Archive for December, 2006

Dec 23 2006

Loving Nicks

Published by afemaleguest under daily

Seberapa sukakah kamu memberi loving nicks kepada orang-orang terdekatmu?

Seingatku dulu aku bukanlah tipe orang yang suka memberi loving nicks kepada orang-orang terdekat. Hanya kepada Angie aku memanggilnya ‘Sayang’ yang tentunya bukan merupakan a special nick karena bejibun orang yang menggunakan nick ini kepada orang-orang yang disayanginya.

Loving nick pertama yang tiba-tiba kugunakan untuk mengacu ke seseorang adalah ‘hunk’ karena dia—di mataku, di mata orang lain belum tentu—bener-bener keren. LOL. Setelah aku ‘menemukan’ dan membaca novel Lelaki Terindah tulisan Andrei Aksana, aku pun dub my hunk sebagai Lelaki Terindah:. Copycat bener. LOL. My ‘hunk’ adalah Lelaki Terindah bagiku yang belum tentu orang lain setuju. LOL. But ga papa toh? LOL. Another loving nick buatnya adalah ‘catharsis’ karena dialah tempat I express everything crowding my mind, heart, and soul. Cie … LOL.

Ketika mulai membuka blog baru untuk Angie, aku berpikir-pikir apa nama blog nya yang cocok buat anak semata wayangku itu. Akhirnya aku menemukan yang bagiku pas, yakni LOVELY STAR. Angie is my lovely star, dia adalah bintang dalam hidupku, bintang yang cantik dan indah, dalam arti harafiah maupun karakternya. She has always brightened my life, and she will always will. Alamat blogku adalah http://mylovelystar.blogspot.com Sayangnya karena akhir-akhir ini aku mulai jarang ngenet, dan jarang dihampiri ide untuk menulis tentang bintang kejoraku ini (Abang kadang menggantinya menjadi ‘bintang kejora’ LOL), aku jarang pula posting di blognya. Dan, entah mengapa di warnet tempatku online, blogspot sering error. L Kalau berbicara langsung ke Angie, aku jauh lebih sering menyebutnya “Sayang” daripada namanya “Angie”. Kadang-kadang, aku menggunakan kata ‘ku’, “Ada apa Sayangku?” atau “Tunggu sebentar Cintaku …”

Ketika Abangku hadir dalam hidupku, dengan serta merta aku menjulukinya Guardian Angel. (Nampaknya aku terpengaruh setelah menonton film NEL, di mana NEL menggunakan istilah GUARDIAN ANGEL untukmemanggil seorang laki-laki yang hadir dalam hidupnya, yang selalu berusaha melindunginya dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan hanya ingin mengganggu ketenangan hidupnya.) Meskipun Abangku tinggal ribuan mil jauhnya dariku, I know he always wants to guard me, to protect me; padahal sebagai seorang feminis, aku ga begitu suka dengan ide seseorang protecting me, as if I were a fragile doll. Tapi kalau sama Abang, wah, ga berkutik aku ini. Huehehehe … Amazing kan dia, mampu melunakkan si rebel? LOL. He is also my present catharsis, tempatku bercerita tentang segala, suka maupun duka. Kata ‘Abang’ ini sendiri bisa merupakan loving nick karena dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang kupanggil ‘Abang’. Dan aku pengennya aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilnya ‘Abang’, meskipun tentunya aku ga bisa melarang orang lain untuk memanggilnya seperti itu.

Loving nicks darinya buatku?

Wah buanyak banget. LOL. Yang paling utama adalah “Humming Bird”. Seperti yang kutulis di atas, dia tempatku bercerita, tempat aku ngoceh, kayak burung. LOL. And he always lends me his ears to listen to me, lends me his eyes to read my emails, termasuk apa yang kutulis di blog.

Selain itu, dia pernah suka godain aku dengan istilah Ndoro Nana Cimplon. LOL. Meskipun aku agak ga begitu suka, aku diam saja, kayaknya dia suka godain aku dengan memanggilku seperti itu ‘Ndoro’. Namun, tatkala dia membawa kebiasaan ini ke milis tempat kita gabung bersama, wah …, aku mulai terusik. Ga enak banget lah pokoknya kalau sampai orang-orang usil nanyain, darimana kata ‘Ndoro’ ini berasal. Ga enak aja kalau orang berpikir, “Who the hell is Nana? Why is she called ‘Ndoro’?” Padahal aku ga suka dikotomi ningrat dan tidak ningrat, atau si kaya dan si miskin.

Mengenai kata ‘Cimplon’ aku juga ga ‘ngeh’ darimana dia mendapatkan kata ini. dan aku cuek aja, tidak bertanya sampai Angie nanyain, “What does ‘Cimplon’ mean Mama?” ketika dia tahu Abang suka manggil aku ‘Cimplon’. Akhirnya aku tanya saja ke dia. (Nana kurang kreatif, atau terlalu cuek? LOL.) Dan Abangku pun heran kok aku tidak tahu darimana kata Cimplon berasal. Ternyata dia ambil dari tokoh komik yang pernah terkenal beberapa dekade yang lalu di koran Kompas, karakter seorang perempuan (kayaknya namanya ‘Cemplon’ deh ya, dan bukan ‘Cimplon’? well, beda satu huruf boleh deh dimaafkan. LOL.) yang seingat Abang cantik sekali. Waktu aku cerita ke Angie, “Nick ‘Cimplon’ diambil dari nama tokoh komik yang cantik sekali, yang pernah muncul di koran Kompas beberapa dekade yang lalu, komentar Angie adalah, “Cantik sekali Mama? Hah … please deh!!!” wakakakakaka …

Setelah aku komplain tentang penggunaan ‘Ndoro’, akhirnya dia mau menggantinya dengan ‘Diajeng Putri Cimplon’. Hahahaha … oh, well, that’ s better lah. Dan untuk memadukan ‘Diajeng Putri’ ini, aku jadi memanggilnya “Kangmas Bagus”. Kadang-kadang aja, karena aku tetap lebih suka menyebutnya ‘Abang’.

Abang juga suka panggil aku ‘Honhon’. Sounds like nama burung kan? Yah, misalnya burung Bulbul. LOL. Ternyata kata ‘honhon’ berasal dari ‘honey honey’. LOL. Ada beberapa orang yang dekat denganku memanggilku ‘honey’ atau disingkat ‘hon’, dan Abang maunya beda, so didobel lah, dan menjadi ‘honhon’. LOL. So? Sayangnya ke aku dobel juga dibanding orang yang memanggilku ‘hon’? LOL. Logikanya begitu kan? LOL.

Dan, di chat kemarin, out of the blue, dia memberiku nick baru, ‘the renegade’. Waduh … LOL. Aku lebih suka menyebut diri sendiri sebagai ‘the rebel’, eh, dia lebih menyangatkannya dengan menyebutku ‘the renegade’. Cocok juga kali. LOL. Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Muslim yang sangat strictly religous dan kolot, dan sekarang aku menyebut diri sebagai the secular. Memang ‘the renegade’ kok yah? J

Apa loving nicks yang kamu pakai untuk memanggil your loved ones?

PT56 13.50 211206

No responses yet

Dec 19 2006

Sleep Rape

Published by afemaleguest under Gender

Pernah dengar istilah “sleep rape”?

Aku mendapati istilah ini tatkala membaca artikel yang berjudul “Representrasi Femininitas dan Maskulinitas dalam My Boyfriend Raped Me in His Sleep”, dalam buku Kajian Budaya Feminis karya Aquarini Priyatna (Jalasutra: 2006). Artikel ini sendiri ditulis oleh Aquarini dalam rangka menganalisis artikel yang berjudul “My Boyfriend Raped Me in His Sleep” dalam salah satu terbitan majalah Cosmopolitan versi berbahasa Inggris.

Apa yang ada dalam benakmu ketika mendengar judul artikel ini “My Boyfriend Raped Me in His Sleep”? Kamu percayakah bahwa seseorang yang sedang tidur mampu melakukan pemerkosaan, kepada orang yang disayanginya—kekasih maupun istri? Artikel di dalam Cosmopolitan ini membahas kemungkinan terjadi fenomena seperti ini.

Bagi mereka yang biasa membaca majalah satu ini, tentu familiar dengan mottonya, yakni “Fun Fearless Female” yang sekilas bisa dikonotasikan sebagai feminis (yang lunak, bukan radikal tentu saja). Namun bagi seorang feminis (yang tidak lunak LOL), aku tentu bisa melihat bahwa motto “Fun Fearless Female” itu hanya sekedar motto, agar bisa diterima oleh lingkungan para feminis, karena kenyataan yang ada, banyak artikel yang ada di dalam majalah Cosmopolitan, juga iklan-iklan yang muncul di dalamnya, tak jauh berbeda dengan majalah perempuan konvensional, sebagai contoh di Indonesia adalah majalah Femina atau Kartini, atau yang untuk usia belasan tahun, Gadis. Misalnya artikel bagaimana menjadi seorang istri yang baik, yang kemudian pemaparannya merujuk ke stereotype yang telah ada selama berabad-abad, misal: meladeni suami di segala bidang, e.g. mencuci baju, menyeterika, memasak, sampai bagaimana memuaskan suami di ranjang. Plus: bagaimana menjadi wanita karier yang sukses, sehingga layak disebut sebagai SUPERWOMAN. Klise kan? Hal ini justru merupakan penindasan baru terhadap perempuan, tak beda dengan motto Orde Baru dengan gerakan Dharma Wanitanya. L Perempuan boleh berkarier di luar rumah asal pekerjaan rumah tidak terbengkalai. Beban ganda terhadap perempuan, yang menghasilkan kesimpulan seolah-olah perempuan memang diciptakan untuk melakukan segala kegiatan yang ada di rumah, dan laki-laki adalah sang raja yang hanya memberikan titah kepada bawahannya di rumah.

Kembali ke artikel “My Boyfriend …” Artikel ini memuat wawancara yang seolah-olah nyata (namun diragukan apakah wawancara ini benar-benar terjadi, atau hanyalah wawancara imajiner si penulis—ini adalah analisis Aquarini, sayangnya aku sendiri sampai sekarang belum mendapatkan Cosmopolitan yang memuat artikel ini untuk membacanya sendiri), antara beberapa pasang suami/istri, maupun pasangan kekasih.

Singkatnya, pasangan-pasangan ini merasa ada yang tidak beres dalam kehidupan seksual mereka karena kecenderungan para laki-laki tersebut untuk melakukan rape ketika tidur. Si perempuan merasa tidak nyaman ketika dia sedang tertidur nyenyak di tengah malam, pasangannya tiba-tiba melakukan tindakan yang bisa disebut sebagai pemerkosaan, karena si perempuan tak menghendakinya. Si perempuan tidak kuasa menolaknya karena yang melakukan adalah orang yang paling disayanginya. Sedangkan si laki-laki, yang tiba-tiba merasa horny di tengah tidur malamnya, langsung secara refleks melakukannya terhadap pasangannya. Mengklaim diri sedang dalam keadaan tidak sadar karena sedang tidur, dia tidak bisa membaca situasi bahwa pasangannya menolaknya. Akhirnya hubungan seks (atau pemerkosaan) itu terjadi, si perempuan tidak menyukainya, karena merasa terpaksa melakukannya, sedangkan si laki-laki merasa melakukannya secara refleks. Di pagi harinya ketika pasangannya komplain, si laki-laki merasa tidak melakukan apapun juga. Ada dua kemungkinan: dia merasa tidak nyaman terhadap pasangannya karena telah melakukan pemerkosaan tersebut, padahal dia sendiri sedang dalam keadaan tidur; yang kedua dia merasa tidak nyaman karena dituduh melakukan hal yang tidak dia lakukan. Hal ini tentu saja mengakibatkan hubungan yang tidak harmonis antara keduanya.

Well, dalam hidupku, aku belum pernah mengalami hal seperti ini, sehingga rasanya tidak masuk akal bagiku kalau si laki-laki merasa tidak melakukannya. Mana mungkin seorang laki-laki memperkosa dalam keadaan tidur? Kalau memang tidak menyukai perlakuan yang aneh tersebut, mengapa si perempuan diam saja dan tidak berusaha untuk membangunkan si laki-laki? Misalnya saja dengan mengguyurkan air dingin ke kepalanya? LOL.

Seandainya hal ini hanyalah imajinasi si penulis artikel, apa maksudnya menulis artikel seperti ini? Apa maksud Cosmopolitan memuat artikel seperti ini kepada pembacanya yang katanya “Fun Fearless Female”? FYI, menurut Pearce dan Stacey dalam bukunya Romance Revisited, seperempat pembaca Cosmopolitan adalah laki-laki. Dengan memuat gambar yang menunjukkan seorang perempuan yang sedang tidur dengan damai dalam artikel tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Cosmpolitan tetaplah merupakan pendukung status quo bagi kultur patriarki: perempuan yang lemah, dan laki-laki yang dalam tidur pun tetaplah merupakan makhluk yang lebih berkuasa atas perempuan.

PT56 14.22 191206

One response so far

Dec 19 2006

Anna Wickham

Published by afemaleguest under Gender

The Affinity

By Anna Wickham

I have to thank God I’m a woman,

For in these ordered days a woman only

Is free to be very hungry, very lonely.

Ever heard of Anna Wickham’s name? She is a a feminist poet born in Wimbledon, Britain. She lived from 1884 until 1947. at six, she migrated to Australia with her family. When she was twenty one, she returned to Europe and studied opera singing in Paris, then entred into a marriage which seems to have been somewhat unsatisfactory, for, as one critic observes, se “was considered a ‘rebellious’ wife, a woman who lived by her own rules.”

Well, I believe if there were no feminist movement to dig out women’s works, her name would be forgotten forever, just like Charlotte Perkins Gilman’s name, who was boosted by feminists so that her works become popular again now.

These two writers apparently have similarity. Gilman wanted to make a name for herself although she already married her first husband, Charles Walter Stetson. This is one thing that is considered as illogical for women in that era. Therefore, she was considered as rebellious too. Similar to Anna Wickham, Gilman also lived by her own rules—writing, giving speech about women’s equal position with men, and considering dedication of a wife to her husband—and kid—was not as important as her right to pursue happines viewed from her own perspective.

Above is the first stanza of Anna Wickham’s poem entitled “The Affinity” where she satirized her being a woman. Only a woman has ‘right’ to feel hungry, coz she has to give the first priority for food to her husband and children. Only a woman has ‘right’ to feel lonely, coz she doesnt’t have media to involve herself to public communities due to her household chores.

If this stanza were written by a Muslim poet—who is not a feminist, I assume, she would add, “And for that, a woman would go to heaven for her sacrifice.”

Women are always misled, eh?

PT56 11.50 201206

No responses yet

Dec 17 2006

Presidents of the USA

Published by afemaleguest under Science

Well, aku mendapatkan daftar presiden-presiden USA ini dari kompie yang kupakai saat ini. Sebagai lulusan American Studies, aku memang ga hafal nama-nama presiden USA, maklum, jurusanku kan Sastra, so ga banyak membahas tentang politik dan ekonomi Amerika. Paling-paling yah … tahunya nama presiden nomor satu, George Washington. wakakakaka … Walhasil, kalau aku sedang main game HANGAROO di kompie, dan pertanyaannya adalah presiden USA, aku sering ga bisa jawab. LOL. Dan di HANG lah si KANGAROO yang malang itu. LOL.

Well, kali-kali aja ada salah satu pembaca blogku yang diminta mencari daftar nama presiden USA, so postingan ini pun berguna. Kalau enggak, yah … this is my own blog, aku bebas aja kan mau ngepost apa aja? hahahaha … Keluar deh senjata "WHATEVER" yang sering kupake untuk ngeyel Abang. wakakakaka …

Number   President             Years in Office                    Party

1.             George Washington       1789-1797                    (none)

2.             John Adams                  1797-1801                    Federalist         

3.             Thomas Jefferson          1801-1809                    Democratic-Republican

4.             James Madison             1809-1817                    Democratic-Republican

5.             James Monroe              1817-1825                    Democratic-Republican

6.             John Quincy

Adams

      1825-1829                    Democratic-Republican

7.             Andrew Jackson           1829-1837                    Democratic

8.             Martin Van Buren         1837-1841                    Democratic

9.             William H. Harrison                1841                    Whig

10.          John Tyler                     1841-1845                    Whig

11.          James Knox Polk          1845-1849                    Democratic

12.          Zachary Taylor              1849-1850                    Whig

13.          Millard Fillmore             1850-1853                    Whig

14.          Franklin Pierce              1853-1857                    Democratic

15.          James Buchanan            1857-1861                    Democratic

16.          Abraham Lincoln           1861-1865                    Republican

17.          Andrew Johnson           1865-1869                    Democratic/ NationalUnion

18.          Ulysses S. Grant           1869-1877                    Republican

19.          Rutherford B. Hayes     1877-1881                    Republican

20.          James A. Garfield                   1881                    Republican

21.         

Chester

A. Arthur         1881-1885                    Republican

22.          Grover

Cleveland

          1885-1889                    Democratic

23.          Benjamin Harrison         1889-1893                    Republican

24.          Grover

Cleveland

          1893-1897                    Democratic

25.          William McKinley         1897-1901                    Republican

26.          Theodore Roosevelt      1901-1909                    Republican

27.          William Howard Taft     1909-1913                    Republican

28.          Woodrow Wilson         1913-1921                   Democratic

29.          Warren G. Harding       1921-1923                   Republican

30.          Calvin Coolidge            1923-1929                   Republican

31.          Herbert C. Hoover        1929-1933                    Republican

32.          Franklin D. Roosevelt    1933-1945                    Democratic

33.          Harry S. Truman           1945-1953                   Democratic

34.          Dwight D. Eisenhower   1953-1961                   Republican

35.          John F. Kennedy           1961-1963                   Democratic

36.          Lyndon B. Johnson       1963-1969                    Democratic

37.          Richard M. Nixon         1969-1974                    Republican

38.          Gerald R. Ford             1974-1977                    Republican

39.          James E. Carter            1977-1981                    Democratic

40.          Ronald W. Reagan        1981-1989                    Republican

41.          George H. Bush            1989-1993                    Republican

KPDE 16.31 171206

No responses yet

Dec 16 2006

The English Lesson

Published by afemaleguest under Weblogs

from a friend’s blog at
http://doncasterhaikupoet.blog.co.uk/2006/
12/14/the_english_lesson~1436102

We
must polish the Polish furniture.
He could lead if he would get the lead
out.

The farm was used to produce produce.
The dump was so full that it
had to refuse more refuse.

The soldier decided to desert in the desert.

This was a good time to present the present.
A bass was painted on the
head of the bass drum.
When shot at, the dove dove into the bushes.
I
did not object to the object.
The insurance was invalid for the invalid.

The bandage was wound around the wound.
There was a row among the
oarsmen about how to row.

They were too close to the door to close it.

The buck does funny things when the does are present.
They sent a sewer
down to stitch the tear in the sewer line.
To help with planting, the farmer
taught his sow to sow.

The wind was too strong to wind the sail.
After a
number of injections my jaw got number.

Upon seeing the tear in my clothes I
shed a tear.
I had to subject the subject to a series of tests.
How can
I intimate this to my most intimate friend?
She could not live with a live
mouse in the house.

It was just a minute prick and over in a minute.
His
mistake was putting his left foot forward while putting.

We would probably
read more Shakespeare if we understood what we read.
There was a bow tied in
the ropes on the bow of the ship.

You should spring that on us next spring!

KPDE 12.55 171206

No responses yet

Dec 16 2006

The Stats …

Published by afemaleguest under Weblogs

As I wrote here a couple of weeks ago, I rarely post in my http://afemaleguest.blog.co.uk due to declining creativity of mine in writing related to my feministic idea. :( But, happily, it doesn’t mean that the visitors of this blog of mine declines. The more bloggers in this blogsite, the more visitors drop by at my blog.
The following is the statistics.

Pageviews


This page shows the daily pageviews of your blog.

Pageviews total: 27904


Days of current month

Date Total Pageviews Total Visitors
12/17/06 17 10
12/16/06 308 63
12/15/06 231 44
12/14/06 215 63
12/13/06 208 42
12/12/06 176 50
12/11/06 85 51
12/10/06 326 57
12/09/06 334 48
12/08/06 179 59
12/07/06 219 53
12/06/06 229 57
12/05/06 188 43
12/04/06 165 67
12/03/06 163 76
12/02/06 209 56
12/01/06 123 58

Monthly history

Month Total Pageviews Total Visitors
November 2006 3991 1460
October 2006 3313 1265
September 2006 3304 804
August 2006 3886 1076
July 2006 3428 1044
June 2006 2721 709
May 2006 2555 603
April 2006 577 273
March 2006 512 237
February 2006 176 95
January 2006 63 36
December 2005 3 3

KPDE 12.32 171206

No responses yet

Dec 15 2006

Soap Operas in Indonesia

Published by afemaleguest under Current Affairs

There is a quite interesting article I read in one local newspaper in my hometown. It criticized some local soap operas in Indonesia that illustrate about teenagers’ life. They sell a dream to be a modern Cinderella: a girl’s life will change to be better after a prince comes to her life, especially a pretty girl who comes from a poor family, and the boy—just like a prince—comes from a rich family, who happens to be very kind, caring, generous, and bla bla bla.

To criticize the soap operas, the writer of the article used Susan Faludi’s theory called backlash. It means the effort done by people who are pro status quo of patriarchal culture, to counter the feminism movement, to go back to the era where women were not independent, because they need men to reach their goal—living prosperously. To attract those men’s attention, girls JUST need physical beauty, no other things, such as intellect and skills, especially academic skills. The writer of the article pintpoints that the soap operas sell dreams to young female teenagers, make them forget that there is a much more important thing they need to sharpen—their academic capabilities—rather than just on the surface, fair and spotless complexion, soft skin, slim bodies, beautiful hair, etc. Furthermore, the writer of the article stated that those soap operas are indeed addressed to teenagers, who are still pure, dont get “infected” yet by feminism movement, not like their elder generations.

However, I view it from a bit different angle. Susan Faludi’s theory about backlash is not really appropriate to be used here. Why? Different from many western countries, in Indonesia there are still abundant women who still don’t realize their rights to be independent women, to have exactly equal right with men, to pursue any dream they have, to choose any career they find cool, without any bounderies, such as “I am a woman, I am not supposed to be a boxer,” or an astronout, etc. When the mother doesnt realize this right, consequently, she will teach the same principle to their daughter as what they believe as “created” by God, to view many aspects in lives using their (out-of-date) perspective.

So, instead of (mis)leading the young generation back to the time when patriarchal norms rule people’s life, those soap operas just want to keep the status quo of patriarchal culture, because the fact shows that in Indonesia, until now the feminist movement is not popularly known yet. Very few of my students know what feminism movement is, they still think that the word feminist is similar to feminine.

Until now, the television world is still held strongly by men who still think it as natural for women to dedicate their life to their family (especially husbands) only, and forget their dream to make a name for themselves. Therefore, they still accept many programs from production houses that support this perspective. Many production houses produce programs to get benefit, so that they will produce programs that attract the owner of the television stations, companies that work in the advertisement’s field. And in Indonesia, it is very seldom for us to find producers who courageously produce different/contradictory programs, such as soap operas that illustrate how girls toughly face their life, without always waiting for the prince charming to come to their life, girls who actualize their intelligence, sharpen their capabilities, and get a job using those, and not just physical performance. Fortunately, I have a friend whose part time job is as a scripwriter. She never gets order to write stories that empower women using their intelligence and skills. When she writes one, no production house is willing to buy it.

PT56 23.08 141206

No responses yet

Dec 15 2006

G u l i n g

Published by afemaleguest under daily

Seberapa tergantungkah kamu dengan guling?

Semenjak kecil aku terbiasa tidur dengan memeluk guling, sehingga guling ini fungsinya, menurutku, sangat penting dibandingkan dengan bantal. Mottoku dalam tidur: lebih mending tidak pakai bantal daripada tidak pakai guling. LOL. Aku ingat ketika tahun 1977 aku dan keluarga berkunjung ke keluarga besar di Gorontalo, ortuku sampai perlu minta disediakan guling khusus untuk aku agar aku bisa tidur nyenyak. (Sedangkan untuk Nunuk adikku, yang dia butuhkan adalah tempe ketika makan, karena ketika kecil, dia hampir tidak mau makan tanpa tempe.) Loh, Na, apa hubungannya antara guling dan tempe? LOL.

Yang aku ingat guling yang disediakan waktu itu besar (untuk ukuranku yang masih duduk di bangku kelas 4 SD), dan keras, sama sekali tidak empuk. Pengalaman dengan guling yang sama sekali tidak menyenangkan bagiku. LOL.

Ketika aku ngekos di Yogya, tak satu kos pun yang pernah kutinggali yang menyediakan guling. Untunglah banyak toko yang menjualnya, sehingga it was really not a big deal.

Tahun 2004 ketika aku balik ngekos lagi di Yogya, to pursue my Master’s Degree study, aku beli bantal dan guling di Mirota Kampus Jl. C. Simanjuntak. Sampai sekarang guling ini merupakan guling kesayanganku, yang selalu kupeluk ketika aku beranjak tidur, maupun hanya duduk di depan monitor komputer sembari mengetik ataupun nonton VCD.

Masalahnya adalah, ketika aku balik ke Semarang, Angie pun suka pakai guling ini. walhasil, kita sering rebutan guling deh. Dalam hal lain aku biasa mengalah, namun dalam hal guling, aku pengennya menang. Hahaha … Sayangnya, Angie yang sudah terbiasa kumenangkan ketika aku dan dia rebutan sesuatu, dia tetap saja maunya menang. Sehingga, dengan berat hati, aku pun mengalah. Kalau ke Abang aku sering bilang, “Sing waras ngalah Bang” (dan dia sempet ngomel-ngomel ketika alku menggunakan senjata ini, wakakakaka …), kalau ke Angie tentu saja beda, “Sing gedhe ngalah …” J Tapi, ada syaratnya, yang pakai guling kesayangan ini, harus tidur di pojok dekat tembok, jauh dari kipas angin. Hahahaha … Angie setuju.

Beberapa bulan lalu, kala di Semarang hawa panas menyengat tidak saja di siang hari, namun juga di malam hari, Angie memilih untuk tidur di dekat kipas angin, dan aku yang di pojok. Dengan serta-merta aku minta guling spesial menjadi milikku, dan Angie memeluk guling yang lain.

Beberapa bulan berlalu.

Beberapa hari yang lalu, entah mengapa, tiba-tiba Angie memintaku untuk tukar tempat waktu tidur, dia di pojok dekat tembok, aku di pinggir, dekat kipas angin. Dan untuk ini, Angie memaksa guling kesayangannya menjadi miliknya. Aku oke-oke aja sih. Namun, ternyata ketika di malam hari mau tidur, aku ga bisa tertidur dengan mudah, karena guling yang kupakai terlalu mungil untukku. Aku pengennya guling yang gedhe. Well, aku pikir, aku hanya butuh waktu beradaptasi aja dengan guling mungil ini. Toh, aku sendiri orangnya ya mungil. LOL. Namun, ternyata, it was not as easy as I thought. Akhirnya aku berpikir, untuk membeli guling baru aja lagi, yang lebih besar, lebih empuk, enak untuk dipeluk, mengantarku ke alam mimpi, sembari menunggu sms dari orang yang kusayangi.

Heran, kenapa ga sejak aku balik ke Semarang aja yah aku beli guling baru lagi aja, biar ga rebutan melulu dengan Angie? Tapi, rebutan dengan Angie kadang-kadang enak juga kok. Kalau ga gitu, ga ramai lah. Hahahaha …

PT56 11.35 151206

No responses yet

Dec 15 2006

Rape …

Published by afemaleguest under daily

Beberapa tahun lalu dalam perjalanan dari Yogya ke Semarang, seorang laki-laki yang duduk di sebelahku dalam bus mengajakku berbincang-bincang yang lumayan mengasikkan, meskipun aku sudah lupa apa tepatnya topik kita waktu itu. Satu hal yang kuingat adalah ketika dia komplain bahwa perempuan-perempuan jaman sekarang ini sudah mulai lupa “keperempuanannya”. Jelas, pernyataan yang akan sangat mudah menyinggung perasaanku. Namun ketika kutanya apa maksud pernyataan tersebut, dia malah menghindar, dan berujar, “Yah … seandainya tiba saatnya nanti perempuan memperkosa laki-laki, aku akan dengan senang hati mengajukan diri untuk menjadi volunteer.”

Aku sudah lupa apa yang kuucapkan untuk meresponsnya. Yang kuingat hanyalah aku berbicara dalam hati, “Seandainya terbetik keinginan dalam hati untuk memperkosa laki-laki, kamu tidak aku masukkan dalam daftar itu.” Wakakakaka …

Beberapa bulan kemudian, aku ngobrol dengan seseorang lain—sangat keren, LOL, bayangin aja seperti Lelaki Terindah yang diilustrasikan oleh Andrei Aksana dalam novelnya—yang kemudian membuatku teringat atas perbincangan yang terjadi di atas bus Yogya-Semarang itu. Ketika kukemukakan pendapat laki-laki dalam bus kepada laki-laki yang Indah itu, LOL, dia tertawa, dan berkata, “Wow .. that’s a great idea. I suppose I will volunteer myself too if that happens.” Dan berhubung yang mengatakannnya seseorang yang sangat keren, aku jadi tersipu-sipu. Wakakakaka …

Beberapa waktu lalu, aku berdiskusi tentang topik ini—perempuan memperkosa laki-laki—dengan Abang. Dia membantah keras bahwa tak akan pernah hal seperti ini berhasil terjadi. Definisiku : “perkosaan terjadi tatkala hubungan seks itu terjadi antara satu pihak yang menginginkannya, dan pihak lain menolaknya. Kalau kedua-duanya mau, itu bukan perkosaan namanya, melainkan hubungan mau sama mau.” Dengan mengatakan hal ini, aku ingin mementahkan pernyataan laki-laki dalam bus, dan juga si Lelaki Terindah itu—kalau mereka bersedia, itu bukan perkosaan namanya. LOL.

Dengan serta merta Abang bilang, “That’s it Na. Makanya laki-laki tak akan bisa diperkosa. Seandainya si laki-laki itu menjadi ereksi—meskipun awalnya dia ogah—itu berarti akhirnya dia pun jadi berhasrat untuk melakukannya. Kalau si laki-laki tidak ereksi, bagaimana cara si perempuan memperkosa laki-laki itu?

Ah entahlah Bang. LOL. Tumben aja si Nana mau ngalah sama Abangnya. Biasanya suka ngeyel dulu. Salah juga ga papa, yang penting ngeyel dulu. Wakakakaka …

“Sing waras ngalah ya Bang?” ç senjataku yang kadang-kadang dia pakai untuk menyerang aku balik. Wakakakaka …

PT56 22.39 151206

No responses yet

Dec 15 2006

Penulis Perempuan

Published by afemaleguest under Books

Penulis perempuan (Indonesia) yang hasil karyanya kumiliki tentu lebih banyak daripada penulis laki-laki. Maklum, I love women (coz I am a feminist, not coz I am a lesbian J)

Pertama, Ayu Utami dengan dwiloginya Saman dan Larung. Bukunya yang berjudul Si Parasit Lajang merupakan salah satu buku favoritku, yang tak bosan-bosannya kubaca. J Gaya menulis khas Ayu Utami adalah menyentil masalah sosial—terutama yang berhubungan dengan perempuan—dengan gaya ringan dan bercanda yang membuatku sangat suka membacanya.

Kedua, Oka Rusmini. Aku memiliki beberapa novelnya, seperti Tarian Bumi dan Kenanga. Kumpulan cerpennya yang berjudul Sagra juga ada di antara buku-buku koleksiku. Topik khas tulisan Oka Rusmini tentu saja sentilannya tentang nasib perempuan Bali yang meskipun telah bekerja keras, masih saja direndahkan oleh masyarakatnya yang patriarki.

Ketiga, Djenar Maesa Ayu. Aku memiliki ketiga kumpulan cerpennya yang berjudul Mereka Bilang Saya Monyet, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, dan Cerpen tentang Cerita Cinta Pendek. Aku juga memiliki novel tulisan Djenar yang berjudul Nayla. Meskipun sama-sama mengkritik tentang nasib perempuan yang kurang beruntung hidup dalam kungkungan patriarki—seperti Ayu Utami—satu hal yang jelas dan gampang terlihat adalah gaya menulis Djenar yang sangat sarkastis dan sinis. Suasana cerita lebih sering terasa gloomy.

Aku memiliki dua buah buku hasil karya Aquarini Priyatna yang bukan merupakan fiksi (baik novel maupun kumpulan cerpen). Yang pertama berjudul Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Femininitas, dan Globalitas dalam Iklan Sabun. Yang kedua, salah satu buku favoritku, berjudul Kajian Budaya Feminis, Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Aku juga memiliki terjemahan buku Feminist Thought milik Rosemary Tong, diterjemahkan oleh Aquarini.

Aku sangat suka dengan buku Filosofi Kopi hasil karya Dewi Lestari. Meskipun sangat suka, hal ini tidak berarti aku telah berhasil diprovokasi untuk membeli buku Dewi Lestari yang lain, seperti Supernova.

Aku memiliki dua buah buku hasil karya Gadis Arivia, si pemrakarsa terbitnya Jurnal Perempuan, jurnal favoritku. Pertama, berjudul Filsafat Berperspektif Feminis, dan yang kedua Feminisme: Satu Kata Hati.

Melulu tentang perempuan, feminisme, dan gender, eh? J Nana banget kan? LOL.

Selain buku-buku tersebut di atas, buku-buku lain yang kumiliki adalah buku berbahasa Inggris, yang membantuku dalam menulis tesis, buku-buku tentang Amerika, (maklum alumni American Studies), buku-buku sastra—baik yang teori maupun novel, kumpulan cerpen, antologi, dll, juga buku-buku terjemahan, seperti buku-buku tulisan Asghar Ali Engineer, Amina Wadud, Riffat Hassan dan Fatima Mernissi, Qasim Ali.

PT56 21.37 151206

4 responses so far

« Prev - Next »