Archive for February, 2007

Feb 19 2007

Dream About You

Published by afemaleguest under Song

There was a time in my life
When I opened my eyes and there you were
You were more than a dream
I could reach out and touch you girl
That was long ago
There are some things that i guess I’ll never know
When you love someone you gotta learn to let them go

(chorus)
When I dream about you
That’s when everything’s alright
You’re in my arms here next to me forever
When i dream about you
Girl you never go away
Just close my eyes, wait for my dreams
Cause i still love loving you

How can i get you to see
That i’m falling apart since you’ve been gone
I could never be sure I could ever let go
your love is much too strong
There are some things that I guess I’ll never know
When you love someone you gotta learn to let them go

(chorus)

P.S.: This Stevie B’s song is one of my favorite songs. It is indeed very unhappy when you gotta let the one(s) you love go. :(

No responses yet

Feb 19 2007

Mari Mengutuk Laki-Laki

Published by afemaleguest under Cerpen

MARI MENGUTUK LAKI-LAKI

Dia cantik, seperti juga hari-hari kemarin. Payung merah jambu yang mekar di atas kepalanya membuat wajahnya seperti buah jambu. Menggemaskan dan lucu seperti noni-noni Belanda.

“Kamu kok kelihatannya sedih hari ini, Mar?

Seorang perempuan setengah baya segera menyapanya sesaat setelah ia masuk ke warung makan itu.

“Jose Maria mati. Federico membunuhnya.” Perempuan setengah baya itu tersenyum menanggapi, ia menghampirinya dengan segelas teh tawar yang masih mengepul. Sepertinya itu telah menjadi kebiasaan setiap si centil Mari datang ke tempat itu.

“Mari nggak sedih, cuma mangkel kok, Yu.”

“Makanya jangan terlalu banyak nonton telenovela, otakmu nanti jadi otak telenovela. Kamu jadi cengeng nanti. Nggak usah diambil hati, lah wong kamu cuma diapusi. Cuma film, Mar, buatan orang.”

Beberapa orang yang sedang makan di warung tersenyum simpul, sepertinya adegan semacam itu sudah sering mereka jumpai setiap mereka makan di situ. Seorang laki-laki berbadan kekar dan berkulit hitam mengkilat karena keringat tak terlalu peduli dengan suasana semacam itu, ia segera bersiap untuk pergi.

“Ngebon, lagi mas Joko?” perempuan setengah baya pemilik warung itu menegur.

“Ya Yu. Tanggal tua. Dicatat saja seperti biasa. Besok tanggal satu kubayar.”

Tenan lho, mas Joko. Jangan molor lagi, nanti utangnya bertumpuk. Kalau nggak bisa bayar, saya yang rugi.”

“Biasanya juga molor, Yu. Dulu pernah “main” sama saya, katanya mau dibayar tiga hari lagi. Nyatanya sampai sekarang sesen pun tak pernah Mari terima uangnya. Iya kan, mas pothok?” Mari ikut menimpali sembari meliukkan tubuhnya, mempertontonkan kegenitannya. Namun akhirnya ia diam tak berkutik setelah laki-laki bertubuh kekar itu mengacungkan tinjunya.

“Dasar laki-laki hidung belang. Sudah punya dua istri kok masih suka ‘jajan’.” Mari menyinyirkan bibirnya setelah laki-laki itu benar-benar telah pergi, dengan suara lirih.

“Yu Jem, seperti biasa ya, nasi, telur ceplok setengah matang, tumis janggel.”

Mari memperbaiki rambut jatuh yang menutupi wajah ayunya, jari-jari lentiknya terlihat sangat gemulai.

“Mer, tadi malam kamu kok nggak nongkrong di jembatan, sudah ditunggu sama Mbah Wongso sampai karatan.”

“Mas Wahyu tadi panggil aku siapa?”

“Mer, Meri.”

“Enak saja. Panggil aku Mar. Mari.”

“Ini nasinya, Mar, “sela Yu Jem.

“Tadi malam periksa lagi, ya?” Mas Wahyu melanjutkan kembali omongannya.

“We, tobil kowe Mas. Mari ini sehat. Bebas sifilis. Bebas aids. Yu … Yu … telurnya kurang asin.”

“Iya Mar. Kemarinnya lagi kamu juga nggak nongol. Pindah tongkrongan ya?”

“Enggak kok Bang Jaja, Mari sudah dapat kerja. Kerja halal. Di salon.”

“Di salon? Memangnya kamu bisa apa? Ngeramasi rambut?”

“Rambut yang mana, Mar?” Irul yang dari tadi asyik dengan ayam gorengnya ikut-ikutan menggoda Mari.

“Anak kecil tahu apa kamu? Umur belum tujuh belas saja kemaki. Di Jakarta dulu Mari pernah kursus kecantikan. Dapat ijasah. Pokoknya valid dan bonafid. Dari potong, creambath, manicure, sampai ngecat rambut Mari sudah oke. Sampeyan-sampeyan ini bisanya cuma ngumbar omongan.”

“Kamu nggak bakalan ke jalan lagi, Mar?” tanya Yu Jem.

“Saya muak sama laki=laki, nafsu gede uang nggak ada. Lebih banyak yang kasar daripada yang penyayang. Ya seperti sampeyan-sampeyan itu.”

“Jangan begitu, Mar, kalau kurang kasih sayang ngaku saja.” Mas Wahyu membela kaumnya.”Paling-paling juga seperti dulu. Kerja di toko roti dua bulan sudah balik ke jembatan.” Suara bang Jaja terdengar sinis.

“Dulu beda, Bang. Bos saya yang di toko roti itu memang edan. Suka ngancam. Kasarnya bukan main. Mari suka dihajar kalau nggak nuruti kemauannya. Untung istrinya tahu. Biarpun Mari dipecat, tapi rasanya lega. Plong. Eh, istrinya sempat gila karena tahu ternyata suaminya seorang maniak.”

“Bosmu yang sekarang apa lebih baik, Mar?”

“Kelihatannya sih oke. Bosku itu cewek Mas Wahyu, cantik lagi. Dia pasti nggak bakalan ngerjain aku. Malah katanya dia suka gemer kalau lihat aku, soalnya aku lucu, kemayu, kayak terwelu.”

“mar, berarti aku kalau cukur rambut digratisin, ya?” Bang Jaja membujuk.

“Rambut yang mana Bang?” sela Irul yang masih berlagak seperti anjing yang sedang asyik menggerogoti tulang-tulang ayam goreng.

“Dasar otak ngeres, kamu pasti suka nonton film porno itu di tempatnya mami Darmi. Tahu nggak, kalau kamau itu sebenarnya diajari jadi gigolo. Mbok sekalii-sekali otakmu itu dicuci dengan deterjen biar bersih. Dasar wong gendeng. Berapa, Yu? Nasi, sayur asem, ikan asin, krupuk dua, pisang satu,sama es teh.”

“Tiga ribu.”

Bang Jaja segera meninggalkan tempat itu. Becaknya telah lama menunggu. Segera saja derit ban roda tiga itu menghilang di tikungan.

“Mar, kalau masih ada yang mau ngajak main, apa kamu masih mau?”

“Mas Wahyu mau main sama aku?”

“Bukan aku, tapi Mbah Wongso.”

“Yang benar, Mas. Jangan mengatasnamakan Mbah Wongso ah. Mari tahu lho dari … lirikan matamu membuat hatiku na … na … na …” Mari menyanyikan sepenggal lagu dangdut yang sebenarnya tak dia hafal syairnya.

“Ada-ada saja kamu ini. Kalaupun iya, aku nggak bakalan ngajak kamu. Masih ada Tatik, Rina, Dona. Mereka itu pelacur tulen. Bisa melayani dari berbagai arah, bentuk, sudut, dan posisi.”

“Kalau nggak mau ya sudah. Aku juga belum tentu mau sama mas Wahyu. Apa saya bilang tadi, Yu. Laki-laki itu memang sombong. Omongannya setinggi langit tapi kenyataannya masih tinggian hak sepatuku. Kuinjak – nyet. Binasalah kamu para lelaki. Apa mas Wahyu lupa pernah nyium saya di bawah jembatan sehabis Lebaran tahun lalu?”

“Ala itu kan karena aku taruhan sama Kerto Pentil, siapa yang berani nyium kamu dapat lima puluh ribu.”

“Jadi harga bibir ini cuma lima puluh ribu. Lipstickku saja enam puluh ribu kurang.”

“Yu Jem, tolong oseng-oseng tempenya dibungkus. Lima ratus saja. Perkedelnya lima.” Tiba-tiba mbak Rini telah berdiri dengan nafas memburu, ia memang setengah berlalri menuju tempat itu.

“Kamu nggak masak, Rin?” tanya Yu Jem.

“Males.”

“Kok ngos-ngosan gitu sih, mbak Rini? Suaminya kelaparan ya? kasihan.” Goda Mari.

“Lho Mar, kamu kok masih di sini. Telenovelanya sudah maintuh, makanya aku terburu-buru mumpung masih iklan.”

“Memangnya sekarang jam berapa, Mbak?”

“Lima lewat lima.”

“Waduh ketinggalan separuh nih. Yu … yu … sisanya dibungkus saja ya. Mbak Rini terus ceritanya gimana?”

“Anu Mar, si Federico mau membunuh Ramona soalnya dia kan mengandung anaknya?”

“Kurang ajar betul Federico itu. Keparat. Pengecut. Dasar bajingan. Pembunuh!” Mari mulai geram.

“Ia juga mau meperkosa Rosalina, padahal dia itu sebetulnya anaknya sendiri.”

“Jadi diperkosa?”

“Belum sempat. Lha wong terus iklan.”

“Sialan betul si Federico itu. Kalau aku jadi Rosalina kupotong saja cacing besar dalam celanya, lalu kubuang ke kali biar dimakan cethul-cethul.”

“Sudah … sudah nih pesanannya, cepat sana pergi.” Yu Jem segera menyerahkan dua bungkusan dalam tas plastik hitam sebelum warungnya berubah jadi pasar malam.

“Nih uangnya, Yu.”

“Kembaliannya, Mar.”

“Sudah sekalian sama mbak Rini.”

“Waduh makasih ya, Mar,” ucap mbak Rini yang seera memasukkan kembali uang yang ia maksudkan untuk membayar oseng-osengnya ke dalam behanya.

“Biasa saja. Tapi aku nonton di rumahmu, ya.”

“Beres.”

“Mar, kalau sekalian sama mbak Rini uangnyakurang,” teriak Yu Jem yang sungguh sayang tertelan suara dua orang pecandu telenovela yang ternyata lebih bising. Secepat itu juga mereka telah menghilang.

“Mari … Mari … nggak nyangka dulu namamu Taryoto,” gumam Yu Jem agak kesal.

“Siapa, Yu?”

“Itu si Mari. Dulu namanya Taryoto.”

“Yang benar, Yu. Dia ngaku sama saya namanya Permadi,” sangkal mas Wahyu.

“Masa sih? B ukannya Dalijo? Tambah Irul sambil menjilati jari-jarinya, menari sisa rasa ayam gorengnya.

Sementara di kejauhan sana sayup-sayup terdengar teriakan mbah Wongso.

“Mar, nanti jam sepuluh kutunggu di jembatan. Seperti biasanya.”

By Ludriatin.

CATATAN:

mangkel è jengkel

diapusi è dibohongi

tenan è benar

pothok è kekar

tobil è anak kadal

kowe è kamu

sampeyan-sampeyan è kalian

terwelu è kelinci

ngeres è kotor menjurus porno

cethul è sejenis ikan tawar

gendeng è gila

No responses yet

Feb 19 2007

Love Again

Published by afemaleguest under Song

The following is the lyric of John Denver’s song entitled "Love Again" that recently I love listening, without any clear reason. LOL. Am I in love again? I asked myself. And yeah, the answer is NOT CLEAR. LOL.

I posted it here with the spirit of the Valentine’s Day. :) (I am damn romantic!!! LOL.)

I didn’t think it could happen again
I’m just too old and set in my ways
I was convinced I would always be lonely
All of the rest of my days
Maybe I give up on romance
In my longing to give up the pain
I just didn’t believe I would ever love again

I was like one who had shut myself in
Closed the windows, locked all the doors
Afraid of the dark and the beat of my heart
Yet knowing there had to be more
Though it sounds like a great contradiction
Its the easiest thing to explain
You see, I was afraid I might never love again

What does it take for a blind man to see
That theres more there than just meets the eye
What are the ways that the magic comes in
That can turn a song into a sigh
Sometimes I think that Im dreaming
Or maybe Im going insane
Or maybe its just that Im falling in love again

Here I am standing beside you
Oh life’s such a wonderful game
Look at me now, Im falling in love
Look at me now, Im falling in love
Look at me now, Im falling in love again
KPDE 13.56 200207

No responses yet

Feb 12 2007

Quotes

Published by afemaleguest under Quote

Akhir-akhir ini aku suka main ‘tumblebugs’ semenjak aku copy dari kompie yang ada di kantor. Nah, di tengah-tengah main, ato, ketika selesai satu permainan, kadang muncul kalimat-kalimat yang kadang witty, kadang wise juga.

Here are some of those quotes.

Politicians and diapers should both be changed regularly, and for the same reason.

How long a minute is depends on which side of the bathroom door you’re on.

Never test the depth of the water with both feet.

Reading while sunbathing will make you well red.

Diplomacy is the art of saying "good doggie" while looking for a bigger stick.

Money will not buy happiness but it will let you be unhappy in nice places.

If you want your spouse to pay attention to every word you say, talk in your sleep.

Never try to teach a pig to sing, it wastes your time and it bothers the pig.

KPDE 20.35 120207

No responses yet

Feb 11 2007

REIKI

Published by afemaleguest under daily

Pernah dengar istilah
PRANA atau REIKI? Kalau tidak salah, dua istilah ini ada hubungannya dengan
kemampuan seseorang mengolah energi yang ada di dalam tubuh seseorang. Tanpa
kita sadari ada banyak energi dalam tubuh kita yang terbuang begitu saja karena
kita tidak tahu bagaimana cara mengolahnya dengan baik. Bagi mereka yang telah
mampu menguasai energi yang ada di dalam tubuh bahkan mampu mengalirkan
kelebihan energi tersebut kepada orang lain, bahkan memiliki kemampuan untuk
menyembuhkan penyakit.

Adikku pernah
berkecimpung dalam dunia PRANA bertahun-tahun yang lalu, dan dia pun terkadang
‘dimanfaatkan’ oleh orang-orang di sekitarnya untuk ‘mengalirkan energi’
positif dalam upaya mengobati penyakit. Adikku mulai mengurangi keterlibatannya
dengan dunia PRANA ketika dia mulai mengikuti aliran lain yang dikenal sebagai
FALUN. Berbeda dengan PRANA yang bisa mengalirkan energi yang dimiliki kepada
orang lain, setiap kali berlatih FALUN, hasilnya—konon—membersihkan tubuh
sendiri. Akibatnya, ternyata, ketika adikku kembali mencoba mengobati orang-orang
ala PRANA, energi yang akan dia alirkan ke orang lain tersebut, justru membalik
ke dirinya sendiri. Hal ini yang menyebabkan adikku berhenti melibatkan diri
dengan PRANA.

Di sisi lain, teman
baikku, Yuli, yang sekarang tinggal di Holland, pernah merasakan nikmatnya
kiriman energi dari suaminya, tatkala dia merasa kurang sehat. Suaminya
memiliki kemampuan semacam PRANA yang disebut REIKI. Waktu itu, aku, Yuli, dan
beberapa teman lain sedang dalam perjalanan ke Yogya, dan Yuli merasakan pusing
yang sangat kuat. Dia kirim sms ke suaminya yang sedang berada di Holland waktu
itu untuk memberitahukan hal tersebut. Dan voila … Yuli merasa segar setelah
energi yang dikirim suaminya lewat udara sampai ke tubuhnya.

Beberapa hari terakhir
ini tiba-tiba aku ingin belajar hal seperti tersebut, tatkala seseorang yang
kusayangi bercerita kepadaku betapa melelahkan perjalanan yang harus dia
tempuh, apalagi dia menderita penyakit sulit tidur. Aku ingin dia selalu sehat,
dan tidur dengan nyenyak di malam hari dalam hitungan waktu yang lumayan lama
kalau memang dia butuhkan. Aku ingin mampu mengalirkan energiku kepadanya.

Atau … Ada ga ya
cara memindahkan cape seseorang kepada orang lain? Aku ingin mampu memindahkan
kelelahan yang menghampiri tubuhnya ke tubuhku, karena aku ini tipe penidur
berat. Aku akan bisa tidur nyenyak sampai 8 jam semalam—kalau memang itu
dibutuhkan tubuhku. So it is not a big deal kalau sampai aku yang
meng’akomodasi’ kelelahannya.

PT56 15.00 110207

No responses yet

Feb 11 2007

Loving Mom …

Published by afemaleguest under daily

Well, sebenarnya aku
“menemukan” spanduk bertuliskan “TENDA SANTAI EVAN” di dekat bangku
kesayanganku hari Jumat 9 Februari 2007 kemarin lusa. (Udah untung si pemilik
tidak memilih bangku kesayanganku tempatnya untuk magang!!!) cuma kupikir si
pemilik bisnis menjalankan bisnisnya di sore hari, dimana pengunjung kolam
renang PARADISE CLUB memang jauh lebih banyak dibandingkan di pagi hari.

Tadi pagi, sekitar
pukul 06.10 sesampai aku di PC, aku melihat beberapa dus disusun rapi di stand
TSE tersebut, seorang laki-laki terlihat mengepel lantai di situ berulang kali.
Aku berpikir, “Loh, jualan di pagi hari juga toh?”

Seusai aku berenang
dan mandi sekitar pukul 07.45, tatkala aku nyamperin bangku kesayangan, aku
melihat seorang anak laki-laki yang mungkin berusia sekitar 6-7 tahun (kayak
siswa-siswaku di kelas EC1), nyokapnya, dan dua perempuan muda lain yang aku
yakini bekerja sebagai maids yang membantu sang majikan. Aku berkata
pada diri sendiri, “Mungkin anak inilah yang bernama Evan.” Sambil agak kecewa
kok sudah besar? LOL. Evan Aqeela Kurniawan baru akan berusia 2 tahun sok April
2007. LOL. Sebelum aku asik dengan duniaku sendiri, aku perhatikan cara sang
nyokap memperhatikan si Evan, bertanya ini itu, such as “Mau berenang
sekarang?” “Mau sarapan dulu?” “Mami bawakan kamu satu tas besar mainan tuh!”
dll. Aku berkata dalam hati, “What a loving mother she is!”

Tiba-tiba aku jadi
ingat komentar seorang dosen Fakultas lain di mantan tempatku bekerja. Satu
hari aku dan Angie mampir ke salah satu rumah makan dekat kantor. Kebetulan
beberapa dosen lain pun makan siang di situ. Mungkin pada waktu itu mereka
sempat mengamati aku dan my Lovely Star makan siang bersama, seperti aku
mengamati si Evan dan Maminya. Aku merasa segalanya berjalan biasa-biasa saja.

Beberapa hari setelah
itu, seorang (ex) rekan kerja berkata padaku, “Bu Nana, dosen Fak KM mengatakan
Bu Nana tuh terlihat sayang banget yah sama putrinya?” Aku heran dan bertanya
darimana mereka tahu hal itu? Trus, dia bercerita beberapa hari lalu ada dosen
Fak KM yang melihatku dengan Angie makan siang di rumah makan dekat kantor. Dan
katanya mereka senang sekali melihat caraku menatap Angie, berbicara kepada
Angie, maupun mendengarkan Angie berceloteh tentang teman-temannya, dan
kegiatannya yang lain.

Tatkala aku mengamati
Evan dan Maminya, dan aku ingat sendiri aku pun pernah “diamati” oleh orang
lain, aku merasa lega. I am also that loving to my very own daughter. Tatkala
si Evan merasa lapar di tengah-tengah berenangnya, dan datang ke tempat Maminya
mempersiapkan dagangannya, si Mami bertanya, “Kamu mau bakso? Atau makan nasi
aja sama ayam goreng?” kemudian aku lihat si Mami menyuapi Evan. Aku jadi geli.
Sampai sekarang aku tetap suka menyuapi Angie, Angie sendiri menikmati aku
suapi, dan her grandma suka komplain melihatnya, “Sudah SMA, makan saja masih
disuapin!!!” LOL. LOL. Walhasil, kita berdua melakukannya dengan
sembunyi-sembunyi. Wakakakaka … kayak orang yang sedang menjalin backstreet
affair. Huahahahaha …

PT56 12.30 110207

No responses yet

Feb 11 2007

A L I E N

Published by afemaleguest under daily

Nongkrong2_7Singgasana tempatku
mengekspresikan diri tatkala “terserang penyakit autis” terganggu oleh
sekelompok alien tadi pagi!!!
:( (Para ahli jiwa
mengatakan bahwa penderita autis memiliki dunia mereka sendiri yang tak
terjangkau orang lain; mereka merasa nyaman di dalam bingkai dunia mereka yang
tak kan mampu dimasuki oleh orang luar; dan beginilah aku kalau sedang asik
nongkrong di atas bangku favoritku di Paradise Club—sebuah tempat kebugaran di
Semarang dimana aku telah menjadi member selama kurang lebih satu tahun
terakhir ini—aku tidak akan membiarkan orang luar “memasuki” dunia mungilku
yang terdiri dari aku, buku bacaan (yang bisa berganti-ganti tiap hari,
tergantung aku sedang mood membaca apa), buku harian, handphone (aku biasa
menunggu pesan pendek dari Abangku yang kebetulan saat ini sedang melanglang
buana ke sebuah negara yang kutengarai nama-nama kotanya sering mengandung
huruf SH maupun ZH), Media Player, dan secangkir nescafe atau cappuccino.)

Seusai berenang dan
taking a shower tadi pagi, aku langsung menuju singgasanaku tersebut. Aku
merasa sedikit kurang nyaman dengan kehadiran orang-orang yang menamakan
bisnisnya “TENDA SANTAI EVAN” di dekat bangku favoritku. (Goodness, nama EVAN
ternyata nama pasaran!!! Aku semula tidak pernah peduli dengan nama ini, sampai
seseorang yang pernah mampir ke dalam hatiku menamai buah hatinya yang
lahir tanggal 18 April 2005 dengan nama Evan Aqeela Kurniawan. Dan aku pun
mulai menajamkan telinga setiap kali mendengar nama EVAN. LOL.) mengapa aku
harus merasa sedikit kurang nyaman, dan bukannya cuek saja? Yah, karena aku
tahu aku sebenarnya tidak menderita autis, hanya gejalanya aja yang rada mirip.
LOL. Sebenarnya banyak gejala penyakit jiwa yang kutengarai ada dalam diriku
ini selain autis, misal schizophrenia (yang memang gejalanya rada mirip autis),
split atau disorder personality, asperger. Ngeri yah nama-nama penyakitnya?
Atau keren? LOL.

Setelah mendapatkan
kembali kecuekanku, aku mulai menikmati dunia kecilku dengan buku bacaan
(kebetulan aku bawa buku jurnal PROSA yang telah kuambil dari tempat yang
kadang-kadang aksesku ke situ ga begitu bagus), aku sedang membaca artikel
ilmiah yang berjudul “Novelis Wanita dan Budaya Populer” tulisan Faruk dosen
Fakultas Ilmu Budaya UGM yang ketika aku duduk di bangku S1 dijuluki dosen aneh
oleh teman-teman kuliah hanya karena sulit memahami apa yang dia inginkan.
Orang-orang cerdas tuh memang sulit ya diketahui keinginannya? LOL. Dan aku
memahami tulisannya dan mengenali kecerdasan dan ketajaman analisisnya setelah
aku duduk di bangku S2. LOL. Dulu cuma bengong pasti aku. LOL. Meskipun dia
memberiku nilai A dalam mata kuliah “Bahasa Indonesia”. Di samping kiriku ada
segelas nescafe hangat, di samping kanan ada buku harianku plus backpack berisi
peralatan berenang.

Ketika sedang asik
membaca (dan menulis sedikit di buku harian “sudah berapa hari minggu kah aku
absen dari berenang? kok tahu-tahu muncul makhluk alien menamakan diri TENDA
SANTAI EVAN”) menghabiskan tegukan terakhir nescafe, Abangku kirim sms
bercerita tentang menu sarapannya YUMCHA yang katanya “look nice”. Loh, LOOK
kan belum berarti TASTE? Huehehehehe … satu keisenganku bermain kata-kata
yang paling kusuka. Dan Abangku yang di salah satu smsnya mengatakan “how if
your student outsmarts you?” menikmati (oh no, kadang dia komplain kok, LOL)
permainan kata-kata yang dia sebut “pelintiran kata-kata”. LOL. Aku langsung
mengadu kepadanya (menunjukkan betapa aku ini kolokan banget!) bahwa ada orang
yang mengusik ketenanganku dalam membaca dan menulis di bangku fovorit dengan
berjualan fried chicken, dll. Dia jawab, “Borong aja semua ayamnya, dan suruh
pergi orang itu!” wakakakaka … aku langsung bayangin, dia datang ke PC,
nyamperin si Ibu pemilik TENDA SANTAI EVAN, dan bilang, “Bu, hari ini saya beli
semua barang dagangan Ibu, dan Ibu bisa segera pulang, agar my spoilt Nana bisa
full menikmati penyakit autisnya yang sedang kumat.” Hahahahaha …

Oh my very sweet
Abang. …

PT56 12.00 110207

P.S.: Bisa dilihat di sebelah kiri yang ada, hmm … apaan tuh ya namanya? Itu loh, tempat orang jualan menata barang dagangannya yang berupa makanan. Di situlah alien itu berjualan. LOL.

No responses yet

Feb 10 2007

P E T I R

Published by afemaleguest under Books

Aku baru saja selesai membaca PETIR, novel Dewi Lestari alias Dee serial Supernova yang ketiga. Too late, huh? LOL. Better late than never, wise people say. (Nana cuma ngeles nih. LOL.) Akhir Mei 2006 yang lalu, aku membeli kumpulan prosa Dewi Lestari yang bertajuk FILOSOFI KOPI dan menyukai pandangan hidup Dee yang tersirat dalam karya-karya yang terkompilasi dalam buku itu. Namun, aku belum juga tergoda untuk membeli buku-buku Dee yang lain. Alasan utama yang pasti adalah: HARGA. LOL. Ga murah harga novel-novel Dee bagiku. Aku sendiri membatasi diri bersedia membeli buku yang berharga di atas Rp. 50.000,00 kalau buku itu tema utamanya adalah tentang feminisme/gender/perempuan. Di luar tema favoritku tersebut, aku mematok harga paling mahal yang mampu menggerakkan hatiku untuk membelinya berkisar antara Rp. 30.000,00 sampai Rp. 35.000,00.

PETIR pertama kali diterbitkan tahun 2004, tidak jelas bulan apa. Namun, pada bulan Mei 2004 aku membeli jurnal PROSA EDISI “Yang Jelita Yang Cerita”, dan ada nukilan cerita PETIR di situ, yang sangat kusukai. (In short, bagi yang belum tahu storyline PETIR, Dee melukiskan—atau menuliskan yah? LOL—konflik yang dialami oleh seorang anak Chinese by blood, tapi pribumi by nature, diramu dengan konflik spiritual d/h agama. (d/h apaan sih Na? Entahlah, cuma ketularan Dee aja nih. Wakakakaka …)

Adikku membeli PETIR beberapa bulan lalu, dan bercerita sedikit tentang konflik yang ada di dalamnya, yang mengingatkanku pada cerpen Dee yang kubaca tahun 2004 lalu. Saat itu aku belum NGEH juga kalau cerpen yang kubaca di jurnal PROSA tersebut merupakan nukilan novel Dee, yang menunjukkan ternyata aku juga seorang yang telmi. LOL. NOTE: Adikku membeli PETIR setelah diprovokasi seorang temannya, setelah dia juga menikmati membaca karya-karya Dee dalam buku FILOSOFI KOPI (hasi pinjam dari kakaknya—aku—tentu saja. LOL.)

Mengapa aku tidak segera ngecek di jurnal PROSA waktu itu? Oh well, hal ini disebabkan terjadi masalah teknis. LOL. Aku sekarang tinggal di satu singgasana yang sering kupaksatulis PT56, sedangkan bukuku tersebut tertinggal di singgasana yang lain, dimana aksesku ke situ ga begitu bagus. LOL.

Dan hari ini aku baru saja selesai membaca PETIR. Lha kok akhirnya aku terprovokasi juga membacanya, padahal adikku membelinya beberapa bulan yang lalu? Sekitar setengah tahun lah. Jawabannya adalah karena akhir-akhir ini mood membaca novel sedang menguasaiku. Pertama: sepulang dari Cirebon, aku membaca Princess Diary. ketika sedang jalan-jalan di Gramedia Grage Mall, Angie spotted that favorite teenlit of hers, setelah menunggu penerbitan Princess Diary serial keenam ini selama lebih dari satu tahun. Di awal membaca PD, aku terganggu dengan sulitnya berkonsentrasi untuk membaca satu buku penuh. Maklum, aku terbiasa membaca artikel-artikel ilmiah (cie .. sok ilmiah nih???) dalam Jurnal Perempuan (dan buku-buku lain, sebangksa KAJIAN BUDAYA FEMINIS) yang paling banter cuma 30 halaman. Pada waktu itu, seorang teman kerja meminjam PETIR dari adikku yang tentu saja harus melalui aku sebagai kurir. Sebelum menyerahkan novel tersebut kepada rekan kerjaku, aku sempat membuka beberapa halaman depan, wah … kok aku langsung suka?

Alhasil, setelah menemukan keasikan membaca PD—Princess Diary maksudku—dan menyelesaikannya, aku memprovokasi rekan kerjaku yang juga menikmati membaca PD. “Eh, kalau kamu sudah selesai membaca PETIR, entar tukeran dengan PD yah? Aku belum baca tuh novel.”

Sebelum menulis ini, aku mencari arsip postingan blog yang tentang Dewi Lestari dan Filosofi Kopi. I wrote them by the end of May 2006. Dalam PETIR, sangat terlihat jelas perjalanan spiritualitas Dee, mengapa dia pindah dari satu agama ke agama lain. Aku sendiri merasa mengalami perjalanan spiritualitas yang serupa dengan Dee, dalam hal mempertanyakan apakah orang yang tidak ke gereja, atau ke masjid, atau yang tidak melakukan ritual ibadah secara kasat mata—bagi orang Islam tentu saja shalat, membaca Alquran—berarti orang tersebut jauh dari Tuhannya? Tuhan ada dalam hati kita masing-masing, seperti juga setan pun ada dalam diri masing-masing manusia. Perang antara the good and the bad itu ada dalam diri kita, yang tidak kasat mata tentu saja. Mengapa orang-orang yang sok relijius itu kemudian membakukan definisi bahwa orang-orang yang tidak melakukan ibadah yang kasat mata tersebut adalah orang-orang yang tidak bagus kualitas keimanannya? Bukankah yang tahu kualitas keimanan seseorang hanyalah THE OMNIPOTENT? Human beings tahu apa sih? LOL.

Nah lo!!! Si Nana yang sekuler ini pun telah menjadi seorang a spiritual SNOB yang menyebalkan karena merasa sok bener juga, karena telah menuding-nuding orang-orang yang berada di seberang jalan dariku ini sebagai MENUDINGKU SEBAGAI ORANG YANG TIDAK BERIMAN. Oh well, bukannya tidak beriman sih, tapi kurang iman. LOL.ternyata aku pun sama-sama annoyingly judgmental juga dengan orang-orang yang kutuduh judgmental. LOL. LOL.

Bagi mereka yang mengalami perjalanan spiritual sepertiku dan Dee, baca PETIR deh. Bakal ga nyesel. LOL.

PT56 22.30 090207

No responses yet

Feb 10 2007

Anak-anak itu …

Published by afemaleguest under Teaching

Jadual kelas EC ku setiap hari Senin dan Rabu pukul 15.30-17.00. (NOTE: EC = Elementary Children Class, yang berisikan anak-anak SD. Kebetulan kelasku berisi anak-anak kelas ISD, berusia sekitar 6-7 tahun.) Sementara kelas Angie—dia di level High Intermediate sekarang—hari Senin dan Rabu pukul 17.00-19.00. Demi efisiensi (alias bisa dibaca: Angie malas berangkat sendiri), Angie berangkat ke tempat kursus dimana aku juga tercatat sebagai salah satu pengajarnya bareng aku, meskipun untuk itu dia bakal bengong kurang lebih 2 jam.

Salah satu kebiasaan Angie—bareng teman-temannya—adalah ke kamar kecil khusus perempuan yang kebetulan terletak di samping kelas EC-ku, sekitar pukul 16.30. Angie dan teman-temannya kadang mengintip dari balik kaca kecil yang terletak di tengah pintu, kemudan melambai ke arahku, “Hello Ma!”

Seminggu yang lalu hal itu terjadi lagi. Kebetulan pada waktu itu, aku sedang mengecek tugas para siswa, kemudian menandatangani buku-buku mereka. Sementara sebagian siswa perempuan mengitariku, sebagian duduk-duduk manis di kursi mereka masing-masing, sebagian siswa laki-laki asik mainan tirai di jendela, menariknya ke atas, kemudian menurunkannya, begitu berulang-ulang. Kadang-kadang, ada yang membuka pintu, keluar kelas, kemudian pintu ditutup oleh mereka yang masih berada di dalam kelas, dan main dorong-dorongan pintu. Aku pikir mereka melakukannya karena mereka tidak bisa duduk diam tanpa melakukan apa pun juga. Tahu kan tipe anak-anak yang hiperaktif yang tidak bisa tanpa melakukan kegiatan apa pun?

Tiba-tiba salah satu siswa perempuan yang mengitariku berbisik di telingaku, “Ms. Nana tahu ga kenapa anak-anak cowo itu mainan tirai? Bahkan keluar kelas?”

Aku balik bertanya, “Enggak tuh. Emangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Itu loh Ms. Godain anak-anak SMA yang ke kamar kecil!” dia mengatakannya dengan sok tahu dengan nada orang-orang dewasa yang hobby ngerumpi. LOL.

Aku cuma tersenyum sambil berkomentar pendek, “Oh ya?”

Dia bilang, “Iya, liat aja. Hmm .. . masih kecil begitu kok udah godain cewe-cewe SMA. Kalau sudah besar mau jadi apa mereka?”  dengan nada lebih sok tahu. LOL. LOL.

Bayangin, kalimat seperti itu diucapkan oleh seorang anak perempuan berusia 6 tahun!!! Darimana dia belajar ngerumpi seperti itu? Dari lingkungannya tentu, entah orang tuanya, entah mbaknya (NOTE: mbak yang diartikan sebagai pembantu rumah tangga. LOL.) entah tetangganya, atau siapa lagi lah.

Dia mengomentari teman-teman sebayanya yang bertingkah seperti anak-anak remaja dengan godain cewe-cewe remaja, tanpa dia sendiri sadari bahwa caranya berbicara, maupun berpikir, sudah seperti anak-anak remaja juga, atau bahkan lebih tua dari itu. LOL.

Hari Rabu yang lalu, ketika aku memberi waktu istirahat 5 menit di tengah-tengah kelas, sebagian anak-anak berhambur ke kantin untuk membeli jajan yang mereka inginkan, untuk kemudian balik ke kelas, sebagian yang lain kulihat hanya duduk-duduk di kursi masing-masing, sembari ngobrol, sebagian lagi, memilih mengitariku, sambil menontonku mengoreksi pekerjaan mereka.

Siswa perempuan yang kuceritakan di atas kembali ke kelas dengan membawa snack yang bernama LEO. Dia pamerkan snack itu kepadaku, sambil berkata, “Ini enak loh Ms. Namanya LEO.”

Dengan iseng aku bilang, “I am a LEO.”

Dia bertanya, “Hah? Ms. Nana apa?”

Aku bilang, “I am a LEO. Ms. Nana is a LEO.”

Dengan mimik muka yang tetap tidak mengerti ke arah mana pernyataanku, dia bertanya, “Maksud loe?” dengan logat kejakarta-jakartaan (atau betawi yah?) yang sekarang sedang ngetop. Wakakakakakaka …

Sesampai di rumah, Angie bertanya kepadaku, “Siswa EC Mama yang kecil, item, nakal itu namanya siapa Ma?”

“Emang kenapa?” tanyaku.

“Tadi waktu Angie dan teman-teman ke kamar kecil, tuh anak keluar kelas, trus godain kita, “Cewe …!”

HAH????????????????????

Gosh, anak-anak itu … apa yang membuat mereka menjadi matang lebih cepat daripada waktunya??? Baik yang laki-laki, maupun yang perempuan.

PT56 14.30 090207

No responses yet

Feb 10 2007

My Children Class

Published by afemaleguest under Teaching

One case happened in my Elementary Children class some weeks ago—a student lost his student book. It happened when three students went outside the classroom because I gave them some time for a short break after they finished doing their assignment earlier than the other students. Not long after that, the bell rang showing that the session was over. Two students—their initials are R and Iq—came back to the classroom, and asked me if they could leave. Iq said ok. The last student—his initial is L—entered the classroom after the two students left. When putting his books into his bag, he found out that his student book was missing. He came to me to ask me about that. I directly thought that probably one of his friends sitting next to him mistakenly took his book. I told L to be patient and tried to find it the following meeting.

The following meeting, Iq was absent while R attended the class. I asked R whether he mistakenly took L’s book. R convincingly shook his head and said that he knew nothing about that.

The following meeting, Iq was still absent. R was absent too.

The following meeting, Iq was present and I directly asked him whether he mistakenly took L’s book. He seemed restless with my question and responded, “Ms. Nana, I don’t know.” But then he tried convincing me that he didn’t bring L’s book. At that time, R was absent so that I couldn’t confront the two students. However, I asked Iq to check again in his house in case he didn’t realize it.

The following meeting, Iq said he didn’t find the book in his house. I felt uncomfortable because L’s mother asked me about that, and showed disappointment because her son’s book was missing. This is the first term L learns English in my workplace. However, I didn’t have a heart to force either R or Iq to admit that one of them had mistakenly took L’s book. Nevertheless, when comparing R and Iq’s facial expression when I asked them about the book, I could recognize the uneasiness at Iq’s face while R seemed ok, and not troubled at all.

Meanwhile, since I couldn’t find L’s book, his mother copied it from another student. It is an imported book and my workplace doesn’t let the parents buy a book from us. They will get the books—the student book and the workbook—for free when they register. However, they cannot buy it when their child’s books are missing.

A week ago, when checking the students’ assignment in their student books—on two different meetings—I recognized Iq submit two different books on those two different meetings. On the second meeting when finding Iq submitted a different book from the previous meeting, I again asked him about that. Uneasily, he said, “I don’t know about that. I have told you before that I don’t find the book at my house.” I didn’t really believe in him and said, “Tell your mother I want to see her in person.”

Yesterday, her mother came to me and asked what was going on. I told her about my curiosity that probably her son mistakenly took another student’s book. She said she did find two student books in Iq’s bag and she already told Iq to give one of the book to me or ask one of the classmate who has lost the book. I was surprised to hear that because in front of me, Iq didn’t admit that he brought L’s book while in fact his mother had asked him to give the book to me.

When talking about this case to a (female) workmate of mine, she commented that the mother seemed a good person and didn’t have any idea how she could have a son who had tried to be a cheater in a very young age. Another (male) workmate who heard our discussion said, “The mother works, doesn’t she? She must not have enough time to take care of the son by herself. It must be the maid who ‘teaches’ him to do such a thing.

Gosh!!!

Two things I hated from my male workmate’s remark:

v     Directly or not, he accused a working mother will create a cheater because she is busy outside and doesn’t have enough time to pay attention to the kid.

v     He easily misjudged the housemaid—who unfortunately usually happens to have very little education—as giving bad influence.

Why didn’t he try to relate the accident—the six-year-old boy who had tried being a cheater—to the father who must be also busy working outside? When there is something wrong like this, both of the parents must be responsible to “cure” it, and not only blame the mother. Whether he realized it or not, he—my judgmental male workmate—supported the status quo of patriarchal society about public and domestic spheres.

He burdened the housemaid—and perhaps all housemaids in general—as the responsible side to raise the kids of their employers well, not only watching them physically but also psychologically, and mentally. He forgot that in

Indonesia

the wage of the housemaid most of the time is very little. Are those housemaids angels? They must work (sometimes) more than twelve hours a day and get paid very little and get so much burden?

PT56 12.00 060207

No responses yet

« Prev - Next »