Dec 19 2006

Sleep Rape

Published by afemaleguest at 10:06 pm under Gender

Pernah dengar istilah “sleep rape”?

Aku mendapati istilah ini tatkala membaca artikel yang berjudul “Representrasi Femininitas dan Maskulinitas dalam My Boyfriend Raped Me in His Sleep”, dalam buku Kajian Budaya Feminis karya Aquarini Priyatna (Jalasutra: 2006). Artikel ini sendiri ditulis oleh Aquarini dalam rangka menganalisis artikel yang berjudul “My Boyfriend Raped Me in His Sleep” dalam salah satu terbitan majalah Cosmopolitan versi berbahasa Inggris.

Apa yang ada dalam benakmu ketika mendengar judul artikel ini “My Boyfriend Raped Me in His Sleep”? Kamu percayakah bahwa seseorang yang sedang tidur mampu melakukan pemerkosaan, kepada orang yang disayanginya—kekasih maupun istri? Artikel di dalam Cosmopolitan ini membahas kemungkinan terjadi fenomena seperti ini.

Bagi mereka yang biasa membaca majalah satu ini, tentu familiar dengan mottonya, yakni “Fun Fearless Female” yang sekilas bisa dikonotasikan sebagai feminis (yang lunak, bukan radikal tentu saja). Namun bagi seorang feminis (yang tidak lunak LOL), aku tentu bisa melihat bahwa motto “Fun Fearless Female” itu hanya sekedar motto, agar bisa diterima oleh lingkungan para feminis, karena kenyataan yang ada, banyak artikel yang ada di dalam majalah Cosmopolitan, juga iklan-iklan yang muncul di dalamnya, tak jauh berbeda dengan majalah perempuan konvensional, sebagai contoh di Indonesia adalah majalah Femina atau Kartini, atau yang untuk usia belasan tahun, Gadis. Misalnya artikel bagaimana menjadi seorang istri yang baik, yang kemudian pemaparannya merujuk ke stereotype yang telah ada selama berabad-abad, misal: meladeni suami di segala bidang, e.g. mencuci baju, menyeterika, memasak, sampai bagaimana memuaskan suami di ranjang. Plus: bagaimana menjadi wanita karier yang sukses, sehingga layak disebut sebagai SUPERWOMAN. Klise kan? Hal ini justru merupakan penindasan baru terhadap perempuan, tak beda dengan motto Orde Baru dengan gerakan Dharma Wanitanya. L Perempuan boleh berkarier di luar rumah asal pekerjaan rumah tidak terbengkalai. Beban ganda terhadap perempuan, yang menghasilkan kesimpulan seolah-olah perempuan memang diciptakan untuk melakukan segala kegiatan yang ada di rumah, dan laki-laki adalah sang raja yang hanya memberikan titah kepada bawahannya di rumah.

Kembali ke artikel “My Boyfriend …” Artikel ini memuat wawancara yang seolah-olah nyata (namun diragukan apakah wawancara ini benar-benar terjadi, atau hanyalah wawancara imajiner si penulis—ini adalah analisis Aquarini, sayangnya aku sendiri sampai sekarang belum mendapatkan Cosmopolitan yang memuat artikel ini untuk membacanya sendiri), antara beberapa pasang suami/istri, maupun pasangan kekasih.

Singkatnya, pasangan-pasangan ini merasa ada yang tidak beres dalam kehidupan seksual mereka karena kecenderungan para laki-laki tersebut untuk melakukan rape ketika tidur. Si perempuan merasa tidak nyaman ketika dia sedang tertidur nyenyak di tengah malam, pasangannya tiba-tiba melakukan tindakan yang bisa disebut sebagai pemerkosaan, karena si perempuan tak menghendakinya. Si perempuan tidak kuasa menolaknya karena yang melakukan adalah orang yang paling disayanginya. Sedangkan si laki-laki, yang tiba-tiba merasa horny di tengah tidur malamnya, langsung secara refleks melakukannya terhadap pasangannya. Mengklaim diri sedang dalam keadaan tidak sadar karena sedang tidur, dia tidak bisa membaca situasi bahwa pasangannya menolaknya. Akhirnya hubungan seks (atau pemerkosaan) itu terjadi, si perempuan tidak menyukainya, karena merasa terpaksa melakukannya, sedangkan si laki-laki merasa melakukannya secara refleks. Di pagi harinya ketika pasangannya komplain, si laki-laki merasa tidak melakukan apapun juga. Ada dua kemungkinan: dia merasa tidak nyaman terhadap pasangannya karena telah melakukan pemerkosaan tersebut, padahal dia sendiri sedang dalam keadaan tidur; yang kedua dia merasa tidak nyaman karena dituduh melakukan hal yang tidak dia lakukan. Hal ini tentu saja mengakibatkan hubungan yang tidak harmonis antara keduanya.

Well, dalam hidupku, aku belum pernah mengalami hal seperti ini, sehingga rasanya tidak masuk akal bagiku kalau si laki-laki merasa tidak melakukannya. Mana mungkin seorang laki-laki memperkosa dalam keadaan tidur? Kalau memang tidak menyukai perlakuan yang aneh tersebut, mengapa si perempuan diam saja dan tidak berusaha untuk membangunkan si laki-laki? Misalnya saja dengan mengguyurkan air dingin ke kepalanya? LOL.

Seandainya hal ini hanyalah imajinasi si penulis artikel, apa maksudnya menulis artikel seperti ini? Apa maksud Cosmopolitan memuat artikel seperti ini kepada pembacanya yang katanya “Fun Fearless Female”? FYI, menurut Pearce dan Stacey dalam bukunya Romance Revisited, seperempat pembaca Cosmopolitan adalah laki-laki. Dengan memuat gambar yang menunjukkan seorang perempuan yang sedang tidur dengan damai dalam artikel tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Cosmpolitan tetaplah merupakan pendukung status quo bagi kultur patriarki: perempuan yang lemah, dan laki-laki yang dalam tidur pun tetaplah merupakan makhluk yang lebih berkuasa atas perempuan.

PT56 14.22 191206




One Response to “Sleep Rape”

  1.   pria lemahon 23 Dec 2008 at 9:33 pm

    walah, aneh euy umumnya wanita emang lemah, dan perempuan diciptakan utk laki2.

Comments RSS

Leave a Reply