Dec 28 2006

Feminisme (lanjutan)

Published by afemaleguest at 9:17 pm under Gender

FYI, artikel berikut kutulis untuk merespons komentar yang masuk ke aku, di milis Sastra-Pembebasan.

Terima kasih atas komentar yang telah masuk atas postinganku beberapa hari lalu tentang “Feminisme”.

Untuk Indah Survyana:

Indah betul, aku lupa untuk memasukkan Ekofeminisme ke dalam jenis-jenis feminisme yang telah ada selama ini. Terima kasih sekali atas tambahan informasinya. Juga sangat terima kasih karena telah berbagi paper yang Indah tulis atas Ekofeminisme ini.

Selain Ekofeminisme, aku juga lupa untuk memasukkan beberapa teori feminisme yang lain. Berikut ini aku sertakan teori-teori yang lain, in a nutshell.

FEMINISME PSIKOANALISA

Teori ini memepertanyakan apakah opresi terhadap perempuan lebih bersifat psikologis atau sosial. Tokoh-tokoh Feminisme Psikoanalisa yang terkenal antara lain Nancy Chodorow yang menulis buku The Reproduction of Mothering (1978), Juliet Mitchell dengan bukunya Psychoanalysis and Feminism (1974), Caroll Gilligan dengan bukunya In A Different Voice (1982).

FEMINISME EKSISTENSIALIS

Teori ini digawangi oleh Simone de Beauvoir dengan bukunya yang sangat terkenal The Second Sex (1949).

FEMINISME POSTMODERN

Seperti aliran filsafat postmodernisme, feminisme postmodern menolak pemikiran phallogosentris (ide-ide yang dikuasaioleh logos absolut yakni “laki-laki” – bereferensi pada phallus. Isu feminis yang dilontarkan teori ini adalah ide “otherness” milik Simone de Beauvoir, merupakan sesuatuyang lebih dari kondis inferioritas dan keterindasan tetapi juga merupakan cara berada, cara berpikir, berbicara, keterbukaan, pluralitas, diversitas dan perbedaan. Tokoh yang sangat terkenal dari teori ini adalah Helene Cixous dengan bukunya L’ecriture Feminine. Selain Cixous, juga ada Luce Irigaray dan Julia Kristeva.

FEMINISME MULTIKULTURAL DAN GLOBAL

(jika mengacu ke tulisanku sebelum ini, feminisme poskolonial merupakan bagian dari teori feminisme multikultural dan global.)

dasar dari teori ini adalah pemahaman bahwa penindasan terhadap perempuan tidak dapat hanya dijelaskan lewat patriarki tetapi ada keterhubungan masalah dengan ras, etnisitas, dsb. Di dalam teori feminisme global, bukan saja ras dan etnisitas tetapi juga hasil kolonialisme dan dikotomi “dunia pertama” dan “dunia ketiga”. Beberapa tokoh feminisme multikultural dan global, misalnya< Audre Lorde dengan bukunya Age, Race, Class, and Sex: Women Redefining Difference (1955), Angela Y Davis dengan bukunya Women, Race and Class (1981). Dan Maria Mies dengan bukunya The Need for a New Vision (1993).

(Teori-teori ini kuambil dari buku Filsafat Berperspektif Feminis tulisan Gadis Arivia, 2003)

Mengenai pernyataan Indah “kecantikan itu bukanlah anugerah, namun merupakan petaka” di satu sisi, aku setuju juga. Seperti yang pernah kutulis tentang kisah nyata Josey Aimes yang difilmkan berjudul NORTH COUNTRY, kecantikan Josey membuatnya menjadi bulan-bulan pelecehan seksual dari rekan kerjanya di sebuah perusahaan pertambangan yang memang dulu dikenal sebagai ranah yang sangat maskulin. Semua pegawai perempuan di perusahaan Pearson Taconite and Steel, Inc menerima pelecehan seksual dari rekan kerja mereka yang laki-laki, namun Josey yang paling sering mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh ini karena kecantikannya, selain karena track recordnya yang hamil di usia belasan tahun akibat perkosaan. Josey yang memilih untuk tetap menjaga kandungannya, lepas dari kenangan buruk diperkosa oleh guru sekolahnya, dia justru mendapat tekanan dan hukuman yang lebih berat lagi oleh masyarakat berupa tudingan sebagai perempuan yang tak bermoral.

Di sisi lain, aku masih ingat ketika di salah satu postingan Pak Danar menuliskan pengalaman beliau ketika duduk di bangku kuliah Universitas Indonesia dimana ada seorang teman kuliah beliau yang konon sangat cantik menjadi bahan suit-suitan mahasiswa laki-laki. Si mahasiswa yang cantik ini konon menikmati decakan maupun siulan kagum dari para penggemarnya. Di sisi lain ada seorang perempuan lain lagi yang dinilai kurang menarik, sehingga tak seorang mahasiswa laki-laki pun tergerak hatinya untuk menyapanya. Dan mungkin dia sedih karena merasa tidak laku?

Jika peristiwa ini dipandang dari sudut feminisme, kedua perempuan teman kuliah Pak Danar ini masih memandang hal tersebut dari kacamata laki-laki, bahwa seorang perempuan akan merasa bangga jika dia diterima oleh kaum laki-laki. Salah satu bukti bahwa seorang perempuan diinginkan oleh kaum laki-laki adalah bentuk decakan maupun siulan kurang ajar maupun sapaan yang mungkin jauh lebih sopan.

Seorang perempuan feminis yang sadar bahwa kehadirannya di dunia ini tidak perlu selalu mengikuti selera kultur patriarki sebagai seorang makhluk yang diinginkan oleh kaum laki-laki tidak akan merasa sedih seandainya dia berjalan dan tak seorang laki-laki pun berminat untuk menatapnya, misalnya. Dia akan tetap merasa complete, tak kurang suatu apa pun. Tidak diinginkan oleh laki-laki tidak akan membuat seorang perempuan feminis merasa as if the world would stop. Bahkan akan ada kemungkinan bahwa seorang perempuan feminis akan marah jika ada seorang laki-laki bersiul maupun berdecak kurang ajar ketika dia lewat, dan bukannya menikmatinya.

Selain kedua jenis perempuan yang kusebutkan di atas—yang mengikuti mainstream patriarki bahwa seorang perempuan akan merasa bangga jika diinginkan laki-laki, yang mungkin bagi feminis dia bisa dinilai sebagai bersedia mengobjekkan dirinya, maupun yang sadar bahwa tidak perlu merasa something wrong with her tatkala tak seorang laki-laki pun tertarik kepadanya—gerakan postfeminisme melahirkan jenis perempuan lain lagi. Contoh yang bisa kita lihat adalah tokoh fiktif Samantha Jones dalam serial Sex and the City. Dia tampil mengikuti stereotype perempuan dalam kultur patriarki, tetap feminin dalam penampilan (dibandingkan dengan para feminis liberal dan radikal yang muncul di tahun 1960-an yang secara fisik ingin berpenampilan bak laki-laki) namun Samantha tidak perlu merasa diri sebagai objek tatkala laki-laki menatapnya dengan penuh nafsu, karena justru dia merasa sebagai subjek di sini, menguasai laki-laki yang menginginkannya. Bagi seorang Samantha, jelas kecantikan bukanlah suatu petaka, melainkan anugerah, yang dia gunakan untuk menguasai laki-laki.

Di Indonesia, sosok Inul ketika dia bergoyang ngebor di atas pentas, dia bukanlah objek seksual yang dinikmati oleh para penggemarnya, melainkan subjek, yang menghipnotis para penontonnya.

Untuk Mawar Rambat:

Aku sangat setuju bahwa gerakan feminisme merupakan reaksi alamiah dari kaum perempuan yang telah dipinggirkan selama berabad-abad, yang tidak didengarkan ‘suaranya’ karena selalu kalah oleh suara laki-laki. Aku selalu percaya bahwa kaum laki-laki yang pede tidak akan menganggap kebangkitan perempuan ini merupakan suatu ancaman bagi eksistensi diri mereka dalam kultur patriarki. Keinginan kaum feminis untuk diberi kuota 30% dalam pemerintahan adalah suatu hal yang sangat wajar mengingat selama ini jumlah perempuan yang duduk di kursi yang menentukan sangat minim, padahal belum tentu kaum laki-laki yang duduk di kursi yang menentukan ini benar-benarpaham apa yang dialami oleh kaum perempuan.

Untuk Kang Becak:

Kaum feminis radikal memang berlandaskan teori “the personal is political”, pengalaman perempuan yang kemudian akan menghasilkan pengetahuan perempuan memang layak dipolitisasi, karena bukti mengatakan bahwa laki-laki tidak selalu mengerti. Contoh yang sangat kongkrit ketika terjadi bencana alam di beberapa belahan bumi Indonesia, orang-orang—baca è menggunakan kacamata laki-laki—hanya memikirkan bagaimana memberi bahan pokok untuk makan dan berpakaian dan lupa menyediakan hal-hal penting bagi kaum perempuan semisal pembalut. Mengapa? Karena laki-laki tidak menyadari betapa penting pembalut ini.

Kalau menurut Kang Becak kaum perempuan bikin nek karena menginginkan kuota DPR sejumlah 30%, bukannya kaum laki-laki yang sudah diberi 70% lebih bikin nek lagi bagi kaum perempuan padahal jumlah penduduk di Indonesia menurut statistik tahun 2005 berjumlah 51% perempuan dan 49% laki-laki? Beda dengan zaman sebelum Kartini dimana perempuan dikungkung di dalam rumah, alhamdulillah sekarang perempuan sudah bisa menikmati duduk di perguruan tinggi, dan tidak kalah dengan kaum laki-laki. Saatnya kaum perempuan unjuk gigi kan?

Kalau Kang Becak mengatakan bahwa bagi kaum feminis radikal tidak ada teman abadi selain kepentingan, bukankah itu nature dari politik? Tidak hanya bagi kaum feminis radikal, laki-laki yang berkecimpung di dunia perpolitikan juga tidak mengenal teman abadi, selain kepentingan. Dalam hal ini, para kaum feminis radikal ini mengikuti teori Herbert Spencer dengan the survival of the fittest. Kalau mereka ingin survive, mereka harus fit dengan lingkungan mereka.

Mengenai diriku yang dijuluki sebagai feminis radikal oleh teman-teman di lingkunganku, well, karena memang aku berubah secara radikal—sampai ke akar-akarnya, karena mereka melihat perubahan yang ada pada diriku, dari Nana yang konvensional menjadi Nana yang sekarang. J

Salam hangat,

Dari si Feminis yang tetap saja Romantis J,

Nana

PT56 22.40 251206




6 Responses to “Feminisme (lanjutan)”

  1.   adhigunaon 26 Jan 2008 at 5:14 am

    tetep aja gue kedipin juga termimpi-mimpi lu:)

    Sayangnya gue aja gak mau ngedipin

  2.   adhigunaon 26 Jan 2008 at 5:35 am

    Elo boleh aja ngomong apa aja mengenai feminisme blablabla
    tapi tetep liat faktanya we MEN ARE STILL RULE THE WORLD ! Cause our brain and physical acument are
    more superior than woman’s, statistically speaking..

    liat di perusahaan-perusahaan Fortune 500 kebanyakan CEOnya jenis kelaminnya apa?
    apa yang terjadi kalau perusahaan besar seperti Hewlett Packard meng-hire CEO cewek Carly Fiorina?
    AMBURADUL, makanya cepet-cepet ditendang dia sebelum HP semakin hancur lagi.

    liat di Fakultas-fakultas Science dan Engineering Profesornya kebanyakan jenis kelaminnya apa?
    Disini gue punya banyak temen cewek dan OK mereka banyak yang pinter-pinter bahkan brillian, tapi TETEP
    THE TOP ONE TETEP COWOK !

    Liat Jendral-jendral top jenis kelaminnnya apa ?

    Apakah kita tidak memberikan kesempatan bagi wanita untuk mendapatkan posisi-posisi top ??
    NOO!!

    Di negara-negara maju kaum wanita di-encourage untuk mendapatkan semua yang mereka mau,
    Contohnya dapet beasiswa dan pekerjaan itu lebih gampang cewek daripada cowok.

    sayangnya mereka akan selalu kalah bersaing dengan cowok. Its a FACT.
    Yang paling aneh karena mereka kalah bersaing dengan cowok, lantas mereka accusing bahwa semua
    itu karena diskriminasi???

    I am sorry to say but, life is not fair and never be fair. God create us differently, man CONTROL THE WORLD
    and women carries and the offspring and RAISE THEM.

    Its a FAITH, nggak ada yang lebih jelek dan lebih buruk. Menjadi seorang
    ibu dan membesarkan anak adalah hal yang sangat mulia.

    Gue lebih menghargai Seorang wanita yang menjadi ibu yang baik daripada CEO dan Professor dimanapun.

  3.   Nanaon 27 Jan 2008 at 2:57 am

    I sent the following note to Adhiguna.

    Adhi,
    thanks for leaving comment in my blog the other day.
    Men get their “superiority” in this male-dominated society after so many centuries they did marginalization to women so that you think that men are created as public creatures while women are created to be breeder so as domestic creatures. Many many centuries.
    So? Feminists’ movement for equality will take many years too, probably centuries, to change people’s (especially patriarchal men) way of thinking that as public creatures men are superior and women vice versa.
    As someone who gets education abroad, I am shocked to know that you have such a very narrow-minded way of thinking. I am really sorry to know that.
    Regards.
    Nana

  4.   adhigunaon 27 Jan 2008 at 4:16 am

    Have ever studied evolutionary biology ?

    If you haven’t, learn the concept first. Then you will know that what cause ‘’social marginalization” to women.

    Females in nature has a specific function as a result of their biology.

    There were no women downgraded as a result of their maternal role in pre-class society.

    In fact they were held in the highest esteem for their combined functions as producer-procreatrix.

    Woman’s position in society, therefore, has been shaped and reshaped by changing historical conditions,with respect to their biological function in nature.

    What so called social marginalization, of course were existed, but only in the past..

    Now women are equal in law, in fact if you come to US, women has higher position than men in the name of law.

    Why you ask for more???

    In Indonesia I fought for women equality, for oppressed women; For TKW, For women who were victim of domestic violence.

    I also know that women are oppressed in few tribes in Indonesia, and I am more than happy to help them and to fight for them.

    BUT (especially in western country) when women has already have a very comfortable life and they keep bitching for more and more ridiculous demands, I got irritated.

    So quit bitching. Sadly feminists are women desperately need warm hug from men and they can’t get it, so they express their anger by become…MAN HATER, instead of really helping oppressed women.

    I am so sorry for you guys but stop spreading your false propaganda to other women.
    Cause now it seems that feminist do not just want gender equality, they want to DOMINATE men.

    Ok No Problem,just try us, we men LOVE COMPETITION, we will see who is the winner…

    regards,

    ps: If you really want to help women, next time write something about your social contribution to oppressed women in Indonesia, for example our TKW. I will support you 100%.

  5.   Nanaon 28 Jan 2008 at 5:07 am

    Adhi, I believe you haven’t read all of my writings related to feminism or gender things in my blogs scattered in the net, not only at this friendster blog of mine. I realize that in the beginning of the women movement, feminists were closely related to MAN HATER, for example the second wave of women movement in America in 1960s. However, gradually we realized that MAN HATER will not really create equality, but it was like taking revenge. We DID NOT WANT to dominate men, as men have dominated women (using biological difference between men and women! and pretended that they did that to “protect” women, such as women have to cover their bodies, they said to protect women while in fact it was just to protect men’s greed! they themselves couldn’t control their lust and just blame women instead.)
    For your ps, I write what I want to write, not what people dictate me to write. And this is my blog, if a passer by takes a look, and doesn’t like my writing, just go away.
    FYI, I have studied what you mentioned as ‘evolutionary biology’. My comment: read my blogs thoroughly first before accusing me as a feminist who is also MAN HATER.

  6.   Nanaon 31 Jan 2008 at 5:51 am

    For Adhi (again)
    This is really unwise and narrow-minded of you to generalize all feminists as man haters. :)

Comments RSS

Leave a Reply