun angkringan yang disebut oleh Mayda dan Adit ada dua alasan kuat yang membuatku kuper.

Pertama, aku tidak bergaul baik dengan teman-teman satu kos. Aku memang dengan sengaja membentengi diri untuk tidak sangat terlibat dengan kegiatan teman-teman kos yang kebetulan kebanyakan jauh lebih muda dariku. Yah, seperti membeli makan bersama-sama, jalan-jalan, sampai berangkat shalat tarawih bersama, baik yang diadakan di masjid UGM, maupun masjid-masjid sekitar kos. Dengan tidak terlalu terlibat dengan kegiatan teman-teman kos, aku bisa “bersunyi sepi” di kamar untuk lebih fokus mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Di kos pertama yang kudiami yang terletak di Jl. C. Simanjuntak no. 53 (sekarang sudah almarhum L awal tahun 2004 kita semua penghuni diusir dengan semena-mena karena kos (dan beberapa rumah/bangunan di sekitar) akan dirubuhkan dan dibangun gedung yang entah dipakai untuk apa. Di sini ada sekitar 30 penghuni yang berasal dari berbagai daerah seluruh Indonesia, dan tentu aku tidak mengenal mereka semua. LOL. Ada beberapa mahasiswa S2 (tak lebih dari empat orang termasuk aku), beberapa mahasiswa S1, dan sejumlah siswa Madrasah Aliyah Negeri yang terletak kurang lebih hanya 300 m dari kos.

Aku benar-benar individual selama tinggal di sini. Melakukan ini itu sendiri. Aku ingat ikut makan bersama tatkala beberapa teman berinisiatif masak besar bersama-sama dan kemudian seluruh penghuni kos diundang untuk makan bersama-sama. Baru kali itulah aku masuk ke kamar teman dan sempat ngobrol sejenak dengan beberapa teman kos lain.

Di kos kedua yang terletak di Gang Mijil no. 11, ada seorang teman kos yang rajin menyambangiku. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik kepadaku dan lumayan rajin dolan ke kamarku. Namanya Berty, mahasiswa fakultas hukum UGM. Dengannya  aku ngobrol lumayan banyak. Waktu itu aku sudah masuk semester 4, dan tidak terbebani dengan tugas menulis paper yang bejibun, kecuali dua mata kuliah yang diberikan oleh dosen tamu yang tidak wajib kuikuti. Sifatku yang kadang suka menunda-nunda satu pekerjaan yang membuatku berasyik-masuk mengikuti kuliah Prof. Kenneth Hall, dari Michigan, dan melenakan diri dengan tidak sesegera mungkin mulai menulis tesis. Selain itu, yah, aku lumayan jenuh juga dikejar deadline mengerjakan tugas-tugas selama semester 1, 2, dan 3. Pada saat yang sama pula aku menikmati persahabatanku dengan Berty. Ngobrol hampir tiap hari, pagi, siang, sore, malam ketika aku berada di Yogya.

Pernah satu kali aku pergi berenang bersama Berty dan satu teman kos lain (jelas aku lupa namanya!!! LOL.) Kita bertiga berangkat dan pulang naik bus kota. Dan tatkala berenang, aku jadi ngobrol dengan mereka berdua, satu hal yang sangat tidak kusukai. Ngapain juga ngobrol harus pindah ke kolam renang? Asik juga ngobrol di kamar kos, sambil tiduran di tempat tidur! dan ini adalah satu-satunya kesempatan aku pergi bersama teman kos. Beberapa kali pergi beli makan bersama, tapi melulu di rumah makan di sekitar kos.

Alasan kedua aku kuper adalah aku tidak punya sarana ngeluyur. Kemana-mana harus naik bus kota, atau jalan kaki. Sama sekali tidak praktis kan? Seandainya ada motor, mungkin (CATAT è MUNGKIN) aku akan mencoba makan di sini situ, ato di sana sini. LOL. Demi kepraktisan, aku dan Julie sering makan siang di KANSAS (KANtin SAStra) yang memang terletak di Fakulas Ilmu Budaya (dulu bernama Fakultas Sastra) atau terkadang di kantin yang diberi julukan BONBIN yang juga terletak di belakang FIB. Mengapa namanya BONBIN? Aku sendiri tidak begitu tahu sejarahnya. Satu hal yang aku tahu adalah kantin ini agak jorok, penuh dengan lalat yang berterbangan. LOL. Namun tentu saja harganya lebih miring dibandingkan KANSAS.

Aku ingat satu kali seorang professor bilang, “Kalian mahasiswa S2 malu dong kalau makan di BONBIN, masak makan kok berebut dengan lalat?” wakakakaka … Sayangnya aku dan teman-teman kuliah lain yang dijuluki “Gang of Seven” oleh Prof. Hugh Egan, dosen tamu dari Ithaca College, suka makan di warung Pak Sis karena nasi gorengnya lumayan enak, dan tatkala menunggu pesanan kita matang, kita suka bercanda, melepaskan stress karena beban kuliah yang cukup melelahkan.

Satu tempat makan lain yang sering kita (“Gang of Seven”) kunjungi adalah rumah makan yang terletak di Fakultas Ekonomi, persis di sebelah FIB. Tempatnya lebih bersih dibandingkan KANSAS, dan tentu saja jauh lebih elegan dibanding BONBIN. LOL. Di sini kita bertujuh sering ngobrol berjam-jam sambil makan bersama.

Pernah satu kali kita makan di kantin yang terletak di Gedung Lengkung, pusat Sekolah Pasca Sarjana UGM. Suasana cukup sepi karena para pengunjung tidak banyak bicara tatkala makan. Nah, ini menjadi satu kendala bagi kita bertujuh yang suka berhahahihi. Ga enak kan menjadi pusat perhatian seantero kantin? Selain itu harga relatif lebih mahal dibandingkan dengan KANSAS maupun kantin di FE. Plus, kita jarang kuliah di Gedung Lengkung karena kebanyakan kelas dilaksanakan di gedung FIB maupun gedung Pasca Sarjana lama yang terletak di belakang FE atau di depan Fakultas Psikologi. Hal-hal inilah yang membuat kita bertujuh hanya satu kali makan di kantin Gedung Lengkung.

Di antara kita bertujuh hanya dua orang yang memiliki motor, Putu dan Wiwin. Tyas selalu diantar jemput suaminya. Itu sebab kita bertujuh tidak pernah jauh-jauh cari makan karena tidak praktis.

Mengingat kedua alasan ini membuatku mencoba mengingat-ingat lagi masa kuliah S1 dulu. Beban kuliah S1 jelas jauh lebih ringan dibanding S2 yang membuatku tentu tidak perlu mengurung diri melulu di kamar. Dan aku juga diperbolehkan membawa motor oleh orang tuaku. Saat itu aku dan teman-teman kos lumayan sering pula berhura-hura makan di sana sini. Kadang-kadang jalan-jalan rame-rame ke Malioboro, Kraton, Kebun Binatang Gembira Loka, Kaliurang, pantai Parangtritis, dll.

Kesimpulan: aku tidak bener-bener kuper tatkala aku masih seusia Mayda. Salah satu alasanku melanjutkan kuliah di luar kota adalah aku ingin bebas dari harus minta ijin ke orang tua untuk pergi kesana sini. Sebagai anak perempuan pertama, aku cukup sering tidak diijinkan untuk ini itu. Well, aku cukup menikmati masa kuliah S1 dengan dolan kesana kemari. Tatkala kuliah S2, tujuanku memang bukan untuk menikmati kebebasan main kesana kemari, melainkan untuk memperluas wawasan, mendapatkan pengetahuan yang kubutuhkan di tempat kerja, dan kembali merasakan duduk di bangku mahasiswa setelah sekian tahun aku selalu berdiri di depan kelas sebagai dosen/guru. So, aku tidak perlu menyesali mengapa aku kuper selama kuliah S2.

PT56 12.15 260607

No responses yet

Next »