Aug 30 2006
Kamis 31 Agustus 2006
Di kantor.
Aku sampai tadi sekitar jam 7 setelah ngantar Angie ke sekolahnya. I have some appointments with some students, later after 8am till around 12pm. Aku langsung ke kantor karena males balik ke rumah lagi karena letak sekolah Angie–SMAN 3 Semarang–dekat dengan kantorku, kurang lebih cuma 500 meter. Well, aku belum pernah ngitung tepatnya sih. LOL. Berhubung speedometer motorku mati, I cannot check it. Aku butuh meteran to do that. Hahaha …
Ada satu hal yang sangat kusukai tiba di kantor pagi-pagi gini. Kantor masih sepi, serasa personal office room dah kalo gitu. LOL. Aku bisa ngapa-ngapain aja, dari jingkrak-jingkrak dengerin musik dari radio, baca koran, mau bengong aja, jalan-jalan muterin kantorku yang berukuran kurang lebih 10×10 m untuk 7 orang dosen tetap, (kurang kerjaan banget sih Na, pake jalan-jalan muterin kantor? yah … sebagai ganti treadmill ato static cycling di fitness center gara-gara aku langsung ngantor) nulis diary, dan yang paling kugandrungi adalah ngecek email dan blog.
Abangku nyaranin aku akses internet aja di rumah. Aku bilang, "Aduh Bang, internet is soooo irresistibly charming to me! Ga bakal lah aku bisa cuma sejam dua jam ngenet, apalagi dengan hobby baru yang kutekuni beberapa bulan terakhir ini–blogging, wah … bisa 24 jam sehari aku nongkrongin internet di rumah kalo lagi libur."
Dia protes, "Be strict to yourself dong Na. Kira-kira udah berapa jam ngenet, trus disconnect."
Aku dengan keras kepalaku bilang, "TIDAK BISA!!!" hahaha … "The best way to control myself not to go online all the time is not to access internet at home."
Well … well … kita berdua sama-sama LEO, sama-sama keras kepala lah. Cuma bedanya, dia sudah lebih lama mengasah penggunaan rasio daripada emosi, ya dia lebih rasional sedang aku lebih sentimental. LOL. "Percaya deh Bang, orang hidup itu butuh nangis, untuk membasuh matanya agar tetap bersih." LOL. Btw, dia tetap tidak percaya kok dengan alasanku yang satu ini. LOL. Dan aku tetap ngeyel. LOL.
Jadi inget diskusi kita kemarin, tentang the survival of the fittest milik Herbert Spencer, yang survive lebih lama di dunia ini bukanlah yang paling kuat melainkan yang paling adaptable, bisa beradaptasi dimana pun dia berada. So, aku bilang ke dia, "Makanya Bang, jangan suka ngeyelan. Be easy going. Adapt yourself in all situations." Lah … padahal aku sama juga dengan dia, TUKANG NGEYEL!!! hahahaha … "Ngaca dong Na, ngaca!" hahaha …
Btw, semalam aku nonton "In Her Shoes", tentang friendship of two sisters, Rose and Maggie Feller. Well, memang kok ya dalam friendship, dalam cinta, quarrel happens now and again, but it doesn’t mean that the people involved hate each other so that their relationship is over. Setelah Maggia minggat ke Florida karena diusir Rose, ternyata mereka berdua tetap saling memikirkan dan merindukan. Dan seperti banyak film-film lain buatan American producers, the story ended happily.
Ada dua puisi yang dibaca oleh Maggie. Yang pertama tentang "losing someone we care much. Maggie membacanya untuk seorang laki-laki tua yang tinggal di panti jompo. Sayangnya aku ga tahu penulis puisi ini, bahkan judulnya pun aku tidak tahu. It means I cannot find it in internet–my best friend–in searching data.
Puisi yang kedua, again read by Maggie on Rose’s wedding party, berjudul "I carry your heart with me" milik EE Cummings, one American poet in the Modern Period. Puisi yang bener-bener membuatku MELELEH, kalau hatiku ini terbuat dari salju dan kemudian matahari tiba-tiba bersinar.
Ah udah jam 8 lebih sekarang. Aku harus entry data nilai mahasiswa. Tapi sebelum itu, aku akan bikin secangkir cappuccino, dan posting puisi EE Cummings juga nanti di sini. (I am wondering if any reader of my blog will also be melting when reading this poem. Ato seperti yang kukatakan kepada Abangku, aku adalah seorang pecinta romantis dan sentimentil sehingga gampang meleleh … LOL.)
FBS UA 08.30