Seminggu yang lalu aku post tulisanku tentang pengalaman pertamaku mengajar kelas anak-anak SD. Nah, tulisan ini masih melanjutkan kisah itu.
Kemarin, Senin, 22 Januari 2007, seorang anak perempuan, Yuni, minta ijin ke kamar kecil. Dengan polosnya dia bilang, "Ms. Nana, minta ijin ke kamar kecil, mau buang air besar."
"Iya, Yuni. Udah tahu tempatnya kan?"
Yuni mengangguk.
Ga lama kemudian, Yuni balik lagi ke kelas, dan bilang, "Ms. Nana … saya biasanya ditungguin mbak kalau sedang buang air besar."
FYI, kata "mbak" dalam kultur di Semarang, atau mungkin di Jawa Tengah bisa bermakna ganda: pertama, kakak perempuan, yang kedua, berarti housemaid yang biasanya perempuan. Dan, aku tidak yakin makna yang mana yang Yuni maksud. Dan, begonya aku ga tanya, sok tahu aja. LOL. Kupikir, kakaknya yang kebetulan memang les juga di tempatku mengajar. So, aku jawab,
"Iya ga papa Yuni. Yuni panggil aja mbaknya. Mbak-nya ada di sini kan?"
Yuni (menggeleng): "Ga ada di sini Ms. Nana."
Aku: "Lah, trus gimana dong?" … setelah pikir-pikir sejenak, aku pikir Yuni minta aku yang menungguinya. So, aku bilang, "Mau ditungguin Ms. Nana?"
Yuni menggeleng, dan menjawab, "Ditungguin itu tukang bersih-bersih aja Ms."
Aku bengong, trus bertanya: "Pegawai cleaning service maksudnya? Yang pakai seragam biru-biru itu?"
Yuni mengangguk.
Weleh, ga ada pegawai cleaning service yang perempuan!!! Mana tegalah aku? So, aku paksain si Yuni, "Oke Yuni, Ms. Nana aja yang nungguin." Dan Yuni mengiyakan.
Aku ingat Angie yang selalu merasa tidak nyaman to pee or poop di tempat yang dia merasa asing. Dia lebih memilih menahan sampai dia pulang ke rumah. Dan ternyata si Yuni kecil (kelas 1 SD) dengan nyamannya mengatakan hal tersebut kepadaku.
Walhasil, aku menunggui Yuni di restroom, setelah memberi tugas kepada siswa-siswa yang lain. Yuni yang cukup pede ini malah ngajak aku bercerita tentang bagaimana dia kadang-kadang poop di restaurant ketika dia dan keluarganya eating out, bercerita tentang Papanya yang katanya berat badannya mencapai 90kg, dll. Dan aku benar-benar takjub melihatnya betapa dia merasa begitu nyaman bersamaku, sehingga melakukan ‘hajatnya’ dengan nyaman juga.
Setelah kelas usai, aku bercerita ke teman-teman guru tentang pengalaman ini. Dan, ternyata, aku yang baru pertama kali ini mengajar kelas Elementary Class ya yang pertama kali juga "ketiban sampur" untuk menunggui seorang siswa pooping, trus mencebokinya. Well … well … well … sudah bertahun-tahun tentunya aku tidak melakukannya ke anak semata wayangku. Dan tahun ini aku melakukannya lagi, not to my only daughter, but to my student. Menurutku sendiri, it is quite an experience. LOL.
Teman-teman kerjaku langsung heboh mendengar ceritaku ini. LOL. Seorang teman, perempuan, yang memiliki anak perempuan berusia sekitar 2 tahun, dan sedang hamil anak keduanya, berkomentar, "Wah, lah wong ke anakku sendiri aja aku sering jijik kok, dan kusuruh suamiku ngurusin anakku yang lagi poop. Eh, anak orang lain." LOL.
Simply I said, "It all depends on our way of thinking. When we talk to ourselves that it is love, it is LOVE then."
Sebenarnya aku cuma inget aja omongan my first online boyfriend. "Everything coming out from you, Nana darling, is love for me." Cie … sensual banget. huehehehehe … but juga loving. Do you agree?
KPDE 12.13 230107