Sep 27 2006
Cantik/cakep/biasa/buruk
Mengacu ke tulisanku sebelum ini, mengenai si pemilik mobil kuning yang membuatku shocked ketika melihatnya, LOL, juga ceweknya teman kuliahku S1 si Y, aku menulis di sini.
Jadi ingat ketika aku membaca buku yang berjudul Literature and Gender, tulisan Lizbeth Goodman. Di bagian introduction, ada sebuah sketsa yang menunjukkan bahwa gambar itu jika dilihat dari satu sisi memperlihatkan gambar seorang wanita muda, dari depan. Sedangkan jika dilihat dari sisi yang lain, gambar itu menunjukkan seorang perempuan tua yang digambar dari samping, dan terlihat hidung bengkoknya.
Satu gambar yang sama bisa diinterpretasikan dua hal yang berkebalikan. (unfortunately I cannot find it in the internet right now so that I cannot show it to my blog readers here.)
Mengapa harus ada pengkotak-kotakan bahwa yang seperti ini cantik/cakep/indah dipandang mata, mengapa yang lain itu biasa-biasa saja atau bahkan buruk rupa? Siapa yang merasa memiliki hak untuk menentukan bahwa yang seperti ini cantik/jelek dan sebagainya itu? Apa yang membuatnya merasa menjadi memiliki hak untuk menentukan hal itu? Apa tendensi/background dari orang tersebut melakukan ‘pengkotak-kotakan’ seperti ini? Apakah Tuhan, sebagai Sang Maha Pencipta, memang pernah bermaksud untuk menciptakan makhluk yang buruk rupa selain yang indah? Pernahkah kita berpikir bahwa Tuhan memang sengaja menciptakan yang buruk rupa itu agar yang lain bisa disebut indah menawan karena cantik/cakep/indah tidak akan terlihat jika tidak ada padanan yang biasa-biasa saja/buruk.
Budaya populer sebangsa televisi, surat kabar, majalah, dan sekarang ini internet yang ditunggangi oleh kebutuhan para kapitalis telah melanggengkan oposisi biner cantik/buruk rupa ini. Iklan-iklan di televisi/surat kabar dan lain-lain itu telah menciptakan ‘gap’ antara yang cantik dan buruk rupa. Bahwa yang cantik itu seseorang yang langsing, berkulit putih, mulus tanpa jerawat, berambut panjang lurus, feminin, dan lain sebagainya. Sehingga ketika mereka yang tidak memenuhi ‘kaidah’ kecantikan yang telah ditentukan oleh iklan-iklan tersebut harus sadar diri bahwa mereka itu buruk ataupun biasa-biasa saja.
Aku telah berkutat dengan ide ini selama beberapa tahun (stop being abused by those silly advertisements on the idea of what beauty is). Namun toh terkadang aku masih juga do silly thing, seperti tiba-tiba berkomentar ke Angie, tentang si pemilik mobil kuning menawan, "Wah … mobilnya keren abizz, kok si empunya …???" Dan Angie tertawa mendengarnya. (Oh, I am really so sorry now for having said such a thing though it was in the kidding mood with my only daughter.)
Kita harus selalu ingat bahwa kita telah dipermainkan oleh iklan-iklan yang sama sekali tidak mendidik itu sekian lama, dan banyak di antara kita telah menjadi korban iklan, dengan mengkonsumsi produk-produk yang diiklankan di televisi/majalah/surat kabar, dll, karena ingin menjadi seperti model yang mengiklankankan produk tersebut.
Kapankah kita mampu mengontrol hidup kita sendiri, tanpa pengaruh dari luar?
FBS UA 12.00 280906