Archive for September, 2006

Sep 27 2006

Being materialistic?

Published by afemaleguest under Current Affairs

Sekolah Angie–SMAN 3 Semarang–terletak di Jalan Pemuda Semarang. Namun karena gedung SMAN 3 ini cukup luas, arealnya pun mencapai Jalan Imam Bonjol. Ada sebuah pintu untuk keluar masuk di sisi ini. Ketika aku bersekolah di sini–tahun 1983-1986–pintu belakang ini ditutup mati, dengan alasan yang tidak pernah aku ketahui waktu itu. Sekarang pintu ini difungsikan kembali. Para siswa yang naik sepeda motor diharapkan memasuki areal sekolah lewat pintu belakang, dan langsung masuk ke areal parkir. Tahun 1983-1986 dulu tentu saja semua siswa yang naik sepeda motor maupun jalan kaki/datang naik bus, dll, masuk lewat pintu utama yang terletak di Jalan Pemuda.

Ketika pertama kali mengantar Angie sekolah (bulan Juli lalu), aku mengantarnya ke pintu utama di Jalan Pemuda. Tapi karena selalu terhalang macet (di Jalan Pemuda, ada beberapa sekolah yang terletak di situ, juga banyak kantor tersebar di sekitar SMAN 3 yang membuat jalanan macet di pagi hari), aku akhirnya pindah haluan, aku mengantar Angie lewat pintu belakang yang terletak di Jalan Imam Bonjol.

Di sepanjang Jalan Imam Bonjol, terutama yang merupakan tembok gedung SMAN 3, terdapat berderet mobil-mobil yang dinaiki siswa SMAN 3. Di antara berderet mobil-mobil tersebut, ada sebuah mobil yang menarik perhatianku karena selalu terparkir dekat dengan pintu masuk, dan warnanya yang kuning ngejreng plus hiasan warna hitam di bagian bawah. Aku berkomentar ke Angie, "Eh, si mobil kuning selalu datang lebih pagi dari kita ya? Mobilnya keren sekali."

Ternyata komentarku itu membuat Angie penasaran untuk mengetahui siapakah si pemilik mobil kuning itu. Kemarin, ketika aku mengantarnya ke sekolah, kebetulan si empunya mobil kuning berdiri di dekat pintu masuk. Angie sempat berbisik di telingaku, "Mama, here is the owner of that yellow car." Aku langsung shocked ngeliatnya. LOL.

Malamnya Angie bercerita bahwa si pemilik mobil kuning menawan itu, memiliki pacar yang cantik jelita. Tanpa pikir panjang, karena Angie dan aku sedang dalam mood bercanda, aku bercerita kepadanya tentang seorang teman kuliah waktu S1 (cowo) yang imut dan bermata indah, setajam elang, pacaran dengan seorang cewe yang katanya anak pemilik sebuah surat kabar yang terkenal di Yogya yang nota bene tentu orang kaya. Sayangnya si cewe ini dinilai sebagai berwajah biasa-biasa saja, sehingga teman-teman kuliah pun berkomentar, "Pasti Y cuma suka uangnya Bapaknya saja tuh. Gak sangka ya ternyata Y cowo matre." LOL. Komentar yang sama yang kukatakan kepada Angie tentang si cewe cantik jelita pacar pemilik mobil kuning yang biasa-biasa saja itu.

Namun tak lama kemudian aku sadar betapa jahatnya aku telah menuduh orang lain sebagai seseorang yang matre. :-((

Jadi ingat seorang mantan murid privatku yang memiliki suami yang kaya raya. Dia pernah komplain kepadaku karena dia tidak pernah tahu apakah pacar gelapnya itu benar-benar mencintainya, atau hanya mengejar uangnya. (baca => uang suaminya.) Apakah orang-orang yang mau berteman dengannya itu benar-benar menyukai pribadinya–karakternya–ataukah hanya ingin mendapatkan keuntungan dari berteman dengan seorang kaya? Dan aku pikir, komplain mantan murid privatku ini bisa jadi juga merupakan komplain orang-orang kaya lain, yang tidak lagi bisa membedakan apakah teman-teman mereka atau pacar pacar mereka menyukai/mencintai mereka hanya karena uang atau karena memang tulus?

FBS UA 10.20 280906

No responses yet

Sep 26 2006

Scribbling

Published by afemaleguest under daily

Seandainya tidak ada teknologi blog …

1. Ketika di kantor (terutama di musim break semester seperti sekarang ini), aku akan menghabiskan waktu hanya ngerumpi dengan rekan dosen yang lain.

2. Jikalau tidak ada teman untuk ngerumpi, aku akan menghabiskan waktuku menulis di buku harian (I have to express myself!!!)

3. Terlalu sering menulis di buku harian, akan cepat menghabiskan buku itu, sehingga aku harus sering membeli buku baru :-((

4. Terlalu sering menulis di buku harian, balpoint juga bakal cepat habis, harus beli yang baru lagi, lagi, dan lagi :-((

5. Setelah jari jemariku capek untuk menulis di buku, akhirnya aku akan membaca buku.

6. Membaca buku membuatku ingin menulis lagi.

7. Ingin menulis berarti kembali ke point 2, 3, 4, 5, 6 … seperti lingkaran yang tak berkesudahan. LOL.

     Finding blog technology is a great relief

     Finding good friends here is a greater gift

FBS UA 12.15 270906

No responses yet

Sep 26 2006

Jeans versus Dosen

Published by afemaleguest under daily

Ide menulis artikel ini kudapatkan ketika membaca artikel Aquarini di bukunya KAJIAN BUDAYA FEMINIS yang berjudul "Jins, Dangdut, dan Dosen".

Di universitas tempat Aquarini bekerja, ada tulisan "Berpakaianlah sesuai profesi." Dan silakan terjemahkan sendiri apa makna peraturan tersebut. :-)

Di universitas tempatku kerja ada peraturan yang lebih jelas, perempuan harus memakai rok, atasan blus, atau blazer, sedangkan laki-laki celana panjang untuk bawahan, dan hem untuk atasan.

Di Fakultas tempatku bekerja, dosen perempuan sudah sangat biasa memakai celana panjang dan sama sekali kita tidak melihat signifikansi antara bekerja sebagai dosen dengan tugas utama mencerdaskan kehidupan bangsa (baca => mengajar) dengan harus memakai rok? Ada apa dengan memakai celana panjang? Walhasil, teman-temanku yang dosen sastra itu (sastra berarti seni, mana ada orang seni yang suka mengikuti peraturan? apalagi peraturan yang tidak jelas signifikansinya seperti itu?), tetap saja memakai celana panjang dengan blazer ketika mengajar. Toh, menurutku mereka tetap kelihatan rapi, dan tertutup kakinya, dibandingkan dengan memakai rok yang selutut misalnya, ataupun yang di atas lutut. :)

Bagaimana dengan memakai jeans?

Sewaktu aku kuliah di American Studies UGM, aku harus sering mondar-mandir Semarang–Yogya–Semarang. Perjalanan yang kutempuh kurang lebih tiga jam naik bus tersebut kurasakan akan sangat nyaman jikalau aku memakai celana jeans plus T-shirt. Hari Minggu biasanya aku berangkat ke Yogya, hari Kamis aku pulang ke Semarang dan kelas yang kuampu jam 10. Sudah merupakan pemandangan yang biasa kalau mahasiswaku melihatku datang dan mengajar di depan kelas sambil mengenakan jeans dan T-shirt. I told my students, "Kita sama-sama mengenakan jeans dan T-shirt, yang membedakan mengapa saya adalah dosen di sini sedangkan anda adalah mahasiswa saya adalah, saya membaca buku lebih dahulu daripada anda." LOL.

Kebetulan ketika aku kuliah dulu, dua dosen tamu dari New York dan Michigan, kedua-duanya tipe dosen yang rapi, mengenakan hem dan celana panjang yang bukan jeans. Namun aku bisa melihat dari cara pandang mereka bahwa yang penting dari seorang dosen adalah apa yang ada di otaknya, yang akan dia bagi kepada para mahasiswanya, daripada apa yang melekat di tubuhnya.

Agree???

Btw, itu dulu. Sekarang "seragam kebesaranku" adalah rok panjang warna hitam dan blazer hitam, atau blus hitam. And my students call me as "Ms. Black." And I don’t mind it at all. :-) Memakai jeans hanya kadang-kadang ketika aku ke kantor hari Sabtu.

FBS UA 11.30 270906

P.S.: Aku belum selesai membaca artikel Aquarini, baru satu paragraf dan aku sudah tak tahan nafsu untuk menulis pengalamanku sendiri di sini. LOL. Itu sebabnya tidak ada hubungannya dengan dangdut, karena kebetulan juga I don’t like this genre of music. :-)

No responses yet

Sep 26 2006

Annoying Student :(

Published by afemaleguest under daily

I was about to leave the teachers’ room yesterday when a tone in my hp signalling that a message arrived. I opened it:

+6224702xxx: "I was so busy that made me only able coming over to campus yesterday. And I found E for my KKP lesson on the KHS. I don’t know what should I do mom. Do you have any suggestion?"

My reply: "Repeat next semester. You didn’t give me the result and the form from BAAK that I could fill in your score. So, no score from me. Sorry.

FYI, this particular student (btw, look at the grammatical mistake he made in the message LOL) often asks teachers’ understanding for his being busy doing his business, and for that, he thinks that teachers must understand his position. Understanding him means to give him privilege. Who the hell does he think he is??? (Keluar judesnya si Nana. LOL.)

FYI (again) when the first time that particular student joined my class–Introduction to Literature–in 2003, at the beginning of the semester, I found him somewhat outstanding among his peers with his fluent spoken English. He talked a lot. But then the result of his mid-test and final-test showed that he was just an average student. His excuse was, "I don’t like LIterature. What the hell is studying it for? I would prefer subjects such as "Speaking", and some others." His excuse showed that he didn’t really grasp what I explained in the class. :-((

And I must say that his fluent spoken English (but bad grammar LOL) has made him confident to give private lessons outside. Having many private students boosts his confidence that he is "smart" –still without realizing that his grammar must be improved a lot.

With his considering himself as ’smart’, I can feel that he somewhat underestimates the teachers here. During the process of paper consultation, he sometimes looked at me underestimatingly when I gave him some correction for his paper.

Another annoying thing is when he asked me, "What makes internet so attractive to you? Coz anytime I come to this teachers’ room I oftentimes find you sit before this computer and busy internetting? I found it very boring."

I (unavoidably) related that suspicious question to the majority people who "suspect" that internet is the way for people to get one-night-stand partner. :-((

Coldly but trying to be patiently, I answered, "Oh, don’t you know that internet is a very huge library? Any data you are looking for can be found here, as long as you come up with the correct keyword. Just type the keyword in the search engine, and voila … the data you need is before your nose. So far, internet has always become my best friend in getting data and information."

Still, that annoying student looked at me disbelievably.

Huh!!! What am I supposed to do with such an annoying student?

No responses yet

Sep 25 2006

I Carry Your Heart

Published by afemaleguest under poems

I carry your heart with me (i carry it in my heart)

I am never without it

(anywhere I go you go, my dear;

and whatever is done by only me is your doing, my darling)

aku bawa hatimu dalam hatiku

kemana pun aku pergi, sayangku

dan apa pun yang kulakukan,

itu juga yang kau lakukan kekasihku

 

    i fear no fate(for you are my fate, my sweet)

    i
want no world (for beautiful you are my world, my true)

    and it’s you are whatever a moon has always
meant

    and whatever a sun will always sing is you

tak pernah aku
takut akan masa depanku,

karena engkaulah
masa depanku itu, manisku

tak kuinginkan
dunia manapun, karena engkaulah duniaku, Cinta suciku

dan engkaulah
bulan dan matahari dalam hidupku


here is the deepest secret nobody knows
(here is the root of the root and the bud of the bud
and the sky of the sky of a tree called life; which grows
higher than soul can hope or mind can hide)
and this is the wonder that’s keeping the stars apart

inilah rahasia terdalam yang tak seorang
pun tahu

(inilah akarnya akar, dan kuncupnya kuncup

dan puncaknya puncak sebuah pohon kehidupan

yang tumbuh lebih tinggi dari yang
diharapkan dari sebuah jiwa

maupun yang dapat disembunyikan oleh akal

dan inilah keajaiban yang membuat
bintang-bintang berpendar

saling menerangi

 

i carry your heart(I carry it in my heart)

aku bawa hatimu, aku bawa hatimu di dalam hatiku

A poem by EE Cummings

Diterjemahkan secara semena-mena oleh Nana LOL

PT56
250906

No responses yet

Sep 25 2006

Sepenggal Hati

Published by afemaleguest under poems

Dan sepenggal
hatiku tertinggal

Tatkala aku
harus pergi

Meninggalkannya
seorang diri

 

(akankah kau
jaga

sepenggal
hatiku yang tertinggal

untuk esok hari
kurengkuh kembali

saat kita
bersama lagi)

PT56 22.35
020906

No responses yet

Sep 25 2006

Buatmu di situ :)

Published by afemaleguest under poems

Tatkala namamu mulai terpatri

Di kedalaman sanubari

Menghiasi hari-hariku penuh arti

Mulai kusadari betapa indah hidup ini

 

Tak ingin lagi kujauh darimu

Akan selalu kubawa hatimu

Dalam lubuk hatiku

Kemanapun arah langkah kakiku

 

Terima kasih tak terhingga

Karena telah membuat segalanya menjadi lebih indah

PT56 21.34 250906

No responses yet

Sep 25 2006

Why fasting?

Published by afemaleguest under Religion

Here is one comment I got from my blog friend at blog.co.uk on my post "Ramadhan Month" (look at the two previous posts)

I just can’t see the point of it. Why ? A bit like the Catholics only eating fish on a Friday. Seems weird to me.

It made me come to the idea as you can see below

This is the ridiculous thing in the teaching of Islam, I suppose, Phil. D To teach self-restraint for Muslim, the religion must have this obligation to the adherents. If they cannot control themselves (anger, greed, and any other thing) during other months outside Ramadhan, at least during Ramadhan they can practice it. DD Hopefully after Ramadhan is over, they can continue practicing it–the self-restraints, I mean. In practice, many Muslim I know, then think that they no longer need to control themselves coz it is not Ramadhan anymore. D
What a waste, do you agree?
Love to get this comment of yours Phil. It made me come out to what I have written above. ))

When the "founder" of Islam thought that it was difficult for people to have self-restraint, then he tried to find a way out to "train" Muslim people to control their desire by "creating" this regulation so-called the third of Rukun Islam. Muslim people are not believed that they really can conquer their own greed and desire for their own good. They need this regulation to control them.

I am of opinion that each of us has two contradictory charactes–good and bad. It depends on us, then, whether we will give in to that bad character of us so that we will be bad people too. (bad people, read => do bad to others, harm other people.) When we can conquer this tendency to be bad, then we will give more priority to good character in us, so that we will do good to others. When we come to this extent, we no longer need any regulation from any religion, do we?

                                                 – Nana –

                                           the secular feminist

2 responses so far

Sep 24 2006

Kenangan di Bulan Ramadhan

Published by afemaleguest under Religion

Aku membagi masa kecilku menjadi dua bagian, pertama ketika aku sekeluarga masih tinggal di suatu daerah yang disebut Bulustalan. Kedua, ketika aku sekeluarga tinggal di satu daerah yang disebut Pusponjolo. Kedua tempat ini terletak di Semarang, kota kelahiranku dan bersaudara.

Ketika aku SD (di Bulustalan), setelah berbuka di rumah, aku dan kakak adik plus teman-teman tetangga menuju masjid terdekat untuk shalat Maghrib berjamaah. Setelah itu pulang, dengan meninggalkan sajadah dan mukena di masjid agar tidak kehabisan tempat nantinya. Di rumah, aku dan kakak adik makan.

Saat adzan untuk shalat Isya, aku dan adikku (perempuan) plus Mamie pergi ke masjid untuk shalat Isya dan tarawih bersama. Kakakku (laki-laki) pergi ke masjid bersama Papie, dan bergabung dengan laki-laki. Masa-masa yang kunikmati ketika kecil, karena bisa bermain bersama-sama dengan teman-teman.

Ketika aku SMP dan SMA (di Pusponjolo), berangkat ke masjid tidak lagi menjadi kebiasaanku sekeluarga karena letak masjid yang agak jauh (dibandingkan dengan ketika kami tinggal di Bulustalan). Satu kamar di rumah difungsikan sebagai musholla, tempat kami shalat bersama. Papie sebagai imam dan yang lain—Mamie, kakak, aku, dan adik-adik menjadi jamaah. Kadang-kadang kami sekeluarga berangkat untuk shalat Maghrib, Isya plus Tarawih ke kantor Papie yang sering menyelenggarakan buka puasa bersama dilanjutkan dengan shalat Maghrib, Isya, dan Tarawih berjamaah.

Setelah lulus SMA, aku pergi ke Yogya untuk melanjutkan kuliah di Sastra Inggris UGM, membuatku tak lagi mengikuti ‘ritual’ sepanjang bulan Ramadhan. Satu hal yang kupelajari ketika berpuasa jauh dari orang-orang tercinta itu adalah tak ada lagi persediaan makanan yang “gila-gilaan” ketika berbuka. (Oh well, aku tahu Papie Mamie menyediakan makanan yang berlebihan untuk berbuka itu karena cintanya kepada kami, anak-anaknya.) Aku jadi rajin memasak karena malas keluar kos untuk membeli sahur. LOL.

Bulan Ramadhan tahun ini, aku berada di Semarang (tahun 2003-2005 aku berada di Yogya). Seberapa pun cintaku kepada anak semata wayangku, aku tidak menyediakan makanan yang berlebihan untuk kita berbuka bersama. Eman-eman duitnya, euy. LOL. (Oh, ibu yang pelit, huh? LOL.) Oh well, whatever people say deh, LOL, aku berpikir bahwa berpuasa adalah satu ajaran agama agar orang mampu menahan nafsu; nafsu amarah, nafsu serakah, termasuk juga nafsu makan yang gila-gilaan itu setelah berbuka. Dan Angie selalu merupakan anak yang sangat pengertian.

PT56 23.19 240906

2 responses so far

Sep 24 2006

Ramadhan Month

Published by afemaleguest under Religion

Ramadhan Month

(FYI Ramadhan month is the holiest month for Muslim where Muslim people do the obligatory fast for 30 days.)

My parents started to teach me to fast since I was in the first grade of elementary school, I was about seven years old at that time. As this was the first time—the first experience for me—they taught me to fast only until noon—the time for Dzuhur pray. I could have my breakfasting around 12.00. When I was in the second grade of elementary school, my parents taught me to lengthen the fast till Asar pray time. I could break my fast around 15.00. And when I reached the third grade of elementary school, I could fast just like adult people, until Maghrib pray time, around 17.45. Since I didn’t get my period yet, I didn’t have time to be ‘off’ to fast.

I finished reciting Alquran the first time (“khatam” is the Arabic word for this), when I was in the third grade of elementary school. And when I was in the fourth grade of elementary school, my father taught me to recite Alquran one chapter (in Arabic we call it as JUZ) one day during Ramadhan month. Therefore, in one Ramadhan month, I could finish (khatam) one Alquran that consists of 30 chapters (JUZ). As a good teacher, my late father did that too. He read three chapters one day that meant he could “khatam” Alquran three times during one Ramadhan month.

I remember during the fasting month, my parents prepared many kinds of food for breakfasting at the Maghrib pray time. Some people call it as “to take revenge”, LOL, after not eating and drinking anything for more than 12 hours a day, then at breakfasting time, we could eat anything we wanted. Delicious snacks were prepared by my mom at Maghrib time. After praying Maghrib and Isya plus Tarawih, then we ate a big meal.

Without his awareness, my late father taught my siblings and me something that was not really appropriate coz it was not really the essence of fasting, I assume (now). Why should we do something like ‘taking revenge” after fasting for more than 12 hours? “Eat as many as you can now that you can do it, before the time to fast comes again,” was a lesson I recognized. My late father was not the only one who thought so, of course. Abundant Muslim people do that too in Indonesia.

The time I started to learn how fasting was really like, and after breakfasting I didn’t “take revenge” was when I was in my undergraduate study. I was out of town, living all alone in a boarding house. The limited money I had as a student couldn’t make me buy as many kinds of food to eat for breakfasting. And I survived. LOL. When my late father knew about this, he said, “Oh poor you my dearest daughter.” But still he didn’t give me more pocket money per month. LOL.

Three years after I studied out of town, my father passed away. Since then on, no more extra food during Ramadhan month for breakfasting. My mother doesn’t work, she just gets some pension money every month from my later father’s office coz my father used to be a civil servant. She sometimes provides extra food for breakfasting, yes, but not as “crazily” as when my father was alive. LOL.

I taught Angie—my only daughter—to fast just like my parents did to me; since she was in the first grade of elementary school. She could fast for the whole day—from dusk till dawn—since she was in the third grade of elementary school. However, I free her from an obligation to recite Alquran one JUZ for one day. I suggested her to recite Alquran more than during the other months. I was not as fussy and strict as my late father though. LOL. I focus more on raising her to be a good person—not harm other people, not easily judge other people as bad people only coz they have different religions from us. I have found many people who recite Alquran everyday, pray five times a day, but at the same time harm other people too. My late father as the best example to me was the only one I have found so far in my life; that by being a good Muslim (read è pray five times a day, recite Alquran everyday, fast during Ramadhan month, pay zakat by the end of Ramadhan month, go pilgrimage to Mecca), he didn’t do harm to other people. I believe there are many other good Muslim people just like my father, only I don’t know then personally. And in my own experience, I know many other good people who are not Muslim, even those who are non-believers; one thing that my parents didn’t teach me when I was a kid.

Happy fasting for my blog readers who practice it during this holy Ramadhan month.

PT56 22.52 240906

No responses yet

« Prev - Next »