Archive for May, 2006

May 30 2006

Me …

Published by afemaleguest under daily

I am not against marriage. (Well, some people accuse me so!) From my posts here, I just want people not to be easily carried away with fairy tales about marriage (e.g: after getting married, then Cinderella and the Prince lived happily together ever after). I just want to make my students, people around me, and others to be more critical to see the reality that to “live happily married ever after” is not as easy to turn our palm outside down. It needs big struggle, deep commitment, etc.
However, I don’t like this marriage-oriented society, coz it makes many people–women especially–become not confident to live single, coz many of them don’t feel secure to be besieged with questions, such as “When will you get married?” and as the result many of them do ridiculous things, like in one post I took from The Jakarta Post some weeks ago, or just like the case of Mayangsari (read a woman steals another woman’s husband). I’d prefer to spread an idea that to live single is happy too, rather than hurting other women’s heart by stealing their husbands, rather than marrying an umployed man and then the woman becomes “money maker”, etc.
About polygamy, well, as long as no one feel oppressed, everybody is happy, just go ahead. One thing that I don’t like from this polygamy thing is that many men tend to use “Sunnah Rasul” as the weapon, while in fact, what they do is much different from what Prophet Muhammad did in his era. VERY MUCH DIFFERENT. Please stop fooling other people around.
I am not talking about having sex outside marriage, if you use that as an excuse for men to have more than one wife. Prophet Muhammad DID NOT pursue for sexual satisfaction from his wives (after Khadijah passed away).
I am more concerned to happiness for all people, whether they want to live single, or get married.
I am more concerned to betterment for women’s lives, to pursue anything they want to do in their life, without any restriction, such as, “As a woman, you are not supposed to do that.” This is what I mean when I say that I believe all men and women are created equal in all facets in this life.” Women can do anything men do when they want to do it.

No responses yet

May 29 2006

Irasionalitas

Published by afemaleguest under Cerpen

Y: “Kamu mulai irasional. Padahal selama ini kamu adalah satu-satunya temanku yang paling rasional memandang segala macam permasalahan.”

Z: “Jika kita berbicara cinta, adakah cinta yang rasional?”

Y: “Memang jika berbicara cinta, aku setuju tak seorang pun mampu berbicara tentang kerasionalan. Tak juga kamu.”

Z: “Apakah orang butuh alasan yang rasional untuk jatuh cinta?”

Y: “Well, aku hanya khawatir jika kamu menjadi seseorang yang secara tidak rasional ingin memilikinya secara utuh.”

Z: “Aku ingin membawanya ke duniaku. Ke dunia khayaliku dimana dia hanyalah milikku.”

Y: “Kamu mulai bicara ngelantur.”

Z: ”Aku jatuh cinta Yul.”

Y: “Memang cinta tak pernah memilih kepada siapa dia akan datang dan berlabuh.”

Z: “ I hate to say that that is correct. L

PT56 20.13 280506

No responses yet

May 29 2006

Dunia

Published by afemaleguest under Cerpen

Aku ingin tetap berada di situ. Bersamamu. Memandangmu. Mendengarkan suaramu. Atau pun aku bercerita tentang siapa aku, tentang kegiatanku setiap hari, bagaimana aku berusaha untuk mengubah dunia dengan caraku sendiri. Aku yakin kamu tahu betapa aku adalah seseorang yang resah memandang kehidupan yang tak adil terhadap perempuan. Dan kamu pun tahu aku terkadang begitu bernafsu untuk menghentikan ketidakadilan terhadap kaumku itu.

Namun yang lebih penting adalah, aku ingin tetap berada di sisimu. Menikmati setiap detik kebersamaan kita. Aku akan selalu ada di mana pun kamu melangkah.

Seandainya dunia khayali itu adalah dunia nyata kita.

Seandainya dunia nyata kita adalah dunia khayali itu.

(Mengapa yang pahit itu yang harus kita kenal sebagai dunia nyata?)

PT56 20.00 280506

No responses yet

May 28 2006

The Earthquake in Yogya

Published by afemaleguest under Current Affairs

Yogyakarta

was struck by an earthquake on Saturday morning,

May 27, 2006

! Uh … it was almost unbelievable for me. I lived in Yogya from September 2002 until the end of January 2006 to pursue my Master’s Degree. I took my bachelor degree also in the same town. No wonder if I consider Yogya as my second hometown.

My sister said, “When God is angry, only in less than one minute, a place can be damaged very severely.”

I responded, “Well, we really cannot command nature. Nature has its own will.”

It is related to the anticipation of

municipality

of

Yogya

to prepare the eruption of

Mount

 

Merapi

located not far from Yogya. It has been done for some weeks.

And at the end what happened? It was not

Mount

 

Merapi

that ruined Yogya and some neighboring towns, but a tectonic earthquake coming from

Indonesian

 

Ocean

.

One thing that made me worried. Those people from violent Islamic groups will say, “It is the sign from God for Indonesian people who have done lots of sins, who have shown many porn things. Let us atone by legalizing Pornography Bill as soon as possible.”

Don’t they realize that their forcing other people from different religion, also from the same religion but having different point of view to follow their way of thinking is violence? And God doesn’t like violence? Don’t all religions teach the adherents to love one another, to respect one another, to appreciate one another, even including to those who choose not to embrace any religion?

PT56 22.56 280506

No responses yet

May 28 2006

Kutubuku

Published by afemaleguest under Books

“Apakah kategori buku bagus itu?”

Ini adalah salah satu topik diskusi di mailing list WritersTavern yang kuikuti mulai sebulan lalu.  Banyak ide bermunculan di sana, dan aku bengong saja tidak ikutan. LOL. Bukan karena tidak punya ide, namun aku memang menganggap diri orang yang tidak mudah mengikuti trend, atau mengikuti selera pasar. Aku baca apa yang ingin kubaca. Jadi yah … biar sajalah orang-orang sibuk melontarkan pendapatnya mengenai apa kategori buku bagus itu. Dan aku akan terus membaca buku yang ingin kubaca, tidak peduli orang bilang bagus atau tidak. Dan aku akan tetap tidak ingin membaca suatu buku kalau aku tidak tergerak hati untuk membaca, meskipun buku itu sedang diblow-up oleh pasar perbukuan Indonesia, maupun internasional.

Semenjak kuliah di American Studies Graduate Program, UGM tahun 2002, aku telah menambah koleksi buku untuk perpustakaan pribadiku lebih dari 600 judul buku. Bagiku ini merupakan suatu prestasi sendiri mengingat gajiku yang pas-pasan. LOL. Dan dari buku-buku yang kukoleksi itu, paling banter yang telah kubaca hanya separuhnya saja. Yang lain, baru menginjak halaman pendahuluan dan bab satu. LOL. Setelah itu, seperti biasa, aku langsung sok bisa menebak, “Oh, kalau pembahasannya seperti ini, pembahasannya pasti seperti ini seperti itu. Bla bla bla …” LOL. Dan kemudian aku pun akan berpindah ke buku yang lain, dan kukembalikan buku yang bersangkutan ke rak buku, menunggu nasib baik berpihak kepadanya jika satu saat nanti aku akan membacanya secara tuntas. LOL.

Berbicara tentang buku favorit … well, dari sekian jumlah buku yang telah kubaca, aku tidak gampang mengatakan bahwa aku sangat suka salah satu judul buku sehingga pantas untuk kumasukkan ke dalam kategori buku favoritku.

Salah satu buku yang sangat kusukai adalah Si Parasit Lajang, kumpulan artikel tulisan Ayu Utami. Saking sukanya, aku sampai ingat detil-detil beberapa artikel di dalamnya (contoh: “Mari Berkeluarga di dalam Kota!”.dan “Super Kondom”) Aku juga telah menghadiahi dua orang—salah satunya adalah Lelaki Terindahku—buku ini, dengan harapan bahwa the provoking ideas presented by Ayu Utami juga akan memprovokasi kedua orang itu. Well, aku hadiahi Lelaki Terindahku itu buku Si Parasit Lajang sebagai balas budi dia telah menraktirku makan siang beberapa kali. LOL. Selain tentu saja aku berharap dia akan mampu terprovokasi oleh tulisan Ayu disitu. J

 

Btw, tentu saja aku memasukkan Charlotte Perkins Gilman sebagai salah sau penulis kesukaanku.

Buku lain yang sangat kusukai adalah SULA, novel tulisan Toni Morrison. Tokoh Sula Peace yang sangat kontroversial dan rebellious di novel ini sangat menarik perhatianku.

Masih banyak buku lain yang membuatku terhenyak, terkesima, terpana, dan melongo ketika aku membacanya. Misalnya: The History of Sexuality nya Michel Foucault, Women’s Madness: Mysogyny or Mental Illness? Karya Jane Ussher, Invalid Women tulisan Diane Price Herndl, (Kedua buku ini sangat membantuku dalam penulisan tesis, selain The Yellow Wallpaper, A Bedford Cultural Edition yang diedit oleh Dale M. Bauer). Saman dan Larung tulisan Ayu Utami, Cantik itu Luka tulisan Eka Kurniawan, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran karya Nasaruddin Umar, Fiqih Perempuan milik KH Husein Muhammad, dll.

Bulan Mei ini aku membeli beberapa buku; Qur’an Menurut Perempuan tulisan Amina Wadud (terjemahan), Jangan Berkedip karya bareng Primadonna Angela dan Isman Hidayat, 3some tulisan Nova Riyanti Yusuf, Feminisme:Sebuah Kata Hati rangkuman tulisan Gadis Arivia, dan yang terbaru Filosofi Kopi Kumpulan Cerita dan Prosa Dewi Lestari. Untuk Angie aku membelikannya dua novel teen lit. (Haha, aku sendiri heran darimana aku dapat uang berlebih untuk membeli buku-buku itu dalam waktu satu bulan.)

Ketika aku membeli Filofosi Kopi, terus terang aku mengharapkan buku semacam Si Parasit Lajang, artikel-artikel yang full of provoking ideas itu. Aku membelinya di TB Toga Mas (agar dapat diskon!) dan tak tersedia satu eksemplar pun yang terbuka sehingga bisa aku lihat-lihat dulu isinya apa. Setelah aku membayar di kasir, di pelataran parkir aku buka plastik pembungkusnya untuk ngecek apakah semua halaman utuh. Terus terang, aku agak kecewa melihat judul-judul prosa di halaman Daftar Isi. Yah …

Sabtu malam, 27 Mei 2006, aku langsung membaca satu judul cerdang yang dijadikan judul buku itu, Filosofi Kopi. Wah … ternyata ceritanya K-E-R-E-N. Semenjak aku melanjutkan kuliah ke American Studies, aku memang mulai merasakan ketergantungan dengan kopi, untuk membantuku melek mengerjakan tugas-tugas yang due esok harinya. Namun mungkin aku belumlah merupakan seseorang yang begitu menikmati kopi sehingga aku bisa merasakan kopi seperti apakah yang wow … yang bercitarasa tinggi, yang memberi kesan “I am the most successful person in the world.” Atau “This coffee really represents who I am.” Aku jadi penasaran, kopi yang bagaimanakah cara meraciknya yang bisa memberiku suatu sensasi tersendiri?

Nah … aku sudah terhanyut cerita itu. LOL.

Hari Minggu 28 Mei 2006 aku ke Gramedia Pandanaran untuk menghadiri acara Ngobrol Bareng + Bedah Buku Filosofi Kopi dengan Dewi Lestari. (Aha … jadi ingat, aku membaca Saman di tahun 2003 sebelum Ayu menjadi salah satu pembicara Internasional Seminar yang dilaksanakan oleh American Studies UGM, padahal buku itu sudah menghebohkan jagad perbukuan Indonesia sejak beberapa tahun sebelumnya! J

) Aku pengen tahu aja bagaimana Dee mempromosikan bukunya dalam acara itu.

Setelah tahu bahwa akan dibagikan tiga buah buku terbitan Gagas Media sebagai merchandise bagi penanya, aku langsung tambah bersemangat untuk bertanya. LOL. Dan di akhir acara, aku pun berhasil mendapatkan satu buku gratis yang berjudul Jakarta Metropolis Tunggang Langgang tulisan Marco Kusumawijaya, meskipun sebenarnya yang kuincar adalah buku tulisan FX Rudy Gunawan yang telah lama ingin kumiliki, yang sayangnya sekarang aku lupa judulnya. LOL.

Beberapa hal menarik yang kuingat dari hasil diskusi itu. Pertama, ketika Dee mengatakan bahwa dia menulis untuk berbagi dengan orang lain tentang kegelisahan yang dia rasakan. Bagi beberapa orang tertentu mungkin mereka berbagi kegelisahan itu dengan berdiskusi dengan orang-orang sekitar. Namun bagi orang yang suka menulis, mereka akan menuliskan kegelisahan itu. This is exactly what I have been experiencing! Ketika berbicara dengan orang-orang di sekitarku, keluarga, teman kerja, juga mahasiswa-mahasiswaku tak lagi kurasakan cukup, thank God, aku menemukan teknologi blog.

Kedua, ketika Dee menggambarkan perjalanan spiritualitasnya. Aku suka caranya yang menganalogikan ketika seseorang tenggelam di laut lepas (baca è tatkala seseorang tak memiliki pegangan satu agama pun), pulau-pulau di sekitarnya yang akan memberinya tempat yang nyaman, refuge, akan terlihat sama (baca è

semua agama akan terkesan sama, tak satu agama pun akan terkesan lebih baik, atau pun lebih benar, dibandingkan agama yang lain).

Apakah Buddhism adalah titik klimaks perjalanan spiritualitasnya? Dee mengatakan tidak. Bukankah dalam hidup ini, kita akan selalu mencari dan mencari? Akan selalu melakukan perjalanan? Dan ketika pilihannya jatuh ke Buddhism, itu tak lain karena dia adalah anggota masyarakat, yang kadang memang tak memberi kita pilihan lain selain mengikuti apa yang telah masyarakat tentukan. Contoh: tatkala mengisi kolom KTP, tak bisa seseorang di Indonesia untuk membiarkannya tetap kosong.

Jadi ingat perjalanan spiritualitasku sendiri. Ingat beberapa komentar rekan kerja yang kasak kusuk di belakangku, “Nana has changed to be someone weird. Her study has made her become someone difficult to understand.” Dll … dll …

Studiku memang telah membuatku menjadi seseorang yang sekuler. There is nothing wrong to be secular, is there? Namun aku tetap memilih menjadi seorang Muslim (yang sekuler!) Paling tidak untuk mengisi kolom KTP, aku tak perlu bingung, aku akan tetap menulis Islam sebagai agamaku. Ada dua hal utama yang melatarbelakanginya. Pertama, my family. I don’t want to hurt them (especially my mom.) Kedua, aku ingin menyitir tulisan Ayu, “Buat saya, lebih baik berlangganan tuhan yang teruji ribuan tahun daripada menyembah merek baru.” (Si Parasit Lajang, 2003:12) Agak sedikit berbeda dengan ilustrasi Ayu di artikel yang berjudul “Agama” itu, aku menginterpretasikannya sebagai Islam adalah agama yang telah teruji selama bertahun-tahun dalam keluarga besar Podungge. LOL. Maksa banget nggak sih? LOL.

PT56 21.53 280506

No responses yet

May 28 2006

Chatting, emailing, blogging

Published by afemaleguest under daily

Aku kenal dunia internet pertama kali tahun 1998. Dunia chatting mIRC lah yang pertama kali kukenal. Satu kata yang bisa kupakai untuk mendefinisikan dunia maya ini: AMAZING! Dunia serasa menjadi begitu kecil. Ketika pertama kali aku chat dengan seseorang lewat channel beginner, dan dia mengaku berada di Australia, wow … bagaimana mungkin?

Aku mulai merasa addicted ke dunia ini tahun 1999, pertengahan Mei, setelah berkenalan dengan seseorang yang kukenal sebagai Rick Buck, dari Modesto, California. He is my first online boyfriend. J Rick yang membuatku mabuk kepayang, ehem …, membuatku tak mampu melewatkan dunia chatting satu hari pun.

Hubungan asmaraku dengannya usai dua tahun kemudian, 2001. Kepedihan yang kurasakan waktu itu membuatku meninggalkan dunia internet selama beberapa bulan. Kurang lebih selama enam bulan setelah terakhir kali aku chat dengan Rick, dan dia berpesan, “Keep your chin up, honey. See the world confidently. And everything will be okay. Take care of Angie and yourself well.” Aku baru kembali ngenet lagi, untuk ngecek mailbox yang dibuatkan Rick untukku; nan29@eudoramail.com

no matter how bitter the end of our relationship was, I didn’t want to lose that mailbox.

Hanya sesekali aku ngenet, hanya untuk ngecek mailbox itu, sambil sesekali browsing, mencari data yang kubutuhkan.

Tahun 2002, aku melanjutkan kuliah ke American Studies, UGM. Untuk mengerjakan tugas-tugas yang bertumpuk, aku kembali sering ngenet. Maklum, jurusan kuliahku yang American Studies ini tentulah aku banyak membutuhkan literatur-literatur dari luar. Namun, meskipun aku sering online, tak pernah sekalipun aku tergoda untuk chatting. Aku tak punya waktu untuk iseng ngobrol dengan orang lewat dunia maya. Sebagian besar waktuku tersita untuk mengerjakan assignment dari dosen-dosen.

Awal tahun 2004, ketika memasuki semester empat, aku mulai merasakan kejenuhan dengan tugas-tugas yang berjibun. Ingin aku agak menikmati waktu luang sejenak, yang ternyata kemudian tak mampu segera aku hilangkan rasa itu, sehingga aku pun memperpanjang waktu nulis tesisku sampai 3 semester lagi! LOL. Adanya dosen tamu dari Michigan yang memberi dua mata kuliah di semester itu, membuatku tak segera mulai menulis tesis, asik banget mengikuti kuliah-kuliah Prof. Ken Hall.

Selain itu, aku mulai kangen Rick lagi. Banyak hal yang dulu sering kami jadikan bahan argumen—e.g. agama, arogansi seseorang yang merasa dirinya religius dan karenanya merasa sebagai ahli surga, kedudukan perempuan dalam agama dan masyarakat, poligami, seks di luar pernikahan, etc—mulai terbayang lagi. Biar bagaimana pun, aku sekarang bukanlah aku yang dikenal Rick dulu. Kuliahku dengan bahan bacaan yang bejibun itu membuatku berubah, tanpa kusadari. Aku mulai mengerti cara berpikir Rick, yang dulu sangat sering kudebat—dengan kenaifanku plus kekeraskepalaanku.

Aku ingin bertemu Rick lagi, chatting lagi dengannya, diskusi hal-hal yang dulu selalu membuatku betah nongkrong di hadapan komputer berjam-jam, mendengarkan ‘petuah’nya, komentarnya. Btw, dia juga adalah guru terbaikku dalam mengenal dunia internet. Kebayang nggak? Dia mengajariku banyak hal mengenai internet lewat chatting! Dia di Calif, aku di Indonesia.

Aku yakin karena itulah, aku kembali online ke mIRC lagi. Aku pakai nick lamaku, nan29, dengan harapan Rick bisa mengenaliku lagi.

But nothing. L

Yang kutemui hanyalah nasty, dirty chatters!

Sebagian dari mereka mutung mengapa aku memakai nick nan29 padahal usiaku tak lagi 29. J kenapa juga harus aku urusin yah? J

 

Akhirnya, aku ‘menemukan’ nick baru, fe-36. Orang akan gampang menebak aku adalah seorang female berusia 36. Aku berharap dengan memakai nick itu, orang-orang yang akan menyapaku pun adalah orang-orang yang sebaya denganku. Aku begitu berharap menemukan seseorang yang seasik Rick untuk diajak chat, diskusi tentang segala macam, seseorang yang broad-minded, open-minded, knowledgeable, yang tidak judgmental. (Banyak amat yah persyaratannya? J

)

Namun ternyata aku hanyalah seseorang yang naif. L Ternyata yang menyapaku masih tipe orang-orang yang sama, nasty, dirty chatters! Dan sebagian dari mereka tidak menginterpretasikan 36 sebagai umurku, melainkan ukuran braku. Sebelnya. L

Aku memang seorang narcist dengan menulis di blog (selain memang blog adalah media yang paling tepat bagiku untuk berbagi keresahan yang kurasakan), ‘memamerkan’ cara berpikirku yang pernah dikomentari kontroversial oleh seseorang. Namun aku bukan seorang narcist yang memamerkan ukuran tubuh! That’s definitely NOT ME. (Alasan utama untuk hal ini adalah: aku tidak pede dengan ukuran tubuhku. LOL.)

Seorang chatter yang kucurhati tentang masalah itu, menyarankan aku untuk mengganti nick. Dia baru berusia 23 tahun waktu itu, dan menjelaskan kepadaku apa yang ada di benaknya ketika menemui seorang chatter memakai nick fe-36, suatu impressi yang membuatku bergidik. Wah …

Aku mulai bereksperimen dengan beberapa nick. Semula aku memakai nick a_guest. Setelah beberapa saat aku memakai nick ini, eh, tiba-tiba ada seseorang yang meregisterkan nick ini. So??? Aku harus ganti nick.

Well, karena ketika aku memakai nick a_guest, tak seorang pun bisa menebak apakah aku seorang female maupun male, aku berpikir untuk menunjukkan identitas sebagai seorang female. Akhirnya aku buatlah nick ‘afemaleguest’. Aku memakai nick afemaleguest’ mulai sekitar bulan Juni 2004.

Aku tidak begitu ingat sekarang mengapa aku begitu suka chatting pada waktu itu. Well, yup, aku mulai mendapatkan beberapa teman chat, semua orang Indonesia, yang yah … lumayan asiklah diajak ngobrol, meskipun tentu saja tidak seasik Rick. J

Tapi, satu hal yang sering kulakukan adalah ‘menguliahi’ orang mengenai kedudukan perempuan, bahwa laki-laki perempuan equal. Aku belum mengenal dunia blog pada waktu itu. Well, tentu gak banyak orang yang suka chat denganku, karena aku hobby banget menguliahi orang masalah equality ini. LOL.

Aku mulai kenal dunia blog sekitar bulan Maret 2005, lewat friendster. Bermula dari salah satu hobbyku mengirim email ke seseorang yang kuberi julukan Lelaki Terindahku. (Well, aku memang sangat suka dengan novel Andrei Aksana yang berjudul Lelaki Terindah. J

) aku mulai mengembangkan hobby menulisku. Kalau semula dialah audienceku satu-satunya (FYI, banyak dari email-email yang kukirim ke dia berisi pandangan-pandanganku tentang feminisme, equality between men and women), aku mulai mengembangkan audienceku ke banyak orang lain, pembaca blogku.

Keresahan yang kurasakan sebagai seorang feminis melihat begitu timpang kedudukan laki-laki perempuan di Indonesia mulai kutuangkan ke dalam tulisan-tulisanku.

Desember 2005, secara tidak sengaja kutemukan website blog di www.blog.co.uk aku mulai posting tulisan-tulisanku di blog friendster ke blog yang berasal dari UK ini. Mulai bulan Februari 2006, aku mulai rajin menulis di blog ini, tulisan yang memang sengaja kubuat untuk blog, bukan karena improvement dari email-emailku ke Lelaki Terindahku itu. LOL. Aku mulai mendapatkan teman blog yang kebanyakan dari Inggris, yang rajin membaca postinganku, dan menulis komentar. Aku mulai merasa menemukan tempat untuk mencurahkan keresahanku, apalagi dengan feedback dari teman blogku yang sangat supportive dan encouraging.

Well, sampai saat ini, aku belum menemukan Rick kembali. Namun dengan dukungan dari teman-teman blogku aku merasa cukup. Kadang aku sempat menangis terharu ketika mendapatkan komentar. Sekarang komentar yang paling aku suka adalah dari Phillip di mana dia mengutip perkataan William Penn, si pendiri Pennsylvania, “Right is right, no matter many people are against it. Wrong is wrong, no matter many people are for it.” Oh how sweet!!!

Aku sibuk blogging hampir tiap hari sekarang ini. Dan aku tetap memakai dua nick, yakni nan29—Rick yang menciptakan nick ini—dan afemaleguest—ciptaanku sendiri. Sekarang, kalau aku ngetik ‘nan29’ atau ‘afemaleguest’ di search engine google, akan kutemui website blogku di sana. I have left traces in history. LOL.

Ups, btw, sebenarnya apa ya yang pengen kutulis di sini? Perasaan temanya ngalor ngidul gak karuan. LOL. Yeah … aku cuma pengen ngetik sesuatu untuk blogku aja. That’s all.

Sekarang waktu telah menunjukkan lebih dari tengah malam. Angie sudah tertidur dari tadi. I had better go to bed now? Tulisan ini akan kupost Senin 29 Mei 2006.

I know I need to rest my body and eyes. J

PT56 00.38 280506

One response so far

May 28 2006

Dewi Lestari

Published by afemaleguest under Books

Sunday May 28, 2006

I attended a book discussion in one big bookstore in my hometown. The speaker, Dewi Lestari (

Dee

), is one new writer in

Indonesia

. In the same occasion, she promoted her newest book entitled Filosofi Kopi (The Philosophy of Coffee). FYI, this is the first time for me to attend such an occasion. Not clear either why I was attracted to attend it. J

Dee

had been a renowned singer in

Indonesia

when she published her first novel entitled Supernova in 2001. I was not interested in it at all at that time. I thought she just wanted to make use of her popularity as a singer to sell her book. J Until now, she has published three novels of hers, series of Supernova. Frankly speaking, I haven’t read one of those books. J

What made me interested in her fourth book Filosofi Kopi?

First, perhaps coz she used the word Kopi (coffee) here. I have consumed coffee daily regularly since I resumed my study in 2002. I needed stimulant to make me awake (sometimes all night when the time was due the following morning to submit assignments I got from my lecturers), and I thought coffee was the best choice. And I know recently more and more coffee shops opened in big cities in

Indonesia

where people can hang around with their friends, to chit chat, or even to have business meeting. .

Second, this book has been promoted by a mailing list where I joined as one member. At first, I didn’t give a damn on it. Many people have appreciated

Dee

’s novels but it didn’t really move my heart yet to read them. LOL.

Before attending the occasion to have a chat together with

Dee

also to promote her newest book, I had bought the book and had read some writings in it. In fact, I like them. J Two outstanding things I keep in my mind from the discussion in that occasion.

First, the way

Dee

answered a visitor’s question about her spiritualism journey. Recently, she said that she has converted to be a Buddhist. She gave us a very impressive illustration. When someone sinks in a deep sea, the islands around him/her will seem the same, a refuge for him/her to survive. Someone cannot go on living in the deep sea. He/she must go to the nearest island to save him/herself. No island will seem better/more comfortable/promising to give heavenly sanctuary. All islands are similar.

This is very beautifully said by

Dee

in the middle of violent dispute among religions in

Indonesia

nowadays. Some irresponsible people who consider themselves as the most right start to force people from other religion to convert. Some irresponsible people from violent Islamic groups start to force their intention to the government to legalize Pornography Bill in

Indonesia

soon. They also have forced to close a Non Governmental Organization that uses Islamic name but this NGO rejects Pornography Bill. Many feminists are worried if the same violent Islamic groups later will randomly arrest women and force police to put them into jail only coz they wear something they consider improper while in fact the indecent thought is inside the members’ mind of those groups, and not in women’s clothes. L

Can’t we just live peacefully hand in hand, side by side, without forcing what we believe to other people? Can’t we appreciate and respect one another?

Second,

Dee

explained that she started writing coz she felt anxious of something in her life and wanted to share her anxiety to other people.

That really makes the two of us. At first, I just discussed things that made me anxious or restless with my close friends. Sometimes I discussed them with my students. I never got satisfying feedback though, both from friends and students of mine. Then, I wrote my restlessness in emails and sent them to my loved ones. I know some of them understand my restlessness but they cannot give me feedback either. My knowing blog technology really comforted me. I started to share my writings—including my anxiety and restlessness—to wider audience, my blog readers.

Going back to

Dee

, I really enjoyed the time when attending her book campaigning although until now I only have one book of hers. I am not sure either yet if I will buy her other books—series of Supernova—later. Since I claimed myself as a feminist in 2003, mostly I have read books written from feministic perspective. I am of opinion that

Dee

doesn’t write her book from feministic perspective though not misogynist either. Misogynist books? COUNT ME OUT!!!

PT56 22.42 280506

No responses yet

May 28 2006

One case of polygamy

Published by afemaleguest under Gender

Some weeks ago, Angie told me that one of her classmates’ father passed away. I felt a bit shocked to hear that. I spontaneously offered to take her to her classmate’s house to say condolences, to show her that we were sorry. However, Angie refused. She said, “I don’t know where the corpse was put.” Then she told me that in fact the mother of her classmate was ONLY the nth wife of the father. That’s why Angie didn’t know where the corpse was laid before being buried; whether in the first wife’s house, the second’s or the nth’s. It made me really feel sorry, both for the mother and also for the classmate of Angie.

Guess what Angie said? “It’s no problem for her and also her mother Mama. You know, they get much money from that man.” Angie said that lightly, without any burden.

I was speechless.

PT56 23.10 260506

No responses yet

May 26 2006

Capek

Published by afemaleguest under daily

Tadi aku udah online beberapa jam di kantor, emailing dan blogging. Trus, dalam perjalanan pulang aku mampir ke warnet. Masalahnya adalah komputer di kantor suka ngadat kalo dipake untuk membuka friendster, padahal ada message yang pengen kubaca, dari seorang penggemar blogku. Cie … Aduh, senengnya aku dapat penggemar. Hahaha … It is really big excitement for me!!! Well, di tengah-tengah kritikan yang masuk, she really supports me! Thanks a million Jennie. :)
Aku gak bisa online lama-lama sekarang, coz of the runny nose I have :( Tadi, juga di blog.co.uk aku udah pamitan ke teman-teman blogku, mau offline, and menikmati weekend. Phillip dan Isadora mengomentari aku memang butuh istirahat, dan jangan terlalu terbebani dengan apa-apa yang ada di sekitarku saat ini (baca => rencana penggolan RUU APP, penyegelan Fahmina di Cirebon, rencana peluncuran taboid Poligami, dll yang amat sangat memarjinalkan kaum perempuan, dan memperpuruk nama Indonesia di mata internasional sebagai negara yang ngurusi amat masalah selangkangan, padahal masih buanyak masalah lain yang harus diurusi!!!)
Well, pulang ah …

One response so far

May 26 2006

Today, Friday may 26, 2006

Published by afemaleguest under daily

I am tired.
I think it is caused by my condition. I don’t really feel well. When I left house this morning, before 8am, I expected to be able to do some things at the office. Besides finishing the preparation for the mid-test, I also wanted to read some articles in my books, write something to post at my blog–related to my musings of this male-dominated society, write some emails to my friends, and some other things.
And in fact, not many things from those lists I have done so far. ( I haven’t even started reading what i wanted to read; I couldn’t finish typing one article related to my contemplation on this life. Well, I have forwarded some funny emails I got from a mailing list to my friends–to show them that I always remember them; but I haven’t typed any personal email to them.
I myself seldom get personal emails from my friends. D I know they are busy, besides they are not as ‘crazy’ and ‘addicted’ to internet as I am. D Or perhaps they are not as creative as I am. LOL. I think I even contact with my virtual blog friends more often than my friends who have ‘left’ me to move to some other places; such as Malang, a town located in East Java, Indonesia, and Holland.
When Phillip said that I sounded lonely at times in my posts, coz no one shares the same idea with me, he is absolutely right. Julie (the one living in Malang now) is the only friend I have that shares similar ideas with me. We used to have lots of discussions. Now? I have no one. Well, I think I still have to be grateful to have those nice and supportive blog friends of mine, who willingly spend their precious time to read my posts, and then give comments, also give support and encouragement that I am not all alone; that I am not weird, not an alien. LOL.
I will go home soon, where my lovely star, Angie, is waiting for me.
Have a wonderful weekend, my dear friends. D

No responses yet

Next »