Feb 28 2007
Female versus Male
Seminggu yang lalu, dalam rangka berdiskusi tentang male friends versus female friends, kelas Intermediate 3 yang kuampu membahas empat pernyataan berikut ini.
Ö “Women make better friends than men.”
Ö “Men love to have a smart woman as a wife.”
Ö “Men and women generally have different opinions on things”
Ö “Women and men must have equal rights in every aspect of life.
Ada sekitar enam belas siswa yang masuk yang kemudian kubagi dalam empat kelompok, rata-rata satu kelompok terdiri dari 4 siswa. Satu kelompok membahas satu pernyataan di atas.
Ö “Women make better friends than men.”
Kelompok ini terdiri dari empat siswa perempuan, kelas I dan II SMA. Mereka tidak setuju dengan pernyataan ini karena mereka berpikir bahwa laki-laki perempuan saling melengkapi. Kadang-kadang mereka membutuhkan teman laki-laki pada satu tertentu, seperti pula dalam kesempatan lain mereka lebih membutuhkan teman perempuan dalam situasi yang berbeda. Dalam situasi tertentu tersebut, kehadiran teman laki-laki maupun perempuan kadang-kadang tidak bisa untuk exchangeable. Ini adalah alasan yang mereka berikan.
Ö “Men love to have a smart woman as a wife.”
Kelompok ini terdiri dari dua empat siswa laki-laki, dua masih duduk di bangku SMA kelas III, sedangkan yang dua lain sudah duduk di bangku perguruan tinggi. Jawaban dari kelompok ini pun terbagi menjadi dua. Kebetulan kedua siswa anak SMA kelas III tersebut setuju dengan pernyataan di atas dengan alasan, “Kalau istri kita pintar, dia bisa membantu kita di saat kita membutuhkan pertolongan dia. Selain itu istri yang pintar lebih bisa diandalkan untuk mencari uang sehingga kita tidak perlu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.”
Sepintas terdengar sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri. Namun di sisi lain, hal ini menunjukkan kebesaran hati seorang laki-laki bahwa dia bukanlah yang PALING SUPER dalam rumah tangga. Dengan satu syarat tentu saja, kedudukan mereka harus benar-benar setara. Jangan hanya dalam rangka bekerja mencari uang mereka setara, kemudian di sisi lain, sang istri dianggap tak ubahnya seperti pembantu sedangkan sang laki-laki adalah majikan. Kalau hal ini yang terjadi, sama dengan si istri sudah jatuh tertimpa tangga pula è harus bekerja keras di luar untuk mencari nafkah, masih harus pula bekerja keras di dalam rumah (yang orang dulu bilang, berkutat dari sumur, dapur, kasur.)
Kedua siswa laki-laki yang duduk di perguruan tinggi tidak setuju dengan pernyataan di atas dengan dua alasan yang berbeda. Pertama, si mahasiswa fakultas Ekonomi ini mengatakan “Smart women don’t need any man!” mereka berpikir bahwa dengan kepintarannya, mereka akan mampu menggenggam dunia ini di tangan mereka sehingga mereka tidak lagi membutuhkan laki-laki. Karena biar bagaimana pun laki-lakilah seharusnya menjadi pengontrol atau penguasa di dunia ini, seperti yang telah disebutkan dalam surat Annisa. Bla bla bla … Weleh … English class has transformed into a religion teaching class? LOL. LOL.
Aku sebenarnya gemes betul dengan siswaku yang satu ini. LOL. Bukan pengen menjewernya, LOL, melainkan melemparkan sepatu bootku ke arahnya. LOL. LOL. Lebih sadis yah? LOL. LOL. Aku sebenarnya pengen menjabarkan bahwa para feminis tidak menginterpretasikan surat Annisa ayat bla bla bla itu sebagai penunjuk bahwa laki-lakilah sang penguasa di dunia (yang tentu saja berseberangan dengan para interpreter laki-laki konvensional yang bias gender), para feminis menggunakan istilah lain yang lebih kontekstual daripada hanya sekedar tekstual ketika memberikan tafsir ayat tersebut. Tapi, sebisa mungkin aku menahan diri karena kapasitasku di situ adalah sebagai an English teacher, dan bukan sebagai gender trainer di kelas religion teachings, atau sebangsa itu. LOL. LOL. And ….??? well, kulihat wajah-wajah yang agak kecewa (terutama dari beberapa siswa perempuan) mengapa aku tidak melanjutkan protesku kepada si mahasiswa fakultas Ekonomi tersebut. J
Siswa laki-laki kedua yang tidak setuju dengan pernyataan di atas adalah seorang mahasiswa Kedokteran. Alasan mengapa dia tidak setuju adalah, “Smart only is not enough Ma’am, smart must be accompanied by beauty and good behavior. As we know the winner of Ms. Universe has those three qualities, brain, beauty, and behavior.”
Well??? Ini bisa diartikan bahwa dia sebenarnya bukanlah tidak setuju dengan pernyataan “Men love to have a smart woman as a wife”, melainkan dia justru ingin melengkapinya. LOL. Honestly, I like this student. He is smart, eager to learn, serious, diligent, and always attentive to the lesson. (Can a teacher be fair to all students? LOL. Absolutely I don’t like lazy and narrow-minded students.)
Ö “Men and women generally have different opinions on things”
Pernyataan ini dibahas oleh kelompok yang terdiri dari empat siswa laki-laki anak SMA kelas I dan II. Mereka setuju dengan pendapat ini karena mereka berpikir laki-laki dan perempuan dibesarkan dengan cara yang berbeda oleh orang tuanya, dididik dengan cara yang berbeda pula oleh lingkungannya yang kemudian menghasilkan cara berpikir yang berbeda pula dalam menyikapi satu permasalahan. Tidak selalu benar, namun juga tidak selalu salah. J
Ö “Women and men must have equal rights in every aspect of life.
Pernyataan ini dibahas oleh empat siswa perempuan, dua kelas III SMA, dan dua lain duduk di bangku perguruan tinggi. Keempatnya setuju bahwa laki-laki maupun perempuan setara dalam segala hal, apalagi mengingat sekarang sudah zaman emansipasi wanita.
Bagaimana dengan emansipasi pria? Bahwa mereka pun berhak menentukan untuk menjadi bapak rumah tangga dan berprofesi di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga—segala hal yang berkaitan dengan dapur, sumur, plus kasur (baca è give the best sexual satisfaction to the partner LOL)—dan dengan legawa membiarkan istrinya berkiprah di sektor publik?
Pertanyaan ini hanya tersimpan di otakku saja karena waktu yang tidak berpihak kepada kita untuk melanjutkan diskusi. J
PT56 14.15 270207