Dec 23 2006
Poligami (lagi dan lagi)
Bosen ngomongin tentang poligami? Sama dong. LOL. But, siapa tahu artikel berikut ini yang kuterima di milis perempuan akan menggugah atau mengusik apa yang kamu simpan di benakmu tentang poligami.
Satu artikel yang dimuat di Jawa Pos dikirim ke milis perempuan, yang kemudian menarik perhatian para miliser untuk mengkomentarinya. Di bawah ini aku pilih salah satu komentar.
Potret (Keliru) Poligami
Rabu, 13 Desember 2006
Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan daripada mereka yang mau jadi istri kedua
Oleh Sirikit Syah
Sahabat saya dr Nalini Agung menelepon hanya untuk menyampaikan komentar kerasnya. "Ada tiga jokes of the year tahun ini, laki-laki semua. Aa Gym, Yahya
Zaini, dan Akhmad Dani," katanya dengan nada jengkel. Menurut perempuan cantik dan pintar itu, Yahya, yang tampil bisu di sisi istrinya di hadapan publik Kamis malam
lalu, "Adalah laki-laki bertubuh besar, bernyali ciut.
Ada persoalan dengan istri, lari ke perempuan lain. Kini ada persoalan dengan perempuan lain, berlindung kepada istrinya."
Tentang Aa Gym, Nalini tidak banyak berkomentar, selain, "Ternyata, Aa Gym manusia biasa juga." Namun, Nalini tak dapat menoleransi kepongahan suami bernama Akhmad Dani. "Suami macam itu, kalau saya jadi Maia, wis tak tinggal."
Tiga lelaki "jokes of the year", istilah bagus temuan seorang perempuan berpendidikan dan berkarir, yang juga ibu rumah tangga yang baik. Di kalangan pemerintah, Presiden SBY tak berkomentar sepatah kalimat pun mengenai kasus YZ-ME, malah mempersoalkan regulasi perkawinan poligami seolah-olah itu ancaman nasional.
Di lapangan, berbagai kelompok masyarakat, antara lain mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jogjakarta, berdemo menentang poligami. Ibu-ibu muslimat memboikot pengajian Aa Gym. Sangat mengherankan, tak ada masyarakat yang berdemo memprotes YZ, wakil rakyat yang melakukan skandal seks.
Dunia sudah terbolak-balik. Aa Gym -yang menikah dengan uang sendiri dan mendapat rida istri-dihujani kecaman lebih keras daripada pelaku perzinahan dan perselingkuhan dengan menggunakan uang rakyat/negara.
Potret Poligami
Seperti yang dikatakan Aa Gym, poligami sudah sangat dikelirukan maknanya. Yang melakukan misleading atas makna poligami itu termasuk di antaranya pemerintah, para pemimpin negara, tokoh masyarakat, aktivis perempuan, dan media massa. Poligami telah dipotret sebagai kejahatan dan kekerasan pada perempuan dan anak-anak.
Alih-alih mendengarkan penjelasan Aa Gym dan Teh Ninih, istrinya, masyarakat lebih suka mendengarkan sumber-sumber yang tidak layak bicara. Bagaimana kita percaya pandangan Farhat Abbas tentang poligami? Dia sendiri suami yang gemar mempermainkan perempuan dan membohongi istrinya.
Juga, mengapa mendengarkan Sandy Harun yang tak setuju poligami atau berbagi suami? Look who’s talking. Dia adalah "the other woman", yang kemudian dinikahi. Dalam status sebagai istri Djodi, dia berhubungan dan punya anak dengan Tommy Soeharto. Dalam kata lain, Sandy adalah pelaku poliandri, sebuah tindakan melanggar hukum. Orang seperti itu akan kita dengar pendapatnya?
Kekecewaan masyarakat yang luar biasa kepada Aa Gym sebetulnya dipicu oleh pemujaan berlebihan pada sosok kiai muda itu. Ibu-ibu membanjiri pengajiannya dan rela antre berbulan-bulan hanya untuk bisa mengunjungi pesantrennya di Bandung. Aa dipandang sebagai dewa. Ketika Aa melakukan hal yang manusiawi (bersifat manusia), masyarakat terkejut dan patah hati. Kebanyakan orang kecewa karena Aa sering mendengung-dengungkan konsep keluarga sakinah. "Sakinah apaan, bohong besar," kata sementara orang.
Apakah keluarga sakinah tak dapat tercapai dengan tindakan Aa menikah lagi? Apakah keluarga sakinah tidak mungkin dialami keluarga poligami? Saya melihat keluarga poligami Aa Gym lebih sakinah daripada banyak keluarga nonpoligami.
Pembelokan (bila bukan pemelintiran) makna poligami -dari sebuah solusi menjadi tindak kejahatan- itu hanya skala kecil upaya pemerintah untuk menutupi amburadulnya pengelolaan negara belakangan ini. Ketua DPR menyalahgunakan voucher pendidikan, anggota DPR terlibat skandal seks yang videonya merebak ke seluruh msayarakat, lumpur Sidoarjo tak tertangani, angka kemiskinan meningkat, rakyat tak punya bahan bakar untuk memasak, BUMN yang terus merugi atau kalau
untung dijual.
Kekeliruan masyarakat terjadi ketika mereka selalu membenarkan persepsinya sendiri. Di antaranya, dengan kalimat "Mana ada perempuan mau dimadu." Kenyataannya, banyak peremuan bersedia dimadu. Lalu, "Ya, tapi mereka pasti tertekan dan menderita." Lagi-lagi, sebuah upaya pembenaran antipoligami.
Perempuan lain boleh pura-pura atau acting. Namun, kita tak dapat menuduh Teh Ninih hipokret, bukan? Dia dengan wajah bersinar menyatakan ikhlas dan rida suaminya menikah lagi. Bahkan, mimik, gesture, dan body language Ninih dan Aa selama jumpa pers menunjukkan bahwa mereka masih saling (bahkan lebih) mencintai.
Saya percaya mereka telah mendapatkan hikmah. Masyarakat tak mau menerima kenyataan itu. Mereka menolak fakta kebenaran. Bukan Aa dan Ninih yang hipokret, melainkan kita sendiri.
Poligami bukan anjuran, apalagi kewajiban. Seperti kata Aa, "Jangan menggampangkan. " Aa tentu saja sah berpoligami karena dia bukan PNS, dia mampu, dan memiliki ilmu serta potensi untuk berbuat adil. Banyak laki-laki tak bertanggung jawab bersembunyi di balik UU Perkawinan yang melarang poligami dan meneruskan tindakan bejatnya mempermainkan perempuan tanpa status perkawinan sah.
Poligami yang baik dilakukan dengan cara kesepatakan suami istri, kompromi, atau persuasi. Setiawan Djodi berhasil mempersuasi istrinya untuk menerima kehadiran Sandy Harun. Ray Sahetapy gagal karena Dewi Yull memilih bercerai.
Sebagai perempuan muslim, kita boleh stay on atau quit dalam perkawinan poligami. Alasan quit jelas: enggan berbagi. Alasan stay on: mencintai suami dan tak ingin kehilangan atau tak berdaya secara ekonomi dan sosial.
Kesalahan perjuangan para aktivis perempuan adalah lebih menghormati PSK dan perempuan simpanan yang independen daripada mereka yang mau jadi istri kedua. Para istri pertama yang ikhlas, yang seharusnya mendapat apresiasi dari kita, malah didudukkan sebagai korban yang perlu dikasihani.
Banyak gerakan perempuan yang didukung pemerintah meneriakkan yel-yel antipoligami. Sitoresmi yang menjadi istri keempat Debby Nasution dipecat dari LSM-nya di Jogjakarta karena dianggap "tidak berdaya".
Pada intinya, UU Perkawinan yang membatasi perkawinan poligami hanya melindungi para istri pertama yang enggan berbagai hak dengan sesama perempuan (padahal diteriakkan persamaan hak dengan laki-laki). Lebih buruk lagi, UU itu melindungi laki-laki hidung belang yang tak mau bertanggung jawab. Itu sama tak bertanggung jawabnya dengan laki-laki yang berpoligami, padahal tidak mampu, tidak adil, dan tak
mendapat restu istri pertama.
*) Penulis adalah ibu rumah tangga, aktif sebagai pengarang. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos edisi Rabu, 13 Des 2006
KOMENTAR
Dear Mbak Sirikit, dan kawan-kawan perempuan lain,
Saya setuju bahwa perempuan muslimah memiliki pilihan dalam Islam. Namun yang terjadi seringkali tidak sesederhana itu. Pertama, dalam menginterpretasi ayat-ayat Al Quran banyak yang berpandangan bahwa tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya "orang-orang dengan maqam tertentu " saja yang boleh. Kyai, ulama biasanya dianggap yang paling berhak, dan sayangnya mereka ini kebanyakan para laki-laki yang masih bias gender (seringkali karena mengacu pada pandangan kyai di masa lalu yang juga bias gender).
Artinya ‘pilihan bebas’ bagi perempuan muslimah kerap tidak sepenuhnya ada. Katakanlah begini. Bercerai itu halal dalam islam, tapi arasy Allah terguncang karenanya. Tapi bila kamu mau dipoligami maka surga imbalannya. Hayo kamu, perempuan muslimah, pilih yang mana? (redaksinya tidak persis seperti itu, tapi begitulah kira-kira).
Ini pernah saya alami sendiri. Lima tahun lalu (2001) saya pernah ikut pesantren mahasiswa di Darut Tauhid. Saat itu saya baru menyadari, betapa kampanye poligami sangat kental di sana. Ini kampanye lho, bukan sekedar membolehkan. Artinya, pesan yang selalu didengungkan oleh semua ustad di sana (tidak hanya Aa’ Gym) adalah para ikhwan, jadilah laki-laki yang sebaik-baiknya dari segi apapun (kecerdasan, finansial what ever) agar mampu menikahi lebih dari satu perempuan, dan bagi para akhwat kalau mau menjadi perempuan sholehah, harus mempersilakan suaminya menikah lagi.
Intinya, kami perempuan muslimah yang saat itu menjadi santri Aa’ Gym ‘dibuat’ merasa bersalah jika tidak menerima poligami. Kami yang tidak ikhlas, kami yang tidak sholehah, kami yang kurang kuat imannya dan sebagainya.. Kalau sudah begini, apakah kami bisa betul-betul bebas memilih? Siapa sih yang tidak ingin jadi perempuan sholelah pemegang kunci surga?
Selesai pesantren, saya yang juga sempat tercuci otak (setuju bahwa poligini adalah jalan keluar terbaik) akhirnya memilih : saya tidak mau menikah. Buat apa menikah kalau sebagai perempuan sholelah saya harus merelakan suami saya nantinya akan menikah lagi?
Keputusan itu pun dalam kacamata agama, akan terbentur lagi. *Jangan sampai tidak menikah, nanti tidak menjalankan separuh agama, tidak termasuk umat Nabi Muhammad dan sebagainya. ***
Poligini dianggap sebagai jalan keluar terbaik bagi persoalan umat dengan argumentasi :
1. Jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, jadi dari pada ada perempuan yang tidak menikah (yang mana itu separuh dari agama) maka para lelaki beristrilah lebih dari satu.
2. Untuk melindungi perempuan janda agar tidak terjerumus kepada pelacuran
3. Bagi laki-laki daripada berzina lebih baik berpoligini.
Buat saya, jawaban untuk argumentasi itu adalah :
1.ada kecenderungan keliru dengan data statistik. data terakhir yang saya baca dari BPS menunjukkan jumlah perempuan dan laki-laki sebetulnya masih seimbang. Jumlah perempuan banyak juga disebabkan usia hidup perempuan lebih panjang daripada laki-laki.
2. Saya mengutip Nasaruddin Umar, poligami dan mencegah pelacuran tidak berbanding lurus.
3. Apakah pernikahan semata dipandang sebagai urusan perut ke bawah? Urusan seks semata? Kalau memang iya, saran saya lebih baik masturbasi saja. Ok lah ada yang menilai masturbasi itu dosa. Tapi menyakiti hati istri pertamanya, dosa juga kan? –persoalan pilihan dosa personal (kita dengan Tuhan) atau dosa sosial (sesama manusia)
Mbak Sirikit, saya kutip sedikit email Mbak,
*Apa ukuran keadilan itu bagi Anda? Bagi saya: keadilan itu dirasakan di dalam hati. Hanya para istri dimadu yang punya otoritas dan legitimasi mengatakan suaminya adil atau tidak (ukurannya pasti bukan jumlah uang atau jumlah jam kunjungan). Kita ini cuma para komentator yang kadang keliru juga mengomentari. ***
Saya yakin Mbak Sirikit lebih dari faham bagaimana sebuah proses hegemoni kekuasaan bekerja. Sangat halus, tak kasat mata, dan karenanya sangat efektif. Hegemoni ini terlihat pada para istri yang dimadu dan kompak itu. Mereka merasa apa yang terjadi kepada mereka itu ‘baik-baik saja’ sebab mereka sudah beradaptasi dengan ketidakadilan. Ini mirip dengan perbudakan.
Bagaimana jaman dulu para budak itu menganggap bahwa memang sudah takdirnya menjadi budak. Maka itulah yang harus mereka jalani. Saya mengutip cerita yang dituturkan Nasaruddin Umar perihal Nabi Ayub. Saat ia sedang sakit, sekujur tubuhnya dipenuhi luka borok dipenuhi belatung dan ulat, ia diasingkan oleh semua orang, termasuk istrinya. Kemudian ia memandangi ulat yang keluar dari lukanya itu dan ia berkata, "Ulat, aku dulu jijik padamu. Tapi kini, kau satu-satunya temanku."
Dalam hal ini Nabi Ayub akhirnya menikmati ulat-ulat yang ada di tubuhnya. Manusia adalah makhluk yang bisa menyesuaikan diri dengan apapun juga. Juga dengan penderitaan. Tapi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa Ayub bahagia dalam ukuran masyarakat luas kan? Perempuan-perempuan yang dipoligami dan kelihatan kompak itu juga begitu. Segala sesuatu menjadi terasa ‘baik-baik saja’ bila kita sudah terbiasa dengan hal itu, benarkan?
Ini sama saja dengan poliandri yang sempat juga disinggung Mbak Olin dan dijawab Mbak Sirikit. Sori agak belok sedikit. Poliandri bisa jadi terasa asing bagi Mbak Sirikit dan banyak orang lainnya karena kita tidak terbiasa dengan tradisi itu, sehingga Mbak Sirikit bisa mengatakan :
*You must be kidding. Who needs two husbands? One is too many already. Bila saya naksir laki-laki lain, TAK MUNGKIN saya ndobel. Gak sanggup (selain dosa). Untunglah dalam Islam kami boleh bercerai.
***
Saya rasa, seandainya dibolehkan secara norma sosial (norma agama juga berinteraksi dengan norma sosial kan..), ada banyak perempuan yang membutuhkan lebih dari seorang laki-laki. Tentu bicara sebuah relasi semacam pernikahan, bagi perempuan (seharusnya bagi laki-laki juga kok) tidak hanya persoalan seks saja. Si laki-laki A bisa memenuhi kebutuhan dia dalam satu hal, laki-laki B bisa memenuhi kebutuhan dia dalam hal lain lagi. Dan dia bisa mencintai keduanya dengan derajat yang setara. Contoh saja, dalam UU perkawinan, laki-laki boleh menikah lagi kalau istrinya cacat atau tidak bisa memberikan keturunan. Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Si istri masih mencintai suaminya yang mandul, sekaligus ingin mengalami melahirkan?
Bicara variasi (alasan laki-laki berpoligini atau selingkuh) perempuan juga butuh variasi kok. Tapi bagi perempuan, hal semacam ini kan sudah ditutup rapat-rapat dari pintu apapun. Jadi dari titik berangkatnya memang sudah tidak seimbang. Laki-laki dianggap punya pintu darurat, perempuan tidak akan pernah.
Terakhir, kembali ke persoalan poligini. Saya tutup komentar saya yang kepanjangan ini dengan kembali menceritakan pengalaman saya di pesantren Darut Tauhid (Agustus 2001)
Suatu pagi, pada ceramah paska sholat subuh, Aa’ Gym tiba-tiba membawa isu poligami. Ia bercerita bagaimana teh Nini menangis ketika Aa’ bicara tentang poligami. Ia merasa sedih, kenapa ia belum juga merasa ikhlas kalau Aa’ Gym ingin berpoligami. Teh Nini merasa bersalah dengan ketakrelaannya suaminya itu menikah lagi.
Subuh itu pun jadi basah air mata dari para santri perempuan. Saya dan teman-teman saya. Kami merasa serba salah, merasa terhimpit antara ketidakiklasan berbagi cinta dan keinginan untuk menjalankan agama secara kaffah. Begitulah, surga para perempuan (sholehah) ternyata ada di tangan laki-laki. Laki-laki yang hendak berpoligami.
Terus terang, ini yang membuat saya paling terganggu, Mbak. Aa’ Gym atau banyak laki-laki lainnya yang berprofesi sebagai ulama menggunakan iming-iming surga. Mereka menggunakan otoritas keagamaan untuk memenuhi keinginan mereka.
salam hangat,
feby indirani,
akhirnya memilih ‘tidak sholehah’
KPDE 17.43 231206