Oleh Darmanto Jatman
Telat bagi Johny adalah kegagalan orang jawa untuk
kedispinan dalam waktu, bahkan gusti tuti, telat adalah cara Kromo untuk tidak
salah karena gagal memenuhi janji.
Celakanya orang Jawa sudah kebacut kondang
sebagai bangsa yang kurang menghargai waktu (Kuncaraningrat) sekalipun
Jawa dikenal sebagai bangsa yang petung banget dengan waktu. Lihatlah
kerelaan Kromo untuk memusokan padinya karenya jatuhnay udan salah mangsa.
Begitu pun cara kraton menentukan waktu sekaten, detail dari menit ke menit
mulai dengan persiapan Bregada Bugis sampai gunungan ke tenah alun-alun.
“Bukan cuma itu,” ujar Gusti Tuti,
“wektu aku mantenan dulu dheng-nya sangat wektu itu dihitung dari
detik ke detik. Heran aku, kok sekarang naik pesawat kok di “delay” 10 menit
tidak diumumkan, boro-boro minta maaf, padahal pada zaman Belanda itu, kapan
sepur melintas teteg Lempuyangan saja bisa dijadikan tanda, jam berapa
sekarang?”
memang, waktu mengungkapkan “paradoks” jam yang
cukup kentara (baca è significant) satu paradoks yang
menunjukkan adanya kekuatan rohani yang mengatur hidup manusia. Dengarlah
ucapan Yu Darmas: “Sira aja kawasesa dening wektu, nanging dadiya wektu iku
dhewe.” Karena jangan biarkan dirimu dikejar-kejar waktu, jadi serba salah,
terlambat. “Terlambat adalah tirani waktu,” dari masyarakat modern yang
waktunya ditentukan oleh orang lain.
“Come on Bung!” jawab Ciprut, “Waktu itu,
jam itu, adalah cara canggih untuk menata kehidupan bersama. Ingatlah janji
Yang Kung yang katanya mau njemput aku dari sekolah pukul 12.00, ternyata
sampai pukul 13.00 beliau belum muncul juga, itu tidak hanya merusak jadwal les
renang saya, tapi seluruh hari harus di-reschedule to ya!” (hebat jga
cucu kontemporer ini). “Itulah sebabnya saya minta Yang Kung membelikan jam
tangan Rolex, supaya tidak ada yang telat dalam janjian.”
Ya, ya, janjian, komitmen, adalah bukti kegagalan
orang jawa untuk mengatur kehidupan bersama!
Bagi Kromo sih, waktu adalah tirani kekuasaan yang
membuat manusia terdesak, terppet, terkendali! Dengarlah kata-kata Kromo “Pada
zaman pewayangan dulu orang bisa membebaskan diri dari tirani waktu Abimanyu
yang nurut petung baru 20-an tahun menikah dengan eyangnya Dewi Utari – nah
karena berontak pada waktu itulah, para dalang Jawa membuat Dewi Utari itu muda
terus – tidak dikuasai waktu sehingga tetap cantik untuk dinikahi Abimanyu.
“Lha saya, ujar Kromo adalah contoh orang yang bebas dari tirani waktu, tidak
seperti Ciprut yang dikuasai habis oleh waktu, pukul 05.00 bangun, pukul 06.00
sudah siap ke sekolah, pukul 16.00 les renang, pukul 8.00 thit siap
menyelesaikan PR sekolah – lha njur merdekanya kapan Prut!
Pertanyaan adalah: “Bagaimana membebaskan diri
dari dampat telat bagi orang Jawa?!
Enak saja Kromo menjawab: “Waktu
pesawat Garuda datang ke Yogya, terhempas dan terbakar mestinya saya naik
pesawat itu, untung saya terlambat, jadi saya selamat!”
Tuhan tidak membuat waktu terlalu cepat atau
sebaliknya terlalu lambat dan semestinya. (Tuhan menjadikan segala sesuatunya
“indah” pada waktunya, ujar Ciprut meniru eyangnya.)
Suara Merdeka Minggu April 15, 2007, halaman 29
Nana’s comment:
Kedua orang tuaku yang berdarah Gorontalo, hidup di sana selama mungkin
kurang lebih 15-18 tahun di awal kehidupan mereka sebelum hijrah ke tanah Jawa
adalah orang yang sangat menghargai waktu (atau sangat diatur oleh waktu? LOL).
Being punctual is something very important in their life. My mom, especially,
paling tidak suka bila diajak janjian oleh teman-temannya menggunakan patokan
“Bakdal Asar: misalnya, setelah waktu shalat Asar itu bisa jadi pukul 15.00
(kalau waktu shalat Asar datang sebelum itu), tapi pukul 17.00 pun bisa
dihitung sebagai bakdal Asar. LOL. My mom yang sering bukanlah seseorang yang
easy going dalam hal waktu sering ngomel-ngomel tatkala teman-temannya datang
terlambat ketika menghadiri suatu acara. LOL. Sampai di usianya yang telah
membuatnya bisa memiliki KTP seumur hidup di Indonesia, my mom is still the
same person, tidak bisa menolerir keterlambatan tatkala ada janjian. Dan memang
beliau sangat terkenal di antara teman-temannya sebagai seseorang yang
punctual.
Hal ini tentu menurun kepada anak-anaknya. Aku di rumah yang paling sering
diomelin kakakku (tatkala kita masih kecil, masih hidup di satu rumah, sering
pergi bareng-bareng, dan aku merupakan makhluk yang keluar kamar paling akhir,
karena ini itu à bisa dibaca dandan, mematut-matut diri di
depan kaca LOL) ternyata di lingkunganku sendiri (kerja, kuliah, dll) tetap
merupakan orang yang lebih punctual dibandingkan yang lain-lain.
Ingat salah satu peristiwa dalam hidupku sekitar
tahun 1995. Aku bekerja di salah satu English course di Semarang dan ada salah
seorang siswa, seorang laki-laki purnawirawan berusia 73 tahun waktu itu. Dia
punya waktu luang yang sangat luang LOL, dan uang nganggur yang lumayan
nganggur LOL. Satu pujian yang kuberikan padanya, di usianya yang telah
berkepala tujuh tidak membuatnya surut untuk melakukan kegiatan ini itu, misal
dengan menikmati masa pensiun dengan bermalas-malasan di rumah. Salah satu
kegiatannya adalah mengikuti kursus bahasa, mulai dari Inggris, (aku dan dia
bertemu di English course tempatku bekerja, tempat dia belajar), Italia, dan
Jepang. Dia mengutarakan niatnya untuk juga ambil les bahasa Prancis. Berhubung
waktu aku duduk di bangku SMA dan kuliah aku pernah juga mendapatkan
pelajaran/kuliah bahasa Francaise, aku bilang ke dia kalau aku pun tertarik
untuk belajar bahasa Prancis lagi.
Beberapa waktu kemudian dia bilang ke aku kalau
dia sudah daftar kursus bahasa Prancis dan mengajakku untuk bergabung
dengannya. Dia memintaku untuk tidak usah memikirkan biaya kursus karena dia
yang akan membayarnya. Aku yang waktu itu sibuk mengajar di sana sini, belum
lagi siswa privat yang tersebar di banyak penjuru kota Semarang tentu tidak
memiliki waktu luang, seluang si Bapak Purnawirawan itu.
Kamu bisa nebak apa komentarnya tatkala
mendengarku mengatakan tak punya waktu luang?
“Don’t let time control you. You’ve got to control
time!!!”
Cerita lain. Dalam kuliah Professor Hugh Egan, aku
tercatat sebagai mahasiswa yang tidak pernah datang terlambat, aku selalu
datang lebih dahulu dibandingkan Prof. Egan, satu hal yang dianggap agak aneh
oleh Prof. Egan mengingat dia pun telah terkena “racun” omongan orang bahwa
orang Jawa itu lelet, alon-alon asal kelakon. LOL. Prof. Egan yang kadang usil
itu menggodaku, “You are a true student, eh Nana? You always come earlier than
your lecturer does.” Di kesempatan lain, tatkala aku akan menggodanya balik,
“Hello Prof, I am a true student, right? I came earlier than you did this
morning.” Prof. Egan menjawab, “Nana, I am wondering if you didnt go home but
stayed here the whole weekend?” (FYI, aku ambil dua kelas Prof Egan, yang
jadualnya hari Jumat pukul 08.00-100 dan Senin pukul 08.00-10.00)
Mengenai Tuhan membuat segalanya indah pada
waktunya, well, I believe so. Tatkala Abang “datang” dalam hidupku di
pertengahan tahun 2006, dia datang tepat pada waktu I wanted to have a partner
to debate and argue with, besides to confide in; tepat pada waktu aku begitu
lelah merasa hidup sendiri (tak ada orang di sekitarku yang bagiku bisa kuajak
untuk beradu argumentasi yang bisa mengikuti cara berpikirku yang westernized.
Sombong banget yak aku ini? L orang-orang terdekat yang biasa kuajak
diskusi dan curhat kabur ke kota dan negara lain!!!) Oh well, Abang juga hidup
di negara lain meskipun dia mengaku sebagai ASNAWI (tahu singkatan apaan tuh?
LOL) but he is mostly available for me, via YM, email, sms, maupun telepon.
Very sweet and nice of him.
PT56 13.25 140407