Mar 31 2007

Membunuh dan Bunuh Diri

Published by afemaleguest at 2:58 am under Current Affairs

Membunuh dan Bunuh Diri

Diramalkan, 2010 Depresi Tempati Urutan Kedua


Kasus Ny. Mersi di Malang, ibu rumah tangga membunuh 4 anak kandungnya, kemudian bunuh diri, dan kasus Hance di Semarang, oknum polisi menembak atasannya sampai tewas, kemudian tewas juga (diduga bunuh diri), mempunyai psikodinamika (perjalanan gangguan jiwa) yang mirip, bahkan sama dan sebangun.


Pihak yang berada di luar lingkungan kehidupan pribadi pelaku (selanjutnya disebut pasien), akan melihat penyebabnya adalah kejadian terakhir. Menurut media massa, kasus Ny. Mersi, karena kecewa faktor ekonomi, sementara kasus Hance karena faktor pemindahan tugas.

Dalam ilmu kedokteran jiwa, peristiwa terakhir tersebut sebagai faktor pencetus atau pemicu (precipitating factor), sementara ada lain yag terjadi sebelumnya, disebut faktor risiko atau atau faktor predisposisi (predisposition factor). Faktor risiko inilah tidak lain adalah gangguan jiwa depresi.


4 Stadium

Bunuh diri sebagian besar berhubungan dengan gangguan (penyakit) jiwa jenis depresi. Menurut WHO, tahun 1990 depresi menempati urutan keempat setelah penyakit infeksi saluran nafas, diare, dan penyakit pada bayi. Sedangkan tahun 2010 diramalkan menempati urutan kedua setelah penyakit jantung. Jadi, sangat mungkin penyakit ini menempati urutan ketiga. Tidak heran, bila kejadian bunuh diri akhir-akhir ini semakin bertambah sering. Penyakit depresi berkaitan erat dengan kekecewaan dalam kehidupan. Ini bisa karena kehilangan sesuatu yang sangat dicintai, baik sebab dari orang lain, atau kegagalan dalam usaha untuk mencapai suatu keinginan tertentu. Diawali dari suatu kekecewaan, sampai ke tindakan bunuh diri, melewati 4 stadium, merupakan suatu proses cukup panjang dan kompleks. Justru di sinilah uniknya penyakit depresi.

Rasa kecewa mendalam, merupakan stadium pertama dari depresi. Pada stadium ini, pasien bisa mengalami kesedihan mendalam, menyesali nasib, menyalahkan diri sendiri dan sebagainya. Tetapi bisa juga terjadi sebaliknya. Marah yang luar biasa, menyalahkan orang lain, bahkan sampai melukai atau membunuh orang lain.

Pada stadium kedua, mulai timbul keluhan fisik dan psikologis. Keluhan fisik misalnya, berdebar-debar, sesak nafas, perut tidak enak, otot tegang, badan capai semua walaupun habis tidur, nyeri kepala, pusing, nyeri di tenggorokan dan sebagainya. Keluhan psikologis meliputi, sulit tidur, mimpi buruk, menangis sendiri, tidak bisa menikmati hobi, nafsu makan menurun atau malah bertambah, rasa takut dan cemas. Pada stadium ini pasien umumnya datang ke dokter (non psikiater) untuk keluhan fisiknya. Karena ini yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Uniknya, pada stadium dua ini, setelah timbul keluhan fisik, rasa kecewanya menjadi berkurang, bahkan bisa hilang. Padahal yang terjadi, rasa kecewa ini dikonversikan (diubah atau dialihkan) oleh mekanisme pertahanan jiwa ke fungsi-fungsi fisiologis tubuh. Pada umumnya pasien hanya mengeluhkan keluhan fisiknya kepada dokter, tanpa mengemukakan keluhan fisiknya berhubungan dengan suatu kekecewaan. Akibatnya dokter hanya memberi terapi terhadap keluhan fisiknya, tanpa membantu menanggulangi masalah psikologisnya.

Pada stadium ini pasien akan bolak balik ke dokter dengan keluhan sama, untuk menyembuhkan gangguannya secara tuntas. Sering pula pasien mencari pertolongan ke “orang pintar” atau ke pengobatan alternatif. Kalau pada stadium ini pasien tidak berhasil sembuh, maka akan bertambah deretan kekecewaan.


Kondisi Rapuh

Pada stadium tiga, selain keluhan fisik dan psikologis, akan muncul pikiran-pikiran tentang kematian, cara untuk mati dengan segala pertimbangan tentang untung ruginya. Pada stadium ini sering didapatkan pasien mulai mencederai diri sendiri, membiarkan dirinya sakit berlarut-larut tanpa upaya pengobatan.

Stadium ketiga, merupakan kondisi rapuh yang sudah mempunyai kecenderungan mencoba bunuh diri atau tindakan bunuh diri.

Untuk sampai stadium empat, perlu adanya faktor pemicu yang berperan sangat penting. Faktor pemicu ini biasanya datang tidak terduga. Bila saat itu tidak ada dukungan dari orang di luar dirinya, khususnya keluarga, maka pasien tidak mampu mencegah tindakan tersebut. Tetapi bila pasien mempunyai kedekatan dengan orang lain, khususnya orang-orang dekat dalam keluarga, maka tindakan tersebut bisa dicegah.


Pria versus Wanita

Bila ditelusur angka kejadian depresi pada wanita jauh lebih banyak dibandingkan pada pria. Beberapa peneliti mendapatkan angka 2:1, bahkan ada yang 4:1. penulis sendiri mengamati pasien depresi yang datang untuk berobat dan berkonsultasi, perbandingan wanita dibanding pria, berkisar antara 3:1. Mereka umumnya berusia 30-45 tahun (usia produktif), sudah berkeluarga, mempunyai harapan hidup yang cukup tinggi dan realistis, serta menjalani kehidupan secara aktif. Hanya saja masalah yang diderita, lebih berat dari kemampuan diri untuk mengatasinya.

Umumnya kekecewaan wanita lebih berfokus, berkaitan dengan keluarga, baik suami maupun anak-anak. Sementara masalah yang diderita pasien pria, berkaitan dengan pekerjaan.

Cara yang digunakan oleh pasien untuk menuju ke kematian, juga berbeda. Pasien lebih memilih cara lunak, misalnya dengan obat-obatan atau racun, sehingga sejak melakukan sampai meninggal ada jeda waktu, dimana memungkinkan ada pertolongan pihak lain. Pasien pria lebih memilih cara keras dan sekali jadi, misalnya menembak, menggantung, menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat atau terjun dari tempat yang tinggi.

Walaupun junlah pasien wanita lebih banyak dibandingkan pria, akan tetapi jumlah kematian akibat bunuh diri berbanding terbalik, jauh lebih banyak pria dibandingkan wanita. Angkanya berkisar 2:1 sampai 4:1.

Fenomena lain yang menarik adalah, keberanian untuk mati sendiri atau bersama orang lain. Pasien pria, tidak ingin mati konyol sendirian. Sebelum mati, ia ingin orang lain yang menyebabkan dia menderita juga ikut mati.

Prinsipnya hutang nyawa dibayar nyawa. Maka tidak heran, sering terjadi pasien pria sebelum melakukan tindakan bunuh diri, terlebih dulu membunuh atau berusaha membunuh orang yang diduga membuat dirinya menderita.

Sementara pasien wanita, keberanian untuk sampai ke tindakan mati, memerlukan pertimbangan cukup panjang. Terutama mempertimbangkan mereka yang masih memerlukan keberadaan dirinya, khususnya anak-anak dan suami. Bagaimana nasib mereka setelah ditinggalkan dirinya. Oleh karena inilah pasien wanita, sering mengurungkan niatnya tidak jadi meneruskan tindakan bunuh diri. Jika oleh karena terpaksa pasien tetap ingin mati, ia ingin mengajak orang yang nantinya menderita seelah kematiannya, untuk mati juga.


Belajar dari Kasus

Kasus Hance memberi pelajaran cukup berharga, khususnya aparat kepolisian. Senjata api yang merupakan fasilitas polisi dalam menjalankan tugasnya, bisa menjadi bumerang. Diperlukan monitoring cukup ketat bagi atasan, khususnya monitoring cukup ketat bagi atasan, khususnya monitoring dari segi psikologis.

Kasus Ny. Mersi juga memberikan pelajaran tidak kalah penting, khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga yang mengasuh banyak anak, sementara suami jauh dari jangkauan.

Bunuh diri, apalagi didahului tindakan membunuh, merupakan suatu peristiwa gawat darurat di bidang kesehatan jiwa.

Ini merupakan titik puncak gangguan jiwa, pasien sangat memerlukan pertolongan baik orang terdekat maupun bantuan profesional.

Kondisi ini sulit diatasi, dan sering mengalami kegagalan, oleh karena sangat dibatasi oleh waktu yang sangat pendek, bahkan bisa dalam hitungan detik. Para profesional biasanya lebih menekankan pada upaya pencegahan.

Cara ini dinilai lebih efektif dan efisien, dibandingkan mengatasi gangguan pada saat gawat darurat.


Oleh dr. Ismed Yusuf, SpKJ

Dosen Fakultas Kedokteran Undip

Suara Merdeka, Kamis 29 Maret 2007 hal. 21




2 Responses to “Membunuh dan Bunuh Diri”

  1.   wijion 01 Apr 2007 at 12:37 pm

    kalau aku boleh ngomong…
    orang bunuh diri itu tak bertuhan dan jika dia beragama munafik.

  2.   Levitra Without Prescriptionon 08 Dec 2009 at 5:15 am

    Well said amigo…

Comments RSS

Leave a Reply