Jan 27 2007
My Children Class
Pertama kali aku mengajar EC (Elementary Class) yang berisikan anak-anak yang masih duduk di bangku SD (sekitar satu tahun yang lalu, hanya menggantikan seorang teman yang berhalangan mengajar), aku sempat kaget ketika kelas usai, anak-anak mendatangiku satu per satu untuk bersalaman denganku. Sebagian mencium punggung tanganku, sebagian lain menaruh punggung tanganku ke pipi atau ke dahi mereka. Aku ingat saat itu rasanya aku ingin memeluk mereka satu persatu dan mencium pipi dan dahi mereka setelah mereka bersalaman denganku. But I didn’t do it, bakal heran mereka tentu.
Setelah aku balik ke ruang guru dan berbagi cerita dengan guru-guru yang lain, mereka tertawa sambil berkata bahwa hal tersebut merupakan salah satu karakteristik siswa-siswa kelas EC yang memang tidak ditemukan di kelas lain (misal program FSC yang berisikan anak-anak SMP, apalagi kelas General English yang minimal berisi anak-anak SMA).
Aku jadi ingat ketika masih duduk di bangku SD dimana aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Sebelum meninggalkan kelas, memang guru kelas akan berdiri di pintu, kemudian semua siswa bersalaman sambil mencium punggung tangannya. SMP dan SMA aku bersekolah di sekolah negeri yang tidak memiliki kebiasaan ini. I am wondering if the students of Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) and Madrasah Aliyah (setingkat SMA) masih melanjutkan kebiasaan ini, bersalaman dengan guru kelas sambil mencium punggung tangannya sebelum meninggalkan kelas.
Namun, aku perhatikan, dan juga teman-teman guru lain yang biasa menghandle kelas EC, siswa-siswa yang kita pikir bukan berasal dari keluarga Muslim terlihat agak grogi mengikuti kebiasaan teman-teman sekelasnya: bersalaman sambil mencium punggung tangannya. It is a BIG OKAY for me. Kita ga bisa memaksakan kebiasaan kita kepada orang lain yang akan merasa canggung melakukannya bukan?
Di antara 13 siswa yang ada di kelasku, aku perhatikan ada satu siswa yang dengan pede hanya menjabat tanganku, tanpa menciumnya, menatap mataku, mengangguk, kemudian keluar kelas. Sementara anak-anak lain yang aku ketahui bersekolah di sekolah Kristen/Katolik, belum sepede itu. Namun ada satu siswa perempuan yang tanpa canggung menaruh punggung tanganku ke dahinya, sambil tersenyum kepadaku, kemudian keluar kelas.
Ternyata, di kelas lain, ada seorang anak yang jauh lebih pede, mengatakan kepada guru kelasnya, “Ms. Saya kan non Muslim. Saya tidak perlu bersalaman kan?” Oh gosh, is it really a big problem for them to do that?
Aku ingat pengalamanku sendiri, di pertemuan yang kedua. Seorang anak Chinese, perempuan, dengan polos bertanya padaku, “Ms. Nana Islam atau Kristen?” Aku sempat tertegun sejenak dengan pertanyaan itu. What’s her point? Sambil tersenyum aku menjawab, “Ms. Nana Islam.” Aku berusaha menyelidiki apakah rona wajahnya atau sorot matanya yang biasanya memandangku dengan ramah dan loving akan berubah mendengar jawabanku. Ternyata tidak. Karena mereka masih terlalu muda untuk mendengar “kuliah”ku, aku merasa tidak perlu bertele-tele menguliahi bahwa agama yang berbeda tidak berarti bahwa kita harus merasa ada perbedaan yang sangat besar yang akan menghalangi hubungan kita. Aku lebih memilih menunjukkan dengan perhatian dan kasih sayangku ke mereka tanpa memilih etnik maupun agama.
Anak-anak yang masih polos itu hanya “korban” religious snob orang tuanya (dan mungkin juga guru sekolahnya—baik yang Muslim maupun yang non Muslim) yang (perhaps) membebani mereka dengan “Kalau berteman pilih yang sama agamanya dengan kita.” Menyedihkan. L
Jadi ingat kata Abangku, “Kalau semua orang Indonesia kayak kita, tentu Indonesia menjadi tempat yang paling damai sedunia.” (FYI, aku dan Abangku berbeda etnik dan agama, namun toh we are loving and understanding to each other.)
If only …
PT56 07.40 280107