MARI MENGUTUK LAKI-LAKI
Dia cantik, seperti juga hari-hari kemarin. Payung merah jambu yang mekar di atas kepalanya membuat wajahnya seperti buah jambu. Menggemaskan dan lucu seperti noni-noni Belanda.
“Kamu kok kelihatannya sedih hari ini, Mar?
Seorang perempuan setengah baya segera menyapanya sesaat setelah ia masuk ke warung makan itu.
“Jose Maria mati. Federico membunuhnya.” Perempuan setengah baya itu tersenyum menanggapi, ia menghampirinya dengan segelas teh tawar yang masih mengepul. Sepertinya itu telah menjadi kebiasaan setiap si centil Mari datang ke tempat itu.
“Mari nggak sedih, cuma mangkel kok, Yu.”
“Makanya jangan terlalu banyak nonton telenovela, otakmu nanti jadi otak telenovela. Kamu jadi cengeng nanti. Nggak usah diambil hati, lah wong kamu cuma diapusi. Cuma film, Mar, buatan orang.”
Beberapa orang yang sedang makan di warung tersenyum simpul, sepertinya adegan semacam itu sudah sering mereka jumpai setiap mereka makan di situ. Seorang laki-laki berbadan kekar dan berkulit hitam mengkilat karena keringat tak terlalu peduli dengan suasana semacam itu, ia segera bersiap untuk pergi.
“Ngebon, lagi mas Joko?” perempuan setengah baya pemilik warung itu menegur.
“Ya Yu. Tanggal tua. Dicatat saja seperti biasa. Besok tanggal satu kubayar.”
“Tenan lho, mas Joko. Jangan molor lagi, nanti utangnya bertumpuk. Kalau nggak bisa bayar, saya yang rugi.”
“Biasanya juga molor, Yu. Dulu pernah “main” sama saya, katanya mau dibayar tiga hari lagi. Nyatanya sampai sekarang sesen pun tak pernah Mari terima uangnya. Iya kan, mas pothok?” Mari ikut menimpali sembari meliukkan tubuhnya, mempertontonkan kegenitannya. Namun akhirnya ia diam tak berkutik setelah laki-laki bertubuh kekar itu mengacungkan tinjunya.
“Dasar laki-laki hidung belang. Sudah punya dua istri kok masih suka ‘jajan’.” Mari menyinyirkan bibirnya setelah laki-laki itu benar-benar telah pergi, dengan suara lirih.
“Yu Jem, seperti biasa ya, nasi, telur ceplok setengah matang, tumis janggel.”
Mari memperbaiki rambut jatuh yang menutupi wajah ayunya, jari-jari lentiknya terlihat sangat gemulai.
“Mer, tadi malam kamu kok nggak nongkrong di jembatan, sudah ditunggu sama Mbah Wongso sampai karatan.”
“Mas Wahyu tadi panggil aku siapa?”
“Mer, Meri.”
“Enak saja. Panggil aku Mar. Mari.”
“Ini nasinya, Mar, “sela Yu Jem.
“Tadi malam periksa lagi, ya?” Mas Wahyu melanjutkan kembali omongannya.
“We, tobil kowe Mas. Mari ini sehat. Bebas sifilis. Bebas aids. Yu … Yu … telurnya kurang asin.”
“Iya Mar. Kemarinnya lagi kamu juga nggak nongol. Pindah tongkrongan ya?”
“Enggak kok Bang Jaja, Mari sudah dapat kerja. Kerja halal. Di salon.”
“Di salon? Memangnya kamu bisa apa? Ngeramasi rambut?”
“Rambut yang mana, Mar?” Irul yang dari tadi asyik dengan ayam gorengnya ikut-ikutan menggoda Mari.
“Anak kecil tahu apa kamu? Umur belum tujuh belas saja kemaki. Di Jakarta dulu Mari pernah kursus kecantikan. Dapat ijasah. Pokoknya valid dan bonafid. Dari potong, creambath, manicure, sampai ngecat rambut Mari sudah oke. Sampeyan-sampeyan ini bisanya cuma ngumbar omongan.”
“Kamu nggak bakalan ke jalan lagi, Mar?” tanya Yu Jem.
“Saya muak sama laki=laki, nafsu gede uang nggak ada. Lebih banyak yang kasar daripada yang penyayang. Ya seperti sampeyan-sampeyan itu.”
“Jangan begitu, Mar, kalau kurang kasih sayang ngaku saja.” Mas Wahyu membela kaumnya.”Paling-paling juga seperti dulu. Kerja di toko roti dua bulan sudah balik ke jembatan.” Suara bang Jaja terdengar sinis.
“Dulu beda, Bang. Bos saya yang di toko roti itu memang edan. Suka ngancam. Kasarnya bukan main. Mari suka dihajar kalau nggak nuruti kemauannya. Untung istrinya tahu. Biarpun Mari dipecat, tapi rasanya lega. Plong. Eh, istrinya sempat gila karena tahu ternyata suaminya seorang maniak.”
“Bosmu yang sekarang apa lebih baik, Mar?”
“Kelihatannya sih oke. Bosku itu cewek Mas Wahyu, cantik lagi. Dia pasti nggak bakalan ngerjain aku. Malah katanya dia suka gemer kalau lihat aku, soalnya aku lucu, kemayu, kayak terwelu.”
“mar, berarti aku kalau cukur rambut digratisin, ya?” Bang Jaja membujuk.
“Rambut yang mana Bang?” sela Irul yang masih berlagak seperti anjing yang sedang asyik menggerogoti tulang-tulang ayam goreng.
“Dasar otak ngeres, kamu pasti suka nonton film porno itu di tempatnya mami Darmi. Tahu nggak, kalau kamau itu sebenarnya diajari jadi gigolo. Mbok sekalii-sekali otakmu itu dicuci dengan deterjen biar bersih. Dasar wong gendeng. Berapa, Yu? Nasi, sayur asem, ikan asin, krupuk dua, pisang satu,sama es teh.”
“Tiga ribu.”
Bang Jaja segera meninggalkan tempat itu. Becaknya telah lama menunggu. Segera saja derit ban roda tiga itu menghilang di tikungan.
“Mar, kalau masih ada yang mau ngajak main, apa kamu masih mau?”
“Mas Wahyu mau main sama aku?”
“Bukan aku, tapi Mbah Wongso.”
“Yang benar, Mas. Jangan mengatasnamakan Mbah Wongso ah. Mari tahu lho dari … lirikan matamu membuat hatiku na … na … na …” Mari menyanyikan sepenggal lagu dangdut yang sebenarnya tak dia hafal syairnya.
“Ada-ada saja kamu ini. Kalaupun iya, aku nggak bakalan ngajak kamu. Masih ada Tatik, Rina, Dona. Mereka itu pelacur tulen. Bisa melayani dari berbagai arah, bentuk, sudut, dan posisi.”
“Kalau nggak mau ya sudah. Aku juga belum tentu mau sama mas Wahyu. Apa saya bilang tadi, Yu. Laki-laki itu memang sombong. Omongannya setinggi langit tapi kenyataannya masih tinggian hak sepatuku. Kuinjak – nyet. Binasalah kamu para lelaki. Apa mas Wahyu lupa pernah nyium saya di bawah jembatan sehabis Lebaran tahun lalu?”
“Ala itu kan karena aku taruhan sama Kerto Pentil, siapa yang berani nyium kamu dapat lima puluh ribu.”
“Jadi harga bibir ini cuma lima puluh ribu. Lipstickku saja enam puluh ribu kurang.”
“Yu Jem, tolong oseng-oseng tempenya dibungkus. Lima ratus saja. Perkedelnya lima.” Tiba-tiba mbak Rini telah berdiri dengan nafas memburu, ia memang setengah berlalri menuju tempat itu.
“Kamu nggak masak, Rin?” tanya Yu Jem.
“Males.”
“Kok ngos-ngosan gitu sih, mbak Rini? Suaminya kelaparan ya? kasihan.” Goda Mari.
“Lho Mar, kamu kok masih di sini. Telenovelanya sudah maintuh, makanya aku terburu-buru mumpung masih iklan.”
“Memangnya sekarang jam berapa, Mbak?”
“Lima lewat lima.”
“Waduh ketinggalan separuh nih. Yu … yu … sisanya dibungkus saja ya. Mbak Rini terus ceritanya gimana?”
“Anu Mar, si Federico mau membunuh Ramona soalnya dia kan mengandung anaknya?”
“Kurang ajar betul Federico itu. Keparat. Pengecut. Dasar bajingan. Pembunuh!” Mari mulai geram.
“Ia juga mau meperkosa Rosalina, padahal dia itu sebetulnya anaknya sendiri.”
“Jadi diperkosa?”
“Belum sempat. Lha wong terus iklan.”
“Sialan betul si Federico itu. Kalau aku jadi Rosalina kupotong saja cacing besar dalam celanya, lalu kubuang ke kali biar dimakan cethul-cethul.”
“Sudah … sudah nih pesanannya, cepat sana pergi.” Yu Jem segera menyerahkan dua bungkusan dalam tas plastik hitam sebelum warungnya berubah jadi pasar malam.
“Nih uangnya, Yu.”
“Kembaliannya, Mar.”
“Sudah sekalian sama mbak Rini.”
“Waduh makasih ya, Mar,” ucap mbak Rini yang seera memasukkan kembali uang yang ia maksudkan untuk membayar oseng-osengnya ke dalam behanya.
“Biasa saja. Tapi aku nonton di rumahmu, ya.”
“Beres.”
“Mar, kalau sekalian sama mbak Rini uangnyakurang,” teriak Yu Jem yang sungguh sayang tertelan suara dua orang pecandu telenovela yang ternyata lebih bising. Secepat itu juga mereka telah menghilang.
“Mari … Mari … nggak nyangka dulu namamu Taryoto,” gumam Yu Jem agak kesal.
“Siapa, Yu?”
“Itu si Mari. Dulu namanya Taryoto.”
“Yang benar, Yu. Dia ngaku sama saya namanya Permadi,” sangkal mas Wahyu.
“Masa sih? B ukannya Dalijo? Tambah Irul sambil menjilati jari-jarinya, menari sisa rasa ayam gorengnya.
Sementara di kejauhan sana sayup-sayup terdengar teriakan mbah Wongso.
“Mar, nanti jam sepuluh kutunggu di jembatan. Seperti biasanya.”
By Ludriatin.
CATATAN:
mangkel è jengkel
diapusi è dibohongi
tenan è benar
pothok è kekar
tobil è anak kadal
kowe è kamu
sampeyan-sampeyan è kalian
terwelu è kelinci
ngeres è kotor menjurus porno
cethul è sejenis ikan tawar
gendeng è gila