Apr 24 2007

Women’s Liberation

Published by afemaleguest at 6:29 am under Gender

Mengomentari
artikel yang berjudul “Perempuan Makhluk Sekunder?” yang dimuat surat kabar
Suara Merdeka tanggal 21 April 2007 halaman 6.

Dalam salah satu
paragraf artikel ini, Martin Moentadhim menulis “Konon, versi bahasa Inggris
buku itu (baca
è Habis Gelap Terbitlah Terang tulisan RA
Kartini) sampai ke daratan AS. Ibu Negara AS—kalau tidak salah—Nyonya Franklin
Delano Roosevelt, the First Lady, memidatokannya di mana-mana. lahirlah
kemudian apa yang disebut gerakan Womans Liberation
.”

Lahirnya gerakan
Woman’s Liberation di Amerika Serikat tidaklah semudah seperti apa yang ditulis
oleh Martin Moentadhim, bahwa Ibu Negara Amerika Serikat pada waktu itu
terinspirasi oleh buku RA Kartini. Saya tidak bermaksud untuk mengecilkan nama
RA Kartini yang entah bagaimana ceritanya dipilih oleh penguasa Orde Baru
sebagai ikon pejuang perempuan dibandingkan perempuan-perempuan pahlawan lain,
seperti Dewi Sartika dari Jawa Barat, Cut Nyak Dhien dari Aceh, dan lain-lain.

Gerakan perempuan
di Amerika bisa dikatakan mulai dilaksanakan dengan solid oleh kaum perempuan
di sana semenjak dilaksanakannya Konvensi Perempuan pertama di Seneca Falls,
New York pada tanggal 19 Juli 1848. Elizabeth Cady Stanton menulis draft The
Declaration of Sentiments
sebagai ganti The Declaration of Independence
(1776) yang menyatakan “All men are created equal”. Kata “men” dulu dianggap
juga mewakili “women” jika kata “men” itu bermakna jamak. Namun kenyataannya
kata “men” dalam The Declaration of Independence memang hanya
dimaksudkan untuk “white men”; lebih lengkapnya lagi “white Anglo Saxon
Protestant men”, karena dalam prakteknya, kesetaraan itu hanya untuk laki-laki
berkulit putih yang beragama Anglo Saxon Protestant. Yang diluar itu, tentu
saja masih mengalami diskriminasi, termasuk kaum perempuan, dan kaum kulit
hitam yang masih terbelenggu perbudakan.

Stanton
berpendapat bahwa seharusnya kalimat itu diubah menjadi “All men and women are
created equal.”

Satu hal yang
diperjuangkan oleh kaum pejuang perempuan fase pertama ini, yakni hak
memilih dalam Pemilihan Umum. Para perempuan pada waktu itu berpikir bahwa jika
mereka memiliki hak untuk memilih, mereka setara dengan laki-laki. Sebagian
perempuan lain yang berpendapat bahwa jika perempuan mampu mandiri secara
finansial akan menjadikannya setara dengan laki-laki masih kalah gaungnya
dibandingkan yang memperjuangkan hak memilih.

Lewat perjuangan
yang panjang, selain juga berjuang untuk kemerdekaan para kaum kulit hitam yang
terbelenggu perbudakan, kaum perempuan Amerika akhirnya memperoleh hak pilih
pada tahun 1920 di bawah pemerintahan Presiden Woodrow Wilson (memerintah dalam
kurun waktu 1913-1921).

Setelah
perjuangan mereka terpenuhi—memperoleh hak pilih dalam Pemilihan Umum—gerakan
kaum perempuan gelombang pertama ini mulai menurun. Selain itu juga kebanyakan
para pejuang perempuan tersebut telah mencapai usia yang uzur dan belum
mendapatkan ganti.
http://college.hmco.com/history/readerscomp/rcah/html/ah_030901_ifromitsorig.htm

Setelah perang
dunia kedua, 1950-an merupakan domestic decade (dekade domestikisasi)
kaum perempuan. Budaya massa yang muncul pada waktu itu lebih menekankan peran
domestik perempuan, mengolok-olok wanita karir, merendahkan kaum ibu yang
bekerja, dan melabeli kaum feminis sebagai kaum penyimpang.

Namun begitu,
pada dekade yang sama kampanye pedidikan tinggi bagi kaum perempuan juga
meningkat dengan pesat. Jumlah kaum perempuan yang melanjutkan kuliah tambah
banyak. Di antara mereka inilah muncul Betty Friedan yang menuliskan
pengalamannya sebagai seorang perempuan terpelajar yang “dikungkung” tembok
rumah tangga (dan juga banyak perempuan yang lain yang dia wawancara sebelum
menuangkannya dalam buku yang berjudul “A Feminine Mystique” (1963).

Selain itu,
kebutuhan konsumerisme yang semakin meningkat, dan dengan semakin meluasnya
kehadiran “kaum kelas menengah” dalam mencukupi kehidupannya, banyak keluarga
yang akhirnya memiliki dua pencari nafkah—baik suami maupun istri. Dari sinilah
muncul kebutuhan akan perlakuan yang sama kepada pekerja laki-laki maupun
perempuan, termasuk di antaranya adalah gaji dan kesempatan untuk meningkatkan
karir yang sama.

Bersama-sama
dengan para pejuang kulit hitam untuk menghapus segregasi antara kulit putih
dan kulit hitam dengan adanya Jim Crow Law, para feminis muda ini
menyuarakan women’s liberation.

PT56 12.05 240407




Comments RSS

Leave a Reply