Feb 22 2007

Menjelang rapat

Published by afemaleguest at 4:43 am under Angie

Ketika aku parkir
sepeda motor di bawah satu pohon rindang di depan SMA N 3 untuk menghadiri
rapat, datanglah seorang laki-laki yang kemudian memarkir motornya di
sampingku. Dia tersenyum dan menyapaku. Berhubung telingaku sedang khusuk
mendengarkan lagu dari MP, aku tidak mendengarnya. LOL. Yang kulihat hanyalah
mulut orang tersebut seperti sedang berkata sesuatu, dan matanya tersenyum
kepadaku. (Bisa bayangin kan, sorot mata yang tersenyum? Bisa bedain dengan
sorot mata yang tajam menusuk menuduh kita melakukan suatu kesalahan,
misalnya?)

Untunglah aku
langsung sadar bahwa orang tersebut berbicara padaku sehingga aku lepaskan
earphone dari telinga, dan bertanya kepadanya, “Kados pundi Pak?”

(I speak very
little Kromo Inggil, if you care to know. LOL.)

“Mbak mau
menghadiri rapat?”

“Oh, iya. Bapak
juga kan?” aku berikan senyum manis kepadanya sekaligus untuk memberikan kesan
bahwa aku minta maaf padanya karena tidak mendengar sapaannya sebelumnya. LOL.

“Iya.”

“Anaknya kelas
berapa Pak?” tanyaku berbasa basi.

“Kelas X-11.”

“Oh, anak saya
kelas X-9.”

Aku tahu setelah
saling berbasa basi menyapa kita bisa berjalan bersama menuju ke tempat rapat
diselenggarakan. Namun berhubung aku ini tipe orang yang mengidap penyakit
asocial yang parah, aku langsung ngacir, setelah berpamitan,

“Monggo Pak?”

Dia menjawab,
“Monggo…”

Namun, ternyata
dia tidak memahami bahasa tubuhku yang sebenarnya ingin memberitahunya bahwa
aku ingin sendiri. Aku berjalan dengan langkah yang tidak panjang karena kakiku
pun tidak panjang. LOL. Otomatis, laki-laki itu dengan mudah mensejajarkan diri
dengan langkahku, dan bukannya mengambil arah yang berbeda dariku. Aku langsung
berpikir, “Gimana cara beramah tamah lagi dengannya? Apa yang harus kukatakan?”

Akhirnya
kutemukan satu pertanyaan yang sangat basi itu. “Anak Bapak lulusan SMP mana?”

Ternyata anaknya
dulu satu sekolah dengan Angie, SMP N 1, namun berasal dari kelas yang berbeda.
Angie di kelas 3D sedangkan anaknya di kelas 3A.

Out of the blue,
si Bapak itu berkata, “Istri saya ga mau saya minta untuk menghadiri
rapat-rapat seperti ini. Terpaksa saya datang sendiri.”

“Oh …” jawabku
pendek. (menurut cara berkomunikasi yang baik yang pernah kubaca, jawaban
pendek seperti “oohh….” “hmmm…” “iya ….” tanpa mengatakan apa-apa lagi
setelah itu termasuk cara killing conversation yang sukses. LOL. )

Betapa aku ini
orang yang tidak ramah.
L

Namun, dalam
pikiranku aku langsung berpikir, mengapa orang ini berbicara seperti itu? Untuk
urusan anak kan ga perlu ada garis pembatas ini urusan sang ibu maupun sang
ayah? Kalau memang sang ibu sibuk bekerja di kantor, dan sang ayah yang punya
waktu luang, mengapa tidak?

Kebetulan saja
aku ini single parent, yang tidak bekerja 8-4 di belakang meja dengan melototin
monitor komputer ataupun dengan balpoint di tangan kanan dan telepon di tangan
kiri menerima keluhan dari klien, misalnya.. So, it is not a big deal bagiku
untuk selalu menghadiri acara rapat seperti ini di sekolah anakku.

Well, hanya
sekedar catatan kecil waktu aku menghadiri rapat di sekolah anakku.

PT56 13. 40
220207




Comments RSS

Leave a Reply