Archive for June, 2006

Jun 30 2006

Haruskah Ku Mati

Published by afemaleguest under Song

Bagaimana mestinya…
Membuatmu jatuh hati kepadaku
T’lah kutulis kan sejuta puisi
Meyakinkanmu membalas cintaku

Haruskah ku mati karena mu
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku
Hanya demi cinta yg mungkin bisa membunuh ku
Hentikan denyut nadi jantung ku
Tanpa kau tau betapa suci hatiku
Untuk memiliki mu

Adakah keikhasan
Dalam palung jiwamu mengetukku
Ajarkan mu bahasa perasaan
Hingga hatimu tak lagi membeku

Tiadakah ruang di hatimu untukku
Yang mungkin bisa ‘tuk kusinggahi
Hanya sekedar penyejuk disaat ku layu
Ku t’lah menantimu hingga akhir masa

(Ada Band)

Semenjak Angie menjadi ABG, dan kita share a room together, aku pun tiba-tiba memiliki selera musik yang tidak beda jauh dari para ABG. LOL. Seorang rekan kerja, T, yang kebetulan anaknya juga hampir seusia dengan Angie, pun mengatakan yang sama, dia ketularan dengerin lagu-lagu ABG. LOL. (Apalagi aku yang memiliki room-mate ABG, Angie. LOL.)

Pertama denger lagu Ada Band ini dari rekan kerjaku, T, itu beberapa minggu yang lalu. Kesimpulan? Jelek banget, terutama melodinya. LOL. Gak ada greng-grengnya blas. LOL. Aku heran juga kok aku belum denger Angie nyanyiin lagu ini, ato, well, muter lagu ini keras-keras ketika ada di radio. Biasanya kalo Angie sedang seneng sebuah lagu, wah, kenceng banget dia suara radionya. LOL. Contoh, waktu Agnes Monica keluar dengan lagu, well, aku ga ngerti judulnya. LOL. Yang pasti ada liriknya begini, "Di mana letak sorga itu …" Aku suka godain dia dengan menjawab, "Sayang, nih sorga Angie berada di telapak kaki Mama." LOL. Dan dia pun bersungu-sungut. LOL.

Beberapa waktu setelah T "promosiin" lagu ini, tiba-tiba Angie mulai ikut nyanyiin lagu ini. Trus, aku bilang ke dia, "Lagu ini loh Sayang, yang dipromosiin pak T beberapa waktu lalu." Angie jawab, "Yah, pertama kali denger Angie ga suka, lama-lama, eh, cool juga nih lagu." LOL. Dan aku mulai berpikir bahwa lagu ini boleh juga. Kesimpulannya adalah, pak T tidak memiliki suara yang bagus sehingga waktu nyanyi ya menghasilkan lagu yang ga bagus juga. LOL. Waktu Angie yang nyanyiin, eh, lumayan juga ga bikin kuping sakit. LOL.

Barusan, aku "menemukan" lirik lagu ini di satu blog yang kukunjungi (jelas milik ABG LOL). Dan, entahlah, setelah tahu liriknya (kok kaciannnnnn banget yah??? hahaha …), aku jadi pengen nge-post lirik lagu ini di blogku sendiri. Hahahaha …

Jadi ingat satu kali waktu aku nulis puisi buat my catharsis, dan di akhir baris aku tulis, "Adakah cinta yang tidak egois?"

Egois banget kan lirik lagu ini? Aku bisa aja pake bahasa yang lebih realistis dengan mengatakan, "I love you my sweetheart. I will do everything to make you happy if you are mine. So, what else are you waiting for? Be mine, please? Coz only you can ‘move’ my heart, only you can strike the chemistry in me, only you can evoke that special feeling in me. ONLY YOU. So, please darling, open your heart, accept my pure love. If not, let me die peacefully.

No responses yet

Jun 30 2006

Mother and Daughter

Published by afemaleguest under daily

I am in a cyber cafe right now, different from usual, I am at my workplace. :)
I didn’ t Angie_mom_2_1go to my office this morning. I stayed at home till around 3pm.
FYI, Angie is having quite a long holiday from her school so that she stays home.
Before leaving, I saw Angie’s facial expression look so glad coz I accompanied her till afternoon. And as usual, when she is spoilt and needs my attention, she always asks me what time I will go home this evening, whether I can go home earlier than the schedule. (Oh, she is very very sweet!!!) She always makes me feel needed, loved, cared.
Well, that’s it. A mother and a daughter love each other, need each other, care each other.

No responses yet

Jun 30 2006

Songs with beautiful memories

Published by afemaleguest under Song

The following lyric is a song sung by John Lennon.

I WILL

(John Lennon)

Who knows how long I’ve loved you

you know I love you still

will I wait a lonely lifetime

if you want me to, I will

coz if I ever saw you

I needn’t catch your name

but it doesn’t really matter

I will always stay the same

I love you forever and forever

I love you will all my heart

I love you whenever we’re together

I love you when we’re apart

when I finally found you

this song will fill the air

sing it out so I can hear you

make it easy to be near you

all the things you do endear you to me

oh you know I will

PT56 12.22 300606

It is indeed not a new song. However, I heard this song for the first time in 1999! My Californian boyfriend at that time recorded his voice singing this song, then he sent it to me. Wow … isn’t he a romantic person? LOL.

In return, I recorded my voice singing Rico J Puno’s song, and then sent it to his mailbox so that he always could listen to my voice.

TOGETHER FOREVER

(Rico J. Puno)

My love, forever You will always be mine,
Only love,Forever u will always be mine
Faithfull love, It’s always you, u’ll always be

My love, forever u will be my first thing,
only love, For you and I’ll give my everlasting

love, I promise you, you’ll always be

Chorus:
You and I will never say goodbye,
We’ll never even wonder why
You and I will always be together forever

You and I will never say goodbye,
We’ll never even wonder why
You and I will always be together forever…
In Love

My love, forever you will be my first thing,
Only love, For you and I’ll give my
Everlasting love, I promise you, you’ll always

I am not less romantic than he is. LOL. Well, in fact, in many cases, I am much more romantic than he is. While, he is more realistic. LOL.

Well, one day when suddenly I remember the beautiful memories I have ever had with that online boyfriend of mine.

No responses yet

Jun 29 2006

Nikah Siri

Published by afemaleguest under Gender

Aku barusan membaca artikel yang berjudul “Praktik Nikah Siri, Banyak Ruginya…” oleh Mariana Aminuddin di
http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=feature%7C-20%7CX
Kalau orang berpikir bahwa hak-hak dan kewajiban yang akan mereka dapatkan dari sebuah pernikahan siri sama dengan pernikahan yang dilakukan secara legal (read => legal menurut negara, tercatat di Catatan Sipil, maupun di KUA), terutama bagi kaum perempuan, jelas itu salah. Karena tidak tercatat secara resmi di kantor apapun milik negara, jelas kaum perempuan tidak akan mendapatkan hal-hal yang mereka harapkan seperti ketika mereka menikah secara resmi (e.g. biaya untuk kehidupan sehari-hari, warisan, pengakuan atas adanya anak yang lahir, dll.)
Sehingga, kalau tidak siap dengan itu semua, ya, jangan pernah mau berpikiran untuk melakukan nikah siri.
Dalam kenyataan, seorang perempuan yang menikah secara resmi pun terkadang tidak mendapatkan hak-hak mereka, misal: pengakuan anak. Berapa banyak kasus di sekitar kita yang telah kita dengar ketika seorang suami tiba-tiba saja tidak mengakui anak yang dilahirkan oleh istrinya sebagai anaknya? Dengan berdalih segala macam, laki-laki banyak yang melarikan diri dari tanggung jawab ini. Contoh lain: uang bulanan. Banyak laki-laki yang tiba-tiba merasa tidak lagi perlu memberi nafkah karena dia anggap istrinya tidak lagi memerlukannya setelah si istri bekerja dan mendapatkan gaji yang sekiranya mencukupi keperluan sebulan. Contoh lain: setelah terjadi perceraian, hukum di Indonesia mewajibkan sang ayah untuk tetap membiayai kebutuhan sang anak sampai si anak tumbuh dewasa. Kenyataan: berapa banyak laki-laki yang melenggang begitu saja setelah perceraian? Boro-boro memberi nafkah untuk membiayai kebutuhan, ingat saja tidak.
Menurut hukum, laki-laki seperti ini bisa dituntut ke pengadilan. Kenyataan: berapa banyak kaum perempuan yang tidak mampu menuntut ke pengadilan karena mahalnya biaya untuk mengurusi hal ini?
Nikah siri, menurut pendapatku, hanya melegalkan hubungan seks saja antara laki-laki dan perempuan. Banyak kaum laki-laki yang memanfaatkan praktik nikah siri ini hanya untuk memanjakan libidonya semata dan mata keranjangnya saja. Kaum perempuan yang mau dinikah siri harus ingat ini, sehingga harus tidak kalah cerdik dari kaum buaya darat ini.
(Mereka melakukan nikah siri KATANYA untuk menghindari zina. Padahal seberapa yakin mereka bahwa pernikahan siri yang hanya untuk main-main ini diridhoi oleh Allah? Padahal semua ini hanyalah buatan kaum laki-laki yang egois saja!)
Untuk mengatasi hal ini, kaum perempuan harus mandiri dan percaya diri. Kalau sampai bersedia untuk melakukan nikah siri, ingatlah bahwa mereka harus MENDAPATKAN KEUNTUNGAN dari pernikahan secara sembunyi-sembunyi ini, karena laki-laki yang melakukannya pun hanya untuk medapatkan keuntungan bagi diri mereka.

4 responses so far

Jun 28 2006

In fact

Published by afemaleguest under daily

In fact …

I am just a pessimistic

I am just a coward

I am just a helpless

I am just a person who easily gets broken-hearted

What am I supposed to do? To help make the world be a better place to live in, especially for my folks–women? To "awaken" those narrow-minded people who view things only from their own–one and only–perspective? To stop them being a religious snob?

(tatkala aku begitu lelah mengikuti debat kusir yang ada di negeri ini)

No responses yet

Jun 28 2006

Poligami = Sunnah?

Published by afemaleguest under Gender

Artikel dari sebuah milis. Well, ide yang ditulis tidak beda jauh dari apa yang kutulis dari Polygamy = Sunnah Rasul? yang dalam bahasa Inggris itu. :) It shows that Faqihudin Abdul Kodir and I are sailing in the same boat. :)

Benarkah Poligami Sunah?
Faqihuddin Abdul Kodir

UNGKAPAN "poligami itu sunah" sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

DALIL "poligami adalah sunah" biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir-lebih memilih memperketat.

Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi "hak penuh" laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya.

Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, "poligami membawa berkah", atau "poligami itu indah", dan yang lebih populer adalah "poligami itu sunah".

Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah".

Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan social saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati,
kecuali Aisyah binti bu Bakr RA.

Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûhal-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

Nabi dan larangan poligami

Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami itu sunah" sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

Poligami tak butuh dukungan teks

Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda.

Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat.

Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimana disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: "Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain." (Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan "poligami itu sunah".

Faqihuddin Abdul Kodir
Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

No responses yet

Jun 28 2006

Cinta

Published by afemaleguest under daily

Aku di sini menunggumu, Cinta
untuk berbagi resah
berbagi tawa
berbagi cerita
berbagi rasa

     Terkadang aku lelah, Cinta
     juga terkadang aku bosan
     namun aku akan selalu di sini
     menunggumu
     hingga ujung waktu

JDC 12.09 290606

No responses yet

Jun 28 2006

Mailing List

Published by afemaleguest under daily

Saat ini aku menjadi anggota beberapa milis, yakni, #PAUGM#; members adalah alumni atau pun mahasiswa American Studies UGM, #Puisi#; members tentulah mereka-mereka yang hobby berpuisi-ria, termasuk aku tentu saja :), #pria_sehat_tanpa_celana#; members mereka-mereka yang hobby membaca, mostly sih novel (yang kebetulan adalah teenlit dan chicklit novels), #WritersTavern#; members mereka-mereka yang hobby menulis, baik untuk diri sendiri, di blog, maupun untuk dikomersialkan, dan mailing list terbaru yang aku ikuti adalah #Sastra-Pembebasan#, tidak ada batasan untuk menjadi anggota, siapa saja boleh menjadi member.
Dari kelima milis yang kuikuti, PAUGM adalah yang paling jarang ada interaksi, well, mungkin semua member sibuk dengan kegiatan masing-masing. :( Sedangkan #Sastra-Pembebasan# adalah milis yang anggotanya paling aktif melontas ide, menulis komentar, berdiskusi, berdebat, dll. Kadang dalam satu hari, messages baru mencapai 100! Wow … Semua menarik bagiku untuk membacanya, kadang saja aku ikut menimpali memberi komentar atas satu tulisan.
Mengikuti diskusi, debat yang kadang memanas dari kedua kubu yang berbeda pendapat, dimana keduanya merasa yang paling benar, dan sampai ke taraf memaksakan kehendaknya pada orang-orang yang berasal dari kubu yang berseberangan, membuatku berpikir betapa sulit mencari jalan tengah dari segala diskusi dan debat tersebut, apalagi kalau hal tersebut mengenai agama.
Jadi ingat beberapa komentar yang masuk atas tulisanku di
http://afeministblog.blogspot.com yang sebagian besar kontra dengan tulisanku, dan aku bisa menyimpulkan betapa mereka memaksakan kehendaknya kepadaku untuk menarik kembali apa yang telah kutulis di sini. Hal ini membuatku sadar (betapa aku pun masih seseorang yang naif!!!) bahwa benar-benar tak semudah membalik telapak tangan ketika kita ingin membuat dunia ini menjadi dunia yang lebih damai dan nyaman untuk ditinggali, di mana laki-laki perempuan saling menghormati, di mana satu kelompok menghormati kelompok lain, tidak memandang apakah dia termasuk kelompok yang mayoritas maupun minoritas.

No responses yet

Jun 27 2006

The Hypocrisy of Marriage

Published by afemaleguest under Current Affairs

One article I got from a mailing list I join. It was taken from a newspaper in
Ryadh.

Gulf News (Riyadh)June 16,
2006

‘Marriage gangs’ prey on youths.

Mariam Al
Hakeem, Correspondent

Riyadh — With the beginning of the summer
holidays, a large number of Arabs, especially from the Gulf states, are
traveling to tourist destinations in various parts of the world, especially
in the Far East, looking to enjoy themselves and relax.

Most of them
want to enjoy their holidays in picturesque places, Visiting historical
monuments and taking in the culture.

Some of them, however, will want to
take advantage of the opportunity to try out temporary marriages. They
prefer Indonesia over other countries, mainly because of the low cost of living
there.

This has resulted in the mushrooming of marriage bureaus in
Jakarta and other major Indonesian cities in recent years.

Organized
gangs have also grown up who prey on Arab tourists and try to lure them with
promises of low-cost marriages and then cheating them.

Several Saudi
youths, who became prey to these gangs, shared their Bitter experiences with
Gulf News.

They were lured by the false promises of the gang members of
"marriages to beautiful young women under 18 at cheap rates."

In most
cases, their brides abandoned them and ran away within few days of the
marriage.

When they then contacted the marriage bureaus, the employees
washed their hands of blame saying that it was not their responsibility to
ensure that their brides stayed with them.

According to the youths,
who declined to be named, marriage ‘mafias’ Are common in Jakarta, and their
activities pivot mainly around places that Arabs frequent.

The gang
members introduce themselves as representatives of licensed marriage bureaus
and offer marriage proposals.

The marriage ceremonies are then held at
marriage bureaus in the presence of a licensed marriage notary and two
witnesses. The dowry normally ranges between two to three million Indonesian
Rupiah (Dh1,000-1,500).

One of the Saudi youths, who was cheated by the
gangs, told Gulf News:
"While I was taking my meals at an Arab restaurant in
Jakarta, I heard some young men asking whether anybody wanted to get married
to beautiful young girls. I did not pay any attention to them in the
beginning.

"When they repeated the offer for the third time, I was
interested and expressed my willingness.

"They then took me to a
marriage bureau and I was introduced to a man called Haider.

"After a
short while, Haider paraded five young women in front of me and asked me to
select one. When I had chosen one of them and agreed on a dowry of four
million rupiah (Dh1,468), the marriage notary appeared with witnesses and
solemnised the marriage ceremony," he said.

"When I took my bride to a
nearby hotel, she was clearly bewildered. While I was trying to be friendly
with her, she asked me if she could go out to the nearby pharmacy to buy
some medicine and I agreed not knowing that she would never return," the
young man said.

The same was the case with another Saudi youth but with a
slight difference. He went to the marriage bureau and told the story of his
wife’s disappearance.

The bureau staff members promised to help him
find her. On leaving the building, he saw his bride going into the same
office in the company of some other girls in order to be paraded in front of
the new "victims".

When he tried to stop her, the security guards
held him and the door was slammed shut.

Some of the Saudi victims
managed to lodge complaints with the police.

A policeman was sent with
the youths to the marriage bureau in search of Haider but the police could
not trace him and the staff at the bureau told the police that he was not
"in sight".

My comment:
It shows how people just play
on marriages. First, those guys who are greedy for sex. Then, they are just made
use by women who need money. Third, those "bureous" to get profit as much as
possible from this "hidden" prostitute case.
How much are they sure that God
likes this kind of thing? They just ABUSE God’s verse.

No responses yet

Jun 26 2006

Hobgoblin

Published by afemaleguest under Quote

"The foolish consistency is the hobgblin of little minds."
–EMERSON–

The fact that one interpretation has been made for several centuries does not always mean that it is the best and the righteous one.

The fact that women are created different from men is undeniable. The fact that women experience different thing in this life is undeniable too. The different way of thinking, the different experience of undergoing this life will create different interpretation.

And why on earth do people easily say that someone new–that happens to be a woman–is wrong in interpreting something? Who has right to say that someone is right and someone is wrong? Who has right to say that someone else’s interpretion must be wrong? Who has right to say that his/her interpreation is exactly what God meant for all human beings?

Nobody has proven it yet.
Again, I want to quote what Buddha said:

Do not believe in anything simply because you have heard it.
Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many.
Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books.
Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.
Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations.

But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.

I am not Buddhist; I just use MY common sense in interviewing this life. And I don’t imprison my mind with so-called the only one right interpretation.

No responses yet

Next »